Nichan_Jung Present

Kim's Love

Main cast :

Kim Jaejoong, Kim Kibum, Kim Jongin, Kim Mingyu

Jung Yunho, Lee Jinki, Do Kyungsoo, Jeon Wonwoo

Other cast: TVXQ, SHINee, EXO, & Seventeen Member

Rate: T

Genre: Romance, fluff, drama

Previous Chap...

"Dijodohkan? Dengan siapa Noona." Entah kenapa malah Jongin yang sangat antusias.

"Sebenarnya aku dan Yunho sudah membicarakan ini beberapa hari yang lalu. Ada dua orang calon jika kau ingin tau."

"Noona... Hyung... Aku bahkan baru kelas dua high school dan kalian sudah menyiapkan pasangan untukku?" protes Mingyu.

"Kenalan dululah, ne? Mau ya?" tawar Jaejoong. Yunho sih diam saja melihat istrinya.

"Memangnya siapa calonnya, Hyung?" tanya Key. Dia cemas juga memikirkan siapa yang akan dijodohkan dengan adiknya itu.

"Rahasia, kau akan tau minggu depan." Jaejoong tersenyum penuh kemenangan dan kebahagiaan. Dia memang senang menggoda adik-adiknya.

Mingyu merasa dia benar-benar tertindas sekarang. Bagaimana bisa dia dijodohkan sementara Jongin juga belum memiliki kekasih. Huaaaa... Mingyu ingin menangis rasanya. Dia tidak ingin dijodohkan. Bagaimana kalau orang itu tidak sesuai dengan tipenya? Mingyu mengacak rambutnya kasar dengan wajah cemberut.

'Kau akan menyukainya, Mingyu-ya. Noona berjanji padamu.'

Chapter 2

Seminggu sudah berlalu dan Mingyu masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran saudara-saudaranya. Perjodohan yang mereka tawarkan sedikit banyak mengganggu pikirannya selama seminggu ini. Ini sudah di tahun 2016 dan sepasang kakak tertuanya masih berpikir tentang perjodohan. Bahkan Keybum yang seorang fashionista, freak dan modern juga ikut serta memberikan dukungan.

Menurut Mingyu perjodohan itu hanya sebuah tradisi kuno yang sangat tidak cocok untuk masa kini. Dia membayangkan bagaimana para remaja jaman dulu yang mendapatkan pasangan dari perjodohan, mereka belum tentu bahagia dan bisa mencintai pasangannya sepenuh hati. Mingyu tidak ingin itu terjadi padanya. Dia ingin mendapatkan pasangan yang dipilih oleh hati dan logikanya. Bukan sekedar pasangan hidup yang secara fisik sempurna, tapi akan lebih baik jika jiwa, hati dan perilakunya sesempurna fisiknya.

Memikirkan tentang perjodohan saja membuat mingyu malas, apalagi menjalaninya. Namun sepertinya para hyung kesayangannya tidak memikirkan kegundahan hatinya. Hal yang lebih menyebalkan lagi bagi Mingyu adalah para sahabatnya yang entah bagaimana ceritanya malah mendukungnya untuk menerima perjodohan itu.

"Terima sajalah, mana tahu calonnya itu seorang gadis cantik dan juga pintar, seperti putri-putri kecantikan itu." Ujar Hoshi.

"Atau mungkin gadis dengan bentuk tubuh sempurna, S-line." Tambah Seungcheol.

"Oh Hyung, bisa saja itu lelaki manis kan." Perkataan Chan membuat Mingyu, Seungcheol, Hoshi, Seokmin dan juga Joshua yang sedari tadi diam menoleh bersamaan. "Kalian seperti tidak tahu selera Jaejoong Hyung saja." Sambungnya.

"Oh tidak, itu sangat mungkin Chan." Seru Seokmin heboh. Yang lain menyetujui pendapat Chan dan Seokmin.

"Tapi aku bukan gay!" Seru Mingyu. Yang benar saja, dia masih menyukai gadis-gadis dengan buah dada yang besar dan butt berisi seperti di video yang sering ditontonnya bersama Seungcheol dan Hoshi.

"Cinta bisa merubah apapun, Kim." Satu kalimat dari Jisoo sukses membuat Mingyu terdiam.

Setelah percakapan dengan para sahabatnya, Mingyu semakin kepikiran saja. Bahkan dia sampai mengabaikan suara pesan masuk ke ponselnya. Mingyu terlalu lelah memikirkan semuanya.

~ The Kim's Love ~

Malam harinya Mansion Kim sangat ramai. Ada banyak mobil-mobil mewah yang terparkir rapi. Mingyu baru pulang dari rumah Hoshi dan dia terkejut mendapati keramaian di rumahnya.

"Kim Mingyu! Dari mana saja Kau?"

Mingyu baru saja akan membuka pintu ketika Jaejoong muncul di depan wajahnya dengan senyuman menakutkan.

"Dari rumah Hoshi Hyung." Jawab Mingyu santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sungguh, Mingyu tidak tahu kenapa wajah Jaejoong sangat tidak bersahabat.

"Mana ponselmu?" Hardik Jaejoong. Mingyu memasukkan satu tangan ke saku depan celana sekolahnya dan mengambil benda tipis persegi empat itu.

"Buka pesannya." Perintah Jaejoong.

"Hehehe... Maaf Noona. Aku tidak tahu ada pesan." Kedua taring Mingyu terlihat jelas diikuti dengan ujung lidah yang sedikit digigitnya setelah membaca pesan yang dikirimkan Jaejoong untuknya. 'Malam ini ada makan malam keluarga dan relasi bisnis Yunho, pulanglah lebih awal.'

"Kau ini selalu saja seperti itu. Punya handphone tapi seperti tidak punya." Omel Jaejoong. "Cepat masuk ke kamar dan segera ganti pakaianmu. Sudah banyak tamu yang datang tapi kau baru pulang." Perintah Jaejoong. Mingyu hanya mengangguk dan berniat naik ke kamarnya di lantai atas. Namun suara Jaejoong menahannya kembali, "Naiknya dari tangga belakang saja Mingyu-ya, ada banyak tamu di ruang tengah, tidak enakkan sama mereka."

Mingyu menggeleng pelan, "Baiklah Noona." Jaejoong memang sangat cerewet, seperti ibu bagi Mingyu.

Tidak butuh waktu lama hingga Mingyu sudah berada di ruang tengah bersama keluarga dan tamu lainnya. Mata tajamnya menerawang ke seluruh penjuru ruangan, ia melihat beberapa orang yang dikenalnya tapi ada juga beberapa yang sangat asing baginya.

Di sofa utama ada Jaejoong dan Yunho. Ada juga Kim Heechul dan Kim Junsu yang masih sepupuan dengan keluarga Kim. Sepertinya Heechul pergi sendirian. Sementara disamping Junsu duduk seorang lelaki yang Mingyu tahu bernama Park Yoochun, suami Junsu. Di seberang mereka ada Kim Tae Hee dan tunangannya Jeong Jihoon, tapi Mingyu lebih senang memanggilnya Bi Hyung. Mereka terlihat sangat serasi, Mingyu mengagumi pasangan fenomenal ini.

Beralih dari sofa utama, di bagian barat ruangan duduk sepupu-sepupunya yang lebih muda. Kim Jonghyun yang sedang bercanda dengan Hyungnya Keybum serta Jinki. Rupanya Jinki juga mengajak adiknya, Lee Taemin dan Choi Minho datang. Tentu saja, mereka berlima ini sudah seperti keluarga, bahkan Mingyu pun dekat dengan mereka berlima. Di sana juga duduk Kim Taehyung sambil memegang ponsel silvernya. Sepertinya dia sedang tidak terlalu bersemangat. Tapi berbeda dengan Kim Namjoon yang terlihat penuh kegembiraan bersama seorang lelaki berparas manis. Mingyu tidak tahu namanya siapa, hanya saja matanya cukup lebar dibandingkan mata orang korea pada umumnya.

Sebagain besar tamu yang datang itu lelaki, sungguh membosankan. Mingyu masih berdiri di tempatnya tadi sampai matanya menangkap kumpulan para gadis di meja dekat jendela yang menghadap ke taman. Rupanya para gadis lebih senang membentuk kelompoknya sendiri. Para sepupu-sepupu cantiknya Kim Taeyeon, Kim Hyojung, dan Kim Yoojin. Diantara ketiganya Mingyu paling dekat dengan Kim Yoojin yang biasa dipanggil Uee. Diantara para sepupu cantiknya ada beberapa gadis lainnya yang Mngyu tahu adalah teman-teman dari Noona-Noonanya itu.

Mingyu pikir ini adalah pertemuan para Kim karena belum ad satupun relasi kerja yunho yang datang. Namun anehnya Mingyu tidak menemukan Hyung hitamnya, Jongin. Bahkan tidak ada satupun teman dari Jongin yang ikut makan malam, meski sebenarnya teman-teman Mingyu juga tidak ikut serta. Teman-teman Mingyu sudah mempunyai rencana semuanya, malam ini malam Mingyu, malam yang penting utntuk remaja seumuran mereka. Merasa penasaran dengan keabsenan Jongin, akhirnya Mingyu mendekati Jaejoong.

"Noona." Jaejoong menoleh ke arah suara Mingyu.

"Jongin Hyung kemana? Aku tidak melihatnya sedari tadi."

"Jongin sedang ada kegiatan ke Jeju bersama teman-teman kuliahnya. Dia akan berada di sana selama seminggu." Jelas Jaejoong.

"Ouh, baiklah. Dia bahkan tidak memberitahuku." Sahut Mingyu dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.

"Ayy, jangan bertingkah seperti itu, Kim." Cerca Heechul. "Kau seperti gadis-gadis yang diingkari janji oleh kekasihnya." Lanjutnya.

"Astaga Heechul Noona. Kau keterlaluan sekali, bagaimana bisa kau menyamakanku dengan seorang gadis? Tidak masuk akal." Mingyu protes. Dia tidak terima disamakan dengan gadis.

"Chullie itu benar, Gyu. Kau lelaki tapi terkadang sikapmu seperti seorang gadis, terlalu gemulai." Mingyu terbelalak tidak percaya mendengar perkataan Junsu.

"Bahkan saat kau sedang merajuk kau terlihat lebih manis dan aku benar-benar ingin memelukmu gemas saat itu."

"Noona, kenapa kau ikut mengataiku." Protes Mingyu kepada Taehee yang hanya dibalas dengan kekehan manis khasnya.

"Kalian ingat saat dia kecil dulu kan? Dia benar-benar menggemaskan." Seru Jaejoong mulai heboh. "Tentu saja Jae-ah. Dia pernah sampai menangis waktu minta boneka barbie. Itukan permainan untuk gadis perempuan, tapi dia memintanya, manis sekali." Jawab Junsu. "Ah, jangan lupa saat dia memakan coklat hadiah valentine kita sampai wajah dan kedua tangannya belepotan dengan coklat. Hahaha." Trio rempong ini tertawa dengan bahagia, Taehee juga ikut tertawa sembari menutup mulutnya, anggun. Sementara ketiga lelaki tampan lainnya hanya terkekeh dan menikmati acara mengganggu si bungsu.

"Teruslah membicarakanku, kalian benar-benar menyebalkan Noonadeul." Mingyu menghentakkan kakinya dan meninggalkan kumpulan yang lebih tua. Dia kesal. Dan menghentakkan kaki adalah sikap dia saat sedang kesal dengan sesuatu, tetapi hanya keluarga dn sahabatnya yang tahu hal ini. Begitulah Mingyu, dia selalu apa adanya di depan para keluarga dan orang-orang yang sudah membuatnya merasa aman dan nyaman.

Pukul 8 malam dan para kolega Yunho pun berdatangan. Tidak ramai, hanya tiga keluarga. Setelah mengobrol santai dan sedikit bercanda, mereka semuanya pindah ke halaman belakang mansion. Konsep makan malam ini lebih mirip pesta barbeque. Ada meja-meja yang disusun membentuk persegi panjang disertai kursi-kursi di setiap sisinya. Seperti meja untuk sebuah rapat. Berbagai jenis makanan sudah terhidang di atas meja tersebut, di pojokan sana ada sebuah tempat pemanggang daging yang sudah digunakan sedari tadi. Ada Cheff yang bertugas memanggang daging. Karena bosan, Mingyu mengambil alih pekerjaan cheff tersebut.

Sekumpulan asap tipis menguap saat Mingyu meletakkan daging tipis di atas panggangan. Tepat pada saat itu mata cerah Mingyu menangkap sesosok lelaki berperawakan tinggi kurus yang lewat di depannya, tidak persis, berjarak 3-5 meter mungkin. Seketika Mingyu terdiam. Entah sensasi apa ini, Mingyu terkejut. Sesuatu seperti mencubit jantungnya, menghantarkan kejutan listrik bertegangan sangat rendah.

Minggyu terdiam menatap wajah tirus yang minim ekspresi itu. Rambut sang lelaki bergesekan tersentuh angin. Kilatan cahaya lampu entah bagaimana terasa hanya menerangi lelaki itu. Mingyu yakin jika lelaki itu memiliki bola mata sekelam rambutnya. Dan Mingyu juga sangat yakin jika tinggi sang lelaki tidak lebih darinya. Pandangan Mingyu beralih pada pinggangnya dan betapa terkejutnya Mingyu saat dapat menerka jika pinggang itu berukuran sangat ramping untuk ukuran seorang lelaki.

Mingyu masih terpaku ke satu arah sampai Jaejoong datang dan menepuk bahu tegapnya. Sontak Mingyu beralih ke arah Hyung-nya. Wajahnya melukiskan rasa tidak suka, dia merasa terganggu. Jaejoong yang melihat hal itu memberikan seulas senyum tipis kepada adik bungsunya seraya mengusak kepala Mingyu.

"Dagingnya sudah gosong." Jaejoong menunjuk daging di atas dan terkekeh.

"Aaa... Dagingku!" Jerit Mingyu histeris dan mengambil daging tersebut dengan buru-buru menggunakan jepitan daging.

"Hehe... Biarkan cheff yang bekerja dan kembalilah ke kursi mu, kita akan segera makan." Perintah Jaejoong.

"Hupft, baiklah Noona." Mingyu meletakkan jepitan daging dan mengelap keringat tipis di pelipisnya. Jaejoong menggandeng lengan Mingyu saat menuju ke meja makan. Postur Jaejoong yang lebih pendek dari Mingyu membuat mereka terlihat seperti sepasang kekasih dari kejauhan.

Yunho menyambut tangan Jaejoong dan mendudukkannya di kursi. Kemudian Yunho membuka sambutan untuk acara makan malam kali ini. Makan malam yang hangat dan penuh nuansa kekeluargaan membuat mereka menikmatinya dengan gembira.

"Terima kasih kalian sudah datang ke penjamuan makam malam kami. Menemukan waktu untuk bisa bersantai, mengobrol dan bercanda dengan kalian semua adalah hal yang sangat suli. Kalian semua orang-orang yang sibuk." Para tamu tertawa mendengar perkataan Yunho. "Untuk keluarga Jeon, Keluarga paman Kim, dan keluarga Do yang sudah bersedia datang, aku juga sangat menghargainya." Yunho sedikit membungkuk kepada para keluarga itu.

"Sebelumnya aku akan memperkenalkan keluargaku." Yunho mengulurkan tangannya ke arah Jaejoong dan menariknya berdiri. "Dia istriku, Jung Jaejoong." Yunho menatap penuh pemujaan kepada Jaejoong. "Kalian tentu sudah mengenalnya, bukan."

"Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Tuan Jaejoong." Jawab Tuan Jeon. Nyonya Jeon dan beberapa tamu lainnya mengangguk setuju.

"Tentu saja, bahkan terkadang dia lebih terkenal dariku." Sontak seluruh yang datang tertawa, tapi itu memang kenyataannya.

"Nah, selanjutnya itu adalah adik iparku, Kim Keybum dan tunangannya Lee Jinki." Mendengar namanya disebut, Keybum dan Jingki bangun dan sedikit membungkuk. "Sebentar lagi mereka akan menikah, tunggu saja undangannya." Celoteh Yunho. Wajah Key sudah merona mendengarkan ucapan kakak iparnya.

"Dia melangkahiku, huh sunggu menyebalkan." Timpal Heechul tiba-tiba.

"Jangan salahkan mereka, Chulli-ya. Hangengmu saja yang terlalu sibuk di China saja. Suruh dia pulang dan melamarmu." Kali ini Junsu yang berkomentar. Sepupu sekaligus sahabat baik ini memang sangat senang saling menggoda. Heechul hanya mengerucutkan bibirnya.

"Baiklah, yang terakhir ini adalah si bungsu keluarga Kim, namanya Kim Mingyu." Semua mata beralih ke arah Mingyu. Hal ini membuat Mingyu sedikit salah tingkah. Dia membungkuk kecil ke berbagai arah, kemudian memegang tengkuknya, gugup. Terlebih sepasang mata kelam itu terus memadangnya dalam, seolah menelanjanginya.

Jaejoong dan Keybum tersenyum melihat Mingyu salah tingkah. Lalu Yunho melanjutkan, "Sebenarnya ada satu orang lagi adik kami, Kim Jongin. Tapi dia sedang ada keperluan di luar kota. Mungkin dikesempatan lain kita bisa bersamanya." Yunho tersenyum.

"Nah, silahkan nikmati hidangannya dan jangan sungkan-sungkan, jika membutuhkan apapun silahkan panggilkan saja para maid." Yunho menutup sambutannya sebagai tanda dimulainya acara makan malam mereka.

Sepanjang acara makan, Mingyu tidak berhenti curi-curi pandang ke arah lelaki tadi. Entahlah, seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang memerintahkan otaknya untuk terus menatap ke arah lelaki itu. Tak jarang Mingyu tersenyum simpul saat melihat lelaki itu mempermainkan bibirnya, lucu. Di lain waktu Mingyu akan terpesona saat lelaki itu tersenyum tipis akibat candaan pemuda lainnya di sebelah sang penarik perhatian. Kening Mingyu mengerut tidak suka.

Keybum yang menyadari perubahan pada adiknya iseng mendekatkan dirinya ke tempat duduk Mingyu. Refleks Mingyupun mendekatkan telinganya ke arah Keybum.

"Ku dengar dari Jaejoong Hyung dan Yunho oppa, kau akan di jodohkan dengan lelaki tampan yang memakai baju hitam itu. Namanya Jeon Jungkook."

Mingyu berkerut. Tidak, bukan lelaki itu yang Mingyu mau.

"Kau tidak bercanda kan Noona?"

"Tidak. Dan satu orang lagi yang akan dijodohkan dengan mu itu seorang gadis, namanya Kim Sohyun. Dia kerabat jauh Appa." Jawab Keybum seraya menunjuk seorang gadis manis berambut panjang bergelombang, dengan dagunya. Lagi-lagi ekspresi tidak setuju tergambar di wajah Mingyu. Keybum cukup paham penolakan tidak terlihat yang ditunjukkan adiknya tanpa sengaja ini.

"Noona..." Mingyu menatap Keybum dengan pandangan paling memelas. Keybum paham dan hanya merangkul pundak Mingyu seraya menepuknya perlahan.

"Noona mengerti, Gyu-ya. Semangatlah." Mingyu terdiam tidak memberikan reaksi apapun. Sekali lagi Mingyu memperhatika ntiga orang di depan sana. Jeon Jungkook, Kim Sohyun, dan laki-laki berwajah dingin yang Mingyu tidak tahu namanya siapa. Berapa kalipun Mingyu mencoba menarik dirinya dari lelaki itu, pada akhirnya matanya hanya akan membawanya kembali kepada sang lelaki.

Entah kebetulan atau memang takdir, mata Mingyu bertubrukan dengan pandangan lelaki manis itu. Mereka saling bersitatap beberapa menit, tapi bagi Mingyu itu terasa sangat singkat. Mingyu dapat dengan jelas melihat garis wajah yang tegas tetapi halus di saat bersamaan. Mingyu juga melihat mata kelam dengan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya, seolah menarik Mingyu untuk terlarut dalam putaran dimensi lain. Mingyu menahan nafasnya. Ini begitu memabukkan bahkan hanya dengan melihatnya saja. Tanpa sadar Mingyu menelan kasar air liurnya. Jemarinya meremat.

Sampai akhirnya si manis mengalihkan pandangannya ke gelas di depannya, mengangkat gelas tersebut dan memimun cairan bening di dalamnya. Bahkan di saat ada segelas wine yang tersaji di depannya, si lelaki malah memilih air putih. Mingyu tertarik. Tidak sampai di situ, mata Mingyu masih terus memperhatikan bagaimana air tersebut berpindah dari gelas ke dalam mulut lelaki itu. Saat ia menelan air tersebut, jakun mungilnya bergerak naik turun dengan begitu erotis. Mingyu bernafas kasar saat melihat hal itu. Kemudian si manis menjilati sudut bibirnya yang sedikit basah terkena air. Mingyu bahkansekarang berpikir jika lelaki itu berniat menggodanya. Bahkan Mingyu sudah lupa jika dia sedang makan bersama keluarga dan rekan kerja kakaknya. Pandangan, perhatian, dan pikiran Mingyu hanya terfokus pada satu titik, sang lelaki manis.

"Wonwoo."

Mingyu terhenyak. Dia berpaling ke kiri dan menemukan Jaejoong berbisik di telinganya.

"Huh, apa Noona?" Tanya Mingyu tidak mengerti.

"Jeon Wonwoo." Ulang Jaejoong. Mingyu masih mengernyitkan dahinya, tidak mengerti.

"Lelaki manis itu kan?" Tanya Jaejoong sambil menatap ke arah lelaki manis kesukaan Mingyu. Mingyu sudah mengakui rasa sukanya tadi, mengaku begitu saja pada dirinya sendiri.

"Noona... A-aku..." Mingyu terbata. Antara malu, segan dan takut.

"Namanya Jeon Wonwoo. Dan dia memang sangat manis." Jelas Jaejoong. Mingyu mengalihkan pandangannya lagi ke lelaki yang disebut Wonwoo oleh Noonanya.

"Kau tertarik dengannya?" tanya Jaejoong tiba-tiba membuat Mingyu terkejut luar biasa.

"Eumm, entahlah. Aku tidak tahu."

'Bohong!' Seru Jaejoong di dalam hati. Jaejoong tersenyum manis kepada Mingyu. Kemudian ia berkata, "Perjodohan ini akan tetap terjadi meski calonnya bisa saja berubah, kau paham Gyu-ya?" Sebuah cubitan mendarat di pipi Mingyu, membuatnya meringis. Mingyu terdiam memikirkan ucapan Jaejoong. Itu berarti dia masih punya kesempatan kan? Mingyu masih bisa menolak perjodohan itu kan? Atau ia bisa merubah calon jodohnya saja kan?

Sebuah harapan muncul dari dalam diri Mingyu. Harapan yang begitu menggebu. Sekali lagi diarahkan pandangannya ke Wonwoo. Mingyu menyukai nama itu. Terdengar manis sesuai dengan orangnya.

Lagi, seperti permainan takdir, mata mereka berdua kembali saling menyapa. Kali ini Mingyu tidak hanya terdiam. Sebuah senyum manis dia lemparkan ke arah Wonwoo. Dan Wonwoo segera memalingkan wajahnya, ada rona merah tipis muncul di kedua pipinya. Membuat Wonwoo semakin manis dan bersinar. Bagi Mingyu malam ini terlihat lebih terang dan hangat dibandingkan malam-malam sebelumya.

~ TBC ~

Banyak-banyak terima kasih buat para reader. Ga nyangka review nya akan selumayan ini.

Oya, FF ini akan aku fokuskan ke dua couple saja, mungkin KaiSoo dan Meanie. Karena dua couple lainnya memang sudah tidak banyak konflik yang akan muncul. Nah, untuk itu aku minta sarannya dong konflik yang sekiranya menarik menurut kalian apa. Tuliskan di kolom Review yah.

Maaf banget ya ini updatenya lama. Heumm, sesuatu terjadi belakangan terakhir kan? Sempat membuat mood melanjutkan ini berkurang. Tapi 17FOSTER memang sangat membantu dan menginspirasi. Akhir kata, jangan bosan-bosan ngasih komentar, kritik, dan sarannya yah.

Balasan Review:

JonginDo: Uke, ini udah Lanjut. Makasih udah baca ^^

Wonnderella: Cast nya banyak, pusing sebenarnya Wonn, hehehe. Ini udah ketahuan yang mau dijodohin dengan Mingyu kan? Tapi belum pasti kok. Dan yunjae itu selalu sweet sampai kapanpun. Baca lagi deh fic yunJae. Maaf chap ini Kaisoo nya belum muncul :v Makasih udah baca ^^

Itsathenazi: Cocok ya, Zinn? Hehehe... sama-sama tan sih ya. Makasih udah baca ^^

Flawlessblack: ini juga semuanya pairing favorit aku. Ini udah di lanjut. Makasih udah baca ^^

Dayeji LN: Ini udah di lanjut. Makasih udah baca ^^

Svtvisual: maafkan daku Win, keramaian yah.. hoho.. tapi banyakan bahas Meanie kok nanti, tenang aja. Makasih buat masukannya Win. Makasih udah baca ^^

Daeminjae: Ini juga favorit aku semuanya Jae. Itu udah ya calonnya... Makasih udah baca ^^

Hibiki kurenai: makasih banget buat kritikannya, nagi. Duh, butuh reader yang seperti kamu deh. Ah, semoga chap ini cukup memuaskan yah /gayakin. Makasih udah baca ^^

Monwii: nah, dua-duanya bukan Wonu. Gimana dong, Lic. Heheh. Makasih udah baca ^^

oomuoMingyu: Vkook ada kok ntar di chap depan, tunggu aja yah. Itu calonnya Mingyu ga ada Wonunya, Rul. Heheh. Makasih udah baca ^^

Firfha858: ini sudah dilanjut. Makasih udah baca ^^

Hoshilhouette: pairingnya memang banyak, Tam. Tapi aku fokusin ke dua kapel aja kok, karena memang ntar konfliknya ada di dua kapel ini, sementara yang lainnya berperan membantu menyelesaikan konflik ini. Aslinya mah Jae sama Key memang akan ngamuk kalo dipanggil nuuna meskipun mereka terima dengan lapang dada ketika di panggil Umma oleh Changmin dan Taemin. Haha. Makasih udah baca ^^

Skyblue phoenix: terima kasih. Mereka semuanya manis, hohoho. Yang dijodohin sama Mingyu bukan Wonwoo. Hehehe. Makasih udah baca ^^

Reader: Oke, ini sudah di lanjut. Makasih udah baca ^^

AYP: Oke, ini sudah di lanjut. Makasih udah baca ^^

NazulaAlimatun: ah, terima kasih. Oke, ini sudah di lanjut. Makasih udah baca ^^

Hamipark76: duh, maaf jika ini tidak sepanjang chap.1. Ini sudah di lanjut. Makasih udah baca ^^