Konichiwa, Cyaaz's fans!

#plak

Hri ini ultah Kira & Cagalli tercinta, Cyaaz sengaja update 3 Fic Sekaligus!

Berat sih, sayang dikeluarin bnyk2...

Tp demi saudari Cyaaz tercinta, Poppy yang suka merayu...

Oke lah, hari ini Cyaaz IKHLAS!

:'(

Enjoy, smoga suka dengan Update-tan Cyaaz hari ini...


Warning: Canon Semi AU.

Disclaimer: GS/D aren't mine.


Secret Letter

Chapter 01


Meyrin Hawke - seorang gadis berambut merah yang diikat dua - tiba di tempat kerjanya lebih awal, ia membawa sebuah tas kerja berisi dokumen dan perlengkapan pribadi yang disampirkan pada pundaknya. Gadis itu melangkah dengan senyum manis di wajahnya, mata sapphire-nya bercahaya.

Tak ada orang lain yang menikmati aktivitas dan pekerjaannya seperti Meyrin, gadis itu benar-benar mencintai posisinya sebagai seorang sekretaris komandan di salah satu kantor ZAFT. Pekerjaan yang ia tekuni sangat cocok untuknya - sesuai dengan keahlian yang ia miliki. Selain itu ia juga memiliki banyak teman dan rekan kerja yang baik, semakin mempermudah dan membuat pekerjaannya terasa menyenangkan. Dan yang terpenting...

"Selamat pagi, Meyrin."

Langkah Meyrin terhenti, seseorang telah menyapanya dari koridor lain. "Ah, Jessy!" ia tersenyum lebar pada seorang gadis berambut panjang dengan warna hijau tua yang sedang melangkah ke arahnya. "Selamat pagi!"

Jessy membalas senyum dari Meyrin. "Datang pagi seperti biasa?" ia berjalan bersama dengan Meyrin ke arah yang sama. "Rajin sekali..."

"Ah, bukan begitu," Meyrin terlihat sedikit malu ketika mendapat pujian dari salah satu rekan kerjanya. "Dengan datang lebih pagi... Aku bisa menyiapkan kopi hangat untuk Athrun-san sebelum beliau datang."

"Hoo, begitu?" Jessy tersenyum usil. "Manis sekali, kau memperhatikan komandan Zala dengan baik ya?" Meyrin tersentak dan wajahnya merona. "Pantas saja beliau tidak pernah komplain tentang sekretarisnya," Jessy menatap Meyrin yang masih merona dari ujung matanya. "Atau mungkin... Ada sesuatu yang lain di antara kalian?"

"Bu-bukan begitu, Jessy!" Meyrin berusaha mengelak. "Ka-kami hanya rekan kerja, aku melakukan tugasku sebagai sekretaris Athrun-san dengan sebaik mungkin, itu saja!"

Jessy tertawa geli mendapati reaksi Meyrin yang kalang kabut, wajah gadis bermata sapphire itu pun sudah merona hebat. "Iya, iya, aku mengerti..." akhirnya Jessy memutuskan untuk berhenti menggoda junior-nya itu. "Tapi sungguh, kurasa tidak ada salahnya jika kau memang punya hubungan khusus dengan komandan Zala."

"Um, itu..." Meyrin mengalihkan pandangannya ke lantai, wajahnya masih memerah.

"Komandan Zala adalah salah seorang legenda yang berhasil membawa perdamaian pada dunia, beliau juga dikenal sebagai The Red Knight yang mengagumkan di ZAFT," Jessy kembali angkat suara. "Secara pribadi beliau dikenal ramah, sopan, baik hati dan juga cerdas."

"I-iya, kau benar..." Meyrin bergumam untuk merespon Jessy. "Athrun-san memang mengagumkan."

"Karena itu lah, Meyrin," Jessy menepuk pundak Meyrin, membuat gadis itu tersentak dan menatapnya. "Jangan ragu untuk mengejar komandan Zala, beliau pasti akan luluh dengan perhatian dan segala usaha yang kau lakukan untuknya."

"Jessy..." Meyrin tak tahu apa yang harus ia katakan.

"Ya sudah, aku duluan ya," ucap Jessy sambil melambaikan tangan. "Orland pasti akan marah kalau aku sampai terlambat karena menggosip denganmu."

Dengan itu Jessy pun melangkah pergi menyusuri koridor lain, meninggalkan Meyrin yang masih terpaku di tempatnya. Gadis itu hanya memperhatikan punggung Jessy hingga akhirnya menghilang, lalu dalam diam kembali melangkah menuju meja kerjanya.

'Hati Athrun-san akan luluh... Untukku?'

Meyrin akhirnya tiba di meja kerjanya, ia meletakkan tasnya di sana dan mulai menata dokumen-dokumen yang ia bawa. Setelah itu ia merapikan alat tulis dan perlengkapan pribadinya, memastikan tak ada yang berserakan. Meyrin memang seorang sekretaris yang cinta kebersihan, ia tak pernah lupa merapikan setiap sudut meja dan ruang kerjanya. Tak hanya itu, ia juga selalu menyempatkan diri ubtuk merapikan ruang kerja sang komandan yang menjadi atasannya, tak membiarkan pria bermata emerald itu mengeluh atau kelelahan akibat ruang kerja yang berantakan.

"Ah, ya, kopi!"

Meyrin bergegas meninggalkan meja kerjanya, berlari kecil menuju dapur umum di sudut koridor. Setibanya di sana ia segera membuat secangkir kopi esspreso hangat dengan sedikit tambahan creamer, tak lupa memastikan takaran gula yang ia gunakan tidak berlebihan. Ia sudah bekerja cukup lama untuk mengetahui dan mengingat kebiasaan dan kegemaran sang komandan, pria berambut biru gelap itu tidak terlalu menyukai gula.

Dengan tenang Meyrin mengaduk secangkir kopi yang siap disajikan, senyum tak pernah pudar dari wajah manisnya. Rutinitas yang sederhana ini selalu membuatnya merasa senang, menyiapkan secangkir kopi beserta salam hangat untuk sang komandan. Senyum lembut dari pria bermata emerald itu pun selalu ia dapatkan, menambah kehangatan dan kegembiraan di dalam hati Meyrin.

'Asalkan setiap hari aku bisa mendapatkan senyuman itu...'

Wajah Meyrin lagi-lagi merona, ia pun beranjak menuju sebuah ruangan di dekat meja kerjanya. Dibukanya perlahan pintu ruangan tersebut, diletakkannya secangkir kopi yang ia bawa di meja kerja sang komandan. Meyrin tersenyum seraya memperhatikan seisi ruangan yang bersih dan juga rapi. Lalu ia menatap beberapa benda di dalam ruangan, jejak-jejak yang ditinggalkan oleh si pemilik ruangan.

'Athrun-san, semoga hari ini pun pekerjaanmu lancar.'

Meyrin membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk pergi meninggalkan ruangan. Namun ketika ia hendak membuka dan menggenggam handle pintu, seseorang telah membukanya terlebih dahulu dari luar.

"Ah, Athrun-san?" Meyrin terkejut mendapati Athrun Zala - sang komandan - telah tiba dan memasuki ruang kerjanya. "Se-selamat pagi!" Meyrin memberi hormat dengan sedikit membungkuk. "Sa-saya sudah menyiapkan kopi untuk anda, lalu... Sebentar lagi akan saya serahkan beberapa berkas dan surat penting yang ditujukan untuk anda."

"Selamat pagi, Meyrin," pria bermata emerald - Athrun Zala - melangkah memasuki ruang kerjanya. "Terima kasih karena telah menyiapkan kopi untukku," ia tersenyum ramah pada sekretarisnya. "Dan... Terima kasih sebelumnya karena kau mau menyiapkan seluruh berkas dan surat yang ditujukan padaku," ia meletakkan tasnya di atas meja dan duduk di kursinya.

"Tentu, Athrun-san," Meyrin menatap Athrun di meja kerjanya. "Sudah menjadi tugas saya sebagai sekretaris pribadi anda," ucapnya dengan senyum dan rona merah menghiasi wajah. "Baik lah, saya akan segera menyiapkan berkas-berkasnya sekarang."

Meyrin segera meninggalkan ruangan, kembali duduk di meja kerjanya sendiri. Dengan teliti ia memilah beberapa lembar dokumen yang tertumpuk di mejanya, menyusun dokumen-dokumen tersebut berdasarkan beberapa kategori. Beberapa lembar surat datang dari kantor ZAFT lain, sisanya berasal dari kantor yang sama dengan tempatnya bekerja saat ini.

"Hmm, apa ini?" perhatian Meyrin tertuju pada sebuah amplop tidak biasa yang datang pagi ini, sebuah surat dengan logo negara ORB. "Tidak biasanya ada surat dari ORB untuk Athrun-san, biasanya selalu ditujukan pada Kira-san atau Lacus-sama..." Meyrin membolak-balikkan surat itu di tangannya, ia sedikit merasa penasaran dengan isi surat itu. "Ah, mungkin ini hanya surat undangan pertemuan atau semacamnya."


Secret Letter

Athrun and Cagalli


Sementara Meyrin sedang sibuk memilah berkas yang akan diserahkan pada Athrun, pria berambut biru gelap itu saat ini nampaknya juga sedang sibuk di dalam ruangannya. Ia terlihat mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, terpancar kegelisahan dari mata emerald-nya yang indah.

'Aneh...' Athrun terlarut dalam pemikirannya sendiri. 'Jika memang jatuh, seharusnya benda itu ada di sekitar sini.'

Athrun kembali menyusuri setiap sudut ruang kerja dengan kedua mata emerald-nya. Sejak tadi ia berusaha menemukan benda berharga miliknya yang hilang, sebuah benda yang diberikan oleh seseorang yang memiliki tempat khusus di dalam hatinya.

'Hhh, ada di mana ya...' Athrun mulai cemas, ia berusaha menenangkan dirinya agar dapat berpikir dengan jernih. 'Seingatku tak pernah mengeluarkannya dari dalam tas.'

Setelah selesai memeriksa dan mencari ke seluruh sudut ruangan dengan teliti, Athrun beralih pada meja kerjanya. 'Sejak kemarin aku terus tertimpa kesialan seperti ini...'

Ya, Athrun memang mengalami berbagai kesialan sejak semalam. Mulai dari tinta pena yang tiba-tiba saja bocor saat hendak menandatangani dokumen penting, pakaian yang terkena tumpahan anggur saat jamuan makan malam hingga benda berharga miliknya pun kini menghilang.

'Tunggu, bukankah justru sebaliknya?' Athrun mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. 'Sejak benda itu menghilang, banyak kesialan menimpaku,' ia menggeleng pelan, menyesali kecerobohannya yang telah melupakan benda berharganya. 'Jika memang begitu, bertambah lah alasanku untuk dapat segera menemukannya.'

Athrun mulai memeriksa meja kerjanya, mengangkat beberapa berkas dan barang-barang lain yang ada di sana untuk mencari benda berharganya. Setelah tidak mendapati benda yang ia cari di atas meja, Athrun beralih pada laci tingkat tiga yang ada di sisi kanan bawah mejanya. Di dalam laci pertama Athrun hanya menemukan berbagai berkas dan alat tulis, kemudian dilihatnya stempel, materai dan buku berisi jadwal harian di dalam laci berikutnya. Dan yang terakhir, di dalam laci ke tiga...

'Ah, ada di sini rupanya,' mata emerald Athrun bersinar, senyum menghiasi wajah tampannya. 'Syukur llah, kalau benda ini sampai hilang...'

Athrun menatap benda yang sejak tadi ia cari keberadaannya, sebuah kalung berbandulkan batu merah maroon yang indah. Benda itu sangat berarti baginya, kalung itu merupakan benda yang menghubungkan antara dirinya dengan sang pemberi.

"Cagalli..." nama itu keluar begitu saja dari bibir Athrun, tatapannya melembut.

Sontak seluruh kenangan bersama sang pemberi bernama Cagalli Yula Athha terlintas dalam benak Athrun, mengingatkannya kembali pada dirinya di masa lalu. Dialihkannya pandangan pada sebuah foto yang terdapat di dalam laci ke tiga meja kerjanya, foto tersebut merupakan foto dirinya yang diambil ketika ia masih bekerja sebagai bodyguard seorang gadis bermata amber. Tanpa Athrun sadari, sebuah senyuman miris terukir di wajahnya.

'Seandainya aku dapat kembali ke masa itu...' terpancar kesedihan dari kedua mata emerald Athrun. 'Di mana aku dapat terus berada di sisimu, menjagamu dengan kedua tanganku sendiri...'

"Permisi, Athrun-san?" Meyrin mengetuk pintu dari luar. "Boleh saya masuk?"

Athrun segera meletakkan kembali kalungnya ke dalam laci, menyembunyikan kedua benda yang menghubungkannya dengan masa lalu. Ia tak ingin siapa pun mengetahui tentang perasaannya yang sebenarnya, perasaan rindu dan juga penyesalan yang senantiasa memenuhi hatinya.

"Masuk lah, Meyrin," ucap Athrun setelah semua dirasa aman.

Meyrin memasuki ruangan dan menghampiri meja kerja Athrun. "Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, saya membawa beberapa berkas beserta surat penting yang ditujukan untuk anda," Meyrin meletakkan berkas-berkas yang ia bawa di atas meja kerja Atheun, pria itu segera mulai memeriksanya. "Lalu mengenai jadwal anda untuk hari ini..."

Meyrin mulai menjelaskan tentang jadwal kegiatan sang komandan, sementara pria itu telah sibuk dengan berkas yang baru saja diberikan padanya. Sesekali Athrun mengangguk untuk memberi jawaban pada Meyrin, sisanya ia hanya terdiam sambil mendengarkan tanpa menatap sang sekretaris.

"Demikian jadwal kegiatan anda hari ini, Athrun-san," akhirnya Meyrin selesai. "Apakah ada lagi yang harus saya lakukan?"

"Tidak ada, aku akan memanggilmu jika memang diperlukan," Athrun masih sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. "Kau boleh pergi, Meyrin."

Dengan itu Meyrin pun meninggalkan ruangan, sementara Athrun mulai mengerjakan tugas hariannya sebagai seorang komandan. Ia memeriksa setiap berkas yang masuk, membaca dan mengelompokkannya hingga mudah untuk disusun menjadi arship. Dua belas surat di antaranya merupakan surat berisi laporan dari seluruh distrik di PLANT, tuju belas surat lain berasal dari Lacus Clyne, tiga surat laporan hasil penyelidikan dan...

'Ini...'

Athrun terhenti dari kegiatannya ketika ia mendapati sebuah surat dengan logo ORB di amplop yang membungkusnya. Ia berulang kali membaca nama penerima yang tertera pada surat tersebut, berusaha meyakinkan diri bahwa surat tersebut memang ditujukan untuknya.

'Tidak biasanya ada surat dari ORB yang ditujukan padaku...' Athrun masih tidak percaya. 'Ada apa?'

Athrun tertegun ketika mendapati nama pengirim surat yang saat ini masih ia genggam. Di sana tertera nama seorang gadis yang baru saja ia pikirkan tadi, seseorang yang telah memberinya sebuah kalung berbandulkan Haumea Stone.

'Kenapa dia... Ah, tidak!' Athrun menggelengkan kepalanya. 'Jangan terlalu percaya diri, Athrun Zala!' Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. 'Mungkin saja surat ini hanya berisi dokumen kenegaraan dari ORB yang berkaitan dengan pekerjaan.'

Dengan hati-hati Athrun mulai membuka amplop berlogo ORB yang ia genggam. Setelah ujung kanan amplop tersebut dibuka, pria berambut biru gelap itu meraih sepucuk surat di dalamnya dengan jemari. Sejujurnya Athrun merasa gugup, baru kali ini ia menerima surat dari gadis yang selama ini selalu mengisi hatinya. Setelah sekian lama terpisah, akan kah terbit harapan bagi keduanya untuk kembali bersama?

"..." Athrun mulai memaparkan lembaran surat dari sang chief representative, kedua mata emerald-nya mulai membaca dengan seksama.

Pada mulanya Athrun masih sulit untuk mempercayai bahwa surat yang ia terima ternyata benar-benar merupakan surat pribadi dari sang representative, namun lama kelamaan ia merasakan sebuah sensasi hangat memenuhi hatinya. Sesekali ia tersenyum, bahkan tertawa kecil saat membaca isi surat tersebut. Namun ada kalanya ia pun tersenyum miris dan bahkan wajahnya menjadi murung.

Setelah ia selesai membaca seluruh isi surat, Athrun mulai memikirkan banyak hal sekaligus di dalam benaknya. Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak kegelisahan dan begitu banyak pertimbangan. Beberapa menit pun berlalu, akhirnya Athrun meraih sebuah pena di sudut meja kerjanya.

Dengan senyum menghiasi wajah, Athrun mulai menuliskan surat balasan pada gadis yang sangat berarti baginya. Kata demi kata ia rangkai, membentuk kalimat yang tersusun menjadi sebuah ungkapan isi hatinya. Perasaan hangat yang telah lama menghilang dari hatinya, kini dapat kembali ia rasakan berkat sepucuk surat dari gadis bermata amber itu.

Setelah selesai menulis surat balasan, Athrun segera mengemas selembar kertas tersebut dengan amplop yang selalu tersedia di laci dan meletakkannya di sudut meja. Ia tidak akan meminta Meyrin untuk mengirimkan surat itu, sang komandan sendiri lah yang akan melakukannya.

Athrun menatap keluar jendela di sisi ruang kerjanya, menatap langit biru berhiaskan butiran awan putih. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, mengenang sosok sang representative memang selalu membuat Athrun tak dapat menahan senyumnya.

'Terima kasih, Cagalli...'

'Dengan datangnya surat ini, kusadari bahwa aku masih memiliki sedikit tempat di hatimu...'


To be Continued


Balasan Review.

amirae: Thanks udah mmpir k SL, smoga sk dg plot dan chapter hr ini. :) Ini Canon semi AU (gak jelas) kok, Cyaaz udah tulis di warning. Dan sekretaris Athrun mmang Meyrin... Hihi. :p Smntara sih g ada hubungan, smntara... #plak. Smangat jg buat kmu, Cyaaz baca fic kmu, tp blm smpat review. ^^a See you next time! :D

Citra Zaoldyeck: Gak bnjir air mata kn, Cit...? Cyaaz g sekejam itu kok, belum. :p

popcaga: Nih, rwntetan Fic pelipur lara untkmu. #plak. Smoga bnr2 mnghiburmu ya... :D

shigatsu-sanjyunichi: Halo! Gmn, Meyrin nyebelin g? :p Cyaaz jrg bikin genre bgini, tp lg pengen aja... Wkwkwk. Jd kmu brpndapat Cagalli kyk mntan yg g bs move on hnya dr surat kmrin? Kmu blm baca surat yg dibuang sm dy. :p Thu, Athrun bls suratnya, tp isinya wntah ya. :v Fic ini msih pnjang endingnya, msih tersmbunyi lika-liku d dpn jalan. #plak. Tunggu upsate slnjutnya ya... Thank you. :D

Special Thanks buat alyazala, Yura, 2teawati & Liph.


Oke, Thank you, All...

Sekian Chapter 2 dari SL, silahkan mmpir lg d update slnjutnya...

Smoga klian mnikmati, see you.