Sudah masuk pada awal Juni ketika Hinata mengabarkan dirinya diterima kerja di salah satu Pusat Penelitian Biologi di Tokyo. Wajah gadis itu sumringah luar biasa dengan rona merah di kedua belah pipinya. Sebagai seorang teman, Uzumaki Naruto memberikan ucapan selamat. Penelitian Jepang sangat membutuhkan otak encer seperti Hinata. Sangat tidak mungkin lulusan Jerman yang cumlaude seperti dia tidak diterima.
Sementara itu ujian semester sedang dilaksanakan dalam sepekan ini. Uzumaki Naruto agaknya pontang-panting. Program organisasi yang dilaksanakan baru saja usai tepat sehari sebelum ujian semester. Sehingga sehari semalam suntuk kamar Naruto penuh dengan kertas-kertas jurnal dan fotokopi. Jendela kamarnya pun ditutup rapat selama sepekan itu.
Lantas saja muncul pertanyaan dalam benak Hinata.
Kemana perginya lagu-lagu itu?
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
The way I look at you © Miss Sperasza
.
.
.
.
.
WARNING!
Miss typo(s), tidak menarik, random and more. If you really don't like this, please klick back.
(U. Naruto & H. Hinata)
.
.
.
Hope you like it ^^
Betapa Naruto merindukan saat-saat seperti ini. Well, ujian semester dalam sepekan benar-benar sudah menariknya dari dunia luar, bahkan dunia hobinya sendiri.
Libur akan segera tiba dan Naruto berjanji akan menggunakan sebaik-baiknya waktu itu. Belum ada rencana yang pasti tentang apa yang akan di lakukannya. Tetapi mungkin keberadaan Hinata bisa sedikit membantu.
Gadis itu terlihat sangat serius. Tumpukan kertas dan beberapa buku memenuhi meja belajarnya. Wajahnya tertekuk dengan alis yang menukik tegas, khas seseorang ketika sedang berfikir keras. Kacamatanya naik turun. Kunciran rambutnya benar-benar berantakan. Sepertinya Hinata tipikal orang yang tidak memikirkan penampilan sama sekali. Atau terkadang wajah itu mengangkat. Memandang lurus kedepan dengan bibir yang sedikit bergerak. Pulpen yang ia gunakan terketuk keras di atas buku tebal yang terbuka. Malam ini menjadi malam yang sibuk untuk Hyuuga Hinata.
Naruto tersenyum. Pertemanan mereka semakin akrab. Bahkan kini Naruto sudah mampu mengetahui sisi lain dari gadis penyuka wangi buku itu. Seperti koleksi bajunya yang tidak sebanyak koleksi buku, atau Hinata lebih suka suasana kedai kopi dibandingkan restoran. Hinata yang tidak bisa berdandan, sama sekali. Karena menurut gadis itu, wajah yang polos lebih membantunya dalam berfikir. Dan bahkan cara pandanganya mengenai banyak hal, yang Naruto akui luar biasa untuk seorang perempuan muda.
Naruto kagum dengan pola pikirnya. Cerdas. Sangat cerdas.
Membuat Naruto malu.
Dan juga membuat Sasuke sangat risih ketika Naruto merengek ingin ikut ke perpustakaan. Padahal bungsu Uchiha itu enggan waktu belajarnya terganggu meski pengganggu itu adalah Sakura, kekasihnya. Lalu bagaimana dengan Naruto?
"Aku janji tak akan menganggumu," janji yang amat manis. Karena Naruto justru menghadiahinya pertanyaan beruntun, yang malah membuat Sasuke terlihat sebagai seorang dosen pembimbing. Bahkan meminta rekomendasi Ino mengenai kursus bahasa Jerman.
Naruto ingin pintar.
Dan itu karena Hyuuga Hinata.
Anak kesayangan Nyonya Kushina itu meraih gitarnya. Memetik beberapa senar hingga membuat sebuah nada berirama cepat. Wajahnya tampak mulai serius.
Hey pretty baby with the high heels on
You give me feverlike I've never, ever known
You're just a product of loveliness
I like the groove of your walk,
Your talk, your dress
Yang satu ini merupakan lagu favorit Naruto. Maka ia menyanyikannya dengan lihai dan terdengar begitu bersemangat. Membuat Hinata yang sedang menulis laporan penelitiannya terhenti. Wajah lelahnya menoleh kemudian menghampiri jendela dengan senyum yang mengembang.
Pemuda yang hanya menggunakan celana pendek dan kaus abu itu menunduk, memperhatikan petikan senar dan kunci gitar. Seperti Naruto yang biasa Hinata liat ketika bernyanyi, wajahnya serius, tetapi kini tersirat garis semangat dari tiap untaian lagu yang dia nyanyikan.
I feel your fever from miles around
I'll pick you up in my car
And we'll paint the town
Just kiss me baby and tell me twice
That you're the one for me
"Sepertinya lagu favoritmu, Naruto?"
Pemuda itu mendongak. Lagi-lagi ia mendapati Hinata berdiri di depan jendela yang terbuka plus dengan kacamatanya yang besar. Sedang tersenyum menatap Naruto. Menghantarkan getaran yang membuat pemuda itu ikut tersenyum. "Bagaimana kau tahu?"
"Caramu memainkannya berbeda. Dan terdengar nada yang meninggi dari biasanya. Kupikir hal itu sudah dapat terbaca jelas,"
"Haha, analisamu kuat sekali, Nona." puji Naruto. Jemarinya tidak berhenti memainkan gitar meski tak ada nyanyian yang terucap. "Kulihat kau begitu sibuk akhir-akhir ini?"
"Ya, menulis beberapa laporan penelitian,"
"Kau menyukai pekerjaanmu?"
"Tentu saja! Kupikir tak perlulah kau bertanya. Aku jadi memiliki aktivitas yang tidak monoton dari sekedar membeli buku atau membuat jurnal. Aku rasa liburanmu sudah tiba, Naruto, bukankah begitu?"
Naruto mengangguk. "Tidak seutuhnya, karena ada beberapa keperluan yang membuatku tetap mampir ke kampus."
Keduanya terdiam.
"Lanjutkan saja pekerjaanmu, Nona. Biarkan aku disini. Mungkin saja lagu yang kunyanyikan bisa menjernihkan sejenak pikiranmu," kedua alis Naruto terangkat naik.
"Haha, kurasa begitu."
Setelah membiarkan jendela kamarnya terbuka, Hinata melanjutkan kembali kegiatannya. Begitulah mereka. Tidak jarang Naruto tahu ketika dia membutuhkan hiburan. Bahkan dua hari yang lalu, lagu Shattered milik Trading Yesterday menemaninya hingga jatuh tertidur. Suara Naruto mengalun merdu yang menjadikannya semacam zat melatonin menghantar tidur. Caranya memetik gitar memberikan kesan yang berbeda bagi Hinata.
Mereka menjadi semakin dekat dan bisa dikatakan memiliki waktu yang cukup banyak untuk berbincang mengenai banyak hal. Naruto pemuda yang memiliki wawasan luas, yang awalnya Hinata pikir mereka tidak akan nyambung. Hanya saja beberapa yang ia ketahui mengenai Naruto menjadi perdebatan. Seperti cara Naruto melihat seorang wanita.
Atau juga beberapa hari yang lalu mereka sempat bertukar pendapat mengenai pemerintahan, atau kebijakan presiden disalah satu negara yang kini viral di media. Bisa dibilang topik mereka berbobot dan Naruto tipikal pemuda yang senang dengan hal semacam itu.
I like the feelin' you're givin' me
Just hold me baby and I'm in ecstasy
Oh I'll be workin' from nine to five
To buy you things to keep you by my side
I never felt so in love before
Just promise baby, you'll love me forevermore
I swear I'm keepin' you satisfied
'Cause you're the one for me
The way you make me feel ...
Hinata menikmati lagu yang kini pemuda itu nyanyikan. Di bibirnya menggantung senyum selebar mungkin.
You really turn me on
You knock me off of my feet, now baby
My lonely days are gone
.
The way I look at you
.
Hinata bebas tugas hari ini. Jadwalnya berganti dengan Kurenai yang baru saja cuti. Sebagai ucapan terima kasihnya, wanita muda itu membiarkan Hinata libur barang satu atau dua hari karena sudah bekerja dua kali lipat. Hal itu dimanfaatkan Hinata untuk melanjutkan tulisan jurnalnya yang sempat tertunda. Hari itu adalah hari kamis. Udara tidak terlalu panas namun cerah. Panas teriknya menerpa kusen jendela gadis itu hingga membuatnya mengkilat.
Persediaan bahan makanan dirumah sudah habis dan Hinata berniat untuk belanja hari ini. Ayah serta kakaknya pergi bekerja sementara Hanabi baru saja berangkat sekolah menggunakan bus.
Slouchy sweater hijau tua dengan gambar katak besar di tengah dan celana berbahan katun putih menjadi pilihan Hinata kali ini. Tote bagnya sudah tersampir rapi, siap untuknya berangkat sebelum kaca jendelanya terantuk sesuatu. Ia menoleh.
"Kau mau kemana?" Naruto masih dalam fase mengantuknya bertanya.
"Supermarket. Aku ingin belanja beberapa bahan makanan. Ada apa?"
"Boleh aku ikut?" Dan anggukan serta senyuman geli Hinata membuat laki-laki itu segera berlari ke kamar mandi.
Pusat perbelanjaan pada hari kerja begitu sepi. Hanya beberapa ibu rumah tangga yang mengisi beberapa bagian rak sayuran dan buah-buahan. Hinata berhenti di sebuah stand daging segar. Bertanya mengenai beberapa hal yang Naruto tidak mengerti pada petugas penjual sebelum gadis itu meletakkannya di troli belanjaan. Memilih beberapa buah-buahan segar seperti anggur, apel dan jeruk sebagai makanan penutup.
Naruto kagum mengenai kemahiran Hinata dalam berbelanja. Tidak pernah terlewatkan untuk membaca komposisi serta kandungan gizi dalam makanan yang di belinya. "Untuk apa kau membaca begitu detail komposisi setiap makanan?"
Hinata berhenti pada agen susu segar. Ia meminta pada petugas penjual mengambilkannya susu sapi murni. "Aku lebih memperhatikan kesehatan Ayahku akhir-akhir ini. Yah, kau tahu, terkadang setiap orang tua memiliki penyakitnya masing-masing. Kupikir ibumu juga melakukan hal yang sama, Naruto,"
"Memang, tapi kurasa tidak sedetail dengan yang kau lakukan."
Setelah menerima dua botol susu sapi dari petugas, Hinata berjalan cukup jauh hingga pada rak sereal. "Aku biasa saja. Kau berlebihan. Aku sering melakukan ini setiap belanja keperluanku, bahkan Hanabi juga,"
Awalnya mereka sempat berdebat mengenai haruskah Hinata membeli buku lagi. Karena dua hari yang lalu, gadis itu baru saja memborong empat buku sekaligus. Tetapi pada akhirnya mereka memutuskan untuk singgah sejenak di kedai kopi. Tentunya setelah Naruto memaksa, atau lebih tepatnya menyeret gadis itu untuk berhenti membeli buku. Berbeda dengan tempat perbelanjaan tadi, kedai kopi yang mereka tempati justru cukup ramai. Sebagian besar orang-orang pekerja kantoran yang mencuri-curi waktu diantara pekerjaan mereka dan makan siang untuk bersantai disini.
"Jadi, Hinata, bagaimana dengan Jerman?" tanya Naruto ditengah kesibukannya memakan beberapa potong roti gandum.
"Apa yang kau ingin ketahui?"
"Semuanya, atau lebih ke kehidupanmu disana. Apa kau menyukai Jerman?"
Hinata mengangguk. "Ya, Jerman seperti rumah kedua bagiku. Mungkin akan konyol jika ku katakan kini aku merindukannya. Kau tahu, aku menyukai cara keseharian mereka melakukan aktivitas, aku menyukai ketika aku bersepeda saat berangkat ke kampus dan menaiki trem,"
"Oh ya?"
"Aa. Bangunan-bangunan disana penuh dengan sejarah. Bahkan aku sempat berkunjung ke Vienna. Tempat lahirnya musik-musik klasik dunia,"
Keseruan Hinata bercerita membuat Naruto tersenyum. Sepertinya gadis ini sangat mencintai Jerman. Gemilang suara serta binar dari sorot matanya mengatakan hal itu. Diam-diam Naruto tertawa geli dalam hati. "Lalu bagaimana kuliahmu disana?"
"Tidak jauh berbeda dengan yang kau jalani di kampusmu. Hanya materi yang mungkin lebih spesifik dan sempat membuatku hampir gila. Kau akan menemukan teori-teori yang sebenarnya tidak perlu untuk di bahas, tetapi kita dituntut untuk mengetahui asal mula teori tersebut lahir."
"Bagaimana dengan orang-orangnya?"
Hinata terlonjak. "Ah, ya! Aku hampir lupa menceritakan tentang Shion. Dia sahabat sekaligus teman satu apartemenku. Dia berasal dari Fukushima. Dia orang pertama yang aku kenal karena, ya, kau tahulah, negara asing bukanlah tempat yang mudah mencari kenalan. Tetapi untuk keseluruhan orang Jerman itu sendiri, mereka pribadi yang individualisme. Jadi mungkin akan sulit jika kau tidak memiliki keahlian khusus," jelasnya panjang. Hinata menyeruput moccachino lattenya dengan anggun. Minuman kesukaan.
"Begitu ya?" gumam Naruto. "Lalu bagaimana dengan pria-pria Jerman? Mereka tampan-tampan, bukankah begitu, Hinata?"
Hinata sejenak menghentikan kegiatan memotong rotinya. Kedua belah pipinya sedikit memerah. "Soal itu ... a-aku tidak bisa memastikan. Tampan itu relatif, Naruto,"
Uzumaki Naruto penasaran. Kenapa gadis itu menjadi berubah canggung?
"Jadi, kau tidak ingin berbagi cerita mengenai hal itu dengan temanmu yang baik hati ini, hm?" goda Naruto. Kemudian bahunya mendapat pukulan ringan dari Hinata. Sikapnya manis ketika salah tingkah.
"Ada seorang pemuda Jerman. Ibunya berasal dari sini, Tokyo, sementara Ayahnya adalah pribumi Berlin. Dia teman kuliahku, dia mengambil jurusan teknik otomotif. Aku tidak yakin dia tampan atau tidak tetapi, y-yah, kita sempat dekat beberapa waktu.
Dia mengatakan menyukaiku. Tetapi aku merasa tidak cocok dengannya meskipun, aku mengakui, kalau a-aku juga menyukainya. Jadi kita memutuskan untuk berteman setelah itu,"
"Jadi kau masih menyukainya? Kau terlihat begitu salah tingkah saat kutanya,"
Hinata menggeleng mantap. "Aku hanya malu mengutarakan hal semacam ini. Beberapa bulan kemudian dia jalan dengan gadis Jerman. Mereka terlihat cocok dan mesra. Kemudian kita saling memahami jika kita hanya kagum satu sama lain. Sejujurnya aku tidak menyukai pemuda bule,"
Sesuatu menari-nari di dalam perut Naruto mendengar penuturan terakhir Hinata. "Jadi kau menyukai pemuda asli Jepang?"
"Aku tidak mengatakannya,"
"Tapi aku mencium hal itu dari kalimatmu, Nona."
"Kau berspekulasi terlalu dini, Tuan,"
"Akui saja, kau menyukai pemuda Jepang—eh? Atau jangan-jangan kau menyukaiku?!" goda Naruto. Kini bukan hanya pukulan ringan di bahunya melainkan gulungan tisu melayang.
"Sembarangan! Kau pede sekali," meski begitu wajah Hinata memerah.
Naruto tergelak. "Aku benar kan? Kau terlalu malu-malu. Aku tidak akan mengejekmu jika itu benar,"
"Menyebalkan!"
"Kau suka padaku, kan?"
"Tidak.
"Ah, kau bohong!"
"Aku tidak bohong,"
"Benarkah?"
"Berhenti atau pisau ini akan memotong lidahmu, Uzumaki Naruto."
Selanjutnya Naruto benar-benar diam. Hinata yang salah tingkah ternyata tidak ada manis-manisnya. Tetapi seram.
.
The way I look at you
.
Ketika itu sore hari sudah mencapai penghujungnya, menampilkan garis-garis senja di cakrawala yang membentang indah di langit Tokyo. Iklim hari ini sangat panas dan tidak ada tanda hujan akan datang sama sekali. Begitupun Naruto yang tidak menduga ketika bel rumahnya berbunyi secara bringas. Tampaklah senyum lebar milik tersangka—Haruno Sakura—beserta sekumpulannya berdiri di depan pintu.
Alibi mereka adalah mengerjakan tugas, sebelum Nyonya rumah menyediakan beberapa camilan ringan lengkap dengan teh dingin. Maka kertas-kertas tak bersalah itu pun menganggur di atas meja.
Setengah jam kemudian keseluruhan camilan itu habis tak bersisa sementara pekerjaan mereka belum tersentuh sama sekali. Hanya obrolan-obrolan kecil mengenai bola dan gosip hoax yang dibawa Ino. Ketika itulah Hinata datang, menenteng-nenteng buku kebanggaannya dengan wajah lugu.
"Selamat sore, Naruto, bolehkan aku meminjam tinta printermu? Tadi aku tidak sempat membeli,"
"Ah, tentu saja."
Dengan kecepatan yang jarang ditunjukkannya, Naruto segera berlari ke kamarnya. Dan begitu ia kembali, Hyuuga Hinata sudah berada di kukungan—atau lebih halusnya interogasi—Sakura dan Ino yang menatapnya penuh minat. Tentu saja Naruto mulai khawatir.
"Jadi, namamu Hinata, gadis manis?"
"Ya,"
Sakura terkekeh kecil, "Jangan canggung begitu, Hinata—bolehkan aku memanggilmu begitu?—karena mulai saat ini kau bagian dari kita,"
Naruto menghampiri tiga dara tersebut. "Jangan racuni dia. Hinata terlalu 'bagus' untuk kalian rusak pikirannya,"
Ino mendelik dengan sebuah seringai. "Kau pikir begitu? Bagaimana jika gadis inilah yang justru meracuni pikiranmu, Anak muda?" pernyataan telak itu membuat Hinata terlonjak, sedangkan Naruto ingin ngacir keluar rumah.
"Apa yang sudah ku perbuat?" Hinata yang malang.
"Ah, tidak ada. Sama sekali tidak ada," Sakura mengelus rambutnya yang panjang. "Hanya saja sekarang Naruto lebih rajin dari yang ku kenal. Bahkan rela memadatkan jadwalnya dengan ikut les bahasa Jerman,"
Hinata melotot kearah Naruto. "Kau tidak membicarakan hal itu padaku, Naruto,"
"Ah, tentu saja tidak. Orang seperti dia tidak akan mengaku bahwa dia sudah 'tertarik'."
Sasuke serta Kiba hanya menggeleng kepala. Pekerjaan mereka terganggu hanya karena celotehan tak penting dari Sakura dan Ino. "Sudahlah. Hinata banyak pekerjaan saat ini sebaiknya kalian berdua bebaskan dia," Naruto ketar ketir. Meski begitu pipinya tergores warna merah.
"Wah, kelihatannya kau berusaha menghindar kali ini. Tak apa, Naruto, kali ini ku akui seleramu berkelas. Dan aku mendukungmu," kata Sakura. Matanya yang jernih mengerjap jahil ke arah Hinata, membuat gadis bermata teduh itu ikut memerah wajahnya.
"Untuk apa kau menundanya? Sebelum yang mahal di ambil orang,"
Well, pembicaraan Ino dan Sakura yang penuh dengan kode keras membuat Naruto panas seketika. Setelah menegaskan kedua kurcaci menyebalkan itu untuk membiarkan Hinata pulang, dan gadis itu pun akhirnya pulang, Naruto mencak-mencak seperti gadis perawan yang telat datang bulan. Ia lalu-lalang kesana kemari membuat Sasuke membentaknya dan menyuruhnya duduk.
"Dobe, bisakah kau duduk diam dan kerjakan tugasmu? Kau terlihat konyol!"
"Teme! Pacarmu itu berbahaya. Bagaimana jika dia membocorkan semuanya pada Hinata? Astaga~"
"Membocorkan apa? aku tidak membahas apa-apa, hanya mengenai dirimu yang berubah karenanya—"
"Bagaimana jika dia berpikir aku menyukainya!"
Ino terlonjak senang. Matanya berbinar. "Tidak ada yang membahas apakah kau menyukai gadis itu atau tidak, Uzumaki Naruto. Kau baru saja membuat sebuah pengakuan,"
Naruto menepuk dahinya yang cukup lebar itu. Salah satu hal yang tidak ia sukai dari perempuan adalah omongan mereka yang kelewat batas, dan lebih cerewet. "Sudahlah. Tidak usah dibahas. Lanjutkan saja pekerjaan kalian dan jangan banyak bertingkah!" ujar Naruto gusar.
Sakura yang sejak tadi bersender di pundak lebar Sasuke, bangkit mendekati Naruto yang kini duduk lesu bertopang dagu. "Jangan murung begitu, bodoh. Aku mendukungmu, sungguh, jika memang kau menyukai gadis manis itu. Karena kurasa dia memberikan gebrakan positif kepadamu. Akuilah,"
"Aku hanya tidak yakin,"
"Apanya yang tidak yakin? Sejak kapan kau menyerah mendapatkan wanita? Aku rasa kau mulai serius, dan kurasa pula Hinata orang yang tepat." kedua alis merah muda itu naik turun ketika Naruto menatapnya. Kedua samudera itu berusaha mencari keyakinan dari sahabat tercintanya. Bagaimana jika Hinata menganggapnya pemuda biasa? Atau parahnya tidak tertarik sama sekali?
"Jangan berfikir negatif sebelum kau mencobanya. Dia gadis cerdas, Naruto. Bahkan Yumi atau beberapa mantan kekasihmu tak ada apa-apanya di banding Hinata. Dan kau butuh gadis cerdas untuk membetulkan otakmu yang terkadang geser itu."
"Kau berniat memberiku petuah atau mencaciku, sih?" Naruto mulai sewot. Walaupun tidak dapat disembunyikan ketika rona merah di kedua pipinya mulai timbul.
Mungkin Sakura ada benarnya. Cukup baginya bermain selama ini. Karena yang ia butuhkan adalah gadis yang tepat, untuk saat ini dan seterusnya. Yumi dan mantan kekasih yang lain hanya sebagai peningkatan gairah masa mudanya. Tapi kini rasanya Uzumaki Naruto mulai tersadar. Pemikiran realitas dan logika Hyuuga Hinata merasuki batin hingga membuatnya banyak befikir.
Hyuuga Hinata memang gadis yang cerdas.
Dalam banyak hal.
Termasuk menarik hatinya.
.
The way I look at you
.
Cuaca tak dapat di prediksi terkadang ada benarnya. Bukan hanya daratan Eropa yang terkenal dengan iklim labil, tapi Jepang juga. Hinata tidak habis pikir ketika pulang kerja ia harus bersaing keras dengan rintikan hujan yang entah dari mana datangnya. Sebab ketika ia berangkat cuaca begitu mendukung bahkan terkesan panas luar biasa. Prakiraan cuaca di smartphonenya pun mengatakan hari ini bebas hujan. Tapi salahkan Hinata yang tidak membaca berita siang ini.
Teh hangat dengan daun mint yang menghangatkan tersaji di meja. Rambutnya masih meneteskan air. Mata teduhnya menatap keluar jendela. Gerimis masih menemani. Mungkin hari ini menjadi pelajaran berarti bagi Hinata untuk selalu membawa payung kemanapun ia akan beraktifitas.
Pekerjaannya tidak terlalu banyak malam ini. Beberapa laporan penelitian sudah ia kerjakan di kantor sebelum memutuskan untuk pulang. Mungkin malam ini Hinata hanya akan menghabiskan bacaannya mengenai ekonomi Eropa dan dunia yang kemarin sempat tertunda, dan menulis beberapa schedule kantor untuk esok hari.
Tanpa sengaja pandangan matanya tertuju pada balkon seberang kamarnya. Perlahan senyum menggantung di bibir indah itu. Tiada hari tanpa bernyanyi dan bermain gitar untuk Naruto, kiranya itu yang dipikirkan Hinata. Malam menunjukan pukul delapan lewat sepuluh menit, tepat seperempat jam setelah Hinata makan malam bersama di lantai bawah. Kemungkinan Naruto berada di sana beberapa menit yang lalu. Gitar kesayangan itu selalu menjadi hal yang Naruto khususkan dalam pelukannya setiap malam. Seperti saat ini.
All those days chasing down a daydream
All those years living in a blur
All that time never truly seeing
Things, the way they were
Hinata sengaja mengambil kursi belajarnya mendekat ke arah jendela. Ia rasa Naruto tidak menyadari kehadirannya, terlihat dari bertapa seriusnya pemuda itu. Berbeda dari beberapa kali Naruto bermain gitar, saat ini wajah itu menengadah ke atas. Bersender dengan nyaman di kusen jendelanya yang cukup lebar. Matanya memandang lembut serta semilir angin malam yang sejuk menerbangkan anak rambutnya. Sayangnya, suara merdu itu sedikit kabur akibat bising gerimis yang menimpa atap rumah.
Now she's here shining in the starlight
Now she's here suddenly I know
If she's here it's crystal clear
I'm where I'm meant to go
Terkadang di wajah tegas namun lembut itu terpampang senyum menawan. Naruto menikmati suasana kali ini. Gerimis berpihak kepadanya.
And at last I see the light
And it's like the fog has lifted
And at last I see the light
And it's like the sky is new
And it's warm and real and bright
And the world has somehow shifted
All at once everything looks different
Now that I see you ...
Naruto menyelesaikan permainan gitarnya dengan senyum tipis. Matanya tak lepas memandang jauh di atas sana. Dan Hinata memperhatikan itu sejak tadi. Tawa kecil terdengar dari suaranya yang lembut. "Lagu itu seharusnya dinyanyikan dengan berduet, bukankah begitu, Uzumaki Naruto?"
Naruto tak terkejut dengan suara lembut itu. Bahkan rintikan gerimis tak lantas menyamarkan suaranya yang halus bagai kapas itu. Naruto menoleh dengan sebuah seringai mengejek. "Kau tidak bisa bernyanyi, sih. Terpaksa aku menyanyikannya seorang diri," katanya.
"Mungkin suatu saat kau bisa mengajariku bernyanyi,"
"Ha? Mengajarimu bernyanyi? Yang benar saja aku harus berlagak seperti coach paduan suara, dengan napas yang ditekan didalam perut. Aku bisa mati,"
"Hahaha. Aku bisa membayangkannya," Hinata tertawa. Matanya yang teduh menatap langit. Sedikit penasaran apa objek menarik yang sedari tadi dipandangi Naruto. "Omong-omong, kau bernyanyi seperti seolah melihat bintang-bintang bersinar,"
"Aku memang melihatnya. Hanya satu. Tapi bersinar sangat terang daripada rembulan,"
Hinata terlonjak saat menatap Naruto. "Ha? Mana? Aku tidak melihatnya? Malam gerimis seperti ini mustahil terlihat satu bintang pun," Hinata melongok-longok dan berputar memandangi langit. Ia sangat yakin tidak melihat bintang satupun, bahkan yang sinarnya sangat terang benderang sekalipun.
"Begitukah? Tapi menurutku tidak."
Hinata menatap Naruto dengan bingung, yang dibalas kekehan rendah dari sang lelaki. Pemuda itu tidak menjawab atau menanggapi kebingungan Hinata. Ia memilih untuk kembali mendongak dan menerawang jauh. Dan Hinata melakukan hal yang sama.
"Apa pendapatmu mengenai cinta, Hinata?"
Ow, ow. Rasa-rasanya Hinata belum pernah melihat sisi sensitif dari tetangganya ini. Dan pada malam gerimis seperti ini Naruto mengumbarnya. Mungkin ingin curhat mengenai pengalaman. "Entahlah. Aku tidak berani berspekulasi apapun mengenai hati,"
"Kau pernah jatuh cinta?"
"Hm, aku tidak yakin tetapi aku pernah menyukai seseorang ketika aku SMA dan ketika aku berada di Jerman. Seperti yang pernah aku ceritakan," Naruto tersenyum. Itu menjadi implisit bahwa Hinata belum pernah mengalami jatuh cinta yang sesungguhnya. "Bagaimana denganmu?" gadis itu balik bertanya.
"Sudah hampir lima kali aku menjalani suatu hubungan sejak aku SMA. Tapi belum ada yang benar-benar menarik hatiku hingga yang paling terdalam," Naruto terpejam sebelum samudera itu kembali bersinar. "Aku selalu bernyanyi tentang cinta. Tapi aku belum pernah merasakan seperti apa yang kunyanyikan,"
"Kau puitis sekali. Kupikir kau sedang jatuh cinta saat ini, bukankah begitu?"
Senyum Naruto terkembang. Tatapannya tak lepas dari langit hitam yang masih setia menurunkan hujan. "Kurasa begitu,"
Hinata terlonjak. Antara senang dan kecewa. Kecewa? Ada apa ini?
"Siapa gadis itu? katakan padaku, Naruto?" Hinata menggebu. Rasa penasaran membuncahnya saat itu. Rasa-rasanya aneh ketika dia harus berbicara mengenai cinta. Atau justru kasusnya sekarang adalah berbagi pendapat mengenai hal yang menyerang hati. Sebanyak-banyaknya buku yang ia baca, tak satupun membahas perasaan yang kata orang sangat rumit itu
"Dia gadis lugu, ramah dan memiliki senyum yang indah. Tutur katanya halus dan sangat bermakna, mencerminkan apa yang ada di otaknya. Dia gadis yang cerdas. Amat pintar dan cerdas. Aku sangat menyukai caranya berpikir mengenai dunia,"
Hinata memiliki analisa yang cukup baik, meski tidak setajam Naruto. Meskipun seluruh wajahnya memerah sempurnah bahkan jantungnya seperti ingin meledak, Hinata agak ragu yang Naruto deskripsikan adalah dirinya. Namun ketika samudera itu menatapnya dengan lembut, tersirat akan banyak hal yang telah mereka lalu dalam waktu yang bisa dibilang cukup singkat, dan lebih terpenting menyiratkan apa yang Naruto maksud, berhasil menarik kembali keraguan itu hingga senyumnya terkembang sangat manis. Membuat bening-bening kristal di sudut matanya bergemulu.
"Tapi aku ragu, Hinata, sangat ragu. Jika gadis cerdas sepertinya mau menerima cinta dari pemuda biasa seperti aku. Aku merasa tidak layak meski aku selalu berusaha. Bagaimana pandangannya mengenaiku, rasanya sangat menakutkan." Kini sepenuhnya Naruto dan Hinata berhadapan. Menyelami satu sama lain.
Hinata tertawa kecil. Pandangannya kembali mengarah ke langit kelabu. Gerimis sebentar lagi akan berhenti. "Sayangnya, spekulasimu kali ini patah, Naruto. Kau mengatakan gadis itu cerdas, maka karena kecerdasannyalah dia memandang sesuatu dari banyak sudut. Kau tidak cedas seperti apa yang gadis itu miliki tapi kau punya jiwa sosial yang sangat tinggi serta cekatan dalam bertindak. Spekulasimu pun sangat tepat yang menandakan intuisimu amat tajam. Kau hanya tidak tahu dimana letak gadis itu mengagumimu, Naruto."
"Jadi, Hinata, apa gadis itu mau menerimaku?" dengan gegap gempita Naruto merasa ketar-ketir.
Hinata tersenyum luar biasa manis malam ini. Benar-benar bersinar layaknya bintang venus. "Dengan senang hati gadis itu mengatakan 'iya',"
Dan hal itu menjadi awalan ketika Naruto meloncat-loncat bagai kangguru melahirkan di dalam kamarnya. Berkali-kali menarik kedua tangannya kesamping tubuh dengan teriakan 'Yes' yang keras. Dan hal itu pula yang menjadi awalan Hinata untuk tertawa malu sebelum menutup jendela kamar dan membiarkan tirai terbuka lebar.
Membiarkan kelabilan cuaca yang menghantarkan gerimis ke kota yang ramai itu menjadi saksi dua insan yang menyatu. Dengan kesungguhan hati dan cinta yang nyata. Bukan permainan bagai gitar atau rentetan bacaan bagai buku. Tetapi wujud dari perasaan tulus.
.
.
End
Songs : Michael Jackson - The Wah You Make Me Feel / I See the Light - Ost Tangled
Note :
Halloaa!
Setelah mengalami pergolakan batin, akhirnya fic ini selesai juga. Gue sempet galau buat nentuin lagu di ending, dan sempet pertimbangin dua lagu yang di request tapi nyatanya lagu diataslah yang gue pake karena menyesuaikan alur dialog (maap yak lagunya ga kepake, tapi mungkin bakalan nambahin playlist gue xD) So, gue agak ragu dengan endingnya karena kayaknya kurang tapi sebenenrnya ngepas dan gue berharap ga gantung. karena sebenrnya cerita tuh gada yang gantung, cuma mereka bikin ending yang implisit dan tersirat buat para pembaca, *paansihgue* yaa intinya gitulah.
Buat yang minta chap kedua dimanisin *emngtehmanis?* tuh yaa persembahan buat kalian ^^. Gamau manis-manis ntr kalian diabetes, jadi gitu aja yak haha.
Sebenernya nih ya, inti dari tema cerita gue ada di chap 2 ini makanye agak panjangan dikit. Dan kalo kalian nyimak bener-bener, gue masukin pesan tersirat dari keseluruhan cerita ini. Terserah kalian nangkepnya kayak gimana cuma gue berharap bakalan nyampe pesan sebenarnya yang gue 'maksud' :D
Oiya, bakalan ada projek baru lagi tentang naruhina. Gataulah, lagi demen aja sama pair ini. Udah kelar cuma masih di cek en ricek, tungguin ajalah yak, ga juga gapapa sih gamaksa.
Thank you so much for :
ana, SMGates, Rikudou Pein 007, TOMBHIB12, Durarawr, princeExoL, yudi arata, Desi Rei Hime, donat bunder, azuramethyst, Misti Chan, agintalavegr, ulleehime
terima kasih juga yang baru review di chap kedua ^^
Apa lagi yak? udah itu aje kali ye, bingung. Buat yang mengharapkan ending yang wah, maap aja kalo ga sesuai sama ekspetasi karena gue udah bilang dari awal kalo cerita ini random dan gada konflik yang menarik. Apa adanya aja karena emng lagi pengen nulis.
Mangga buat yang terlanjur nyebur, bisa dong tinggalin jejaknya di kotak review. Kritik, saran, mau curhat juga gapapa, bener dah, seneng kalo di ajak curhat wkwk.
Sampai jumpa di cerita selanjutnya.
.
.
Salam,
Miss Spearsza
05/02/2017
