YIFAN X JUNMYEON

.

LAOSHI BABY

.

AUTHOR SIDE

.

.


.

To : Baby ShiXun

"Kita pulang bersama.."

.

Yifan kembali menyimpan ponselnya di saku celana. Pelatih tampan itu sudah berganti pakaian dengan kemeja bewarna gelap dan ripped jeans nya. Menunggu di ambang pintu sambil memperhatikan anaknya yang masih berlatih. Yifan tidak mengajar di tim nasional, dia menjadi pelatih untuk tim internasional.

Yifan memperhatikan Sehun yang sedang berkutat dengan ponselnya. Bibirnya sedikit tertarik untuk tersenyum ketika anak lelakinya itu mencari sekeliling ruang latihan. Mata serupa itu bertemu pandang. Yifan hanya memberi kode seperti biasanya.

"AKU AKAN GANTI PAKAIAN..! TUNGGU DI PARKIRAN..!" Yifan hanya mengacungkan ibu jarinya tanda persetujuan. Sehun sudah berumur 21 tahun, tapi Yifan masih memanjakannya layaknya bayi kecil.

"Laoshi..?" Chanyeol sudah mendudukan diri di samping Sehun.

Sehun hanya bergumam sebagai jawaban. Sudut matanya melihat Junmyeon yang mendekat. Tepat sasaran saat Sehun menangkap pergelangan tangan itu dan menariknya. Junmyeon jatuh tepat di samping Sehun.

"Sakit..!" Junmyeon meringis mengusap tulang ekornya.

"Hyung murung.." Sehun bersandar di pundak Junmyeon.

"Lalu apa masalahmu..?" Junmyeon menjatuhkan kepalanya di atas kepala Sehun.

"Aku tidak ada masalah apapun.." Sehun menggerakkan kakinya kesal, Chanyeol dengan tubuh besarnya merebahkan diri di atas kaki Sehun.

"Jika aku gagal lagi masuk ke dalam tim nasional tahun ini. Aku akan di karantina.." Junmyeon mulai dengan keluhannya.

"Lalu..?" Sehun menjauhkan kepalanya dari pundak Junmyeon.

"Solusinya..?" Chanyeol sudah tengkurap di atas lantai.

"Sehun-ah.."

Sehun mengerang kesal. "Kalah lagi.."

"Kemarikan. Aku akan naikan level mu.." Chanyeol mengambil alih ponsel Sehun.

"Sehun-ah.." Junmyeon mencicit.

"Apa..?" Sehun menatap Joonmyeon sekilas. Perhatian sekarang bagaiman cara Chanyeol menaikan level game nya.

"Bisakah aku masuk ke dalam timmu untuk pertandingan nasional dua bulan lagi..?"

Sehun menatap Suho dengan alis menyatu. Sehun dan Chanyeol juga saling pandang. "Bukan aku yang menentukan timku.." Sehun kembali menatap Suho.

"Laoshi Wu. Bisakah kau memakai kebijakan sebagai anak pelatih tertinggi untuk membantuku…?"

.

.

.

Yifan tau dia akan menunggu hampir satu jam di parkiran. Tapi Yifan tidak pernah berpikir untuk mengubah kebiasaan yang sudah hampir 5 tahun ini dia jalani, menunggu Sehun latihan dan pulang bersama. Yifan melihat Sehun dan Chanyeol yang turun dari ramp lantai 1 menuju parkiran. Mata tajamnya memicing menemukan Junmyeon membuntuti di belakang dengan kepala tertunduk. Tubuhnya tenggelam di balik hoodie, tangannya tersembunyi pada saku celana olahraganya. Yifan terus memperhatikan gerak teman lelaki anaknya itu.

"Baba.."

Yifan mengerjap saat pintu terbuka dan suara Sehun menyapanya. "Kau di belakang, Shixun..?"

Sehun menangguk dan menutup pintu bagiannya. "Junmyeon hyung di depan.."

"Sore Laoshi Wu..!" Chanyeol menyapa dengan girangnya.

"Sore Chanyeol.." Yifan menatap Chanyeol melalui spion.

"Sore Laoshi.." suara lebih lembut di sekitar mereka menyapa.

Yifan berkedip bertemu pandang dengan mata bening Junmyeon. Yifan bukan baru pertama kali bertemu dengan Junmyeon. Sehun sering kali memanggil Junmyeon miliknya, hingga Yifan bosan mendengar itu dua tahun belakangan ini.

"Sore.." jawab Yifan singkat. Berbeda seperti balasannya pada Chanyeol. Yifan membuat pria mungil itu menunduk semakin dalam. "Kalian bertiga di sini itu artinya tidak ada makan malam di rumah..?"

"BBAM..!" koor Sehun dan Chanyeol bersamaan.

Yifan hanya menarik sudut bibirnya. Mulai mengendari mobilnya meninggalkan gedung latihan. Sementara Sehun dan Chanyeol sibuk membahas game terbaru. Junmyeon memilih membisu di samping Yifan.

"Junmyeon.." panggil Yifan.

Junmyeon langsung menoleh dengan mata membulat. "Ya Laoshi.."

"Kau tidak membahas sesuatu dengan mereka..?" Yifan memperhatikan sekilas Sehun yang mendorong pundak Chanyeol kesal.

"Aku tidak terlalu paham dengan permainan itu.."

"Tentu saja karena kau tak mengikuti pembicaraan mereka.."

Suho tak menjawab. Dia lebih memilih memandangi sisi samping wajah pelatih tampan mereka. Wajah Yifan adalah gambaran dewasa dari wajah manis Sehun. Hanya melihat wajahnya, Junmyeon yakin jika dia bisa melindungi keluarganya dengan baik.

"Ada yang salah dengan wajahku..?" Yifan menoleh sekilas. Dia harus tetap fokus ke jalanan. Ada putra kesayangannya dan dua temannya di dalam mobil ini.

"Tidak Laoshi.." Junmyeon menggeleng kuat.

"Kau terlihat tidak baik..?"

"Ya..?"

"Kemarikan tanganmu.."

"Ya..?" Junmyeon semakin dibuat bingung dengan pembicaraan Yifan.

Yifan sudah mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan kanan Suho. "Aku sedang menyetir. Jangan mempersulitnya.."

Junmyeon dengan cepat memberikan tangannya di atas tangan Yifan.

Yifan menoleh pada pemuda kecil itu dengan senyum terkembang. "Aku tidak akan menyakiti jari berharga ini.." Yifan menghentikan laju mobilnya ketika di persimpangan lampu merah.

"Ada yang salah, Laoshi..?"

"Kau tidak pernah di tegur dalam posisi Holding…?"

Junmyeon berpikir sejenak. "Tidak.."

"Kau tidak melindungi pelatihmu..?" Yifan hanya menarik senyum miring.

"Kenapa..?"

Yifan menatap Junmyeon gemas. Kepalanya menggeleng dengan senyum terkulum. "Jarimu akan luka dengan posisi holding yang salah. Aiming mu akan menjadi sia-sia karena jarimu sudah lebih dulu merasa perih. Mengerti..?"

"Ya Laoshi.." Junmyeon seolah menjawab ragu. Senyum pelatih dingin itu hanya bisa dilihat, jika Yifan berada di sekita putranya.

Yifan meletakan tangan Junmyeon pada pangkuan pemuda manis itu. Kembali melajukan mobilnya tanpa ada pembicaraan lagi yang dibuatnya.

Mereka berempat sudah sampai di restoran yang Sehun pilih. Yifan tidak akan pernah menolak kemauan putra tunggalnya itu. Yifan dan Junmyeon masih bersampingan untuk masuk ke dalam restoran.

"Kau bisa menemuiku lusa..? sehabis latihan.."

"Ada yang salah, Laoshi..?" mata Junmyeon membulat terkejut. Siapa yang tidak takut ditanyai seperti ini oleh orang dengan pangkat tertinggi tertinggi di tempatmu belajar.

"Ya. Kau sedikit bermasalah untuk timmu.." Yifan mengacak tatanan rambut Junmyeon.

"SEHUN..!"

Chanyeol terpekik ketika tangannya di hempas kasar oleh Sehun. Yifan versi kecil itu masuk di antara ruang Yifan dan Junmyeon.

"Junmyeon hyung milikku.."

Sehun menarik Junmyeon ke meja yang ingin dia tuju.

"Paman.."

Yifan menoleh saat Chanyeol berada di sampingnya.

"Paman punya saiangan. Selain paman, Junmyeon hyung tak bisa menolak kemauan Sehun.." Chanyeol dengan cengiran lebarnya melangkah meninggalkan Yifan dengan alis bertaut.

"WU SHIXUN INI BAGIANMU MENGALAHAKN MUSUHNYA..!"

Yifan mengulum senyum memperhatikan ketiga anak muda itu yang ribut. "Kim Junmyeon.." Yifan menggeleng pelan dengan senyum tipis di wajahnya.

.

.

.


.

.

TBC

Holding : Sikap menahan sebelum melepas anak panah

Aiming : Membidik


.

Balasan Review : makasih pake banget spesial pake telor *eh untuk kalian yang udah baca, review, favorit. makasih atas supportnya -author-

Bekipan : ini di lanjut.. hehehehehe

Chanbaek0605 : sipppp... lanjutan siap meluncur...

Autentiquex : makasih banyak loh kamu bilang ini lucu.. heheheh

Fyodult : Sehun mah apa atuh, anak kesayangan author dia mah.. hehehehe

Be Nerdy : siap siap siap.. aiting *ngomong ala baby si an*

.7 : kamu namanya aku nggak bisa ngetik. jadi hilang.. aku juga suka mereka.. jangan jangan kita... *BGM : You're my destiny*

Riri myeon : coba udah baca lanjutannya..? masih seru..? heheheh

ce : ah dirimu lagi depar.. nggak bisa bikin yang panjang-panjang..

.


.

a/n : sebenernya aku bisa bikin setiap chapter sampe ribuan. cuma, karena ini ff sifatnya menghibur, untuk aku dan kalian. Jadi kita bikin singkat padat aja ya..? yang penting manis manis manja..? iya nggak..? iya dong... hehehehe.. nggak janji update tiap minggu. biasanya kalau lagi stress mingguan bakalan update. resiko anak tugas akhir yang ngejar dosen pembimbing (curhat garis keras).. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

.

.

.