"Nah Halilintar silahkan duduk di depan ketua kelasmu ya. Dan sekarang buka buku fisika kalian halaman 45."
"Ya Tuhan semoga dia tidak sadar jika tadi pagi itu aku."
Halilintar semakin lama semakin dekat dengan meja Yaya, bersamaannya keringat Yaya semakin lama semakin banyak. Halilintar berhenti di depan tempat duduknya.
Yaya memanjatkan doa di dalam hatinya meminta pertolongan dari Tuhan tapi... Karena pegangan Yaya kurang kuat, Halilintar berhasil mengambil buku Yaya. Dan iris mereka saling bertemu lagi.
"Pantas kelakuanmu mencurigakan. Kau gadis tadi pagi." ucap Halilintar datar.
"Aaa..." kali ini Yaya tidak bisa berkata-kata lagi, dari tadi pagi sampai sekarang ia tidak menemukan keberuntungannya.
"Ouch... Sial ketahuan."
Pinocchio
Chapter 2
Rasanya Yaya tidak tahu harus berbuat apa, buku diambil, ketahuan, Halilintar ingat Yaya, dan ingin sekali ia keluar kelas lalu berteriak di sepanjang koridor sekolah bahwa yang Yaya rasakan sekarang ini sangatlah tidak karuan. Lalu berguling-guling dan jungkir balik kesana kemari.
"Eum.. Hai. Se-..Se..lamat pagi." ucap Yaya grogi sambil melambaikan tangannya ragu.
"Yah..." Halilintar mengembalikan buku Yaya secara kasar, ia melemparnya ke meja Yaya menimbulkan suara benturan yang tidak terlalu keras dan ia segera duduk di tempatnya.
"Ternyata kata-kata selamat pagi bukanlah ide yang bagus. Dasar Yaya bodoh." batin Yaya terus merutuki dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya.
"Nanti bagaimana caranya mengajak Halilintar keliling sekolah? Andai saja kejadian tadi pagi tidak pernah terjadi." Yaya berusaha melupakan kejadian tadi tapi tetap tidak bisa. Ia mencoba mencoret-coret buku fisika bagian belakangnya, siapa tahu Yaya bisa lupa.
"Yaya Ah."
Yaya terserentak kaget namanya dipanggil tiba-tiba oleh wali kelasnya, hampir saja ia melompat dari kursi yang ia duduki. "I-iya pak?"
"Berdiri lalu coba kau jawab pertanyaan nomor 2 hal 47 dan jelaskan caranya."
Yaya langsung membuka buku fisikanya lalu membaca soal nomor 2, Yaya menjawab dan untung saja jawabannya benar. Materi yang dipelajari sekarang, materi yang Yaya pahami. Jika tidak mungkin ia sudah dilempar ke keluar kelas lol.
"Bagus bagus, kau boleh duduk lagi." Yaya menghela nafas lega dan kembali duduk.
'Tes tes 1 2 3' suara speaker kelas yang terhubung ke ruang kepala sekolah berbunyi, "Panggilan untuk Bapak guru Wijayanto wali kelas 2-B harap ke ruang kepala sekolah, sekarang. Terima kasih."
Batin siswa 2-B sangat senang karena ada free class dadakan.
"Kalian dengar sendirikan? Bapak dipanggil ke ruang kepala sekolah. Tapi bukan berarti kalian tidak ada tugas, kalian kerjakan hal 50 bagian essai 1-25 pakai soal, jawaban, dan caranya. Dikumpulkan sepulang sekolah. Kalian mengerti?"
"Mengerti pak." jawab seluruh murid 2-B kompak, dan akhirnya mereka tersiksa lagi yang namanya fisika.
Karena Yaya sebagai ketua kelas, ia harus mengerjakan tugas. Mau tidak mau, suka tidak suka, jika ia tidak mengerjakan tugas reputasi Yaya sebagai ketua kelas akan buruk dimata guru-guru dan teman-temannya.
"Membosankan." Gumam Yaya pelan sambil menulis soal.
Karena kebosanan menghantui Yaya dan juga ia tidak fokus, ia salah menulis soal. "Sial..." Yaya merogoh isi tempat pensil tapi ia tidak menemukan penghapusnya.
"Gawat... Aku harus pinjam ke siapa? Di kelas ini aku tidak terlalu dekat dengan penghuni kelas ini. Apa aku pinjam ke Halilintar saja?" Yaya melirik ke arah Halilintar, ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Astaga Yaya, kau dengan Halilintar bahkan tidak pernah kenal sebelumnya. Masa aku harus berlagak sok akrab? Tapi tidak ada cara lain, aku ini kan ketua kelas dan ini cara supaya bisa dekat dengannya aku harus dekat dengan anak buahku juga."
"Halilintar." panggil Yaya pelan.
Dan tidak ada respon darinya.
"Hali?"
Tidak ada respon lagi.
"Hali...lintar...?" Yaya mencolek punggung Halilintar menggunakan pensilnya.
Halilintar yang berusaha tidak peduli dengan panggilan Yaya, tapi lama-lama ia jengkel sendiri jika didiamkan terus.
"Apa hah!?" Halilintar membalikkan badannya menghadap ke Yaya terlihat sekali dari raut wajahnya jika ia terlihat kesal.
"A-..Aku pinjam penghapus aku lupa bawa. Boleh?" tanya Yaya hati-hati, ia takut Halilintar mengomelinya.
Halilintar menatap Yaya cukup lama.
1 detik...
2 detik...
5 detik...
Yaya lama-lama risih jika ditatapi cukup lama seperti itu. "Ja...dii?"
"Tidak." Halilintar kembali ke posisinya semula.
"Ia tidak menakutkan, lebih tepatnya ia menyebalkan, sangat menyebalkan. Oh.. Ditambah lagi sangat jutek." Yaya menatapi punggung Halilintar dengan tatapan sebal.
Yaya terpaksa tidak membetulkan soal yang benar, ia membiarkan salah begitu saja. Yaya ingin meminjam ke bangku belakang tapi ia baru ingat temannya tidak masuk karena masih diskors.
"Lihat saja kau nanti tuan menyebalkan. Jika kau minta tolong padaku, takkan pernah aku akan membantumu." Batin Yaya menahan emosinya dengan cara mengepalkan tangan sekuat-kuatnya dan membuat nafasnya kembali teratur lagi.
-PP-
30 menit telah berlalu, guru fisika tak kunjung kembali ke kelas dan waktu istirahat entah mengapa sangat lama. Semua siswa sudah mulai bosan, sangat bosan.
Yaya memejamkan matanya pelan dengan posisi tangannya menahan pipinya. Angin dari luar masuk ke ventilasi kelas, membuat keinginan Yaya untuk tidur sangat besar. Tak lama kemudian hembusan nafas Yaya melambat dan akhirnya Yaya tertidur.
"Yaya." suara samar terdengar ditelinga Yaya, tapi rasa kantuk Yaya mengalahkan rasa penasarannya, ia lebih memilih melanjutkan tidurnya.
"Yaya?" seseorang menepuk-nepuk pipi Yaya pelan, Yaya segera menelungkupkan wajahnya dengan tangan sebagai alasnya.
"YAYA!"
Yaya membuka matanya pelan dan mendapati Ying dan Hanna di hadapannya sekarang. "Kenapa kalian berdua datang kesini? Bukannya ini masih jam pelajaran?" Yaya mengucek matanya dan menguap lebar.
"Kau gila ya? Ini sudah waktunya istirahat." sahut Hanna kesal jika Yaya bukan temannya, mungkin Yaya sudah dijambak habis-habisan olehnya.
"Jadi?" tanya Yaya dengan mata setengah terpejam.
"Oh ayolah sadar Yaya, SADAR! Id!0t." Hanna mengguncangkan tubuh Yaya dengan kedua tangannya.
"Oh ya Halilintar ternyata dingin sekali ya." karena mendengar ucapan Ying, Yaya langsung terbangun dan memasang wajah terkejut.
"Ka-kau... Tahu Ying?" mata Yaya terbuka lebar setelah mendengar kata 'Halilintar'
"Haiyya...Tadi kita minta tolong untuk bangunkanmu woo..., tapi dia mengacuhkan kami dan dia pergi begitu saja maa..."
"Cih.. Hanya tentang Halilintar kesadaranmu langsung terkumpul."
"Bukan begitu Hanna, aku baru ingat aku disuruh keliling sekolah bersama Halilintar." Yaya bangun dari duduknya dan berlari keluar kelas.
"Hei Yaya! Kau mau kemana? Dia bukan anak kecil lagi dia bisa keliling sekolah sendiri." seru Hanna keras, tapi usahanya gagal Yaya sudah keluar kelas dan mengejar Halilintar.
Yaya berlarian dikoridor sekolah membuat satu sekolah mengalihkan pandangannya ke Yaya. Kata maaf keluar dari mulut Yaya karena menabrak beberapa siswa saking terburu-burunya.
Mata Yaya terus bergerak kesana kemari mencari sosok Halilintar sehingga ia tidak memperhatikan jalan yang ada di depannya. Karena ketidakwaspadaanya ia menabrak seseorang yang lebih besar darinya, dan Yaya hampir terjatuh ia langsung menjaga keseimbangannya.
"Maaf maaf, ini salahku. Aku tidak berhati-hati." Yaya mengatupkan kedua tangannya dan membungkukkan badannya.
"Ada yang luka tidak? Kau terlalu mungil sih, tertabrak sedikit saja langsung oleng."
"Hali?"
"Aku bukan Halilintar lah, berhenti samakan aku dengan si dingin itu terus."
Yaya menaikkan sebelah alisnya tak percaya, "Jadi jika kau bukan Hali, terus kau siapa? Jelas-jelas wajahmu itu wajah Hali."
"Aku? Aku adalah bangsawan dari kerajaan vampir yang akan menyerang sekolah ini dan membuat penghuni sekolah ini menjadi-..."
"Ayolah bisakah kau serius sedikit?" Yaya mulai jengkel dengan sikap lawan bicaranya itu.
Laki-laki itu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Yaya, dan Yaya reflek memundurkan sedikit kepalanya kebelakang. "Baiklah aku serius, tapi ada syaratnya. Cium aku." laki-laki itu menunjuk bibirnya.
Mendengar kata-kata 'cium' Yaya mengepalkan tangannya dan akhirnya pipi lawan bicaranya terkena bogemannya.
Laki-laki itu langsung tergeletak di lantai. "Pukulan... Yang sangat..." dan akhirnya kesadarannya hilang.
"A-a... Maaf. Kau sih aku tanya serius malah menggodaku, seharusnya dari awal kau tidak menggodaku seperti ini. Aku harus bagaimana ini..." Yaya mulai panik sekarang, yang tadinya ingin mencari Halilintar seketika terlupakan.
"Kak Taufan!?"
Mendengar suara dari belakang, Yaya mencari asalnya darimana. "Kau? Kau yang tadi pagikan?" tanya Yaya yang melupakan korban dari bogemannya.
"I-iya, yang penting sekarang dia kenapa?" tanya pemuda yang memiliki wajah yang sama seperti Taufan. Sekarang ia sama paniknya dengan Yaya.
"Ok jangan panik, ini salahku. Ki-kita ke UKS saja sekarang, aku jelaskan disana."
Ia menganggukkan kepalanya, dan membawa Taufan ke UKS dibantu Yaya pastinya.
Perjalanan ke UKS tiba-tiba Halilintar datang di hadapan Yaya sekarang.
"Gempa."
Yaya langsung melihat ke arah yang diketahui namanya Gempa.
"In-ini salahku, ma-maaf. Aku tidak sengaja, aku melakukan ini karena ada alasan lain, sungguh..." seketika wajah Yaya pucat karena takut mendapatkan omelan dari Halilintar.
Halilintar menghela nafasnya, ia tahu tidak sepenuhnya salah Yaya. "Minggir." ucap Halilintar dengan nada agak meninggi dan Yaya menuruti perintah Halilintar.
Setibanya mereka di UKS, Yaya menceritakan kenapa Taufan bisa pingsan. "Yah... Ini semua salah Taufan, dia memang suka menggoda orang. Kau pukul sampai masuk rumah sakit pun tidak apa." ucap Gempa diikuti kekehan kecil, ia memaklumi kesalahan Yaya.
"Ta-tapi tetap saja ini juga salahku." Yaya memainkan kukunya dan menundukkan kepalanya, ia terlalu takut wajah apa yang dipasang oleh saudara kembar Taufan ini.
"Perempuan kasar." Halilintar menghembuskan karbon dioksida dari mulutnya.
Yaya terserentak kaget dan seketika tubuhnya membeku.
Gempa langsung menyikut perut Halilintar, lirikan tajam milik Halilintar menyoroti Gempa. Tapi Gempa tidak mempedulikannya.
"Ja-.. Jangan pikirkan kata-kata kak Hali, ia memang seperti itu ke semua perempuan. Lagi pula kau seperti itu bentuk perlindungan diri kan? Kan kan kan?" Sebisa mungkin Gempa menenangkan Yaya, tapi Yaya sudah terlanjur memasukkan perkataan Halilintar ke hatinya.
Dokter UKS datang menghampiri Gempa. Dokter itu menjelaskan Taufan baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa, hanya saja meninggalkan luka lebam di pipinya.
"Kak, lebih baik kau duluan ke kelas saja."
"Kau secara tidak langsung men-cap ku sebagai kakak yang buruk."
Gempa menarik kerah Halilintar lalu berbisik di dekat telinganya "Kau mau dia bertambah sedih lagi? Ayolah sekali ini saja aku menjaga Taufan." Dia yang dimaksud Gempa adalah Yaya.
Halilintar menepis tangan Gempa dari kerahnya. "Bukan urusanku jika dia tambah sedih." Lalu Halilintar merapikan kerahnya yang berantakan.
"Ayolah ayolaah, kau jadi laki-laki mengapa tidak peka?" Gempa menatap Halilintar seperti anak anjing yang meminta susu kepada induknya, Halilintar tidak bisa menolak (wajah imut) permintaan adiknya.
"Baiklah baiklah, berhentilah menatapku seperti itu." Halilintar merasa risih dan mendorong sedikit wajah Gempa.
Halilintar meninggalkan ruangan UKS tanpa meninggalkan pesan apapun untuk Yaya.
"Kak Hali benar-benar tidak peka." Gempa memegangi keningnya dan tidak sengaja matanya teralihkan ke Yaya.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" Gempa menggaruk tengkuknya dan ditemani kekehan kecil.
Yaya tersadar dari lamunannya, "Aku Yaya Ah, kelas 2-B."
"Aku Boboiboy Gempa kelas 2-A. Kenapa kau tidak keluar bersama kak Halilintar?"
"Um.. Aku tunggu sampai Taufan sadar saja." Yaya memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dari Gempa.
"Taufan tidak apa, padahal pukulan kak Hali jauh menyakitkan dari pukulanmu."
Yaya bersikeras tetap di UKS sampai Taufan bangun dari pingsannya.
Gempa mulai jenuh dengan sikap keras kepala Yaya. "Ayolah ia tidak apa, sungguh. Kau bisa kembali ke kelasmu, aku berani jamin tak lama lagi ia akan sadar."
Yaya akhirnya mengalah dan menuruti perkataan Gempa. "Baiklah aku kembali ke kelas, tapi aku takut Hali-..."
"Aku kan sudah bilang, kata-kata kak Hali jangan dimasukkan ke hati. Dan sudah sifatnya seperti itu."
Dengan berat hati Yaya keluar UKS meninggalkan Gempa bersama Taufan yang masih belum sadar dari pingsannya.
"HAHAHAHAHHAHA." Dan tak lama kemudian Taufan bangun dan tertawa terbahak-bahak.
"Sudah kuduga kau pura-pura pingsan, senang sekali sih mengerjai orang. Sekarang kau sangat beruntung, kak Hali sudah ku paksa pergi duluan."
"HAHAHAHA, ASTAGA. ADUDUH PERUTKU SAKIT NIH, PERJUANGAN SEKALI PURA-PURA PINGSAN SAMBIL MENAHAN TERTAWA SEDARI TADI. GYAHAHAHAHA."
"Jika Yaya tahu kau akting, mungkin sekarang kau sudah dikafani dan siap untuk dikubur."
Taufan menyeka air mata yang ada di sudut matanya karena ia tertawa keras dan tak henti-henti. "Ngomong-ngomong pukulan dia setara dengan kak Hali ternyata. Sampai sekarang masih nyut-nyutan." Taufan memegangi pipinya lalu mengelus-elusnya pelan.
"Sebenarnya pukulan belum cukup untukmu."
"Jadi kau membela Yaya daripada kakakmu sendiri? Adik durhaka." Taufan memanyunkan bibirnya dan mengguncang-guncang tubuh Gempa pelan.
-PP-
Tak terasa bel pulang berbunyi menandakan penghuni sekolah harus membereskan buku di mejanya dan memasukkannya ke tas.
"Hujannya deras." gumamnya pelan.
Yaya baru ingat jika Ying hari ini piket, Ying paling tidak suka jika Yaya menunggunya sampai selesai. Sedangkan Hanna pulangnya selalu dijemput.
Yaya menghela nafasnya pelan mengambil kertas fisika yang ditugaskan oleh gurunya di meja guru.
"Aku heran dengan fisika, soalnya 7-10 kata tapi rumus dan jawabannya memakan 1 lembar kertas." ucap Yaya bingung karena melihat-lihat jawaban fisika milik teman-temannya.
Kertas yang Yaya pegang lenyap dari genggaman dan dari pandangannya.
"HEI!? Jangan seenaknya mengambil-..." Yaya memutar badannya 180 derajat dan wajahnya langsung pucat.
"Apa?" tanya Halilintar datar.
Yaya memilih bungkam, ia takut salah bicara.
Halilintar menghela nafasnya pelan, Halintar memukul kepala Yaya pelan menggunakan setumpuk kertas yang ia pegang. "Tidak usah dipikirkan yang tadi."
"Aa.. Tunggu Hali." Yaya menarik seragam Halilintar.
Halilintar menghentikan langkahnya dan melihat tangan mungil milik Yaya yang menarik bajunya. "Apa?"
"Bi-biar aku saja yang bawa, itu sudah tugasku. Kau tak usah repot-repot membantuku." bagus, suara Yaya terdengar bergetar.
"Siapa yang bilang aku membantumu? Jangan terlalu percaya diri." ucapnya cuek.
Jika ini anime mungkin sudah banyak panah menusuk dada Yaya. Sudah kege-eran duluan, dijawabnya sarkas begitu.
"Se-setidaknya, aku ikut mengantarmu ke ruang guru." Yaya masih setia menarik seragam Halilintar.
"Terserah dan lepas tanganmu dari bajuku." Yaya langsung terkejut sejak kapan ia memegang seragam Halilintar.
"Maaf maaf, maksudku bukan begitu aku hanya-..." Yaya membungkukkan badannya cepat.
Halilintar tidak merespon permintaan maaf Yaya dan melanjutkan jalannya yang terhenti tadi. Yaya langsung mengikuti Halilintar dari belakang.
Di sepanjang koridor sekolah sangat sepi, hanya ada suara langkah kaki milik Halilintar dan Yaya. Mereka berdua asik dengan dunianya sendiri. Yaya hanya bisa menatap bahu Halilintar yang lebar nan kokoh yang tertutup oleh rompinya yang berwarna hitam dan merah terang.
"Hali." Gumam Yaya pelan.
"Hm?"
"Ah... Tidak apa, aku hanya memanggil saja." Yaya memegangi kepalanya dan diikuti kekehan kecil.
Mereka sampai di depan ruang guru.
"Kau tunggu saja di luar." perintah Halilintar ke Yaya, Yaya membalasnya dengan anggukan pelan.
Yaya menatap ke arah luar sekolah, hujan bertambah deras dan ia lupa bawa payung. Sungguh kesialan terus datang tanpa diminta.
Suara pintu menutup menandakan Halilintar keluar dari ruang guru. "Makasi Hali. Walaupun niatmu bukan karena membantuku, tetap saja aku merasa merepotkanmu."
"Iya."
Halilintar melirik ke arah Yaya, tidak ada tanda-tanda jika Yaya ingin pulang. "Kau tidak pulang?"
Yaya terkejut, karena Halilintar bersuara duluan. "A-aku lupa bawa payung. Dimana saudara-saudaramu?" Yaya mengalihkan pandangannya ke lantai.
"Pulang duluan mungkin." balas Halilintar singkat.
"Oh oke." Yaya menganggukan kepalanya.
Halilintar melepas rompinya, lalu ia letakkam rompinya di atas kepala Yaya.
"Kau ngapain?" tanya Yaya kebingungan.
"Pulang sana, setidaknya kepalamu tidak basah." Halilintar terlihat menutupi mulutnya menggunakan tangannya.
"HEHHH? Kan rompimu tembus air kepalaku tetap basah dong."
"Ti-tidak mau ya sudah." ucap Halilintar kesal dan mengambil kembali rompinya.
"Eh! Iya iya aku mau." Halilintar memberikan kembali ke Yaya dan pergi begitu saja.
"Hali! Terima kasih." Yaya sedikit berteriak agar suaranya terdengar.
"Dasar." gumam Halilintar pelan diikuti kekehan kecil yang tak dapat ia tahan lagi.
Di perjalanan pulang, Yaya mengenakan rompinya di atas kepalanya. Entah mengapa bau Halilintar sangat enak untuk dicium. Walaupun sudah tercampur air hujan tetap saja bau Halilintar tetap tinggal disana.
"Aku ingin berteman dengannya." tanpa Yaya sadari, senyuman manis menghiasi wajah Yaya.
Tiba-tiba langit bertambah gelap tetapi rerintikkan hujan tak lagi nampak di hadapan Yaya. Ia langsung mendongakkan kepalanya ke atas ternyata ini payung.
"Tidak bawa payung? Sudah sifatmu ya, si pelupa."
"Fang?"
"Yo."
TBC
Haiii, ff ini aku telantarin berapa lama ya? Huwee maafkan Luna yang tidak bertanggung jawab. Btw, di chap ini aku buat Yaya ga berbohong atau cegukan terus, ya kali Yaya harus bohong terus gara-gara hal sepele doang, kasian pegel tau cegukan terus-terusan.
Dan... KENAPA HALI OOC BANGET ARRGGHHH RASANYA INGIN DIE SAJA. Hanya chapter ini hanya chapter ini saja hanya chapter ini *gumam thor luna hampir gila.
Yak kita balas saja review satu persatu.
Chikita466 : manis? sperti wajah thor luna kah? *plakkk. Makasih atas pendapatnya.
IntonPutri ice diamond : omaygattt author fav ku review *guling guling. Makasih atas saran dan reviewnya *bungkuk
Zahra536 : syndrom ini terinspirasi dari film sadja, dan syndrom ini tidaklah nyata atau tidak ada yang namanya penyakit ini.
Yoshilyn Wu : coba saja kak Yoshi cek ke dokter rsj siapa tau gila beneran :v *dilempar sampah. Makasih reviewsnya.
Ochandy : ASDFGHJKL AUTHOR FAV Q. Terima kasih atas penyambutan yang membuatku sedikit terharu.
Petirhime : soundtrack film korea The Legend of the Blue Sea judulnya A World That Is You. Artinya sangat pas dengan suasana hati Thor :((((
Yak thor luna tidak bisa membalas reviews satu persatu. Yang jelas, yang reviews, yang membaca, yang mendukung, thor luna sangat sangat berterima kasih.
Maaf kepanjangan :v cuman 100+ words kok A/N nya. Salam cium peluk Thor Luna. Bubayy
