Naruto belong Masashi Kishimoto

Who I Am? belong KimTen

fanfiction ini hanyalah imajinasi Author semata.

.

..

Happy Reading.

.

..

...

KAKASHI POV.

Aku terbangun mendengar suara tangisan bayi. Tangisannya yang kencang membuat hatiku sedih. Bergegas aku mengubah posisiku menjadi duduk dan langsung meraih si bayi.

Aku membawanya kedalam dekapan ku, namun dia masih terus saja menangis.

Lantas aku teringat akan ucapan Tsunade Senpai tadi, Lalu aku mengecek popoknya. Ternyata sudah penuh dengan air pipisnya.

Masih dengan menggendong Bayi itu, aku segera turun dari tempat tidur menuju meja yang di atasnya ada tas berisi perlengkapan bayi. Aku mengambil popok dan cepat-cepat mengantikannya. Namun si bayi masih terus saja menangis.

"ssttss..tenang." gumamku pelan. "kau lapar, eh?"

Aku mengambil sekaleng susu bubuk formula yang di tinggalkan oleh ibu bayi ini. Aku membaca petunjuk cara pembuatannya seraya berjalan menuju dapur, ternyata tidak susah seperti yang aku bayangkan. Aku harus kembali lagi ke kamar karena lupa membawa botol dotnya.

Aku masih harus terus menenangkan tangisan si bayi yang semakin kencang.

Setelah susunya siap, aku memasukkan ujung dotnya ke bibir mungil si bayi.

Seketika si bayi berhenti menangis dan menikmati minumannya.

Aku menghela nafas lega. Ku lirik jam di dinding, waktu menunjukan pukul dua siang.

Perutku mulai keroncongan, mengingat pagi tadi aku belum sempat sarapan.

Melihat si bayi sudah tenang dan kembali terlelap, aku masuk lagi ke kamar dan meletakkan si bayi dengan hati-hati agar tidak terbangun.

Aku kembali ke dapur dan membuat Ramen untuk memuaskan perutku yang terus keroncongan.

"Iya, baiklah akan aku selesaikan segera."

Aku meletakkan kembali ganggang telfon ke tempatnya. Ini hari kedua ku tinggal bersama si bayi. Bahkan aku belum memberinya nama, padahal Tsunade-san sudah menyuruhku berulang kali untuk segera memberinya nama.

Hari-hariku semakin merepotkan.

Di sisi lain, aku harus menyelesaikan naskah novelku secepat mungkin sebelum tengat pelirisan Novel baru miliku. Namun kini pekerjaanku tak hanya menjadi seorang penulis, tapi merangkap juga sebagai seorang Ayah.

'ting tong.'

Siapa malam-malam begini bertamu? merepotkan saja.

Dengan malas, aku berjalan menuju pintu depan, tidak lupa masker yang selalu menutupi setengah wajahku, aku gunakan.

"Yo! Sensei!"

Ah...ternyata Naruto, dia mantan muridku dulu saat aku masih mengajar di SMU Konoha. Di sampingnya ada wanita berambut panjang tersenyum ramah. Itu Hinata, istri Naruto.

"Tumben sekali." ucapku setelah mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Mereka turut juga membawa putra putri mereka.

"Hanya kebetulan kami sedang berpergian dan lewat daerah sini. Karena sudah lama sekali tidak bertemu Sensei, makanya aku mampir." Jawab Naruto di sertai senyuman khasnya yang lebar.

"Bagaimana kabar Sensei?" Kali ini Hinata yang bertanya.

"Kabarku baik." jawabku.

"Kau masih melajangkah. Sensei?" pertanyaan menohok keluar begitu saja dari mulut Naruto.

"Ya, seperti yang kau lihat." jawabku.

Kami semua terkejut saat mendengar suara tangis si bayi.

"Sebentar." Ucapku. Aku segera menuju kamar untuk melihat si bayi.

"Hei hei, Papa di sini." gumamku seraya mengangkatnya dan ku bawa dalam gendonganku. Aku mengayun-ayunkan pelan kedua tanganku. Dia sudah mulai tenang, namun enggan kembali tertidur.

Untuk pertama kalinya setelah dua hari aku merawat si bayi, Kini aku melihat kedua matanya yang indah. Aku merasa tidak asing dengan melihat mata itu. Yang jelas, kali ini mataku tidak menurun pada si bayi.

"Sensei."

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Naruto dan Hinata sudah berdiri di depan pintu yang belum sempat aku tutup.

"Ah, Kalian." ucapku dengan senyum canggung di balik maskerku.

"Kau punya bayi?" tanya Naruto mulai berjalan mendekat.

"Seperti yang kau lihat." jawabku.

"Tapi, aku tidak mendengar Sensei menikah."

Aku diam tidak tahu harus menjawab apa.

"Sensei." panggil Naruto lagi. "Bayi itu benar-benar darah dagingmu?"

"Benar. Aku sudah cek DNA dengan bayi ini. Aku meminta bantuan pada Dokter Tsunade dan 100% dia putra ku."

"Lalu, dimana ibu bayi ini?" Kini Hinata lah yang bertanya.

"Aku tidak tahu." jawabku lirih. Aku menatap si bayi dengan penuh perasaan yang campur aduk. "Aku hanya berharap, Kamisama mempertemukan aku denga ibu bayi ini."

Aku bisa merasakan tepukan pelan dari pundakku yang di lakukan Naruto. Naruto tahu apa yang aku rasakan.

"Siapa nama bayi ini?" tanya Hinata. kami sudah berada di ruang tamu lagi. bayiku ada dalam gendongan Hinata dan kedua anaknya ikut mendekat dengan wajah yang begitu senang.

"Aku belum memberinya nama."

"Haaa!! bagaimana bisa Sensei belum memberinya nama? kejam sekali." cemooh Naruto. "Cepat beri dia nama."

"Aku belum memikirkannya."

"Cih."

Tidak ada percakapan lagi. Aku diam memikirkan nama untuk bayiku.

"Aku sepertinya pernah melihat mata ini." celetuk Hinata. Membuatku menatap Hinata sambil mengangguk-angguk mengiyakan pernyataan Hinata tersebut.

"Benarkah?" Kini Naruto juga ikut melihat mata Bayiku. "Hei, Benar. Rasanya tidak asing melihat kedua mata ini."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pikiranku mulai kalut.

"Haru."

Aku mendongak menata Hinata. Dia tersenyum hangat menatap bayiku.

"Bagaimana kalau di beri nama Haru? Hattake Haru." Lanjut Hinata.

"Nama yang bagus." ucapku begitu saja setelah mendengar Hinata menambahkan marga Hattake ku ke dalam nama baru bayiku. "Aku suka."

"Yosh!! kalau begitu sudah di tetapkan, namanya adalah Haru."

Naruto tampak heboh sendiri. Cengiran lebarnya membuat siapa saja yang melihatnya ikut tertawa.

Haru.

Kali ini sudah aku tetapkan, Hattake Haru adalah namamu. Mulai dari sekarang aku akan merawatmu hingga besar.

Aku tidak berharap banyak Ibu mu akan datang menemuimu. Siapapun dia, aku akan menerimanya dalam hidupku. Walaupun aku sendiri tidak ingat dengan wanita mana aku tidur bersama.

Kamisama , Bantu aku.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

to be continue