"oh ya, Papa ini bibi Hinata, dia yang tadi membantuku mencari papa yang tiba-tiba menghilang.. dan bibi, ini papa-ku Namikaze Naruto"

Hinata bersumpah, ia bisa melihat bagaimana tubuh Pria itu terperanjat saat melihatnya dan kemudian tanpa diduganya pria pirang yang baru saja diketahuinya bernama Namikaze Naruto itu tiba-tiba memeluknya erat dihadapan semua orang "Hinata, kau kah itu?"

Sama seperti saat ia menyentuh bocah kuning yang baru ditemuinya tadi, saat pria ini memeluknya pun ia merasa ada perasaan asing yang menyambut hatinya. Rasanya ia begitu familier dengannya, rasanya begitu... hangat, sesak.. seolah-olah ia begitu merindukannya, padahal mereka baru bertemu.

"tolong lepaskan aku Namikaze-san, dan maaf saya tidak mengenal anda. Siapakah anda? Apakah kita saling mengenal sebelumnya?" .

.

.

MAMA, REMEMBER US !

Chapter 2

.

.

Disclaimer Naruto by Masashi Kishimoto

.

.

.

o0o

.

.

.

Alynda B Present ^_^

.

.

.

"tolong lepaskan aku Namikaze-san, dan maaf saya tidak mengenal anda. Siapakah anda? Apakah kita saling mengenal sebelumnya?" .

Kalimat yang keluar dari wanita indigo itu membuat Naruto reflek melepaskan pelukannya. ditatapnya wanita cantik itu dengan tatapan terluka. Ia sungguh tidak pernah membayangkan Hinata akan berkata seperti itu. "apa maksudmu Hinata? ini aku Naruto"

"a-aku tau itu, Boruto-kun tadi sudah menyebutkan namamu dengan jelas Namikaze-san. Yang aku maksud disini bukan namamu, tapi siapa dirimu? A-apa kita p-pernah saling kenal sebelumnya? Apa dulu mungkin kita.. er..berteman atau s-sejenisnya? " hei..tunggu dulu, apa ia baru saja berbicara gagap? Hinata hanya gagap saat ia berbicara dengan keluarganya atau orang yang benar-benar dekat dengannya. Lalu, kenapa ia gagap saat berbicara dengan Naruto? Apa ia jadi gugup karena Naruto tadi memeluknya, atau?

"Naruto, panggil aku Naruto-kun seperti dulu, Hinata-chan."

"kun? Apa m-maksudmu dulu aku m-memanggilmu menggunakan n-nama depanmu dan dengan suffix 'kun'? apa du-dulu kita sedekat itu Namikaze-san?"

Naruto menghela nafas berat, ada apa dengan Hinata sebenarnya? Apa ia sudah melupakannya?

Deg..

Tunggu, Hinata melupakannya... Jika dilihat dari cara Hinata melihat dan berbicara kepadanya, sepertinya hal tersebut benar adanya, tapi kenapa? pemikiran tentang hal itu benar-benar membuat pria pirang itu merasakan sakit di dadanya.

Melihat raut wajah Naruto yang tiba-tiba pucat dan sarat akan rasa sakit itu memunculkan perasaan asing yang tidak menyenangkan di hati Hinata. "K-kau ti-tidak apa-apa Namikaze-san? Apa k-kau sakit?"

"papa daijobu?" Naruto tersentak saat ia merasakan sentakan kecil di lengannya. Ia mendapati tatapan khawatir dari dua manik berbeda dihadapannya. Ia mengangguk, di tepuknya pelan puncak kepala putranya "ehm.. aku baik-baik saja Boruto, Hinata".

Kkkrrriiiiuuuukkk...

Perutnya berbunyi keras tepat setelah Naruto berkata bahwa dirinya baik-baik saja, membuat pria itu tersenyum salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "er.. mungkin sedikit lapar, aku belum makan seharian ini".

Kkkrrriiiiuuukkk... bunyi perut yang lebih kecil dari yang pertama tadi sukses mengalihkan perhatian Hinata dan Naruto yang masih tersenyum kikuk ke arah Boruto yang sedang menunduk sambil memegang perutnya.

"a-aku juga lapar" rona tipis muncul diwajah tampan bocah pirang kecil itu membuatnya terlihat semakin menggemaskan. Hinata berjongkok didepan bocah kecil itu sambil tersenyum lembut.

"aku tidak bisa membiarkan laki-laki tampan sepertimu kelaparan sayang. Aku akan memasak masakan lezat malam ini, kupikir bahan masakan yang tadi kubeli seharusnya cukup bahkan untuk 10 porsi orang dewasa. Jadi apa kau mau mampir di apartemenku Boruto?"

Tawaran menggiurkan yang diucapkan wanita cantik dihadapannya membuat manik safir Boruto berbinar. Bocah itu menatap Naruto dengan pandangan memohon. Boruto melompat masuk kedalam pelukan papa-nya saat ia mendapatkan anggukan persetujuan dari pria itu. "Terima kasih papa"

Hinata tertawa pelan melihat tingkah kedua laki-laki pirang dihadapannya. "Baiklah pria tampan, bawa barang-barang ini dan ikuti aku" tunjuk Hinata pada Naruto yang kini mengangkat satu alisnya saat mendengar kata-kata wanita cantik itu.

"kalau k-kau pria s-sejati kau tidak akan membiarkan wanita s-sepertiku membawa beban b-berat. Lihatlah t-tangan dan kaki kecil m-milikku ini" Naruto tertawa keras mendengar ucapan merajuk wanita indigo dihadapannya yang sedang menatapnya tajam sambil meletakkan kedua tangannya dipinggang mungilnya.

Hinata kembali tersenyum lembut saat pria pirang itu mengambil barang-barang belanjaannya yang tadi tergeletak dilantai dan melenggang pergi terlebih dulu. Setelah itu Hinata menunduk dan mendapati Boruto yang juga tersenyum memandangnya. "Ayo pergi sayang, kau tidak ingin papa-mu yang tercinta itu menghilang lagi kan?" Boruto hanya terkekeh mendengarnya.

Ini gila dan tidak masuk akal ! hati Hinata terasa menghangat karena sepasang ayah dan anak yang baru saja dia temui.

.

.

.

o0o

.

.

.

"jadi bibi bisa memasak?" Hinata mengangguk lalu tersenyum.

"aku tidak akan menawarimu makanan jika aku tidak bisa memasak Boruto. Kau ingin aku membuatkan sesuatu untukmu makan malam nanti?" Cengiran lebar muncul diwajah Boruto.

"apa bibi mau membuatkan ramen yang lezat untukku?" Hinata terkekeh saat melihat pandangan penuh harap yang menggemaskan di wajah Boruto.

"Tentu saja Boruto, aku akan membuatkannya untukmu jika kau bersikap baik dan membantuku menata meja nanti" Hinata kembali fokus pada jalanan setelah ia mendapatkan anggukan dari bocah pirang tampan disebelahnya.

Hinata mengendarai mobilnya sendiri yang ia bawa tadi bersama Boruto, sedangkan Naruto lebih memilih menggunakan mobilnya dan mengikutinya di belakang.

.

.

.

"Apa tidak apa-apa kami ikut makan malam di apartemenmu Hinata-chan?" Tanya Naruto saat mereka baru saja tiba di apartemen Hinata. Boruto langsung pergi berkeliling apartemen Hinata sedangkan ia mengikuti wanita itu ke arah dapur dan meletakkan belanjaannya di atas meja.

Wanita itu mengerutkan alisnya sebentar sebelum dia menjawab pertanyaan Naruto. "T-tentu saja ti-tidak apa-apa Namikaze-san. Lagipula s-sudah lama a-aku tidak mengundang o-orang lain untuk m-makan malam di apartemenku" 'dan sudah lama juga aku tidak berbicara gagap seperti ini dihadapan orang lain yang baru kukenal' tambah Hinata didalam hati.

Naruto hanya diam memandang punggung Hinata yang sedang mengolah bahan masakan dengan cekatan. Wanita itu sedang mengaduk masakannya dan menggumam 'enak' setelah mencicipi sedikit masakannya yang ditebaknya sudah matang. Pria itu kemudian mendekati Hinata yang terlihat kesulitan mengambil sesuatu ditempat yang terlalu tinggi untuk ukuran tubuh mungil wanita itu setelah sebelumnya ia menggulung lengan kemejanya. "kupikir kau butuh bantuan Hinata"

Wanita itu tersentak saat mendengar suara baritone Naruto yang terdengar sangat dekat. Jantungnya berdetak kencang saat mendapati lengan pria itu yang tiba-tiba terjulur melewati tubuhnya. Terkutuklah nii-sannya yang merancang dapur dan meletakkan mangkuk-mangkuk cadangan miliknya di tempat yang tidak bisa dijangkau tubuh kecilnya.

Naruto menyerahkan mangkuk yang tadi dia ambil ke tangan wanita yang tengah menunduk dihadapannya. Ia bisa melihat sedikit wajah Hinata yang kini mulai memerah.

"t-terima k-kasih" senyum Naruto semakin lebar saar mendengar wanita itu mengucapkan terima kasih dengan gagap. Naruto menyukai ini. Hinata masih sama seperti dulu, wanita itu mudah sekali gugup dan merona jika bersamanya.

Tapi, jika sikap wanita itu tidak berubah kepadanya lalu kenapa dia bersikap seolah tidak mengenalnya?

.

.

.

"ini lezat sekali bibi, benarkan papa?" pria yang di panggil papa itu hanya mengangguk sebelum ia melanjutkan makannya. Mereka berdua benar-benar memakan makanan mereka dengan lahap.

Sedangkan Hinata hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua laki-laki itu. Benar-benar kompak sekali. Ia kembali memakan makanannya dengan tenang, sebelum ia melihat keduanya tersedak dan terbatuk. Wanita itu buru-buru menyerahkan segelas air ke arah ayah-anak itu. Ia menepuk pelan punggung Boruto yang duduk disebelahnya.

"jangan terburu-buru anak-anak, makanlah dengan tenang. Tidak akan ada yang berusaha merebut makanan kalian, mengingat masih banyak stok dibelakang jika kalian mau tambah"

Teguran Hinata membuat Boruto menunduk "maafkan kami bibi, masakanmu benar-benar lezat dan membuat kami kalap"

Naruto juga melakukan hal yang sama dengan putranya "iya maafkan kami Hinata, kami tidak akan buru-buru lagi"

Hinata tidak tau bahwa pemandangan yang terjadi di hadapannya itu tergolong langka. Karena seorang Namikaze Naruto yang dikenal dingin sangat serius saat bekerja itu tengah meminta maaf sambil menunduk seperti seorang anak yang tengah di mendapat omelan dari ibunya.

Hinata tertawa "baiklah, kalian ku maafkan. Nah sekarang lanjutkan makan kalian, aku akan memberi kalian puding jika kalian bersikap manis." Tawa Hinata membuat pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum. Boruto mengangguk riang kepada Hinata dengan cengiran di wajahnya.

"aku akan bersikap manis Hinata, tapi kalau saja kau ingat aku bukan anak-anak lagi" tawa Hinata semakin keras mendengarnya.

.

.

.

"Terima kasih sudah membuatkan makan malam yang lezat untuk kami Hinata" pria itu mengusap lembut surai pirang Boruto yang sudah tertidur di sofa, bocah itu sepertinya kelelahan setelah ia membuat keributan di dapur miliknya saat ia tengah mencuci piring tadi. Membuat Hinata dan Naruto harus membersihkan busa yang berceceran dilantai setelah mengusir bocah pirang itu dari dapur.

Hinata lagi-lagi merasakan dadanya menghangat.

"T-terima kasih juga untuk kalian b-berdua karena s-sudah meramaikan apartemenku yang s-selalu sepi ini. A-aku t-tidak keberatan jika kalian mau datang dan m-makan malam disini. B-bawakan aku bahan m-masakan dan a-aku akan dengan senang hati m-memasak untuk kalian"

Naruto tersenyum "Baiklah, kupikir sudah waktunya kami pergi. Jangan terkejut jika kami tiba-tiba mengetuk pintumu dan membuat keributan lagi"

Hinata tertawa mendengarnya. Dia mencium lembut kening Boruto yang kini berada di gendongan papanya. "Kau mempunyai putra yang tampan dan menggemaskan Namikaze-san. Aku bahkan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama"

"tentu saja Hinata-chan. Bukankah kau lihat sendiri bagaimana papa yang sudah mewariskan wajah tampan miliknya pada bocah kecil ini." Hinata tertawa lebih keras dari yang tadi "Dan berapa kali ku katakan panggil aku Naruto-kun seperti dulu Hinata"

Tawa Hinata terhenti seketika itu juga "a-aku tidak bisa Namikaze-san, m-mungkin nanti jika a-aku sudah l-lebih mengenalmu lagi"

Raut sendu wajah Naruto membuat dada Hinata sedikit sesak. Bukannya ia tidak mau memanggil pria itu menggunakan nama depannya. Hanya saja, ia perlu untuk lebih mengenal pria itu dan perasaan asing yang ia rasakan saat ini.

.

.

.

Seorang wanita tengah tertidur dalam pelukan seorang pria di sebuah sofa didalam ruangan yang terlihat nyaman. Api yang menyala di perapian membuat ruangan tempatnya bergelung nyaman terasa hangat meski di luar terlihat penuh dengan salju yang dingin.

Sang wanita merapatkan dirinya dalam dekapan pria didepannya itu. Wajahnya terlihat sedih, setetes air mata tiba-tiba terjatuh dari manik lavender miliknya. Membuat pria itu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata milik wanitanya itu.

"jangan menangis Hinata. Kita pasti bisa melewati semua ini bersama. Aku akan selalu bersamamu, tenang saja" ucapan sang pria membuat air mata Hinata meleleh semakin deras.

.

.

.

"jangan tinggalkan aku.." Hinata terbangun dari tidurnya. Ia menghapus air mata yang ternyata telah membasahi wajahnya,

mimpi itu lagi.. sudah seminggu ini mimpi itu kembali mengganggunya setelah sekian lama.

Siapa pria yang memeluknya tadi, ia merasakan perasaan rindu yang amat sangat saat ia melihat pria dalam mimpinya itu. Tapi yang membuatnya frustasi adalah..

ia tidak pernah bisa melihat wajahnya.

Apakah dia seseorang yang berharga dari masa lalunya yang ia lupakan karena kecelakaan sialan yang ia alami. Ya, Hinata memang kehilangan sebagian ingatannya setelah ia terjatuh dari tangga di hari kelulusannya dulu. Dia muak dengan semua ini, tak ada yang tau bagaimana menyesalnya dia karena telah melupakan teman-temannya yang berharga di kampusnya dulu.

Dengan marah wanita itu mengambil obat penenang yang di berikan oleh dokter pribadinya di laci kamar dan menelan dua butir sekaligus. Setidaknya dengan obat-obat itu ia kini tidak lagi menyakiti dirinya sendiri karena rasa sakit di kepalanya yang selalu muncul bersamaan dengan kepingan puzzle ingatan miliknya yang hilang.

.

.

.

Hari ini adalah hari pertama Namikaze Boruto bersekolah. Papanya meninggalkannya bersama seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan berambut pirang yang ia ketahui sebagai kepala sekolahnya setelah menciumnya dan berkata bahwa ia akan menjemputnya nanti setelah sekolah berakhir.

"jangan khawatir Boruto, kau pasti akan mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan nanti"

Boruto tersenyum ke arah senseinya itu "kau benar Tsunade sensei, aku hanya sedikit gugup sekarang. Apa mereka akan menyukaiku sensei?"

Tsunade tersenyum kearah murid barunya yang tengah menatapnya penuh tanya, ia membungkukkan badannya dan mengusap lembut rambut pirang bocah tersebut. "Tentu saja Boruto, kau bocah yang tampan dan menggemaskan, aku yakin banyak yang akan menyukaimu"

Bocah itu tertawa "aku tau, aku sudah sering mendengarnya sensei"

"kalimat yang menyenangkan untuk di dengar kan sayang?" Boruto hanya terkekeh lalu mengangguk riang, ia sudah lupa akan gugup yang tadi ia rasakan.

"Baiklah, ayo ku antar kau ke kelasmu"

"Anak-anak mulai hari ini kalian mendapatkan teman baru. Dia baru pindah kemari, jadi kalian harus bersikap baik padanya"

kelas yang tadinya ramai itu langsung senyap begitu saja. Seluruh pandangan dari penghuni kelas itu tertuju padanya dan senseinya tadi.

"Namaku Namikaze Boruto, salam kenal minna" setelah mengucapkan namanya, Boruto tiba-tiba saja sudah di kelilingi teman-teman barunya.

"wah, Boruto-kun tampan sekali, omong-omong namaku Sarada"

"aku inojin"

"aku shikadai, salam kenal"

"aku chocho ayo bermain bersama kami" Boruto tersenyum lebar lalu mengangguk, sepertinya sekolahnya akan menyenangkan. Senseinya benar, ia mendapatkan teman-teman baru yang menyenangkan.

"sebentar lagi masuk teman-teman. Kalian ingat hari ini sensei cantik akan mengajari kita menghias kue mangkuk?" seru bocah pucat berambut biru kepada teman-temannya yang masih asik mengelilingi teman baru mereka.

Boruto menoleh ke arah teman barunya itu "Sensei cantik?"

"Mitsuki benar Boruto-kun, tiap hari senin di awal dan akhir bulan akan ada sensei cantik yang mengajari kita banyak hal, hari ini dia berjanji akan mengajari kita menghias kue" jelas Sarada pada Boruto yang kini mengangguk.

Pintu terbuka dan muncul seorang wanita cantik berambut indigo panjang yang tersenyum ramah. "selamat pagi anak-anak, kudengar hari ini kita memiliki teman baru" sensei cantik itu terkejut saat melihat bocah pirang yang di temuinya bulan lalu di tengah murid-muridnya "Boruto-kun..."

"bibi Hinata"

.

.

.

o0o

.

.

.

Tbc

.

.

.

Yuhuuu... apa ada yang masih menunggu fic ini? bagaimana minna san? Apa chapter ini mengecewakan? Semoga tidak.. gue udah berusaha dengan semaksimal mungkin, jadi maaf jika banyak kekurangan.

Gue akan jawab beberapa pertanyaan dari kalian

Apakah Hinata lupa ingatan (amnesia)?

Jawabannya ya, seperti yang udah gue ceritain sedikit di chapter kali ini, Hinata kehilangan sebagian ingatannya karena terjatuh dari tangga. Untuk detail ceritanya nantikan aja di salah satu chapter selanjutnya. Gue pasti ceritain lengkap kok xD

Naruto dan Hinata punya hubungan apa?

Itu juga akan terjawab pelan-pelan gays, nyahahaha. Sepertinya mereka memang punya hubungan yang spesial deh. xD

Apa Boruto anak Naruto dan Hinata?

Kalau di canon sih iya. Kalau di fic ini.. entahlah, mungkin iya mungkin juga enggak xD

Semuanya pasti akan terungkap kawan

Kenapa Hinata ditinggal sendiri sama keluarganya?

Karena seperti yang udah sedikit gue ceritain di chapter awal, Hinata tinggal sendiri karena semua orang di keluarganya harus mengurusi perusahaan mereka di tempat lain. Untuk sedikit bocorannya, tentu saja orang tua Hinata dan Nii-sannya tidak pernah benar-benar meninggalkan Hinata sendiri, mereka mengawasinya diam-diam.

Update cepet?

Gue usahain update cepet kok gays kalau gue ga sibuk sama tugas kuliah dan gue gak nyeleweng dengan bikin fic baru lagi xD

Panjangin word-nya lagi...

Err.. apa ini masih kurang panjang? Menurut gue sih udah panjang *meringis

Thanks to:

Kensi Agito, AnRe, Hime Hime Lavender,

Lady Bloodie, Harumi Tsubaki, oortaka,

Vi2NHL, cinamoroll, Helena Yuki,

Kurumi Keiko, Aldrin952, Nhiyla324,

Kentang Malang, Astro Boy, ana,

Guest, Orochimaru-chan, Salsabilla 12

Anggredta Wulan, Khmm

Thanks juga buat yang udah Fav/foll fic ini

Dan sampai jumpa di chapter selanjutnya gays...

RnR Please ^_^