"Ya, sangat mahal. Tapi aku sudah memiliki beberapa kenalan di rumah sakit yang akan meminjamkan alat dan memberiku beberapa obat untuk Luhan. Aku meminta waktu kepada kau dan Luhan untuk satu bulan ke depan. Aku akan membantunya untuk proses tersebut. Kau tak perlu memberiku sepeser uangpun. Aku akan melakukannya demi Luhan."
Ya demi Luhan.
.
.
.
.
KimTammy17
.
.
.
.
Cinta Sang Pembunuh
.
.
.
.
Cast:
Oh Sehun
Luhan
Kim Jongin
Other
.
.
.
.
Genre:
Hurt/Angst
Tragedy
Romance
.
.
.
.
Luhan tidak tahu kalau waktu untuk aborsinya akan dipersingkat. Ia merasa baru saja dua minggu ia bertemu dengan Sehun kini harus kembali ke daerah kumuh yang berjarak cukup jauh dari Seoul.
Jantungnya bertalu saat menanti pintu kayu itu terbuka. Terbesit rasa rindu dalam diri Luhan pada dokter tampan di balik pintu kayu reyot di depannya. Namun tidak seperti ekspektasinya, ia disambut dengan lelaki tinggi bertelinga lebar, berbadan semi berotot dengan senyum lebar. Dan entah apa yang terjadi, lelaki itu seperti cukup kaget melihat Luhan kemari. Atau lebih tepatnya terlihat cukup kaget saat menemukan bodyguard Jongin yang mengantar Luhan kemari.
Sama seperti kemarin, dua bodyguard dungu itu keluar meninggalkan Luhan dengan salah satu dokter, ah tidak lebih tepatnya lelaki ini seperti asisten dokter. Entahlah, feelling Luhan mengatakan demikian.
"Maaf, aku harus meyiapkan prosesnya. Anda bisa berganti baju di bilik itu dan berbaring di ranjang yang sudah disediakan." Lelaki ini menunjuk ranjang rumah sakit dengan seprai biru yang terlihat baru diganti dengan aroma lavender. Luhan mengangguk dan mengikuti apa perintah asisten dokter tersebut.
Luhan menyamankan dirinya setelah berganti baju seperi daster ibu-ibu namun hanya tali-tali yang membentuk baju yang dikenakannya. Asisten dokter itu kembali dengan berpakaian ala dokter yang akan melakukan operasi dan masker yang bertengger di wajahnya.
"Maafkan kelancanganku. Nama saya Park Chanyeol, asisten dokter Oh Sehun." Tepat seperti dugaan Luhan. Chanyeol melangkah ke sana kemari di antara rak-rak berisi banyak obat-obatan di sekeliling Luhan. Wanita itu menunggunya tegang. Ia akan merasakan sakitnya aborsi setelah ini. Pelipisnya berkeringat.
"Kau tak perlu takut, aku akan membiusmu dan setelahnya... kau akan membaik." Ucap dokter itu singkat tak bernada seolah ia terbiasa menenangkan banyak pasien hingga kalimat itu sudah hambar di bibirnya.
Luhan mencoba mengatur nafasnya saat Chanyeol menyuntikkan sesuatu yang tercium aneh. Tak biasanya bau obat akan seperti ini. Luhan tak paham apa itu yang terpenting saat ini adalah matanya terasa berat dan badannya semakin lemas. Ia jatuh tertidur.
.
.
.
.
Sehun mengetukkan sepatu kulitnya menunggu seorang suster untuk mempersilahkan ia masuk ke suatu ruangan yang ia incar beberapa hari ini.
"Dokter Oh!" suara lembut sang suster membuat Sehun menghentikan ketukan kakinya, "Dokter Wu mempersilahkan anda masuk." Lanjutnya dengan senyum tipis yang terlihat di wajah sang suster.
Oh Sehun bukanlah orang asing di rumah sakit ini, ia pernah bekerja beberapa bulan di sini dan pernah memecahkan rekor untuk operasi kanker rahim yang 100% berhasil dan selamat. Nama dan fotonya terpampang jelas dijajaran dokter paling berpengaruh di rumah sakit. Walau hanya beberapa bulan setidaknya ia masih akan diingat selamanya.
Selain dengan rekor yang ia raih, wajah tampan tanpa senyum itu juga menjadi faktor penunjang untuk ia menjadi terkenal. Sebagai cassanova di rumah sakit, tentu saja menjadi daya tarik sendiri. Namun ia tak kembali bekerja saat membuka klinik aborsi kala itu.
Masih dengan wajah datarnya, ia sedikit memberikan terima kasih dengan kalimat tanpa nada pada suster yang terlihat dari name tag bernama Huang Zi Tao. Ia pintu putih itu terbuka otomatis menampilkan lelaki dengan potongan rambut cepak ala tentara sedang menunduk menatap lembaran kertas dengan raut wajah serius.
"Tok! Tok!" ucap Sehun ingin mengalihkan perhatian Dokter Wu ke arahnya.
Alis tebal dokter itu terangkat naik, "Ah Sehun! Kemari! Have a sit." Ujarnya mempersilahkan Sehun duduk di kursi tepat di seberang meja besarnya.
Dokter Wu atau bernama lengkap Wu Yifan ini sama sekali tak berubah. Ia baru saja pulang dari pesisir Korea yang mana Korea Utara dan Korea Selatan sedang genjatan senjata. Ia menjadi dokter relawan untuk menangani tentara yang di sana. Sudah dua tahun lebih ia tak mendengar kabar dari teman akrabnya di rumah sakit ini.
Dokter ini juga menjadi jajaran dokter yang bisa dibilang dokter paling populer pertama dari dokter-dokter lainnya. Sisi maskulin yang terkuar, potongan rambut yang selalu seperti tentara dan tatapan mata elang beralis tebal. Ia sudah berisisan dengan kata sempurna.
Selai tampan dan pintar, ia memiliki hati yang bersih. Menjadi relawan bukan hal yang mudah, ia melakukannya bersih tanpa dorongan apapun. Belum lagi Yifan adalah pewaris untuk rumah sakit tempat kini ia berpijak. Luar biasa.
"Hal penting? Atau merindukanku?"
Sehun mencibir pertanyaan Yifan, memberikan ia peluang untuk menaikkan harga dirinya setelah hampir dua tahun lebih tak bertemu.
"Aku kira kau akan pulang dengan kantong mayat." Sahut Sehun sakartis.
"Tapi sayangnya tidak, Dokter Oh." Yifan merentangkan tangannya. Menunjukkan ia masih sehat tanpa lecet satu sentipun, "Jadi... ada apa?" lanjutnya saat tangannya bersedekap menatap Sehun. Merubah raut wajahnya menjadi sosok serius.
"Aku membutuhkanmu, bantuan alat-alatmu lebih tepatnya." Jelas Sehun. Jantungnya terus bertalu untuk mengungkapkan ini. Jika jujur, ia tak akan mendapatkan satu kabelpun dari Yifan. Tetapi ia tak ingin bermain kotor dengan mencuri benda-benda yang akan ia pinjam. Walau tangannya kotor akan darah dan nyawa tak berdosa, ia tak akan membuatnya makin kotor dengan mencuri hal-hal terutama dari temannya ini.
"Alat? Kau ingin membuka praktik aborsi lagi? Hukum itu sudah menjadi ille-"
"Aku membutuhkannya untuk menemukan proses melahirkan dengan lebih canggih dan aman." Potong Sehun. Ia benar-benar bohong kali ini.
"Aku memiliki dokter dengan skill lebih untuk hal seperti itu." sahut Yifan makin serius, "Jangan pernah berbohong untukku, Oh Sehun."
Lelaki pucat itu terdiam. Apa kebohongannya terlalu kentara hingga Yifan bisa melihatnya?
"Siapa?" tanya Yifan kembali setelah hembusan nafas panjangnya.
Sehun masih terdiam. Bibirnya kelu untuk mengatakan sesuatu, hingga...
"Ini untuk istriku. Janinnya ... lemah, aku harus menyelamatkan salah satunya." Sahut Sehun cepat tanpa berfikir. Kalimat itu teruntai dengan sendirinya dan mengalir begitu saja.
"Istrimu?" nada Yifan meningkat.
Astaga! Temannya ini sudah memiliki istri? Kemana saja ia? Apa selama ia di perbatasan sana Sehun sudah melaksanakan pernikahan? Ia harus meminta maaf atas ketidakhadirannya.
"Kapan kau melaksanakan pernikahan, Sehun? Astaga! Maafkan aku yang terlalu nyaman di medan perang." Lanjut Yifan yang kini mengusap wajahnya kasar dan meraih tangan lemas Sehun memberikan selamat bertubi-tubi. Wajah senangnya terlihat jelas, akhirnya lelaki pendiam ini mendapatkan istri. Sehun hanya memandang Yifan dengan wajah datarnya bagai tak ada hujan maupun badai.
"Bawa saja kemari, aku akan memfasilitasi semuanya. Aku akan memberikan perawatan terbak disini!" bawa kemari istrimu, Sehun." Sahut Yifan antusias.
Sehun hendak berucap namun perkataannya terputus saat ponselnya berdering nyaring. Tangannya meraih ponselnyadi kantong jas putih kedokteran miliknya. Nama Park Chanyeol terpampang di sana. Sudah dikatakan jangan menghubunginya jika tak perlu. Mungkin saja si bocah tengik itu ingin dibelikan ayam dan soju kembali.
Dengan malas ia mengangkat telepon itu, meninggalkan Yifan masih dengan wajah sumringahnya. Sehun ingin mendamprat anak buatnya yang terlampau kolot itu.
"Bodyguard Jongin membawa salah satu wanita kemari, dan kami melakukan aborsi dengan proses seperti biasa."
Suara berat Chanyeol di seberang sana membuat tubuh Sehun tiba-tiba terasa kaku.
Boduguard Jongin?
Wanita?
Luhan!
"LAKUKAN CPR! CEPAT!" teriak Sehun pada benda kotak di telinganya. Menghiraukan Yifan sedari tadi menunggu Sehun menuntaskan percakapnnya kini menjadi kaget dengan bentakan Sehun.
"Aku membutuhkan ambulance!" teriak Sehun yang langsung berlari dari ruangan itu meninggalkan Yifan kembali dengan wajah bingung.
Apa istrinya itu dalam masa kritis?
Yifan tersadar beberapa detik kemudian. Ya, istrinya yang sempat disinggung Sehun sedang masa kritis saat ini. Ia masih belum paham apa yang terjadi namun jika dilihat dari emosi Sehun barusan. Yifan merasa yakin sedang terjadi sesuatu dengan istrinya. Terlebih tak ada satu orangpun yang bisa membuat Sehun sepanik ini jika bukan istri Sehun sendiri. Yifan pernah sempat bekerja sama dengan Sehun dalam melakukan beberapa operasi. Sesulit dan sesukar apapun itu, Sehun tidak pernah menampilkan emosinya, hanya wajah datar dengan tatapan elang di wajahnya. Namun kali ini, ia benar-benar berubah. Ah tidak, istrinyalah yang membuat Sehun berubah.
Yifan tersenyum kecil saat mengarahkan sebuah instruksi untuk memberikan bantuan dan mengikuti arahan Dokter Oh untuk pasien yang akan ditujunya.
.
.
.
.
Chanyeol mendorong ranjang itu ke arah salah satu ruangan yang selalu tertutup dan akan terbuka jika saat seperti ini. Saat ada pasien datang ke klinik kumuh mereka. Di sana ada Jongdae yang siap dengan sarung tangan karet dengan penjepit di jemarinya.
Ruangan penuh dengan lalat dan bau busuk itu menyapa Luhan dan Chanyeol yang baru saja masuk ke ruangan untuk proses aborsi. Bangkai bagian tubuh di sudut-sudut ruangan seolah tak mengusik pada dokter itu untuk proses aborsi Luhan.
"Ayam baru?" tanya Jongdae sedikit terbesit nada senang.
Wajah Chanyeol yang tertutup masker hanya mengangguk, tak memperlihatkan wajah senyum sumringah di balik maskernya.
Mereka memiliki beberapa nama untuk hal-hal tersebut. Mereka terlampau bosan dengan pekerjaan monoton seperti ini, hingga terkadang bermain-main kecil tidak ada salahnya.
Jika ada pasien datang, mereka akan menyebutnya dengan 'Ayam'.
"Semoga Sehun suka dengan yang ini. Belum 20 minggu kan?" lanjut Jongdae memainkan penjepit di jemarinya. Menggerakkan penjepit itu seperti hendak menyongkel bagian tubuh bayi seperti biasanya.
Chanyeol hanya tertawa menanggapi kesenangan Jongdae. Setelah proses aborsi, biasanya mereka akan makan ayam dan bersenang-senang dengan berbotol-botol soju.
"Wanita ini diantar langsung oleh bodyguard Jongin. Pasti bayarannya mahal, jadi hati-hati." Jelas Chanyeol yang kini mulai membuka paha putih Luhan. Mereka berdua tercengang.
Jongdae tertawa keras, "Ini vagina atau pipa saluran air, eh?" tanyanya di sela tawanya
"Ia pasti sudah dibobol habis-habisan oleh Jongin." Lanjut Chanyeol datar yang kini mulai memasukkan tangannya ke vagina Luhan. Meraba janin yang masih terlampau lembek saat tangan besarnya merasakan gumpalan di rahim luhan.
Sebuah isyarat berupa anggukan dari Chanyeol memberikan akses untuk Jongdae kini mengambil alih Luhan. Meninggalkan Jongdae yang mulai dengan bagiannya. Jongdae mulai memasukkan penjepit yang masih dipegang di salah satu tangannya ke dalam vagina Luhan. Merasakan penjepit itu menyenggol gumpalan yang ditujunya, Jongdae langsung menjepit dan menariknya. Menghiraukan darah yang terus mengalir dari rahim Luhan hingga mengotori ranjang biru itu.
Chanyeol kembali dengan sebuah nampan besar terbuat dari alumunium. Jongdae mengeluarkan penjepitnya dari vagina Luhan dan menampilkan sebuah potongan kaki kiri jabang bayi yang setengah terbentuk tak butuh waktu lama, jejeran lalat sudah mengerubungi potongan kaki itu.
"Kaki ayam!" seru Jongdae senang kemudian menaruh potongan kaki ke nampan besar yang diberikan Chanyeol.
Jongdae memasukkan kembali penjepitnya, menarik semua potongan tubuh jabang bayi satu persatu. Tangan Chanyeol cekatan membersihkan darah yang terus mengalir dengan senandung kecil dari bibirnya. Pikirannya sudah terlampau jauh untuk makan-makan nanti malam. Sehun akan mentraktirnya hingga kenyang. Jongdae yang masih menarik-narik tubuh jabang bayi dari rahim Luhan tak kalah sama dengan Chanyeol. Hanya Jongdae lebih bahagia kali ini. Setiap potongan yang ia ambil akan menyebutkan semua bagian itu. 'Dada ayam' saat penjepitnya menarik tubuh bayi yang masih sebesar genggaman tangan. 'Sayam ayam' untuk tangan kecil dengan genggaman kuat. Jongdae sangat kelaparan.
Satu jam sudah berlalu. Jongdae mulai memotong saluran tali pusar sisa dari janin Luhan. Seperti biasa, potongan dan jahitan asal-asalan dengan jarum karatan. Chanyeol yang mendapatkan bagian membersihkan potongan tubuh janin Luhan, membuangnya ke saluran air yang masih saja buntu akan potongan tubuh bayi sebelumnya. Setelah semuanya bersih, Chanyeol dibantu dengan Jongdae memindahkan tubuh Luhan yang masih belum sadarkan diri ke ranjang baru dengan aroma lavender. Membawanya kembali ke salah satu bilik bersih di ruangan sebelumnya dan meninggalkan Luhan hingga wanita itu sadar.
Chanyeol kembali kebiasannya bermain gadget meinggalkan Jongdae yang mulai membersihkan sarung tangan karetnya dari darah dan penjepit yang dipakainya tadi. Jongdae mulai bernyanyi untuk selebrasi atas proses aborsi mereka barusan. Bernyanyi dengan suara cukup indah dan sesekali mengganggu Chanyeol yang tengah tenggelam dengan permainannya.
Tiga jam berlalu, wanita itu belum sadar juga. Biasanya obat itu akan habis satu hingga satu setengah jam, namun ini sudah kelewat lama.
Jongdae yang pertama kali sadar dari hal tersebut segera menghampiri Luhan. Ia menekan pergelangan tangan Luhan untuk mengecek denyutan Luhan. Tak ada denyutan di sana. Dengan sikap yang masih saja tenang Jongdae mencoba menampar Luhan untuk menyadarkan Luhan namun tak ada tanda-tanda Luhan terkejut atau denyutan itu terasa di pergelangan tangannya.
"Ish, wanita ini. Chanyeol!" teriaknya, namun tak ada sahutan dari sosok yang panggilnya. Dengan langkah kesal ia menghampiri Chanyeol yang masih serius dengan gadgetnya. Menepuk kepalanya keras hingga lelaki tinggi itu mengaduh.
"Lakukan CPR, wanita itu belum sadar juga."
"Biarkan saja, mungkin tadi aku membiusnya terlalu banyak." Sahut Chanyeol ringan. Jongdae memijat kepalanya. Sebelum mereka melakukan aborsi tadi, Chanyeol mewanti-wanti dirinya untuk berhati-hati, tapi sekarang ia seperti masa bodoh.
Jongdae menghembuskan nafasnya, Chanyeol memang seperti ini orangnya jika sudah bercumbu dengan gadget. "Wanita ini milik Jongin kau ingat? Hati-hati! Kini jantung wanita sialan itu tak berdenyut! " Jongdae menekan kata terakhirnya sembari mendekatkan wajahnya ke Chanyeol. Berusaha membuat Chanyeol sadar dari gadgetnya.
Belum juga sedetik setelah Jongdae berbicara, Chanyeol langsung melompat dari rasa nyamannya, membuang gadgetnya dan berlari ke ruangan berlalat itu. Jongdae kembali ke Luhan untuk memastikan apa Luhan kembali berdenyut atau tidak. Nihil, tangannya masih belum menemukan denyutan di pergelangan tangan Luhan maupun di lehernya. Dengan rasa malas, Jongdae melakukan pertolongan pertama dengan menekan dada Luhan sedalam 10 cm untuk mengejutkan jantungnya.
Chanyeol datang dan langsung menyiapkan Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR), mendorong Jongdae yang menghalangi jalannya untuk melakukan CPR. Chanyeol menekan dada Luhan untuk merespon denyut jantung namun tak ada respon juga. Sebenarnya, Luhan akan baik-baik saja jika dibantu oleh defibrillator. Namun, defibrillator milik Sehun rusak dan tak layak pakai tetapi masih bisa membuat jantung Luhan bertahan.
Chanyeol dan Jongdae biasanya akan masa bodoh jika wanita ini akan meninggal atau tidak, tapi ini beda. Wanita ini diantar langsung oleh bodyguard milik Jongin. Mereka tak mengenal siapa wanita ini tepatnya dan Jongin belum pernah mengantarkan salah satu wanita ke klinik mereka..Dan yang lebih fatalnya, mereka tidak mengetahui bahwa proses aborsi ini akan dilakukan tepat setelah Sehun kembali dari rumah sakit.
Dengan segera Chanyeol menelpon Sehun yang masih berada di salah satu rumah sakit di Seoul, mengatakan seorang bodyguard mengirimkan wanita dan mereka melakukan bagaimana proses aborsi yang biasa mereka lakukan dan Luhan sama sekali tak merespon atas CPR yang telah mereka lakukan.
"LAKUKAN CPR! CEPAT!" belum juga Chanyeol menjelaskan secara detail tentang apa yang terjadi, Sehun yang di seberang sana langsung mendampratnya. Membuat lelaki jangkung itu menjauhkan benda kotak hitam dari telinganya.
"Chanyeol dengarkan..." suara di Sehun kini mengecil, membuat Chanyeol menempelkan benda kotak hitamnya sedekat mungkin. "Pasang infus, selang oksigen, dan yang lainnya. Lakukan seperti prosedur oke? Aku akan kesana dengan ambulance." Instruksi Sehun sepelan mungkin.
Tanpa sahutan Chanyeol langsung memutuskan sambungan dan melakukan apa yang sudah diintsruksikan Sehun. Ya mereka melakukan suatu tindakan illegal. Kini Sehun akan datang dengan ambulance. Mereka dokter, tidak mungkin menunjukkan bagaimana aksi mereka sehari-hari dihadapan pasien 'ayam' mereka. Akan menimbulkan kecurigaan oleh suster, perawat, maupun dokter yang lain.
Ambulance datang cukup lama. Chanyeol dan Jongdae segera mendorong ranjang itu ke luar. Membuat semua perawat dan dokter –termasuk Sehun- sesibuk mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan akan kondisi lingkungan klinik aborsi mereka. Kotor, bobrok, dan busuk.
Sehun yang melihat Luhan lemas, jantungnya berdenyut pelan. Rasa asing yang hinggap dalam dirinya.
"Luhan.." gumamnya pelan saat tubuh Luhan diangkat untuk masuk ke mobil ambulance. Sehun sigap segera menangangi Luhan.
Sial, otak Luhan sudah mati tepat sebelum ia dinaikkan ke mobil ini.
Sehun dibantu dengan dokter lainnya langsung memberikan pertolongan pertama. Memberikan kejutan tepat di dada Luhan. Jantungnya merespon walau sangat lemah. Dengan bantuan defibrillator setidaknya membuat jantung Luhan masih berdetak hingga ke rumah sakit nanti.
.
.
.
.
Sehun mendobrak pintu itu dengan urat emosi terlihat jelas di lehernya. Semarahnya seorang Sehun ia tak pernah menunjukkannya. Tapi kali ini lihat saja, uratnya tak malu lagi untuk bersembunyi.
Ia memiliki akses untuk keluar masuk di gedung ini, maka saat mendobrak pintu itu tak peduli dengan adanya kolega bisnis dari Jongin, Sehun langsung berjalan terburu dengan pakaian khas dokternya menarik kerah baju mahal Jongin dan mendekatkan wajahnya. Nafas emosinya yang terburu menabrak wajah Jongin yang terlihat datar.
Sehun tak peduli dengan jejeran orang berjas yang tengah memandang mereka berdua.
"Kau melakukannya tanpa izinku, Kim Jongin!"
Tangan Jongin memberikan isyarat pada pria-pria berjas itu untuk segera keluar dari ruangannya. Memberikan waktu privasi pada Jongin dan Sehun.
Setelah pintu itu dipastikan sudah tertutup, dengan satu pukulan mulus yang dilayangkan oleh Jongin, Sehun tersungkur dengan ujung bibir berdarah. Dokter itu berdecih pelan. Membiarkan Sehun bangkit dari adegan tersungkurnya, Jongin terduduk di kursi kerjanya. Menunjukkan bahwa ia masih bos disini. Jangan pernah bermain dengannya.
"LUHAN HAMPIR MATI!" teriak Sehun tak terima. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Aku hanya sedang mengujimu." Perkataan Jongin barusan seakan menampar Sehun telak di relung hatinya. Menguji apanya? Adanya membunuh. Membunuh satu-satunya orang yang pernah menggetarkan hatinya.
"Aku hanya menguji wanita itu, ya bisa kuakui ia memiliki paras yang cukup cantik. Tetapi Kyungsoo jauh lebih cantik daripadanya." Jongin mengecilkan suaranya dalam kalimat terakhir. "Tapi bisa saja ia menggodamu dan memohon pada sahabatku satu-satunya untuk melepaskan dirinya dariku. Aku tidak ingin Sehunku menjadi budaknya. Itu saja." tanpa dosa Jongin menjabarkan apa yang ada di pikirannya selama ini.
Benar-benar brengsek makhluk satu ini.
"Sialan.." desis Sehun dengan wajah datarnya. Emosinya sedikit mereka, setidaknya ia masih mempedulikannya walau dengan cara yang salah. "Ia sama sekali tak melakukan apapun, Jongin! Aku yang menggodanya! Ia berbeda, aku tertarik dengannya hanya dengan melihatnya diam dan menandantangi semua perjanjian yang telah kubuat!" suara Sehun menggema di ruangan luas milik Jongin.
Dengan hembusan pelan seolah setiap partikel uap yang dihembuskan Jongin tengah mengejeknya. Betapa kolotnya Oh Sehun jika sedang emosi.
"Tenang, aku jamin ia akan selamat. Luhan sudah di tangan yang tepat. Ia berada dalam genggamanku dan dengan dana dariku, kau bisa memiliki Luhan seutuhnya. Rawatlah dia hingga benar-benar pulih. Sampaikan maafku padanya." Sahut Jongin cepat yang disusul dengan perginya lelaki itu dari ruang kerjanya. Meninggalkan Sehun yang masih mengatur nafas sarat akan emosi.
Jongin selalu memberikan sifat perhatian dan kasih sayangnya dengan cara tersirat. Ia tak ingin menampilkan dua tindakan itu secara terang-terangan. Dan kali ini Sehun dibuat kalut dan kalap secara bersamaan.
Cukup lama ia tenggelam dengan pemikirannya saat suara dering ponselnya menyadarkannya, suara Chanyeol di seberang sana, Luhan semakin kritis. Tanpa sadar kaki jenjangnya berlari menuju rumah sakit dan mencaci maki semua pemikirannya tentang Jongin.
.
.
.
.
Luhan langsung dibawa ke ruang operasi. Sehun berada di ruangan yang disediakan untuk melihat bagaimana proses operasi khusus untuk orang-orang yang memiliki akses. Ia menyaksikan dari balik kaca besar yang memperhatikan Luhan sedang ditangani dengan handal oleh dokter-dokter rumah sakit ini.
Sehun bukan dokter disini dan tak memiliki izin maupun akses masuk ke ruangan operasi Luhan. Ia tak bisa ikut andil dalam operasi Luhan.
Nafas berat Yifan di sampingnya tidak membuat Sehun lepas dari pikirannya sendiri.
"Jangan pikirkan hal yang lain-lain. Istrimu akan selamat disini, kau dan istrimu akan baik-baik saja." ujar Yifan menenangkan. Yifan tau bagaimana Sehun, ia jarang berekspresi bahkan bagi Yifan tidak pernah sama sekali mengeluarkan ekspresinya walau saat terdesak sekalipun. Tindak tanduk Sehun seperti penuh dengan perhitungan tepat tanpa salah sedikitpun. Sosok tenang dan hampir benar dengan apa yang dilakukannya.
Hampir, ya hampir. Sehun pernah melakukan sesuatu tindakan memalukan ketika mabuk. Tidak, Yifan tidak ingin mengingat bagian itu saat ini.
Sehun di hadapannya ini lumayan cukup berbeda. Ekspresinya cukup menggambarkan ia sedang kalut dan gelisah. Sepatunya tak berhenti bergerak menjadi ketukan berirama, Yifan tentu saja tidak tahu apa yang ada di dalam kepala jenius seorang Sehun di sana tetapi Yifan seolah tahu jika di kepala itu hanya ada satu orang yang dituju. Wanita yang telah dioperasi di hadapan mereka sekarang.
"Bersabarlah, istrimu akan selamat. Itu janji dan pembuktian dariku." Ucap Yifan sebelum pergi meninggalkan Sehun sendiri. Membiarkan Sehun memiliki waktunya untuk terus berdoa atas Luhan yang masih belum menemukan titik terang apakah akan selamat seperti yang dikatakan Yifan atau mungkin tidak?
.
.
.
.
2 jam berlalu, kerumunan dokter yang mengelilingi Luhan sedari tadi kini mulai berpencar untuk membersihkan diri mereka sendiri dan beberapa membersihkan peralatan yang dipakai untuk operasi tersebut.
Sehun masih di sana, terduduk memandang tubuh Luhan yang kini sudah terlihat tanpa dikerubungi dokter-dokter yang membedah tubuh Luhan.
"Dokter Oh." Suara wanita dari pintu masuk menyadarkan lamunan Sehun. Mengalihkan pandangannya dari Luhan dan menjumpai sosok dokter perempuan dengan baju operasi yang belum sempat ia ganti.
Dokter itu melangkah masuk untuk mendekat ke arah Sehun. Mengulurkan tangannya dan tersenyum kecil. "Namaku Byun Baekhyun, ketua tim operasi atas nama Luhan."
Sehun membalas jabatan tangan dokter itu seperti biasa, tak ada ekspresi.
"Kau yang melakukan proses abrosi itu?" tanya Baekhyun dengan suara halusnya.
Sehun membuka mulutnya,
"Aah, Dokter Oh! Kau tak tahu? Jahitan yang kau buat sungguh berantakan astaga, itu tidak akan berjalan baik, Dokter Oh. Dan demerol itu, ya tuhan. Kau bodoh atau kolot eh?"
Lelaki itu menuntup mulutnya kembali dan memandang dokter mungil di depannya dengan mata sipitnya. Ya, Sehun hanya memiliki demerol di kliniknya. Obat itu sangat mudah didapatkan dan juga harganya yang terlampau murah. Demerol sendiri sudah tidak boleh dipasarkan berhubung sangat tidak baik jika digunakan tanpa dosis yang sesuai dan sangat rentan terhadap kematian. Itulah alasan mengapa demerol sudah dicabut dalam kedokteran.
"Aku tidak akan membocorkannya kepada dokter lain tentang apa yang kau lakukan dengan istrimu, tetapi sungguh tak bisa kupercaya, rahim istrimu tidak ada masalah apa-apa, Dokter Oh. Kau tak perlu melakukan ini."
Lanjut wanita di depannya tanpa memberikan jeda ataupun kesempatan untuk Sehun berbicara.
Tangan kecil Baekhyun menepuk pundak Sehun, memberikan sugesti bahwa semua akan baik-baik saja. "Tenang, aku memang cerewet, tetapi semua tentang istrimu ini.." Baekhyun menggerakkan tubuhnya dan memberikan isyarat seolah-olah sedang mengunci bibirnya dengan kunci imajiner miliknya.
Dengan bungkukkan dalam, Baekhyun mengakhiri perbincangannya. Meninggalkan Sehun yang bahkan belum memberikan satu kata apapun.
Sehun berdecih kecil, dokter tengik itu.
.
.
.
.
Pintu itu terbuka secara otomatis, menampilkan ranjang nyaman yang terdapat Luhan di atasnya. Bunyi pendeteksi detak jantung menyapa Sehun saat langkahnya semakin dekat ke arah ranjang Luhan. Ia menarik kursi dan menduduki dirinya tepat di samping Luhan. Memperhatikan bagaimana kabel-kabel itu melilit tubuh kecil Luhan bagai mumi.
Digenggamnya jemari tangan Luhan dengan erat, seakan seperti itu ia sudah menyalurkan semangat untuk Luhan. "Bangunlah... kau pasti bisa." Sehun mengatakan kalimat itu dengan susah payah. Seperti ada ribuan duri berada di tenggorakannya.
Dengan dorongan posesif ia mendekatkan bibirnya, mencium kening Luhan lama, menghirup wangi yang hampir dua minggu ini menghantuinya.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
.
TBC?
Note: bwahahahahaha aku nyelesaiin part selanjutnya yippiii *do a celebrate* oh ya, terima kasih yang sudah ngasih review kemarin, yang sudah ngefollow maupun ngefav ini cerita bwaahahaha. Di part 1, aku minta masukan ide cerita, tapi gak ada satupun yang ngasih astagaaaaa *elus dada* di part 2 ini semoga kalian bisa ngasih masukan cerita atau nebak-nebak cerita ini seperti apa oke ( 'O' )d buat yang cuma review 'lanjut', 'next', dan seperjawatannya. Aku masih menghargai itu, tapi rasanya kalau baca review kaya gitu berasa diperintah, aduh cinderealla gak bisa diginiin hikkss..
Oke, big respect for my dear Nami | khalidasalsa | Guest | Calista30 | love sehun |xseluna |pawex | eva| hunnaxxxDinoChickiHH | ireuuu | Guest(2) | sehunhan | ElisYe Hetrikha-channiasw3tyWindaYuswLisasa LuhanArifahohseSeravin509rebaem042park28sooyahluhanzonezoldykSelenia OhNoonaLuand other for leaving a review
Review, please?
A Good Reader Will Be Leave Their Sign.
