.

.
WARNING

FF ini adalah ff berkonten islami

FF ini terinspirasi dari beberapa cerita tentang diskriminasi muslim

sebagai minoritas dalam kehidupan social.

Pemeluk agama muslim terbesar di dunia adalah Indonesia karena ini adalah FF Naruhina

Maka aku ubah dicerita ini bahwa pemeluk agama islam terbesar di dunia adalah Jepang.

Dan Jepang disini ibarat indonesia. Masih dalam negara berkembang.

FF INI HANYA MUNGKIN 3 - 4 CHAPTER

HAPPY READING
.

.

Lima ratus kalimat bukanlah sesuatu yang sedikit. Perlu berlembar-lembar kertas untuk menyelesaikannya. Naruto menyelesaikan waktu berjam-jam untuk menulis itu semua. Tanpa ia sadari hari sudah menginjak siang hari. Ketua Jurusan itu juga dengan sabar menunggu Naruto menyelesaikan hukumannya. Walaupun terkadang mahasiswa tampan itu juga sering di tinggal pak Kajur untuk memberi kuliah ke kelas. Setelah yakin jumlah kalimat yang ia tulis sudah mencapai lima ratus. Ia memberikan tumpukan lembaran kertas yang sudah agak lecek ke Kajur. Tanpa melihat, pria botak berkaca mata itu menerimanya.

"Apa aku boleh pergi pak?" tanya Naruto. Pria tua itu tak menjawab, dia hanya mengangguk sembari fokus melihat laptopnya. Dan saat Naruto sudah keluar dari kantornya. Pria tua itu baru menyadari jika tulisan Naruto berbeda dengan perintahnya. "Haaah, anak itu memang minta dihajar," gumamnya. Matanya yang sudah agak sedikit rabun jika tanpa bantuan kaca mata membaca kalimat itu dengan khidmat. "We are muslim but we are not terrorist." Dan entah kenapa ketika membaca tulisan ini hati pak Kajur merasa aneh.

ooOOoo

Bagi Naruto hari ini adalah hari yang begitu melelahkan. Bahu kanannya terasa agak pegal dan ngilu. Sembari berjalan ia memutar lengan tangannya berkali-kali. Langkahnya terhenti ketika melihat Hinata berdiri di depan kantor Kajur. Ia berdiri sambil membawa sebuah cheese burger beserta minumannya. Gadis itu tersenyum manis pada Naruto ketika mengetahui kedatangannya.

"Kau? Kenapa kau masih disini? Apa kau tidak mengikuti kuliah?" Tanya Naruto bertubi-tubi. Hinata tak langsung menjawab pertanyaan Naruto. Gadis manis itu hanya tersenyum.

Cuaca siang hari ini sedikit terasa hangat daripada biasanya. Dibawah pohon yang rindang dan halaman kampus yang penuh dengan rumput hijau, membuat suasana panas tak begitu terasa. Mata Hinata yang indah melihat Naruto memakan burger pemberiannya dengan begitu lahap. Entah kenapa, Hinata begitu senang melihat cara Naruto makan. Mungkin pria ini adalah satu-satunya tempatnya bersandar di negara ini.

"Apa lenganmu sakit?" Tanya Hinata penuh perhatian.

"Sedikit tapi semuanya akan baik-baik saja."

"Naruto, terima kasih atas semuanya. Hari ini kau benar-benar melindungiku. Bisakah aku terus bersandar kepadamu?"

Naruto berhenti mengunyah makanannya ketika mendengar perkataan Hinata. Apa maksudnya dengan kata bersandar. Pria bermata safir itu tak mengerti apa yang dimaksud dengan bersandar. Apa gadis ini jatuh cinta padaku? Apa dia sekarang sedang mengungkapkan perasaannya? Oh tidak, aku tak mau pacaran. Itu tak boleh, tapi aku mau jika aku dan dia bertaaruf. Dia sepertinya gadis baik-baik dan cantik."

"Bersandar? Maksudnya?" tanya Naruto yang berusaha untuk mendapat jawaban sebenarnya.

"Maksudku aku ingin kau selalu ada disampingku dan selalu bersamaku," jawab Hinata polos. Gadis ini tak pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya, bahkan diumurnya yang sekarang tak pernah sekalipun dia pacaran karena islam melarang umatnya untuk berpacaran. Jadi maklum jika Hinata terlalu polos saat mengungkapkan semuanya pada Naruto. Dia tak tahu jika ucapannya membuat laki-laki manapun akan salah paham.

"Hinata, apa kau… men…cintaiku?" tanya Naruto ragu.

"Ehh, mencintaimu?" kedua alis Hinata bertaut mecoba mencerna pertanyaan Naruto. Dan sepersekian detik ia paham bahwa bukan hal semacam itu yang ia maksud sepertinya pria tampan ini salah paham padanya. "Naruto kau salah paham. Bukan hal semacam itu yang aku maksud. Aku ingin kau selalu bersamaku sebagai teman."

"Ahhh iya tentu itu, aku tahu dan pasti. Selama aku berada disampingmu kau tidak perlu khawatir," ucap Naruto yang merasa sedikit malu menanyakan hal konyol semacam itu pada Hinata.

"Terima kasih banyak Naruto. Makanlah yang banyak," ujar Hinata penuh senyum.

ooOOoo

Hari pun sudah menginjak senja dan kegiatan belajar mengajar pun selesai. Hari ini Hinata tidak pulang sendirian karena Naruto akan menemaninya. Pria tampan itu takut jika kejadian di kereta api itu akan terulang lagi. Dengan sabar Naruto menunggu Hinata di taman kampus sedangkan Hinata ke kamar mandi sejenak untuk buang air kecil. Saat itu disana sudah berada tiga orang mahasiswi yang berambut pirang dengan penampilan yang begitu seksi. Hinata tidak begitu memperhatikan mereka karena ia tak mengenalinya. Ketiga gadis itu memandang sinis Hinata. Mereka saling betatapan kemudian tersenyum. Ada sebuah ide jahat diotak mereka.

Hinata merasa begitu lega karena bisa buang air kecil karena sudah lebih dari 1 jam ia menahan. Namun saat ia membenahi rok dan menutup toilet duduk kembali. Tiba-tiba tubuhnya basah karena guyuran air dari atas. Ia terkejut bahkan sedikit shock. Dan saat mata bulatnya melihat ke atas ia melihat seorang gadis tertawa senang menatapnya.

"Ups, maaf aku pikir di dalam sini tidak ada orang," ucap gadis itu diikuti oleh tawa kedua temannya. Hinata tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatapnya tajam, "Apa kau marah?" tanyanya enteng.

"Michelle, ayo kita pulang. Jika kita terlalu lama disini. Kita tak akan selamat. Apa kau tak takut jika dia melempar bom ke arahmu."

Hinata berusaha terus untuk bersabar. Ia tak ingin mendengar makian terhadapnya. Gadis itu keluar dari bilik toilet dengan kondisi basah kuyup. Ia tak ingin meladeni mereka dan terus diam dengan makian yang terima. Hinata malah sibuk dengan urusannya sendiri. Ia bercermin sambil mengusap wajahnya yang basah karena air. Sedangkan tiga gadis pirang itu terus menggonggong seperti anjing kelaparan. Namun lama kelamaan ocehan mereka membuat telinganya panas.

"Cihh, menjijikan, apa kau tak pernah diajari sopan santun dan bagaimana cara menghargai orang lain?" ucap Hinata ketus dengan tatapan yang begitu menakutkan ke arah Michelle. Seorang gadis yang menyiramnya dengan air, Plaak, pipi Hinata yang putih memerah karena tamparan keras yang ia terima.

"Kau jangan coba-coba menyebut orang tuaku. Dasar terrorist," ucap Michelle menatap Hinata dengan tatapan penuh kebencian. "Ayo guys, kita pergi."

Hinata hanya bisa menatap kepergian mereka seorang diri. Gadis itu hanya termenung, tubuhnya seakan kaku. Dalam diam tak terasa mata indahnya meneteskan air mata. Hinata tak pernah mau hidup seperti ini bahkan siapapun itu. Kenapa semua orang membencinya? Menatapnya dengan penuh kemurkaan? Bukan dia yang melakukan bom di Paris tapi kenapa semuanya memperlakukan dirinya secara kejam. Dia ingin kembali ke Jepang, tak peduli Negara ini semaju apapun, perekonomian sehebat apapun tapi kebahagiaannya hanya ada di Indonesia. Dia bisa tertawa, bahagia bersama teman-temannya khususnya dia bisa bebas melakukan ibadahnya tanpa tekanan atau pun diskriminasi.

Berkali-kali Naruto melihat jam tangannya. Sudah hampir empat puluh lima menit Hinata berada di kamar mandi. Perasaan Naruto mulai tak enak, ia merasa ada sesuatu yang buruk terjadi terjadi pada Hinata. Namun ditengah perjalanan menuju kamar mandi wanita, Naruto melihat Hinata berjalan begitu cepat ke arahnya dengan wajah sedih. Pria berlesung pipi itu melihat tubuh Hinata yang basah kuyup dengan pipi kanan memerah seperti sebuah tamparan.

"Hinata," panggil Naruto ragu.

"Jangan ganggu aku," jawab Hinata dan meninggalkan Naruto begiu saja.

"Apa yang sudah terjadi padamu?" tanya Naruto dengan sedikit berteriak.

"Tinggalkan aku sendiri. Jangan ikuti aku, Naruto!"

Dan Naruto tidak begitu saja mengikuti apa yang Hinata ucapkan. Dia masih tetap mengikuti gadis itu dari kejauhan. Hinata adalah gadis yang begitu rapuh, Naruto yakin bahwa Hinata baru pertama kali merasakan susahnya menjadi seorang muslim di Negara non muslim. Jika di Jepang muslim sangat dibanggakan dan mayoritas berbeda dengan disini. Semuanya berbalik 180 derajat. Kemana pun Hinata melangkah, disitulah Naruto berada. Sekarang gadis itu pergi ke sebuah toko. Ia tampak tak peduli dengan padangan orang yang melihatnya basah kuyup. Entah penampilannya buruk atau tidak pada akhirnya dia juga akan mendapatkan diskriminasi. Naruto hanya melihatnya dari luar toko serba ada. Hatinya semakin trenyuh ketika kasir dari toko itu tidak melayani Hinata. Bahkan pelanggan yang mengantri dibelakang Hinata di dahulukan.

"Hassshhh, ini tidak bisa dibiarkan," gerutu Naruto gemas dengan sikap kasir itu. Amarah Naruto sudah memuncak bahkan ia tak segan untuk meninju pria itu jika menuruti hawa nafsunya. Namun ia selalu beristighfar agar tidak kebablasan dan merugikan orang lain. "Hei, kenapa anda tidak mendahulukan gadis ini. Padahal dia lebih dulu mengantri?" Hinata nampak terkejut melihat Naruto yang tiba-tiba saja muncul. Sejak kapan pria tampan ini mengikutinya, batin Hinata.

"Aku tidak melihatnya mengantri," ucapnnya mencari alasan. Dasar pembohong jelas-jelas dia melihat Hinata berdiri.

"Pembohong, anda jelas-jelas melihatku berdiri. Anda pikir saya ini makhluk gaib yang tembus pandang sehingga anda tidak bisa melihat saya!" ujar Hinata penuh amarah yang luar biasa. "Apa karena aku berhijab maka anda mendiskriminasikan saya?! Aku juga pembeli disini bukan hanya mereka!" kali ini Hinata menumpahkan segala kekesalannya. "Anda bersikap seperti ini karena saya adalah seorang muslim. Aku pikir anda o yang lebih tua daripada saya tapi anda bersikap kekanak-kanakkan. Aku memang muslim tapi aku bukan terroris camkan baik-baik!" Hinata sudah tak tahan lagi, ia kemudian melempar barang beliannya dimeja kasir kemudian pergi begitu saja meninggalkan Naruto sendiri.

"Hinata… Hinata, tunggu aku!"

"Aku sudah bilang padamu, jangan ikuti aku Naruto!" teriak Hinata.

"Tapi aku… ."

"Diam! Aku ingin sendiri kali ini. jangan ganggu aku!"

Naruto tak berkutik, dia hanya bisa melihat Hinata pergi meninggalkannya. Pria itu hanya berharap semoga Hinata baik-baik saja. Ia hanya khawatir bahwa Hinata akan menghadapi kesulitan saat berada di dalam kereta api. Dan apa yang ditakutkan Naruto benar-benar terjadi. Semua orang memandang dia dengan tatapan menakutkan. Bahkan tak segan mereka membicarakan tentang dirinya dihadapan Hinata. Mereka semua selalu mengaitkan Hinata dengan terrorist. Gadis itu tak tahan, ia memasukan headset ke dalam hijabnya dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran sekencang-kencangnya. Berhasil, Hinata sudah tidak mendengar ocehan mereka lagi. Karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri. Hinata tak sadar jika orang yang duduk disampingnya terus melihatnya. Gadis keturunan India berambut hitam bergelombang menepuk bahu Hinata.

"Apa kau baik-baik saja? Apa kau ada masalah?" tanya gadis yang bernama Noreen. Hinata melihat kearahnya kemudian melepaskan headsetnya.

"Apa aku terlihat menyedihkan?" tanya Hinata balik. Gadis yang bernama Noreen itu mengangguk cepat.

"Kenapa pakaianmu basah? Apa kau juga mendengar apa yang mereka katakan?"

"Aku mendengarnya tapi aku tak mau memikirkannya. Ahhh, aku tak menyangka jika menjadi seorang muslimah di London akan sesulit ini," curhat Hinata.

"Apa yang kau rasakan hari ini sama seperti apa yang aku rasakan dulu," celoteh Nooren.

"Benarkah?" tanya Hinata penasaran.

"Iya aku dulu juga berhijab sepertimu. Kehidupanku memang berat waktu itu. Banyak orang yang berlaku tidak adil padaku. Yeah, diskriminasi itu selalu terjadi bahkan aku menjadi korban bullying. Hidupku kacau dan aku tak memiliki teman. Sampai akhirnya aku memutuskan suatu hal yang besar, aku terpaksa melakukanny karena untuk melindungi diriku."

"Apa keputusanmu?" rasa penasaran Hinata semakin menjadi-jadi.

"Aku melepaskan hijabku. Memang, ketika aku melepasnya semua berjalan lebih normal. Tidak ada lagi disriminasi. Aku merasa telah melakukan dosa besar. Tapi aku lakukan ini semua untuk melindungi diriku. Semoga Allah mengampuniku dan aku harap kau tidak melakukan hal yang sama sepertiku. Istiqomah dengan hijabmu, apapun cobaanmu."

Hinata tercengan mendengar penuturan gadis yang tak ia kenal bahkan nama pun ia tak tahu. Melepaskan hijab demi melindungi diri sendiri. Hinata sama sekali tak mengira jika hal seperti ini benar-benar ada. Banyak kabar yang beredar banyak muslimah yang terpaksa melepaskan hijabnya demi melindungi diri mereka dari bullying, diskriminasi, kekarasan verbal maupun non verbal. Sesulit itukah kehidupan muslimah di Inggris.

ooOOoo

Malam berganti hari dan semua orang mulai melakukan rutinitas harian mereka tak terkecuali Naruto. Jam Sembilan pagi ia mulai berangkat ke kampus seperti biasanya. Walaupun dia sudah sampai ke kampus sekitar tiga puluh menit yang lalu, namun ia enggan untu masuk ke dalam kelas. Masih ada seseorang yang ia tunggu dan ingin memastikan apakah dia baik-baik saja. Senyum kecilnya dipagi hari sekilas hilang setelah melihat perubahan Hinata. Gadis itu masih memakai pakaian yang sopan namun tak ada lagi hijab yang menutupi rambut indahnya. Entah kenapa perasaan Naruto hancur melihat gadis ia lindungi memutuskan hal begitu besar. Ingin rasanya ia menangis namun ia tak bisa. Terlalu shock. Gadis cantik itu berhenti dihadapannya dan menatapnya. Terlihat jelas kesedihan dibola matanya.

"Hinata… kau …. ."