Author : Yattaaa, akhirnya aku sudah bisa mengupdate chapter 1 XD

Zoro : Gitu aja udah bangga -_-

Author : Haaaaahhhh? #deathglare

Zoro : Tidak kok... =_=

AceLu : Hiiiiiiiiiiiiii, lebih seram daripada Nami #horror

Author : Waktu Prolouge, aku kurang bagus menulis fic-nya. Setelah menyadari beberapa kesalahanku, aku berusaha sekuat tenaga memperbaikinya. Semoga chapter 1 ini lebih baik dari prolouge. Meski banyak yang tidak minat, aku akan tetap melanjutkan fic-ini.

Sanji : Semoga kalian menikmati fic AceLu ini. Author akan berusaha membuat fic yang bagus.

AceLu : Yosh! Kami akan lebih berjaya lagiiiiiiiii XD


First Love in 2 Gank

Disclaimer : Eiichiro Oda

Rated : T

Genre : Romance/Humor

Pair : AceLu

Don't Like Don't Read

-Chapter 1-
.

.


SIAPA DIA?

.

.

.

Jam istirahat.

Atap kampus.

"Ace."

Tak diindahkan.

"Ace."

Tak diindahkan lagi.

"ACEEE!"

"Eh? Ada apa?" Jawab Ace.

"Kau kenapa? Dari tadi bengong terus." Tanya Sabo.

Saat ini Ace, Sabo, dan Marco makan siang di atap kampus. Hal itu sudah menjadi keseharian mereka makan siang di atap. Bayangkan saja, jika Ace makan di 'Kafetaria Kampus' para fans GAJE Ace akan menyerbu mereka lagi, dan Ace sama sekali tidak mau mengambil resiko tidak makan sama sekali. Eits, jangan salah, meskipun parasnya sangat tampan dan tubuhnya juga sangat atletis, sifat aslinya adalah tukang makan. Waktu kecil dia pernah menghabiskan 120 porsi daging non stop. Lalu saat...#dibogem. Baiklah cukup segitu ceritanya #author udah diancam dihiken sama Ace kalau berani lagi ngebongkar rahasianya

"Eh...tidak ada apa-apa." Jawab Ace.

"Lantas, kami panggil dari tadi kau sama sekali tidak medengarkannya. Ada apa sebenarnya? Jujur saja." Kata Sabo khawatir.

"Benar kok. Tidak ada apa-apa" Kata Ace.

"Haaaah...aku yakin kau pasti memikirkan pemuda yang kau tabrak tadi." Kata Marco enteng. Paras Ace langsung merona mendengar perkataan Marco.

"Waaah...jadi kau memikirkan pemuda tadi. Aku tidak menyangka kau bisa memikirkan orang lain." Kata Sabo.

"Urusei. A..A..Aku tidak memikirkan pemuda tadi kok." Kata Ace gelagapan. Masih memerah tentunya. Sabo dan Marco hanya melayangkan tatapan tidak percaya. Skeptis.

"Sudahlah, kau tidak bisa menyangkal lagi. Sudah kelihatan dari gelagatmu. Kau pasti jatuh cinta pada pemuda tadi. Iya kan?" Kata Marco.

Rona merah semakin menjalar ke paras Ace. Dia tidak dapat menyangkal perkataan Marco. Memang sih, semenjak ia melihat pemudah tadi, dia terus memikirkannya pemuda tadi. Jantungnya juga berdebar kencang. Dia tidak dapat melupakan pemuda tadi. Baru kali ini dia merasakan hal ini.

"Siapa lagi namanya? Monkey D. Luffy?" Tanya Sabo.

"Aaah iya. Itu namanya." Jawab Marco.

"Monkey D. Luffy? kok rasanya nama itu terdengar familiar?" kata Sabo.

"Entahlah. Aku juga rasanya pernah mendengar nama itu, tapi dimana?" Pikir Marco. Mencoba mengingat nama Monkey D. Luffy.

"Oh ya? aku baru pertama kali dengar" Kata Ace santai.

"Informasimu 'kan memang selalu lambat." Kata Sabo.

"oohh." Ace hanya dapat ber 'ooo' ria. seperti biasa, dia selalu cuek.

"Sudahlah, masalah itu kita bahas nanti saja. Kok jadi ngomongin itu. Sekarang kembali ke topik utama. Kau memang jatuh cinta dengan Monkey D. Luffy 'kan?" Tanya Marco.

Rona merah kembali menjalar ke paras Ace kenapa sih, Marco selalu saja bertanya hal itu lagi? Tidakkah ia tahu hal itu membuat Ace malu. Dasar nanas berhati dingin, tidak punya empati sama sekali.

"Ukh..kau terus bertanya seperti itu kepadaku. Sampai metipun tidak akan kujawab." Kata Ace.

"Dasar bohong. Kau pasti jatuh cinta padanya. Tapi kau tidak mau jujur." Kata Sabo dengan nada menggoda. Dia kelihatan senang sekali menggoda Ace. 'Bisa kumanfaatkan.' Batinnya

Wajah Ace berkali-kali lipat lebih merah dari yang tadi. Jantungnya berdegup dengan kencangnya, bagai bom yang akan meledak. Bahkan Sabo juga ikut menggodanya? Jangan-jangan anak ini sudah terkena virus dari Marco. Mereka berdua benar-benar tidak punya empati. Dasar sekumpulan kawan merepotkan.

Baiklah. Daripada disembunyikan terus, lebih baik jujur. Toh, Ace juga sudah tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Apa salahnya jujur pada kawannya. "Baiklah-baiklah, aku akan jujur. Aku memang mencintai pemuda bernama Luffy itu sejak pertama kali melihatnya. Puas?" kata Ace sedikit kesal.

Mendengar hal itu, Sabo dan Marco mendadak histeris " SKANDAL BESAR! Portgas D. Ace yang selama ini tidak pernah mencintai orang lain, baik perempuan maupun laki-laki. Akhirnya mencintai pemuda yang baru pertama kali ia lihat. INI KEAJAIBAN!" teriak Sabo dan Marco dengan nada melengking. Ace hanya dapat sweatdrop melihat tingkah laku kedua temannya yang berlebihan.

"Kalian...lebay deh." kata Ace.

"Tentu saja. Soalnya ini kejadian LANGKA!" teriak Sabo dan Marco semakin histeris. 'Bercandanya berlebihan'. Batin Ace. Entah kenapa Ace merasa sedikit salah tingkah. Dia juga merasa nyesal karena telah membaritahu mereka berdua bahwa ia memang mencintai pemuda bernama Luffy.

"Sudahlah kalian berdua. Tidak usah berlebihan kayak gitu. Aku malu juga tahu." Kata Ace dengan rona merah yang menjalar di parasnya

Kadang, mereka berdua suka sekali menggodanya. Memang sih, sebelum-sebelumnya dia tidak pernah menanggapi ocehan GAJE mereka. Tapi kali ini beda, dia sudah jatuh cinta pada pemuda itu dan tentu saja dia malu. Aaaahhh... Sabo dan Marco sudah mengetahui kelemahannya yang terbesar.

"Ya tidak heran sih kau jatuh cinta padanya. Wajahnya memang sangat imut dan manis. Pria manapun yang melihatnya, pasti mendadak gay." Kata Marco

"Tapi jujur saja, aku sangat kaget ketika melihat wajahnya. Aku tidak pernah menyangka bahwa di dunia ini ada pria berwajah seperti WANITA." Kata Sabo

"Mungkin ini keajaiban" Kata Ace

Ace sendiri juga kaget ketika melihat wajah pemuda bernama Luffy itu. Awalnya ia menyangka Luffy adalah wanita. Tapi setelah ia perhatikan baik-baik ternyata ia pria. Tentu saja, dengan paras sangat imut dan manis seperti itu, pasti banyak yang menyangka ia wanita.

Saat melihat Luffy, dia seakan melihat bidadari. Belum pernah ia bertemu dengan orang yang memiliki wajah seperti itu. Dirinya memancarkan aura kepolosan dan kesucian. Luffy benar-benar suci, bagai entitas putih serapuh kapas yang sama sekali tidak memiliki setitikpun dosa. Kemeja merah yang menutupi tubuhnya yang langsing, rambut ravennya yang bertebaran terlihat sangat lembut, mata obsidiannya bagaikan berlian (?), bekas luka jahitan di bawah mata kirinya sama sekali tidak merusak fitur wajahnya, senyumannya (atau cengiran?) bagaikan mentari yang bersinar, begitu riang dan murni. Dia benar-benar pemuda manis bak bidadari.

Dan Ace, jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Pemuda itu adalah cinta pertamanya. Dia tidak peduli jika ia jatuh cinta pada pria. Cinta sama sekali tidak membedakan apapun. Ingin sekali, ia berbicara dengan Luffy sekali lagi. Tiap detik dipikirannya hanya ada Luffy. dia benar-benar sudah dbiuat tergila-gila oleh Luffy.

Ace merasa heran. Padahal selama ini banyak wanita yang menyatakan cinta padanya, api sama sekali tidak ada yang pernah membuatnya jatuh cinta. Padahal banyak sekali yang cantik, tapi di matanya para wanita itu terlhat biasa.

"haaaahhh...jika Ace sudah jatuh cinta pada pemuda bernama Luffy itu, aku yakin dia akan menyeret kita dalam proses PDKT-nya dengan pemuda itu. Maklum, Ace lagi terserang badai berbunga-bunga." Kata Sabo.

"Aaaahhh...sepertinya kau benar Sabo." Jawab Marco.

Perkataan mereka berdua menyebabkan rona merah menjalar ke paras Ace dengan pekatnya.

Hening. Tidak ada respon

...

...

...

"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! " Teriak Ace yang sudah menggema ke seluruh Universitas Grand Line. Sabo dan Marco begitu kagetnya sampai mereka pingsan sementara, karena indera pendengar mereka terhantam teriakan dahsyat Ace. Bisa-bisa telinga mereka tuli.

"KA...KAU APA-APAAN SIH? TIDAK USAH TERIAK SEPERTI ITU! BICARALAH DENGAN NORMAL. KAMI TIDAK TULI, ACEEEEEEEEEEEEE!" Teriak Marco dengan kesal. Sudah sadar dari 'pingsan sementara'nya.

"SALAH KALIAN SENDIRI! BICARA SEPERTI ITU! TENTU SAJA AKU KAGET! DAN KAU JUGA TIDAK PERLU BERTERIAK DI TELINGAKU SEPERTI ITU! AKU JUGA TIDAK TULI, MARCOOOO!" teriak Ace tak kalah hebatnya dari teriakan Marco.

Pembuluh vena sudah bermunculan di kepala mereka. Menatap dengan sangat tajam. Seakan sudah siap untuk menghabisi seseorang. dalam hitungan detik, keduanya sudah berkelahi dengan sengitnya. Tentu saja diiringi dengan teriakan yang menggema di seluruh Universitas Grand Line. Mengagetkan semua orang yang ada di Universitas itu

Sabo baru sadar dari pingsannya tadi. Tiba-tiba melayang sebuah pisau yang hampir mengenai wajahnya. Sabo hanya dapat bertampang horror dan tidak dapat bergerak sama sekali. Dan sangat syok melihat Ace dan Marco berkelahi dengan sengitnya. Bahkan mereka melempar pisau. Bisa-bisa Sabo mati kalau diam terus di sini.

"HEY. KALIAN KENAPA? HENTI-HUWAAAAAAAAA!" sebuah pisau melayang ke wajah Sabo. Untung dia dapat menghindarinya, hampir saja dia mati.

"KALIAN HENTI-HUWAAAAAA!" sebuah pisau melayang lagi.

"KALI-GYAAAAAAAA!" lima buah pisau melayang lagi.

Pertempuran ini tidak ada habis-habisnya. Mereka berdua sama sekali tidak mau mendengar. Justru mereka sepertinya mau membunuh Sabo. 'Bisa-bisa aku mati ditusuk pisau.' batinnya horror.

Ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus menghentikan pertempuran ini. Memang sih, biasanya mereka berdua selalu berkelahi, tapi tidak segila ini. 'Ini sih bukan bercanda lagi namanya. Bagaimana aku harus menghentikannya?' pikir Sabo bingung

'Bagaimana ini...?'


Kafetaria kampus

Bersama pemuda bernama Luffy dan kawan-kawannya

"Aneh. Dari tadi aku mendengar teriakan. Seperti ada orang yang berkelahi." Kata Luffy.

"Ah iya. Aku juga mendengarnya. Suaranya jelas sekali." Kata seorang pemuda berambut hijau.

"Sebenarnya ada apa?" Tanya wanita berambut orange.

"...Aku pergi dulu ya, minna. Nanti aku akan kembali lagi." Kata Luffy, dan pergi meninggalkan teman-temannya.

"KAU MAU KEMANA LUFFY?" Teriak wanita berambut orange.

"Sudahlah biarkan saja. Dia memang begitu." Kata seorang pemuda berhidung panjang.

Dan mereka malanjutkan kembali makannya.


Di atas atap kampus

Bersama Ace, Sabo, dan Marco

'Bagaimana ini...?'

Sabo semakin khawatir dengan kedua temannya yang sama sekali tidak mau berhenti berkelahi. Mereka berdua sudah luka ringan. Kalau pertempuran ini terus dilanjutkan, bisa-bisa mereka berdua terluka parah. Ia harus segera mencari bantuan. Pertempuran mereka berdua semakin sengit. Ia tidak mungkin bisa menghentikan mereka sendirian.

'ukh...aku harus minta bantuan siapa?' batin Sabo semakin khawatir melihat pertempuran Ace dan Marco.

"Hey, kalian. Berhentilah. Bisa-bisa kalian terluka. Apalagi kalian melempar pisau, bisa-bisa aku ikut mati." Kata Sabo khawatir.

WUUUSSSHHHH

Dua buah pisau melayang ke topi yang dipakai Sabo. Disengajakan meleset. Sabo bertampang horror, kedua temannya sudah menatapnya.

"Hey, kau menganggap serius perkelahian kami?" Tanya Ace.

"Hah?" Sabo hanya dapat menaikkan sebelah alisnya. Bingung dengan perkataan Ace tadi.

"Sepertinya kau salah paham Sabo. Kami tidak serius berkelahi." Kata Marco.

Hening.

...

...

...

"JA..JADI KALIAN TIDAK SERIUS BERKELAHI?" Tanya Sabo kaget. Sepertinya dia syok berat.

"TENTU SAJA BEGO! KALAU KAMI SERIUS BERKELAHI, KAMI PASTI SUDAH TERLUAKA PARAH!" Teriak Ace dan Marco kesal. Ternyata Sabo orang telmi juga.

"Jika kalian berkelahi, tidak perlu lempar pisau segala. Kalian mau membuatku mati tertusuk pisau?" Tanya Sabo dengan kesal. Tentu saja dia kesal, dia hampir mati.

"Hahahaha, gomen. Soalnya kami keasyikan lempar pisau jadi tidak sadar kalau kau sudah bangun." Jawab Ace sambil tertawa.

Sabo hanya dapat sweatdrop mendengar perkataan Ace tadi. 'Keasyikan lempar pisau? Apa orang ini sama sekali tidak mempedulikan resikonya? Sepertinya otaknya memang sudah rusak. Dasar orang sinting!' Batin Sabo.

"Dasar kalian. Bikin aku khawtir. Kukira kalian serius berkelahi. Soalnya kalian melempar pisau kemana-mana."

Sabo tersenyum mereka tidak serius berkelahi. Ace dan Marco justru ketawa. Entah kenapa juga. Mungkin otak mereka sudah konslet karena main lempar pisau tadi #Plak.

"Syukurlah kalau perkelahiannya sudah selesai. Kalian tadi benar-benar berlebihan." Kata Sabo.

"Hahahahaha."

Setelah beberapa saat mereka tertawa(?), tiba-tiba pintu untuk ke atap kampus terbuka secara perlahan-lahan.

"Heeeeh? Ternyata sudah tidak ada lagi yang berkelahi." Kata seorang pemuda dengan suara cempreng.

Ace, Sabo, dan Marco langsung menoleh ke asal suara itu. Tepat dihadapan mereka, berdirilah seorang pemuda berambut raven, mengenakan kemeja merah dan celana pendek biru selutut, bermata obsidian, dan bekas luka jahitan di bawah mata kirinya. Siapa lagi kalau bukan...

Monkey D. Luffy

Jantung Ace berdebar dengan kencangnya, parasnya merona merah, matanya tidak bisa lepas dari Luffy. Monkey D. Luffy, pemuda yang paling ia cintai, sekarang sudah berdiri tepat di depannya.

"Sudah baikan ya? kukira kalian masih berkelahi." Kata Luffy sambil tersenyum tipis. Hal itu hampir membuat Ace nosebleed dan pingsan di tempat. Untung saja dia masih bisa mengontrol dirinya.

Parasnya memerah bukan main, jantungnya seakan mau meledak. Dia sama sekali tidak bisa bertingkah normal kalau di depan Luffy.

"Kau kenapa? Wajahmu memerah? Apa kau demam?" pertanyaan bernada sedikit khawatir terlontar dari mulut Luffy. tangannya sudah menyentuh dahi Ace. Ingin memastikan apa Ace sehat-sehat saja atau tidak.

Perlakuan Luffy sungguh membuat Ace mematung di tempat. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Matanya sukses membulat dengan besarnya. Mulutnya menganga dengan lebarnya. Dan wajahnya... jangan ditanya. Sudah pasti sangat merah.

"Sepertinya kau memang demam. Badanmu panas." Kata Luffy khawatir.

Ace masih tidak mengatakan apa-apa, dia masih mematung. Sama sekali tidak bergeming. Melihat hal itu, Luffy menjadi skeptis dan mencoba berbicara lagi padanya.

"Kau kenapa? Diam terus dari tadi." Kata Luffy sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ace.

BLAM!

Jantung Ace meledak, seakan ada ribuan bom yang wajah Ace kini menyerupai seorang yang baru saja melihat hancurnya dunia. Ia tetap menganga dengan lebarnya, tidak menguntai satu kata pun.

"Wajahmu semakin memerah. Lebih baik kita segera ke UKS." Kata Luffy. Semakin mempertipis jarak antara mereka berdua.

'De..de...dekat sekali.' Batin Ace gugup. Jarak mereka berdua terlalu tipis. Jika Ace bergerak sedikit saja, mulut mereka bisa bartaut satu sama lain. Ace mencoba mundur sedikit. Mempelebar jarak antara mereka berdua.

Secara tidak diduga, Luffy memegang tangan Ace dan menariknya pergi. Aksi Luffy sungguh membuat paras Ace semakin merona merah. Dia sangat kaget.

"Ka...kau ma...ma...mau mem...membawaku kk...ke..kemana?" Tanya Ace gugup. Ukh...dia sama sekali tidak bisa berbicara normal.

"Memangnya mesti diberitahu? Aku akan membawamu ke UKS. Badanmu sangat panas." Kata Luffy.

"EEEEHHHHH! Tu..tunggu dulu. A...a...a...aku sa..sa...sa...sa...sa..sama sekali ti..tidak sakit. Suhu tubuhmu yang menurun." Kata Ace. Ekspresinya banar-banar kacau. Wajahnya bukan main merahnya.

Luffy sama sekali tidak percaya apa yang dikatakan Ace. Dia pasti bohong. Sudah jelas badannya panas begitu, tapi sama sekali tidak mau mengaku kalau dia sakit."Aku tidak percaya apa yang kau katakan. Sudahlah, sebaiknya kita pergi ke UKS saja. Bisa-bisa sakitu tambah parah." Jawab Luffy dan kembali menarik Ace pergi.

'Justru aku makin sakit jika berada di dekatmu!' Pikir Ace.

"Ah. Le..lebih baik teman-temanku yang mambawaku ke UKS. Kau tidak perlu membawaku ke UKS." Kata Ace. Dia tidak mau mengambil resiko sakit jantung jika berada terus di dekat Luffy.

"Gomen Ace. Kami berdua ada urusan, jadi tidak bisa membawamu ke UKS." Kata Sabo.

"Lebih baik kau diantar sama Luffy saja. Kami pergi dulu ya." Kata Marco.

Sabo dan Marco langsung pergi meninggalkan Ace dan Luffy. Sial. Mereka berdua benar-benar mengerjainya. Ace benar-benar lupa kalau sifat mereka begitu. Dasar iblis berhati dingin. Suka sekali melihat orang tersiksa. Awas saja nanti.

'Akan kubalas kalian berduaaaaaaaaaa!' Batin Ace kesal.

"Sudah ya Ace. Selamat menikmatinya. Jaa~~ nee~~." Kata mereka berdua dan menutup pintu.

Tinggallah Ace dan Luffy berdua di atap kampus

'Ukh...bagaiman aini? Aku harus bicara apa sama Luffy? Sabo dan Marco sialan. Ninggalin aku begitu saja.' Batin Ace. Dia deg-degan berada di dekat Luffy

Hening

Tidak ada yang menguntai satu katapun

...

...

...

'Ke...KENAPA SUASANYA JADI CANGGUNG BEGINI?'


Di lorong

Bersama Sabo dan Marco

"HAHAHAHA. Kau lihat tampang Ace tadi? Lucu banget." Ketawa Sabo, akhirnya ia berhasil mengerjai Ace.

"Kau benar Sabo. Wajah Ace tadi lucu banget. Wajahnya memerah pekat begitu. Hahaha, kayak tomat." Kata Marco. Kelihatannya dia senang sekali menyiksa Ace. Mereka berdua memang tidak punya rasa simpati.

"Aku yakin. Ace pasti bakal pingsan kalau di dekat Luffy terus." Kata Sabo.

"Ah, kau benar sekali Sabo." Balas Marco.

"Maaf, apa tadi kalian mengtakan 'Luffy'?" Tanya seseorang pemuda.

Sabo dan Marco kaget melihat pemuda yang berada di depan mereka. Pemuda ini tampak familiar di mata mereka. Rambutnya hijau, dan mengenakan haramaki. Sabo dan Marco kaget ketika mereka menyadari siapa pemuda di depan mereka. Dia adalah...

"Roronoa Zoro?" Tanya mereka kompak.

"Heehh. Jadi para senior mengenalku? Kukira geng Black Spade tidak akan mengenali kami." Jawab pemuda bernama Roronoa Zoro. Dia tersenyum menantang kepada Sabo dan Marco.

"Justru aneh jika kami tidak mengenalmu. Kau adalah Roronoa Zoro, anggota geng Mugiwara. Geng terkuat nomor dua setelah kami. Dan nama kalian sudah terkenal diseluruh Grand Line. Siapapun pasti akan mengenal kalian dengan sekali lihat." Kata Sabo. Wow, pengetahuannya luas

"Kenapa geng Mugiwara bisa ada disini? Setahuku kalian tidak sekolah disini." Tanya Marco.

"Kami sekolah disini, itu bukan urusan kalian. Kami hanya mengikuti perintah senchou." Jawab Zoro dengan tersenyum. Sepertinya dia ingin menantang Sabo dan Marco.

Mendengar apa yang dikatakan Zoro, Sabo dan Marco mulai kesal. Marimo ini memang tidak pernah mau berbicara sopan.

"Heeh? Jadi kau ingin mengajak kami berkelahi?" Tanya Marco. Dia menatap tajam Zoro. Tapi meskipun ditatap seperti itu, Zoro sama sekali tidak takut. Justru ia tersenyum menantang.

"Sesungguhnya, memang itu yang kuinginkan. Tapi sayang sekali, aku harus mencari pemimpin kami. Dia pergi meninggalkan kami." Kata Zoro.

"Kau mencari pemimpin kalian? Bukannya kau buta arah. Jika kau berjalan kesana kemari kau bakal tersesat." Kata Sabo sedikit tertawa.

Mendengar itu wajah Zoro sedikit memerah. Ukh, musuhnya mengetahui kelemahannya. Zoro memang buta arah kelas kakap. Entah kenapa dia bisa buta arah. Keturunan siapa?

"Kalian mau berkelahi?" Tanya Zoro kesal.

"Menurutmu bagaimana, marimo." Jawab Sabo enteng. Dia benar-benar mengejek Zoro

"Daripada memikirkan itu, pemimpinmu Monkey D. Luffy 'kan? Dimana dia sekarang?" Tanya Marco. dia benar-benar melupakan sesuatu dan tidak sadar apa yang dia ucapkan. DASAR BEGO #dihajar Marco.

Zoro bertampang aneh ketika mendengar apa yang dikataan Marco."Apa maksudmu? Justru aku yang harus bertanya seperti itu. Tadi kau bilang Luffy ada bersama Ace. Jadi dimana Luffy?" Tanya Zoro.

"Aaah Luffy ya. dia sekarang berada di..." Marco diam sejenak. Mencerna apa saja yang baru ia ucapkan. Sabo pun melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka baru sadar apa yang terjadi.

"Oi. Kalian kenapa? Dimana Luffy?" Tanya Zoro bingung melihat mereka berdua langsung terdiam.

Ketika mereka telah mencerna apa sebenarnya yang terjadi, mereka langsung syok dan...

"EEEEEEEEHHHHHHHH."

Teriakan mereka berdua menggema dengan dahsyatnya. Zoro yang berada di dekat mereka, langsung jatuh komikal. Indera pendengarannya terhantam suara dahsyat.

"Ada apa sih? Tiba-tiba berteriak sekeras itu. Sakit tahu." Kata Zoro sambil memegang kedua kupingnya. Bisa-bisa ia tuli.

"JA...JADI MONKEY D. LUFFY YANG KITA LIHAT TADI ADALAH PEMIMPIN GENG MUGIWARA? PANTAS SAJA NAMA TERDENGAR FAMILIAR." Teriak mereka semakin histeris. Dasar lamban. Dasar telmi. Dasar bego. Dasar...#dihajar Sabo dan Marco.

"Heh? Jadi kalian baru sadar. Ckckckc, lamban. Katanya nama kami terkenal diseluruh Grand Line dan langsung bisa kenal dengan sekali lihat. Ternyata..." Zoro tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia berusaha menahan ketawanya.

"Kenapa aku tidak cepat menyadarinya? Aku benar-benar lupa." Kata Sabo, menggeleng miris.

"Jadi dimana Luffy?" Tanya Zoro kembali.

"Dia sekarang berada di atap kampus bersama Ace." Kata Marco.

"Hah? Ngapain dia kesana? Dan kenapa dia bisa bersama Ace?" Tanya Zoro curiga.

"Entahlah, katanya dia mendengar suara orang berkelahi dan langsung pergi ke atap." Kata Sabo.

"Tunggu dulu, kalau Luffy mengetahui kalau Ace adalah pemimpin geng Black Spade dan Ace tahu kalau Luffy adalah pemimpin geng Mugiwara, bisa saja mereka berkelahi." Kata Zoro.

Sabo dan Marco terdiam seribu bahasa. Tidak mikir sampai kesana.

Hening. Tidak ada respon.

...

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

...

keputusan telah didapatkan.

"CEPAT HENTIKAN MEREKA!"


Di atap kampus.

Bersama Ace dan Luffy.

SIIIIIINNNNNGGGGGG.

Hening.

Mereka berdua belum menguntaikan satu kata pun. Diam sambil duduk.

Luffy diam saja. Sama sekali tidak ada rasa gugup dan panik. Sedangkan Ace...jangan ditanya. Pastinya dia gugup dan panik. Parasnya sudah pasti merona, jantungnya berdegup dengan kencangnya.

'Kenapa suasananya seperti ini? Rasanya berat mau bicara. Kok jadi begini?' Batin Ace. Sebenarnya dia berkali-kali mau bicara sama Luffy, tapi ketika melihat wajah Luffy, dia jadi gugup lagi. 'aku harus berani. Bukannya aku ingin ngobrol dengan Luffy? jadi aku harus berani. Ayo Portgas. Beranikan dirimu.' Batin Ace PD.

"Aku..."

"Ngomong-ngomong, namamu Portgas D. Ace?" Tanya Luffy. belum sempat Ace bicara, Luffy sudah memotong kata-katanya. Biarlah, toh akhirnya dia bisa bicara juag sama Luffy.

"Iya. Namaku Portgas D. Ace. Memangnya kenapa?" Tanya Ace kepada Luffy. Entah kenapa dia sudah bisa bicara normal dengan Luffy.

"Berarti...kau pemimpin geng Black Spade. Geng terkuat di Grand Line." Kata Luffy.

"Kau benar. Aku pemimpin geng Black Spade." Jawab Ace.

"Kau pasti tahu geng Mugiwara 'kan? Dan pemimpinnya kau pasti tahu." Kata Luffy. Kali ini nada bicaranya terdengar aneh.

"Tentu saja aku tahu. Geng Mugiwara adalah geng terkuat nmor dua setelah geng-ku. Dan nama pemimpinnya adalah Monkey D..." Ace tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia langsung menoleh ke arah Luffy, dan Luffypun melihat ke arahnya juga. Ia baru saja sadar, bahwa orang yang ada di hadapannya adalah...

"MONKEY D. LUFFY PEMIMPIN GENG MUGIWARA?" Teriak Ace kaget. Dia tidak menyangka, bahwa pemuda yang memiliki paras imut dan manis ini adalah...

PEMIMPIN GENG MUGIWARA. GENG TERKUAT NOMOR DUA SETELAH GENG BLACK SPADE?

YANG GOSIPNYA MENGATAKAN KALAU PEMUDA INI ORANG YANG SADIS DAN KEJAM?

WHAT.

THE.

HELL?

Semuanya sulit dipercaya. Ace seakan melihat akhir dunia. Apakah ini wajah orang yang dikatakan sangat sadis dan kejam? Dan jika dilihat dari kurusnya fisiknya, dia tidak terlihat seperti orang yang kuat berkelahi.

'Apa benar dia Monkey D. Luffy pemimpin geng Mugiwara?' Ace sama sekali tidak dapat percaya. Rasa curiga tidak bisa ia lepas. Apa benar dia pemimpin geng Mugiwara?.

"Kau benar-benar pemimpin geng Mugiwara?" Tanya Ace skeptis. Dia butuh penjelasan.

"Ya, aku pemimpin geng Mugiwara. Monkey D. Luffy. Kenapa? Kau kaget?" Jawab Luffy santai.

Peryataan Luffy sungguh bagaikan bom. Ace membatu. Terdiam seribu bahasa.

"JA..JANGAN BERCANDA!" Teriak Ace. Ia langsung berdiri. Dan di saat ia berdiri...

SREEETT

"WAAAAAAAA!"

BRUUUKKK

"Akkhh..." Luffy menggerang pelan. Di saat Ace berdiri, ia tidak sengaja menginjak kulit pisang yang dibuang Marco tadi, dan akhirnya ia terpeleset ke tubuh Luffy. Ace merasakan sesuatu yang lembut di bibirnya.

Dan Ace, hanya dapat terbelalak syok. Begitu pula Luffy.

Karena sekarang...

Mulut mereka...

Telah saling...berbenturan.

Satu sama lain.

Pekatnya rona merah yang menjalar ke paras mereka. Mereka secara tidak sengaja telah berciuman. Kontak fisk yang begitu lekat. Keduanya tidak bergeming sama sekali. Mereka mamatung.

WHAT.

THE.

HELL?

Kenapa ini bisa terjadi?

Kinerja nalar telah terombang-ambing dalam badai syok. Posisi ini sungguh lekat dan berbahaya.

Ini benar-banar tidak terduga.

krrreeekkk

Pintu terbuka secara perlahan-lahan. Menampakkan figur tiga orang pria. Dan alangkah syoknya mereka bertiga ketika melihat fenomena mesra yang ada di hadapan mereka sekarang.

Ace dan Luffy sama sekali belum bergeming. Masih syok dengan hal yang menimpa mereka berdua.

Sedangkan Zoro, Sabo, dan Marco. ketiga saksi mata itu hanya dapat menganga dengan sangat lebar. Seakan tidak percaya dengan indera penglihatannya sendiri.

Hening.

.

.

"Ka...kalian berdua..." Zoro memecahkan keheningan.

"Tidak mungkin..." Kata Sabo tidak percaya.

"..." Marco hanya dapat diam.

Ace dan Luffy syok ketika teman-teman mereka ada di pintu.

"Se..sepertinya ini jauh diluar dugaan kita." Kata Marco.

"Lebih baik kita tidak usah ganggu." Kata Sabo.

"Ayo, kita menjauh dari tempat ini." Kata Zoro.

Rona merah semakin menjalar ke paras Ace dan Luffy. Oh tidak! Teman-teman mereka sudah salah paham. Mereka harus segera menjauh. Harus.

"KA...KALIAN SUDAH SALAH PAHAAAAAAMMMM!"

.

TBC

.


A/N : Yosh chapter 1 sudah selesai. Maaf kelamaan. Author galau. TT_TT. Sekarang saatnya balasan review. Meski Cuma empat yang review tidak apa-apa.

AceLu + ZoSan : Kami akan membalas reviews kalian

Ace : Pertama dari Shinahoshi 1. Gomen, author kecepatan ngetiknya. Jadi tidak memperhatikan kesalahannya. Tapi tenang saja, untuk chapter depan author akan berusaha untuk lebih bagus lagi.

Luffy : Selanjutnya dari Nyx dan Stifo. Jawaban dari pertanyaanmu adalah aku dan nii-chan sama sekali bukan saudara. Arigato buat reviewnya XD.

Zoro : Next, dari Rell. Hmm... aku tidak mengerti bahasa inggris. Tapi makasih buat reviewnya. Author akan berusaha update kilat.

Sanji : Terakhir dari via-SasuNaru. Waah ternyata anda juga menyukai AceLu? Baik. Auhtor akan buat lebih bagus lagi. Semoga anda menyukai fic ini.

Author : Thanks buat reviewnya. Aku akan berusaha update kilat. Jika fic ini masih kurang bagus bagi anda semua, saya akan berusaha membuat lebih bagus lagi.

Jaa~~Nee~~