MARKHYUCK

MARK x DONGHYUCK

Happy Reading!

.

.

Jika boleh jujur, sebenarnya Haechan tak suka jika ia menjadi pusat perhatian seperti ini. Tapi apalah daya, Mark seolah membuatnya masuk kedalam lubang kesengsaraan yang tak berujung.

Teman sekelasnya kadang menatap Haechan dengan pandangan menyelidik, lalu setelahnya melewatinya tanpa sepatah katapun. Haechan tak mengerti, apa salahnya dengan sapaan dari seorang Mark Lee? Hell, dia juga manusia sama seperti Haechan dan seluruh siswa dan siswi. Disapa Mark Lee bukan berarti akan langsung mendapat gelar sebagai manusia paling beruntung sedunia, begitulah pemikiran singkat dari Haechan yang sudah menahan segala umpatannya sejak pertama kali Mark menyapanya didepan publik.

"Serius, kudengar dia yang berhasil mencairkan hati Mark Sunbae."

Haechan merasa jika telinganya berdengung hebat akibat bisikan dari segerombolan gadis yang tengah bergosip dikoridor. Namun ia memilih acuh, memilih tak mengidahkan sedikitpun. Padahal dalam hatinya ia tengah menangis sejadinya, memanggil nama ibunya yang saat ini tengah berada di Jeju guna mengurusi sekolah adiknya.

"Sudah, jangan didengarkan. Mereka itu hanya kurang kerjaan."ucap Jaemin saat menyadari kegundahan hati Haechan setelah sesampainya dikelas. Ia tersenyum maklum sambil mengelus pelan punggung Haechan. Namun bukan Haechan jika baru diperlakukan seperti itu sudah luluh dan mendengarkan ucapan Jaemin.

"Kau tidak akan mengerti sampai kapanpun. Dan, semua ini karena ulah Mark sunbae! Coba dia tidak memanggilku seenaknya, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi."gerutu Haechan sambil merenggut imut. Jaemin menggelengkan kepalanya, heran.

"Ya ini juga salahmu. Mengapa kau bertanya pertanyaan konyol seperti itu?"

"Aku bertanya karenamu, bodoh! Lagipula, mana aku tahu jika hal sepele seperti ini bisa berefek besar?"sungut Haechan tak terima dengan ucapan Jaemin. Mendengarnya, Jaemin tiba-tiba merasa disalahkan. Sudah cuacanya panas, dan Haechan seperti menambah panas hatinya dengan ucapannya.

"Oh ya? Lantas semuanya jadi salahku, begitu?"

"Ya, semua ini salahmu. Jika saja kau tidak bilang seperti itu lalu menyuruhku meminta anime hentai pada Mark sunbae, hidupku pasti masih aman tentram!"

"Bagus, sekarang kau malah menyalahkan dan menumpahkan segala hal padaku. Seolah aku adalah akar dari kejadian yang baru saja terjadi padamu. Dengar, seharusnya saat kau akan melakukan sesuatu kau saring terlebih dahulu apakah hal itu akan menimbulkan masalah atau tidak!"

Jaemin berkata dengan berapi-api, lalu melenggang begitu saja. Haechan menatapnya kaget. Ini semua ide Jaemin? Tapi kenapa seolah jadi tersangka seperti ini? Ia mengelus dada, sabar. Tak menyangka punya teman sepemarah dan sekonyol Jaemin.

"Maksudnya apa dia itu? Mengajakku untuk perang? Baiklah, kau akan menyesal Na Jaemin."

Haechan tertawa masam dalam hati. Ia merasa tak punya siapa siapa lagi. Namun egonya terlalu tinggi, jadi ia abai saja. Atau lebih tepatnya, pura-pura abai.

.

.

.

Mark : Keruangan design grafis

Mark : Sekarang

Haechan mendengus sebal sambil memandang ponselnya yang terus bergetar karena chat dari Mark yang seolah memburunya. Ia menggeram dalam hati, hari ini tekadnya sudah kuat sekali untuk mangkir dari rapat mingguan yang selalu diadakan untuk evaluasi hasil kerja para panitia sebelum menuju perlombaan beberapa minggu lagi.

"Dia tidak akan pernah membiarkanku hidup tenang."ucap Haechan dengan nada yang teramat pelan. Ditelungkupkannya badannya ke meja, lalu bersiap untuk tidur. Baru saja ia akan jatuh ke alam mimpi, seseorang menepuk pundaknya pelan. Sontak hal tersebut membuatnya mendongkak, dan menemukan Hina yang tengah memandangnya.

"Ada apa?"tanya Haechan saat menyadari keterdiaman Hina.

"Kau dicari.. Mark sunbae."

Haechan inginnya memilih tak percaya, tapi matanya memandang keluar jendela dimana Mark tengah berdiri dengan tegapnya. Ia malas keluar dan jadi bahan tontonan siswa dan siswi yang tengah berdiam dikoridor.

"Bilang aku tak ada."ucap Haechan, Hina menggaruk pipinya sejenak lalu menggeleng singkat.

"Tidak bisa. Tadi saja dia memaksaku memanggilmu apapun yang terjadi."

Omong omong soal Hina. Hina adalah salah satu anggota Design Grafis aktif. Tapi beberapa minggu yang lalu memutuskan untuk keluar sejenak karena jadwal ekstrakulikuler yang bentrok antara Design Grafis dan Matematika Klub. Jadi tak heran mengapa Mark dapat memerintah Hina sepuas hatinya.

"Omong kosong. Aku tidak mau menemuinya. Bilang aku sedang ke kantin."ucap Haechan dengan nada mutlak membuat Hina bergidik ngeri. Lalu setelahnya ia berjalan menjauhi Haechan dan menemui Mark yang masih berdiam diluar.

Haechan menghela nafas setelahnya, lalu kembali menelungkupkan badannya dimeja. Otaknya berputar soal kemungkinan Mark akan marah besar padanya.

Mark itu sangat amat baik sebenarnya. Tapi ia hanya tak tahu bagaimana cara berinteraksi. Ia kaku dan terlalu pendiam. Ia cuek akan segala hal kecuali pada apa yang dicintainya. Dan itupula yang membuat Haechan selalu merasa istimewa karena dapat mengobrol apapun dengan bahasan yang tiada batasnya.

"Jadi ini maksudmu dengan pergi kekantin?"

Haechan menegang seketika.

.

.

.

"Kenapa harus datang kekelas, sih?"tanya Haechan ketika ia tengah berjalan beriringan bersama Mark menuju ruang Design Grafis. Ia mendengus ketika menyadari Mark yang tetap bungkam dan tak menjawab pertanyaannya.

"Sunbae, jawab."

"Tanyakan hal itu pada orang yang berbohong dengan berkata jika ia tengah dikantin, padahal ia tengah bermalas-malasan dikelasnya dengan begitu nyamannya."ucap Mark dengan pandangan yang lurus kedepan. Haechan mendengus lagi, lalu mendorong pundak Mark yang berada didepannya.

"Maksudmu apa dengan bermalas-malasan, hah? Kepalaku sakit, dan itu karenamu sunbae! Kau mana mengerti hal seperti itu."

"Aku tidak akan pernah mengerti, sampai kau bilang jika kau sakit."

Heol, Haechan tak percaya jika ia akan mendengar Mark berbicara seperti itu. Diam-diam senyum terulas dengan begitu manisnya dikedua bibirnya, walau tak mengurangi sedikitpun dongkol yang menggerogoti hatinya.

"Terserah sunbae, aku mau kembali ke kelas saja."

Haechan sudah bersiap untuk berlalu pergi sebelum satu pergerakan yang Mark ciptakan membuatnya terhenyak dan terlonjak kaget. Ia menatap Mark yang tiba-tiba menarik buku yang berada didekapan Haechan lalu membawanya lari begitu saja. Haechan melongo lalu sedetik kemudian ia sadar jika bukunya tengah berada digenggaman Mark. Dengan setengah tak percaya jika Mark melakukan hal konyol seperti ini, ia mengejar Mark yang sudah menghilang diantara kerumunan siswa dan siswi.

"Ya tuhan, aku terjebak bersama orang konyol setelah Jaemin. Semoga aku diberi banyak kesabaran."

.

.

.

"Sunbae bukuku "

"Jadi, Jeno sudah sejauh mana perkembangan siswa yang mendaftar?"

Haechan mendengus sebal saat Mark lagi lagi abai pada keberadaannya.

"Sudah hampir delapan puluh persen, sisanya masih menunggu menyerahkan formulir."ucap Jeno dengan pelan dan hangat. Ia lalu membuka kembali buku dihadapannya, lalu menyerahkannya pada Mark.

"Sunbae bukuku."bisik Haechan yang duduk tepat disamping Mark. Mark melirik Haechan menggunakan ekor matanya, lalu kembali fokus pada buku catatan yang baru saja diberikan Jeno padanya. Ia membaca beberapa nama yang ditulis rapih oleh Jeno sendiri. Walau fokusnya tengah teralihkan oleh bocah yang bergerak gelisah disampingnya.

"Ini daftar siswa yang akan mengikuti lomba Design Grafis, beberapa diantaranya adalah mantan pemenang lomba design grafis tahun kemarin dan–"

"Coret mereka."

"Hah? Apa?"

"Sunbae bukuku."bisik Haechan lagi, dan sekali lagi ia kembali diabaikan. Haechan jadi heran, maksud Mark menyuruhnya untuk datang ke rapat mingguan sebenarnya untuk apa? Ini hanya perkumpulan singkat antara para anggota inti Design Grafis, dan Haechan belum resmi dilantik menjadi anggota inti Design Grafis. Walau biasanya ia menurut saja jika Mark memerintahnya untuk datang kesana atau kesini, tanpa pernah mengerti maksud dan tujuan dari perintah Mark selama ini.

"Kita tak bisa mengadakan lomba dimana yang mengikutinya adalah sudah terlampau ahli dan pada akhirnya hanya dia yang akan memenangkan perlombaan berturut-turut."ucap Mark membuat semua anggota rapat terdiam. Tak ada yang berani menentang Mark Lee, sekalipun Pembina ekstrakulikuler. Semua orang terlampau menghormati Mark Lee, menjunjung tinggi nama Mark Lee.

"Sunbae buku–"

"Diam, Lee Haechan."ucap Mark pelan dengan penuh penekanan. Haechan merasa jika disinilah batasnya bersabar atas tingkah kekanakan Mark. Ia menghembuskan nafasnya pelan, lalu–

"Sunbae, bukuku."

Ia mencoba sekali lagi.

"Kau ini bisa diam sebentar tidak Lee Haechan?"

Didepan sana Jisung tengah menerangkan mengenai perombakan susunan acara oleh pihak panita penyelenggara pekan kesenian, dan Mark tak dapat fokus karena Haechan terus merecokinya dengan bisikan-bisikan yang sama sekali tak ada pentingnya.

"Sunbae bukuku."

"Haechan diam."

"SUNBAE YA TUHAN AKU HANYA INGIN BUKUKU!"teriak Haechan tiba-tiba membuat semua anggota rapat terlonjak kaget, sedetik kemudian semua orang memandangnya heran. Ada yang terkikik geli, ada juga yang mentapanya dengan padangan mengejek dan ada yang menatapnya penuh selidik. Jisung bahkan langsung menghentikan presentasinya ketika mendengar teriakan Haechan yang memekakan telinga. Karena tanpa sadar, Haechan sudah mengundang ribuan tatapan penuh tanda tanya dari seluruh anggota rapat.

"Bukumu ada dihadapanmu, Lee Haechan. Kau mengigau?"tanya Mark lalu menatap Haechan yang tengah membatu ditempatnya saat sadar jika sedari tadi bukunya memang sudah tergeletak diatas meja. Ia bergerak dengan gelisah, tak tahu harus berbuat apa. Ia sadar jika baru saja telah memancing banyak mata untuk memperhatikannya.

"Tapi tadikan sunbae memegangnya."bela Haechan mengundang tawa dari Mark Lee. Semuanya sontak memandang pemandangan langka tersebut dengan bermacam pandangan. Mark Lee tertawa? Kejadian paling langka yang membuat semua orang berdecak kagum.

"Iya, itu tadi. Sekarang lihatlah, ada dihadapanmu."ucap Mark membuat Haechan menggeram kesal. Dengan langkah terburu ia meninggalkan rapat dan jutaan umpatan yang ia rapalkan untuk Mark karena sudah membuatnya mati kutu dihadapan para anggota inti Design Grafis.

"Sudah.. Hancur sudah harga diriku!"

.

.

.

Mark : Maaf

Mark : Soal yang tadi

Haechan tak berniat membalas, hatinya sudah terlampau dongkol setengah mati. Bertatapan dengan wajah Mark saja ia enggan. Hari ini memang bukan hari keberuntungannya. Sudah bermusuhan dengan Jaemin, ditambah Mark dengan tingkah menyebalkannya–yang baru Haechan ketahui.

Mark : Hey

Mark : Balas pesanku

Haechan mendengus sebal, lalu melemparkan ponselnya kedalam tasnya dan menelungkupkan badannya dimeja. Kelas begitu ramai dan mentari bersinar dengan begitu teriknya. Tak ada yang dapat mengerti Haechan memang, jika ia sedang ingin ketenangan barang sedikit saja.

Ia mengambil kembali ponselnya saat dirasa kembali berdering. Dalam hati ia mengumpat karena lagi-lagi nama Mark Lee muncul dinotifikasi atas ponsel Haechan.

Mark : Jangan hanya dibaca

Mark : Kau marah, ya?

"Sudah tahu, kenapa harus bertanya?"sungut Haechan sambil menatap ponselnya dengan nyalang. Seolah benda tersebut adalah Mark Lee, perusak moodnya setelah Na Jaemin.

Haechan : Sunbae berisik. Aku benar-benar benci sunbae, kenapa membuatku malu? Kenapa melakukan hal konyol seperti itu? Apa salahku sunbae? Sunbae benar benar menyebalkan. Jika aku punya kesempatan membunuh orang sekali saja, aku akan membunuh sunbae saat ini juga.

Haechan meringis ketika dirasa balasannya terlalu alay. Lagipula tekadnya sudah bulat untuk tidak membalas setiap pesan Mark. Ia berniat menghapus pesan yang baru saja ditulisnya, sebelum jemarinya salah menekan tombol terkirim.

"YATUHAAANNNN."

Sepertinya memang benar, hari ini dewi fortuna tak berpihak padanya. Haechan harap-harap cemas menunggu balasan Mark. Ia kembali menelungkupkan badannya kemeja, lalu pura-pura menangis. Suaranya memang teredam meja, tapi tetap saja mengundang perhatian Jaemin.

"Kau kenapa?"tanya Jaemin dingin, Haechan mengendik acuh. Sedang tak ingin berurusan dengan Jaemin.

"Dasar pemarah."

Sabar, sabar. Batin Haechan sambil mengelus dadanya. Matanya terpejam erat dan ia merasa jika helaian rambut yang jatuh menutupi keningnya sedikit basah dan membuatnya menyatu dengan helaian rambut yang lain. Mentari dimusim panas memang tidak main main.

"Lihat, kau berkeringat. Ini pakai sarung tanganku untuk menyeka keringatmu."

Lalu Haechan merasa jika Jaemin menaruh sapu tangannya diatas kening Haechan. Haechan terpaku sejenak. Perasaan bersalah tiba tiba menggerogoti hatinya. Jaemin begitu baik padanya, sedangkan dirinya?

Ponselnya kembali bergetar, dan Haechan seketika lupa dengan pemikirannya soal bagaimana cara ia dan Jaemin berbaikan. Fokusnya teralihkan oleh rasa penasaran pada isi pesan balasan Mark. Dengan cepat ia membuka kunci ponselnya, dan ia mendengus sebal.

888 : Cek info kartumu melalui aplikasi dibawah ini! Temukan beragam katalog produk terbaru, paket termurah dijaringan tercepat.

Mengapa operator selalu ingin ikut andil dalam masalah yang tengah menimpanya, ya tuhan?

TBC

Hehehe akhirnya aku update dan still Tbc ternyata :") karena ternyata ini ga sesingkat yang aku kiraa

Aku ngaret skl, karena tiba tiba BT gegara foto Mark Lee yang sama cewe itu hehe. alay. g. Mana deketan skl, Mark senyum kaya gituu :") ditambah spofity aku gabisa nonton. Cinta terhalang restu orang tuaa :((

Buat Makkeuhyuck, awas ae kalo sampe bocor ke si doi :') nyawa u berada ditangan w njir.

Buat Rimm, tbh thx atas 2 reviewmu yang sangat berhargaaa :'') aku gatau kalo ada yang interest sama FF aku hahaha

Dan buat seluruh warga Markchan Shipper di Whatsapp, terimakasih banyak atas obrolan random kita soal Mark sama Haechan hehehe. Kalian selalu menistakan Jeno, semoga diampuni hahaha. Kak Septi, Niken, Nur Isna, sama terakhir Lathifaa :'') Daebak skl pokonya

Thx To : Auxiliarizka, Shimamariam21, Wiji, Rimm, Makkeuhyuck, Markchan97, Nis, nhy17Boonon, Dindch22, thania. thania. 1654, Minge-ni, MarkeuhyuckLee, Len164, Hopekies, Blackpearl, DracoMarklee, Natns88, Kim Kai, Sffnnaaa07, dan seluruh Guest yang aku sayangii :"))

Dan buat yang mau gabung sama Grup Markhyuck di Whatsapp, bisa kontek aku di 08974742562.