Waduh.. Blue bener-bener ga nyangka kalau ternyata respon para readers pada SasuSaku itu sangat meningkat drastis! Buktinya, selama beberapa bulan menjadi penulis fict NaruHina dan mencoba untuk berkreasi dengan chara baru, baru saja update 2 jam setelah selesai pembuatan, review yang masuk sudah banyak! Padahal, kalau Blue bikin NaruHina reviewnya baru masuk sehari setelah update loh. Apa para readers memang lebih suka SasuSaku daripada NaruHina ya? Ah, walau begitu Blue sih tetap ikutan dukung aja, Hehe.. Ga nyangka kalau ternyata SasuSaku lebih eksis dan dicari banyak orang ketimbang NaruHina. Tak apalah, selama itu adalah pairing kesukaan Blue, Blue akan tetap berusaha membuat ceritanya semakin seru.
Disclaimer: Om Masashi Kishimoto.. Om Kishi: Tumben nyebut nama gue lengkap! Biasanya cuma 'Om Kishi' *blue melengos*
Enjoy it!
Beautiful Doctor
Mentari telah bangun dari tidur panjangnya. Siap memulai tugasnya untuk menerangi dan menghangatkan Bumi dari gelapnya dan dinginnya malam. Tak mau hanya sendirian tanpa ada seseorang yang membutuhkannya, sang mentari mulai menebarkan sinar-sinar ramahnya yang begitu hangat. Salah satu sinarnya mengenai jendela yang ditutupi gorden putih dan mampu menebusnya untuk membangunkan seorang wanita cantik yang sedang tertidur pulas di atas kasur besar dengan sprei berwarna merah marun.
Lambat laun wanita itu mengolet. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha membuka kelopak matanya dari kantuk yang menyerang dirinya. Wanita bernama Sakura itu segera bangun dengan perlahan dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang lebih selama 8 jam kaku. Sakura melihat sekeliling kamarnya yang bernuansa dengan warna merah muda. Tak mau berlama-lama melamun, Sakura segera bangun dan menyambar handuk merah yang berada di sampingnya.
"Selesai. Sarapan sudah siap. Kurang apa ya?" gumam Sakura setelah meletakkan sepiring besar nasi goreng keju buatannya dan mulai berpikir mungkin ada sesuatu yang belum disiapkannya.
Ya. Tentu saja ada. Mata bulat Sakura menatap kursi meja makan yang berada di sebelahnya. Kosong. Sakura mendengus sebal. Ia melihat jam dinding yang terletak pada dinding dapur.
"Dasar. Naruto-nii mulai lagi penyakit molornya. Sudah sesiang ini dia belum bangun juga. Habis ngapain sih tadi malam?" keluh Sakura bergegas menuju kamar Naruto.
Sakura membuka handle pintu kamar Naruto dengan perlahan. Wangi orange dan citrus segera menghampiri indera penciuman Sakura. Dilihatnya sekelilingnya yang penuh dengan nuansa oranye dan jeruk. Dan, matanya menangkap sesosok makhluk besar yang hanya memakai kaos oblong dan celana pendek bermotif hati sedang tidur dengan nyenyaknya tanpa menyadari bahwa hampir setengah bantalnya sudah tertutupi oleh air yang mengalir dari mulutnya. Sakura bergidik jijik.
"Euh.. Naruto-nii memang jorok! Pantas saja setiap aku mencuci sarung bantalnya, tercium bau bangkai naga bercampur gas sigung. Ternyata dia pelakunya. Dasar. Menyusahkan orang saja." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Diguncang-guncangkannya tubuh Naruto.
"Niichan. Niichan! Sudah pagi. Ayo bangun!"
"Nyam..nyam..nyam.. Sedikit lagi.."
"Niichan! Ini sudah siang! Apa kau tidak terlambat ke kantor?" seru Sakura menepuk-nepuk bokong Naruto.
"Ahh~ Sedikit lagi.. Aahh.."
"Sedikit lagi apanya sih? Ayo bangun!" Hampir saja Sakura menyeretnya ke bawah kalau Naruto tidak lagi bergumam yang membuat Sakura kaget dan bingung.
"Aku tidak kuat lagi.."
"Hah?"
"Hinata~ Aahh.. Ampun.. Aku sudah tidak kuat lagi.."
Sakura bengong. Apa? Jadi, sejak tadi kakaknya mengigau bermimpi tentang Hinata? Mimpi apa yang bisa membuat Naruto mendesah dan mengigau seperti itu? Kenapa Naruto menyebut-nyebut nama Hinata? Tampak seulas senyum mesum terpampang di wajah Naruto. Sakura merengut kesal.
"Gila! Aku sudah bangun dan sudah menyiapkan sarapan, dia masih enak-enakkan tidur dan bermimpi tentang Hinata? Apa-apaan itu? Wah, ini tidak bisa dibiarkan. Kalau tidak, di mimpi itu Hinata bisa jadi korban Naruto-niichan! Tidak! Tidak boleh!" Sakura spontan langsung berlari ke dapur dan kembali dengan sebuah panci dan sebuah sendok aluminium yang besar.
Sakura tersenyum jahil.
"GEMPA! GEMPA BUMI! CEPAT LARI! ADA GEMPA BUMI! KALAU TIDAK, KITA AKAN MATI!"
"Huaaaaaahhhh! Mana? Mana gempa?" Sakura tertawa ngakak sampai berguling-guling di lantai memegangi perutnya. Bagaimana dia tidak tertawa geli? Melihat Naruto yang tiba-tiba bangun dengan wajah masih setengah sadar dan air liur menggantung di sekitar mulutnya dan kaget setengah mati mendengar suara Sakura dan panci yang Sakura ketuk-ketukkan dengan berisik.
"Huahahahaha! Hahahahahaha!"
"Sakura? Ini kerjaanmu ya?" seru Naruto melihat Sakura yang sejak tadi tidak berhenti tertawa.
"Hahaha! Hahahahaha! Haaahh.. Ha-habis.. Nii-chan ti..tidak mau..hmmfftt.. bangun-bangun.." jawab Sakura menahan tawanya.
"Kau ini memang jahil ya!" Naruto melangkah menuju Sakura.
"Jangan! Bersihkan dulu air liurmu baru dekati aku!" perintah Sakura melangkah mundur. Naruto mengelap air liurnya dengan tangannya.
"Ini?" Sakura melotot.
"Niichan! Kau jorok sekali!"
"Karena kau sudah menganggu tidurku, sekarang kau harus mencium aroma 'harum' air liurku ini!" kata Naruto mengejar Sakura yang sudah lari terbirit-birit duluan.
"Kyaaaa! Jangan! Amppppuuuunnnnnn!"
-o0o-
Setelah insiden 'Pagi yang menyenangkan', kini Naruto dan Sakura tengah menikmati sarapan mereka di meja makan. Sakura masih merengut sebal pada Naruto. Gara-gara dia, Sakura harus berkali-kali membasuh wajahnya yang terkena air liur laknat dari Naruto yang super bau dengan sabun. Tidak hanya sabun mandi, sabun detergen, sabun colek, sabun bayi, semua sabun di pakainya hanya untuk menghilangkan bau yang menurut Sakura lebih bau daripada bau sejuta bangkai kucing yang kini menempel di pipinya. Naruto yang melihatnya hanya tersenyum sinis.
"Makanya, jangan ganggu orang tidur!" sahut Naruto di sela-sela makannya.
"Bukannya ganggu! Niichan aku bangunin tidak bangun-bangun. Dan juga, pakai manggil-manggil nama Hinata. Daripada Hinata kenapa-kenapa di mimpi niichan, makanya aku bangunin kayak gitu. Memang niichan mimpi apa sih, sampai nyebut-nyebut nama Hinata segala?" tanya Sakura seraya meneguk es teh yang berada di sampingnya.
Naruto berhenti mengunyah. Tiba-tiba, ia menggebukan-gebukkan dadanya dan mengambil segelas air. Sakura yang melihat hal itu terkejut.
"Niichan tidak apa-apa?" tanya Sakura. Naruto mengangguk. Namun, wajahnya memerah.
"Be-benarkah aku mengigau tentang Hinata?"
"Iya. Memang niichan mimpi apa sih?" Naruto menelan ludah. Mau cerita pada Sakura? Tidak menutup kemungkinan Sakura akan memanggilnya 'pervert brother' atau yang lebih parah cerita ke Hinata.
"Ti-tidak. Tidak mimpi apa-apa kok." Sakura menyipitkan matanya.
"Oh ya? Benarkah? Lalu, kenapa tadi aku lihat celana tidurmu basah?" tanya Sakura (lagi..) dengan seringai senyum licik.
"I-itu.."
"Kau mimpi yang tidak-tidak ya, tentang Hinata?" tanya Sakura dengan wajah yang diseram-seramkan dan sukses membuat lidah Naruto kelu.
Teng! Teng! Teng! Jam dinding ruang tamu sudah berbunyi menandakan bahwa waktu sudah menunjukkan jam 9 tepat.
"Ah! Sakura, aku harus segera berangkat! Sudah jam 9. Sudah ya. Daaaa.." ujar Naruto menyambar jas hitamnya dan tasnya, mencium ubun-ubun Sakura lalu bergegas pergi juga sekaligus menghentikan introgasi Sakura pada dirinya.
"Bilang saja kau suka pada Hinata. Nanti ku salamin deh." celetuk Sakura membuat langkah Naruto yang bersiap keluar dari rumah terhenti sejenak. Telinganya memanas dan memerah ketika Sakura menyahut seperti itu.
"A-apa sih! Sudah ah! Aku mau berangkat." Sakura tertawa sekeras-kerasnya setelah berhasil membuat wajah Naruto matang.
Karena, itu adalah kesempatan Sakura untuk balas dendam pada Naruto yang selama ini selalu meledek dirinya dengan Hidan. Seorang karyawan kantoran biasa yang rumahnya satu komplek dengan dirinya yang katanya bahwa Hidan menyukai Sakura. Tentu saja Sakura menolak jauh-jauh pernyataan cinta dari Hidan. Bukan karena profesi Hidan yang hanya seorang karyawan kantoran biasa, namun Sakura tidak menyukai Hidan karena Hidan itu kasar. Tidak bisa lembut pada seorang wanita. Dan Sakura membenci laki-laki seperti itu.
Hinata adalah wanita kedua yang bisa membuat Naruto kembali menyukai yang namanya perempuan. Setelah disakiti dan ditinggal menikah oleh mantannya dulu, Naruto sudah tidak mau untuk mengenal lagi yang namanya cinta dan perempuan. Baginya, perempuan hanya bisa merusak dan menganggu pikirannya. Naruto trauma akan cinta. Namun, semenjak pertemuannya dengan Hinata, Sakura merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Naruto. Sikapnya tidak terlalu sinis lagi pada wanita. Dan juga.. Terlihat lebih ramah. Tidak sedikit yang menyukai Naruto, namun Naruto selalu menolaknya. Sakura menghela nafas. Semoga saja Hinata bisa merubah Naruto..
"Masih jam 9. Sempat untuk berbelanja sebentar. Kebetulan bahan makanan di kulkas sudah habis.."
-o0o-
Suasana hiruk pikuk sedang terjadi di Pasar Tradisional Konohagakuen. Beberapa pedagang dan pembeli terlihat berlalu lalang di sekitar jalanan. Ada yang sedang tawar menawar, ada yang sedang memilah-milah ikan segar, dan masih banyak lagi. Dengan menenteng tas belanjaan, Sakura menuju ke pedagang sayur.
"Silahkan, Nona. Sayurnya masih segar-segar." sapa pedagang sayur dengan ramah. Sakura membalas dengan senyuman.
Sakura sedang asyik memilih-milih sawi dan lobak yang akan di belinya. Ketika sedang asyik memilah-milah sayuran yang berjejeran di depannya, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dengan keras. Spontan, Sakura terkejut dan refleks mundur beberapa centi seperti orang tersengat listrik.
"Ga-gaara?" Dan kini, di hadapan Sakura terdapat seorang pemuda gagah berambut merah marun berantakkan dan ada lingkaran hitam di sekitar kedua matanya. Pemuda bernama Gaara itu tersenyum.
"Belanja?"
"Tentu saja. Memang kamu melihatnya aku sedang menyemir sepatu?" sahut Sakura membuat Gaara sedikit tersenyum geli.
"Apa kabar? Sudah tidak lama bertemu." ucap Gaara mengulurkan tangannya disambut oleh Sakura.
"Baik saja. Ah, kau ini. Baru 3 bulan saja tidak bertemu sudah seperti tidak bertemu 10 tahun saja. Kenapa? Kau kangen padaku ya? Hehe.." tawa Sakura.
"Ya. Tentu saja aku rindu padamu." Sakura berhenti tertawa. Diganti oleh semburat merah yang mulai muncul di kedua pipinya.
"Kau memang suka bercanda, Gaara."
"Tidak. Aku serius. Aku rindu dengan tawamu. Aku rindu dengan senyummu. Aku rindu dengan wajahmu. Aku rindu semua yang ada di dirimu." ujar Gaara yang kali ini sudah membuat Sakura sulit menyembunyikan warna merah merona di kedua pipinya.
Bertemu dengan Gaara membuat Sakura mengingat masa SMA dulu. Ketika kelulusan saat itu, Gaara menyatakan cinta pada Sakura. Siapa yang akan menolak jika cowok paling populer satu sekolah menembak kita? Tentu hanya orang bodoh yang akan menolak. Sakura bisa saja menjawab 'ya' kalau dia mau. Tapi, sampai sekarang hati kecilnya berkata bahwa dia belum siap menerima kehadiran Gaara di kehidupannya. Sakura mencari-cari kesalahan Gaara yang membuatnya belum siap menerima Gaara namun tidak ada jawaban. Sampai sekarang pun, Gaara masih tetap bersikukuh menyayangi Sakura dan Sakura belum menjawab apapun.
"Ah, Gaara. Maaf ya aku harus buru-buru. Mungkin lain kali kita bisa berbincang-bincang lebih lama. Ja matte!" pamit Sakura meninggalkan Gaara yang terus menatap punggung Sakura hingga hilang di keramaian pasar.
Dengan langkah yang riang sambil bersenandung ria, Sakura menelusuri setiap jalan yang dia lalui. Beberapa pedagang pasar yang mengenal baik dengannya tak sedikit menyapa Sakura dengan ramah yang lalu dibalas oleh senyuman manis Sakura.
Kaki jenjangnya melangkah di pinggiran trotoar menghindari genangan air yang penuh lumpur. Maklum, semalam baru saja hujan deras dan tanah di sekitarnya pun becek. Sakura harus ekstra hati-hati agar baju yang kebetulan dikenakannya berwarna putih untuk tidak terkena cipratan lumpur yang bisa membuatnya uring-uringan mencucinya. Ketika sedang berjalan di pinggiran trotoar dengan bergumam pelan, sebuah mobil sedan merah melaju dengan kecepatan tinggi. Dan, tanpa dosa si pengendara mobil itu tak memedulikan genangan air yang berada di depannya yang akhirnya..
Crot! Menciprat rok putih yang dikenakan Sakura. Kalau saja bajunya berwarna gelap, Sakura masih bisa memaafkan. Namun , siapa yang bisa terima kalau baju kita yang berwarna putih nan mahal yang juga baju favorit kita dikotori walau hanya sedikit saja?
"Hey! Kau buta ya? Tidak lihat ada orang!" teriak Sakura pada pengendara mobil itu. Bagus. Mobilnya berhenti. Kesempatan bagus untuk memaki-maki orang tak punya adat, pikir Sakura.
"Hey! Buka!" Sakura menggedor-gedor kaca jendela mobi itu. Dan, betapa terkejutnya Sakura ketika tahu yang mengendarai mobil itu adalah Sasuke.
"Kau?"
"Apa? Bisa tidak sih pelan-pelan mengetuk kaca jendela mobil orang? Ini mahal. Kupikir gajimu juga tidak akan bisa menggantikannya." sengit Sasuke dengan tampang innocent. Darah Sakura mulai naik.
"Heh, pria dungu! Lihat apa yang telah kau perbuat pada bajuku! Jangan mentang-mentang mobil ini mahal kau jadi seenaknya menciprati baju orang lain! Memang kau pikir mencuci baju itu tidak susah?" omel Sakura menunjuk bajunya yang penuh dengan lumpur. Sasuke menghela nafas.
Pria emo ini membuka pintu mobilnya dan turun untuk langsung berhadapan dengan Sakura yang kini sedang berwajah sangat emosi. Jangan salah sangka. Walau terlihat sangat lembut dari luar, Sakura bisa menjadi Godzilla dalam sesaat bila ada seseorang yang menganggu moodnya.
"Oh, baju ini? Hanya baju seperti ini saja kau ributkan. Mau ganti berapa?" kata Sasuke seraya mengeluarkan dompetnya. Sakura melotot.
"Aku tidak butuh uangmu! Kau pikir aku ini tampang-tampang penggila uang? Aku hanya ingin kamu meminta maaf padaku dan menyadari perbuatanmu!" sentak Sakura menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Oke. Maaf. Puas?" sahut Sasuke sangat singkat membuat Sakura semakin naik darah.
"Kenapa sih kau begitu menyebalkan? Aku heran pada wanita yang bisa menyukai pria dungu sepertimu!"
"Hn. Tanyakan saja pada mereka. Memang aku tidak heran kenapa rumah sakit terkenal bisa menerima wanita bodoh sepertimu?"
"Apa?" Sasuke melengos. Ia tidak peduli dan hendak masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Waktuku sangat terbatas. Tak ada waktu untuk meladeni wanita cerewet sepertimu." ucap Sasuke.
Sakura merengut kesal. Sebelum Sasuke benar-benar masuk ke dalam mobil, Sakura mengayunkan tangan kanannya yang berisikan sayur mayur seberat 5 kg yang langsung ia ayunkan ke arah kepala Sasuke.
Buk! Dari suaranya saja sudah bisa ditebak betapa beratnya belanjaan yang dibawa Sakura dan bisa membuat orang linglung sesaat. Sasuke memegangi kepalanya yang terasa ngilu dan pusing setelah dihantam oleh tas belanjaan Sakura. Sakura tersenyum sinis.
"Rasakan itu, Pantat ayam!" seru Sakura lalu bergegas meninggalkan Sasuke yang masih memegangi kepalanya.
"Awas kau! Lihat saja pembalasanku, Dahi Lebar!" teriak Sasuke membuat langkah Sakura terhenti sejenak. Oops... Sasuke telah mengatakan hal yang sangat tabu bagi Sakura.
Sasuke yang masih meringis kesakitan itu melihat ada hawa negatif di sekitarnya. Setelah diperhatikan, ternyata Sakura telah memberikan deathglare pada Sasuke dan seperti ada api yang membara di balik tubuh Sakura. Entah mengapa Sasuke merasa bulu kuduknya sekarang berdiri dengan serentak.
"Kau bilang apa, Pantat ayam!" teriak Sakura melemparkan sebuah lobak besar ukuran kaki orang dewasa ke arah Sasuke. Sebelum otak kirinya ikut konslet seperti otak kanannya, Sasuke buru-buru masuk ke dalam mobil bergegas tancap gas.
"Gila! Gila! Gila! Benar-benar gila! Itu cewek apa monster sih? Sadis banget! Parah!"
-o0o-
Sasuke membanting kuat-kuat pintu mobilnya membuat perhatian orang-orang di sekelilingnya jadi terpusat pada dirinya. Wajah yang ditekuk seperti sarung kusut, mulut yang tak berhenti-berhenti meracau sambil mengusap-ngusap kepalanya yang masih saja berdenyut nyeri akibat pukulan maut Sakura. Entah mengapa rasa sakit itu belum hilang juga walau Sasuke sudah sampai di Kantor Pusat Kepolisian Konohagakuen.
"Weeehhh.. Kenapa kau? Datang-datang kok malah ngedumel?" sapa Naruto ketika berpapasan dengan Sasuke yang masih saja terus meracau kesal.
"Ketiban batu meteor." sahut Sasuke datar. Naruto mengerutkan dahinya.
"Batu meteor? Emang siang-siang begini ada batu meteor? Kok berita di tv tidak mengumumkan hal itu sih?" tanya Naruto dengan tampang bodohnya.
"Tidak ada. Yang ada, monster pembawa batu meteor! Naruto, adikkmu yang namanya Sakura itu cewek beneran atau jelmaan siluman gorila sih? Sadis sekali!" keluh Sasuke menyemprot Naruto yang tak bersalah.
"Lah? Tadi batu meteor, sekarang Sakura. Apa hubungannya sih?"
"Huh. Saat perjalanan menuju kantor, aku bertemu dengannya. Tak sengaja aku menciprati bajunya dengan lumpur. Dia marah-marah. Dia suruh aku minta maaf. Ya sudah, aku bilang saja maaf. Eh, waktu mau masuk ke dalam mobil dia ngehantam aku pakai tas belanjaannya yang entah apa isinya itu. Yang pasti sangat berat dan sampai sekarang masih berdenyut-denyut di kepalaku!" ketus Sasuke. Naruto tertawa terbahak-bahak.
"Bwahahahahahaha! Teme, Teme.. Kau memang tidak punya pengalaman dengan wanita ya? Tentu saja Sakura marah karena kau telah menciprati bajunya dengan lumpur tanpa meminta maaf. Asal kau tahu saja, Sakura itu emosionalnya tinggi. Jadi hati-hati saja kalau mau membuatnya tersinggung." ucap Naruto memegangi perutnya yang terasa geli.
"Diam kau. Kau dan adikmu itu memang sama saja. Menyebalkan." sungut Sasuke lalu melangkah pergi meninggalkan Naruto yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
Jam dinding di ruangan Naruto telah berdentang sebanyak tiga kali pertanda bahwa jam sudah menunjukkan jam 5 sore tepat. Namun, sang penghuni ruangan itu sibuk di balik layar komputer seolah mentulikan telinganya untuk mendengarkan dentangan jam itu. Wajahnya yang serius meneliti satu persatu data yang terpampang di layar monitor sambil sesekali menggerakan kursor. Entah apa yang sedang dikerjakannya namun jari-jari pria blonde itu menari dengan cepat di atas keyboard komputer..
Drrtt… Drrttt… Handphone Naruto berbunyi. Tanpa melepaskan pandangannya dari komputer, Naruto mengangkat handphonenya.
"Halo?"
"Naruto-nii! Kau dimana? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Katanya kau mau menjemputku." keluh seseorang di seberang telpon yang langsung dikenali Naruto adalah Sakura. Naruto menepuk dahinya keras dan langsung melihat ke arah jam dinding.
"Ya ampun, sudah jam 5? Maaf Sakura, aku sibuk sekali sehingga tidak bisa menjemput kamu. Maaf ya." kata Naruto kembali menggerakan mouse.
"Hah? Lalu, aku pulang naik apa? Hinata baru saja pulang. Kalau tahu kau tidak menjemputku lebih baik tadi aku bareng Hinata kan? Tidak ada kendaraan lewat di sini." Naruto memijat matanya yang terasa berat karena sudah lebih dari dua jam berada di depan komputer. Ia juga bingung. Dia harus menjemput Sakura namun di lain sisi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan.
"Naruto. Tolong kau periksa arsip-arsip para bandar narkoba ini dan masukkan mereka ke dalam blacklist kita. Aku butuhkan sejam lagi." Disaat Naruto sedang kebingungan, Sasuke datang menghampirinya dengan sebuah map di tangan kirinya.
"Sasuke! Untunglah kau datang!" Sasuke mengerutkan dahinya.
"Kenapa?"
"Aku butuh bantuanmu!"
"Apa?"
"Bisakah kau jemput Sakura sekarang di rumah sakit? Aku tidak bisa menjemputnya karena banyak data yang harusku periksa dan kuketik." pinta Naruto membuat raut wajah Sasuke berubah sinis.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau! Kau sudah tahu kan, bahwa wanita itu sudah membuat kepalaku pusing selama 4 jam? Tidak! Bisa-bisa nanti aku malah dibuat amnesia olehnya." tolak Sasuke menggelengkan kepalanya.
"Sasuke.. Kumohon.. Aku takut terjadi apa-apa dengan Sakura. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, aku bisa dibunuh oleh ayahku." pinta Naruto mengatupkan kedua tangannya di depan wajah Sasuke dengan penuh permohonan. Sasuke terdiam.
"Baiklah. Sekali ini saja ya. Aku juga tahu kau masih banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan. Tapi, hari ini saja. Lain kali aku tidak mau." ucap Sasuke tak tega melihat Naruto sampai menciumi kakinya (?)
"Wahhhhhh! Arigatou! Arigatou! Hontou arigatou, Teme! Kau memang sobatku yang paling baik!" ujar Naruto kegirangan sampai memeluk Sasuke erat-erat.
"Baka dobe! Lepaskan aku bodoh!" cerca Sasuke berusaha melepaskan pelukan beracun Naruto.
"Hehehe. Gomen ne.. Ya sudah, cepat sana jemput dia. Aku masih banyak urusan." kata Naruto mendorong Sasuke keluar ruangannya.
"Cih, sialan. Kalau kau bukan sahabat baikku, mana mau aku disuruh-suruh olehmu?"
-o0o-
Kepala Sakura terus melongok ke arah pintu masuk Rumah Sakit Konoha. Berkali-kali gadis cantik ini menghentakkan kakinya kesal karena Naruto tidak muncul juga. Bibirnya sudah maju beberapa centi menunjukkan bahwa Sakura benar-benar kesal oleh kakaknya satu itu. Dia tidak suka di buat menunggu. Matanya kembali lagi melirik ke arah pintu masuk dan yang didapatnya sebuah mobil sedan merah sedang melaju ke arahnya. Sakura mengerutkan dahinya begitu tahu mobil yang tidak asing lagi baginya berhenti di depannya.
"Cepat naik." perintah sang pengemudi mobil tanpa melihat Sakura. Mata Sakura melotot kaget.
"Kau? Sedang apa kau di sini?" teriak Sakura membuat Sasuke harus menutup kedua telinganya mendengar suara Sakura yang lumayan cempreng.
"Menjemput kau. Kakakmu sedang sibuk sehingga tidak bisa menjemputmu. Makanya, aku yang di suruh untuk menjemputmu. Sudah cepat naik." perintah Sasuke. Sakura merengut kesal.
"Kenapa harus kamu? Kenapa tidak yang lainnya saja?"
"Mana aku tahu." Wajah Sakura merengut kesal. Antara ikut dengan Sasuke atau tidak.
"Mau tidak? Kalau tidak, ya sudah. Aku akan kembali ke kantor." ujar Sasuke seraya menancapkan gasnya.
"Eeehh! Tunggu! Aku belum bilang mau apa tidak! Uuh.. Baiklah. Tapi, jangan macam-macam ya? Awas kau!" ancam Sakura mengepalkan tangannya. Sasuke menaikkan alisnya. Ini cewek atau preman pasar sih?
Sakura memasuki mobil Sasuke dengan perasaan canggung. Ia meletakkan tas tangannya di pangkuannya. Tanpa banyak bicara, Sasuke segera memasukkan gigi dan menancapkan gasnya.
Selama di perjalanan, suasana di antara mereka begitu hening dan sunyi. Sakura menjadi sedikit kikuk karena tidak biasanya dia diam seperti ini. Kalau untuk orang seperti Sasuke, hal seperti ini sudah biasa. Sakura terus menggerutu yang akhirnya bisa di dengar oleh telinga Sasuke.
"Ada apa? Kudengar kau menggerutu sejak tadi." tanya Sasuke membuka suara.
"Tidak. Tidak ada apa-apa." sahut Sakura ketus. Sasuke sedikit meliriknya.
Matanya yang hitam legam itu bisa menangkap sosok wanita di sampingnya yang kini sedang memanyunkan bibirnya kesal, meracau tak berhenti-henti dan alisnya ditekuk ke bawah menunjukkan ekspresi tidak suka dan terus menyebutkan nama Naruto. Sasuke tahu bahwa Sakura masih kesal dengan kejadian tadi pagi dan merasa sebal harus dijemput oleh Sasuke. Tapi, entah mengapa Sasuke melihat ekspresi Sakura yang sedang marah itu di matanya terlihat… Lucu.
"Apa kau lihat-lihat?" tanya Sakura sadar bahwa sedaritadi Sasuke memandanginya.
"Ti-tidak! Siapa yang memandangimu? Geer!" celetuk Sasuke memalingkan wajahnya agar tidak diketahui Sakura bahwa seorang Uchiha pun bisa blushing.
TIIINNNNN!
Karena tidak konsentrasi menyetir, Sasuke tidak memperhatikan jalan. Sebuah mobil Kijang dengan kecepatan tinggi nyaris menabrak mobil Sasuke kalau Sasuke tidak cepat-cepat tanggap dengan suara klakson yang kencang itu.
"Kyaaaaaa! Baka! Apa yang kau lakukan?" teriak Sakura berpegangan pada kursi yang didudukinya.
Dan.. Sraaakkkk! Untungnya mobil Sasuke mendarat di rerumputan yang luas. Tidak bisa di bayangkan oleh Sakura kalau dia akan masuk ke dalam sungai atau pun jurang. Kalau masih menabrak pohon, itu masih untung ada yang menolongnya. Bagaimana kalau masuk jurang? Apalagi jalan yang mereka lalui rawan kecelakaan.
"Hah.. Hah.. Hah…" Sakura mengatur nafasnya yang tersengal-sengal dan jantungnya yang berdetak begitu cepat. Keringat mengucur dari dahinya dan wajahnya sedikit pucat.
"Tidak apa-apa.."
"Tidak apa-apa bagaimana! Memang tadi kau lihat apa sih? Tidak memperhatikan jalan! Kalau aku tidak teriak, mungkin kau masih melamun dan kita bisa masuk jurang baka!" omel Sakura. Sasuke tak membalas kata-katanya. Ia cukup shock juga. Ekor matanya menangkap sebuah resto kecil yang tak jauh dari mobilnya.
"Kau kelihatan pucat. Bagaimana kalau kita minum dulu di sana?" ajak Sasuke menunjuk resto itu. Sakura mengangguk lemas.
"Mau minum apa?" tanya Sasuke menunggu Sakura yang melihat-lihat isi menu.
"Engg.. Lemon tea saja. Dan, kentang goreng dengan mayonaise ya.."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pesan jus tomat saja." kata Sasuke sambil menyerahkan buku menu itu pada pelayan yang mencatat pesanan mereka lalu segera pergi.
Setelah pelayan itu pergi, Sasuke menatap Sakura yang masih tampak pucat dan tubuh mengigil. Mungkin dia masih shock, pikir Sasuke. Sasuke jadi merasa bersalah karena sudah membuat Sakura begitu ketakutan. Tak tega melihat mata emerladnya yang bersinar itu jadi meredup bagaikan tak disinari oleh terang bulan yang bersinar di malam hari. Keringat tidak berhenti mengucur dari dahinya.
Dengan cepat, Sasuke mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya dan mengelap keringat Sakura dengan sapu tangannya. Sakura yang termenung sendiri itu sedikit terkejut ketika sesuatu menyentuh dahinya.
"Jangan bergerak. Kau terus-terusan keluar keringat. Aku hanya tidak mau dibantai Naruto saat melihat kau dengan kondisi seperti ini." kata Sasuke tanpa ekspresi.
Entah mengapa Sakura merasa wajahnya terasa memanas. Mungkinkah ia tersipu malu? Adakah yang punya cermin sehingga Sakura bisa melihat seberapa merah wajahnya saat ini? Apa-apaan ini? Kenapa bisa seperti ini? Bukankah Sakura sangat membenci Sasuke? Lalu, kenapa detak jantung Sakura sekarang seperti debuman genderang yang saling berlomba-lomba? Begitu cepat dan menyesakkan. Apa ini? Apa yang sedang Sakura rasakan?
"Hm? Wajahmu merah. Kau sakit?" tanya Sasuke memegang pipi Sakura yang memerah. Hmm.. Bisa kalian bayangkan kalau Sakura kini semakin mirip dengan Hinata?
"Ti-tidak.. Le-lepaskan tanganmu dariku.." pinta Sakura dengan suara pelan namun dapat ditangkap oleh Sasuke. Sadar apa yang telah dilakukannya, Sasuke buru-buru menarik tangannya.
Sasuke P.O.V
Uh.. Apa-apaan ini? Kenapa bisa begini? Apa yang sedang kurasakan sih? Sejak tadi dadaku tak berhenti untuk berpacu cepat seperti balap kuda saja. Kenapa kalau memandang gadis menyebalkan ini, jantungku selalu berdetak cepat? Apa aku… Suka padanya? Tidak! Tidak mungkin! Dia itu menyebalkan! Juga cerewet! Tidak mungkin aku menyukainya! Huuhh.. Hey, berhentilah berdegup kencang! Kau membuatku sesak!
End Sasuke P.O.V
Sakura P.O.V
Aduh, perasaan apa ini?Kenapa aku deg-degan begini sih? Lancang sekali dia menyentuh pipiku tapi… Kenapa aku tidak melarangnya? Malah, terkesan.. Hangat.. Arrggghhh! Apa yang kupikirkan sih? Dia itu menyebalkan! Sombong! Huh…
End Sakura P.O.V
"Silahkan di nikmati pesanannya.." ucap seorang pelayan membawakan pesanan Sasuke dan Sakura.
Tanpa banyak basa-basi, Sakura langsung melahap kentang goreng yang tadi dipesannya. Sedangkan Sasuke meminum jus tomatnya dalam diam. Mereka tidak mengetahui bahwa kini perasaan mereka sama. Bingung dan tidak menentu. Mengapa jantung mereka bisa berpacu sedemikian cepat padahal mereka tidak sedang menaiki roller coaster? Apa yang membuat mereka menjadi gugup satu sama lain? Benarkah yang namanya benci tidak akan jauh dari.. cinta? Mungkin benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di antara kedua hati manusia ini..
.
.
.
.
TBC…
Huwaaaaaa! Gomen ne readers! Maaf ya kalau lama updatenya! Internet error, komputer di pakai niisan terus, jadinya Blue ga bisa update cepat. Padahal kelanjutan fict ini kan di nanti banget. Ini baru awal SasuSaku saling menyadari perasaan mereka namun masih saling jaim gitu. Hehehe.. Gomen ne kalau Blue lama updatenya dan review without flame please.. ^^v
