RUN TO ME
A Sasusaku Fanfiction
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Sebelum semuanya terlambat, semua masih dapat berubah. Jika bukan dia, maka aku akan ada di sini. Menunggumu. Atau mengajakmu, berlari.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
CHAPTER 2
"Aku menyukaimu, Sasuke-kun."
Keadaan menjadi hening setelah kalimat itu terlontar dari bibir tipis Sakura, hanya hembusan angin malam yang terdengar. Sasuke mengusap kasar wajahnya, tepat seperti dugaannya. Ia memandang Sakura dari atas ke bawah, memang tidak ada yang salah dengan pernyataan cintanya tapi ini terasa menggelikan. Berada di SMA yang sama selama 3 tahun, sekali pun Sakura tak pernah menunjukkan ketertarikannya pada Sasuke. Menjadi sekretaris pribadi Itachi selama 2 tahun, tidak ada yang berubah dari sikap Sakura pada Sasuke. Lalu apa yang terjadi sekarang? Menyatakan cinta saat Sasuke sudah dijodohkan?
"Itachi benar-benar mengujiku." Ujar Sasuke, ia menyeringai. "Apa dia juga yang memintamu melakukan ini?"
Sakura sedikit kaget mendengar pertanyaan Sasuke. Ia menggeleng cepat. Sasuke tertawa sinis. Apa-apaan itu? Sasuke tidak percaya dengan ucapannya? Sakura sudah nyaris pingsan saat mengungkapkan isi hatinya tapi ini yang ia dapatkan? Sejujurnya Sakura kesal dan juga malu.
"Kau memang sekretaris yang baik. Kau melakukan semua perintah Itachi. Tapi ini sudah keterlaluan, kau seharusnya tidak melakukannya." Sasuke berhenti tertawa. "Ini semua percuma."
Sasuke kemudian berbalik meninggalkan Sakura yang entah sejak kapan sudah menundukan kepalanya―menahan tangis. Ini menyakitkan, setidaknya Sakura telah mempersiapkan menerima kata 'Tidak'. Tapi yang ia dapatkan jauh lebih menyakitkan; Sasuke tidak percaya pada pernyataan cintanya.
"Aku benar-benar bisa membuatmu bahagia, Sasuke-kun."
.
.
.
.
.
Sakura PoV
Aku mendengar suara berisik, seseorang sedang berada di dapur apartemenku. Aku berjalan dengan masih setengah mengantuk. Dan juga, lelah. Ya, aku lelah dengan tangisku semalaman. Entah apa yang aku tangisi―merasa malu dan kesal atau Sasuke-kun yang tidak mempercayai ucapanku―yang jelas aku lelah.
"Pagi, Saki."
Seharusnya aku tahu, siapa lagi yang berani masuk apartemenku tanpa ijin? Mesin kopi, toaster dan kompor menyala bersamaan. Aku sedikit kagum dengan kemampuan multitaskingnya. Dengan appron yang dipakainya, Ino tampak pro saat mengangkat telur mata sapi dari atas wajan.
"Untukmu."
Ino menyodorkan sepiring telur mata sapi dan dua lembar roti panggang sementara ia masih sibuk menuang kopi ke cangkir. Aku duduk di meja dekat dapur tak berapa lama Ino selesai dengan aktivitasnya dan duduk di depanku. Ia hanya membawa dua cangkir kopi dan memberikannya satu padaku.
"Aku tidak sarapan. Aku makan tengah malam tadi kalau kau mau tahu." Ino menjelaskan sebelum aku bertanya. "Itu sebuah dosa besar." Ujarnya sambil mendaratkan keningnya ke atas meja.
Aku tertawa. "Berlebihan. Makan tengah malam tidak akan membuatmu terlihat seperti pemain sumo." Ino kemudian mengangkat kepalanya sambil memajukan bibir. "Dan lagi, kau tidak perlu membuatkanku sarapan. Kau pasti datang pagi sekali kesini."
"Kau bahkan tidak sadar kalau aku menginap disini semalam." Ino mulai menyesap aroma kopi miliknya. "Kau menangis semalaman, aku tidak mungkin meninggalkanmu. Aku―"
"Aku baik-baik saja Ino, sungguh."
Aku mencoba untuk mengingat kejadian semalam walau sebenarnya aku tidak ingin. Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun, aku tahu Ino merasa bersalah karena telah memberiku saran tapi aku memang ingin melakukannya. Ini adalah kesempatan terakhir yang aku miliki sebelum semuanya terlambat. Sebelum Sasuke-kun berubah pikiran dan menerima perjodohan itu. Kemungkinan itu memang kecil tapi setiap kemungkinan memiliki kemungkinan.
"Aku akan mencobanya lagi."
Mata Ino melebar mendengar ucapanku. Aku sudah bertekad akan tetap mengejar Sasuke-kun atau setidaknya untuk saat ini membuatnya percaya dengan perasaanku. Selama di SMU aku hanya bisa diam, memandanginya dari kejauhan, berdiri di belakangnya dan berharap suatu saat nanti Sasuke-kun bisa menyadari keberadaanku.
Aku menyia-nyiakan 3 tahun tanpa melakukan apa-apa. Aku bahkan tidak berani mengajukan lamaran untuk menjadi sekretaris pribadi Sasuke saat ia membuka lowongan pekerjaan untuk posisi itu. Aku lebih memilih bekerja pada Itachi, setidaknya aku masih berada di 'wilayah' Sasuke berada.
Aku menyedihkan. Aku pecundang. Dan aku benci itu.
"Kau serius?"
Aku mengangguk mantap. "Iya. Hanya ini kesempatan yang aku miliki, aku akan memperjuangkannya. Sasuke-kun tidak menginginkan perjodohan ini, dia tidak bahagia bersama Shion. Kau sudah mengucapkan hal yang benar, Ino. Aku akan menyelamatkan Sasuke-kun dari perjodohan ini."
Ino tersenyum. Ia terlihat senang dengan ucapanku. Aku memang lelah dengan tangisku semalaman tadi tapi aku lebih lelah dengan diriku sendiri. Aku selalu berkata dalam hati kalau aku menyukai Sasuke-kun tapi aku tidak melakukan apa-apa. Semuanya masih dan pasti akan berubah mulai dari sekarang.
"Baiklah, aku mendukungmu. Tapi forehead, berjanjilah kau tidak akan membiarkan dirimu terluka. Kau harus tahu sampai kapan ini bisa terus berlanjut dan kapan kau harus berhenti."
"Iya, pig. Lagipula daripada terus menerus membicarakan kisahku yang menyedihkan, bagaimana jika kita bicara tentangmu?" Aku bertanya sambil menaik-naikan alisku―menggodanya.
Ino tiba-tiba salah tingkah. "Apa? Aku baik-baik saja, sama sepertimu." Ujarnya. Ia bersikap sok tidak peduli.
Aku masih memandanginya. Perlahan tapi pasti pipi Ino mulai memerah. "Aku lihat semalam kau dan Shimura Sa―"
"Kyaaaaaaaaaa... Tutup mulutmu, Haruno Sakura! Aku tidak ingin membicarakan hal itu sekarang!"
.
.
.
.
.
Normal PoV
Itachi membaca dengan teliti laporan keuangan bulan lalu yang diberikan Sakura. Wajahnya tampak serius. Sakura berdiri di depan meja kerja Itachi, menanti intruksi selanjutnya jika ada kekeliruan dalam laporannya tersebut.
"Aku rasa tidak ada masalah, tapi tolong hubungi Kepala Divisi Penjualan untuk menemuiku pukul 1 siang nanti."
Sakura mengangguk. "Baik, Itachi-sama. Apa ada lagi yang Anda butuhkan?"
"Bagaimana dengan Sasuke? Kau sudah bicara dengannya?"
Sakura tersenyum kemudian mengangguk, ia sudah siap dengan pertanyaan ini. Sakura telah membuat keputusan maka ia tahu apa yang harus dilakukannya. Itachi memang kakak yang baik, kedua orang tuanya juga berniat baik dengan melakukan perjodohan ini tapi Sasuke tidak bahagia. Masihkah itu disebut berusaha memberikan Sasuke yang terbaik?
"Hasilnya?"
"Sasuke-sama tetap menolak perjodohan ini."
Itachi menghela nafas. "Aku tahu memang tidak akan langsung berhasil. Yah, aku berharap kau akan terus bicara dengannya."
"Itachi-sama, maaf kalau terdengar lancang tapi tidakkah ini berlebihan?" Itachi menaikan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Sakura. "Bukankah Sasuke-sama sudah cukup dewasa untuk menentukan pendamping hidupnya? Apa Anda yakin Sasuke-sama akan bahagia pada akhirnya?"
Itachi tertawa pelan. "Aku hanya mengikuti kemauan orang tuaku, Sakura. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan kehidupan Sasuke, aku menyayanginya dan aku yakin ia bisa menangani setiap hal dengan baik. Tapi tidak dengan ini."
Sakura hanya diam. Ia tahu Itachi ingin melihat Sasuke mulai serius dengan masa depannya atau dengan kata lain Itachi ingin Sasuke berhenti bermain-main dengan banyak wanita. Memikirkan hal itu membuat dada Sakura berdenyut.
"Jadi kau berpikir Sasuke tidak akan bahagia?" Tanya Itachi.
Tidak.
"Ada baiknya berikan Sasuke-sama waktu untuk menemukan wanita yang menurutnya cocok." Sakura menjawab pertanyaan Itachi dengan hati-hati. Ia tidak ingin Itachi menyadari perasaanya pada Sasuke.
"Semakin banyak waktu yang diberikan, semakin banyak Sasuke 'bermain'." Itachi bersandar di kursi kerjanya, kemudian memandang layar ponselnya. Menatap rindu pada dua sosok yang tertera di layar. "Teruslah bicara dengan Sasuke, ia pasti lelah kemudian menyerah."
Sakura mengangguk.
Aku akan terus bicara dengan Sasuke-kun sampai ia lelah kemudian menyerah. Menyerah untuk mengabaikanku.
"Setelah bicara dengan Kepala Divisi Penjualan aku akan ke bandara menjemput Izumi dan Hana. Jadi, tolong tangani urusan disini selagi aku tidak ada."
Izumi dan Hana? Istri dan anak perempuan Itachi yang berusia 5 tahun, mereka pergi untuk menjenguk orang tua Izumi yang sakit. Sakura masih ingat ekspresi menyesal Itachi yang tidak dapat menemani keduanya ke Akita.
"Baik. Itachi-sama."
.
.
.
.
.
Sasuke PoV
Uchiha Mikoto. Ibuku. Benar-benar membuatku jengkel. Menelepon hanya untuk mengajakku makan malam bersama Shion dan ayahnya. Usahanya dalam menjodohkanku memang keras tapi aku juga akan tetap pada keputusanku.
Aku menolak perjodohan ini. Aku tidak menginginkan Shion.
Aku mendengus mengingat wajah Shion semalam saat aku bertemu dengannya sebelum pergi ke reuni. Senyum itu, tatapan itu, gerak tubuh itu. Tidak ada yang spesial di mataku. Berada di kampus yang sama selama 4 tahun, aku tahu betul siapa Shion. Ia terkenal, memiliki wajah cantik dan tubuh menggoda, dipuja banyak pria dan juga.. nakal.
Aku pernah berkencan dengannya tapi aku tidak pernah jatuh cinta pada Shion, aku sudah muak dengan wanita-wanita seperti itu. Pria mana yang menyukai wanita nakal sekalipun ia cantik? Tidak ada, yang mereka rasakan hanya ketertarikan. Dan bodohnya aku, bagaimana bisa aku tidak mengetahui ayah Shion adalah sahabat lama ayahku?
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...
'Itachi-nii is calling'
Apa lagi yang diinginkannya sekarang? "Hn?" Aku menjawab telepon Itachi dengan malas, aku masih tidak mau bicara padanya setelah apa yang dilakukannya padaku.
"Kapan? Oke, baiklah."
Itachi bilang ia lupa dengan kado untuk Hana, seseorang akan mengantarkannya padaku. Kemudian aku langsung memutus sambungan telepon meski aku tahu Itachi masih ingin bicara, lebih baik aku menghindarinya daripada terjadi pertengkaran lagi. Ini benar-benar menyebalkan.
Masalah Shion dan perjodohan ini membuatku kesal. Andai bukan Shion, aku mungkin mau menerima perjodohan ini atau setidaknya mencobanya. Karena seperti yang sudah kukatakan, aku muak. Semua wanita di luar sana hanya ingin bersenang-senang denganku.
Aku. Muak.
Seseorang mengetuk pintu ruang kerjaku. Sekretarisku masuk setelah aku mempersilahkannya. Dia berkata Haruno Sakura datang ingin bertemu memberikan titipan Itachi. Aku meminta sekretarisku menerima titipan itu dan menyuruh Sakura pulang tapi kemudian aku berubah pikiran.
"Biarkan Haruno Sakura masuk."
Sekretarisku keluar dan tak berapa lama Haruno Sakura masuk. Dia tampak 'baik-baik saja' setelah kejadian tadi malam. Sakura berdiri di depan meja kerjaku, membungkuk kemudian memberikanku kotak merah dengan pita emas.
"Itachi-sama memintaku untuk memberikan ini padamu. Ini kado untuk Hana-chan, Itachi-sama lupa membawanya." Ujarnya.
Aku mendengus mendengarnya bicara 'Itachi -sama memintaku', itu mengingatkanku dengan apa yang Sakura lakukan tadi malam. Aku hanya mengangguk. Sakura masih berdiri di tempatnya, aku menatapnya sambil menaikan sebelah alis.
"Itachi-sama juga memintaku untuk bicara mengenai perjodohanmu. Aku―"
"Keluar."
Cukup, aku tidak ingin lagi mendengar 'Itachi -sama memintaku'. Wanita ini benar-benar menjalankan semua perintah Itachi? Bahkan diluar konteks pekerjaan? Hebat. Luar biasa.
Sakura menggeleng. "Tidak, bukan itu maksudku. Kau―"
"Apakah ucapanku semalam kurang jelas bagimu?" Aku berdiri dari kursiku. Sakura menarik nafas kemudian menahannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Sepertinya itu kebiasaan yang ia miliki. "Sadari posisimu." Ucapku.
Aku berjalan menuju pintu, memutar kenop dan menyuruhnya keluar tapi Sakura tidak bergeming. Ia malah menatapku. Menatapku dengan emeraldnya yang indah. Aku berjalan cepat ke arahnya, menarik lengannya untuk segera keluar dari ruanganku.
"Aku benar-benar bisa membuatmu bahagia."
Ucapan Sakura membuatku berhenti sekaligus kesal. Ia menunduk. Sakura kini berada di daftar yang sama dengan Itachi dan orang tuaku. Ia bahkan lebih menyebalkan dari Naruto dan Sai.
"Tinggalkan Shion, aku pasti akan―"
"Berhenti melakukan perintah Itachi! Apa dia juga yang memintamu melakukan ini?" Aku membentak Sakura dan ia langsung mengangkat kepalanya. Aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.
"Tidak." Sakura mundur selangkah. "Aku benar-benar menyukaimu."
Shion bahkan belum bisa kusingkirkan lalu sekarang apa? Haruno Sakura? Bagiku ini lelucon. Sakura tidak mungkin menyukaiku, ia tidak terlihat seperti itu. Aku mengerang kesal. Masalah datang bertubi-tubi dalam hidupku belakangan ini.
"Sejak kapan?" tanyaku.
"Sejak SMU."
Aku menyeringai. Aku masih tidak percaya kalau Itachi tidak berada dibalik ini semua tapi Sakura berakting terlalu sempurna. Aku diam memberinya kesempatan untuk bicara menjelaskan isi hatinya.
"Aku memang pengecut. Selama 3 tahun di SMU aku tidak berani melakukan apa-apa untuk menarik perhatianmu. Itu karena aku sadar kau begitu sulit digapai. Kau digilai seluruh murid perempuan. Kau disapa setiap pagi oleh mereka, kau menerima banyak coklat saat valentine, kau menerima pernyataan cinta setiap hari."
Sakura tersenyum. Ia menyelipkan rambut sebahunya ke belakang telinga. Untuk sesaat aku berpikir rambut yang dimilikinya indah. Rambut pink sebahu. Cocok sekali dengan nama yang dimilikinya.
"Aku sadar kalau aku hanyalah murid perempuan biasa. Aku tidak seperti mereka yang mengejarmu. Aku terlalu takut untuk mengakui perasaanku. Tapi sekarang aku akan mengungkapkan semuanya. Sebelum terlambat."
Aku tertawa. Tawa yang sama dengan sebelumnya dan ekspresi Sakura juga sama dengan sebelumnya. Emeraldnya membulat, bibir tipisnya sedikit terbuka. Aku akan membuatnya sadar, kali ini ia pasti menyerah.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Aku bertanya, aku masih bertatapan dengannya. "Menurutmu aku akan berpaling padamu karena kau tahu aku tidak menginginkan perjodohan ini?"
Aku mendengus dan Sakura hanya terdiam, aku menggosok tengkukku. Ini mungkin akan terdengar kasar tapi Sakura wanita yang keras kepala dan dia memaksaku menggunakan cara ini. Aku berjalan mendekatinya. Sakura menjauh tapi aku kembali menarik lengannya, mendekatkannya padaku.
Jarak kami sangat dekat, lebih dekat dari semalam. Aku yakin kami bisa saling merasakan deru nafas masing-masing. Sakura meringis saat aku mencengkram kuat lengannya. Aku tidak memasang ekspresi apa pun. Aku hanya menatapnya. Dan menghirup aromanya.
Aroma Sakura. Seperti bunga sakura. Harum dan lembut.
"Kau pikir kau siapa?" Aku diam sejenak, Sakura berusaha mendorong dadaku tapi aku menahan tangannya. "Haruno Sakura. Cerdas, rajin dan sopan. Kesayangan para sensei dan disukai banyak orang. Kau tipe wanita idaman. Pria di luar sana pasti menginginkan wanita sepertimu."
Aku tahu Sakura menanti ucapanku selanjutnya. Maaf, Haruno, tapi ini tidak akan sesuai dengan apa yang kau inginkan.
"Tapi aku tidak."
Dan Sakura terkejut, air matanya siap menetes. Aku semakin mempersempit jarak diantara kami. Aku tidak lagi mencengkeram lengannya, aku menarik dan menahan pinggangnya. Tubuh bagian bawah kami menempel dan aku baru sadar kalau Sakura tidak sekurus yang terlihat.
"Kau tahu kenapa?" Aku mendekatkan bibirku ke telinganya. Aku berbisik. "Karena aku Uchiha Sasuke. Aku suka tantangan dan bagiku kau tidak menantang sama sekali, Haruno Sakura."
Air mata itu akhirnya menetes.
"Jangan berpikir kalau aku akan berpaling padamu. Aku tidak menginginkan Shion tapi bukan berarti aku menginginkanmu. Aku bisa mendapatkan sepuluh wanita sepertimu jika aku mau. Jadi, berhenti melakukan hal yang sia-sia."
Air mata Sakura terus menetes meski ia tak bersuara sama sekali. Aku benar-benar berhasil mematahkan hatinya. Setelah ini Sakura pasti berhenti mengganggu dan masalahku hanya tinggal Shion.
"Sasuke-kun?"
Sial. Aku lupa menutup pintu. Untuk apa dia kesini? Aku bahkan masih menyentuh pinggang Sakura. Tangan Sakura bahkan masih berada di dadaku.
Dan aku bahkan masih ingin menanti jawabannya.
"Shion."
.
.
.
.
.
Normal PoV
Sakura berlari sambil menutup hidung dan bibirnya. Ia memang sudah siap dengan segala kemungkinan tapi ia tidak menyangka rasanya akan sesakit ini. Sasuke tidak percaya pada pernyataan cintanya atau Sasuke menolaknya, terasa sama menyakitkan. Sakura bahkan merasa sakit didadanya menjadi berkali lipat saat melihatnya.
Shion. Wanita itu.
Sakura membuka kasar pintu mobilnya, kemudian menangis sejadi-jadinya. Kepalanya ia benturkan berkali-kali ke kemudi mobil, terus mengucapkan kata bodoh sambil mengingat apa yang baru saja terjadi. Sakura sadar kalau ia memang tidak akan bisa membuat Sasuke berpaling.
"Jangan berpikir kalau aku akan berpaling padamu. Aku tidak menginginkan Shion tapi bukan berarti aku menginginkanmu. Aku bisa mendapatkan sepuluh wanita sepertimu jika aku mau. Jadi, berhenti melakukan hal yang sia-sia."
Ucapan Sasuke terus terngiang di kepalanya. Iya, itu benar. Sakura telah bertemu Shion, wanita itu cantik dan Sasuke tidak menginginkannya. Sakura tertawa. Ia memegang dadanya yang terus saja berdenyut nyeri. Matanya sembab dan rambutnya berantakan.
Shion begitu cantik, terlihat berkelas dan sudah pasti berada di level yang sama dengan Sasuke. Sakura masih ingat saat Shion bertanya 'siapa wanita itu' pada Sasuke dan Sasuke menjawab 'sekretaris Itachi.' Tas, sepatu, pakaian, dan make -up yang dipakainya benar-benar menawan.
Sakura masih tertawa, ia menertawai kebodohannya. Jika Sasuke menolak Shion, lantas apa yang merasuki Sakura hingga berpikir Sasuke akan berpaling padanya?
Ponsel Sakura berdering. Ia mengangkat kepalanya kemudian melihat layar ponsel. Seseorang yang tidak berada di kontaknya menelepon.
"Halo?"
"Sakura?"
Sakura terkejut, ia kenal suara ini. Air mata yang sebelumnya sudah tidak menetes malah mengalir deras. Sakura tidak dapat menahannya. Ia berusaha tidak mengeluarkan suara tapi yang terjadi sebaliknya―Sakura menangis tersedu-sedu.
"Hei, kau baik-baik saja, Sakura? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Seseorang di ujung telepon terdengar panik.
Sakura menggeleng dan menyeka air matanya. "Aku baik-baik saja, Gaara."
.
.
.
.
.
Semua orang tertawa. Ibunya, ayahnya, Itachi dan juga Shion. Makan malam yang direncanakan, benar terlaksana. Sasuke duduk berhadapan dengan sang ibu dan bersebelahan dengan Shion. Wanita itu tidak berhenti menempelinya sejak ia datang menemui Sasuke di kantor.
Shion datang dan untungnya Sasuke secepat kilat melepas Sakura. Ia tidak peduli dengan apa yang akan Shion pikirkan, ia hanya tidak ingin menambah daftar masalahnya. Shion pasti akan berpikir Sakura dan Sasuke memiliki hubungan khusus kemudian ia akan mengadukan hal itu ke Mikoto dan kemudian hal yang tidak Sasuke inginkan akan benar-benar terjadi.
"Kau mau tambah ikannya, Sasuke-kun?" Ujar Shion memecah lamunan Sasuke. Ia tersenyum manis. Sasuke mendengus kemudian menggeleng.
"Ah, bukankah kalian terlihat manis?" Mikoto memandang senang ke arah Shion dan Sasuke. "Bagaimana mungkin hubungan kalian sempat putus? Kalian sungguh sangat serasi."
Dia tidur dengan laki-laki lain saat aku tidak ingin menidurinya.
Shion tertawa. "Jangan seperti itu, ba-san. Aku dan Sasuke hanya masih terlalu muda. Kami masih memiliki ego yang tinggi, ne Sasuke-kun?"
"Hn."
Sasuke benar-benar tidak percaya ini. Apa yang ibunya lihat dari Shion? Mengapa wanita itu terlihat sangat baik dimata ibunya? Sasuke bahkan sudah mengatakan kalau Shion pernah tidur dengan laki-laki lain saat masih berkencan dengannya tapi Mikoto malah marah karena menurutnya Sasuke sudah berkata sembarangan.
"Maaf kami terlambat."
Itachi, Izumi dan Hana datang. Hana tersenyum lebar dan langsung berlari ke arah Sasuke, Sasuke membuka tangan―menyambutnya ke dalam pelukan. Hana tertawa saat Sasuke berdiri menggendongnya. Itachi dan Izumi memberi salam kepada yang lain kemudian duduk di tempat yang kosong.
Sasuke duduk sambil memangku Hana. Sasuke terus menggoda Hana―menggelitik perutnya dan mencubit pipinya. Tidak bertemu selama 2 bulan membuat mereka saling merindukan. Uchiha Fugaku―ayah Sasuke dan Itachi―berdehem saat Sasuke dan Hana terus tertawa.
"Sasuke."
Sasuke berhenti tertawa begitu juga Hana. Fugaku memang orang yang kaku dan sulit diajak tertawa. Mikoto hanya tersenyum. Itachi memutar mata, ia tahu Sasuke berusaha menunjukan rasa tidak sukanya pada makan malam ini.
"Apa perjalananmu menyenangkan, Izumi-san?"
Danzo. Ayah Shion yang sedari tadi diam, mulai membuka suara. Pria yang usianya lebih tua dari Fugaku ini memiliki sifat yang tidak jauh berbeda. Danzo adalah satu-satunya orang tua yang dimiliki Shion setelah istrinya meninggal karena sakit 10 tahun lalu.
Izumi mengangguk. "Begitulah. Hanya saja pesawat kami mengalami delay, jadi kami agak terlambat sampai disini."
"Bagaimana dengan Akita? Apakah tempat itu menyenangkan? Aku belum pernah kesana." Shion bertanya pada Izumi. Sasuke benar-benar muak melihat sikap Shion yang menurutnya berlagak sok manis.
"Akita lebih sejuk dari Tokyo. Aku mungkin bisa mengajakmu kesana lain waktu." Izumi tersenyum.
Makan malam terasa panjang bagi Sasuke. Semua tampak sempurna, dua keluarga saling melempar senyum dan terlibat percakapan hangat. Siapa pun yang melihat mereka pasti akan berpikir betapa beruntungnya Sasuke dijodohkan dengan Shion, ia pasti bahagia. Salah, itu salah besar. Sasuke bahkan tidak ingin menganggap ini sebagai perjodohan, ini pemaksaan.
"Bagaimana jika akhir pekan ini kita berlibur bersama?" Mikoto tiba-tiba memberi usul. Sasuke menggeleng cepat. Ibunya benar-benar bersemangat dalam hal ini.
"Maaf, kaa-san, aku tidak bisa. Aku sibuk hingga akhir pekan."
Mikoto menghela nafas. "Benarkah? Sayang sekali. Bukankah lebih baik sesekali mengambil cuti? Kau harus banyak menghabiskan waktu dengan Shion."
Shion tertawa, ia bersikap malu-malu sambil mengibaskan tangannya. Sasuke sudah tidak bisa menghitung berapa banyak ia mendengus malam ini. Banyak menghabiskan waktu dengan Shion? Untuk alasan apa?
Sasuke berdiri dan memberikan Hana pada Izumi. Ia pamit mengundurkan diri dan langsung pergi bahkan sebelum Fugaku mengizinkannya pergi. Sasuke merasa lemah dan bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa.
.
.
.
.
.
Sasuke PoV
Seseorang mengetuk kaca disampingku saat aku menyalakan mesin mobil. Dia. Aku hanya meliriknya kemudian memakai seatbelt tapi dia terus mengetuk seperti ingin membuatku tuli. Aku menurunkan kaca mobil. Dia meletakan tangannya di pinggang, ekspresinya sungguh berbeda saat didalam tadi.
"Kau mau kemana?" Tanyanya sinis.
Aku hanya diam kemudian menutup kembali kaca mobil dan langsung menginjak pedal gas. Aku tidak peduli apa yang akan ia katakan pada ibuku. Sebenarnya apa yang kau inginkan dari perjodohan ini, Shion? Kau jelas tahu aku tidak menginginkanmu.
Aku tidak mencintaimu.
Aku memutuskan untuk ke kelab malam sebelum pulang ke apartemenku. Minum dan berdansa dengan musik keras terdengar menyenangkan. Aku berniat menghubungi Shikamaru atau Sai atau Naruto. Walaupun mereka terkadang menyebalkan tapi hanya mereka yang selalu menemaniku saat aku ingin melupakan semuanya.
Tapi bersama mereka dengan kondisi seperti ini hanya akan membuatku cepat mati. Aku mengurungkan niatku menghubungi mereka. Aku tidak ingin mendengar ocehan Naruto, sindirian Sai atau pun melihat sikap cuek Shikamaru.
Bartender memberiku segelas vodka, aku menenggaknya hingga habis. Tenggorokanku terasa dibakar, ini bukan pertama kalinya aku minum tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Aku merasa kesal, kemudian aku mengerang.
"Aaaaaarrrrrgggghhh!"
Bartender memberiku segelas minuman lagi. Aku menatapnya, ia tertawa. "Cocok untuk suasana hati yang sedang buruk." Ujarnya dengan suara agak keras karena musik di tempat ini sangat menghentak dan berisik.
Aku melihat gelas itu sesaat sebelum meminumnya hingga habis. Bartender itu memiliki selera yang bagus. Minuman itu enak dan emosiku agak mereda, hanya saja kepalaku menjadi agak pusing. Aku mengedarkan pandangan. Melihat orang-orang yang meliuk-liukan tubuhnya di lantai dansa. Aku berpikir apa mereka semua kesini juga untuk melupakan masalahnya atau hanya untuk bersenang-senang?
Seseorang di sudut ruangan menarik pandanganku. Seorang wanita tertawa sambil terus meminum minumannya, disebelahnya ada seorang pria yang hanya diam. Pria itu memegang bahu sang wanita―sedikit mengguncangnya―dan raut wajahnya terlihat cemas.
Mataku melebar saat aku bisa melihat dengan jelas siapa wanita itu. Tidak ada lagi wanita yang memiliki warna rambut seperti itu. Apa yang dilakukannya disini? Itachi pasti akan marah jika tahu sekretarisnya berada di kelab malam. Wanita itu memiliki reputasi yang baik, kan?
"Apa yang kau lakukan disini?"
Aku sudah berada di depannya. Iya, itu dia. Haruno Sakura. Duduk sambil minum minuman keras, blazernya tergeletak di samping. Rok kerjanya sedikit terangkat, aku bisa melihat pahanya. Dan yang lebih parah, ia bersama seorang pria.
"Uchiha-san?"
Pria itu ternyata... "Sabaku?"
Iya aku tahu, Sakura dan Gaara memang dekat sejak SMU. Itu juga salah satu alasan mengapa aku tidak percaya Sakura menyukaiku, karena akan terdengar lebih masuk akal jika ia menyukai Gaara.
Gaara berdiri, sementara Sakura terkulai di sofa. Aku pastikan ia sudah mabuk. Aku melihat beberapa gelas kosong di atas meja. Siapa pun pasti mabuk jika minum sebanyak itu. Tunggu, apakah ini pertama kali Sakura minum? Sial, wanita itu sama saja dengan bunuh diri.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gaara.
Aku menatapnya sinis. "Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan disini? Mengambil kesempatan dalam kesempitan, eh?"
Aku kira Gaara pria baik. Tapi pria baik mana yang membiarkan seorang wanita menghabiskan banyak minum, mabuk, dan terkulai dengan pakaian yang tidak lagi rapi? Gaara tampak tidak suka dengan ucapanku.
"Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Uchiha-san."
"Sasuke-kun?"
Sakura tiba-tiba berdiri, wajahnya merah. Wanita ini benar-benar dalam masalah. Ia mendekatiku dengan langkah gontai. Sakura menarik kasar kerah kemeja yang aku kenakan, aku terkesiap melihatnya sedekat ini. Aku sudah sedekat ini dengannya siang tadi, tapi kali ini atmosfernya berbeda.
Nafas Sakura memburu dan bau alkohol. Ia menyeringai.
"Apa yang kau lakukan disini, Haruno Sakura?"
BRUUUKK!
Diluar dugaan. Sakura mendorongku hingga aku terduduk di sofa dan kemudian dia duduk di pangkuanku, rok kerjanya semakin terangkat dan paha putih mulusnya semakin terekspos. Kedua tangannya memegang sisi wajahku, aku kaget dan tidak mampu berbuat apa-apa. Sakura semakin mendekatkan tubuhnya. Aku bisa merasakan kejantananku bersentuhan dengan miliknya yang masih terlapisi celana dalam.
"Sakura!"
Gaara berteriak membuat orang-orang mengalihkan pandangannya untuk menatapku dan Sakura. Sakura tertawa dan menepis tangan Gaara saat pria berambut merah itu menariknya. Aku merasakan belaian lembut di tengkukku dan pipi kiriku. Sakura memiringkan wajahnya.
"Kau sangat tampan, kau tahu? Aku tergila-gila padamu." Katanya.
Aku mendengus dan berusaha menyingkirkan Sakura dari pangkuanku. "Kau mabuk."
Sakura lagi-lagi berbuat di luar dugaanku. Ia membuka dua kancing teratas kemejanya. Orang-orang bersorak saat Sakura melakukannya. Aku bisa melihat belahan dadanya dan sekarang ia bahkan mulai menggesek bagian bawah tubuhnya pada kejantananku.
Kau bermain api dengan orang yang tepat, Haruno Sakura. Aku akan membakarmu.
"Katakan, Sasuke -kun? Apakah aku sudah cukup menantang? Apakah Shion lebih baik dariku?" Sakura menempelkan bibirnya di telingaku, kami benar-benar rapat. Sekarang aku pun merasakan payudaranya yang menekan dadaku. "Aku jauh lebih baik dari Shion dan seluruh wanita yang pernah kau tiduri."
Kau menantangku, Sakura.
"Aku benar-benar bisa membuatmu bahagia."
.
.
.
.
.
Normal PoV
Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela, menerangi seorang wanita yang masih tertidur di atas ranjang king size di ruangan itu. Si wanita akhirnya bangun dan mengerjapkan matanya―silau dengan sinar matahari yang masuk. Kemudian ia duduk di pinggir ranjang mengamati lemari pakaian berwarna hitam dengan pintu kaca di depannya, melihat pantulan dirinya di cermin dengan kaos abu-abu kebesaran. Pandangannya beralih ke sisi kanan. TV LED menempel didinding, ukurannya besar. Ia berharap bisa memiliki TV seperti itu di apartemennya
Tunggu! Ini bukan kamarnya! Ia tidak memiliki ranjang ukuran besar, lemari pakaian berwarna hitam dan TV LED sebesar itu! Dan lagi, bagaimana dengan kaos yang dikenakannya?
Si wanita mulai panik dan menggigit bibir bawahnya. Ia bertanya-tanya dimana ia sekarang? Bagaimana ia bisa ada disini? Mencoba mengingat dan mencari tahu sampai akhirnya mata si wanita membulat sempurna.
Aku menyatakan cinta pada Sasuke. Aku ditolak. Gaara menelepon. Aku memaksanya menemaniku ke kelab malam. Aku mabuk. Sasuke datang.
Dan... TIDAK! Habislah aku!
Pintu ruangan terbuka, Uchiha Sasuke masuk. Ia mengenakan celana olahraga pendek selutut, bajunya sedikit basah. Handuk berada di lehernya dan ia berkeringat. Sasuke memandang wanita itu sambil duduk di sudut ruangan dan melepas sepatu lari yang ia pakai.
"Sudah bangun?" Tanyanya. Nafasnya sedikit tersengal.
Si wanita hanya diam, Sasuke menghampiri kemudian duduk disebelahnya. Sasuke menyentuh wajah wanita itu, membuatnya menatap ke dalam onxy tajam milik Sasuke.
"Katakan. Bagaimana caramu membuatku bahagia, Sakura?"
Sasuke menyeringai.
Aku menyerah.
Aku sudah mulai berlari ke arahmu.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halooooooo minna! Wah aku surprise banget kalian suka sama ceritanya dan gaya penulisannya *gak sia-sia jadi silent reader bertahun-tahun* (T_T) huhuhuhu... Arigatou gozaimasu pokoknya! ^^ Oya buat yang nanya ini fic pertama aku atau bukan.. Hmm, ini bukan fic pertama aku tapi ini fic pertama yang aku publish *halah ribet banget* ahaha.. Ngerti kan? Btw, chapter 2 is up! Yuhuuuuuu... Semoga suka dan dapet feelnya ya.. Maaf kalau gaje dan ada kata yang nggak pas -_- Cerita ini pure dari ide aku sendiri, jadi kalau ada kesamaan sana sini dalam fic itu murni nggak sengaja ya.. Hehehe ^^ Menurut aku alur cerita ini agak lama, iya nggak sih? Gomen kalau emang iya, soalnya aku suka cerita yang mendetil.
Yosh! Aku sudahi kegajean ini, sekali lagi arigatou gozaimasu pokoknya kalian udah review, fav, follow dan luangin waktu buat baca cerita ini.. Hohoho.. Kalau nggak keberatan, sekalian rekomen anime yang bagus buat author tonton yaa, need new anime banget nih... *ditimpukin sendal sama reader* Hahaha..
Jaa~ ^^
