The wedding

"Yang ini bagaimana tuan? Nona ini terihat sangat cantik dengan gaun ini."

"Aku tidak suka. Itu tidak baik!" Yunho terlihat berpikir sebentar. "Ambilkan gaun yang lain yang terlihat mewah namun tidak terlalu sexy, dan berwarna putih"

Jaejoong mencoba lagi gaun keempatnya. Lelah jika harus berulang kali mengganti gaun karena si sipit itu tidak menyukainya. 'Padahal aku suka gaun yang pertama kali aku coba, ada warna biru terang bertebar disekeliling bagian depan, dan bagian belakanya hanya rajut yang dapat melihatkan kulit putihku.' Bantin jaejoong. 'Dia sewot dengan gaunku. Lihat dia bahkan tidak mecoba satu tuxedo pun.'

Tirai itu terbuka kembali jaejoong terlihat sangat angun dengan gaun putih yang sangat indah dan pas ditubuhnya. Tidak lupa sebuah bouqet terbentuk mawar ada mawar berwarna putih,abu-abu, dan coklat sangat indah terbuat dari kain.

"Bagaimana dengan yang ini?"

Yunho menatap jaejoong lalu berdiri menghampirinya dengan sebuah senyum diwajahnya. Tangannya meraih pinggang jaejoong, meengeratkan tubuh mereka berdua. "Aku baru sadar hari ini." Ia tersenyum kembali. "Calon istri ku sangat cantik."

Blush~

Jaejoong tersenyum mendengarnya tidak lupa dengan pipinya yang memerah. Bagimanapun ini pertama kali baginya dekat atau bisa dibilang melakukan kontak fisik dengan lawan jenis.
Setelah selesai dengan masalah gaun pengantin kini calon pasangan suami istri tersebut sedang menuju suatu tempat untuk melakukan photo pra wedding. Mereka turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam studio tersebut.

Saat mereka masuk, seorang ahjuma sedang duduk menanti mereka dengan sebuah photobook ditangannya. Ia langsung berdiri dan memeluk jaejoong erat.

"Eomma jangan seperti itu. Jaejoong belum mengenal eomma."

Eomma yunho melepaskan pelukkkannya pada jaejoong dan langsung menjitak kepala anak kesanyanganya yang telah kurang ajar. "Dasar, kau anak kurang ajar."

"Appo eomma!" Ringis yunho sambil mengelus kepalanya yang baru diberi belaian kasih sayang dari eommanya.

"Annyonghaseong, ahjuma." Jaejoong membungkukkan tubuhnya 90 derajat. "Bagimana kabar ahjuma? Sudah lama joongie tidak bertemu dengan ahjuma. Oh,ya ahjussi apa kabarnya?"

Heechul tersenyum medengar ucapan jaejoong. Ternyata jaejoong masih ingat padanya padahal terakhir kali berjumpa saat pemakaman eomma jaejoong. "Semua baik-baik saja joongie. Ayo, kita kedalam mencoba gaunnya. Eomma sudah memilihkan konsep photonya." Heechul tersenyum gembira. "Kau yunho ikut dengannya mencoba jasmu." Kata heechul lalu menarik jaejoong ke ruangannya.

.

Yunho hanya diam mengikuti kemana namja yang ditunjuk eommanya dan mulai mencoba jas yang akan digunakannya. Tidak butuh waktu terlalu lama bagi yunho untuk memakai 1 stel jasnya. Dia terlihat seperti pangeraan dari negeri dongen dengan jas berwarna hitam. Yunho duduk di kursi sambil menunggu jaejoong selesai dirias. Rasanya sangat mendebarkan.
Setelah menunggu beberapa lama jaejoong selesai dirias dan disini lah mereka sekarang. Berdiri diantara jajaran pintu yang ada sulur-sulur ranting dan daun disekelilingnya. Mereka berdua berdiri seperti malu-malu seakan baru bertemu dan langsung saling mencintai. Seperti arahan photografer. Dan sesi photo dimulai.

Sekarang photo kedua jaejoong dan yunho sekarang berada ditengah-tengah ilalang, dengan pakaian casual. Photografer menyuruh yunho duduk diantara ilalang lalu jaejoong duduk didepannya. Diatas paha yunho dan yunho memeluk jaejoong.

"Kau ringan sekali! Tidak terasa berat sekalipun."

"Kau sedang mengejek ku atau apa jung yunho? Berat badan adalah topik yang paling sensitif bagi wanita."

Yunho hanya tersenyum mendengar ucapan jaejoong. Tidak ada niatan sedikitpun mengejek jaejoong. Faktanya wanita yang sedang dipangkunya ini memang sangat ringan.

"Bisakah lebih erat lagi berpelukannya?" Tanya sang photografer. Disitu bukan hanya 1 photografer tapi ada 6 dengan 6 kamera dan nyonya jung tidak tinggal diam dari tadi beliau sudah sibuk mengambil begitu banyak photo bersama kibum adik jaejoong yang baru saja datang.
Sang photografer langsung memainkan kameranya begitu melihat moment yang bagus. Seperti saat yunho memeluk jaejoong dengan posesifnya, ketika jaejoong tersipu malu disaat yunho mengecup pipinya, atau disaat jaejoong membalikkan wajahnya dan yunho megecup bibirnya sesaat. Sungguh moment yang indah. Ditambah pipi jaejoong yang merona.

Sekarang mereka berada disebuah ruangan dengan rak-rak buku di kanan-kirinya. Dan beberapa buku yang berserak diatas sebuah karpet berbulu lembut. Yunho mengenakan sebuah kemeja putih dibalut sweeter berwana biru tua, celana pendek putih, sebuah sepatu berwarna putih tidak lupa kaca mata minus berwarna bening tipis, sedangkan jaejoong dengan dress putih selutut.
Keduanya duduk saling berhadapan photografer sudah memberi tahu yunho dan jaejoong seperti apa sesi permotretan kali ini.
Jadi sekarang yunho sedang menatap jaejoong lekat dan jaejoong dengan perlahan melepaskan kaca mata yunho, meletakannya kebawah, dan mulai mendekatkan wajahnya secara perlahan kewajah yunho mengikis jarak diantara mereka berdua. Maka terjadilah moment dimana jaejoong mengecup bibir yunho, dan 2 orang yang heboh menyaksikan moment tersebut yaitu kibum dan nyonya jung.

"Ahjuma, mereka berdua pasangan yang sangat sempurna."

"Ya, itu benar sekali. Kau tumbuh dengan sangat baik ya kibum. Cantik."

"Gomawo, ahjumma."

oooo...

Jadi disinilah semua mata tertuju kepemberkatan atas pernikahan putri keluarga kim dengan putra keluarga jung.

Cklekk~

"Dia tidak cocok bersanding denganmu!"

"Ehmm, sayangnya yunho lebih memilih menikah denganku dari pada denganmu, TIFFANY HWANG!" Ucap jaejoong penuh penekanan.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak memiliki maksud apa-apa padamu. Tapi memang yunho oppa lebih memilih tunangannya daripada seorang wanita yang mengaku mejadi pacarnya."

"Ya! Neo!"

" Wea?! Kau tak suka,euh? Kau bisa pergi dari kehidupan kami. Bagaimanapun kau takkan bisa merebut apa yang telah menjadi miliku."

"Aku bisa. Kau akan melihatnya nanti."

"BRAKKKK..." Tiffany menutup pintunya dengan sekuat tenaganya. Jaejoong hanya menggeleng saja melihantnya. "Mari kita mulai permainan ini. "

Jaejoong hanya duduk diam setelah itu menunggu appanya. Gerogi itu sudah pasti. Bagaimana tidak, ia bahkan baru 2 hari di korea dan gilanya ia sekarang terjebak dalam situasi seperti ini dengan seorang pria yang sudah pasti pervert terlihat jelas diwajahnya.

Berjalan kearah altar sambil menggandeng tangan sang appa. Omo, rasanya jaejoong ingin lenyap secepatnya hilang dari bumi. Bagaimana tidak, lihat saja di depan pintu gereja ada foto praweddingnya. Mungkin hal itu biasa tapi bagaimana mungkin seingatnya adegan ia mencium si sipit itu hanya satu kali, tapi demi apa foto itu seakan disusun dalam 1 frame dari mulai jaejoong dan yunho saling menatap hingga ciuman itu terjadi.

"Ku serahkan joongie padamu. Jagalah dia dengan nyawamu." Kata Mr. Kim sambil meyerahkan tangan jaejoong ke yunho.

"Nde,appa! Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku." Kata yunho sambil terseyum dan meraih tangan jaejoong.

'Apa-apan senyumnya itu? Sebenarnya kenapa aku harus menikah dengannya dan secepat ini? Ya, tuhan bisakah aku kabur? Aku serasa ingin lari secepatnya. Bahkan tidak ada cinta didalam pernikahan super kilat sepanjang abad ini. Bagaimana kehidupan ku selanjutnya? PABO JOONGIE!' Batin jaejoong merana.

"Saudara Jung Yunho, apakah kamu bersedia menerika Kim Jaejoong sebagai istrimu, menjaganya dalam suka maupun duka hingga ajal memisahkan?" Ucap sang pendeta.

"Ya, saya bersedia." Jawab Yunho mantap.

"Dan Kim Jaejoong, bersediakah kau menjadi istri dari Jung Yunho, dalam suka maupun duka hingga ajal memisahkan?"

"S-saya bersedia." Jawab jaejoong ragu. 'Welcome to hell kim jaejoong.' Batin jaejoong.

"Kedua mempelai sudah sah menjadi suami-istri. Mempelai pria dipersilahkan mencium sang mempelai wanita."
Dan tanpa ragu yunho langsung mencium jaejoong. Menciumnya dengan sangat erat dan tak lupa tangannya yang menekan tengkuk jaejoong serta tangan satunya lagi merangkul pinggang jaejoong sementara tifanny langsung pergi melihat adegan itu. Niatnya untuk merebut yunho semakin kuat dan kebenciannya pada jaejoong semakin bertambah.

Nyonya jung hanya bisa diam melihat putri kesayangannya menderita. Sayang ia tidak bisa berbuat banyak dalam hal ini, kecuali ia ingin segera diceraikan oleh kepala keluarga kim dan tinggal dijalanan.

*depresi mikirkan part ini

Ooooo