Chapter 2
Seratus delapan puluh menit dan lima puluh detik telah terlewati sejak tangisan bayi terakhir terdengar di ruangan itu. Tampaknya hampir semua bayi sudah dibawa ke ruangan yang lain agar tidak terusik dengan kebisingan di kamar sempit itu. Hanya tinggal beberapa saja yang tengah menyusu pada ibu mereka. Para perawat dan bidan tak lagi berlalu-lalang di hadapan Jungkook. Kecuali untuk Dorothy, yang sekarang berada di hadapan Jungkook untuk mengecek pelebaran lubang lahirnya.
Ia adalah seorang wanita muda bertubuh semampai dengan ekspresi ramah yang tak pernah lepas dari wajah ovalnya. Sikapnya pun begitu, selalu melayani setiap pasien dengan lemah lembut serta penuh ketulusan.
"Bagaimana kabarmu, Kook?" Sebuah senyum hangat terulas di wajahnya. Gaun biru yang dikenakannya melambai-lambai mengikuti gerakan tubuhnya menyiapkan baskom air di hadapan Jungkook. Memang wanita ini bisa membuat siapa saja yang bertemu dengannya merasa senang. Mau tak mau, Jungkook memaksakan sebuah lengkungan di bibirnya.
"Ya, beginilah, Dorothy." Jawab pemuda itu sekenanya. Jungkook menghela napas berat, kemudian meringis pelan. Punggungnya sakit setengah mati. Sifat cengengnya kembali muncul kala tubuh ringkihnya dihantam ngilu yang luar biasa.
Lalu Dorothy melebarkan kedua kaki pemuda itu dengan kedua tangannya yang telah dilapisi sarung tangan karet. Seharusnya jalur lahir Jungkook sudah terbuka cukup lebar, melihat kontraksi yang sudah mulai dirasakannya dari kemarin. Di sana, dapat dilihatnya area fleksibel itu telah berubah kemerahan, sedikit berkedut, seirama dengan suara rintihan Jungkook.
"Bagaimana, Dorothy?" tanya Jungkook, sedikit mengangkat kepalanya. Salah satu tangannya memegang perut besarnya, sedangkan tangan sebelahnya menopang bobot tubuhnya pada ranjang lusuh itu.
Dorothy hanya melengkungkan sudut-sudut bibirnya ke atas. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibir ranum wanita itu. Dilepasnya sarung tangan karet itu, lalu dilempar asal ke tempat sampah di pojok sana.
"Sebentar lagi, ya..." ucapnya sebelum keluar dari ruangan itu, membuat Jungkook mengerang keras-keras hingga mengganggu ketenangan pasien lain di kamar itu.
...
Derap langkah sepatu bot berwarna hitam itu merupakan satu-satunya suara yang terdengar di tengah-tengah tanah tandus tak berpenghuni ini. Seluruh permukaan tempat mereka berpijak benar-benar kering : tak ada sumber air yang mengucur, pohon-pohon kehilangan mahkota berwarna hijau milik mereka, bahkan anjing-anjing di sini minum kencing mereka sendiri. Di tengah-tengah tanah gersang itu, terlihat sebuah kamp berisi sekumpulan lelaki berseragam hijau dengan empat buah truk raksasa terparkir di sekitar tenda mereka.
Semuanya tak berpakaian saking tidak tahannya dengan udara di sini. Jika bukan karena tuntutan untuk mengabdi pada negeri, mereka tidak mungkin mempertaruhkan nyawa mereka di tempat rawan seperti ini.
Taehyung melepas kaus putih yang dikenakannya sejak sebelum matahari terbit tadi. Dari tadi ia mati-matian berusaha untuk tidak melepas seluruh pakaian yang menutupi tubuh bagian atasnya. Mula-mula hanya seragam saja yang ia lepas, sedangkan torsonya masih dilapisi kaus tipis berwarna putih. Tetapi, lama-kelamaan ia merasa seperti dibakar oleh bola api yang letaknya berkilo-kilometer dari bumi itu. Akhirnya, insting untuk bertahan hidup memerintahkannya untuk menanggalkan semua kain penyerap panas itu.
Untunglah hari ini adalah hari terakhir kami di sini, pikirnya.
Sebuah tamparan keras tiba-tiba menghantam punggung lebarnya yang tak tertutupi apa-apa.
"Hei, kau tidak mau minum bir?" sebuah suara berat menyapa indra pendengarannya.
Lelaki bertelinga besar, yang baru saja datang merusuh itu menggoyangkan botol bir di tangannya tepat di depan muka Taehyung, membuatnya mendengus.
"Kau mau mati cepat, Chanyeol? Nanti kalau sampai kau kehausan, jangan habiskan persediaan air kami."
Chanyeol tertawa dengan keras. Wajahnya mulai mengeluarkan semburat kemerahan, menandakan bahwa ia telah 'mencicipi' minuman beralkohol di tangannya itu tadi.
"Kau tidak seru sekali, bung. Lagipula besok kan kita kembali ke kota. Persediaan air masih banyak, santai sajalah!" Ia menenggak birnya lagi.
"Hanya karena besok kita pulang, bukan berarti kau boleh menghabiskan airnya. Kita tidak tahu, kan apa yang bakal terjadi di perjalanan besok." Taehyung merebut bir dari telapak tangan besar lelaki itu, lalu menuangkan isinya di depan kakinya. Seakan tersadar dari mabuk ringannya, kedua matanya yang tadi setengah tertutup itu kini terbuka lebar.
"Hei, kau tidak perlu melakukan itu, bajingan!"
"Nanti, aku akan traktir minum di bar enak begitu sampai di kota." botol yang sudah kosong itu dilemparnya asal.
Sebuah senyuman sumringah tergambar di wajah Chanyeol. Alisnya naik, membentuk sebuah lekukan indah dan sebuah senyuman tergambar di wajahnya hingga dua buah lesung pipi menampakkan diri di sana.
"Tumben sekali, seorang Kim Taehyung tidak pelit. Ada kabar baik apa, bung?"
Taehyung mengambil sebuah kerikil dari tanah. Dilempar-lemparnya batu kecil malang itu sambil menatap kejauhan.
"Ya... anakku akan lahir dalam waktu dekat. Jadi, mu-"
"HAH?! Anakmu? Maksudmu kau dan Jungkook sudah..."
Belum selesai Taehyung berbicara, Chanyeol sudah memotong duluan. Kedua mata besarnya yang membola itu sangat mengundang untuk ditusuk dengan jari-jari panjang Taehyung.
"Memangnya aku harus menceritakan sex life-ku padamu, ya?" sinisnya dengan wajah jengah yang tidak dibuat-buat.
"Huh, bukan begitu juga, sih. Maksudku, tidakkah kau dan Jungkook masih terlalu muda? Terutama Jungkook. Kau tidak boleh meninggalkan pemuda malang itu setelah anak kalian lahir. Bertanggung jawablah, Taehyung!" Chanyeol memberinya ceramah singkat. Maklum, Chanyeol sendiri sudah berkeluarga. Walaupun agak urak-urakan, he's a family man.
Taehyung hanya memutar kedua bola matanya bosan. Kenapa sih, Chanyeol suka sekali membuat asumsi-asumsi buruk tentang dirinya? Hanya karena ia menghamili Jungkook terlalu cepat, bukan berarti ia akan meninggalkan kekasih dan anaknya begitu saja. Ia bisa merasakan sikap "ke-kepala keluarga-an" yang mulai tumbuh dalam dirinya, jika itu masuk akal.
"Besok, begitu kita pulang, aku akan langsung ke rumah sakit. Aku yakin Jungkook sekarang sedang meraung-raung memanggil namaku. Aku akan jadi ayah, bung."
Chanyeol hanya mengangkat bahunya acuh. Jawaban dari Taehyung membuatnya yakin bahwa lelaki itu tidak cukup brengsek untuk menelantarkan seorang bocah berusia lima belas tahun yang baru keluar kelenjar susunya. Apalagi Jungkook itu sebatang kara. Ia tak memiliki kerabat di belahan dunia manapun. Semuanya habis terbunuh dalam pemberontakan yang terjadi beberapa tahun silam. Memang, negeri mereka bukanlah tempat yang paling aman untuk ditinggali.
"Aku dan Baekhyun akan datang berkunjung. Kau tahu bagaimana menghubungi kami."
.
.
.
To be continued
Maaf ini lama banget apdetnya :') Sesungguhnya ini lagi minggu-minggu ujian. Hari ini pun kupaksain apdet karena kepala ini sudah dipenuhi ide.
Semoga kalian suka ya~
