Disclaimer: Katekyo Hitman Reborn adalah milik Amano Akira, penulis tidak mengambil keuntungan material dalam penulisan fanfik ini

Warning: AR, OOC, OC, Slash, Mpreg, typo, etc

Rating: T

Genre: Romance, Family

Pairing: 1827, D00, slight!18D


OUR TRUE STORY

By

Sky


Mencintai seorang Hibari Kyoya itu adalah sebuah pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Tidak hanya karena orang yang dimaksud tidak pernah melihat ke arahnya selain keprofesionalan, namun juga dikarenakan situasi mereka berada sangat berbeda dari harapan yang ada saat ini. Tsuna tidak berani mengutarakan perasaannya yang sudah terpendam selama tiga tahun terakhir kepada penjaga awannya, oleh karena itu ia memilih untuk memendamnya sampai detik ini dan Tsuna pun merasa senang karena tidak ada orang yang mengetahui bagaimana perasaannya, bahkan Reborn yang terkenal selalu bisa membaca pikirannya tersebut tidak bisa mendeteksi bagaimana perasaan Tsuna yang sebenarnya.

Pada usianya yang baru menginjak angka 17 tahun tersebut, Tsuna tidak hanya dihadapkan pada permasalahan pelik karena ia telah menerima untuk menjadi seorang Vongola Decimo yang mengharuskannya untuk meninggalkan kehidupan lamanya, namun ia juga harus menyaksikan orang yang ia cintai harus mencintai orang lain yang Tsuna anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.

Pemuda berwajah manis itu hanya bisa tersenyum getir ketika ia melihat pemandangan yang ia lihat sekarang ini, dan meskipun ekspresinya menggambarkan sebuah kelembutan serta ketenangan, hati Tsuna benar-benar hancur layaknya sebuah boneka kaca yang terbentur ke lantai di mana benda itu pecah berkeping-keping.

Rasanya begitu sakit, hatinya ingin memberontak padanya dan bersama dengan otaknya memerintah Tsuna untuk pergi dari tempat itu, atau paling tidak ia harus memalingkan pandangannya dari pemandangan itu bila Tsuna tidak ingin jiwanya terus tersakiti secara langsung sebelum mereka membunuhnya pelan-pelan.

Mencintai Hibari Kyoya itu memang berat, terlebih bila sang Penjaga awannya sendiri sudah memiliki hubungan romantisme dengan sosok pemuda yang menganggap Tsuna sebagai adiknya sendiri. Dan meski Tsuna sudah mencoba untuk melupakan dan membuang perasaan tersebut, ia selalu gagal untuk melakukannya karena rasa cintanya kepada Kyoya itu terlalu besar untuk bisa dilupakan. Pernah sekali Tsuna bertanya pada dirinya apakah ia seorang masokis yang terus-terusan mengharapkan Kyoya yang sebenarnya sudah dimiliki oleh orang lain. Dan ketika ia melihat ke belakang, Tsuna pun menemukan jawabannya kalau ia memang seorang masokis yang tak bisa berbuat banyak. Reborn sudah menjadikannya seorang masokis akibat tindakan ekstrimnya tersebut, mungkin Tsuna bisa menyalahkan Reborn karena itu.

Tapi, apakah Tsuna harus menyalahkan Reborn karena Kyoya menjalin hubungan dengan Dino di mana mereka terlihat begitu harmonis selama beberapa bulan ini? Apakah Tsuna juga harus menyalahkan Reborn karena Tsuna sudah jatuh cinta pada orang yang seharusnya tidak boleh ia cintai sebagai pasangan? Dan apakah itu juga salah Reborn karena Tsuna tanpa sengaja melihat pemandangan di mana Kyoya menghimpit Dino pada sebuah dinding di koridor sekolah yang sepi serta menciumnya dengan ganas seperti mereka adalah dua pasang hewan yang haus akan satu sama lainnya? Pemuda itu bisa membayangkan Reborn akan menghajarnya kalau gurunya tersebut mengetahui apa yang Tsuna pikirkan sekarang ini.

Tsuna, kau harus segera pergi dari sana. Kau mengganggu privasi Hibari-san dan Dino-san, pergi dari tempat itu dan selamatkan dirimu dari perasaan sakit itu! Teriakan hati Tsuna kepada dirinya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir sejak Tsuna tahu Kyoya menjalin hubungan dengan Dino dan Tsuna merasa tersakiti, ia mendengarkan akal sehatnya. Untuk itu, Tsuna pun segera beranjak dari tempatnya berdiri dan segera berlari secepat mungkin dari sana, ia berlari kencang keluar dari SMA Namimori menuju ke arah rumahnya. Ia tidak peduli kalau ekspresi sendu merekah di wajahnya, ia juga tidak peduli kalau sebutir air mata turun dari pelupuk matanya sebelum benda bening itu dibawa oleh angin ketika Tsuna berlari, namun yang terpenting Tsuna tidak tahu kalau setelah Tsuna berlari meninggalkan tempat itu Kyoya langsung meninju Dino dan memberikan tatapan ganas padanya, membuat bos kesepuluh keluarga Cavallone tersebut tersungkur di atas lantai dengan tangannya memegang rahangnya yang panas serta sakit akibat tinjuan 'kekasihnya' itu.

"Ouch... kau tidak perlu meninjuku seperti itu, Kyoya, aku tahu kau tidak suka berpura-pura menciumku apalagi menjadi kekasihku, tapi aku benar-benar minta bantuanmu," sahut Dino dengan cengiran di wajahnya. Pemuda itu mendesis singkat saat mengetahui bibirnya bengkak.

Hanya tatapan ganas yang berlipat gandalah yang menjadi jawaban dari Kyoya. Pemuda berambut hitam yang kini menginjak usia 19 tahun –yang karena sebuah alasan tertentu ia masih menjadi prefek, baik itu di SMP Namimori dan SMA Namimori– tersebut ingin sekali menghajar 'gurunya' itu sampai pemuda berambut pirang tersebut tak bisa bangun lagi.

"Katakan padaku sekali lagi, untuk apa aku harus setuju berpura-pura menjalin hubungan dengan seorang herbivora sepertimu, Cavallone?!" Kyoya menggeram, murka karena ia sudah dijebak oleh Dino untuk setuju mengikuti permainan bodoh yang Dino buat tersebut, ia tidak pernah setuju untuk melakukannya.

Dino meringis akibat tatapan ganas yang Kyoya berikan kepadanya, ia sudah terbiasa dengan mood yang naik turun dari muridnya tersebut.

"Ayolah, Kyoya, kau setuju untuk membantuku di sini untuk mendapatkan Enma. Dan satu-satunya yang bisa menggerakkan hati malaikatku itu hanya rasa kecemburuan yang bisa ditimbulkan ketika melihatku denganmu. Kyoooyaaa... kau sudah berjanji," jawab Dino dengan rengekan di akhir kalimatnya, membuat Kyoya ingin membunuh Dino. Pemuda itu pun langsung berkelit dari hantaman tonfa yang Kyoya layangkan kepadanya, namun karena Romario ataupun bawahannya tidak ada bersama dengannya saat ini, Dino pun terpeleset karena angin sebelum jatuh terduduk di atas lantai yang dingin dan keras. Alhasil, pukulan tonfa dari Kyoya pun mengenai kepalanya untuk yang kesekian kalinya.

"Kau bisa menggunakan orang lain, Herbivore, dan aku tidak pernah setuju untuk membantumu di sini," desis Kyoya, pemuda itu benar-benar marah.

"Kau sudah mengatakan setuju waktu itu, Kyoya, ingat... tiga bulan yang lalu setelah pesta pengangkatan Tsuna menjadi Vongola Decimo kita membuat kesepakatan itu."

Kyoya tidak mengatakan apapun karena ia tahu yang Dino katakan adalah benar. Dirinya ingat telah membuat kesepakatan dengan Dino kalau ia akan membantu kuda bodoh ini untuk mendapatkan Bos dari keluarga Shimon sebagai kekasihnya dengan berpura-pura menjalin hubungan dengan Kyoya. Untuk sejauh ini, taktik yang Dino lakukan memang berhasil, Enma terlihat begitu cemburu dan terluka setiap kali ia melihat Dino bersama dengan Kyoya, atau secara tak langsung melihat Dino yang didominasi oleh Kyoya –Kyoya tak sudi dirinya menjadi 'wanita' dalam sebuah hubungan, bahkan dalam hubungan bohongan dengan Dino Cavallone– dalam sebuah kepura-puraan belaka. Sayangnya, sejauh ini Enma tidak melakukan apapun kecuali pergi dan menghiraukan semua itu. Dan sialnya bagi Kyoya, ia tahu dirinya telah membuat orang yang diam-diam ia sukai semakin menjauh padanya dan bukannya mendekat, bahkan tak jarang Kyoya juga melihat Tsuna menangis seperti apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Ia tahu Tsuna ada di sana, namun karena perjanjian bodoh ini ia harus menyakiti sang Vongola Decimo.

Kyoya itu adalah orang yang memiliki harga diri tinggi dan juga seorang yang sadis, ia ingin melihat sejauh mana Tsuna bisa bertahan dalam kecemburuan yang memakannya tersebut sampai Tsuna menghampirinya dan mengatakan kalau sebenarnya ia mencintai Kyoya. Dan pada saat itu terjadi, Kyoya akan mendeklarasikan kepemilikannya kepada sang Langit yang begitu ia sukai tersebut lalu membunuh Dino untuk yang kesekian kalinya. Sampai saat itu tiba, Kyoya akan terus berpura-pura untuk menjadi kekasih Dino meski sesungguhnya Kyoya ingin sekali muntah setiap kali berciuman dengan si Kuda bodoh itu maupun memeluknya dalam artian romantisme dan semacamnya. Kyoya itu tidak memiliki ketertarikan seksual kepada laki-laki maupun perempuan, ia hanya tertarik pada sosok mungil yang bernama Sawada Tsunayoshi saja.

"Kyooooyyaaa... jangan hiraukan aku!" Rengek Dino yang sepertinya tidak jera meski sudah berkali-kali dihajar oleh Kyoya.

Merasa geram karena Dino sudah mengganggunya dalam berpikir, pemuda berambut hitam itu pun mengambil kuda-kuda yang menandakan kalau ia akan memasuki pertarungan, dengan kedua tonfanya terangkat, dan ia terlihat begitu mengintimidasi –serta luar biasa berbahaya–.

"Herbivore, aku akan menggigitmu sampai mati!"

Dan teriakan dari Dino pun membahana di dalam SMA Namimori karena dia dihajar oleh Kyoya yang murka. Malangnya Dino, ia tidak memiliki Romario di sampingnya sehingga ia pun tidak bisa melawan serangan yang Kyoya berikan kepadanya.


Tsuna terus berlari menyusuri jalanan untuk segera mungkin sampai di rumahnya. Ia ingin masuk ke dalam kamarnya dan menumpahkan segala isi hatinya dalam sebuah kesedihan yang ia rasakan. Sang Vongola Decimo tersebut masih bisa melihat bagaimana Kyoya mencium Dino tepat di hadapannya dan betapa mesranya mereka berdua. Ia tahu kalau dirinya mencintai Kyoya maka dirinya harus bahagia ketika Kyoya bahagia, meskipun orang yang membuat penjaga awannya bahagia bukanlah Tsuna. Namun, rasanya susah sekali merelakan Kyoya untuk bersama dengan orang lain. Ia ingin sekali berteriak kepada Kyoya kenapa pemuda itu tidak bisa memilih Tsuna, melihat Tsuna seperti ia melihat Dino, dan Tsuna pun ingin sekali mengatakan pada Dino kalau Kyoya adalah miliknya sehingga Dino tidak boleh merenggut apa yang menjadi miliknya.

Ia hampir saja melakukan semua itu beberapa saat yang lalu, untungnya akal rasional milik Tsuna masih bekerja, dan karena pelajaran "menjadi seorang bos mafia yang sempurna" dari Reborn itu sudah mengakar dalam otaknya maka Tsuna pun dapat mengekang semua keinginan tersebut. Tsuna tidak boleh menjadi orang yang egois, dan bila Kyoya memang bahagia dengan Dino maka ia pun harus merelakan penjaga awannya tersebut. Mungkin saat ini hatinya masih belum bisa menerima hal itu, tetapi suatu saat ketika luka hatinya sudah bisa terobati sedikit demi sedikit maka ia akan bisa melupakan rasa cintanya untuk Kyoya.

Aku harap aku bisa setegar itu, pikir Tsuna. Ia merasa senang sekali kala itu Gokudera dan Yamamoto tidak bersama dengannya karena Tsuna ada tugas piket sehingga mengharuskan pemuda itu untuk pulang telat, setidaknya ia tidak akan memperlihatkan ekspresi jeleknya ini kepada kedua sahabat baiknya tersebut serta membuat mereka berdua khawatir.

Kedua kaki Tsuna pun pada akhirnya pun menuntun Tsuna untuk tiba di rumah kediaman keluarga Sawada. Ia memandang rumahnya untuk beberapa saat lamanya, dan tak jarang ia pun mengusap kedua matanya dengan lengan panjang jas seragamnya serta menepuk kedua pipinya, sehingga Tsuna pun tidak terlihat seperti orang yang baru saja patah hati dan membuat Ibunya khawatir. Setelah ia mengambil napas dalam-dalam, pemuda yang baru saja menginjak usia di angka 17 tersebut langsung masuk ke dalam rumah setelah memberitahu kedatangannya.

Tidak lebih dari lima detik kemudian, Ibu dari Tsuna yang bernama Sawada Nana muncul dari dalam dapur untuk menyambut kedatangan Tsuna.

"Selamat datang, Tsu-kun, hari ini kau telat sekali," ucap sang Ibu yang parasnya begitu mirip dengan Tsuna tersebut, dengan senyum ramah terpatri di bibirnya.

Melihat wajah sang Ibu, Tsuna pun mau tidak mau memberikan sebuah senyum kecil seraya melepas sepatunya dan meletakkannya di dalam rak sepatu.

"Hari ini aku ada piket kelas, Mama, oleh karena itu aku pulang telat," jawab Tsuna dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.

Nana hanya menatap sosok sang Putera dalam diam. Mungkin karena intuisi sang Ibu lah oleh karenanya Nana bisa menangkap ada sebersit kesedihan yang muncul di dalam sosok Sawada Tsunayoshi, dan hal itu membuat Nana khawatir. Tetapi ia tidak ingin memaksa Tsuna untuk memberitahu apa masalahnya yang membuat dirinya sedih, ia tahu Tsuna adalah anak yang tegar dan juga sudah besar, Tsuna bisa mengatasi masalahnya sendiri. Terlebih, bila Tsuna membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya, maka Nana akan ada di samping Tsuna untuk mendengarkan semua itu.

"Mou... kalau begitu cepat ganti bajumu lalu segera bergabung dengan yang lainnya untuk makan malam," ajak Nana dengan nada ceria.

"Terima kasih, Mama, namun aku tidak terlalu lapar sekarang ini. Aku akan segera beristirahat saja karena aku sangat lelah," kata Tsuna dengan nada tenangnya, ia tahu dirinya membuat sang Ibu khawatir, namun ia tidak bisa membantu untuk merasakan semua ini.

"Baiklah kalau begitu, Mama akan menyimpan makan malammu kalau nanti kau lapar, Tsu-kun."

Sebuah anggukan kecil pun Tsuna berikan kepada Nana sebelum ia beranjak dari tempat itu, ia ingin segera tidur dan melupakan semua perasaan yang menyakitkan ini. Mungkin dengan tidur Tsuna bisa melupakan pemandangan menyakitkan Kyoya dengan Dino tersebut. Baru saja Tsuna akan menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua, langkah pemuda itu pun tertahan dan ia langsung menoleh ke belakang ketika Nana memanggilnya. Kedua matanya pun terbelalak ketika ia melihat senyum ceria milik sang Ibu, begitu menenangkan, dan membuatnya sedikit baikan. Terlebih lagi dengan ucapan yang Nana ucapkan kepadanya, mau tidak mau Tsuna pun kini memberikan sebuah senyum tulus untuk pertama kalinya setelah ia dilempar pada kenyataan. Ibunya memang yang terbaik, dan setelah mengucapkan terima kasih untuk sekali lagi kepada sang Ibu, ia pun langsung naik ke lantai dua sebelum masuk ke dalam kamarnya.

"Tsu-kun, Mama tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Tsu-kun harus ingat kalau Tsu-kun tidak sendirian, kalau Tsu-kun mau bercerita maka Mama akan ada di samping Tsu-kun untuk mendengar semua ceritanya."

Ucapan dari Sawada Nana itu membuat Tsuna tersenyum lepas, ia menyandarkan punggungnya pada pintu kamarnya yang sudah ia tutup, dan perlahan ia pun merosot ke bawah sampai dirinya duduk di atas lantai.

"Terima kasih, Mama," gumam Tsuna dengan senyum kecil yang masih terpatri di bibirnya.

Sebutir air mata pun mengalir dari sudut mata kanannya ketika pemuda itu memejamkan kedua matanya. Berkat ucapan Nana, Tsuna merasa begitu baikan dan hatinya yang tadi terasa sakit kini terobati sedikit demi sedikit.

Mencintai Hibari Kyoya itu mungkin sebuah pekerjaan yang sulit dan membuat Tsuna menjadi seorang masokis, namun setidaknya ia masih memiliki seorang Ibu yang begitu pengertian dengannya. Tsuna merasa beruntung dilahirkan dalam keluarga ini dan memiliki seorang Ibu seperti Sawada Nana, meski sering kali Tsuna harus menghadapi kegilaan keluarganya akibat kedatangan Reborn tiga tahun yang lalu dalam hidupnya.

"Terima kasih..."


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca

Author: Sky