Langkah kakinya terhenti dengan cepat setelah lelaki tinggi di hadapannya menghentikan langkahnya lebih dulu. Tubuh tingginya berbalik arah, menghadap yang lebih kecil darinya dengan sebuah pandangan datar.

"Ayo masuk."

Johnny kembali membuka suara, sedangkan Ten masih terdiam di tempatnya dengan kepala mendongak ke wajah tampan itu.

"Masuk kemana?"

"Kesini."

Dan setelah pertanyaan itu muncul, Johnny langsung menyingkir dari hadapan Ten agar namja mungil itu bisa melihat bagaimana pintu apartemennya terbuka lebar hingga memperlihatkan sebagian dari keadaan di dalam sana

"Kenapa diam? Ayo masuk, Ten"

Pada detik berikutnya kepalanya refleks tertunduk kebawah sana, memperhatikan bagaimana jemari panjang itu melingkar dipergelangan tangannya. Memberikan sebuah genggaman erat saat Johnny membawanya pergi menyusuri lorong yang lumayan sepi itu. Hanya beberapa detik saja dan semuanya berakhir saat genggaman dipergelangan tangannya terlepas begitu sosok Ten melangkah masuk lebih dulu.

"Ini apa?"

"Ini namanya apartemen, Ten. Bagaimana bisa kau tidak tahu apapun di usiamu yang sebesar ini?!"

"Ya mana aku tahu..."

"Apa tidak ada jawaban lain?"

"Aku tidak—"

"Berhenti bilang tidak tahu."

"Ya sudah.."

Hening. Tak ada pembicaraan lain selain suara langkah yang secara perlahan mulai mendominasi segala penjuru apartemen yang sepi itu.

"Daebak.."

"Selamat datang dirumah, Ten. "

"Ini hebat..". Melangkah masuk semakin jauh, kedua manik hitamnya bahkan tak henti-hentinya untuk menerawang lebih jauh ke dalam apartemen yang cukup tertata dengan rapi dengan beberapa furniture yang menarik perhatiannya.

"Kau bisa tinggal disini juga mulai sekarang.."

Yang lebih tinggi langsung merebahkan tubuh jangkungnya di atas sofa sambil melepaskan pea coat yang melekat ditubuhnya.

"Aku saja? Lalu dia bagaimana?"

Menunjukkan kucing putih itu lagi kehadapannya dan Johnny menyambutnya dengan mengambil kucing itu dari kedua tangan milik Ten lalu menurunkannya di atas sofa.

"Ya kucingmu juga.. aku sudah bilang kalau dia bisa ikut juga kan? Jadi kenapa bertanya lagi."

"Aku mau kue cok—"

"Tidak tidak.. kau akan makan nanti, sekarang kau ganti pakaianmu. Ini terlalu basah dan kau bisa sakit nanti"

"Tapi aku tidak bisa…"

"A-apa?!"

Sedangkan Ten hanya melemparkan sebuah cengiran kecil saat Johnny menatap nanar ke arahnya.

"Tolong bantu aku.. ya? ya? ya? ku mohon.."

"Maksudmu bantu mengganti pakaianmu?!"

"Hmmm.."

###

"Entah ini pakaianku yang kebesaran atau memang tubuhmu saja yang kekecilan, Ten"

Ini sudah yang kesekian kalinya Johnny terus berceloteh panjang lebar, mulai dari tidak bisa diamnya Ten saat pakaiannya akan dilepas, saat Ten tak henti-hentinya berlari kesana-kemari dengan tubuh polosnya yang terbalut selimut milik Johnny, dan sekarang ia mengoceh lagi karena sebuah pakaian di tubuh kecil itu.

"Dua-duanya.."

"Tidak bisa panjang sedikit apa?"

"Hmm? Apanya?"

Melemparkan sebuah tatapan polos dengan kedua mata yang membesar.

"Jawabanmu itu.."

"Baiklah.."

Jeda sejenak.

"Dua-duaaaaaaaaaaaaaaaaaaanyaaaaaaaaaaaa…. Panjang kan?"

Memberikan tatapan datar kemudian melangkah pergi.

"Terserah.."

"Sampai kapan aku harus pakai ini?"

"Sampai besok pagi.. besok kita akan beli pakaian baru untukmu. Lagipula kau terlihat lebih manis dengan pakaian ini."

"Sungguh? Apa dia bisa ik—"

"Jangan bawa-bawa kucing."

"Kenapa? Kalau dia tidak ikut nanti dia bagaimana?"

"Kucing lebih suka tidur daripada pergi jalan-jalan. Jadi tidak akan jadi masalah kalau dia tinggal disini."

"Yang benar? Tidak apa-apa?"

"Iya…aku tidak bohong"

"Kalau begitu aku mau makan.."

"Sekarang?"

"Iya..tadi katanya aku bisa makan kalau sudah ganti pakaian. Ini kan sudah diganti. Jadi berikan aku makanan."

Mempercepat langkah kakinya mengekori Johnny yang melangkah menuju ke arah lemari es di area dapur.

"Iya iya.. kita akan makan sekarang. Memangnya kau ini siapa? Seenaknya saja menyuruh pemilik rumah untuk memberi makanan untukmu."

"Aku ini Ten.."

"Aku tahu itu, tapi bukan itu maksudku Ten! Kau ini bodoh atau terlalu polos hah?!"

.

.

.

Suasananya terlampau ramai, ada banyak orang yang pergi berlalu lalang di sekitar Johnny dan juga Ten yang berada tepat di sampingnya. Tak banyak yang dibeli keduanya, hanya ada sebuah paper bag berukuran sedang yang berada di tangan kanan Johnny dan tangan kecil milik Ten ditangan yang satunya. Lelaki kecil itu yang memaksa Johnny untuk memegang tangannya, katanya takut hilang di Mall, takut tersesat di Mall, kira-kira itu alasannya kenapa Ten memaksa dirinya untuk menggenggam tangannya sewaktu mereka baru sampai di pintu masuk.

"Kau mau beli pakaian yang seperti apa? Disini ada banyak, kau bisa pilih yang kau mau."

Tak ada respon, yang dilakukan Ten adalah berjalan mendahului sosok Johnny kemudian berdiri di depan etalase yang menampilkan beberapa pakaian yang ada didalam sana.

"Aku mau yang ini!"

Mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah pakaian dihadapannya.

"Kau ini bicara apa? Ini gaun untuk perempuan, bukan untuk laki-laki"

"Tapi aku suka ini, tadi kau bilang aku bisa pilih apapun yang ku sukai."

Ya, apa yang dikatakan Ten itu sangat benar.

"Iya.. tapi bukan itu maksudku. Kau pilih pakaian laki-laki, bukan pakaian perempuan seperti ini. Kau tidak bisa memakainya, Ten."

"Kenapa?"

"Tadi kan aku sudah bilang kalau ini untuk perempuan, bukan untuk laki-laki!"

Tak ada suara khas milik Ten setelahnya. Lelaki kecil itu justru terdiam dengan tubuh yang sedikit menegang saat Johnny menaikan suaranya. Kepalanya tertunduk, dengan bibir kissable yang bergetar.

"Hiks…"

"T-Ten?"

Mengangkat kepalanya kemudian menatap Johnny dengan air mata diwajahnya.

"Huwaaa! Aku tidak suka dengan Johnny—hiks.. Johnny memarahiku..John—hmmmpphh"

"Sssstttt jangan menangis, Ten. Berhenti menangis, Ten. Maafkan aku ya.. Jangan menangis disini, ada banyak orang yang melihat. Jangan membuatku malu. Nanti akan kebelikan sesuatu untukmu.."

Jari-jari besarnya terangkat, menangkup wajah kecil itu kemudian menghapus bulir-bulir bening yang masih menetes disana.

"Sungguh?"

"Ya makanya berhenti menangis. Orang-orang pikir aku melakukan tindakan cabul padamu, Ten"

"Cabul itu—"

"Jangan tanya soal itu. Kau terlalu polos untuk tahu artinya. Kita pergi sekarang."

###

2 jam sudah berlalu, langitnya sudah semakin gelap saat hari sudah masuk ke waktu malam. Johnny mengangkat tangan sebelah kirinya, mengecek arloji ber-merk yang melingkari pergelangan tangannya kemudian kembali melangkah menyamakan posisinya dengan Ten yang sedikit mendahuluinya kemudian kembali meraih pergelangan tangan yang sempat terlepas beberapa detik yang lalu.

"Aku lelah, ayo pulang.."

Suaranya membuat Johnny menolehkan kepalanya sebentar ke arah Ten, tersenyum sebentar saat indera pendengarannya mendengar bagaimana suara itu terdengar cukup lemas ditelinganya.

"Kau tidak mau beli sesuatu?"

"Aku masih belum tahu mau beli apa.."

"Ya sudah, kita jalan-jalan saja sebentar. Ini masih jam 6 sore, masih ada banyak waktu untuk jalan-jalan sambil menunggu waktu makan malam."

Tapi setelah suara bass itu selesai dengan pembicaraannya, Ten justru menghentikan langkah kakinya hingga membuat genggaman ditangannya terulur dan menahan yang lebih tinggi hingga Johnny menghentikan langkahnya kemudian melangkah menghampiri Ten di belakangnya.

"Aku mau itu, John.."

Jari telunjuknya terangkat, menunjuk sesuatu didekat tangga escalator.

"Mau apa?"

"Yang bulat-bulat disana. Ayo kita kesana."

Kedua tangannya langsung terulur untuk yang kesekian kalinya, menarik salah satu tangan panjang milik Johnny dengan kedua tangannya agar lelaki jangkung itu ikut dengannya.

"Permen apel?"

"Apa ini namanya permen apel?"

"Iya.. ini jajanan khas Jepang"

"Jepang?"

"Ya.. itu Negara tetangga kita, kau tahu?"

Terdiam kemudian menggedikkan kedua bahunya bersamaan.

"Tidak"

"Kau ini sebenarnya kenapa? Amnesia atau apa sih?"

"Mana aku tahu.."

"Baiklah, ambil ini..". Menyerahkan permen apel yang baru saja dibelinya kepada Ten. Tapi sedetik kemudian perhatiannya teralihkan dengan sebuah toko yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Oh, tunggu disini sebentar."

Melangkahkan kedua kaki panjangnya dengan cepat tapi suara itu kembali terdengar ditelinganya hingga membuatnya mau tak mau harus berhenti.

"Mau kemana? Ikut~"

Memberikan sebuah tatapan memelasnya sambil berdiri di depan kedai dengan permen apel ditangannya.

"Tidak usah ikut, aku hanya pergi . Tunggu saja disini, aku akan kembali. Jangan kemana-mana sampai aku kembali padamu, okay?"

Memberikan sebuah anggukan cepat setelahnya ."

"Baiklah.."

"Kau tahu artinya tunggu kan?"

"Aku tahu.."

"Baiklah, aku pergi sebentar. Ingat, jangan pergi kemana-mana sampai aku datang."

"Iya.."

Dan terakhir yang kedua manik hitamnya lihat adalah bagaimana punggung lebar itu mulai menjauh dari tempatnya berdiri saat itu.

.

.

.

10 Minutes Later..

Langkah kakinya melambat secara perlahan ketika manik cokelatnya menangkap sosok Ten yang duduk di salah satu bangku di tempat yang sama seperti sebelum dirinya pergi meninggalkan sosok bertubuh kecil itu sendirian. Bagaimana yang lebih kecil duduk diam sambil menikmati permen apelnya yang telah menyusut tanpa bicara sedikitpun membuat Johnny tersenyum kecil melihatnya. Setidaknya Ten adalah anak penurut yang tidak perlu diberitahu berulang kali agar jadi anak yang penurut padanya.

"Lama ya?"

Dan ketika suara familiar yang di klaim oleh Ten sebagai milik Johnny membuatnya sedikit terlonjak dan menoleh ke arah sumber suara dan ia menemukan Johnny disana, lagi-lagi dengan paper bag berwarna biru ditangannya.

"Tidak kok..Kalau Johnny Oppa bilang tunggu berarti aku harus menunggu kan?"

"Ya, itu— eh? Kau sebut aku apa tadi?"

"Oppa"

Ten langsung bangkit dari posisi duduknya, mendongak ke atas sambil tersenyum ke arah Johnny didepannya.

"Dari mana kau dengar itu?"

"Dari gadis-gadis yang lewat disini. Mereka bilang kalau yang lebih tinggi dari mereka itu namanya Oppa.."

Well, dan Johnny kembali menemukan sosok Ten yang terlampau polos hari ini.

"Jadi kau menyebutku Oppa karena aku lebih tinggi darimu, begitu?"

"Ahaa.."

"Jangan sebut aku Oppa.."

"Kenapa?"

"Karena kau bukan perempuan yang dengan mudahnya menyebut seseorang dengan kata 'Oppa' , kau tahu?"

"Kenapa?"

"Karena kau ini laki-laki, bukan perempuan."

"Kenapa?"

"Apa tidak ada pertanyaan yang lain selain 'kenapa'?"

"Aku tidak tahu harus tanya apa padamu selain 'kenapa'.."

"Dengar ya.. Oppa itu untuk perempuan memanggil laki-laki yang lebih tua. Kalau laki-laki memanggil laki-laki yang lebih tua dengan sebutan Hyung."

"Hyung?"

"Ya.. kau bisa panggil aku Hyung, atau Johnny Hyung kalau kau mau..Lagipula kalau dilihat-lihat kau ini memang sedikit lebih muda dariku."

"Johnny hyung?"

"Ya.. seperti itu. Baiklah, jadi pelajaran apa yang bisa kau dapat hari ini?"

Terdiam kemudian menatap ke arah langit-langit dengan ekspresi serius.

"Gaun untuk perempuan, dan panggilan Oppa untuk perempuan. Kalau laki-laki tidak boleh pakai gaun. Laki-laki juga tidak boleh memanggil laki-laki yang lebih tua dengan sebutan Oppa.. Aku benar?"

"Bagus, Ten kesayanganku sudah mulai pintar sekarang."

"Ten kesayangan?"

Yang lebih tinggi membatu seketika saat Ten mengulangi perkataan tak sengajanya barusan.

"Hyung bilang aku apa?"

"Lupakan saja, aku tidak serius dengan itu."

"Hyung~ beritahu aku.."

"Aku bilang tidak!."

.

.

.

Pintu lift baru saja tertutup, tak ada siapapun disana selain 2 orang dengan postur tubuh yang cukup berbeda jauh itu di dalam sana. Begitu tombol angka 8 ditekan dengan jemari panjang milik Johnny membuat tubuh kecil milik Ten sedikit terhuyung kedepan, membuat Johnny refleks mendekat untuk berjaga-jaga.

"Aku tidak apa-apa.."

Kembali membenarkan posisinya kemudian melangkah maju secara perlahan ke arah deretan vertikal tombol-tombol angka yang terletak disamping pintu yang masih tertutup rapat itu.

"Mau kemana?"

Tak ada jawaban. Hanya sebuah guncangan yang tiba-tiba muncul begitu Ten mendekati tombol-tombol itu dan mengotak-atiknya sembarangan dengan menekan tombol 5 begitu saja begitu mereka baru saja tiba di lantai 7.

"Hei kau—"

Dan lagi-lagi ada guncangan saat untuk yang kedua kalinya jemari lentik itu dengan isengnya menekan tombol 10 begitu saja saat mereka baru saja turun beberapa detik yang lalu.

"Jangan main-main Ten!"

Dan semuanya berlangsung selama hampir 10 menit dengan hanya naik turun dari lantai 7 ke lantai 5, dari lantai 5 ke lantai 10, dan seterusnya. Yang jelas kepala Johnny sudah mulai berputar-putar dan bisa jadi ia akan muntah ditempat kalau saja Ten tidak segera dihentikan.

"Sudah cukup main-mainnya!"

DEG

Semua ini terjadi karena rasa kesalnya pada sosok kecil yang entah sejak kapan sudah berada dalam kungkungannya begitu saja. Hening seketika, tak ada suara apapun yang terdengar selain suara getaran pada lift yang akhirnya kembali turun ke lantai 8.

"Sudah puas main-mainnya?"

Tak ada respon. Yang dilakukan Ten hanya diam tak bergerak dengan kepala tertunduk sambil memilin ujung kemejanya yang kebesaran dengan jari-jari lentiknya.

"Kenapa diam? Sudah selesai main-mainnya?"

"I-Iya.."

"Bagus. Jangan ulangi hal itu lagi atau aku bisa lakukan sesuatu yang lebih daripada ini. Paham, Ten?"

"I-iya.. maaf, Hyung"

###

TING..

Dan begitu suara itu terdengar ditelinganya, Johnny segera menyingkirkan tubuh jangkungnya dari tubuh kecil yang masih mematung disudut ruangan berukuran minimalis itu.

"Ayo keluar.."

Tak ada pergerakan.

"Dengar tidak? Ayo keluar sebelum pintu lift-nya tertutup. Bisa kacau kalau kau naik lift ini sendirian."

Tangan panjangnya kembali terulur ke hadapan Ten, menarik lengan kurus itu untuk yang ke sekian kalinya.

.

.

.

Ckleekk…

"Ten?"

Suara pintu yang terbuka membuat Ten sedikit tersentak dan menoleh ke arah belakang setelah Johnny menyebut namanya.

"Kau masih belum tidur?"

"Aku belum mengantuk, Hyung"

Hening setelahnya. Tak ada banyak suara yang terdengar pada jam selarut ini selain suara langkah Johnny yang perlahan mendekat ke sosok Ten dengan piyama biru yang baru di belikan Johnny sebelum mereka pulang tadi.

"Disini bagus, aku suka. Apa aku bisa keluar, Hyung?"

"Jangan, udaranya sedang dingin. Kau bisa sakit kalau keluar."

Jawaban mengecewakan yang membuat Ten mencebilkan bibirnya.

"Johnny Hyung?"

"Apa?"

"Tidak ada.."

"Ya sudah, aku mau tidur."

Melangkah pergi ke arah ranjang berukuran king size miliknya kemudian merebahkan tubuhnya di atas sana.

"Johnny Hyung?"

"Ya?"

"Tidak.."

1 detik.. 2 detik.. 3 detik..

"Hyung?"

"Kenapa?"

"Bukan apa-apa.."

"Terserah, aku mau tidur."

"Johnny Hyung.."

"Ugh! Kenapa lagi sih?"

Hanya menunjukan cengiran menyebalkannya.

"Aku hanya mengetes saja, apa Johnny Hyung suka dengan panggilan baru itu atau tidak"

"Terserah kau mau apa! Yang jelas aku tidak mau merespon lagi kalau kau memanggilku lagi nanti."

"Iya.. maaf. Hyung bisa tidur sekarang."

Tak ada suara apapun lagi setelahnya yang terdengar di indera pendengarannya begitu sebelah tangan panjangnya meraih bantal berwarna putih itu untuk menutupi sebagian kepalanya dan meredam suara-suara berisik yang akan mengganggunya. Hanya sekitar 5 menit saja dan ketenangannya kembali terusik begitu suara cempreng itu berteriak memanggilnya lagi.

"Hyung!"

"Jangan memanggilku.."

"Hyung!"

"Aku tidak peduli.."

"Johnny Hyung!"

"Aku tahu kau hanya mengetesku saja, Ten. Tidur saja sini. Jangan berteriak terus."

"Johnny Hyung!~ Huwaaa. Tolong aku, Hyung~ Aku serius!"

Lantas Johnny segera menyibak selimut tebal yang sempat membalut tubuhnya begitu suara teriakan milik Ten membuatnya panik setengah mati hingga mau tak mau harus terbangun dari posisinya. Dan ia mendapati bagaimana sosok Ten mendadak hanya diam mematung sambil menatap horor ke arah tangan kanannya yang terulur kedepan menjauhi wajahnya.

"Kenapa?!"

"Huwaaa! Johnny Hyung! Tolong aku! Singkirkan makhluk aneh ini dari tanganku! Huwaaaa…"

Johnny tak menjawab, hanya melangkah sedikit tergesa ke arah Ten yang terus merengek dengan tangan kanan yang menjauhi wajahnya.

"Singkirkan ini dariku!"

Dan saat Johnny menarik sebelah tangan milik Ten yang terulur, ia terdiam dalam beberapa detik. Menatap Ten dengan ekspresi poker face kemudian menyingkirkan sesuatu yang menempel ditangannya.

"Ini cuma laba-laba. Jangan berlebihan.."

"Tapi aku tidak suka. Kakinya terlalu banyak dan aku tidak suka yang punya kaki banyak!"

"Tapi ini cuma laba-laba kecil.."

"Kecil, tapi tetap laba-laba'kan? Pokoknya aku tidak suka laba-laba! Aku benci laba-laba!"

Ini baru hari pertama Ten tinggal di rumahnya, tapi kenapa Johnny terus-terusan dibuat kesal seperti ini. Johnny bersumpah kalau mengurus Ten selama 24 jam itu jauh lebih menyusahkan daripada bekerja di perusahaan warisan ayahnya sampai harus pergi lembur. Tapi Johnny tidak bisa janji kalau suatu saat nanti ia akan mencabut sumpah yang baru saja ia katakan beberapa detik yang lalu.

TBC

.

.

.

Hehehe… Saya akhirnya bisa update :v :v Maaf kalo gak bisa update cepet, soalnya banyak cobaan yang harus saya hadapi demi ff JohnTen yang satu ini, soalnya laptop rusak -_- jadinya harus pake laptop temen.. ditambah PR yang menggunung. Sebelumnya maaf kalo ff-nya berantakan banget, soalnya itu pertama kalinya saya post ff, sekalipun ini bukan ff pertama yang saya buat, tapi ini jadi ff pertama yang saya post -_- .Posisi saya disini Cuma ingin menambah ff JohnTen yang ada sekaligus menambah populasi JohnTen shipper yang tenggelem di antara shipper2 yang ada

Thanks buat yang udah mau baca ff abal-abal buatan saya :v Thanks juga buat yang udah mau ngereview ff buatan saya ini. Makasih karena kalian udah bikin saya niat buat lanjutin ff ini :v :v

A Big Thanks For:

Kokorochi, rethasuh, Park RinHyun-Uchicha, Iceu Doger.. Dan yang terakhir buat akun yang namanya sungyeol12 yang dengan kampret-nya menelantarkan saya dipinggir jalan selama 15 menit

Dan yang belum punya akun, kayak: Yuhuu, Guest, JohnTen trash, ROXX, tennie

Makasih buat kalian.. hehe. Seneng bisa di review sama orang-orang yang sering ngereview ff-nya Kak Aurelia Witch.. Gomawoyooooooo~ Dan buat silent readers.. tolong tobat :v

Thanks buat yang udah foll + fav ff ini..

Thanks buat semuanya hehe..

And Last.. Review Juseyo..