-_ Ui Present _-

000 SUBTITUTE LOVE 000

Pairing : SasuFemNaru, …FemNaru

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC maybe, FemNaru, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan

Rated : T aja

Summary : "Dengar Naruto, jika kau membutuhkanku. Dimanapun kau berada, kapanpun itu panggil aku. Dan aku akan datang padamu." / "Uzumaki Naruto, tunggulah kebahagiaanmu." Ucap Sasuke singkat sebelum menjalankan motornya membelah heningnya malam di perumahan Akemi.

READ N RIVIEW PLEASE

DON'T LIKE READ

2. THE SECRET

Angin musim gugur berhembus dingin menerbangkan helaian helaian daun maple yang mulai menguning. Naruto merapatkan syal coklatnya lebih erat melingkari lehernya, tangan kecilnya memasuki sweater krimnya mencoba meraih kehangatan.

Ia melangkah pelan menyusuri taman penuh kenangan dalam hidupnya. Matanya menatap sendu sebuah bangku yang bernaung dibawah lindungan sebuah pohon maple yang telah berumur tua.

Naruto tersenyum miris menatap bangku itu, masih dapat ia lihat bayangan masa kecilnya disana. Masa dimana semua kebahagiaan tertumpah dalam hidupnya, tak ada cacat, tak ada kurang.

Naruto memposisikan diri dibangku itu,tempat dimana dulu sang Kaa-san biasanya akan mengawasinya dan Kyuubi yang bermain kejar-kejaran dengan tawa riang. Meski pada akhirnya Ia akan bersembunyi dipelukan ibunya ketika tak sanggup lagi berlari, diiringi Kyuubi yang berteriak kesal dan mengatainya itu terjadi sang Kaa-san akan mengacak rambut sang anak sulung yang mendengus kesal disertai tawa merdu yang dirindukannya.

Naruto hanya bisa tersenyum sedih mengingat semua kenangan yang berputar dikepalanya. Naruto menyentuh pohon maple tua yang menjadi saksi perubahan hidupnya itu. Ia menyusuri jengkal permukaan pohon itu, hingga berakhir pada sebuah ukuran. Ukiran yang dibuatnya dua tahun yang lalu, ukurinnya dan sang cinta.

R LOVE P

Ukiran yang dikikisnya sedikit demi sedikit dulu bersama sang belahan jiwa. Belahan jiwa yang kini menghilang dari sisinya, meninggalkan dirinya sendiri bersama cintanya yang bahkan masih bertahan hingga sekarang.

Naruto terisak pelan, semuanya begitu melukainya. Tak ada Kaa-san yang memeluknya hangat atau sang belahan jiwa yang akan menyanyikan senandung lembut untuk menghiburnya. Ya kini hanya ada dia dan lukanya.

/…

/…

Senandung instrument biola 'michi- to you all' terdengar pelan, Naruto meraba kantong sweaternya lebih dalam untuk mengambil HPnya yang tadi berbunyi.

"Moshi-moshi." Sapa Naruto.

"Kau ada dimana?" Sebuah suara jutek yang familiar menyapa gendang telinga Naruto.

"Aku ada ditaman, ada apa Kyuu?"

"Belikan aku lem dan apel." Ucap Kyuubi yang tampak sedang mengunyah sesuatu diseberang sana.

"Didekat rumah ada minimarket. Kenapa tak kesana saja?"

"Apa kau tak tahu udara sangat dingin heh. Aku tak mau mati hipotermia hanya untuk pergi kesana." Jawab Kyuubi tak masuk akal.

Sedang Naruto hanya tertawa kecil mendengarnya, mana ada orang terkena hipotermia hanya karena angin musim gugur. Kecuali karena orang itu sedang gila.

"Ya, baiklah." Ucap Naruto kemudian memutuskan sambungannya.

Ia tersenyum kecil, sekarang ia tahu apa alasannya masih bertahan hingga sekarang. Kyuubi, satu-satunya orang tersisa yang mampu membuatnya merasa sedikit rasa bahagia yang ia kira tak lagi ia rasakan. Ya, hanya Kyuubi. Kakak tercintanya.

/..

/..

Naruto tampak baru saja keluar dari sebuah minimarket tak jauh dari taman tempatnya tadi. Uap dingin mengepul dari diatas sana mulai menggelap hanya meninggalkan seberkas cahaya jingga yang tersisa.

"Dingin sekali malam ini." Ucap Naruto sambil menggosok gosok tangannya.

Naruto mulai menyusuri gang kecil jalan pintas menuju perumahan tempat tinggalnya. Sebenarnya ia tak suka melewati jalan ini, tapi bagaimana lagi Kyuubi pasti menunggunya sekarang.

Naruto menambah kecepatan langkahnya, entah mengapa ia merasa ada yang mengikutinya. Semua terbukti dengan adanya dua orang berandalan yang kini talah menghadang langkahnya.

"Hai gadis cantik." Ucap salah seorang dari mereka dan memegang dagu Naruto.

Naruto segera saja menepis kasar tangan pemuda itu.

"Kasar sekali eh."

"Jangan bermain lagi Zen. Hei bocah, cepat serahkan dompetmu." Naruto semakin berjalan mundur melihat mereka semakin mendekatinya.

'Apa yang harus kulakukan? Tuhan tolong aku.'

"Dengar Naruto, jika kau membutuhkanku. Dimanapun kau berada, kapanpun itu panggil aku. Dan aku akan datang padamu."

"Baiklah, mulai sekarang setiap detikku aku akan selalu memanggil Panda. Agar Panda selalu disampingku."

"Siapa yang kau panggil Panda heh? Kau itu Rubah kecil."

'Panda? Tuhan bolehkah aku perceya lagi?'

"Hah lama. Cepat pukul saja dan ambil dompetnya." Ucap salah satu preman bersiap memukul Naruto.

'Panda tolong aku.' Naruto hanya bisa pasrah memejamkan mata, berharap pukulan yang dirasa takkan terlalu sakit.

1 detik

5 detik

10 detik

Tak ada rasa sakit yang dirasa Naruto, yang ada hanya suara bedebam aneh. Ia memberanikan diri membuka mata, preman yang tadi hendak menyerangnya terkapar dijalan.

"Hei kau, ayo pergi. Kau tak mau menunggu mereka bangun dan memalakmu lagikan?" ucap seorang pemuda tampan dan berambut hitam dengan gaya emo. Mungkin orang itu yang telah menolongnya.

"Eh, baik." Entah mengapa Naruto percaya dan menyusul pemuda itu kearah sebuah motor hitam tak jauh dari tempatnya.

"Pegangan." Ucap pemuda yang mungkin kalian kenal dengan nama Sasuke itu, setelah dirasanya Naruto telah naik ke atas motornya. Sasuke segera melajukan motornya dengan kecepatan agak tidak normal, sehingga membuat pegangan kecil Naruto pada jaketnya berubah menjadi pelukan.

NARUTO POV

Pemuda ini entah mengapa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Ya mungkin seseorang yang pernah kulihat disekolah, aku memang jarang bergaul. Ya, yang kulakukan hanya menutup diri setelah dia pergi.

'Panda.'

Yang datang menolong bukan dia, mungkin memang aku harus menyerah. Aku harus memulai hidupku yang baru, hidup yang lebih bahagia untuk orang-orang yang menyayangiku seperti yang dikatakan Shikamaru.

Aku menghapus pelan pipiku yang terasa sedikit basah, entah mengapa aku jadi sangat cengeng hari ini.

"Dimana rumahmu?" sebuah suara menyentakku, suara orang yang tengah ku peluk pinggangnya.

"Perumahan Akemi, rumah No.13." jawabku singkat.

END NARUTO POV

/..

/..

Mereka saat baru saja tiba didepan salah satu rumah diperumahan Akemi, tempat Naruto dan Kyuubi tinggal. Apa kalian tak bertanya mengapa mereka tak tinggal di Namikaze mansion yang pastinya masih mampu menumpang mereka berdua. Tentu saja karena semua tak sama lagi.

"Terima kasih atas pertolonganmu, hmm.."

"Sasuke. Uchiha Sasuke." Ucap Sasuke memperkenalkan diri.

"Arigatou gonzaimasu, Uchiha-san. Aku tahu apa yang terjadi jika tak ada dirimu. Sekali lagi terima kasih." Ucap Naruto seraya merendahkan kepalanya.

"Hn. Siapa namamu?"

"Ah iya. Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal Uchiha-san." Ucap Naruto dengan sedikit senyum, tentu saja hanya untuk menunjukkan kesopanaan pada orang yang baru saja dikenalnya itu.

"Hn. Masuklah." Perintah Sasuke.

"Baiklah. Selamat malam Uchiha-san." Ucap Naruto kemudian berlalu memasuki gerbang rumahnya.

Sasuke memandang kepergian Naruto, ia bisa lihat perbedaan itu. Senyum Naruto yang tadi dilihatnya sangat berbeda, tak seperti senyum indah yang dilihatnya disemua foto yang ditunjukkan sepupunya.

"Uzumaki Naruto, tunggulah kebahagiaanmu." Ucap Sasuke singkat sebelum menjalankan motornya membelah heningnya malam di perumahan Akemi.

/..

/..

Naruto melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah ketika sampai di ruang tengah yang berdesain tradisional dengan sentuhan lantai tatami dan berbagai peralatan yang berbau tradisional. Tak seperti ruang tamu yang tadi dilewatinya yang berdesain modern klasik .

Tentu saja semua ini Kyuubi yang mendesainnya, sebagai seorang mahasiswa arsitektur ini merupakan hal yang menyenangkan.

Dilihatnya Kyuubi baru saja keluar dari dapur sambil membawa sebuah mug yang nampaknya berisi coklat hangat.

"Aku pulang, Kyuu." Salam Naruto kemudian meletakkan belanjaan disebuah meja rendah yang cukup penuh dengan miniature rumah yang dibuat Kyuubi dan kerangaka lain yang berserakan disekitarnya.

Naruto mendudukan diri disalah satu zaisu yang tersedia, melihat kertas rancangan Kyuubi dan mulai menyusun kerangka yang lain dengan lem yang baru saja dibelinya. Jangan tanyakan kenapa Naruto melakukannya, karena memang sudah jadi kebiasaan Naruto untuk membantu Kyuubi seperti ini.

Melihat adiknya mulai menekuni acaranya, Kyuubi ikut mendudukan diri dizaisu sebelah kanan Naruto mulai melakukan hal yang serupa dengan Naruto.

"Kenapa lama sekali? Kau membuatku lumutan menunggumu." Ucap Kyuubi dengan nada khasnya disela-sela pekerjaannya.

"Gomen Kyuu. Ada sedikit masalah yang terjadi dalam perjalanan pulang tadi."

"Masalah? Kau melihat bazar ramen dan makan banyak hingga lupa waktu lagi eh ?" ucap Kyuubi dengan nada sakratis.

Naruto hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Kyuubi. Dulu memang dia pernah melupakan perintah Kyuubi untuk membeli lem dikarenakan melihat bazar ramen dan makan banyak disana hingga lupa waktu. Dan hasilnya ia harus merasakan balasan dari Kyuubi yang dengan tidak berperikeramenan membuang semua persediaan ramen Naruto.

"Tidak, aku sudah kapok dengan itu. Ada preman yang menghadangku diperjalanan pulang tadi." Ucap Naruto sambil meregangkan tangannya ketika replica Kyuubi selesai.

"Preman mana yang beraninya menahan apelku dan menghambat pekerjaanku. Akanku buat mereka menyesal karena membuatku harus membuat coklat panas sendiri."

"Aku baik-baik saja Kyuu, tadi ada orang yang menolongku." Ucap Naruto kemudian meminum coklat panas yang tadi dibawa Kyuubi.

"Siapa yang mengkhawatirkanmu, hei itu coklatku." Teriak Kyuubi melihat gelasnya telah berpindah tangan ke tangan Naruto.

"Ya sudah aku pergi saja." Ucap Naruto sebelum beranjak.

"Tunggu, siapa yang menolongmu?" Tanya Kyuubi.

"Rahasia, weeekkk.." ucap Naruto sambil menjulurkan lidahnya.

"Awas kau ya."Ucap Kyuubi seraya mengejar Naruto, melakukan yang dulu sering mereka kerjakan dimasa kecil mereka.

"Kena kau sekarang. Awas kau ya, aku takkan mengampunimu." Ucap Kyuubi yang berhasil menangkap Naruto dan mulai mengelitikinya. Sedang Naruto hanya bisa tertawa lepas ketika rasa geli melanda daerah sekitar perut dan pinggangnya itu.

"Ha..ha..ha.., ampun Kyuu ampun. Ha..ha…" pinta Naruto disela-sela tawanya.

Kyuubi menghentikan kelitikannya pada perut Naruto, ditatapnya wajah sang adik teduh. Ia tersenyum kecil melihat tawa Naruto yang jarang sekali dilihatnya 2 tahun terakhir.

Sedang Naruto yang merasa diperhatikan mendongak melihat wajah sang kakak yang melihatnya teduh. Melihat tatapan itu ingin sekali ia memeluk sang kakak mengucapkan kata maaf dan terima kasih sebanyak yang ia bisa.

"Kau tahu Rubah Kecil, kau jelek sekali ketika tertawa." Ucap Kyuubi seraya membingkai kedua sisi wajah Naruto dan menatap mata indah itu dalam.

Naruto segera saja memeluk Kyuubi, membenamkan wajahnya dalam dada bidang sang kakak. Menghirup aroma tubuh orang selalu menemani dan melindunginya.

"Gomen, Gomenasai Oni-chan. Gomenasai hiks." Naruto mulai terisak, sedang Kyuubi hanya bisa memeluk tubuh rapuh sang adik kesayangan. Mencoba memberitahu kalau ia akan selalu disamping Naruto, melindunginya dengan segala hal yang ia bisa.

/..

/..

Di sebuah café tampak seorang gadis manis tengah menyesap cappuccino, ia tengah menunggu sahabat kakaknya disini. Ia menggosokkan kedua tangannya berharap rasa dingin yang menderanya sedikit berkurang.

"Hinata. Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Sasuke mendudukan diri dihadapan Hinata.

"Ah, tidak apa-apa Sasuke-san. Aku baru saja tiba kok." Ucap Hinata dengan khas malu-malunya.

"Jadi Hinata bisakah kau membantuku?" Tanya Sasuke meski ekspresi wajahnya tak banyak berubah tapi ada nada penuh harap dari ucapannya.

"Baiklah, aku rasa ini memang yang terbaik. Aku ingin melihat sahabat baikku tersenyum seperti dulu lagi. Jadi apa yang bisa kulakukan untuk membantumu Sasuke-san?" Tanya Hinata, tak ada lagi nada malu-malu. Yang sekarang ada di benaknya adalah bagaimana ia bisa mengembalikan senyuman sahabat kecilnya itu.

"Ceritakan padaku bagaimana perubahan Naruto setelah ia pergi. Dan selanjutnya akan kujelaskan bagaimana langkah yang akan kita tempuh." Ucap Sasuke serius.

"Baiklah." Hinata memulai ceritanya, bagaimana Naruto yang dulunya begitu ceria dan kuat menjadi seperti sekarang ini.

/..

/..

"Kau anak pembawa sial, kau penyebab Kushina pergi. Pergi kau dari hadapanku, aku tak mau melihatmu lagi."

"Tidak Tousan, jangan salahkan aku jangan."

"Naruto jika aku tak ada disampingmu kau harus baik-baik saja. Kau tidak boleh tenggelam lagi."

"Tidak jangan pergi, aku membutuhkanmu. Aku tak bisa berdiri tanpamu, jangan tinggalkan aku seperti Kaa-san. Jangan…"

"Jangan pergi." Naruto terbangun dari mimpinya, lagi lagi seperti ini.

"Hiks.. hiks." Naruto meremas piyamanya keras tepat didadanya, rasanya sesak. Napasnya tersenggal disela-sela tangisannya.

"Tuhan, apa aku begitu dosa? Kapan semua ini berakhir Tuhan. Aku sakit,ku mohon dengarkan aku Tuhan." Tangis Naruto semakin menjadi, ia merasa ia tak sanggup sungguh tak sanggup. Dia ingin bangkit tapi bagaimana jika semua ini terus menghantuinya.

Naruto menatap lemari pendek disebelah tempat tidurnya. Ia membuka sebuah laci dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Ia menatap rindu benda yang ternyata sebuah pigura itu.

"Kenapa kau pergi, kenapa kau tinggalkan aku? Aku terlalu bergantung padamu." Naruto hanya bisa bertanya, ia tak mengerti kenapa orang yang dicintainya tiba-tiba pergi tanpa kabar.

Naruto mulai membaringkan diri bersama pigura itu.

"Mengapa kau pergi?"

Di pigura itu tampak foto dua orang yang saling berpelukan. Sang gadis yang kita kenal dengan nama Naruto tengah memegang topi dengan tangan kiri dengan mengedipkan salah satu matanya nakal. Sedangkan sang laki-laki merangkul bahu Naruto seraya tersenyum simpul, wajahnya tampak tampan dengan bingkai surai merahnya.

"Gaara." Igau Naruto dalam tidurnya.

TBC

OK, chapter dua selesai. Lebih cepat dari perkiraan, karena Ui sedang libur hahai..! #Dibunuh kakak kelas karena bahagia di atas penderitaan mereka.

Semua telah dibuka dichapter ini siapakah 'dia', penyebab Naruto bersifat seperti ini. Aku akan beri penjelasan sedikit disini karena susah sekali menyisipkan penjelasan dicerita yang sedih.

Naruto dkk disini sekolah disebuah sekolah seni yang terdiri dari 4 gedung dan setiap gedung ditempati 2 jurusan masing-masing gedung ada perpustakaan dan kantinnya -mewah banget-

barat: jurusan seni music dan drama/acting

selatan :seni kriya dan tari

timur : fotografi dan arsitektur

utara : ruang guru, TU, kantor kepala sekolah, dan aula pertunjukan dan tempat pameran.

Balasan riview :

Nakamura Nezumi : Syukurlah kalau fic ini mampu membuatmu penasaran Nezumi-chan –aku juga boleh panggil begitukan?-. kelihatannya masa lalunya udah aku buka di chapter ini semua. Untuk typo apa dichapter ini masih ada? Aku sudah berusaha hati-hati agar tidak tertangkap typo-?- silahkan aku akan sangat senang sekali.

Narusaku20 : Jawaban anda salah -kaya' kuis aja-, bukan Sai tapi Gaara, he..he.. aku harap rasa penasaranmu terobati dengan chapter kedua ini karena sudah mulai dibuka nih.

Jimi-li : salam kenal juga, benarkah menarik? Syukur kalau begitu, karena aku pikir cerita seperti ini dah banyak. Yang sudah pergi adalah Gaara. Ini update, apa ini lama?

Yuu-chan : hai juga Yuu-chan. Aku senang berhasil membuatmu penasaran, he..he… siapa orang itu? Sudah dijawab dichapter ini yaitu Gaara. terima kasih, aku pikir ide cerita kayak gini dah banyak.

Imperial Nazwa-chan : benarkah menarik? Orang dimasa lalu Naruto dah dijawab dichapter ini.

Baiklah aku ucapkan pada reader semua yang sudah mau meriview, membaca, ataupun hanya membuka. Terima kasih banyak, aku harap chapter ini tidak mengecewakan.

Special thank you untuk semua lagu Super Junior yang menemaniku membuat fic ini.- Apa disini ada yang seorang ELF?-

-_Uichan…..