Lagi-lagi Boboiboy harus berpecah menjadi tujuh karena hari yang sangat sibuk. Sekolah, membantu Atok Abah, dan menjaga keamanan Pulau Rintis. Thorn, Taufan, Solar, dan Gempa membantu di Kedai Atok Abah yang sangat ramai, Blaze dan Ice harus menangkap perampok Trio Rob yang lagi-lagi berhasil kabur dari penjara, sedangkan Halilintar di percaya untuk datang ke sekolah sebagai 'Boboiboy' untuk menuntut Ilmu.
Memilih Halilintar untuk datang ke sekolah bukanlah pilihan yang tepat, tapi menempatkan pecahan Boboiboy yang agak tempramental itu di kedai dan berdekatan dengan Taufan? Maka akan terjadi peperangan luar binasa di antara mereka.
Jadi disinilah Halilintar, berada di kelasnya yang cukup ramai. Halilintar hanya diam saja, duduk di bangkunya sambil membaca buku fisika, mempersiapkan diri untuk ulangan fisika di jam pelajaran ke tiga. Halilintar bukanlah Gempa atau Ice atau Solar yang mendapatkan sisi pintar Boboiboy, makanya ia kembali belajar di jam kedua yang saat ini sedang kosong, walau sebenarnya ia tahu dirinya-maksudnya Boboiboy- sudah belajar semalam.
"Oi, Boboiboy!"
Halilintar mengabaikan panggilan Gopal yang duduk di sampingnya, matanya masih tertujuh pada buku paket Fisika.
"Tumben kau belajar di sekolah, biasanya kau belajar di rumah."
"Boboiboy, aku lapar lah."
"Ayo kita ke kantin, mumpung masih jam kosong."
"Boboiboy?"
"BOBOIBOY!"
BRAK! (Anggep aja suara gebrakan meja)
Kelas yang tadinya ramai dan cukup berisik langsung hening karena Halilintar menggebrak meja dengan cukup keras. Mereka cukup terkejut melihat Halilintar (yang mereka kira adalah Boboiboy) menggebrak meja sekeras itu, tidak ada satupun dari murid-murid di kelas itu yang mengeluarkan suara, termasuk Gopal yang masih shock.
"Jangan menggangguku." Halilintar berkata dengan datar, ia menatap Gopal dengan menusuk. "Aku adalah Halilintar," bisik Halilintar untuk memperingati Gopal.
'Mati aku...' Gopal merutuki dirinya, kenapa ia tidak menyadari kalau di depannya adalah pecahan sahabatnya yang sangat menyeramkan? Rasanya Gopal ingin melempar diri dari pohon tomat.
"Maaf, hehehe. Aku tidak tahu lah." Gopal tersenyum canggung, lalu duduk di tempatnya tanpa berbicara apapun lagi.
Love Me Right
Jam istirahat adalah waktu yang paling di tunggu-tunggu untuk para murid di SMA Satyanegara Pulau Rintis, termasuk geng Boboiboy. Yaya, Fang, Ying, dan Gopal sudah tahu kalau Boboiboy yang saat ini berada di dekat mereka adalah Halilintar, itu alasan kenapa suasana canggung menyelimuti ke lima orang itu.
"Apa kalian tidak lapar?" Yaya berusaha membuka percakapan, mencoba untuk memecah kecanggungan.
"Tentu saja!" Jawab Gopal bersemangat. "Ayo kita ke kanti, Fang akan menraktir kita."
"Hey! Untuk apa aku melakukan itu?!" Protes Fang tidak terima dengan ajakan Gopal.
"Kau kan kaya, pangkatmu di TAPOPS lebih tinggi dari kita, pasti gaji kau banyaklah," ucap Gopal dengan santainya.
"Jangan paksa Fang kalau dia gak mau, Gopal." Ying menegur Gopal dengan nada sinis.
"Betul kata Ying," ucap Yaya setuju.
'Percakapan tidak bermutu,' ucap Halilintar dalam hati. Remaja itu mulai tidak tahan dengan perdebatan Fang dan Gopal, ia mendengus kesal lalu bangkit dari tempat duduknya. Halilintar hendak keluar dari kelas, tapi tangannya di tarik pelan oleh Yaya.
"Mau kemana?" Tanya Yaya lembut.
Halilintar tidak menjawab, ia menatap pergelangan tangannya yang di genggam oleh Yaya. Bohong kalau Halilintar mengatakan ia tidak suka di sentuh oleh Yaya, buktinya saat ini jantung Halilintar mulai berdebar, dan rasanya ia ingin tersenyum dengan lebar selebar senyuman Thorn, tapi ia tetap menjaga wajahnya tanpa ekspresi apapun, tipikal cogan dingin di novel-novel.
"Rooftop."
Kemudian Halilintar melepaskan genggaman Yaya dan kabur keluar kelas. Halilintar berjalan dengan langkah yang cepat, dia mengabaikan kakak-kakak kelas atau adik-adik kelas yang menyapanya.
Sesampainya di rooftop, Halilintar langsung menghela nafas lega dan segera duduk di kursi panjang yang memang tersedia di tempat itu. Saat ini rooftop tidak seramai biasanya, hanya ada Halilintar saja yang sudah membaringkan tubuhnya di kursi tadi, memejamkan matanya.
Tiba-tiba wajah cantik Yaya melintasi pikirannya, Halilintar tersenyum, ia masih bisa merasakan hangatnya sentuhan Yaya di pergelangan tangannya.
"Halilintar?"
Halilintar terkejut ketika mendengar suara Yaya, dengan cepat remaja itu membuka matanya dan mengubah posisinya yang tadi berbaring, langsung duduk. Yaya hanya menggelengkan kepalanya, lalu duduk di samping Halilintar. Yaya menyodorkan kotak bewarna merah kearah Halilintar, membuat Halilintar menatap Yaya seolah bertanya 'Apa itu? Bukan biskuit 'kan?'.
"Bukan kok, ini jjangmyeon, makanan khas korea," ucap Yaya yang mengerti maksud tatapan Halilintar.
"Sejak kapan kau memasak masakan korea?" Tanya Halilintar sambil mengambil kotak bekal dari tangan Yaya.
"Sejak aku sering menonton drama Korea," jawab Yaya sambil membuka kotak bekal berwarna merah muda, ia memang membawa dua bekal. "Walaupun agak sulit membuatnya."
Halilintar melirik kearah tangan kanan Yaya, ia mengernyit ketika melihat kulit Yaya terdapat luka melepuh. Halilintar meletakan bekalnya di sampingnya, kemudian menarik tangan Yaya pelan, membuat Yaya terkejut dan meringis karena merasa perih pada punggung tangannya.
"Aw."
"Ini luka apa?" Tanya Halilintar dengan khawatir.
"Hanya terkena minyak panas ketika menggoreng perkedel semalam," jawab Yaya sambil sedikit meringis.
Halilintar mendengus. "Kenapa tidak di obati?"
"Aku kehabisan salep untuk luka melepuh." Yaya menunduk, tidak menatap mata Halilintar. "Aku ingin beli di apotik tapi sudah terlalu malam."
Halilintar menghela napas lalu tangannya mengelus jari Yaya, membuat gadis itu kembali menatap mata merah milik Halilintar. "Lain kali, ajak aku...eh- Boboiboy, maksudnya, untuk pergi bersamamu jika kau butuh."
Yaya menggelengkan kepalanya. "Kita bukan muhrim, keluar malam hanya berdua saja itu tidak baik," Ucap Yaya memberi tahu.
"Yaudah, sini aku halalin."
"Ah?"
'Untung gak denger dia, Alhamdulillah.'
"Nothing," Ucap Halilintar sambil menggelengkan kepalanya. "Lain kali hati-hati."
"Baiklah."
Kemudian hening, Halilintar dan Yaya saling bertatapan, tidak ada lagi dari mereka yang berbicara, Halilintar masih dengan posisinya yang memegang tangan Yaya dengan lembut, dan Yaya sama sekali tidak keberatan.
Love Me Right
Mood Halilintar yang selalu jelek, kini terasa lebih baik dari sebelumnya, well, berduaan dengan Yaya di rooftop mampu membuat mood Halilintar menjadi bagus. Saat ini Halilintar berada di depan ruang osis, hanya sendiri saja. Sekolah sudah berakhir sejak satu jam yang lalu, dan Halilintar sama sekali tidak berniat pulang, itu karena dia sedang menunggu Yaya yang sedang rapat di ruang osis.
Sebenarnya Yaya tidak meminta untuk di tunggui, gadis itu bahkan meminta Halilintar untuk pulang duluan, tapi bukan namanya Halilintar kalau tidak keras kepala. Halilintar terlalu protektif pada Yaya, walaupun Yaya adalah gadis yang sangat kuat tapi tetap saja Halilintar tidak ingin gadisnya itu mengalami sesuatu.
Tunggu, gadisnya?
Halilintar tersenyum tipis, ia tidak sabar untuk mengklaim Yaya sebagai gadisnya, miliknya. Mengingat dirinya tidak bisa melakukan itu dan hanya 'Boboiboy' yang bisa melakukannya, membuat Halilintar harus menghela nafas lelah.
"Eh, kau beneran menungguku?"
Halilintar menoleh kearah Yaya yang sudah ada di hadapannya, ia tersenyum miring lalu mengangguk. "Memangnya 'aku' pernah bohong padamu?" Tanya Halilintar.
Yaya terkekeh pelan. "Tentu saja tidak."
"Ayo kita pulang." Halilintar menarik tangan Yaya pelan, lalu berjalan bersama keluar dari gedung sekolah.
"Bisakah kita makan es krim dulu? Aku sedang ingin makan es krim," Ucap Yaya saat mereka sudah berada di luar area sekolah.
Halilintar mengangguk. "Baiklah," balas Halilintar setuju, disambut dengan senyuman manis Yaya, senyuman favorit Halilintar.
Mereka pun berjalan menuju kedai es krim yang berada tidak jauh dari sekolah mereka, tidak ada yang berbicara di antara mereka, Halilintar dan Yaya berjalan menuju kedai es krim dalam keheningan, dengan tangan yang saling menggenggam, bergandengan.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Halilintar dan Yaya sampai di kedai es krim tujuan mereka, mereka pun segera mencari tempat duduk yang pas, setelah mendapatkannya Yaya pun duduk sedangkan pergi Halilintar memesan es krim.
Kemudian Halilintar kembali ke tempat Yaya dengan dua cup es krim coklat oreo dan mint ukuran besar. Halilintar meletakan es krim rasa coklat oreo di hadapan Yaya, sedangkan miliknya adalah rasa mint.
"Kau tahu rasa favoritku?" Tanya Yaya kagum.
"Tentu saja, kau selalu memesan es krim coklat oreo saat bersama 'Boboiboy' 'kan?" Mendengar penuturan Halilintar membuat Yaya mengangguk membenarkan.
Lalu Yaya memakan es krimnya dengan semangat sedangkan Halilintar memakan es krimnya sambil memperhatikan cara makan Yaya, seketika Halilintar merasa gemas dengan Yaya, ia tersenyum lagi untuk kesekian kalinya, hanya untuk Yaya.
"Kira-kira kapan yah kita kembali ke TAPOPS?" Tanya Yaya, kembali membuka percakapan.
"Seperti biasa, ketika liburan," jawab Halilintar lalu memasukan sesendok es krim ke mulutnya. "Memangnya kenapa?"
"Aku merindukan angkasa luar," ucap Yaya jujur. "Kau tahu, kita selalu menghabiskan waktu bersama ketika berada di ruang angkasa, menjalani latihan bersama dan juga melaksanakan misi bersama."
Halilintar diam, menyimak kalimat yang keluar dari mulut Yaya.
"Biasanya kita berlima, aku, kau, Fang, Ying, dan Gopal akan membangun tenda di planet Gurunda ketika sedang mengunjungi keluarga Cactus, kita akan duduk di melingkari api unggun dan bercanda ria."
"Sekarang kita sudah berusia 16 tahun, Galaxy sudah lebih aman dari sebelumnya, tidak ada lagi alasan untuk bolos sekolah." Yaya menjeda sejenak kalimatnya dan memasukan es krim ke dalam mulutnya, lalu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Untuk pertama kalinya aku membenci sekolah, itu karena kegiatan sekolah mmbuat kita sibuk dengan diri dan kegiatan masing-masing. Aku... Merasa jauh dari kalian."
Halilintar menggenggam tangan Yaya dengan lembut, ia menatap Yaya dengan penuh kasih sayang. "Kau tidak perlu merasa jauh," ucap Halilintar.
"Aku akan selalu berada bersama, kami para pecahan Boboiboy akan selalu ada untukmu, menjadi seseorang yang selalu ada untukmu."
Halilintar tidak sadar jika ucapannya mampu membuat hati Yaya merasa hangat, gadis itu membalas genggaman tangan Halilintar kemudiam tersenyum lebar.
"Terima kasih, Halilintar."
Love Me Right
Malam telah tiba, para pecahan sudah kembali bersatu sejak dua jam yang lalu, tetapi disana lah Boboiboy, masih membaringkan tubuhnya di sofa empuk di ruang tengah rumah Atok Abah. Ia sudah berbaring selama dua jam, tapi rasa pegal pada seluruh otot tubuhnya masih terasa sakit dan kaku, efek samping karena berpecah menjadi tujuh dalam waktu yang terlalu lama.
Boboiboy mengabaikan ucapan Ochobot yang memintanya untuk pindah ke kamar, Boboiboy terlalu lelah untuk baik ke tangga, saat ini ia merasa kalau sofa yang saat ini di tidurinya terasa lebih nyaman.
Remaja itu mengambil remot yang ada di meja depan sofa dengan malas, ia merasa sangat bosan saat ini, dan berpikir jika menonton televisi mampu mengusir rasa bosannya. Boboiboy memencet tombol on pada remot, dan televisi pun memuncul menyala.
Tok! Tok! Tok!
"Boboiboy, tolong buka pintunya!" Teriak Atok Abah dari arah kamarnya.
Boboiboy menghela nafas lelah. "Siapalah yang bertamu malam-malam begini," keluh Boboiboy. Boboiboy segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu, senyum Boboiboy mengembang ketika mendapati Yaya yang berdiri di depan pintunya.
"Assalamualaikum, Boboiboy."
"Walaikumsalam, Yaya."
Yaya menyodorkan kotak plastik dengan ukuran yang lumayan besar. "Aku membawa makan malam untukmu dan Atok Abah," ucap Yaya sambil tersenyum.
"Ah... T-terima kasih," ucap Boboiboy berterima kasih. "Kau tidak perlu melakukannya, kau tahu?"
"Tidak apa-apa, aku ingin kau dan Atok Abah memakan masakanku lebih sering," balas Yaya.
Senyuman Boboiboy bertambah lebar, ia mengambil kotak itu dari tangan Yaya. "Ayo masuk," ajak Boboiboy, Yaya mengangguk dan masuk ke rumah Atok Abah setelah melepas sendalnya.
Yaya duduk di sofa yang awalnya di pakai Boboiboy untuk berbaring, Boboiboy memberikan kotak makanan itu pada Ochobot yang baru saja muncul. Boboiboy berjalan untuk mengambil kotak obat yang berada di laci nakas yang ada di samping pintu kamar Atoknya, ia mengambil salep.
Boboiboy berjalan mendekati Yaya lalu duduk di samping sahabatnya itu. "Sini tanganmu yang terluka itu," ucap Boboiboy sambil mengulurkan tangannya.
"Eh? Buat apa?" Tanya Yaya bingung.
"Aku akan mengobatinya," jawab Boboiboy.
Boboiboy menarik tangan Yaya pelan, ia mengoleskan salep itu pada luka Yaya dengan lembut, Boboiboy melakukannya dengan sangat pelan agar Yaya tidak merasa perih. Setelah selesai, Boboiboy melepaskan tangannya dari tangan Yaya.
"Selesai."
"T-terima kasih, Boboiboy."
Kemudian hening, hanya ada suara percakapan dari televisi. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, mereka sibuk dengan pikiran masing.
"Lain kali gunakan sarung tangan kulit jika kau menggoreng," ucap Boboiboy membuka kembali percakapan.
"Kenapa?" Tanya Yaya sambil menyembunyikan nada gugupnya.
"Aku tidak ingin gadisku terluka lagi."
"Ah?"
'Untung dia gak denger, awkwkwk.' - Boboiboy.
To Be CountinueSumpah, ini pengalaman aku sama doi loh, masih inget deh pas doi bilang "Gue gak suka yah cewek gue luka cuma ragara perkedel." aahhhhh padahal waktu itu kita sahabatan dari dulu banget. Kangen masa remaja duh XDSo, how about this chapter?Don't forget to review pleasee
