"Pembunuh Cahaya"

Remake Chanbaek version; Original version by Santhy Agatha

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

Married!life


"Cintalah yang membuatku mempertanyakanmu. Seberapa jauhkah kau akan berkorban, atas nama cinta?"


Pernikahan mereka luar biasa mewah dan sangat indah, sayangnya eomma Chanyeol tidak bisa hadir karena kata Chanyeol, sang ibu sedang berobat di luar negeri. Kondisi pernikahan mereka yang mendadak membuat eomma Chanyeol tidak bisa mengatur ulang jadwalnya. Tetapi kata Chanyeol ibunya mengirim salam dan segera setelah pulang dari luar negeri, beliau akan menengok mereka berdua sambil membawa kado pernikahan.

Mereka memasuki kamar pengantin yang sudah didekorasi dengan mewah oleh dekorator terkenal, tentu saja bunganya dipasok oleh rumah kaca Baekhyun. Beberapa merupakan sumbangan dari Jongin sahabatnya yang sangat senang dengan pernikahan Baekhyun. Jongin memang sahabat dekat Baekhyun, yang selalu membantunya kapanpun dia siap. Banyak yang mengira mereka berhubungan dekat, tetapi hanya Baekhyun dan Jongin yang tahu bahwa mereka tidak bisa lebih dari itu, Jongin seorang gay dan dia tidak tertarik kepada perempuan.

Baekhyun masih menyimpan rahasia itu sendiri, dia belum mengatakannya kepada Chanyeol, semula dia masih ragu karena Jongin sendiri yang membuatnya berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Lelaki itu masih malu dengan kenyataan dirinya dan tidak ingin siapapun tahu, kecuali Baekhyun sahabatnya. Tetapi Baekhyun mempertimbangkan untuk meminta izin Jongin supaya dia bisa memberitahu Chanyeol. Chanyeol suaminya dan Baekhyun yakin Chanyeol tidak akan menghakimi Jongin. Lagipula Chanyeol beberapa kali mempertanyakan kedekatannya dengan Jongin dan tampak cemburu karenanya. Kalau Chanyeol sudah tahu bahwa Jongin adalah gay, mungkin lelaki itu akan tenang.

Setelah berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, Baekhyun duduk dengan ragu di atas ranjang. Chanyeol belum masuk daritadi karena masih banyak tamu di luar meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para tamu itu kebanyakan rekan kerja Chanyeol. Baekhyun tadi masuk duluan karena dia kelelahan sejak pesta mewah tadi pagi, sedangkan Chanyeol masih harus menemani tamu-tamunya demi kesopanan.

Sudah larut malam ketika Chanyeol akhirnya masuk. Baekhyun masih menunggu dengan terkantuk-kantuk duduk di tepi ranjang, dia mendongak ketika lelaki itu menutup pintu kamar pengantin mereka.

"Semua sudah pulang?"

Hening.

Chanyeol menatapnya lama sekali, lalu menjawab singkat. "Sudah."

Sekarang jantung Baekhyun berdegup kencang, dia hanya berdua saja dengan suaminya sekarang. Baekhyun tidak pernah berduaan di kamar dengan lelaki manapun sebelumnya. Chanyeol adalah lelaki pertamanya dalam segala hal. Dan malam ini mereka adalah suami istri. Pipi Baekhyun merona, membayangkan bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Baekhyun bagaimanapun juga menyimpan ketakutan kalau dia akan mengecewakan Chanyeol yang sepertinya sudah bergitu dewasa dan berpengalaman dibanding dirinya. Selisih usia mereka delapan tahun, Baekhyun baru dua puluh empat tahun, sedangkan Chanyeol tigapuluh dua tahun. Orang bilang usia mereka berdua adalah usia yang pas untuk hidup berumah tangga.

"Belum tidur?" Chanyeol masih berdiri di dekat meja rias, dan mulai melepas dasi, jasnya sendiri sudah disampirkan secara sembrono di kursi rias.

Baekhyun menggeleng, tersenyum malu-malu, "Belum, aku menunggumu."

Mata Chanyeol tampak menajam, lelaki itu tampak begitu misterius di balik cahaya lampu kamar yang kuning temaram.

"Seharusnya kau tidur duluan." Gumamnya dingin, lalu melepas kemejanya dan melangkah masuk ke kamar mandi.

Baekhyun masih tertegun, bingung akan perubahan nada suara Chanyeol kepadanya. Lelaki itu tidak pernah berbicara dengan nada suara sedingin itu kepadanya. Apakah mungkin Chanyeol lelah?

Ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi, dia sudah berganti memakai piyama hitam. Dia mengangkat alisnya ketika sudah berdiri di pinggir ranjang.

"Minggir ke sana." gumamnya kasar, membuat Baekhyun bergegas naik ke atas ranjang dan bergeser ke ujung lainnya, dengan perasaan bingung dan was-was.

Chanyeol lalu naik ke ranjang dan berbaring di sana. Baekhyun menoleh hendak bertanya, tetapi lelaki itu berbaring membelakanginya dengan nafas teratur seolah jatuh tertidur begitu saja.

Apakah lelaki itu tertidur? Kenapa dia bersikap begitu? Apakah Chanyeol kelelahan? Ataukah lelaki itu marah kepadanya atas sesuatu yang tidak dia sadari? Mungkinkah Baekhyun telah menyinggung Chanyeol tanpa sadar? Tapi kapan? Kenapa?

Seluruh pertanyaan itu menggayuti benak Baekhyun. Dia berbaring dengan mata nyalang, menatap punggung tegap Chanyeol

Tetapi sepertinya pertanyaannya tidak akan terjawab malam ini. Chanyeol tampaknya sudah tertidur pulas. Akhirnya dengan perasaannya yang berkecamuk bingung, Baekhyun memaksakan dirinya memejamkan mata.

Malam pengantinnya berlalu dalam keheningan yang menyesakkan dada...

.

.

.

Pagi hari ketika Baekhyun membuka mata, dia masih merasa bingung akan keberadaannya. Sejenak dia agak kaget berada di dalam kamar yang tidak dikenalinya, tetapi kemudian dia mengumpulkan ingatannya. Pernikahannya, rumah Chanyeol...

Dengan gugup Baekhyun menegakkan tubuhnya, mencari Chanyeol tentu saja. Tetapi sebelah ranjangnya kosong. Chanyeol sudah tidak ada.

Diliriknya jam dinding tak jauh darinya, sudah jam tujuh pagi. Baekhyun tidak pernah bangun sesiang ini sebelumnya, dia selalu bangun jam enam pagi, kemudian menuju rumah kaca dan merawat tanaman miliknya. Sekarang tanaman miliknya sedang dirawat dalam pengawasan Jongin, lelaki itu katanya ingin memberi kebebasan kepada Baekhyun untuk berbulan madu sementara.

Dengan canggung Baekhyun melangkah berdiri dari ranjang. Apakah Chanyeol ada di luar untuk sarapan? Kenapa Chanyeol tidak membangunkannya? Apakah lelaki itu tidak mau mengganggu tidurnya?

Baekhyun melangkah ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat untuk menyegarkan dirinya dan tubuhnya yang terasa penat setelah pesta kemarin. Setelah itu dia melangkah ke luar kamar Chanyeol.

Suasana rumah Chanyeol tampak lengang. Kamar Chanyeol berada di lantai dua, dan tidak ada siapapun di situ. Dengan ragu Baekhyun menuruni tangga melangkah turun, ada seorang pelayan di sana yang langsung membungkukkan tubuh hormat begitu melihatnya.

"Dimana suamiku?" tanya Baekhyun pelan, masih merasa ragu mengklaim Chanyeol sebagai suaminya.

Pelayan itu masih membungkuk hormat, "Tuan Chanyeol sudah berangkat sejak pagi tadi, Nyonya."

"Berangkat kemana?" Baekhyun mengernyitkan keningnya.

"Berangkat bekerja." Jawab pelayan itu singkat, lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.

Bekerja? Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menikah dan Chanyeol berangkat kerja? Sebegitu sibukkah suaminya sehingga tidak bisa libur setelah pernikahan mereka? Tidak adakah bulan madu seperti yang dilakukan orang-orang biasanya? Setahu Baekhyun, kebanyakan orang memilih melewatkan waktu bersama dengan tidak bekerja, tidak perlu harus berlibur ke suatu tempat, bahkan dengan hanya bersama-sama di rumah itupun sudah cukup.

Baekhyun mengira Chanyeol akan meluangkan waktu untuk mereka bisa bersantai berdua, apalagi mengingat hubungan mereka yang singkat sebelum menikah. Tidakkah Chanyeol ingin lebih banyak mengenalnya seperti Baekhyun yang sangat ingin mengenal suaminya lebih dalam? Dan Chanyeol juga berangkat bekerja tanpa berpamitan kepadanya. Baekhyun masih bertanya-tanya akan sikap kasar dan dingin Chanyeol semalam, tetapi pagi ini sikap Chanyeol lebih membuatnya bertanya-tanya lagi.

Suami seperti apa yang meninggalkan pengantinnya setelah malam pertama mereka yang tidak tersentuh, hanya untuk pergi bekerja?

Baekhyun diam termangu. Matanya menatap keindahan rumah dengan segala interior mewahnya yang bergaya minimalis itu dengan bingung. Rumah itu terasa sangat asing baginya, dan tiba-tiba saja, Chanyeol juga terasa sangat asing baginya.

.

.

.

"Bagaimana malam pertamamu?" Jongin langsung bertanya dengan menggoda ketika Baekhyun mengangkat teleponnya.

Baekhyun tersenyum lembut, "Kami belum malam pertama." Bisiknya, dia memang selalu jujur kepada Jongin dalam hal apapun, dan kenyataan bahwa Jongin adalah gay membuatnya semakin nyaman di dekat lelaki itu,

"Apa?" suara Jongin di seberang sana tampak terkejut, "Kalian belum melakukan malam pertama?'

Meskipun ada di seberang telepon, Baekhyun tersenyum malu-malu, "Kami terlalu lelah, kemarin sampai jam sepuluh malampun masih ada tamu-tamu yang berdatangan."

"Oh." Jongin tertawa, "Itulah resikonya menikah dengan seorang bos besar." Candanya. "Jangan khawatir, semuanya akan ditebus di saat bulan madu kalian."

Sepertinya tidak akan ada bulan madu. Baekhyun membatin dalam hati, tiba-tiba merasa ragu.

"Baekhyun?" Jongin bertanya di seberang sana, sepertinya dia sedang menanyakan sesuatu. Tetapi karena sibuk dengan pikirannya, Baekhyun tidak menanggapinya.

"Eh.. iya..apa?" gumam Baekhyun gugup.

"Aku tadi bertanya, kemana rencana kalian akan berbulan madu?"

Sejenak Baekhyun bingung harus menjawab apa, dia lalu berdeham karena gugup, "Eh... aku belum tahu." Gumamnya pelan, "Chanyeol belum memberitahuku rencananya."

"Mungkin dia akan memberimu kejutan," Ada nada menggoda di suara Jongin, "Aku membayangkan dia akan membawamu ke pulau eksotis yang luar biasa indahnya, kabari aku ya Baekhyun."

Baekhyun memaksakan senyum di suaranya, "Pasti Jongin." Mereka lalu bercakap-cakap sebentar mengenai rumah kaca Baekhyun. Batin Baekhyun sedikit tenang ketika Jongin mengatakan dia menyewa temannya untuk menghandle tugas merawat rumah kaca Baekhyun. Teman Jongin itu dulu pernah melakukan hal yang sama ketika Baekhyun sakit dan hasilnya memuaskan. Tanaman di rumah kacanya akan baik-baik saja.

Baekhyun menghembuskan napasnya setelah mengakhiri percakapan mereka, masih bingung akan sikap Chanyeol sejak semalam. Apakah mungkin seperti yang dikatakan oleh Jongin, bahwa Chanyeol ingin memberinya kejutan? Di film-film yang dilihatnya, orang-orang kadang bersikap aneh dan membingungkan ketika ingin memberi kejutan. Misalnya memberikan kejutan ulang tahun, orang-orang berkomplot untuk berpura-pura lupa dan tidak memberikan selamat, hingga membuat orang yang ulang tahun merasa sedih dan kecewa, lalu pada malam harinya mereka memberikan pesta ulang tahun kejutan yang membahagiakan, membuat kejutan mereka lebih bermakna.

Itukah yang sedang dilakukan oleh Chanyeol? Apakah lelaki itu sedang memberikan kejutan untuknya?

.

.

.

Sampai dengan siang hari, Baekhyun terus menghabiskan waktunya dengan kesepian di rumah itu. Dia sama sekali tidak menyangka inilah yang akan terjadi pada dirinya. Ditinggalkan bekerja, seorang diri di rumah satu hari setelah pernikahannya.

Dorongan untuk mengunjungi rumah kaca dan melarikan kebosanannya dengan merawat tanamannya sangat kuat. Tetapi kalau dia ke rumah kaca, Jongin pasti akan memberondongnya dengan sejuta pertanyaan, dan Baekhyun pasti tidak akan bisa menjawab, karena dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi.

Diliriknya ponselnya. Sepi, tiak ada kabar satupun. Dulu sebelum mereka berpisah, Chanyeol selalu mengiriminya pesan-pesan penuh perhatian kepadanya. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, menanyakan apakah dia sudah makan, atau juga kadang memberikan info tentang apa yang dilakukannya.

Tetapi sekarang berbeda, tidak ada satupun pesan dari Chanyeol kepadanya, Apakah Chanyeol sedang benar-benar sibuk?

Baekhyun sungguh tergoda untuk menelepon Chanyeol, tetapi dia takut siapa tahu akan mengganggu Chanyeol yang sedang berada di tengah rapat penting.

Dengan pedih Baekhyun menghela napas panjang. Dia harus keluar dari rumah ini, atau dia akan menjadi gila.

Dengan cepat dia berganti pakaian, meraih tasnya dan memanggil taxi.

"Garden Cafe. Gumamnya, menyebut tempat Baekhyun biasanya menghabiskan waktu siangnya di sana. Secangkir teh hijau hangat mungkin bisa membantu menghapuskan kegalauannya.

.

.

.

Cafe itu sangat cocok dengan namanya, 'Garden Cafe', nuansa taman sangat kental mengelilingi areanya, semua serba hijau dan memantulkan suasana alam yang indah, dengan tanaman hijau yang menarik dipadu dengan bunga-bunga anggrek di setiap sudutnya. Efek tamannya semakin nyata karena seluruh dindingnya terbuat dari kaca, sehingga pengunjung bisa menatap pemandangan taman, merasakan kedamaian sambil menikmati makanan dan minumannya di dalam cafe. Dan Baekhyun sungguh merasa bangga karena dia memiliki andil dalam keindahan cafe ini, seluruh tanaman yang ada di cafe ini, baik di taman maupun bunga-bungaan dekorasinya, semua berasal dari rumah kaca Baekhyun.

Joonmyeon, sang pelayan setengah baya yang sudah sangat dikenalnya tersenyum ketika melihatnya datang,

"Apa yang dilakukan pengantin baru di sini?" tanyanya menggoda, membuat Baekhyun merasa malu.

Dia mencoba menggelak dari pertanyaan Jongin, "Aku masih belum bisa melepaskan ketergantungan dari teh hijau di siang hari." Gumamnya penuh canda, membuat Joonmyeon tergelak.

"Pesanan akan segera diantar." gumamnya mengedipkan mata, lalu melangkah pergi.

Tak lama kemudian lelaki itu kembali, mengantarkan secangkir teh hijau beraroma khas yang harum yang masih sangat menyukai harum aroma teh hijau ini, apalagi teh hijau dari Garden Cafe. Hampir setiap hari selama beberapa tahun terakhir ini, Baekhyun selalu mampir untuk makan siang dan menikmati secangkir teh hijau.

"Hanya andalah satu-satunya yang memesan teh panas, bahkan di saat suasana sedang panas." Joonmyeon melirik ke luar yang sedang terik. Untunglah tanaman hijau melindungi sekeliling area cafe ini, membuat udaranya tetap segar.

Baekhyun tertawa, "Kata orang, teh hijau mempunyai kemampuan menenangkan."

"Yah, menenangkan orang yang sedang banyak pikiran." Joonmyeon tersenyum, "Yang pasti bukan untuk pengantin baru sepertimu Baekhyun." Lelaki itu setengah berbisik, "Tahukah kau apa yang selalu kupikirkan kalau menyajikan teh hijau ini?"

"Apa?" Baekhyun langsung tertarik. Percakapan dengan Joonmyeon memang selalu menarik, lelaki itu seolah punya segudang pengalaman dan pengetahuan yang kadang-kadang bisa membuat Baekhyun terpana,

"Rahasia."

"Apa?" Baekhyun mengernyit makin dalam mendengar jawaban Joonmyeon.

Joonmyeon tertawa lagi, "Rahasia. Setiap memikirkan teh hijau aku selalu memikirkan tentang rahasia." Ditatapnya Baekhyun dengan serius, "Kau tahu ketika sajian teh hijau yang dipadu dengan melati datang kepadamu, aromanya sangat khas dan menakjubkan, membuatmu tergoda dan bahkan bisa membayangkan rasanya, sebelum kau mencincipinya. Tetapi kemudian ketika kau menyesapnya, kau pasti akan mengernyit, merasakan pahitnya yang menerpa lidahmu. Setelah itu ketika kau menyesapnya lagi dan lagi, barulah kau bisa menemukan keindahan citarasanya yang berpadu. Teh hijau selalu penuh rahasia, dia tidak seperti aroma yang ditampilkannya, bahkan menyediakan kepahitan pada kontak pertama. Kau harus selalu sedikit demi sedikit menyibak lapisan demi lapisan rasanya hingga menemukan kenikmatan sejati di dalam minuman ini."

"Wow." Baekhyun terpesona mendengar penjelasan Joonmyeon, "Aku tidak pernah memandang teh hijau seperti itu sebelumnya. Bagiku dia hanyalah minuman yang enak dan membuatku ketagihan." Baekhyun tergelak, "Luar biasa memang pemikiranmu, Joonmyeon."

Joonmyeon terkekeh, "Kadang atasan saya bilang bahwa pikiran saya terlalu rumit." Lelaki itu melirik ke belakang, "Tetapi sekarang atasan saya sama sekali tidak pernah memprotes cara berpikir saja, sejak dia menikah. Dia terlalu sibuk berbahagia, menghabiskan waktu dengan istrinya. Semua pengantin baru sepertinya tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain." Joonmyeon mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah mundur, "Silahkan nikmati teh hijaumu, Baekhyun."

Sementara itu Baekhyun tertegun mendengar kata-kata Joonmyeon bahwa semua pengantin baru tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain.

Diliriknya ponselnya yang masih sepi dalam keheningan. Baekhyun menghela napas panjang, tiba-tiba merasakan firasat buruk yang menggelayuti hatinya.

.

.

.

Pada akhirnya Baekhyun tidak tahan untuk tidak mengunjungi Jongin, dia berdiri di rumahnya yang sekaligus menjadi kantor mereka dengan ragu. Rumah Jongin sendiri persis menempel di sebelah rumah Baekhyun, jadi lelaki itu sering sekali bolak-balik antara kantor ke rumahnya, yang ditinggalinya bersama ibunya dan dua adik perempuannya. Hubungan Jongin dan Baekhyun sangat dekat, lebih dari sahabat, menyerupai adik dan kakak. Keluarga Jongin juga sangat menyayanginya. Ketika ibunya meninggal, otomatis keluarga Jongin mengangkat dirinya menjadi anak angkat tidak resmi.

Ibu Jongin selalu berharap lebih akan hubungan Baekhyun dengan Jongin, maklum ia tidak tahu jati diri yang disembunyikan Jongin sebagai seorang gay. Berkali-kali dia menyinggung betapa senangnya jika mempunyai menantu seperti Baekhyun. Tetapi kemudian ketika Baekhyun merencanakan pernikahannya dengan Chanyeol, dia akhirnya menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan melebihi sahabat. Dan bahkan kemudian ibu Jonginlah yang bersemangat membantu persiapan pernikahan Baekhyun, membuat Baekhyun terharu karena Ibu Jongin bertindak seperti ibu kandungnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suara di belakangnya membuat Baekhyun berjingkat karena kaget.

Baekhyun menoleh dan melihat Jongin berdiri di belakangnya, lelaki itu sepertinya tadi keluar untuk membeli makanan, karena ada kantong plastik berlogo fast food di tangannya. Baekhyun melirik makanan yang dibawa Jongin dan mencibir.

"Kau akan mati muda kena serangan jantung kalau tiap hari mengkonsumsi fast food semacam itu." Gumamnya,

Jongin tergelak lalu memutar bola matanya untuk mengejek pendapat Baekhyun. Dia melangkah mendahului Baekhyun memasuki bagian depan rumah Baekhyun yang sudah dialih fungsikan menjadi kantor mereka.

"Kenapa kau di sini? Bukankah kau seharusnya menghabiskan hari yang indah bersama suamimu?"

Baekhyun menjawab asal untuk mengihindari kecurigaan Jongin, "Chanyeol ada urusan pekerjaan sebentar di kantornya, jadi aku memutuskan untuk kemari dan menengok rumah kacaku."

"Bekerja di hari pertama setelah pernikahan?" Suara Jongin meninggi, "Sungguh keterlaluan." Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis.

Mereka sudah memasuki area kantor, dan Jongin meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke meja. Dia menarik makanannya dan memakannya dengan nikmat, diliriknya Baekhyun yang memandang ngeri pada pesanan makanan Jongin.

"Mau?" Jongin menyodorkan makanannya, menggoda Baekhyun, tahu persis bahwa Baekhyun adalah maniak makanan yang sehat dan pasti akan menolaknya.

Dan seperti dugaannya, Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Aku sedang bingung."

Jongin menatapnya dan mengernyit, "Bingung kenapa?"

"Tentang Chanyeol." Pipi Baekhyun memerah, "Dia...semalam sikapnya aneh.."

Jongin tertawa, "Kebanyakan pengantin baru memang suka bersikap aneh, Baekhyun...Mungkin nanti kau akan menemukan banyak hal baru dari suamimu. Sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya, tetapi memang itulah asyiknya perkawinan."

Baekhyun mencibir, "Seperti kau sudah ahli dalam perkawinan saja."

Jongin tertawa, melahap makanannya dengan nikmat. "Aku memang belum pernah mengalami perkawinan, dan mungkin tidak akan pernah." Wajahnya tampak sedih, tetapi dengan cepat dia mengubah ekspresinya menjadi ceria, "Tetapi aku banyak membaca dan mencari tahu, kau bisa datang padaku kalau kau ada masalah dengan perkawinanmu."

Mereka tergelak bersama meskipun ada sedikit perasaan terenyuh di benak Baekhyun. Jongin sama sekali tidak berpenampilan seperti gay, dia tidak lembut atau bersikap seperti perempuan. Tubuhnya gagah dan penampilannya jantan seperti lelaki kebanyakan. Baekhyun tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Jongin harus berpura-pura dan mengingkari jati dirinya, apalagi mengingat bahwa ibu Jongin sering sekali mendesak anak lelaki satu-satunya itu untuk segera menikah.

Berbicara tentang ibu Jongin, Baekhyun teringat akan ibunya, ibunya yang cantik dan begitu lembut. Yang selalu Baekhyun kenang dari ibunya adalah aroma wangi bunga yang menyelubunginya, hasil dari seharian menghabiskan waktunya di rumah kaca. Ah seandainya ibunya ada di sini, menghadiri pernikahannya, dia pasti akan sangat bahagia. Tetapi Baekhyun meyakini dalam hatinya bahwa ibunya pasti berbahagia di atas sana, melihatnya pada akhirnya menemukan lelaki yang menjaganya.

.

.

.

"Dari mana saja kau?" suara dingin Chanyeol menyambut Baekhyun di ruang tamu, membuat Baekhyun mengernyitkan keningnya.

Dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gugup, "Eh.. karena tidak ada pekerjaan, aku.. aku memutuskan untuk ke rumah kaca."

"Ke rumah kaca?" Tatapan Chanyeol menjadi tajam. "Menemui Jongin?"

"Iya, dan juga menengok rumah kacaku, Jongin mempercayakan perawatannya kepada seseorang, jadi aku mampir untuk mengevaluasi hasil...'

"Tidak bisakah kau melepaskan rumah kaca dan Jongin dari pikiranmu? Aku muak kalau kau selalu menyebut-nyebutnya di rumah ini. Kalau kau memang mau menjadi istri yang baik, fokuslah pada rumah ini, pada keluarga ini, bukan hanya melulu mengurusi rumah kaca itu!" dengan ketus Chanyeol melangkah meninggalkan Baekhyun yang terperangah kaget di ruang tamu.

Baekhyun merasakan hatinya mencelos seperti diremas, matanya terasa panas, tetapi dia menahannya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada orang yang memarahinya dengan seketus itu. Apakah Chanyeol cemburu kepada Jongin dan juga kepada rumah kacanya?

Hati Baekhyun meragu, tetapi... sepertinya dulu Chanyeol sama sekali tidak keberatan akan itu semua?

.

.

.

To Be Continued


Ini buat yang nungguin Baekhyun tersakiti wkwk chapter-chapter depan bakal lebih hurt dan pasti pada benci sama Chanyeol wkwk aku juga... and sorry for the typo(s) aku udah double check sih tapi kalo tetep ada typo maaf yaa;D

Udah lumayan fast update kan yaa?;3 aku cepet updatenya karena feedback dari readersnya juga bagus hehehe review oke? Kalau feedbacknya bagus terus gini aku juga jadi lebih cepet updatenya;3 makasih banyak yang udah fav, fol fic ini ya;3 apalagi yang udah reviews, thankyou bgtt love3

Aku juga fast update gara-gara lagi happy Baekhyun spam ig liburannya di Fiji;3 So glad to know that he's having fun with the members in Fiji after all the hardwork!;))

Read n Review?

seulgibear