Persona 4/Golden/Ultimate © ATLUS

Fic by: Crow Inaba


Persona 4: Ultimum Repressio

2: Yukiko and Aigis

Yasoinaba, 19 September 2015. 22:43

Walau sudah semalam ini, hotel Amagi terkesan tidak akan pernah mati dari suara tawa, suara senda gurau, dan suara pengunjung-pengunjung yang mabuk. Tanpa ingat bahwa satu kamar mewah di dalamnya berhantu, sepertinya malah hantu tersebut yang takut berkunjung karena pria-pria mabuk terkadang mengamuk dengan tiba-tiba. Dan, hanya pegawai hotel ini yang mampu menenangkan mereka.

Yukiko mendesahkan napasnya. Melelahkan memang, tapi ia melakukan apa yang ingin dilakukannya segenap hati. Persis seperti apa yang selalu Yu lakukan, dan ia ajarkan kepada manajer muda Amagi dulu.

Yukiko pamit lebih dulu kepada Kasai-san untuk pergi tidur; hari ini benar-benar melelahkan dengan segala macam ulah para-pengunjung-di-musim-panas. Bagaimanapun juga, musim panas memang lain. Ada aroma misterius yang menarik wisatawan dan turis asing untuk menginap di sini.

Perhatian Yukiko dialihkan ketika dia melintasi koridor pintu utama penyambut tamu. Yukiko berbelok, dan memeriksa kedua vas bunga di sana. Sudah menjadi kebiasaannya sehari-hari, untuk mengecek kesegaran bunga penyambut tamu ini.

Penampilannya semakin anggun dengan bertambahnya umur menjadi berkepala dua. Rambut hitam selembut sutra yang sudah menerima banyak pujian dari orang, kedua mata hitam pekatnya, dan juga tubuh tinggi dan berlekuk sempurna. Yukiko adalah sosok dambaan setiap pria.

Yukiko mengernyit. Jarinya mengeluarkan gumpalan kecil darah karena duri tajam pada satu bunga. Tidak seperti biasanya. Yukiko yang begitu terampil dalam seni merangkai bunga hampir tidak pernah mengalami kecorobohan sederhana seperti ini.

Ia memicingkan sebelah matanya dan mengemut jarinya. Kenapa jantungku berdebar-debar; ada apa ini; kenapa 'wajahnya' muncul tiba-tiba di dalam benakku?

Yukiko mengeluarkan selpon berwarna merahnya, dengan cepat memainkan kursor touch-screen dan mencari nama tersebut. Yukiko membuka menu 'Pesan Suara' dan meletakkan hape-nya pada telinga kanan. Awalnya dia ragu-ragu… Tapi,

'Hai. Sudah lama, ya… Anu, maaf, aku tidak menelponmu secara langsung; aku tahu kau sibuk,' Yukiko terdiam sebentar. Ya. Banyak sekali yang sudah ia lalui bersama Yu—bersama Chie, dan juga bersama sahabatnya yang lain. 'Bagaimana kabarmu? Aku di sini baik. Kau tahu, memaksakan diri demi orang lain juga boleh, tapi jangan sampai itu membuatmu jatuh sakit. Jaga kesehatan selalu, ya. Dari Yukiko, untuk Yu.'

Yukiko menekan pilihan 'Kirim,' dan meletakkan selponnya di depan dada. Hatinya begitu resah. Apa terjadi sesuatu pada Yu…? Mata hitam pekatnya menerawang satu vas yang lainnya, teringat saat acara menginap mereka sehabis bunkasai sekolah. Yu bilang ia bangga pada Yukiko; tidak banyak yang bisa membela 'keluarga'-nya habis-habisan seperti itu.

Yu adalah orang yang berarti bagi dirinya… Sampai sekarang.

-o0o-

Mereka bilang, orang mati tidak akan bisa menceritakan alasan mereka mati. Setengahnya memang benar. Tapi beberapa orang yang lolos dari kematian sepertinya berpikiran lain. Mereka juga kembali mengingat, apa yang sudah mereka lakukan hingga harus mendapatkan ini semua.

Yu Narukami, menarik napasnya dengan liar, tidak bisa manahan detak jantung membabi butanya.

Apa yang terjadi; sebelum ia bisa berpikir normal, pertanyaan yang keluar dari Yu adalah: apakah dia sudah mati sekarang?

Dia menyadari tubuh sebelah kanannya memberat. Yu memberanikan dirinya membuka kedua mata dan ia masih berada di tempat yang sama seperti tadi: duduk dengan pasrah, menunggu kematiannya di pojokan kumuh bangunan terlantar.

Yu merasakan indera penciumannya membaui aroma delphinium. Aroma yang sangat wangi. Selain wangi chrysant yang masih begitu membekas dari Yukiko—aroma paling nikmat yang pernah ia cium. Bau bunga yang lain ini datang dari sosok 'robot' berkepala pirang yang tengah hilang kesadaran di bahu si pria.

Yu menyentuh belakang kepala robot itu. Ia berusaha mencari tahu apakah makhluk ini sungguh-sungguh pingsan atau…

Bukan berarti Yu adalah seseorang yang suka menaruh rasa curiga kepada orang lain, tapi wanita ini—err, gadis ini berusaha membunuhnya barusan, bukan? Sudah sewajarnya Yu bersikap waspada.

Dia menarik tubuh rentan itu dan menghadapkannya ke langit malam yang cerah dan penuh akan bintang.

Bulan.

Kata pertama yang diucapkan si gadis robot. Yu melihat robot itu masih membuka kedua matanya, namun tidak terlihat adanya agresivitas yang ditunjukkannya. "… Bulan hijau,"

Yu menghadap ke langit. Bulan berwarna hijau yang aneh menyambut tatapan matanya.

Tubuh lemah si gadis terbaring tak berdaya di satu lengan Yu tanpa ada tenaga sama sekali. "… Harus… Menghabisi… Yu Narukami. Tenaga Aigis habis… Pengisian darurat tidak bisa dilakukan. Sistem restorasi dikorbankan demi amunisi tambahan. Sistem down. Sistem down."

Yu merasa tidak mengerti. Apa dia ini benar-benar robot, err, mecha? Atau perempuan? Android? Memangnya ini film kartun Dragon Ball Z?

Gadis tersebut kelihatan begitu pasrah menatap langit. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya, selain melihat langit malam.

"Katakan padaku, apa yang membuatmu ingin membunuhku?"

"Aigis tidak akan membocorkan misi. Sistem penutup mulut telah dieksekusi."

"Aku akan meninggalkanmu di sini," robot itu menatapnya. "Sepertinya kau sudah tidak bisa menggerakkan tubuhmu, ya. Bagaimana? Berkarat dan dikerumuni tikus, atau," Yu terdiam, ragu-ragu. "Atau kubawa ke apartemenku dan kita bicarakan ini lebih lanjut…"

Pemikiran gila macam apa yang kupikirkan, batin Yu. Orang berkepala sehat siapa pula yang ingin membawa calon pemenggal kepala ke tempat istirahatnya?

"Aigis tidak ingin digigiti tikus. Liur mereka mengandung kuman dan bakteri yang bisa membuat jaringan system berkarat. Tapi Aigis juga tidak bisa menerima tawaran musuh."

Bermasalah sekali, pikir Yu. "Baiklah. Kau sudah menetapkan pilihanmu, 'kan?" Yu berdiri. Kehilangan sedikit keseimbangannya, ia menyender di dinding. Yu kembali mengambil napas.

Pengalaman barusan benar-benar berbahaya. Dia melihat tubuh robot bernama Aigis ini. Dia… Yu hampir saja dibunuh oleh robot yang sangat mirip dengan perempuan ini? Tubuh itu—proporsi tubuh wanita di hadapannya ini. Yu belum pernah melihat adanya robot yang hampir menyerupai manusia. Kecuali Android 18 darI serial animasi Dragon Ball itu, tentunya…

Lihat, dia bahkan juga memiliki kulit—Yu sempat menyentuh wajah si robot tadi sebentar. Ini tidak masuk akal. Yu adalah orang yang sangat cerdas. Dia belum pernah menemukan informasi mengenai pembuatan android yang begitu menyerupai manusia seperti ini. Dia pasti dibuat dari project yang sangat rahasia hingga informasinya tidak pernah terdengar…

Tubuh lemah Aigis tidak bisa bergerak sepenuhnya. Kedua mata biru pekatnya kini menatap balik tatapan Yu. "Aku tidak tahu," mulai Yu. "Aku tidak tahu apa yang sudah kuperbuat sehingga membuatmu di-program untuk mengincar nyawaku… Sebagai android, kau pasti tidak akan mau membocorkan informasi. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa… Tidak mungkin aku membawa calon pembunuhku dan malah melindunginya, bukan?"

Yu membereskan buku-bukunya yang berantakan di atas tanah, memasukkannya kembali ke dalam tas. Yu melihat bekas tembakan meleset yang barusan unit Aigis ini lakukan. Tadi itu nyaris sekali…

Yu melihat salah satu bukunya yang tercecer dengan judul buku berfrase unik. Ya, Yu adalah seseorang yang sungguh tidak tegaan sebenarnya. "No hard feeling," ucapnya.

"Aku akan pergi sekarang." Yu mulai berjalan.

"Kau harus membawa Aigis, Yu Narukami." mantan banchou kita menolehkan wajahnya. "Kau tidak ingin polisi atau satuan khusus lainnya mencarimu, bukan? Sidik jarimu ada di beberapa bagian tubuh Aigis.

Benar sekali. Android ini sangat mencurigakan. Dan siapa juga yang tidak mendengar rentetan senapan mesin yang ia tembakan tadi. Sebentar lagi tempat ini akan digeledah polisi. Jangankan dikerubungi tikus, malahan dirinya sendiri yang akan berurusan dengan pihak berwajib.

Yu berlutut di sebelah Aigis. "Dengar, android… Jika aku membawamu dari sini, apa kau masih akan membunuhku?"

"Tentu saja."

Yu terdiam. Mengambil napas. "Dengar, bagaimana bisa aku membawamu jika kau juga akan berusaha membunuhku lagi." Yu menyentuh perutnya—bekas luka bakarnya tadi. "Kalau tidak karena tindakan darurat barusan, aku pasti sudah mati kehabisan darah."

"Isis, bukan?" tanya Aigis. Yu tertegun. "Aku bisa mendeteksi keberadaanmu karena aku merasakan aura Isis di sekitar sini."

"… Kau bukan android biasa rupanya," bisik Yu. "Bagaimana kau bisa mengetehuinya?"

Aigis memfokuskan pandangan dan pikirannya. "Pallas Athena,"

Sosok Dewi perang Yunani kuno terrealisasikan di atas Aigis. "Apapun yang terjadi, Aigis akan membunuh target."

"P-Persona?" Yu terkejut. Gadis ini tidak pernah berhenti membuatnya terkejut.

"Athena, Primal Force."

Energi terang yang memiliki kekuatan dan intensitas tinggi muncul di ujung tombak yang dipegang dewi kuno tersebut. "Selamat tinggal, Yu Narukami."

Aigis pikir semuanya sudah selesai. Namun dia salah besar.

Izanagi-no-Okami menggenggam wajah Athena dengan mudah, menghilangkan pusaran energi besifat destruktif yang dihasilkannya. Izanagi-no-Okami berdiri tanpa gentar sedikitpun, membuat Pallas Athena berlutut di tanah. "Pallas Athena?" Aigis melihat Persona-nya tidak bisa berbuat banyak.

XXI The World, Dia yang datang dari samudra ingatan dan nyawa, dialah sang Dewa 'yang' sebenarnya—The Original God, Izanagi-no-Okami. "Hentikan sekarang juga. Izanagi-no-Okami bisa menghabisi Persona-mu dengan mudah." Yu menatap kedua mata biru Aigis. "Jujur saja, mereka tidak berada pada tingkatan yang sama."

Yu melihat kedua bola mata Aigis yang bergetar. Robot ini… Apa dia bisa merasakan rasa takut juga? Apakah Izanagi-no-Okami membuatnya gentar? "Aku tahu percuma saja menanyaimu. Tapi, poinmu tadi benar. Aku tidak ingin terlibat kesulitan dengan pihak berwajib…"

Yu membawa tubuh robot itu di atas kedua tumpuan lengannya. Kedua sosok dewa dan dewi di belakang mereka memudar dan kembali menjadi arcana sebelum masuk ke dalam kepala Yu dan Aigis. "Kurasa, Izanagi-no-Okami cukup untuk mendiamkanmu… Maaf."

-o0o-

The Room of Testament, Velvet Room. The Dream World.

Ruangan ini sudah tidak asing. Tapi setelah tiga tahun tidak melihatnya, ini adalah pemandangan yang membuatnya sedikit rindu.

Berbicara soal rindu, bagaimana keadaan Inaba; bagaimana keadaan Nanako; bagaimana keadaan paman Ryotaro. Di sana juga ada Yukiko, Kanji, dan Teddie. Yu tahu kalau sahabatnya yang lain sudah tidak berada di Inaba lagi. Beberapa kuliah keluar daerah, dan beberapa lagi kembali ke rumah asal mereka. Rise sudah kembali ke Tokio; Naoto juga kini sedang di Osaka, sibuk dengan pekerjaan detektifnya. Yosuke menuntut ilmu di universitas pariwisata di luar daerah dan Chie sedang menjalani latihan terakhir sebelum akhirnya menjadi polisi wanita yang sudah diidam-idamkannya.

Berbicara soal rindu juga, Yu memang harus kembali ke Inaba sekali-sekali. Tapi dia sendiri menyadarinya, dia terlalu dibuat sibuk oleh rutinitas sehari-hari yang membunuhnya di kota besar seperti Tokio ini.

Kini Yu duduk di bangku berwarna Velvet Nostalgia. Bangku mewah berputar yang kini mengelilinginya memberikannya kenyamanan di bawah langit-langit yang juga berwarna biru. Lampu gantung berlian yang juga samar-samar menyinarkan cahaya putih kebiruannya. Di hadapan Yu, sebuah meja persegi panjang membentang hingga sampai dengkulnya.

"Selamat datang 'kembali', wahai pengunjung."

Perhatian Yu teralihkan oleh suara baritone yang terdengar seperti katak tercekik. Sebenarnya itu tidak mengganggu telingannya 'sih, tapi suara kakek itu benar-benar unik. "Saya juga menyambutmu, wahai pengunjung yang terhormat."

Kali ini giliran si wanita berpakaian serba biru yang merundukkan kepala. "Igor. Margaret," wanita itu memberi senyuman simpul yang transparan. Bertemu wanita itu lagi, Yu jadi teringat apa yang sudah ia lakukan tiga tahun yang lalu dengannya. Bukan kejadian besar juga, sebenarnya. Tapi, samar-samar Yu masih dapat mengingat dengan baik lembutnya bibir merah miliknya yang memiliki rasa strawberry matang itu.

Berusaha mengalihkan perhatiannya, Yu memusatkan pandangannya pada Igor. "Sudah lama sekali,"

"Pengunjung kami, kami merasa begitu terhormat karena sekali lagi akan menjadi pelayanmu dalam mencapai Kebenaran." ujar Igor, memainkan tangannya.

"… Lagi? Apa maksudnya ini?"

Margaret mengeluarkan buku sakti berwarna biru miliknya. Ia membuka buku yang memiliki symbol 'V' pada sampul tersebut. "Tamu kami yang terhormat, kami membaca pergerakan takdir dan sedikit terkejut dengan kuatnya benang takdir yang anda tarik dan anda genggam saat ini." Yu tertegun. Benang takdir?

Margaret mengangguk. "Anda tidak akan bisa melihatnya," ujar Margaret. Yu berani bersumpah ia melihat mata kuning terangnya memperlihatkan sedikit kilatan. "Tapi di mata kami, tubuh anda jelas sekali dililit banyaknya benang takdir—benang nyawa oleh ratusan penduduk dari satu tempat. Dari tempat dimana anda merangkai ingatan-ingatan yang takkan pernah lekang oleh waktu."

"Nyawa penduduk?" Yu tahu kearah mana pembicaraan ini. "Apakah ada sesuatu yang terjadi di Inaba?"

"Sekarang?" tanya Igor. Dia menggeleng dan terkekeh mencurigakan—seperti biasa. "Sekarang memang belum. Tapi tangan-tangan itu sedikit demi sedikit merangkak 'ke sana'. Mengasah jari jemari berkuku tajamnya, bersiap melaksanakan rencananya dengan cepat."

Yu menyenderkan tubuhnya. "Dengan cepat, ya…?" Margaret tersenyum lembut kepadanya.

"Seperti dugaan kami, anda menerima informasi kami dengan kepala dingin,"

Yu memangkukan kedua lengan pada pahanya. "Tidak—aku sangat cemas. Aku memiliki keluarga dan sahabat-sahabat yang sangat berharga di sana. Harga mereka setara dengan nyawaku." Yu memakukan tatapannya pada Igor. "Apapun itu, aku akan kembali mengambil tanggung jawab ini."

Igor dan Margaret mendegumkan tawa mereka. "Kami tahu, wahai pengunjung kami yang terhormat, kami tahu. Karenanya kami sudah menyiapkan segala macam hal demi keputusan bulatmu itu. Karena, kami tidaklah lebih dari pelayan kepercayaan anda. Yang bisa kami berikan padamu hanya pelayanan penuh kesetiaan kami. Margaret," wanita tersebut mengangguk.

Ia berdiri. Tubuh tinggi 170cm-annya melangkah mendekat ke arah Yu. Pemuda itu mendongakkan kepalanya. Margaret memainkan jarinya, mengajak Yu untuk berdiri juga. Kini si pemuda yang lebih tinggi satu kepala dari si wanita biru membalas tatapan kedua mata kuning itu.

"Ini adalah Kunci Hati," Margaret memperlihatkan satu buah kunci dengan lambang wajah hitam-putih arcana. Lambang ini biasa ditemukan Yu pada bagian belakang kartu, ketika dia sedang iseng melihat-lihat ke-21 kartu arcana yang dimilikinya. Bentuk kunci tersebut hampir sama seperti bentuk kunci Velvet Room yang dimilikinya. Hanya saja ujung kepalanya berbentuk hati… Uh, desain yang unik… "Ini akan berguna untukmu nantinya."

Yu menerimanya. "Kami juga memiliki satu pengunjung lainnya," lanjut Igor. "Mungkin kau sudah bertemu dengannya—ya, kau sudah bertemu dengannya, tamu kami yang terhormat,"

"Sudah bertemu…? Siapa?"

"Alangkah baiknya jika kau juga membuat ikatan dengannya." usai Igor. Yu mengangguk. Apapun itu yang dikatakan kakek berhidung mengerikan ini, pasti memiliki tujuan untuk memberikan support lebih kepada Yu. "'Nah, tutup matamu, dan kau akan terbangun dari mimpimu."

Yu menutup matanya, namun Margaret memberikannya pesan terakhir. "Hubungilah orang-orang berharga yang ikatannya telah anda jalin dengan susah payah. Mereka menanti anda, wahai pengunjung kami yang terhormat. Fufufu."

-o0o-

Tokio, 20 September 2015. 9:05

Kelengahan macam apa ini? Tertidur selagi android yang bertujuan memenggal kepaku masih ada di sekitar sini? Izanagi-no-Okami bisa saja melindunginya, tapi jika begini sama saja bohong… Oh, ya. Kupikir ini masuk akal mengingat kemarin aku tertembak dan kehilangan banyak darah. Salvation dari Isis memang menyelamatkan nyawaku. Tapi darahku yang terbuang percuma tidak bisa digantikan dengan semalam saja.

Kedua mata abu-abu gelap Yu terbuka secara perlahan. Kepalanya terasa pening sekali. Dia ingin kembali tidur dengan lelap untuk sehari ini saja.

Ketimbang langit-langit kamar yang menyambutnya, kedua mata biru gelaplah yang menyapanya. Kulit wajah yang begitu mulus; kulit yang jarang dimiliki perempuan pada biasanya. Kulit putih merona dan bibir mungil yang mengkilap seperti diolesi lip-gloss merah itu…

Yu ingin bertanya padanya: apa masalahmu sebenarnya?

Yaah, untungnya hari ini hari minggu.

Karena sejauh yang ia ingat, dia kembali tertidur hingga sore hari dengan robot berkulit semulus porselain menindihnya dari atas. Mendapatkan 'energi pembangkitnya' kembali secara misterius, wajah si gadis robot pirang kini berada pada sisi wajah Yu yang tengah terlelap. Satu tangan si robot menindih dada si pria tanpa tekanan, dan Yu juga tanpa ia sadari melingkari pinggang langsing android perempuan itu dengan lengannya. Menarik dan menghembuskan napas. Mereka berdua kembali terlelap.

Ketika Yu menonton film-film laga dulu, khususnya James Bond, dia berpikir tokoh bodoh macam apa yang mau tidur dengan seorang wanita yang berniat membunuhnya.

Yu menelan ludahnya sendiri, sepertinya… Ironis.

|To the Next|

A/N: Ah, chapter dua selesai dengan selamat. Silahkan nikmati Twist YuYukiko dan YuAigis di chapter yang akan datang. Terima kasih untuk Anon reviewer Sp, Kuroi Onee-san, dan juga Schutzstaffel-Persona karena sudah mereview fic ini.

Sp: Saya juga ingin menjelaskan. Semua cewek IT Cuma TTM-an sama Yu :P Maklum. Julukannya 'kan Innocent Player. Jadi inget pas Nanako ngatain Yu Jigoro. Lol, ngakak abis. Oh, ya. Teddie akan memegang peranan penting, dan saya akan menyertakan lelucon 'bear'-nya sebisa saya.

Kuroi Onee-san: Lol, saya pikir Kanji cocok jadi perawat. Tapi masalahnya ada pada wajah. Terima kasih udah suka. akan saya usahakan agar kualitasnya tidak menurun. Tokio itu memang Tokyo. Ada juga sih yang agak kagok dengan ini. Yang mana ejaan yg benar dan sesuai EYD (plak)? Yang jelas saya akan menggunakan 'Tokio' karena ini adalah fiksi. Sama halnya dengan Yasoinaba :) Dan, ya. Saya memang akan mengadaptasi Mayonaka Arena yang keren abies! Hanya saja settingnya 3 tahun di masa depan. Akihiko dan Mitsuru juga akan hadir *Spoiler*.

Schutzstaffel-Persona: wowie, namanya susah nih. Wayy, thank you so much. Suspense-nya emang sengaja sampe sana, tapi berakhir di ranjang… Wew.

Terima kasih banget buat semua review yang masuk. Itu semua jadi bensin saya untum neg-update fic ini dengan kilat.

Episode di Yasoinaba akan dimulai beberapa chapter lagi. Tapi bagaimana sebenarnya hubungan antara Yu dan Yukiko? Pertanda apakah yang didapatkan Yukiko? Bagaimana dengan Yu dan gadis android yang berusaha membunuhnya, Aigis—apa juga alasannya? Lalu kenapa Persona dapat merealisasikan diri mereka di dunia nyata? Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab…