DAYS

Author : Yumi Liu Anchofish

Main Cast : Eunhyuk

Rated : K sampe M lha :v

Genre : Fantasy, Family, Romance… mungkin ._.

Disclaimer :

"All cast belongs to God, their Families, and their agency… just borrow their name plus this is MY STORY"

Just click 'x' button or change another story if you don't like it

HAPPY READING

.

.

.

.

.

.

.

.

Tough Day

Suspect : Vampire, Werewolf, Witch

.

.

.

Hari yang biasa bagi orang lain, namun tidak untuk Eunhyuk.

Dimulai dari ia bangun tidur, ia menemukan dirinya di peluk oleh seseorang dari belakang… rasanya dingin. "…", ia mencoba melepas pelukan tersebut namun sang pelaku enggan melepaskannya malah mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus pemuda tersebut. "Ya, lepaskan…", Eunhyuk bersua dengan serak khas orang bangun. Tak ada sahutan pemuda blonde itu menghela nafasnya dan mencoba kembali melepas kedua lengan tersebut… hasilnya nihil. "Ya, Lee Dong Hae…", ia kembali bersahut memanggil orang itu. "mmm…", kali ini ada balasan walau hanya suara erangan saja.

"Ya, lepaskan… aku mau mandi…", pemuda tampan itu membuka kedua matanya. "waeyo? Hari ini libur kan?", ucapnya pelan dan Eunhyuk memukul kepalanya dengan bantal. "Ya, hari ini aku harus sekolah...", dengan susah payah akhirnya ia terlepas darinya dan langsung mengambil handuk dan pakaian ganti sebelum menuju ke kamar mandi.

"dan juga berhentilah masuk ke kamarku... kau kan punya kamar sendiri...", sahutnya sebelum menghilang dari pintu kamar mandi. "...", pemuda tampan itu duduk bersandar pada kepala kasur dan kemudian mengacak suraian hitam kebiruannya sedikit kasar. 'padahal aku ingin terus memeluknya...', pikirnya bete dan ia langsung bangkit –dan membereskan kasur milik pemuda pirangtersebut— kemudian melangkah keluar kamar dengan gontai.

'mungkin lain kali…', pikirnya nelangsa.

Ia melangkah menuruni tangga menuju ruang makan, dan mendapati sosok seorang pemuda lainnya yang tengah menyiapkan sarapan. "lagaknya kek bisa masak aja…", cibir Donghae sambil menduduk 'kan dirinya pada salah satu bangku. "memang bisa kok…", ujar pemuda tinggi itu santai, ia menyiapkan sarapan sesuai dengan selera mereka satu per satu. "dan kau habis dari kamar Hyukkie, eoh?", pemuda itu mengendus aroma lain dari tubuh Donghae dan memasang wajah tak suka.

"…hanya menyelinap masuk…", ujarnya santai tak terlalu peduli dengan hawa benci dari pemuda tinggi yang sudah selesai menata sarapan pagi.

"haaahh~ tadinya aku ingin terus memeluknya dan—", Donghae menahan gerakan tiba-tiba dari pemuda tinggi yang ingin mencolok matanya dengan garpu. "jangan macam-macam kau… dasar Vampir….!", desisnya. "heh! Memangnya kau mau apa eoh? Bangsa anjing…!", sahut Donghae. Aura gelap kentara dari mereka berdua yang masih beradu kekuatan dengan Donghae menahan kekuatan pemuda itu yang bernafsu ingin mencolok iris merah darahnya.

Hawa menyesakkan terasa jelas di ruang makan tersebut, dan mereka tak menyadari sosok gadis yang baru saja memasuki ruangan tersebut. "…!", keduanya tersentak saat tubuh mereka tak bisa digerakkan sama sekali. "ya ampun, hari masih pagi dan kalian ingin menghancurkan ruangan ini?", celetuk gadis pirang dengan tangan kanannya menggenggam tongkat yang mengarahkan pada mereka berdua. "…", mereka berdua tak menyahut dan masih saling balas tatapan benci.

Gadis pirang itu menghela nafasnya.

"… kapan kalian berdua bisa akur? Jangan bawa masalah leluhur kalian di sini…!", ia 'memindahkan' tubuh pemuda tinggi itu ke sisi lain dari meja dengan tongkatnya dan mereka berdua bisa menggerakkan tubuhnya kembali. "kalau terus begitu Eunhyukkie Oppa bakal jadi milikku lho~", godanya yang dihadiahi tatapan tajam dari keduanya… dan ia tak peduli sama sekali.

Di sisi lain, pemuda pirang tersebut selesai membersihkan diri dan menyiapkan keperluan hari ini. Ia menatap pantulan dirinya, sedikit membenahi sana-sini dan merasa rapi akhirnya melangkah keluar dari kamar dan menuju lantai bawah. "Eunhyuk Hyung~ selamat pagi~!", suara riang terdengar sesaat setelah menutup pintu kamarnya.

"ah, pagi Jeno-ah…", ia bersahut sambil tersenyum pada seorang 'remaja' yang baru keluar dari kamarnya. "hari ini sekolah, Hyung?", tanya remaja yang di panggil Jeno itu sambil merangkul manja lengan kanan Eunhyuk. "tentu saja, orang-orang sepertiku harus pergi sekolah untuk memenuhi kewajibannya…", jawab sang blonde ngasal dan mereka melangkah turun menuju ruang makan.

Eunhyuk menghentikan langkahnya membuat Jeno juga ikut terhenti –karena masih merangkul lengannya— "kenapa Hyung?",

'mereka…', pikirnya bête saat merasa hawa menyesakkan dan gelap dari arah ruang makan. "kau tak merasakan apapun, Jeno-ah?", tanya-nya pada Jeno yang menatapnya polos. "…akhir-akhir ini aku merasa tak enak badan, Hyung…", Jawab 'remaja' itu saat ia paham maksud dari pertanyaan Eunhyuk.

"…", sang blonde menghela nafas dan mereka melangkah kembali memasuki ruang makan yang sekarang menjadi tempat perang dingin oleh ketiga penghuni lainnya. "ah! Selamat pagi Eunhyukkie…!", celetuk salah satu dari ketiga orang itu menyudahi perang dingin yang mereka lakukan. "ah~ Eunhyuk Oppa~ pagiii~!", salah satu dari mereka –seorang gadis sendiri— memeluk tubuh pemuda blonde itu dengan gemas. "Ya, Noona… kau lebih tua dariku…", Eunhyuk melepas pelukan gadis tersebut dan langsung duduk di tempatnya dan gadis itu mem-pout-kan bibirnya bête.

"kali ini ada apa?", tanya Eunhyuk to the point sambil menatap mereka bertiga bergantian. "biasa, cemburu…", celetuk sang gadis sambil melirik kedua pemuda yang tengah sibuk membalas lirikan tajam. "…", dan Eunhyuk menghela nafasnya lagi. "sudahlah kalian berdua… jangan sampai aku memasang 'benda' itu untuk menangkal kalian memasuki kamar ataupun rumah ini…", celetuk Eunhyuk membuat mereka berdua menoleh padanya dan langsung duduk di tempatnya masing-masing.

Dan acara sarapan yang sedikit tertunda mereka laksanakan…(?)

"omong-omong, yang lain di mana?", tanya Eunhyuk sambil menyantap waffle miliknya, dan melihat beberapa bangku kosong. "biasa, melakukan ini-itu sampai mereka puas…", jawab Donghae sambil menyeruput air merah kental di gelasnya. "lebih detailnya?",

"si setan lagi ada pertemuan kelompoknya, si kanibal lagi cari mangsanya, bocah sisik dan peri katanya pergi ke kampung halaman leluhurnya, si mesum… taulah, mencari mangsa untuk birahi-nya, si ikan berada di laut entah mau apa dan dua hari belum pulang, dan terakhir aku tak tahu kemana dia…", jelas gadis pirang itu santai sambil menyantap sarapannya berupa salad dan Eunhyuk mangut-mangut.

"setidaknya kau menyebut nama mereka, Hyoyeon Noona…", cicit Eunhyuk yang dibalas cengiran polos darinya.

Dua puluh menit berlalu dan akhirnya mereka selesai sarapan. Eunhyuk melangkah menuju pintu keluar dengan sosok tinggi mengekori dirinya. "tak ada yang tertinggal kan?", celetuk pemuda tinggi itu. "hm, tak ada…", Eunhyuk selesai memakai sepatunya dan menoleh ke arah pemuda tinggi tersebut. "kalau begitu, jaga rumah ne? jangan berkelahi lagi… Arasseo?", pemuda tinggi itu mengangguk.

Eunhyuk menepuk-nepuk pucuk kepala pemuda tinggi tersebut dan langsung pamit keluar.

Sepeninggal pemuda blonde, ia menyentuh kepalanya yang disentuh oleh Eunhyuk… dan ia tersenyum tipis. "hiii… senyum-senyum sendiri kek orang gila…", sahut Donghae dan langsung kabur begitu pemuda tinggi tersebut menatapnya tajam.

.

.

.

Eunhyuk POV

Haaaaahh… entah sudah berapa kali aku menghela nafas, karena aku merasa kalau hari ini begitu sulit. Ah, kurasa aku belum memperkenalkan diriku…

Annyeonghaseyo, Lee Hyuk Jae ibnida, hanya seorang pelajar biasa… err, aku tak tahu harus berkata apa lagi. Hmm… kedua orang tuaku sudah berpulang karena kecelakaan saat umurku enam tahun. Saat itu, aku di asuh oleh kepala keluarga kepercayaan ayahku sampai umurku tiga belas tahun di mana aku sudah bisa hidup mandiri. Karena tak ingin merepotkan orang lain, aku memperbolehkan para pelayan keluargaku untuk pulang ke keluarga mereka masing-masing –setelah memberikan upah untuk mereka tentunya—

Alasannya sudah kujelaskan, tak ingin merepotkan dan juga mereka hampir tak pernah pulang ke rumah karena harus mengurusiku semenjak kepergian kedua orang tuaku. Butler yang mengurusiku juga ku suruh pulang… walau ia sempat menolak karena khawatir. Tapi aku tetap bersikeras menyuruhnya untuk pulang…

Kesannya… yaaa aku seperti mengusir mereka.

Tidak kok~! Aku hanya ingin memberikan mereka waktu untuk beristirahat karena sudah mengurusiku selama ini.

Tiga tahun aku hidup sendirian di rumah super megahku sebagai anak sekolah menengah pertama. Selama itu aku belajar, bekerja di beberapa part-time, dan melakukan hal-hal yang di lakukan oleh anak-anak sebayaku. Aku tak mau derajat keluargaku diketahui orang lain… itu sangat merepotkan. Warisan kedua orang tuaku tak kusentuh sama sekali (ah tidak, mungkin sedikit kupakai untuk biaya tagihan), tersimpan dengan amannya di suatu rumah ini. Pekerjaan orangtuaku? Aku sendiri tak terlalu tahu apa pekerjaan mereka, namun semua sudah di urus oleh salah satu kerabat dari pihak ayahku... dan yeah, aku tak terlalu memusingkannya.

Menjalani kehidupan sebagai orang biasa sudah membuatku senang karena aku bisa merasakan bagaimana menjadi orang awam.

Oke, sekian penjelasannya tentangku.

Seperti biasa, hal yang dilakukan oleh seorang pelajar saat pagi… pergi sekolah. Dan seperti yang kulakukan selama masa sekolah, aku berjalan kaki menuju halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Ku lirik jam tanganku, 06:58… dua menit sebelum keberangkatan bus yang menuju sekolahku.

'oh shit…', aku memaki dalam hati dan langsung berlari saat melihat siluet halte dan orang-orang yang segera naik bus.

"akh!", aku mengerang frustasi… 07:00, bus sudah pergi begitu saja sesuai jadwal. Haaaaahh… bagaimana ini? Jarak dari halte yang ku singgahi sekarang ini menuju sekolah memakan waktu kurang lebih 30 menit sementara gerbang sekolah ditutup pada pukul 07:50. Kalau saja aku tidur lebih awal pasti takkan setelat ini…

Dan kalau saja mereka tak berbuat ulah…

"Hyukkie, kenapa masih di sini?",

Oh bagus, baru saja aku ingin memaki mereka… lebih tepatnya salah satu dari mereka. ku menoleh, mendapati sosok Donghae berada di belakangku. Kurasa ia mengikutiku…

"kau tidak lihat…? aku terlambat…", dengan berat aku duduk pada bangku halte, mengusap wajahku sedikit frustasi. "haaahh… mana jam pertama Ahn Seonsaengnim lagi…", gumamku saat teringat sosok guru yang kelihatan baik namun killer di sekolahku. Dapat kurasa kalau Donghae duduk di sebelahku… dan kami terdiam entah kenapa.

"mau ku antar?", celetuknya.

"hah?", responku karena tak terlalu konsen. Kulihat Donghae berlutut membelakangiku… aku menautkan kedua alisku bingung. "Ya, kau tak ingin telat kan?", sahutnya lagi membuatku tersadar... aahh… Baiklah, daripada kena ceramah guruku aku langsung melingkarkan kedua tanganku pada lehernya, sensasi dingin dari tubuhnya langsung menjalar ke seluruh tubuhku membuat tubuhku sedikit mengigil. "pegangan yang erat…", gumamnya dan langsung ia melompat tinggi.

Ah, aku lupa… Akan kuperkenalkan dirinya…

Namanya, Lee Dong Hae… seorang vampire.

Tak percaya? Memang kenyataan kok… dari kulitnya yang sedikit tan dan dingin, iris matanya semerah darah, taring tajam, dan lain-lain (dan sekarang ia menyamarkan identitasnya dengan sempurna). Aku tak terlalu ingat saat pertama kali bertemu dengannya… saat itu aku menemukan dirinya terkapar di taman kota dengan dirinya hampir terkubur oleh salju, tak ada yang tahu karena hari itu sudah malam dan aku selesai part-time. Tanpa ba-bi-bu aku langsung membawanya pulang –sedikit susah memang— dengan taksi dan dengan tergopoh(?) aku membawanya masuk ke rumah.

Hmm… aku memang tak terlalu ingat tapi yang jelas, aku mengetahui dirinya seorang vampire saat ia langsung menerjang tubuhku dan iris merah pada kedua matanya bertemu denganku. Ku kira aku akan mati saat itu namun aku beruntung karena aroma kuat bawang putih dari tanganku yang belum ku bersihkan saat mengupas bawang putih membuatnya menjauh dariku.

Entah apa yang terjadi, ia menetap dan menjadi penghuni di rumahku.

Yaaahh… kira-kira seperti itulah, maaf yah aku tak terlalu ingat… hehe…

.

.

.

End of POV

"kau kenapa?", tanya Donghae sambil melompat dari gedung satu ke gedung lainnya. "apanya?",

"tertawa sendiri kek kesambet…", ucapnya yang di balas jitakan ringan dari Eunhyuk. "bukan apa-apa… dan hati-hatilah kalau melompat..! bagaimana kalau orang lain melihatmu?",

"tenang saja, taka da yang tahu… kalaupun tahu akan ku hapus ingatannya atau meminum darahnya kalau perlu~", Donghae berujar santai dan Eunhyuk menjitakinya lagi. "Ya! Sakit!",

"babbo! Kau kan vampire, memangnya di jitak begitu sakit eoh? Dan apa maksudmu tadi, jangan macam-macam kau dengan orang lain…!", omel Eunhyuk sedangkan Donghae tertawa pelan. "wae? Kau tak ingin aku meminum darah orang lain selain dirimu eoh?", goda sang vampire membuat Eunhyuk kembali lagi menjitaki-nya lagi. "Ya!",

"sudahlah, ppalli sebelum aku terlambat!", Eunhyuk mengeratkan pelukannya membuat Donghae merasa sedikit aneh pada dirinya. 'kenapa aku merasa berdebar begini…?', pikirnya kalut. Pemuda blonde itu menyandarkan kepalanya pada punggung Donghae dan memejamkan kedua matanya sesaat.

'hangat…',

Aneh memang, tubuh Donghae itu sedingin es… namun ia bisa merasakan kehangatan di balik dinginnya tubuh sang vampire.

Akhirnya tujuan mereka sudah terlihat di depan mata, namun Eunhyuk menyuruh Donghae untuk berhenti di dekat gang sepi. "kenapa tak berhenti di halaman belakang sekolah saja?", tanya Donghae setelah menurunkan Eunhyuk. "dan mengejutkan Seo Ahjussi yang selalu di sana? Aku tak mau…", jawab Eunhyuk. Ia mengecek kerapihan dirinya… oke.

"kalau begitu, aku duluan.. Gomawo, sudah mengantarku…", sang blonde hendak pergi namun tangannya di tahan oleh Donghae. "wae?",

"…", Donghae menunjuk pipinya sendiri. "imbalannya?", tanyanya sambil memajukan bibirnya lucu. "mau ku tampar? Baiklah…", dan Donghae langsung menghentikan aksinya. "ya sudah… hati-hati…", cicit Donghae bête dan melepas genggamannya.

"…", Eunhyuk mendengus geli.

CUP

Dan mengecup kilat pipi sang vampire. "sampai jumpa…",

Meninggalkan Donghae yang terdiam di tempat. "…", ia menyentuh pipinya yang di kecup Eunhyuk… dan senyuman (bodoh) tercetak pada wajahnya.

Pemuda blonde itu mempercepat langkahnya memasuki arena sekolah, menyapa siswa dan guru yang berpapasan dengannya hingga akhirnya ia berada di pintu kelas. "…", ia menenangkan dirinya sesaat dan membuka pintu tersebut.

"annyeonghaseyo…", sapanya setelah membuka pintu dan bisa ia lihat sang guru sudah berada di tempatnya. "Lee Hyuk Jae, kau terlambat lima menit…", sahut sang guru membuat Eunhyuk mengusap tengkuknya kikuk. 'duh! Bagaimana ini…?', pikirnya sedikit panik. "Mi-mianhae Ssaem, saya dari kamar mandi…", bohongnya dan sang guru menatapnya dari atas ke bawah… dan menatap buku yang ia bawa.

"ya sudah, silahkan masuk…",

Dan Eunhyuk menghela nafasnya lega dan pelajaran pertama segera di mulai.

.

.

Skip Time, Break Time

"Hyuk-ah~! Ayo ke kantin~!",

"sebentar Junsu... sedikit lagi",

"nanti bisa dilanjutkan bukan? Yang lain sudah menunggu~!",

"kau duluan saja sana...",

"ayolaahh~!",

Eunhyuk mendengus dan dengan berat hati ia menaruh bukunya ke dalam tas. Pemuda bernama Junsu itu langsung menyeretnya menuju kantin sekolah yang lumayan ramai. "Ah! Itu mereka~!", Junsu tetap menyeret sang blonde menuju tempat yang baru saja ia temukan di mana sekelompok siswa yang terlihat menunggu seseorang.

"kalian lama sekali…", celetuk salah satu dari mereka saat melihat dua orang yang dimaksud. "maaf, maaf… Eunhyukkie tadi harus mencatat yang tertinggal…", jelas Junsu dan mereka berdua ikut bergabung. "karena kalian lama, aku memesankan minuman untuk kalian…",

"Aigoo~! Gomawoyo, kau yang terbaik U-Know-ah~!",

"ish, lepasin..!",

Dan mereka larut dalam pembicaraan seputar kegiatan klub mereka, Eunhyuk hanya diam mendengarkan ocehan ketua klub dan anggota lainnya sambil menikmati strawberry milkshake yang sudah dipesankan untuknya. Pandangannya menerawang suasana kantin yang begitu ramai, ada yang makan, bercanda, berpacaran… oke untuk yang terakhir Eunhyuk merasa kesal sendiri (karena ia jones), dan matanya tertuju pada sosok 'siswi' asing namun ia merasa familiar. Ia menautkan alisnya bingung karena sosok itu membelakanginya sehingga ia tak tahu siapa.

'rasanya kek kenal… nuguya?', pikirnya bingung tak sadar kalau sang ketua memanggil dirinya.

"—Hyuk-ah… Ya!",

"hah?",

"kau tadi dengar tidak apa yang dibahas?",

"iya aku dengar… masalah perlombaan antar sekolah kan?",

Dan kali ini ia lebih fokus mendengarkan pembicaraan mereka, mengabaikan sosok yang menoleh pada mereka… lebih tepatnya pada dirinya.

.

.

Skip Time, After School

Akhirnya jam sekolah telah usai. Pemuda blonde itu merasa kalau seluruh tubuhnya pegal dan kaku di sana-sini karena pelajaran hari ini. Dari jam pertama-kedua dengan guru killer, istirahat mendiskusi masalah klub dan mendengar curhatan sahabatnya hingga telinganya panas, kemudian jam ketiga praktek fisika, keempat olahraga yang membuatnya tepar di kelas saat jam istirahat kedua, kemudian jam kelima hingga kedelapan duduk di kelas sampai bokongnya ngilu.

"huuaaaahhh~! Akhirnya~!", ia menoleh pada Junsu yang meregangkan tubuhnya yang sama kaku dengannya. "…", Eunhyuk mengambil ponsel dari saku seragamnya, membaca message yang belum ia baca.

From : Jeno

Subject : none

"Hyung~ aku mau ice cream~ (*^*)"

Pesan yang singkat dan ia tersenyum kecil membacanya.

"Eunhyuk-ah, Junsu-ya… ayo pulang~!", sahut seseorang membuat mereka berdua menoleh. Langsung mereka membereskan buku, kemudian memakai tas mereka masing-masing dan menyusul mereka yang sudah jalan duluan. Sepanjang jalan menuju keluar gedung mereka membicarakan banyak hal dan random yang kemudian tertawa konyol karena pembicaraan yang tak jelas.

DRAP
DRAP
DRAP

Eunhyuk menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang berlari.. dan…

"EUNHYUKKIEEEEE~~!",

BRUGH

Seseorang memanggil namanya dan menubruk(?) dirinya hingga terjatuh. "…!", yang lain tentu saja kaget melihatnya. "mwoya? Ada apa?", tanya Yunho heran. "…", sang blonde yang kaget langsung sadar dan melihat seorang gadis yang berada di atasnya –sambil memeluknya—

"emm… kau siapa?", tanya Eunhyuk bingung mengabaikan bisikan temannya dan tatapan dari beberapa siswa yang kebetulan melihat kejadian tadi. "…", gadis itu mendongak dan menatap wajahnya sambil tersenyum lebar… dan Eunhyuk melebarkan kedua matanya. "Eunhyuk-ah, gwaenchana?", tanya Junsu saat Eunhyuk langsung bangkit sambil melepas pelukan gadis tersebut. "Gwae-gwaenchana… aku duluan ya… dadaahh~!", ia langsung kabur sambil menyeret gadis yang menubruknya meninggalkan mereka dengan kaget, bingung, curiga bercampur menjadi satu.

Eunhyuk dan gadis itu melangkah menjauhi area sekolah sedikit cepat membuat yang di seret merasa sedikit sakit pada pergelangan tangannya yang di genggam dengan erat. "Hyukkie-ah, apayo~", rengeknya dan Eunhyuk menghentikan langkahnya, melepas genggamannya dan menoleh ke arah gadis tersebut. "apa yang noona lakukan…? Dan kenapa kau berada di sekolahku?",

"…", gadis itu tak menjawab, ia bersandar pada dinding sebuah toko dan menyilangkan kedua tangannya… menatap Eunhyuk dengan intens. "penyamaranku gagalnya…? Haaahh, padahal aku sudah meniru dengan baik salah satu siswi di sekolahmu…", ia mempout 'kan bibirnya lucu. "… dan, bisakah kau berhenti memanggilku noona? Aku kan lebih muda darimu?", lanjutnya merajuk.

"apanya yang muda? Kau ratusan tahun lebih tua dariku…", balas Eunhyuk bête.

"jadi, kenapa kau berada di sekolahku?", sang blonde mengulang pertanyaannya kembali. "aku kangeeenn~!", ia mundur selangkah untuk menghindari pelukan dari gadis tersebut. "hhh… sudahlah, ayo pulang…", Eunhyuk melangkah duluan dan di susul gadis yang tak lain adalah Hyoyeon. "tapi, kenapa kau tahu kalau itu aku?", tanya Hyoyeon sambil merangkul lengan kirinya. "iris matamu noona… menjawab semuanya…", jawab Eunhyuk pelan. "mataku? Kenapa? Padahal aku sudah mengganti warnanya…",

Pemuda pirang itu terdiam sesaat. "kilauan warna emeraldmu masih terlihat…", cicit Eunhyuk sambil memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona tipis pada wajahnya. "aigoo~! Kenapa buang muka hm?", Hyoyeon mulai menggoda Eunhyuk yang sedikit malu untuk menatapnya.

"su-sudahlah…", ia melepas rangkulan Hyoyeon dan mereka berdua melangkah menuju mini market untuk membeli pesanan Jeno, cemilan lainnya untuk cadangan, dan bahan-bahan masakan. "noona, bisa ambilkan ini..?", Eunhyuk memberikan memo padanya yang tertulis daftar belanjaan yang ia buat saat jam pelajarang terakhir. Ia sendiri menuju bagian bumbu dapur, mencari bahan yang ia butuhkan dan memasukkannya ke dalam trolli.

"…", ia bergumam mengingat nama bahan yang ia butuhkan untuk bulan ini dan suara Hyoyeon memanggil membuatnya buyar.

"noona, suda—MWOYA!?", ia terkejut… melihat Hyoyeon dengan santai melangkah mendekati dirinya… dengan belanjaan terbang melayang di belakang mengikuti dirinya. "ini sudah semuanya~", ucap gadis itu dengan riang dan menggerakkan tongkat yang entah dari mana dan sejak kapan sudah ada di genggamannya memasukkan belanjaannya ke dalam trolli. "Ya! Noona..! bukankah sudah kubilang untuk tidak menggunakan kekuatanmu di depan umum?!", tanya Eunhyuk panik.

"membawa semuanya sendiri sangat merepotkan, Hyukkie~ tapi tenang saja… tak ada yang tahu karena aku menghentikan waktu di sekitar area ini…", pemuda itu melihat sekeliling.. memang tak ada gerakan sama sekali selain dirinya dan Hyoyeon. "tapi tetap saja noona… aku takut kalau orang lain tahu bahwa kau seorang penyihir…",

"hehehe… mianhae, membuatmu khawatir…", ia mengusap pucuk kepala Eunhyuk dan melepaskan mantra yang ia lafalkan untuk menghentikan waktu. Keduanya menuju ke bagian kasir setelah mengecek semua belanjaan yang mereka butuhkan.

.

.

Eunhyuk's Mansion, 16:59

"aku pulaaang~!", suara Eunhyuk menggema dan suara derap langkah ringan terdengar olehnya yang tengah melepas sepatu yang ia kenakan. "selamat datang Hyuung~!", ucap Jeno dan langsung memeluk tubuh kurus sang blondie. "Jeno-ah, ini pesananmu…", Eunhyuk merogoh kantong belanjaannya untuk mengambil ice cream sesuai permintaan si remaja tersebut.

"oh iya Hyung… Donghae Hyung dan Siwon Hyung bertengkar lagi…",

Eunhyuk hampir saja tersandung saat mendengar ucapan Jeno. "di mana mereka?", remaja itu menunjuk ke arah pintu yang berada di ruang dapur… pintu belakang rumah. "…", ia menghela nafasnya. "noona, tolong bawa ke dapur ya…", Hyoyeon mengangguk dan Eunhyuk langsung melangkah menuju pintu yang dimaksud.

CKLEK

"WHOAA~!",

Hal pertama yang ia lihat adalah, kekacauan…

Sisa api biru di sana-sini, tanah berlubang, dan beberapa bagian kebun bunga terlihat rusak. Dan ia melihat kedua pelaku kekacauan tersebut… Donghae dan seekor serigala putih besar. "YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN!", serunya dan melangkah mendekati mereka berdua… membuat mereka terhenti dan menoleh ke padanya… dan ia bisa melihat raut wajah Donghae yang sedikti panik. "Hyukkie! Jangan kemari!",

"eh?", ia terhenti dan tiba-tiba serigala besar itu menerjangnya.

BRUGH

"…!", Eunhyuk memekik tanpa suara saat punggungnya sakit menghantam ubin taman. Manik caramelnya menatap iris emas sang serigala… kosong?

Donghae, dengan murka langsung menendang tubuh serigala tersebut untuk membebaskan Eunhyuk. "kau baik-baik saja?", tanya Donghae dengan kekhawatirannya yang membludak. "n-ne… ukh…", Eunhyuk meringis saat punggungnya terasa nyeri. Sang vampire menoleh kembali ke arah serigala besar dengan murka. "kau…!", langsung ia kembali menyerang makhluk tersebut dan perkelahian kembali terjadi.

"astaga, Hyukkie…!", Hyoyeon yang menyusul karena penasaran langsung menghampiri Eunhyuk yang terbaring begitu saja. Ia membantu Eunhyuk untuk duduk dan langsung mengangkat baju bagian belakang untuk melihat kondisinya. "Siwon Oppa melakukannya… lagi!?", Eunhyuk hanya diam… membiarkan Hyoyeon menyembuhkannya dengan mantera milikinya sementara Jeno yang juga menyusul hanya bisa diam pada daun pintu melihat mereka dengan takut dan khawatir.

"YA! SADARLAH!", Donghae berseru sambil menghindari serangan makhluk putih tersebut. Ia melemparkan bola api biru dari tangannya namun dihindar dengan baik olehnya. Ia melompat saat serigala itu menerjangnya dan langsung memukul begitu ada kesempatan.

BUAGH

Sang serigala sedikit terlempar saat terkena pukulan. Donghae bergerak cepat untuk kembali menyerangnya… saat hendak ingin menendangnya…

Kakinya tergigit dan serigala itu mengoyaknya dan melemparkan tubuh Donghae hingga kaki kirinya terputus. "DONGHAE!", Eunhyuk panik melihat kejadian tersebut. Ia langsung bangkit mengabaikan sedikit rasa nyeri pada punggung dan melangkah mendekati mereka. "Hyukkie, tunggu…!", Hyoyeon menyusul.

"Siwon-ah! Berhenti…!", Eunhyuk berseru memanggil nama makhluk tersebut. "…", suara geraman terdengar olehnya namun Eunhyuk tetap mendekatinya. "Grrr…!", sang serigala kembali ingin menerjangnya dan Hyoyeon yang melihatnya segera melafalkan mantera pelindung…

"BERHENTI, CHOI SI WON!",

Makhluk itu langsung berhenti… tepat di depannya.

Keheningan sesaat menyapa mereka…

"...", jemari tangan Eunhyuk mulai mendekati kepala serigala putih tersebut… dengan hati-hati. "tenanglah… Siwon-ah…", gumamnya saat tak ada gerakan makhluk tersebut. "…", Eunhyuk menangkup kepala serigala tersebut, dan menempelkan keningnya pada kening makhluk tersebut sambil bergumam 'tenanglah', 'ini aku' secara berulang-ulang dan sesekali mengusap pelan bulu halus miliknya… Sang serigala akhirnya tenang.

Eunhyuk tetap melakukan gerakannya dan sesekali mengecup pangkal hidung makhluk tersebut untuk membuatnya lebih tenang lagi. "noona… tolong bantu Donghae…", pintanya dan Hyoyeon langsung menghampiri Donghae untuk melakukan pertolongan pertama. "Siwon-ah… tenanglah…", perlahan, tubuh serigala itu berubah menjadi sosok seorang pemuda tinggi yang tak sadarkan diri dalam pelukan Eunhyuk.

"…", Eunhyuk melirik pada sesuatu yang berkilauan terpantul cahaya yang berada tak jauh darinya. Ia membaringkan tubuh pemuda yang bernama Siwon itu untuk mengambil objek yang ia lihat tadi… sebuah gelang yang terputus dengan ukiran sedikit rumit.

"Eunhyuk-ah, gwaenchana?", suara Donghae terdengar olehnya… ia melihat Donghae yang sudah bisa berdiri –sedikit sempoyongan— setelah Hyoyeon menyambungkan kembali kakinya yang terputus. "ne, gwaenchana…", jawab Eunhyuk singkat dan ia menoleh pada Siwon yang masih tak sadarkan diri. "biar kubawa dia…", sahut Donghae dan mengangkat tubuh kekar pemuda tersebut dengan bantuan Hyoyeon.

"…", Eunhyuk masih diam dan kembali menoleh pada gelang yang ia pegang. Ia menyusul Donghae dan Hyoyeon yang sudah masuk… mendapati Jeno yang masih di ambang pintu. "Jeno-ah, boleh minta tolong…?",

.

.

Siwon's Room, 18:00

Pemuda pirang itu masih duduk di pinggir kasur, menemani Siwon yang belum sadar sejak tadi. Sebelumnya ia bertanya pada Donghae apa yang terjadi, dan sang vampire menjelaskan kalau ia tak sengaja merusak gelang yang di kenakan Siwon saat ia berlatih dengannya. "…", Eunhyuk menghela nafasnya… hari ini begitu sulit baginya, karena beberapa kejadian yang membuatnya sedikit lelah dan khawatir.

Ia menoleh saat mendengar erangan samar dari seseorang… Siwon mulai siuman.

"…", pemuda tampan itu membuka kedua matanya dan pertama yang ia lihat adalah sosok Eunhyuk yang duduk di sebelahnya. "kau baik-baik saja?", tanya Eunhyuk pelan. "dimana… aku…", Siwon mengubah posisinya untuk duduk bersandar –dibantu Eunhyuk— dan menatap sekeliling. "kh… apa yang terjadi…?", gumamnya pelan.

"kau berubah menjadi serigala… dan mengamuk…", jawab Eunhyuk. "…", ia terdiam mencoba mengingat apa yang terjadi… dan ia langsung menatap sang blondie.

"Eunhyuk-ah, kau baik-baik saja?", pancaran khawatir terlihat jelas pada kedua matanya. "ne, gwaenchana…", jawab Eunhyuk singkat sambil tersenyum dan mereka terdiam sesaat. "Hyuk-ah… mianhae…", gumam Siwon. "…aku… melukaimu, kan?", lanjutnya dan ia menundukkan kepalanya. "tidak.. tidak… aku baik-baik saja kok… kau lihat?", Eunhyuk bergerak leluasa seolah tak terjadi apa-apa walau nyeri pada punggungnya sedikit terasa.

"Donghae bilang, kau mengamuk saat ia tak sengaja merusak gelangmu…", Siwon mengangguk pelan setelah mengingat kejadian sebelumnya… walau samar-samar. "aku sudah meminta Jeno untuk memperbaikinya…", Eunhyuk menyentuh pergelangan kanan Siwon yang sudah memakai gelang yang dimaksud. "… maaf Hyukkie…", kembali Siwon menggumam. "tak apa Siwon-ah, yang terpenting semuanya sudah beres…", pemuda tinggi itu masih menundukkan kepalanya.

Eunhyuk mendengus dan memaksa pemuda itu untuk menatapnya. "Siwon-ah, lihat aku…", kedua mata mereka bertemu. "kau ingat pertama kali kita bertemu?", ia mengangguk pelan. "waktu itu kau sudah banyak membantuku, aku sangat berterima kasih dan sejak itu kau sudah menjadi bagian keluargaku…", Eunhyuk tersenyum tipis. "banyak hal yang sudah terjadi, tapi kita bisa menyelesaikannya bersama… kau tahu? Sebagai keluarga… walau kau, Donghae, dan lainnya berbuat kesalahan… aku takkan marah, karena aku menyayangi kalian semua…", Eunhyuk menjauhkan kedua tangannya pada wajah Siwon.

"…kalian sudah menemaniku selama ini… yaa belum terlalu lama sih, tapi kalian mengisi kekosongan rumah ini.. dan aku sangat senang dengan kehadiran kalian… walau sedikit menyebalkan sih…", ia terkekeh pelan. "intinya, aku baik-baik saja dan tak masalah kalau ada kekacauan yang kalian lakukan…", Eunhyuk menggaruk bagian kepala kikuk karena sadar apa yang ia katakana… ngelantur.

"n-nah, kalau begitu ayo turun… waktunya makan malam…", ia hendak pergi kalau genggaman Siwon tak menghentikan gerakannya. Pemuda tinggi itu bangkit dari kasur dan langsung memeluk tubuh kurus pemuda tersebut. "Eunhyuk-ah… gomawo… mianhae…", gumamnya pelan. "Ne, Wonnie-ah… gwaenchana…", Eunhyuk mengusap-ngusap punggung Siwon menenangkan dirinya.

"ah! Jangan lupa untuk minta maaf pada Donghae… kau tadi memutuskan kaki kirinya…",

.

.

Di sisi lain, Donghae yang sedari tadi berada di depan pintu kamar Siwon memasang wajah bête dan dengan kesal ia melangkah turun menuju ruang makan. "Siwon Oppa sudah sadar?", tanya Hyoyeon yang baru saja dari dapur membawa makan malam dan Jeno yang juga ikut membantu. "iya. Sudah…!", jawabnya singkat tersirat nada kesal.

"…", keduanya menatap satu sama lain dan menggidikkan kedua bahunya.

'cemburu, ya?', pikir mereka bersamaan dan mereka melihat kedua orang yang ditunggu dan memulai makan malam dengan khidmat…

Dan Donghae masih menatap keduanya dengan bête.

.

.

.

.

.

.

.

.

ToBeContinued

A/N :

Hello~ Yumi datang bawa Chapter pertama~ ga tau mau ngapain lagi aku balas review yang masuk yaa…

To : el-shi,

Kemungkinan sih HaeHyuk xD aaahh postingan yang itu yaahh… duuh sayang banget di hapus… kenapa yaa.? Hmm hmm~! Aaah jadi kangen moment mereka :3 hmm… mungkin kalo akun FFn udh sampe 50 story atau mungkin di bawahnya, aku dan EunRa coba pindah ke WP (walau g ngerti sih ~_~ thanks for review :D

To : ukeHyuk line-shi,

Sama, udah lama ga buka gmail tau-tau e-mail dari EunRa membludak nanyain FF yang aku kerjakan ( Mianhae nae Chingu xD ) keknya Watty lebih popular… kapan-kapan mampir ke sana deh :P FF Haehyuk mulai tenggelam jadinya yaa gitu deh :'v makasih :* g cman werewolf atau vampire, bakal ada yang lain tapi masih bingung juga sih enaknya siapa jadi apa g semua member SJ kok paling ada yang lain ~_~ dan duh dedek ensiti pesonanya g nahan xD *Ekhem! Thanks for review :D

Oke sekian dlu… udah lama g ngetik rasanya banyak yang berubah, baik alur ataupun kosakatanya yang keknya monoton banget *uhuk*

Langsung saja,

RnR? Arigatou Gozaimasu~

#Yumi Liu Anchofish