Hari ini hari ulang tahun Draco yang ke-11, tidak terasa sudah 3 tahun Aria tinggal dengan paman dan bibinya. Paman dan bibinya sangat baik kepadanya, Narcissa sering membelikan dress untuknya— yang mengingatkan dirinya pada ibunya— dan "bereksperimen" dengan rambut coklat keemasan miliknya. Aria masih bisa merasakan tubuhnya belum bisa berkerjasama dengan pikirannya. Ia masih berguling-guling di kasur ungunya. Ia dapat melihat matahari bersinar dari sela-sela gorden panjang berwarna hitam dikamarnya. Akhirnya ia memaksakan tubuhnya untuk bangun lalu, membuka pintu berandanya dan gorden di kamarnya. Matahari sudah bersinar sangat terang, ia merenggangkan tangannya dan melihat pemandangan dari Malfoy Manor. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. "ya?" jawab Aria. "hei Aria! Kau sudah bangun?" tanya seseorang dengan suara lantang, yang tidak lain adalah Draco, the birthday boy. "i have, Draco. Kau tidak perlu berteriak" jawabnya seraya membuka pintu. Disana berdiri Draco dengan piyama garis-garisnya dan rambut blondenya yang acak-acakan dan Dobby membawakan makanan.
"Aku membawakanmu makanan, menu favoritmu"
"Great!"
Aria meminta mereka berdua masuk, ia melihat Dobby gemetar membawa nampan yang penuh makanan.
"Biarkan aku bantu Dobby"
"Tidak, tidak perlu miss, Dobby bisa membawanya sendiri"
"Biarkan ia yang bawa Aria"
Lalu nampan itu pun sampai ke meja yang berada di beranda. Ia menata makanan di meja dan mundur. "Pergilah Dobby, aku ingin makan" sahut Draco dan Dobby pun pergi. Saat ia ingin menutup pintu, Aria melambaikan tangannya kearah Dobby dan ia tersenyum. Mereka berdua pun duduk, Aria melihat menu sarapannya, dan menu sarapannya kali ini benar-benar menu favoritnya, Pie apel dengan teh. Sepercik senyum menghiasi bibir pink Aria. Draco pun ikut tersenyum. Aria melihat sarapan Draco, dada ayam panggang dengan gravy dan caramelized potato. Wow, pikirnya. "Tidak biasanya kau yang datang kesini Draco, dan kau bangun lebih pagi dari aku? Wow" kata Aria sambil menaruh serbet di pahanya. "Ini ulang tahunku Aria, lagipula aku ingin memperbaikin moodku" jawabnya sambil memakaikan serbet di kerahnya.
"Ada apa dengan moodmu? Kau ulang tahun hari ini, harusnya kau senang"
"Senang?"
"Yup"
"Apa aku harus senang saat aku ulang tahun, ayah dan ibuku tidak akan dirumah selama seminggu?"
"Umm..." Aria akhirnya tahu penyebab kekesalan Draco pagi ini, "Sepertinya tidak"
"Menyebalkan..." bisiknya sambil melahap ayamnya.
Mereka bersarapan dalam kesunyian. Draco masih kesal dengan perlakuan orang tuanya dan Aria sedang mencari kata-kata yang kira-kira tidak menyinggungnya. "By the way, Aria, sepertinya ada surat untukmu" kata Draco tiba-tiba. "Ah, masa?" jawab Aria bingung. "Iya, itu" Draco menunjuk kearah langit, dan ada dua burung hantu terbang kearah beranda Aria. Aria langsung melompat dari kursinya dan melihat. "Draco, ada dua burung hantu. Sepertinya kau pun mendapat surat" kata Aria dan menjulurkan tangannya. Burung hantu bebulu coklat muda bergradasi itu langsung bertengger di tangan Aria dan yang satu lagi mendarat dipegangan beranda. Aria mengambil dua surat itu dan dua burung hantu itu langsung pergi. Ia melihat cap darah di depan amplopnya. Lalu membalikkan kedua surat itu. "Draco, ini untukmu" kata Aria memberi surat itu kepada draco dan masih memfokuskan perhatiannya kepada surat yang ditujukan kepadanya. Cap merah itu, ia mengenalinya. Cap darah hogwarts. Ia membukanya dan membacanya perlahan. "waktu libur kita selesai Aria" celetuk Draco sambil membaca suratnya. "Yup" jawab Aria dan kembali melompat ke kursinya dan menghabiskan pienya. Draco sudah menghabiskan sarapannya, lalu ia mengambil surat Aria.
"Ariadne Larisa Black..."
"Ya? Kau terlihat aneh Draco"
"Aku baru tau nama panjangmu, aria.."
"Setelah bertahun-tahun? Urgh, kau jahat!"
"Hei aku memang baru tau! Namamu bagus, apa artinya?"
Aria terdiam ngengingat-ingat memorinya dengan ayah dan ibunya. Saat itu dia masih 6 tahun dan pertama kalinya menulis nama panjangnya. Ayah dan ibunya memeluk dan menciumnya saat melihat tulisan anaknya yang bisa dibilang sangat bagus untuk anak seumurannya. "mum, dad... apa arti namaku?" katanya sambil melihat kerarah mereka. Ayah dan ibunya bertukar pandangan, "Ariadne Larisa Black, pertanyaan bagus sayang" kata ayahnya. "Ariadne berarti Sangat Suci, Larisa itu nama mum artinya Senyuman" lanjut ibunya, "Walaupun kami Death eater yang kamu tahu itu jahat, tapi kamu sangatlah suci sayang, kamu adalah cahaya untuk mum dan dad, kami sayang kamu, nak". Lalu ayah dan ibunya memeluk Aria. Aria kembali ke kenyataan, Draco melihat dia khawatir. "kau gapapa?" tanyanya. Aria tersenyum dan menggeleng. "Arti namaku?" katanya, "Ariadne berarti Suci dan Larisa nama mum, senyuman". "Jadi 'senyuman yang suci'?" kata Draco terlihat bingung. "Ya, sort of" jawab Aria.
"Ariadne... anne" bisik Draco.
"Anne?"
"Bisa kan? Diambil dari Ari-ADNE lalu diubah jadi Anne"
"Uhh... lalu?"
"Itu panggilanku untukmu, Anne"
Semburat merah muda muncul di pipi Aria, Draco pun tertawa. "Kurasa aku sudah memperbaiki moodku, aku ingin mandi. Sampai ketemu dibawah jam 10 ya, Anne" katanya lalu pergi. Aria terdiam dan melihat draco saat ia pergi. Ia masih kaget atas apa yang saudaranya katakan. Ia pun segera membersihkan pikirannya dan bergegas ke kamar mandi.
Disaat yang sama, Draco sudah menyalakan shower. Rambut pirangnya berkilau dibawah lampu dan air yang mengalir. Ia masih ingat raut muka saudaranya saat dipanggil Anne. Ia tersenyum lalu meraih sabun. Sebenarnya ia masih sangat mengantuk, tapi entah kenapa ia sangat ingin bangun pagi dan bertemu saudaranya. Setelah yang terjadi tadi malam, pikirannya atas saudaranya entah kenapa berubah. Malam itu Draco terbangun di tengah malam. Entah apa yang membuatnya terbangun seperti itu, ia tidak biasa terbangun bahkan ia tidak bermimpi buruk. Ia pun berinisiatif keluar untuk mencari udara segar. Ia berjalan menyusuri lorong hitam dengan lukisan-lukisan besar, entah mengapa kakinya membawanya ke kamar Aria. Ia mengintip, dan melihat Aria sudah tidur. Ia pun masuk ke kamarnya. Kamar Aria sangat girly, ia tahu ibunya menata kamar ini dengan sangat special, Aria adalah keponakan favorit ibunya. Furnitur kamarnya kebanyakan berwarna ungu muda dan tentunya ada banyak teddy bear. Ia melihat meja hiasnya dan semuanya dihiasi foto Aria dan orang tuanya. Lalu, ia melihat lemari kecilnya, diatasnya banyak foto Aria dan keluarganya, ada juga fotonya bersama Sirius black. Draco melihat foto itu jijik lalu segera beralih ke foto lain. Foto-foto disana didominasi foto mereka berdua. Ada satu foto yang menarik perhatiannya, yaitu foto mereka berdua memakai dress formal. Foto itu diambil beberapa bulan lalu, saat ayah ibunya menyelenggarakan hari jadi mereka. Aria sangat cantik saat itu, memakai dress putih dengan rambut diikat cukup tinggi menyamping dan berhiaskan mawar putih. Saat itu juga Draco pertama kali berdansa dengan Aria. Tiba-tiba Draco mendengar seseorang memanggil namanya, ia sedikit tersentak.
"Draco...?"
Draco segera melihat kearah Aria, dia masih tertidur tapi memanggilnya. Draco menghela napas lalu menghampiri Aria yang masih mengigau. Dia bingung apa yang harus dilakukan, entah mengapa hatinya menyuruhnya untuk menemani Aria. Ia pun duduk dan memegang tangan Aria. Aria sangat lucu saat tidur menurutnya, bisa dibilang, sangat cantik. Banyak memori yang berkelebat di pikirannya dan ia merasa dadanya ingin meledak. Ia pun tidak tahu, apa yang menyebabkan semua ini. Satu hal yang ia tahu saat itu, Draco mencintai Aria lebih dari yang ia inginkan.
Tiba-tiba pikiran itu buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Draco? Kau masih mandi?" tanya seseorang dibalik pintu. Aria, pikirnya. Aria kembali mengetuk, "kau masih mandi? Oh ya ampun! Aku tunggu di bawah." Ia pun mendengar Aria melangkah menjauh. Ia bergegas mengganti baju dan menyusul aria kebawah. Dan ia pun kaget dengan apa yang dilihatnya. Aria telah menata ruang tamunya dan ia sedang menata hiasan kertas diatas meja dan Dobby sedang menyalakan lilin kue ulang tahunnya. Aria sadar akan kehadiran Draco, dan segera melompat dari meja dan mendarat tepat di depan Draco.
"Hey hati-hati—"
"Happy birthday, Draco!" katanya sambil memeluk erat Draco. Ia pun tersenyum gembira.
"Kau menata semuanya... untukku?"
"Yap, Dobby juga membantu! Ternyata bibi sudah menyiapkan kue untukmu"
Draco melihat kue ulang tahunnya melayang-layang, kue itu berwarna putih dengan hiasan ular hijau yang melilit tiap tingkatnya—ia masih terpaku dengan kue tiga tingkat itu. Lalu ia melihat sekitarnya—masih shock— Ada sebuah hiasan kertas besar berwarna hitam bertuliskan "HAPPY BIRTHDAY DRACO" berwarna silver menyala-nyala. Burung-burung kertas berwarna biru muda berterbangan mengelilinginya. Ada beberapa kado besar, makanan dan minuman di meja bersama dengan kue yang melayang. Draco terdiam, hatinya bergejolak entah apa yang ingin ia lakukan.
"Draco...?" panggil Aria bingung.
Draco menatap Aria dan baru menyadari beberapa hal. Aria memakai bando berbentuk kepangan dengan sedikit bunga, rambutnya ia kepang menyamping. Ia memakai dress berwarna cream berlengan panjang, dress itu berbahan ringan dan flowing dengan hiasan bunga-bunga kecil dan payet. Ia terlihat begitu cantik, pikir Draco. Draco tersenyum kecil.
"Thanks, Anne" katanya lirih.
"Berhenti memanggilku Anne, Draco"
"Ga mau," Draco maju selangkah mendekati Aria dan memeluknya "kau begitu spesial untukku, maka itu kamu perlu panggilan spesial juga"
Aria terdiam, bingung apa yang harus ia lakukan. Ia bisa merasakan pipinya memerah. Draco melepaskan pelukannya dan tersenyum. Aria pun bergegas menghentikan moment yang—menurutnya—awkward itu dan meraih hadiahnya untuk Draco. "By the way, ini hadiahmu" kata Aria masih dengan pipi merona merah. Draco segera mengambil kotak kecil bergaris-garis putih-hijau itu dan membukanya. Ia kaget dengan apa yang dilihatnya, sebuah Golden Snitch.
"Anne ini...?"
"Golden Snitch, ya"
"Darimana kamu mendapatkannya?"
"Mungkin aku harusnya minta maaf terlebih dahulu, itu snitch milik ibuku." Kata Aria sambil melihat Draco, "Maaf untuk memberimu barang bekas, Draco"
"Kau tau?" Draco mendekati Aria, "Aku tidak peduli ini bekas atau baru, Aku sangat berterima kasih untuk hadiah ini Anne, kau taulah seberapa aku ingin menjadi seeker"
Aria tersenyum, ya, Ia tahu seberapa besar Draco ingin menjadi Seeker. Ia tahu jam berapa Draco tidur, apa sarapan favoritnya, warna favoritnya, yang mana baju kesukaannya, apa kebiasaannya, jam berapa ia makan siang, tempat bermain favoritnya, buku yang paling sering ia baca, binatang yang ia ingin pelihara. Aria tahu begitu banyak tentang Draco, ia pun sebenarnya sudah sadar akan perasaannya kepada Draco.
"Anne?"
"Ya, Draco?"
"Aku..." Lidah Draco kelu, jantungnya berdegup kencang semua memori melesat dipikirannya dadanya menahan semua gejolak, ia takut semuanya akan berubah. Akhirnya ia tersenyum dan berkata "Terima kasih..."
