Annyeong! Gamsahamnida buat yang udah baca and ngasih review ^^
Selamat membaca ^^
.
.
"Min Yoongi, 21 tahun,"Namjoon memulai penjelasannya untuk Jimin, "Mahasiswa tahun akhir Jurusan Filsafat Universitas S. Anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya Min Yonhwa, 40 tahun, Ibunya-Aah! Kau bisa baca sendiri kan sisanya."
Part 2. Empat minggu yang lalu, 23 November 2015
Sebentar Jimin termangu, kesan Namjoon yang berwibawa yang seolah-olah akan sangat serius menjelaskan kasus, malah bergaya asal kini. Kemudian Jimin menggangguk-angguk cepat dan mulai membaca setiap huruf di lembaran yang ia dapat setengah jam lalu.
"Padahal kau hanya perlu menjelaskan beberapa poin penting saja, kan, Namjoonie,"ujar lelaki cantik di samping Namjoon.
Dan Namjoon hanya memandang sekretarisnya dengan tatapan 'kau saja yang jelaskan'.
"Begini, Saudara Jimin,"sekretaris Namjoon tersenyum pada Jimin, "mungkin Jungkook sudah menjelaskan garis besarnya. Tambahan di sini, kami akan memberikan subsidi penuh selama anda tinggal di Seoul, kami akan mengawasi anda selama 24 jam tidak terlepas pada saat anda bertemu dengan Min Yoongi saja, keseluruhan privasi anda terpaksa harus kami ketahui, lalu masalah waktu, kami memang belum bisa memastikan harus berapa lama anda melakukan ini, karna perjanjian kita hanyalah mengenai 'apa yg harus anda lakukan' bukan masalah waktu, tapi kami akan memberikan usaha maksimal agar kasus ini cepat selesai.
Hoseok dan Jungkook akan membantu anda. Untuk lebih detailnya anda bisa bertanya pada mereka berdua. Di sini kami hanya ingin mendengar pernyataan langsung dari anda bahwa anda benar menyetujui dan bersedia melakukan perjanjian ini,"jelas sekretaris Namjoon dengan baik.
Jimin mengangguk-angguk mengerti, "saya akan melakukan apapun yg saya bisa,"ujarnya menatap yakin pada Namjoon dan sekretarisnya.
Namjoon menyodorkan tangannya untuk Jimin, "Mohon kerja samanya, Jiminsshi."
"Ne. Saya mengerti,"jawab Jimin menyambut jabat tangan Namjoon.
.
.
"Maaf sudah melibatkanmu,"Hoseok mencuri lihat Jimin yg duduk di sebelahnya disela-sela perhatiannya dalam mengemudi, "kami benar-benar dibuat repot oleh Min Yoongi ini."
"Tidak apa-apa, Hyung. Setelah menganggur dua tahun, akhirnya ada sesuatu yg bisa aku kerjakan."
"Aku berjanji tak akan terjadi sesuatu padamu."
"Ne, gomawo, hyung. Tapi, apa hyung yakin kalau aku benar-benar tidak akan ketahuan?"
"Kalau kami tidak yakin, kami tak akan mengambil resiko seperti ini, apalagi sampai melibatkan warga sipil sepertimu. Dasar, dari awal sebenarnya aku sudah tidak setuju. Benar-benar tidak setuju dgn rencana ini. Semua karna ide gila si anak baru itu. Dan aku tidak habis pikir, bisa-bisanya semuanya menyetujuinya, sampai-sampai Namjoon sangat mendukungnya. Aku menyesal mengajakmu kemari. Harusnya aku mencarikan pekerjaan yg lebih layak untukmu."
Jimin hanya tersenyum kecil menanggapi.
"Kalau kau tidak tahan, bilang saja. Aku akan mengusahakan rencana lain,"lanjut Hoseok.
"Jangan bilang begitu, Hyung. Belum juga aku mulai. Aku ingin aku bisa memberikan yg terbaik, hyung."
"Yah...tetap saja aku merasa tak enak, Jiminie."
Jimin ikut mendesah seperti Hoseok. Lalu menatap lamat ke luar jendela. Yah, dirinya sendiripun sebenarnya masih belum yakin, apakah pekerjaan ini memang sanggup ia lakukan atau tidak.
10 menit berlalu, mobil yg dikendarai Hoseok akhirnya berhenti di sebuah parkiran apartemen. Apartemen sederhana, khas untuk para penghuni yg tinggal sendiri.
"Di sini, ya, hyung?"tanya Jimin membuka seltbetnya.
"Yup, mulai sekarang kau akan tinggal di sini,"jawab Hoseok keluar mobil, "ini apartemennya Jungkook,"lanjutnya berjalan lebih dulu memasuki apartemen setelah mengeluarkan dan membawa koper Jimin dari bagasi mobil.
Jimin mengikuti Hoseok, setelah mematung sebentar menatap bangunan di depannya sambil teringat perkataan Hoseok td pagi yg menyuruhnya untuk mengepak semua bawaannya karna mulai hari ini ia tidak lagi tinggal bersama Hoseok.
"Tadi pagi aku belum sempat menjelaskan apa-apa ya?"
"Ne, Hyung,"jawab Jimin selangkah di belakang.
"Apartemen Jungkook kebetulan sangat dekat dengan asrama Min Tae Hee,"mulai Hoseok, "dan seperti yg kau tahu, tempatku yg sekarang berseberangan dgn apartemen Min Yoongi. Di samping Jungkook yang memang merupakan sang penggagas ide dan yang bertanggung jawab atas dirimu, kau yg sekalinya keluar untuk membeli susu saja sudah secara tak sengaja bertemu dgn Min Yoongi, apalagi kalau tinggal di sekitar sana, kan."
Jimin mengangguk-angguk mengerti. Lalu ikut berhenti seperti Hoseok tepat di depan pintu apartemen 203.
"Kita tidak boleh membiarkan Min Yoongi tahu di mana sebenarnya kau tinggal,"lanjut Hoseok sambil memencet bel dua kali.
Jungkook muncul dari dalam.
"Annyeong haseo,"sapa Jimin sopan.
"Annyeong, Jiminsshi,"balas Jungkook lebih santai.
Hoseok langsung masuk dgn bawaan kopernya, kemudian keluar lagi setelah ia meletakkan koper Jimin di ruang tengah, "aku pergi dulu, Jiminnie. Jungkook, baik-baik dengan adikku,"pamit Hoseok.
"Beres Hyung,"jawab Jungkook.
"Ne, Hyung. Hati-hati, Hyung."
.
.
"Jadi, aku hanya perlu seperti ini? Anda yakin, Jungkooksshi?"Jimin memandang ragu pada bayang dirinya di cermin.
"Kau pikir kau harus seperti apa, Jiminsshi?"Jungkook datang dari dapur dengan segelas kopi d tangan kanannya, "kau ingin memakai rok atau sumpalan dada?"
"Tidak, maksudku. Dari berkas yang diberikan Namjoonsshi kemarin, wajah kami memang sangat mirip dan meskipun berambut pendek yang jelas Min Tae Hee itu perempuan, kan,"ujar Jimin melihat Jungkook melalui cermin.
"Hei, mustahil kau sudah lupa kejadian kemarin lusa, kan?"
Jimin terdiam sebentar. Tampak ekspresi khawatirnya tak membaik sedikitpun, malah semakin kuat karna mengingat sesuatu, "tapi, tetap saja. Waktu itu mungkin saja Min Yoongi hanya memperhatikan wajahku, kan. Bagaimana kalau dia tahu penyamaranku kemudian beralih mengincarku. Dia akan mencari segala cara untuk membalas dendam. Ketika, ketika, aku dan Hoseok-hyung lengah, dan anda juga lengah tentu Min Yoongi langsung menculikku, kan. Lalu, lalu dia akan menyiksaku, dia pasti sangat marah, karna aku tlah seenaknya saja mengaku sebagai adiknya. Setelah menyiksaku aku pasti akan dibuang ke laut atau dikurung di suatu tempat yang menyeramkan. Dan, dan kemud- "
"Mph!"
Sesuatu memotong crocos kecemasan Jimin. Pemuda manis itu melempar ekspresi heran untuk Jungkook yang menahan tawa.
Jungkook tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi kelincinya "apa benar kau lebih tua dariku?"
"Eh?"
"Barusan kau seperti anak kecil yang sedang ketakutan, Jiminsshi,"kekeh Jungkook, "aku semakin yakin, bahkan jika kau menyamar sebagai murid SMP-pun, kau tak akan ketahuan."
Wajah Jimin bersemu merah sedang Jungkook tetap tersenyum, "tapi,"lanjut Jungkook ke hal lain, "dari kemarin hingga pagi tadi kau terlihat tenang dan baik-baik saja Jiminsshi."
Jimin menunduk, "di awal aku memang belum merasakan apa-apa,"ujarnya lesu, "tapi, sekarang, sekarang aku baru sadar, setelah dipikir baik-baik, ternyata ini memang sangat menakutkan. Mulai hari ini, aku, aku orang yang biasa ini akan menyamar dihadapan seseorang yang diduga tlah membunuh keluarganya sendiri, Jungkooksshi."
Jungkook malah terdiam. Begitu mendengar kalimat terakhir Jimin ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sangat serius . Duduknya yang tadi asal, diperbaiki dengan pijakan erat pada lantai kamar. Punggungnya dibungkukkan, tangannya yang menggenggam erat cangkir ditumpu dikedua lutut, "ya, diduga,"ucapnya menatap lurus ke depan, "bahkan sampai detik ini kami belum juga bisa membuatnya menjadi seorang tersangka."
Suasana hening. Jimin terbawa keseriusan Jungkook yang kini terdiam memikirkan sesuatu. Ia memang baru mengenal Jungkook beberapa hari ini, namun ia tahu benar Jungkook yang meskipun sedikit santai adalah seseorang yang berambisi kuat untuk dapat memecahkan kasus yang ditanganinya. Matanya yang sedari tadi melihat Jungkook kemudian beralih pada berkas-berkas yang berserakan diatas meja di depan sofa.
Min Yoongi, 21 tahun.
Ulasan pada berkas-berkas itu mulai membayang di pikiran Jimin.
Anak pertama dari dua bersaudara. Sekitar sebulan yang lalu terdengar keributan besar dari rumahnya. Saat itu tengah malam, terlepas dari keluarganya yang biasa membuat keributan, jam tidur membuat tetangganya malas untuk menggubris lebih lanjut. Esoknya sang adik, Min Tae Hee dikabarkan absen sampai hari ini. Dan sampai sekarang sosok sang ayah tlah menghilang, tak diketahui jejaknya sama sekali.
Min Yoongi, 21 tahun.
Pikiran Jimin kemudian beralih pada kejadian kemarin lusa.
.
.
TBC
Gomawo yg udah baca sampai sini .
Tolong kasih review yaaaaa ^v^
