~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~

Ini adalah awal dimulai permasalahan dalam diri seorang Byun Baekhyun.

Tentang kepergian Park Chanyeol, dendam masa lalu, konflik salah paham dan orang ke tiga.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Author:

Yuta CBKSHH ( dan Byun ChanZha)

Tittle:

PRETENDING OF LOVE (CHANBAEK)

Main Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Support cast:

Oh Sehun a.k.a Sehun

Xi Luhan a.k.a Luhan

Kim Jong In a.k.a Kai

Do Kyungsoo a.k.a Kyungsoo

Others cast (EXO's members)

Rating:

M

Genre:

Angst, Romance, Drama, Hurt/Comfort

Length:

Chaptered

Disclaimer:

Sudah Yuta jelaskan di atas yaa. Cerita ini adalah pemikiran murni tanpa plagiat dari cerita manapun. Terinspirasi dari beberapa pengalaman si penulis. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^

Warning:

BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!

Summary:

[YAOI/ANGST] "Maafkan aku karena telah berpura-pura mencintaimu selama ini, Byun Baekhyun. Aku memiliki sebuah alasan. Ku harap kau mengerti, karena pada akhirnya kita tidak akan pernah bisa bersama" - Chanyeol. (CHANBAEK) Slight Official Pairing! RnR!

Backsong:

Jin - Gone

~~ HAPPY READING ~~

.

.

.

[ New York 15:30 ]

Chanyeol mengembangkan senyumnya saat telah menginjakkan kakinya di New York.

Sebuah tempat dimana ia akan menghabiskan beberapa tahun kedepan dengan kesendiriannya disini. Kota yang tidak pernah sepi, dimana seluruh penjuru dunia tahu bagaimana kehidupan di Negara Adidaya yang mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan kehidupan dunia semenjak Perang Dunia II meletus.

Butuh beberapa menit untuk Chanyeol mencari seorang yang akan mengantarkannya menuju mansion mewah milik keluarganya di sini. Selang beberapa menit ia melihat seorang laki-laki berwajah asia mengangkat banner bertuliskan 'Mr. Chanyeol Park from Korea' senyumnya mengembang kala orang tersebut melambaikan tangannya dan berlari menuju tempatnya berdiri.

"Chanyeol?" Tanyanya dengan aksen korea yang kentara.

"Bukan, namaku bukan Chanyeol. Namaku YeolChan"

Chanyeol tertawa lepas melihat orang didepannya tiba-tiba memukul lengannya cukup keras.

"Kau fikir itu lucu hah?"

"Hahaha. Kau memang tidak pernah berubah Lay. Bahkan tubuhmu saja masih saja pendek, bukankah dulu aku sering menyarankanmu untuk minum susu?" tanya Chanyeol dengan seringai dibibir plumnya.

'Pletakk'

"Terus saja Kau menyindirku tiang. Aku memang di takdirkan hidup sebagai pria mungil yang menggemaskan, kau tahu?"

Lay atau yang bernama asli Zhang Yixing adalah sepupu Chanyeol yang tinggal di New York. Sejak umurnya 13 tahun dulu saat kecil mereka berdua sangat dekat bahkan terlihat seperti kakak beradik.

"Yayaya terserah apa yang kau katakan saja, aku lelah ingin segera istirahat. Bukannya melepas rindu layaknya sepasang kekasih yang tidak pernah bertemu sepanjang hidupnya"

Chanyeol berjalan mendahului Lay yang masih terlihat sibuk membawa koper besar Chanyeol juga tas jinjing pria tinggi itu.

"Yak! Sialan Kau Park ChanChan! Tunggu Aku bodoh!"

Lay berusaha mengejar Chanyeol yang dengan seenak jidatnya malah berjalan santai mendahuluinya. Memangnya ia tahu mobil yang Lay bawa? Memangnya ia tahu Lay parkir dimana?

'Dasar sok tahu' batin Lay sambil menggerutu tidak jelas.

[ Seoul 05:30 ]

Baekhyun terbangun saat suara pekikan jam alarm yang ada disamping kasur tempat ia tidur berbunyi keras. Bukan tanpa alasan Baekhyun bangun sepagi ini padahal biasanya ia bangun pukul setengah delapan dan berangkat sekolah pukul setengah sembilan.

Pagi ini ia sudah membulatkan tekad untuk menjadi seorang yang rajin dalam hidupnya supaya saat ia bertemu Chanyeol kembali ia sudah berubah menjadi seperti apa yang Chanyeol harapkan darinya.

Mengingat nama itu, Baekhyun seakan ingin menangis karena rindu terhadap kekasih besarnya itu dan dengan penuh semangat ia mengambil handphone yang ia letakkan di nakas siapa tahu Chanyeol memberinya kabar.

Namun, senyumnya luntur tatkala tak ada satupun pesan maupun email yang dikirim Chanyeol untuknya padahal ia sangat mengharapkan kabar dari kekasihnya itu. Baekhyun akhirnya mencoba mendial nomor ponsel Chanyeol untuk melepas rindunya.

"Ayolah.. angkat Chanyeol"

Baekhyun terus bermonolog sedari tadi karena Chanyeol belum juga mengangkat telepon darinya padahal ini sudah ke tujuh kalinya ia mendial nomor itu tapi yang terdengar hanyalah suara operator sialan yang entah mengapa membuat Baekhyun malah ingin menangis.

'Apa Chanyeol marah padaku karena kemarin aku telat mengantarnya ke bandara?'

Baekhyun kembali merutuki kebodohannya kemarin yang malah hampir lupa bahwa ia harus mengantarkan Chanyeol ke bandara ditambah lagi jalanan yang padat membuat ia telat mengantar Chanyeol hingga tidak sempat mengucapkan salam perpisahan.

Bodoh? Iya, Baekhyun akui dia bodoh melupakan hal sepenting itu. Jelas-jelas Chanyeol akan pergi jauh tapi ia dengan bodohnya melupakan hal itu. Jarak dari Seoul ke New York itu harus di tempuh berjam jam menggunakan pesawat, walaupun teknologi media telah canggih tetap saja ia tidak bisa memeluk Chanyeol setiap hari.

Di dunia ini tidak akan ada alat yang bisa mempertemukan secara langsung satu sama lain yang berjauhan hanya dalam beberapa detik bukan? Oh, atau mungkin belum.

Baekhyun akhirnya memilih berhenti mencoba menghubungi Chanyeol nya karena ia yakin Chanyeol tidak akan lama marah kepadanya. Mungkin juga Chanyeol sedang istirahat karena lelah. Baekhyun berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mandi pagi dan melakukan aktifitas seperti biasa apalagi ia sekarang sudah kelas tiga. Jadi ia harus lebih rajin lagi.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Suasana pagi hari di kelas Baekhyun benar-benar membuatnya pusing dan pening. Ia yang bertindak sebagai ketua kelas hanya pasrah melihat teman-temannya membuat ulah seperti melempar kertas satu sama lain, berlarian keliling kelas, tertawa menggosipi orang lain dan hal lainnya yang membuat Baekhyun menaruh kepalanya diatas lipatan tangannya sambil menatap keluar kelas lewat jendela.

Baekhyun ingat di sana ada lapangan basket tempat ia dan Chanyeol sering menghabiskan waktu bersama dalam dua tahun terakhir. Kembali senyum mirisnya terukir dibibir manisnya. Mengingat Chanyeol yang sering memeluk bahkan mencium bibirnya dengan manis juga memperlakukan Baekhyun seperti Baekhyun adalah barang paling berharga didunia ini.

"Baru dua hari kita berpisah, tapi kenapa aku benar-benar merindukamu, Chan?"

"Apa aku harus membakar gedung sekolahan ini agar kau mendengar panggilanku, Baek?"

Sehun ternyata sudah duduk dengan manis di samping Baekhyun sambil menyilangkan kedua tanganya didepan dada. Sedari tadi panggilannya tidak di gubris oleh pria mungil disampingnya itu membuatnya pura-pura merajuk seperti anak kecil.

"Eoh? Sejak kapan kau ada disini?"

"Sejak seribu tahun yang lalu Tuan Byun" geram Sehun.

"Dasar Tuan berlebihan. Ngomong-ngomong kenapa kau kemari? Luhan belum datang asal kau tau"

"Ck! Aku kesini untuk mencarimu, bukan Luhan"

Baekhyun bingung dengan sifat calon adik iparnya ini. Kenapa tiba-tiba ia datang mencarinya?

"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Baek. Aku hanya memastikan kau dalam keadaan yang baik. Jika Kau dalam keadaan yang buruk tentu aku juga kena imbasnya"

"Imbas? Memangnya Baekhyun kenapa? Dia terlihat baik, kenapa kau jdi overprotective seperti ini pada Baekhyun?"

Luhan datang dan langsung ikut masuk kedalam pembicaraan Sehun dan Baekhyun.

"Haishh kalian lupa bahwa Chanyeol memintaku menjaga Baekhyun, merawatnya dan melindunginya?"

"Alahh alasan bilang saja kau ingin mencariku cadel, jujur saja aku juga maklum akan hal itu"

"Apa? Dasar rusa liar, siapa juga yang ingin bertemu denganmu huh? Lebih baik aku tidak masuk kelas ini daripada bertemu denganmu"

"Apa?! Sialan kau cadel kemari kau!"

Luhan mencoba menarik rambut Sehun namun Sehun langsung menghindar dengan cepat.

"BERHENTI!"

Cukup sudah kesabaran Baekhyun. Keadaanya bukan semakin membaik saat kedua sahabatnya ini datang malah justru sebaliknya.

"Kenapa kalian justru membuat kepalaku bertambah pusing! Arrghh!"

Baekhyun mengacak rambutnya asal. Sedangkan Luhan dan Sehun tampak masih bergumam tidak jelas. Entah mengapa di umur mereka yang sudah bisa dibilang bukan anak kecil lagi tapi malah bertingkah layaknya bocak TK yang hobi berkelahi karena hal sepele.

"Maaf Baek, semua juga karena si cadel ini" sergah Luhan.

"Apa-apaan kau ini rusa! Kau yang tiba-tiba datang lalu.."

"DIAMMM!"

Seluruh kelas kini bergidik ngeri kala melihat Baekhyun berteriak sambil menaiki kursinya. Wajah yang biasanya tampak polos itu kini tampak seperti wajah seorang psychopath yang ingin menguliti orang-orang disekitarnya.

"Aku pikir kalian berdua adalah temanku yang akan menghibur disaat seperti ini. Tapi aku salah, kalian justru membuat kepalaku seakan mau pecah"

Baekhyun mulai memelankan suaranya. Wajahnya menampakan guratan kekesalan yang amat dalam. Entah kesal pada siapa, dia sendiri juga bingung kenapa baru ditinggal Chanyeol kurang dari dua hari sudah membuat hidupnya berubah. Tidak ada lagi senyum yang mengembang dipagi hari. Tidak ada lagi sapaan hangat yang menyapa indra pendengarannya saat bangun tidur. Dan.. tidak ada lagi Chanyeol yang akan selalu disisinya setiap waktu.

"Baek, maafkan aku"

Luhan meraih tangan Baekhyun yang terasa dingin padahal biasanya saat ia memegang tangan ini yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan bukan dingin seperti es kutub.

"Aku juga minta maaf Baekhyun, bukannya menghiburmu tapi justru membuatmu semakin sedih. Maaf.."

Kini giliran Sehun yang minta maaf. Diraihnya tubuh mungil Baekhyun kedalam rengkuhan hangatnya, Sehun mengeratkan pelukannya saat dirasa tubuh Baekhyun bergetar dalam pelukannya. Ia bukan orang bodoh yang tidak tahu ada apa dengan Baekhyun dan mengabaikan fakta bahwa mereka saat ini menjadi tontonan kelas A4 itu.

Luhan menatap adegan tersebut dengan pandangan sulit diartikan. Tangannya sempat terulur untuk meraih pundak Baekhyun namun ia kembali menarik tangannya seakan tahu bahwa jika ia marah melihat Sehun yang memeluk Baekhyun, semuanya akan semakin membuat baekhyun tertekan. Lagi pula untuk apa ia marah? Dia tidak mempunyai hak marah ataupun kecewa karna Sehun dan dan Baekhyun sama-sama sahabatnya. Walau jauh dilubuk hatinya ia sangat mencintai Sehun tanpa lelaki itu ketahui.

Ya, Luhan memang menyukai Sehun sejak setahun lalu saat diperkenalkan oleh Baekhyun. Sehun satu angkatan dengannya dan Baekhyun hanya saja ia tidak terlalu kenal dengan Sehun awalnya. Yang ia tau Sehun adalah sepupu dari Park Chanyeol, kekasih Baekhyun. Sepupu yang sudah diangkat sebagai anak oleh keluarga Park.

Keluarga Park mengadopsi Sehun saat berumur tujuh tahun kala kedua orang tua Sehun meninggal dalam sebuah kecelakaan jadi Sehun tidak menggunakan marga Park tapi tetap menggunakan marga Oh sebagai identitasnya.

"Yak! Kenapa ada adegan drama school 2015 disini,huh?"

Salah satu teman sekelas Baekhyun ber name tag Kim Jong Dae tiba-tiba berteriak frustasi yang membuat pelukan Baekhyun dan sehun terlepas.

"Hei, Kim Jongdae bilang saja Kau iri melihat Baekhyun. Memangnya kemana si Seok Seok itu?"

Kali ini giliran teman Baekhyun yang lain berbicara menimpali perkataan Jongdae.

"Siapa yang iri? Dan Lagi,namanya KIM MINSEOK bukan Seok Seok. Kau dengar bocah?"

"Yahh terserah kau sajalah.."

Baekhyun tersenyum tipis, matanya menatap lekat Sehun yang juga menatapnya.

"Terima kasih Sehun.."

"Bukan apa-apa Baek, jangan sedih lagi OK?"

Sehun tersenyum menawan sambil mengacak rambut Baekhyun lalu berlalu keluar kelas.

"Sehun kelihatannya sangat perhatian padamu Baek" ucap Luhan. Baekhyun langsung menatap wajah Luhan yang tampak lucu dengan bibir mengerucut. Senyumnya kembali mengembang.

"Jangan cemburu Lu. Sehun hanya ingin melindungiku seperti permintaan Chanyeol"

"A-aku tidak cemburu kok"

"Tidak apa Lu. Aku tahu kau menyukai Sehun sejak setahun lalu"

"Darimana kau tahu Baek? Aku kan tidak pernah bercerita padamu masalah ini"

"Lu, kita sudah lama kenal dan bersahabat jadi aku juga tahu jika kau sedang menyukai seseorang dan orang itu adalah Sehun"

Wajah Luhan merona. Pernyataan Baekhyun memang benar, tetapi ia tidak menyangka Baekhyun bisa tahu mengenai perasaannya. Belum sempat Luhan berujar, Kim seosangnim sudah lebih dulu masuki kelas untuk memulai pengajaran Sastra Korea.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Chanyeol melirik Lay yang sibuk mengunyah makan siangnya. Melihat Lay yang seperti tidak menyesal membuat Chanyeol sedikit emosi. Oh,ayolahh siapa yang tidak marah saat handphone yang berisi hal-hal penting hilang begitu saja saat baru sampai di New York? Ya, alasan Chanyeol tidak mengangkat telepon dari Baekhyun atau mengirimi pesan untuk Baekhyun adalah karena handphone yang ia miliki hilang di bandara. Handphone itu sebenarnya berada dalam tas jinjing yang Lay bawa. Tapi saat ia cek handphone itu telah hilang. Padahal Chanyeol sangat yakin bahwa ia menaruh dalam tas itu.

"Hey bro, masih marah ya padaku?" tanya Lay.

"Kau fikir apa? Itu benda berharga dan penting! Jika tidak ada handphone itu bagaimana aku bisa memberi kabar pada Baekhyun ku?"

"Baekhyun yang katanya kekasihmu itu?"

"Tentu saja Baekhyun yang itu memang Baekhyun yang mana lagi? Aku yakin saat ini ia sangat khawatir karena aku tidak memberinya kabar saat telah sampai disini"

"Jadi kau benar-benar sudah melupakannya ya?"

"Melupakan siapa?"

"Tentu saja pacarmu sebelum Baekhyun"

Chanyeol menghentikan acara makannya. Fikirannya kembali menerawang kisah kelam beberapa tahun lalu. Saat seorang yang paling ia percayai justru menghianati kepercayaan itu, dan membuat sebuah kesalahan besar dalam hidupnya bersama dengan sahabat yang juga sangat ia percaya.

Emosi Chanyeol sudah sampai ujung kepala,tangannya menggebrak meja makan besar didepanya dengan keras. Membuat Lay memandangnya tidak percaya.

"Aku selesai" ucap Chanyeol sambil berlalu dari ruang makan itu. Saat di langkah ketiga chanyeol menoleh pada Lay yang masih menatapnya.

"Jangan pernah mengungkit tentang masa laluku lagi. Kau tidak tahu apapun tentangku"

Chanyeol kembali menuju kamarnya. Ia masuk kedalam kamar dengan membanting keras pintu kamarnya.

"Aku tahu kau belum bisa melepaskan ingatan dan perasaanmu padanya Chanyeol. Kau benar-benar munafik"

Lay berseringai lalu melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Chanyeol membuka laci dikamar barunya itu,mengambil kotak kecil berisi beberapa pil warna hijau tua, serta beberapa tablet obat berukuran kecil dan sedang. Tangannya meraih air putih dinakas lalu meneguk obat itu bersama dengan air putih tersebut.

Tidak banyak yang tahu bahwa Chanyeol itu..

.. sakit

Bahkan Baekhyun tidak pernah tahu akan hal itu.

Oh, mungkin belum karna Chanyeol yakin cepat atau lambat Baekhyun akan tahu sakit yang dialaminya saat ini.

"Kenapa denganku? Bahkan aku sudah lupa siapa yang Lay maksud"

Tidak, mana ada orang yang bisa melupakan sebuah kejadian yang bahkan membuat dirinya hampir kehilangan nyawanya?

Chanyeol sedang mencoba menutupi kenyataan bahwa ia masih mengingat dengan jelas kenyataan pahit yang terjadi beberapa tahun lalu.

Flashback

Pagi yang cerah dikota Busan. Matahari dimusim semi tampak memberikan energi tersendiri bagi orang-orang yang beraktifitas diluar dengan suhu yang cukup dingin.

Chanyeol tersenyum cerah sambil berlari kecil menuju sebuah rumah yang diketahui adalah rumah kekasih hatinya. Seorang yang menjadi tempat hatinya berlabuh dengan sebuket mawar merah dan boneka pororo besar ditangannya.

Senyumnya luntur seketika kala indra pendengaranya menangkap suara aneh dari dalam kamar kekasihnya.

Tangan panjangnya begetar, mencoba membuka knop pintu berwarna coklat tua itu.

'Brakkk'

Sesuatu didepannya membuat kepala Chanyeol pening seketika. Pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat di atas ranjang kekasihnya itu membuat bumi seakan berputar dengan cepat.

"C-chan-yeol?"

Suara yang biasanya memangil namanya dengan manja kini terdengar memuakan ditelinganya.

Didepannya kini Chanyeol lihat sahabat terbaiknya tengah bergumul hebat dengan kekasihnya. Kedua orang yang Chanyeol anggap separuh jiwanya sendiri karena mereka adalah orang-orang yang selalu menemaninya dalam keadaan sulit saat keluarganya dalam masalah.

"Hyung.. aku b-bisa jelaskan i-ni bukan-"

Chanyeol berlari sekuat tenaga keluar dari rumah tersebut tidak peduli jalan raya yang padat mengancam keselamatanya.

Yang Chanyeol inginkan sekarang hanyalah pergi dari kenyaatan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

'TINNNN.. TINNN.. BRAKKK'

"Astaga! Tuan bangunlah, kumohon buka mata anda"

Chanyeol tergeletak bersimbah darah ditengah jalan raya yang ramai dengan pengendara mobil. Yang ia ingat hanyalah sebuah tangan halus yang memegang pipinya lembut, juga wajah malaikat kecil didepanya yang bergurat kekhawatiran.

Chanyeol pikir ia akan mati sekarang karena Tuhan telah mengirim malaikat yang akan mengajaknya pergi jauh. Nyatanya malaikat didepanya adalah malaikat yang dikirim tuhan untuk menjadi penolong dihidupnya sampai sekarang.

Dia adalah..

Byun Baekhyun.

Malaikat tanpa sayap yang Chanyeol cintai karena rasa terima kasih tapi nyatanya ia benar-benar jatuh hati dengan segala yang ada pada diri Baekhyun saat ini.

Flashback End

Chanyeol menatap langit New York yang sedikit mendung. Mengingat ini adalah musim salju yang membuat matahari pun enggan menampakan sinarnya walau hanya sedikit.

Beberapa jam lalu media televisi memberitakan bahwa hari ini sekitar pukul sembilan akan ada badai salju sedang, sehingga menyarankan bagi setiap orang agar tetap berada dalam rumah sampai badai berhenti.

Tapi nyatanya? Bahkan ini sudah lewat dua jam dari apa yang di beritakan di tv dan tidak terjadi badai salju. Bahkan hujan salju pun tidak.

Chanyeol berfikir jika didunia ini memang tidak ada yang pasti, jika kita berkata 'iya' mungkin saja berakhir 'tidak' seperti hatinya yang mencoba mengatakan bahwa dirinya tidaklah mencintai seorang Byun Baekhyun tapi lebih kepada rasa terima kasih karna jika tidak ada seorang Byun Baekhyun, mungkin Chanyeol tidak akan berdiri disini dan merasakan betapa indahnya kota New York.

"Aku tahu bahwa aku tidak mencintaimu Baek, dan aku yakin rasa ini hanyalah rasa terima kasihku padamu"

Chanyeol memegang dadanya yang terasa sesak saat menyebut nama itu.

Rasa bersalah seringkali menghampirinya dikala ia ingat betapa polosnya seorang Byun Baekhyun yang suka merajuk padanya, Byun Baekhyun yang sering menangis karena dirinya tidak memberi kabar, tapi semua rasa bersalah itu Chanyeol tepis dan beranggapan semua yang ia lakukan benar dan tidaklah salah.

"Aku sudah berjanji akan melindungimu sesuai permintaan Ayahmu dulu Baek. Tapi aku tidak ingin menjadi seorang yang mencintaimu lalu menyakitimu.."

"..aku akan pergi meninggalkanmu saat aku mulai mencintaimu dan aku tidak ingin itu terjadi. Maafkan aku Baekhyun"

Tes

Tes

Tes

Air mata itu perlahan menuruni pipi Chanyeol.

Egois? Ya, ia akui bahwa dirinya memang egois membiarkan seorang mencintainya dengan tulus karena usahanya sendiri tapi pada kenyataanya dirinya tidak benar-benar mencintai orang itu.

Chanyeol tidak ingin hidup dengan banyak cinta di sekitarnya, karena ia akan meninggalkan semuanya lebih cepat dan itu adalah alasan kenapa ia tidak ingin mencintai seseorang sepenuh hatinya karena ia akan terbebani dengan perasaan itu sampai ia pergi nanti.

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Baekhyun menatap ponselnya seakan ponsel tersebut akan lari jika tidak diawasi.

Sedari tadi ia menunggu sebuah kabar dari Chanyeol,berulang kali ia mencoba menghubungi pria itu tapi tidak ada respon dari sana. Entah sudah berapa ratus kali ia menelepon dan mengirimi Chanyeol pesan di semua akun sosialnya tapi jawabanya tetap nihil seolah Chanyeol pergi ke luar angkasa dimana ia tidak bisa berkomunikasi melalui media elektronik.

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar lalu melempar asal ponselnya ke nakas.

Drrttt

Drrttt

Drrttt

Baekhyun terkesiap mendengar getaran dari ponselnya, dengan gerakan kilat ia mengambil ponsel itu sambil tersenyun dan berharap itu adalah Chanyeol.

Senyumanya luntur saat melihat siapa yang menghubunginya,

"Yeoboseo Sehun"

'Yeoboseo Baek. Aku tahu kau sedang berharap mendapatkan kabar dari Chanyeol hyung'

Baekhyun mengeryitkan dahinya mendengar ucapan sehun di sebrang sana.

'Aku hanya memberi tahu bahwa Chanyeol hyung kehilangan ponselnya saat ia dibandara, jadi dia belum bisa memberikan kabar padamu'

Senyum Baekhyun kembali mengembang, ternyata dugaannya tentang Chanyeol yang marah hanya opini negatif pikirannya.

'Chanyeol berpesan agar Kau tidak perlu khawatir padanya, malam ini dia akan mengabarimu setelah ia membeli ponsel baru'

"Sehun, terima kasih. Tolong sampaikan pada Chanyeol jika aku sangat merindukannya"

'Tentu aku akan mengatakannya Baek. Sudah aku ingin kembali menghubungi sepupuku Lay yang tinggal dengan Chanyeol disana, selamat malam Baekhyun yang imut'

"Iya Sehun yang tampan, selamat malam"

Dan sambungan telepon itu terputus menyisakan sebuah senyum lebar seorang Byun Baekhyun. Ia sungguh sangat khawatir tentang Chanyeol saat ini tapi setelah semuanya jelas, ia bisa bernafas lega dan tidak khawatir lagi.

"Aku benar-benar merindukanmu Chanyeol, huft.. Apa aku egois karena menginginkanmu kembali?"

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar.

Rasanya ia benar-benar gila jika tidak bertemu dengan Chanyeol saat ini juga, tapi bagai mana pun ia tetaplah seorang yang selalu menyingkirkan ego dan lebih mengutamakan sesuatu yang lebih penting daripada ia terus mengutamakan sebuah permintaan dari dalam dirinya.

Andai Baekhyun tahu semua ini, tentang kebohongan dan kemunafikan Chanyeol yang bahkan adalah seorang yang paling egois. Apa mungkin Baekhyun juga akan tetap mencintai Chanyeol seperti ini? Apa mungkin Baekhyun akan mengkhawatirkan semua yang Chanyeol lakukan seperti saat ini?

Apa mungkin?

.

.

.


-oOo- PRETENDING OF LOVE -oOo-


.

.

.

Chanyeol melangkahkan kaki panjangnya melewati Lay yang sedang menonton pertandingan BaseBall favoritnya. Mengabaikan fakta bahwa sebentar Lagi akan turun Salju, ia menyambar coat oranye nya dan sebuah jaket tebal berbulu yang tergeletak di samping sofa panjang.

"Kau mau kemana?"

"Pergi membeli ponsel baru" jawab Chanyeol datar.

"Hei, jangan gila Chan! Sebentar lagi salju turun dan kemungkinan akan ada badai. Kau mau cari mati ya?"

Lay menghentikan langkah Chanyeol sembari merentangkan tangan kecilnya.

"Aku tidak peduli, jika aku tidak segera pergi membeli ponsel baru aku tidak akan bisa berkomunikasi dengan Baekhyun"

"Hahaha apa di dunia ini seorang Park Chanyeol hanya memiliki satu ponsel? Apa seorang pangeran Park tidak mempunyai sebuah laptop atau PC dalam hidupnya?"

"Tidak, aku datang kemari hanya membawa satu ponsel, Lay"

"Tapi apa kau sebodoh itu sehingga tidak menggunakan telepon rumah yang bahkan disini ada lebih dari lima?"

Ayolah, bahkan Chanyeol tahu itu semua. Tapi jika hanya menggunakan telepon rumah, mana bisa ia melihat wajah manis Baekhyun?

Yahh, Chanyeol akui Baekhyun itu sangat menarik dengan semua yang ia miliki dalam dirinya. Tapi lagi-lagi Chanyeol menepis rasa itu, ia pikir semua orang juga akan tertarik dengan Baekhyun yang sangat imut dan polos itu.

"Aku tidak bisa. Aku harus membeli ponsel sekarang juga karena aku janji akan mengabari Baekhyun malam ini juga"

"Kenapa tidak pakai ponselku saja? Dasar bodoh"

"Jika aku menggunakan ponselmu yang ada kau malah yang akan setiap hari berteleponan ria dengan Baekhyun mengingat sifatmu dan dia tidak jauh beda"

"Terserah kau saja, jika terjadi sesuatu padamu Aku tidak akan ikut campur"

Chanyeol mengacak pelan rambut Lay lalu tersenyum manis, sangat beda dengan Chanyeol yang tadi siang marah-marah.

"Baiklah. Aku pergi dulu"

Chanyeol melangkahkan kakinya keluar mansion mewah itu. Dia memilih menggunakan taxi daripada menggunakan mobil. Yahh.. Chanyeol itu baru di New York ingat? Jadi dia memilih berangkat dengan aman menggunakan taxi daripada tersesat di jalan oke.

Chanyeol keluar dari taxi yang di tumpanginya lalu berjalan menuju sebuah toko besar yang menjual ponsel dan barang elektronik lainnya. Cukup lama Chanyeol didalam toko tersebut baru setelah hampir satu jam ia keluar dari sana dengan membawa beberapa kantong barang.

Tapi sungguh sial nasibnya, baru berjalan sekitar lima puluh meter ia tidak sengaja bertubrukan dengan seorang lelaki yang membawa banyak barang di tanganya.

"Ahh, maafkan Aku. Aku akan membantumu" ucap Chanyeol yang langsung membantu orang tersebut.

"Chanyeol?"

Deg!

Suara itu..

"K-kyungsoo?"

Mata Chanyeol membulat menatap seorang dimasa lalunya.

Seorang yang menjadi cinta pertamanya

Seorang yang menghianatinya

Dan seorang yang masih berbekas di hatinya..

Do Kyungsoo.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued..

.

.

.

.

.

.

Lagi-lagi Kyungsoo yang jadi orang ketiga wkwk

Siap untuk konflik yang akan segera datang?

Mau lanjut?

Penasaran?

Atau banyak yang masih bingung?

Review dulu ya.

Yuta tunggu~

SARANGHAE BBUING~!