Disclaimer:
Jeong Taekwoon ciptaan Sang Khalik. Fura tidak lebih dari sekedar pinjam nama dan memiliki OC. Namun Jellyfish Ent. tetap yang membuat Fura mengenalnya sebagai partner duo VIXX LR bersama Ravi *-*
.
.
Happy Reading!
.
.
AUTHOR POV
Setelah mengistirahatkan diri di taman, Jung Hyejin baru akan memulai makan siangnya di kantin. Dengan sup miso yang baru tiba di mejanya, gadis bersurai gelap itu sesekali meniup kepulan uap dari panasnya kuah yang baru menyatu dengan udara sekeliling kantin. Setelah berdoa, gadis pemilik manik onyx itu mulai menyuapkan suapan pertama.
Gubrak
Hyejin mendongak kaget. Dari indera penglihatannya, dia dapati seorang siswa berhidung mancung terjatuh dari kursi kantin yang rupanya sudah rapuh. Dilihatnya seisi kantin terkekeh melihat kejadian itu.
"Aku kan sudah bilang jangan duduk di situ!" omel Hakyeon sambil membantu Jaehwan berdiri.
Semua mata di sana memandang ketiga siswa itu. Tidak sedikit yang terkekeh mengingat posisi jatuhnya Lee Jaehwan tadi dan tidak sedikit yang tersenyum-senyum berharap mendapat balasan senyum dari salah satu siswa di sana, Jeong Taekwoon.
Perlahan, bibir ranum gadis Jung itu menyunggingkan senyum. Sedikit terkekeh mengingat kejadian di depannya. Tanpa Jung Hyejin sadari, iris onyx di sana tengah memandang ke arahnya. Hyejin yang sempat menunduk menahan tawa kini mendongak dan tanpa sengaja pandangan iris onyxnya dengan iris onyx lelaki Jeong itu bertemu. Setelah membulatkan matanya terkejut, Hyejin yang enggan salah tingkah mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jadi kita mau duduk dimana? Kantin ini begitu ramai, tidak ada tempat lagi untuk duduk," Jaehwan membalas omelan Hakyeon.
Kemudian, Taekwoon berjalan ke salah satu meja yang hanya ditempati satu penghuni kantin.
Jung Hyejin yang kembali memakan sup misonya lagi-lagi mendongak. Mendapati Taekwoon, Jaehwan, dan Hakyeon yang berdiri di depan mejanya.
"Apakah bangku ini kosong?" tanya Taekwoon tanpa melepas kontak mata dari iris hitam Hyejin.
Hyejin tersentak. Kemudian dia menunduk. Berharap ada sesuatu datang dan mampu membuat degup jantungnya kembali normal. Hyejin gelagapan. Antara senang dan ingin menjerit, itulah yang dia rasakan manakala berpikir Jeong Taekwoon dan dua temannya akan makan di meja yang sama dengannya. Sampai akhirnya Hyejin menghela napas.
"Ne," jawab Hyejin pelan. Dapat dirasakan pipinya memerah saat ini.
"Baiklah, gomawo."
Hyejin mendongak melihat tiga orang pria di hadapannya pergi. Jiwanya serasa akan terbang dari raganya. Tak terpikirkan olehnya bahwa Taekwoon bertanya begitu untuk meminjam salah satu kursi di sana untuk menggantikan kursi yang patah oleh Jaehwan. Dan pada akhirnya, tiga orang itu tetap makan siang di meja yang ada di seberangnya. Sama sekali tak duduk satu meja dengannya. Tentu saja rasanya sakit. Tapi Hyejin juga sedikit menyesal karena berharap terlalu banyak.
Tes
Kristal bening menetes pada kuah sup misonya yang masih sebanyak tiga perempat dari porsi sebelumnya. Hyejin menangis tanpa suara. Gadis itu menunduk. Menyeka air di pelupuk matanya dan bangun dari duduknya. Berjalan lemas menuju kelasnya tanpa berpikir untuk melanjutkan makan siangnya.
"Kenapa aku menangis? Sampai kapan pun aku hanya sekedar ada sebagai adik kelasnya. Tidak lebih. Mana mungkin aku bisa berharap lebih?" gumam Hyejin yang kemudian berlari dari tengah-tengah kantin setelah melangkah pelan dari mejanya.
Blam
Jung Hyejin yang baru saja membanting pintu toilet dan berlari ke arah wastafel segera memutar kran air dan mewadahi air mengalir dengan kedua telapak tangannya. Hyejin membasuh wajahnya dengan air beberapa saat sampai akhirnya mendongak memandang cermin. Mata hitamnya menatap sayu bayangan dirinya pada cermin. Dia sangat mengagumi Jeong Taekwoon. Senior yang sudah menjadi pusat perhatiannya selama satu semester ini sudah cukup menyita waktunya. Sudah berkali-kali Hyejin menghayal sendiri. Hyejin menyesal karena bisa serapuh ini. Berjanji, Hyejin berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi kerapuhan yang sama. Dia sangat berharap ini kali terakhir dia menangis.
.
.
.
Setelah jam pelajaran terakhir, sejumlah murid berhamburan meninggalkan gedung sekolah. Tanpa terkecuali Hakyeon dan Jaehwan yang memutuskan untuk meninggalkan Taekwoon pulang. Akibat ketidakhadiran Jung Taekwoon tempo hari, Kim Wonshik memberikannya tugas susulan. Itulah alasan Taekwoon masih sibuk duduk berseberangan dengan Wonshik di ruang guru. Itulah alasan Jung Taekwoon masih berkecimbung dengan tugas fisikanya.
Cklek
Di ruang guru yang hanya dihuni Wonshik dan Taekwoon, masuklah seorang guru pelajaran matematika bersama salah satu muridnya yang membawa buku-buku tugas.
"Terimakasih sudah membantu mengumpulkan tugas kelasmu, Jung Hyejin," ujar Kim Hongbin yang dibalas anggukan dan senyuman tipis pemilik manik onyx.
"Sama-sama, Lee-songsaengnim. Kalau begitu aku mohon izin pamit," ujar Hyejin sambil membungkuk hormat setelah meletakkan buku tugas yang bertumpuk itu. Dia juga membungkuk hormat pada Wonshik yang duduk rangkap tiga meja di sebelah meja Hongbin. Iris onyxnya tak mendapati Taekwoon yang sebelumnya sedang mengerjakan tugas di sana. Mungkin Taekwoon sudah selesai dengan tugas fisikanya, pikirnya. Tak ambil pusing, Hyejin pun berjalan ke arah ambang pintu ruang guru.
"Bolehkah aku bicara denganmu?"
Hyejin yang sudah berbelok menghentikan langkahnya setelah mendengar ada yang bicara di belakangnya. Perlahan, gadis itu pun berbalik.
"Tae-taekwoon-sunbaenim?"
.
.
.
Hyejin duduk di atas bangku taman tempatnya biasa bersantai. Menikmati bisikan angin yang membuat surai gelapnya melambai bebas di atas kepalanya. Tapi kali ini dia tidak sendiri. Seorang lelaki dengan lekuk wajah tegas baru saja membuatnya mau tak mau mengajak lelaki itu bicara di sini. Dan kali ini, mereka duduk berdua di bangku taman tempat duduk Hyejin biasanya. Sejak tadi gadis itu hanya menunduk. Memandang tanah dan mendengar bisikan angin yang hening juga sesekali mendengar suara helaan napas lelaki di sampingnya.
"Kau tau, Hyejin-ssi? Aku sudah melihatmu sejak lama," gumam Jeong Taekwoon yang masih mendongak memandang merah mega. Hyejin yang sempat tertegun kini menoleh memandang lelaki Jeong itu. Taekwoon yang sedari tadi sedang memandang langit, kini balik menatap Hyejin.
"Ma-maksud Taekwoon-sunbaenim apa?"
FLASHBACK
Bulan Pertama Semester 1
Jung Taekwoon yang sedang menghabiskan jam istirahatnya di kelas, memilih menikmati rotinya di dekat jendela. Berhubung ruang kelasnya bersebelahan dengan taman sekolah, Taekwoon biasa menikmati pemandangan taman dan hembusan angin sepoi-sepoi dari jendela kelas yang terbuka. Sampai suatu ketika, sebuah sosok menarik perhatiannya.
"Jung Hyejin," gumam Taekwoon begitu membaca nametag pada kemeja seragam gadis bersurai gelap itu.
Taekwoon tak kunjung melepas pandangannya dari gadis yang sedang menyiram tanaman hias.
"Taekwoon-ah! Ayo kita ke atap sekolah!" ajak Cha Hakyeon usai mendobrak pintu kelas Taekwoon yang sedang sepi. Taekwoon yang baru akan memanggil gadis yang dilihatnya dari jendela hanya tersentak kaget. Begitu iris onyxnya diarahkan untuk memandang Hakyeon, Taekwoon menghela napas kasar.
"Hn, baiklah," sahut Taekwoon sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana dan berjalan mendekati Hakyeon yang juga dirangkul Jaehwan. 'Mungkin lain kali aku akan bertemu dia lagi,' batin Taekwoon sambil tersenyum tipis.
Bulan Ketiga Semester 1
Pagi ini cuaca sedang tidak cerah. Hujan deras terus mengguyur sejak matahari belum menampakkan diri dari ufuk timur. Jeong Taekwoon yang sedang sarapan roti di bangku kelasnya -yang tetap dekat dengan jendela- tertarik perhatiannya oleh sosok di taman belakang sekolah. Jung Hyejin berjalan menuju taman untuk memeriksa tanaman hias yang dirawatnya. Taekwoon terkejut melihat apa yang dilakukan Hyejin pada seekor anak kucing yang duduk di antara tanaman-tanaman hias itu.
"Ugh, kau pasti kedinginan," gumam Hyejin sambil menggendong kucing itu dari sela-sela semak peliharaan. Hyejin meletakkan payungnya di atas tanah dan meletakkan kucing itu agar berteduh dengan nyaman di bawahnya.
Taekwoon benar-benar akan memanggil gadis itu sebelum bel masuk berbunyi. "Ck, Jung Hyejin, kapan aku dan kau..." Jeong Taekwoon kembali menghela napas kasar.
Bulan Keenam Semester 1
"Taekwoon-sunbaenim!"
"Hei, kau dipanggil." celetuk Cha Hakyeon yang menyadari ketidakpekaan indera pendengaran Jung Taekwoon.
"Aku dengar," sahut Taekwoon sambil tetap berjalan.
"Tetap merasa itu sekedar teriakan penggemar, huh?" celetuk Jaehwan asal.
"Menyebalkan!" suara itu seolah menggema di telinga Taekwoon dan membuat langkahnya terhenti untuk kali ini.
Taekwoon menoleh dan mendapati Jung Hyejin sudah berbalik pergi. Iris onyxnya membulat melihat sebatang cokelat yang digenggam tangan kanan gadis itu.
'Mungkinkah cokelat itu untukku?'
.
"Apakah bangku ini kosong?" tanya Taekwoon tanpa melepas kontak mata dari iris onyx Hyejin.
Hyejin tersentak. Kemudian dia menunduk. Berharap ada sesuatu datang dan mampu membuat degup jantungnya kembali normal. Hyejin gelagapan. Antara senang dan ingin menjerit, itulah yang dia rasakan manakala berpikir Taekwoon dan dua temannya akan makan di meja yang sama dengannya. Sampai akhirnya Hyejin menghela napas.
"Ya," jawab Hyejin pelan. Iris onyx lelaki Jeong pun membulat. Taekwoon tertegun melihat rona merah di pipi gadis di hadapannya.
"Baiklah, gomawo," ujar Taekwoon sambil berjalan menyeret salah satu kursi untuk dipindahkan ke meja tempatnya tadi mau duduk.
'Apakah salah tingkahnya tadi adalah karenaku?'
Hyejin mendongak melihat Taekwoon berbalik pergi membawa kursi itu. Hyejin tidak lihat saja mimik penyesalan Taekwoon sekarang.
'Kenapa aku tidak duduk dengannya saja? Entahlah, aku takut bukan untukku lah mimik tersipu itu. Aku takut bukan untukku lah cokelat yang dibawanya tadi. Aku takut, sangat takut.'
Dan tanpa Taekwoon sadari, jiwa Hyejin serasa akan terbang dari raganya. Tanpa Taekwoon sadari Hyejin merasakan sakit dan sedih. Salahkah jika Taekwoon maupun Hyejin berharap banyak?
Tes
Kristal bening menetes pada kuah sup misonya yang masih sebanyak tiga per empat dari porsi sebelumnya. Hyejin menangis tanpa suara. Gadis bersurai gelap itu menunduk. Dari tempat yang tak jauh dari tempat Hyejin makan, Taekwoon sadari gadis itu menangis. Iris onyxnya tak lepas dari gadis yang kini menunduk.
'Dan apakah benar aku yang menjadi alasanmu menangis?'
FLASHBACK END
Taekwoon sudah cerita banyak. Dan Hyejin juga sudah banyak terisak. Dia terkejut bukan main begitu mendengar apa yang Taekwoon rasakan selama ini. Yang Taekwoon rasakan selama ini hanyalah takut. Takut bukan dia yang menjadi penerima cokelat dari Hyejin. Takut bukan dia yang menjadi alasan Hyejin merona tersipu. Namun sekarang ketakutan itu datang bersamaan dengan sisi baik dari ketakutan itu sendiri. Jika ketakutan Taekwoon tentang dirinya yang menjadi alasan Hyejin menangis tidak pernah datang, belum tentu Taekwoon akan mengatakan semuanya untuk membuat Hyejin dan dirinya sendiri merasa lebih tenang, bukan? Dan sekarang hasilnya, lega bukan main. Hyejin lega akhirnya bisa dekat dengan Taekwoon. Baginya itu sudah lebih dari cukup.
"Jadi, bisakah kau berhenti memanggilku 'sunbaenim'?" tanya Taekwoon yang membuat Hyejin memandangnya masih dengan mata yang sembab. "Maksudku, bisakah aku menjadi lebih? Err...kau tau maksudku kan, Hyejin-ssi?" Taekwoon tertawa hambar setelah mengatakannya. Pipinya memanas menahan gugup.
Tak lama, gadis itu menyeka sisa kristal di pelupuk matanya dan memandang Taekwoon sambil tersenyum tipis.
"Jika aku menginginkannya, apakah kau akan memberikanku izin untuk menganggapmu lebih?"
END
A/N:
Udah, scene pelukannya diimajinasikan sendiri aja *ditimpuk pisang*
Fict ini selalu aneh deh yampon! Om Ravi jadi guru fisika :v Bang Hongbin jadi guru matematika X3
Ulang! Om Ravi jadi guru fisika :v Bang Hongbin jadi guru matematika X3 Andai dua bidang studi maut itu benar-benar ada yang gurunya seperti mereka XD
Argh! Apakah ada yang paham maksud fict ini? Apakah isinya sungguh jauh dari judul? Ah sudahlah, Fura pasrah.
Makasih ya kalian yang sudah RnR & FnF itu pun jika ada. Ada lagi yang mau req fict? :v *sok jago*
Mind to Review?
