.
Chapter 1: OLD HABITS DIE HARD
.
.
.
.
.
scarletrosee present
and thanks a lot for Jvng | SHINeexo | AustyKim | Mila andini | Olivie adinda | Purplerune47 | Peewla07 | Littlebacon | overlays | Guestauu | Amaloseer | Yuni shiners | Xhe | Guest | XiuBaby Pandatao | KrisHuangKai | angel park | Rozen Aiden | Inihinaa | EXO Love CBHS
.
.
.
.
.
.
Author : fliuor
Translator: scarletrosee
Length : Multi chapter series
Genre: Romance, Fluff, Adventure, Mystery
Rate: PG-13
Cast : Baekhyun, Chanyeol, Jongdae, Kyungsoo, Jongin, Luhan, Minseok, Joonmyun, Yifan, Yixing, Sehun, Tao
Pairing: ChanBaek, KaiSoo, XiuHan, FanXing, SuChen
.
.
.
.
A/N: Saya sangat berterimakasih untuk kalian yang sudah rela /? membaca, bahkan mereview dan memfav/foll fanfic ini, kalian luar angkasaaa~ kalian bisa membaca cerita asli dari kak Fliuor disini: wewewe(titik)asianfanfics(titik)com/story/view/684033/spare-the-rod-and-spoil-the-child-baekyeol-kaisoo-xiuhan-ot12-fanxing-suchen-hogwartsau
Berhubung saya masih baru /? Maaf apabila terjemahan saya penuh dengan typo hehehehe.
.
.
.
.
.
The casts belong to God, parents and their agency (except Chanyeollie is mine nghahahaw) the plot and story belong to Fliuor! Don't be silnet reader please
.
.
.
.
.
THIS IS YAOI ! I TOLD YOU BEFORE ! DON'T LIKE DON'T READ !
.
.
.
.
.
Chanyeol membungkuk untuk terakhir kalinya ke ujung peron 9 3/4 dan memberi Ibunya pelukan selamat tinggal dengan cepat. Sementara pipa dari Hogwarts Express sudah mendesah marah di belakangnya. Ia menepuk punggung Chanyeol, memegang pipi Chanyeol untuk membuat anaknya itu tampak jelas di wajah keriputnya yang terlihat khawatir. Chanyeol mencoba untuk tidak tertawa dan tersenyum tanpa sadar.
"Bisakah kita tidak melakukan ucapan selamat tinggal yang penuh airmata, Bu? Di usiaku yang sekarang, itu sedikit memalukan."
"Berjanjilah bahwa kau akan berhati-hati dan kau tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh." Ibu Chanyeol menjawab dengan serius. "Jangan sembrono. Jangan berpikir bahwa aku tidak akan memantaumu, karena aku akan mengirimkan Howlers jika itu perlu."
"Bu, aku sudah di tahun kelima!" Siswa Gryffindor itu mengerang.
"Ya, aku tahu, sayang. Tapi aku tidak bisa berhenti mengingat bahwa penyihir gemuk berusia sebelas tahun yang menangis terus menerus dengan ingus di seluruh wajahnya, melolong pada platform tentang bagaimana dia tidak ingin pergi ke Hogwarts belum-"
"Itu adalah pertama kalinya, oke?" Chanyeol memerah, malu. "Ibu tidak perlu mengingatkan aku setiap tahun. Apakah Ibu benar-benar ingin menghantuiku sampai mati?"
"Oh, tapi Bu~ bagaimana jika mereka menempatkanku ke Slytherin? Ibu~ aku tidak ingin pergi~"
"Dan itu adalah untuk pertama kalinya juga." Chanyeol memerah malu sebelum mengepalkan tangannya dan berucap dengan nada percaya diri. "Selain itu, ketakutanku pada saat itu wajar. Aku masih berumur sebelas tahun dan meninggalkan kehangatan rumah untuk pertama kalinya. Itu adalah pengalaman yang sangat intens dan traumatis bagiku."
"Ya aku tahu, sayang. Hanya saja jangan lupa untuk menempatkan mantra pemanas pada syal mu setiap kali kau naik menara Astronomi, oke?"
"Bu, kereta akan segera berangkat ..."
"Oke, naiklah sayang. Ayahmu dan aku akan melihatmu pada hari Natal. "
Dengan denyutan kecil di dadanya, Chanyeol ragu-ragu, menghargai sekali lagi kenyataan bahwa tidak ada Ayahnya.
"Bu, tentang perceraianmu dan Ayah..."
"Sayang. Apa keretenya tidak akan meninggalkanmu?"
Siswa Gryffindor itu mencabut tongkat sihirnya, memberikan kopernya ketukan lembut. Ia menunggu kopernya terangkat sendiri dari tanah, kemudian patuh melayang menuju pintu kereta terdekat. Peluit menjerit lebih keras sekarang, asap tebal keluar lebih lama dari sebelumnya, menyuruh penumpang untuk segera naik agar mereka tidak tertinggal. Tidak ada waktu lagi untuk melakukan salam perpisahan sekarang.
Chanyeol dengan cepat melompat ke dalam kereta dan menggunakan satu tangannya untuk memberikan lambaian hangat pada Ibunya, tangan lainnya masih menggenggam erat kandang Bartoc –burung hantu miliknya-
"Sampai jumpa di hari Natal, Bu!" Teriaknya di atas pipa yang menjerit. Tapi suaranya tenggelam oleh asap dan peluit.
Chanyeol segera masuk ke dalam kereta, melangkah ke samping untuk membiarkan orang lain lewat. Siswa dari segala usia kini saling mendorong satu sama lain di lorong; penyihir muda memekik dengan kegembiraan; Prefek melarang para siswa berjalan di dalam kereta; teman menemukan satu sama lain setelah musim panas berakhir; dan penyihir pemula takut-takut mencari kompartemen kosong untuk duduk diam. Senyum akhirnya berkembang di bibir Chanyeol. Ini adalah kekacauan yang lebih mengarah ke kehangatan. Dia menyadarinya, tahun kelimanya di Hogwarts.
Rumahnya yang jauh dari rumah.
Chanyeol berseri-seri, kegembiraan perlahan menggelegak di dalam dadanya. Bartoc mengepakkan sayapnya untuk memprotes keributan di dalam kereta, tapi Chanyeol menenangkan burung hantu itu dengan tangannya. Ia bertanya-tanya di mana Luhan dan yang lainnya saat ini, apakah ia harus berjalan lama sebelum menemukan salah satu dari mereka? Pikiran itu, bagaimanapun ternyata berumur pendek, sebuah pukulan di belakang membuatnya tersandung maju ke pintu geser, dan ia terjatuh langsung menghadap kaca berasap.
"Pindahkan pantatmu. Kau menghalangi jalan, brengsek," kata suara maskulin yang kurang ajar dari belakangnya.
Chanyeol berbalik dan tidak bisa menyembunyikan seringai di wajahnya ketika ia melihat anak dengan rahang kotak berdiri di depannya.
"Jongdaaaae!" Chanyeol berseru.
"Selamat datang kembaaliii!" Jongdae otomatis berteriak keras dan melompat ke dalam pelukannya, membuat Chanyeol menjatuhkan Bartoc. Chanyeol tertawa. Melihat temannya enerjik seperti biasa. Jongdae terdengar seolah-olah ia berbicara melalui megafon.
"Bagaimana perasaanmu, kawan? Bagaimana keluarga?"
"Baik-baik saja, kami hanya... diam dan menunggu." Chanyeol bertanya balik. "Kau?"
"Bagus. Sangat bagus. Kami pergi ke pantai Barbados. Kau seharusnya melihat pasir! Kulit Luhan sebenarnya tidak putih, itu menakjubkan... Lalu Jongdeok dan aku berhasil menemukan Diricawl di semak-semak saat kami berjalan di sekitar. Kami bahkan merencanakan cara untuk menangkapnya, tapi ibuku panik karena dia masih berpikir itu adalah Dodo, yang kau tahu, seharusnya sudah punah..."
"Kedengarannya seperti kau bersenang-senang."
"Ya memang! Itu hebat..." Jongdae berseri-seri, lalu mengerutkan kening. "Dan kau terlambat, kawan! Cukup banyak orang, disini sudah penuh. Kami berhasil mendapatkan kompartemen yang cukup baik disana. Ayo ikut aku."
Mengabaikan pekikan protes yang masih berasal dari Bartoc, Chanyeol menyeringai dan mengetuk tongkatnya sekali lagi, membuat barang-barang miliknya mengikutinya saat ia dan Jongdae berjalan ke dalam kereta yang bergerak. Dia telah melewatkan banyak pembicaraan dengan anak Gryffindor yang lain. Itu bagus untuk memilikinya kembali.
"Jadi, apa kau sudah membeli semua barang-barangmu?"
"Oh Merlin. What the hell dengan daftar itu." Jongdae melebarkan matanya pada Chanyeol, mengerutkan hidungnya dengan jijik. "Aku tidak tahu aku membeli apa, tapi satu hal yang pasti, itu bukan buku." Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak sabar untuk salah satu kelas pada tahun ini. Hey, kami di sini."
Saat Jongdae berbicara, yang paling tua disana melangkah sedikit ke satu sisi kompartemen untuk membuka pintu, dan Chanyeol dengan senang hati mengintipkan kepalanya. Ia berubah menjadi cerah setelah melihat tiga anak laki-laki lain sudah duduk di dalam, atau ternyata tidak duduk. Bahkan, hanya satu dari tiga anak laki-laki ini sedang "duduk" di bangku dalam artian sebenarnya. Dua lainnya mengangkangi yang pertama, berjuang untuk menangkap apapun yang disembunyikan di dalam genggamannya.
Jongdae menahan tawa saat melihat, sementara Chanyeol lambat mencerna situasi.
"Whoaa guys, aku tahu kita semua remaja yang sehat dan kuat, tapi tolong, ini di depan umum..."
"Hahaha bloody hell. Sangat lucu," Jawab Jongin, masih menjebak Sehun dengan pahanya, satu tangan di kedua sisi bahu anak muda itu. "Itu hal bodohnya yang mencuri katak coklatku, dan aku pantas dendam padanya!"
"Bubbles's not a thing." Sehun membentak, masih menyembunyikan sesuatu yang bergerak dan besar di kedua tangannya dan menjaga dari jangkauan temannya. Anak ketiga, Tao, langsung berusaha untuk mengambil dari cengkeraman Sehun, tapi Sehun memindahkan lengannya dan sesuatu itu berhasil lolos, berjalan ke bangku lalu mencicit kaget sebelum naik ke sandaran kursi dan melompat ke bahu Chanyeol. Masalahnya, sesuatu itu ternyata tikus raksasa, hampir sebesar kepala Chanyeol.
"Apakah itu Bubbles?" Chanyeol membawa tikus itu ke tangannya, melangkah ke kompartemen untuk menurunkannya kembali. "Kau punya tikus baru?"
"Ternyata, ya." Jongin meringis.
"Sejak kapan?"
"Sejak aku membelinya di toko Menagerie." Sehun dengan lembut mengambilnya dan meletakkannya ke pangkuannya lagi, mengabaikan tatapan membunuh yang masih Jongin lemparkan padanya. "Bubbles adalah makhluk lembut dan bersih, seekor pedigree dan mudah didekati. Pemilik toko mengatakan padaku kalau dia adalah tikus ramah yang paling halus. Dia tidak akan menyakiti seekor lalat. Bubbles layak diperlakukan dengan hormat."
"Dia membantai katak coklatku."
"Katakmu yang melompat ke kaki kecilnya, Bubbles tidak bersalah."
"TroliHoneydukes akan segera datang, jadi cukup." Jongdae menggaruk hidungnya. "Kenapa kau tidak menunggu sedikit lagi dan membeli beberapa treat baru ketika lewat?"
Jongin menggerutu dan menjatuhkan dirinya kembali ke kursi di seberang, melipat tangannya dan meluruskan anggota tubuhnya sehingga kakinya beristirahat di bangku, di samping kaki Sehun. Meskipun Jongin mengerutkan hidung merasa tidak setuju, ia tidak mengatakan apa-apa. Akhirnya, Tao duduk di sampingnya dan mengalihkan tatapannya ke arah Chanyeol dengan senyum terang.
"Bagaimana musim panasmu?"
"Baik. Tapi aku pikir jauh lebih baik disini." Siswa Gryffindor itu menyeringai, menepuk-nepuk di sebelah Jongin dengan tongkatnya, untuk melayangkan koper ke tempat penyimpanan di atas kepala mereka. "Aku kecewa tidak bisa melihat salah satu dari kalian di Diagon Alley tahun ini. Dengan semua kekacauan yang terjadi di rumah..."
"Itu bagus. Aku juga tidak pergi berbelanja dengan salah satu dari mereka." Kata Jongin melemparkan tatapan bermakna pada Sehun, "Kalau tidak, aku pasti akan menghentikan si bodoh yang membeli rakasa berbulu ini. "
"Hei!"
"Aku melihat daftar bacaan kemarin dan hampir pingsan." Tao mengerang. "Bagaimana kita akan melewati semua itu? Tidak mungkin untuk melakukan semuanya dalam satu tahun akademik"
"Pikirkan kami, yang harus melewati OWL nanti," Jongdae tertawa.
Tapi Tao menggeleng.
"Setidaknya kalian tidak harus terlambat satu tahun hanya karena orang-orang berpikir kalian adalah Squib"
Topik ini selalu Tao yang menyinggung, ia terutama sadar diri dan itu bisa dimengerti. Orang tua Tao -meskipun keduanya adalah penyihir berketurunan baik- berpikir bahwa anak mereka adalah seorang Squib, karena Tao kekurangan tanda-tanda sihir sampai ia berusia dua belas tahun. Akibatnya, suratnya dari Hogwarts juga terlambat datang satu tahun, yang menjadikannya satu angkatan dengan Jongin dan Sehun, meskipun kedua orang itu lebih muda darinya. Tao selalu merasa tidak aman tentang keterlambatan sihirnya, ditambah dengan banyaknya kecelakaan yang ia alami dengan tongkat sihirnya selama tiga tahun ia menghabiskan waktu di Hogwarts. Tongkat cokelat dengan inti hati naga yang Ollivander katakan telah memenuhi syarat sebagai tongkat yang sangat sensitif terhadap emosi pemiliknya. Tao bukan penyihir yang buruk, ia hanya tidak memiliki keberanian untuk melawan ketika orang yang dicintainya membutuhkannya. Dia hanya sangat pemalu, dan umumnya sadar diri tentang segala sesuatu yang dia coba lakukan.
"Kau akan baik-baik," Chanyeol segera berkata, dalam nada yang ia harap terlihat menggembirakan. "Kau mungkin tertekan untuk saat ini, tapi kau selalu melakukan yang terbaik pada akhirnya. Dan kita semua tahu bahwa meskipun sehari-hari kau berteriak tentang tikus dan kumbang dan apapun yang hidup di bawah matahari, kau benar-benar yang paling cepat untuk berdiri lagi setelah mencoba sesuatu ketimbang kami semua. Jadi, lebih percaya diri. "
Tao mendongak, "Benarkah?"
"Tentu saja! Hey, kau tidak akan berada di Gryffindor jika tidak melakukan apa-apa."
"Ya, dan jika semuanya gagal," Jongdae menambahkan, "Kau selalu dapat meminta Luhan untuk memberikan jawaban dari PR-mu, kau tahu."
Tao memutar matanya, "Dia tidak pernah membantuku"
"Kau hanya kurang mendesaknya. Dia suka berpura-pura sibuk."
"Dia seorang Prefek dan tahun ketujuh. Aku pikir dia sebenarnya sibuk. "
"Tidak, tidak pernah cukup sibuk. Hanya janji kencannya dengan si Ravenclaw, Kim Minseok." Jongdae tertawa. "Dia akan melompat ke esaimu dan melakukannya dalam waktu singkat."
"Uhum uhum."
Mereka berbalik, dimana seorang Prefek tahun ketujuh yang familiar dengan fitur halus dan mata doe besar sekarang sedang menjulang di atas mereka, memelototi mereka dengan pandangan marah dan menghakimi di wajahnya.
Langsung saja, mereka semua meringkuk dan kembali menghadap jendela, dan sesaat kemudian, Luhan duduk di samping mereka, tersenyum dan merenggangkan lehernya dengan napas lega saat ia menjentikkan beberapa debu di jubahnya.
"Jadi, teman-teman. Apa itu tentangku dan Kim Minseok si anak Ravenclaw?"
Jongdae menggeser diri ke dekat jendela.
"T-tidak, oh Luhan, pria manly yang pernah lahir dari rahim seorang wanita."
"Oh, aku suka itu." Luhan setuju, matanya bergerak ke atas dan mengangguk apresiasi. "Orang manly yang pernah lahir dari rahim seorang wanita. Kedengarannya menarik, kau harus mengatakannya lebih sering."
"Bukankah kau seharusnya berada di kompartemen Prefek?"
"Ya, tapi semua orang disana baik-baik saja tanpa aku, jadi mengapa tidak 'say hai' ke junior Gryffindor favoritku saat aku bisa? Juga, Chanyeol, aku perlu berbicara denganmu jadi aku mungkin akan melakukannya sekarang. Kau juga, Jongin, dan kau, Jongdae."
"Um...apa?"
"Apakah kalian belum berpikir tentang bagaimana cara mengatasi masalah Quidditch kita?"
Chanyeol berbalik untuk melihat Jongdae dan Jongin, yang malah membalas tatapan malu-malu nya.
"Err, tidak ada."
Salah satu Beater mereka telah menyelesaikan tahun ketujuh dan meninggalkan Hogwarts untuk selamanya musim panas lalu, menyebabkan tim mereka kehilangan satu anggota. Dan sejak saat itu, mereka telah mencari dan merekrut anggota baru, tetapi belum berhasil untuk mencari pengganti. Sebelum akhir semester, Luhan telah mencoba segalanya untuk membuat orang tertarik pada Quidditch, tetapi tidak ada yang tampak sangat antusias, tidak pernah ada calon yang bagus. Yang terbaik yang telah tim Quidditch mereka dapatkan hingga kini adalah memukul Bludger yang langsung menuju ke Slytherin dalam upaya untuk membelokkan diri.
"Aku sudah menanyakan pada semua teman-temanku," Luhan menjabarkannya dengan cemberut, "Tapi tidak satupun dari mereka ingin mencoba. Mereka semua terlalu sibuk dengan NEWT mendatang. Ditambah, Jack adalah pemain yang sangat bagus, sekarang dia sudah pergi, dan orang-orang tidak ingin dibandingkan."
"Belum lagi Beater selalu menjadi posisi yang paling populer dalam tim." Chanyeol mendengus, ia menjadi Beater kedua dalam tim dan mengetahui dirinya tidaklah populer. Luhan adalah Chaser serta kapten tim Gryffindor sejak tahun keenam. Jongin adalah Seeker mereka, dan Jongdae adalah Keeper mereka.
Sang Prefek segera melihat dan melirik ke luar jendela, agak putus asa.
"Kupikir kau benar."
"Lihatlah, kita hanya perlu membuat pengumuman ke siswa yang masih muda setelah minggu pertama berakhir." Chanyeol mengeluarkan saran pada akhirnya. "Aku yakin banyak dari mereka akan tertarik sekarang. Mereka mungkin belum tertarik pada saat itu ketika kita menawarinya selama periode ujian, tapi sekarang tidak ada apapun di dalam pikiran mereka" Ia berhenti sejenak. "Begitu, atau siswa baru! Siswa yang selalu siap untuk apa pun."
"Aku tidak berpikir itu tepat untuk meminta seorang berusia sebelas tahun untuk menjadi Beater, Chanyeol."
"Ini patut dicoba. Mereka mungkin cukup besar untuk usia mereka."
"Yo Man, seperti kau ketika pertama kali muncul di tahun pertama."
"Aku gemuk Jongdae, ada perbedaan."
"Lagipula, aku berharap kita bisa meminta seseorang yang kita kenal." Luhan merenung, membuka telapak tangannya dan menatap temannya masing-masing. "Dengan begitu, kita sudah memiliki gagasan buram tentang potensi mereka, kalian bisa menangkap apa yang aku maksud? Tao, misalnya! Mengapa kau tidak mencoba? "
Mata Tao terbuka lebar, menatap tidak percaya padanya.
"Aku lebih baik mati!"
"Nah, mendapat jawabanmu."
"Tidak, tapi serius. Bagaimana jika dia benar-benar bisa, iya kan?" Luhan bersikeras, bergeser menuju ke tepi tempat duduknya. "Takut tidak harus berhenti untuk melakukan hal dan mencoba. Mungkin kau akan tumbuh semakin sering kau melakukannya. Kau tahu? Aku, faktanya, takut ketinggian sampai aku mulai terbang di lapangan Quidditch. "
"Ya, dan aku dulunya baik-baik saja dengan ketinggian, sampai kita mulai pelajaran terbang di tahun pertama." Tao mendengus, kembali ke menghadap pemandangan luar. Luhan mengerang dan menutupi wajahnya.
Tak lama kemudian, troli dari Honeydukes melewati kompartemen mereka, dan mereka berhenti untuk mulai mengambil permen mereka.
"Kenapa tidak ada yang ingin memberikan Quidditch kesempatan?!" Kata Luhan setelah troli Honyedukes pergi. Ia mengisap Tongkat Akar Manis. "Ini adalah olahraga terbaik di dunia, semua orang harus mati untuk bisa masuk ke tim, namun semua orang menolak untuk bergabung, tidak peduli berapa banyak aku memohon!"
"Mungkin caramu meminta orang ..."
"Apa yang salah dengan caraku meminta mereka?!"
"Tidak ada."
"Guys, aku pikir kalian semua sudah melupakan seseorang." Kata Jongdae, setelah beberapa saat.
Ada keheningan, setelah itu mereka semua melirik Sehun, yang mengusak beberapa helai rambut merah mudanya menjauh dan mengusap hidungnya dalam kebingungan.
"Apa?"
"Itu benar, Sehun," Luhan mendekat, tiba-tiba penuh harapan, "Apakah kau tertarik? Maksudku, kau Gryffindor, dan sekarang siswa tahun keempat. Kau sudah dewasa dan lebih tinggi."
Sehun melihat mereka semua, mengerutkan kening ragu-ragu, dan menyipitkan matanya.
"Terima kasih?"
"Bukan itu yang aku maksudkan. Aku menanyakan apakah kau ingin mencoba untuk posisi Beater Gryffindor, ngomong-ngomong"
"Aku belum terbang lagi sejak tahun pertama."
"Tidak apa-apa! Kau bisa terbang kembali dengan praktek, dan itu bukan sesuatu yang kau lupa, itu mudah. "
"Aku tidak punya sapu"
"Tidak apa-apa." Luhan tersenyum, matanya masih bersinar. "Sekolah memiliki banyak sapu tua yang bisa kau pinjam sampai kau mendapatkan milikmu sendiri."
Sehun berhenti sejenak untuk merenungkan, jelas berpikir bahwa ide itu terlalu rumit. Chanyeol yakin bahwa anak itu hendak mengatakan tidak. Tapi tiba-tiba, Sehun bersandar dan melihat keluar jendela lagi.
"Aku akan berpikir."
"Benarkah?! Benarkah?!" Luhan menjerit.
"Jangan terlalu senang dulu," gumam Sehun. "Aku tidak mengatakan kalau aku setuju. Dan selain itu, bahkan jika aku mencoba, itu bukan berarti aku bisa menjadi bagus."
"Tidak apa-apa, aku hanya senang kau memberikan kesempatan," Luhan berseri-seri, melihat si Gryffindor muda dengan bintang-bintang di matanya. "Terima kasih banyak Sehun, aku berutang budi padamu."
Sehun tersenyum dan mengubah topik ke 'Apakahorangtahu siapa guru PertahananTerhadapIlmu Hitam mereka tahun ini.' Tapi Chanyeol tiba-tiba kehilangan arah pembicaraan ini. Pikirannya tak terduga menggali memori lama, fakta lama bahwa Sehun dulu memiliki perasaan pada Luhan di tahun keduanya di Hogwarts, dan setidaknya setengah dari tahun ketiga juga. Perasaan itu benar-benar tak berbalas. Namun tidak mengherankan bila kau mempertimbangkan bahwa Sehun hanyalah seorang anak berusia dua belas tahun pada saat itu. Tapi seluruh sekolah, -Prefekbersangkutandikecualikan- telah menyadari cerita Sehun itu dan semua orang mendorong si Gryffindor muda untuk melakukan sesuatu, dan nyatanya tidak berhasil. Ternyata, Luhan sudah jatuh cinta dan tergila-gila dengan siswa di tahun yang sama dengannya, si Ravenclaw, Kim Minseok. Sehingga seolah-olah Luhan tidak sengaja mengabaikan Sehun.
Sejauh orang menyadari, Sehun telah benar-benar tumbuh dewasa dan melupakan orang yang ia sukai. Dan sekarang ia baik-baik saja dengan hal-hal seperti Jongdae yang suka membahas hubungan antara Luhan dan Minseok. Chanyeol bertanya-tanya apakah Sehun masih memendam perasaan romantis untuk Prefek gegabah itu. Tapi penyihir muda itu selalu sulit untuk dibaca dan memutuskan untuk tetap menutup mulutnya. Mungkin Chanyeol hanya terlalu banyak membaca ke dalam situasi, Chanyeol berpikir sendiri. Mungkin dia hanya mencari masalah yang sebenarnya tidak ada.
Setelahnya, Sehun tertawa dan bercanda dengan Bubbles yang berada di lutunya dan kue Kuali di tangannya, tampak benar-benar bahagia dengan keadaan mereka saat ini. Sukacita bersinar di wajahnya. Namun, semuanya adalah palsu.
"Guys, kalian bisa berbincang dengan teman kalian nanti, kita harus ke Aula Besar dulu. Upacara seleksi akan segera dimulai"
Mengabaikan suara ocehan dari Prefek Hufflepuff itu, Jongdae menarik Chanyeol menaiki tangga ke Aula Besar dan menampakkan senyum animasi.
"Ayolah. Semakin cepat upacara seleksi dilakukan, semakin cepat kita bisa makan."
"Apa gunanya? Makanan tidak akan datang. Mereka akan mengurutkannya dari tahun pertama, dan itu akan memakan waktu lama."
"Aku tahu, tapi aku benar-benar kelaparan."
Chanyeol gagal untuk melihat bagaimana Topi Seleksi melakukan pekerjaannya dengan cepat, tetapi sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, sebuah kaki menjegalnya dan membuatnya terjatuh di tengah-tengah tangga dengan wajahnya yang pertama kali mencium tangga. Giginya membentur batu yang keras dan bergema di kepalanya. Dia mendegar suara "Oh!" di atasnya, lalu cekikikan tertahan terdengar dari pemilik kaki itu, seperti suara burung yang bernyanyi dalam kepala Chanyeol dan membuatnya pusing sendiri. Dengan nada khawatir Jongdae bertanya,
"Wow, Man. Kau baik-baik saja?"
Dan akhirnya, suara cibiran yang tak asing bagi Chanyeol berbicara di kerumunan. Suara yang selalu membuatnya kusut dan membuat setiap helai rambutnya berdiri.
"Oops, terlihat seperti seseorang yang lupa cara berjalan. Aku berharap jatuhmu tidak menghancurkan saraf terakhir yang kau punya di kepala kecilmu itu."
Chanyeol mengangkat kepalanya dan melihat sumber dari semua masalah itu, lambang rasa sakit di pantat, mirip sekali dengan neraka dan induk dari semua masalah. Berdiri di atas tangga yang baru saja menjatuhkannya.
Byun Baekhyun.
"Bloody hell. Apa yang kau lakukan di sini, Byun?" Chanyeol meludah, masih merasakan bibirnya berdenyut-denyut, "Dan mengapa kau tidak segera pergi dari sini sebelum aku merobek wajahmu menjadi dua."
"Um, bukankah seharusnya aku yang berkata begitu? Bloddy hell, kenapa kau tidak keluar dari sini, malah menghalangi jalan bagi siswa lain, sayangku si kepala-babi Gryffindor?" Siswa Slytherin itu mendesah, berpura-pura sedih sambil menunjuk badgenya "Yang pertama, aku Prefek, mungkin kau belum tahu, jadi aku mengantarkan siswa tahun pertama ke Aula Besar seperti Prefek terhormat seharusnya lakukan. Berdiri di sini adalah bagian dari tugas."
"Kau, Prefek?"
"Apakah kau iri?" Baekhyun berkicau, "Sangat bagus jika kau memberikan pertunjukan tentang apa itu orang bodoh, Park, namun siswa lain masih harus melewati tangga untuk sampai ke Aula Besar, jadi... pergilah dari sini."
Chanyeol merasa darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun, tangannya dengan sengaja merogoh ke jubahnya untuk menggapai tongkatnya. Itulah mengapa ia tidak tahan pada Byun Baekhyun, itulah mengapa ia membenci orang itu. Karena Byun Baekhyun adalah orang yang paling menjengkelkan, dan fuck bahwa Slytherin menghasilkan merak seperti Baekhyun. Siswa high-quality yang selalu mencari masalah dan membuat kehidupan orang lain sengsara. Dan seolah-olah itu tidak cukup, ia juga harus menjadi mahasiswa pro-aktif dalam kelas, cerdas dan "menarik" bagi guru yang bersangkutan, yang memberinya segala macam keuntungan setiap kali mereka berkelahi satu sama lain di hadapan guru. 'Mengapakalian berdua berkelahi lagi di hadapanguru?' Luhan selalu berkata begitu. Byun Baekhyun adalah si brengsek yang membuat masalah dengan cara yang rapi.
"Aku bersumpah demi Tuhan, Byun, jika kau mengatakan satu kata lagi aku akan membuatmu terbang seperti Billywig" katanya, "dan aku tidak peduli bahwa McGonagall sedang menonton, karena melihatmu berputar di sekitar ruangan akan menjadi detensi terbaik di dunia."
"Ooh, aku takut." Baekhyun merengek, menyembunyikan tangannya di saku, di mana Chanyeol tahu tongkatnya berada disana. "Kenapa kau tidak menunjukkannya, Tuan Park, karena kau tampaknya berpikir bahwa kau eumm...begitu berbakat dengan tongkatmu?"
"Ayolah, guys" Jongdae mulai sambil mendengus, "bisakah kita makan dulu?"
Baekhyun dengan santai mengeluarkan tongkatnya.
"Baek," tiba-tiba terdengar suara keempat, dan Chanyeol mengalihkan padangannya sejenak untuk melihat orang yang baru saja datang. Seorang mahasiswa pendek dan mata burung hantu yang dengan tegas meletakkan tangannya di lengan Baekhyun dan membuat Baekhyun berbalik dengan muka terkejut. Chanyeol tahu anak itu. Itu siswa Slytherin yang biasa dipanggil Do Kyungsoo. Chanyeol sering melihatnya berada di sekitar Baekhyun...tapi tidak selalu.
"Apa?" Baekhyun sekarang berkedip pada Kyungsoo, ia menyipitkan matanya mendadak, "Kyungsoo, aku bilang aku akan bertemu denganmu di meja."
"Jadi kau dengan bodohnya akan membuat Slytherin kehilangan beberapa poin? Ya, benar..." Kyungsoo memutar matanya dan berdehem. "Dengar, aku tidak peduli lelucon apa yang kau keluarkan pada preman Gryffindor ini, tapi serius, sekarang? Pilihlah waktu yang tepat. "
"Hei," Chanyeol menatapnya dan menarik tongkatnya keluar. "Jika kau berpikir kau bisa lolos dengan memanggil kami preman..."
"Park Chanyeol, itu sudah cukup!"
Chanyeol rentan terhadap suara teriakan dan memutar matanya saat ia melihat Luhan berjalan ke arah mereka dengan langkah terengah-engah.
"Daannn... ayo kita pergi lagi," gumam Jongdae.
Sedetik kemudian Luhan datang , tapi bukannya berhenti di depan mereka, Prefek Gryffindor itu mendorong mereka maju dan memaksa Chanyeol dan Jongdae untuk melanjutkan perjalanan mereka menaiki tangga, berjalan lurus melewati Baekhyun -yang melempari mereka tatapan mencurigakan- tanpa henti. Chanyeol mencoba untuk melawan lengan temannya, tapi Luhan tidak membiarkannya pergi sampai mereka benar-benar di luar jangkauan Baekhyun. Baru setelah itu dia melepaskan Chanyeol dan Jongdae dengan mengeluarkan desisan marah.
"Apa apaan itu?" Siswa tahun ketujuh itu berdesis panas. "Aku tahu kau dan si Byun memiliki banyak sejarah, tapi pada malam pertama?! Benar-benar!"
"Dia yang memulainya."
"Dan kau meneruskannya!"
"Sejujurnya, ini benar-benar kesalahan si Byun." Jongdae setuju. Tapi Luhan menggeleng.
"Berapa umur kalian berdua, serius? Dia Prefek sekarang, apa kau tidak melihat bahwa dia memiliki keunggulan yang jelas daripada kau, Chanyeol? Dia bahkan bisa mengambil poin darimu jika dia ingin. Kau tidak bisa hanya melompat dan bertengkar dengannya tanpa berpikir lagi."
"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Tidak ada, hanya bertindak seperti orang yang tumbuh dewasa! Hei, Yifan."
Di samping pintu Aula Besar, seorang remaja tinggi dan rapi menunggu mereka. Lencana Prefeknya terlihat di bagian depan jubah dan wajahnya terlihat khawatir.
"Hei." Yifan membalas sapaan, mengamati semuanya dengan mata merunduk. "Aku melihat apa yang terjadi disana, dengan Baekhyun dan tangga..." ia mengangguk pada Chanyeol, dengan senyum kecil di bibirnya. "Bagaimana gigimu?"
"Tidak terlalu buruk , tapi aku punya hari yang lebih baik."
"Apa kau perlu datang ke Madam Pomfrey?"
"Tidak, tidak apa-apa," Chanyeol menyentuh bibir bengkaknya dan mencoba tersenyum pada Yifan. "Aku menghargai perhatian. Kau membuatku merasa seperti masih ada orang baik di dunia ini, Dude."
Siswa yang lain hanya tertawa. Berada di tahun keenam dan Prefek, Wu Yifan adalah salah satu siswa yang kaya raya dan juga darah murni dari keluarga penyihir. Ia terikat untuk mewarisi harta tanpa perlu melakukan begitu banyak hal seperti memindahkan jari kelingking. Sebagai satu-satunya anak dari penemu kue ajaib terkenal yang disebut Wu-zzbees, Yifan ditakdirkan untuk mewarisi bisnis ayahnya. Tapi di samping semua itu, Yifan merasa puas untuk melanjutkan studi di sebuah sekolah sihir seperti siswa biasa lainnya. Seperti menyelesaikan beberapa tugas Prefek di sana-sini, dan menghabiskan waktu dengan teman-teman seperti remaja normal lakukan. Meskipun menjadi Slytherin dan darah murni, Yifan tidak pernah benar-benar mengindahkan persaingan antar asrama. Chanyeol sangat menghargainya untuk fakta itu.
"Jangan berpikir terlalu banyak tentang Baekhyun untuk saat ini," kata Yifan dengan desahan ringan, "Aku akan menanganinya ketika aku melihatnya kembali ke Common Room."
"Yah...ngomong-ngomong, apakah musim panasmu menyenangkan?"
"Oh...kau tahu. Seperti biasanya." Siswa Slytherin itu tertawa kering. "Aku yakin kau memiliki cerita yang lebih menarik daripada yang aku lakukan. Aku akan menyusulmu nanti. "
"Tentu, mari kita melakukannya lain kali."
"Kau benar-benar harus memeriksa bibirmu, Dude. Ini mulai berdarah."
Chanyeol menyentuh bibirnya lagi, melihat ke bawah untuk melihat noda darah yang memang bersinar di ujung jarinya. Dia mengutuk pelan, merasakan tatapan khawatir Jongdae dan melihat Luhan menggosok pelipisnya. Dia akan membunuh Byun Baekhyun nanti. Anak itu benar-benar.
"Mau pergi ke Madam Pomfrey dulu?" Tanya Jongdae. "Makan malam bisa menunggu."
"Tidak, mari kita duduk dulu."
Chanyeol kemudian melambaikan tangannya dan samar-samar menunjuk ke Yifan.
"Aku akan kesana nanti, oke?"
"Hmm, hati-hati."
Setelah ia duduk di meja Gryffindor dengan Jongdae, Chanyeol menyihir secangkir air dan menutupi bibirnya dengan serbet basah. The Great Hall terisi dengan cepat, sebagian besar siswa mengambil kursi disamping orang yang sudah akrab, terlalu senang melihat teman-teman mereka menghabiskan waktu bersama mereka lagi. Sebagian besar Prefek kembali dari luar beberapa menit kemudian. McGonagall bangkit dari kursinya, siap untuk mengangkat gelas dan meminta keheningan sekarang. Di sudut ruangan, penyihir pendek tapi kokoh dengan mata kucing cantik dari Ravenclaw memberi isyarat agar siswa tahun pertama segera datang, lencana Prefek nya berkilauan di bawah lampu yang menyala. Chanyeol mengamatinya. Itu Kim Minseok.
Jongdae menjatuhkan diri di sampingnya dan menampakkan wajah khawatir.
"Umm...apa kau yakin kau baik-baik saja?"
"Aku akan baik-baik saja di pagi hari..." Chanyeol menggerutu.
"Kau seharusnya menggigit bibirmu ketika kau terjatuh."
"Mana bisa, brengsek."
"Hei, tidak perlu setajam itu. Kita akan membalasnya, jangan khawatir." Jongdae menyeringai. "Prefek atau bukan, dia tidak bisa pergi begitu saja setelah semua yang dia lakukan."
Sehun dan Jongin menyerbu ke dalam ruangan sesaat kemudian dan duduk di seberang mereka, membawa Tao dibawah lengan mereka.
"Hai apa kabar?"
"Tidak banyak, kami bertemu dengan beberapa kenalan lama di tangga."
"Apa yang terjadi padamu?" Jongin berkedip, alisnya terangkat ketika melihat wajah Chanyeol. "Dude, kau terlihat sangat buruk. Apa kau baik-baik saja?"
"Bukan apa-apa. Hanya Byun Baekhyun."
"Benarkah?"
"Dan apakah kalian tahu bahwa ia menjadi Prefek?" Jongdae meringis.
Chanyeol mencoba untuk mengatakan sesuatu tentang Baekhyun yang hanya seorang siswa brengsek, dan kepala sekolah akan segera memutuskan untuk mencabut status Prefeknya setelah semua yang terjadi. Tapi kata pertama tersendat saat gelembung darah muncul dari bibir bawahnya, dan darahnya ikut berceceran di tangan saat ia menghentikan darah kental menetes ke meja.
Jongin, Sehun, Tao dan Jongdae semua menatapnya ragu.
"Oke, Man. Kau benar-benar perlu datang ke Madam Pomfrey setelah ini."
"Ini tidak apa-apa."
Darah menyembur ke piringnya, menodai porselen putih dan membuat yang lainnya menatapnya dengan jijik.
"Yap, kunjungan ke rumah sakit wajib." Jongdae menyimpulkan.
Chanyeol hanya memutar matanya. Dia benar-benar akan membuat Baekhyun membayar untuk ini. Benar, itu hanya masalah waktu.
.
.
.
TBC
.
.
.
mind to review?
Howlers: Surat yang dapat berbicara atau bisa dibilang membentak. Berbentuk surat biasa yang terbungkus amplop dengan pita merah
Prefek: Ketua asrama
Diricawl: Seekor burung gendut, berbulu halus. Berasal dari Mauritius. Mereka pemakan segala, terutama buah-buahan.
Dodo: Burung yang tak dapat terbang yang pernah hidup di Pulau Mauritius
Honeydukes: Toko permen dan makanan kecil
Diagon Alley: Sebuah jalan raya fiksi yang terletak di London. Jalan ini merupakan akses menuju dunia sihir yang juga merupakan sebuah pusat ekonomi, namun tersembunyi bagi Muggle
OWL: Ordinary Wizarding Level adalah ujian pelajaran sihir tingkat awal yang hasilnya merupakan prasyarat bagi pelajaran-pelajaran yang diambil di tingkat NEWT
Quidditch: Olahraga sihir yang hampir menyerupai sepak bola atau bisbol
Beater: Pemain Quidditch yang bertugas menjaga para pemain dalam tim masing-masing dari bludger dengan memukulnya
NEWT: Nastily Exhausting Wizarding Test adalah ujian khusus bagi penyihir tahun ketujuh untuk membantu mereka mengejar karir setelah lulus
Chaser: Pemain Quidditch yang bertugas mencetak gol bagi tim masing-masing
Seeker: Pemain Quidditch yang bertugas mencari Golden Snitch
Keeper: Pemain Quidditch yang bertugas menjaga 3 gawang yang berbentuk lingkaran di ujung tiang berukuran 15 m.
Merak: Kiasan untuk seseorang yang memiliki kebanggan dan harga diri tinggi
Billywig: Serangga yang berasal dari Australia. Panjangnya sekitar 1,25 sentimeter, berwarna biru safir cerah. Kecepatannya begitu tinggi hingga jarang dilihat oleh Muggle
