Title : Song For Unbroken Soul
Main Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Other cast...
Author : Oh Hani
Rate : M
Warning : Genderswitch, DLDR, NO BASH !
Disclaimer : REMAKE Novel karya Nureesh Vhalega yang judulnya 'Song For Unbroken Soul'. Hanya mengganti cast sesuai couple favorit. Dan ini bukan FFN milik saya pribadi. Hanya numpang dan ngehidupin FFN ini karena pemilik aslinya sedang HIATUS.
.
.
*Happy Reading*
.
.
BE FANS GOOD
New York City, Juli 2008
Do Kyungsoo menatap sekelilingnya dengan putus asa. Tubuh-tubuh bergoyang diiringi musik bertempo cepat, sementara gelak tawa juga bau menyengat yang berasal dari minuman entah apa namanya itu memenuhi udara. Kyungsoo merasa tidak nyaman. Kini ia menyesali keputusannya untuk tetap tinggal setelah pesta dansa sekolah selesai, karena pesta selanjutnya sungguh berada di luar kemampuan Kyungsoo.
Kyungsoo mendesah, bagaimana ia bisa pergi dari semua kekacauan ini? Saat itulah Kyungsoo melihat kakaknya -Wu Kris- di antara kerumunan. Tak membutuhkan waktu lama hingga kakaknya itu berada di hadapannya dan tersenyum seraya mengulurkan tangan. Kyungsoo menyambut uluran tangan itu dan berjalan mengikuti langkah kakaknya dengan tenang. Karena kakaknya adalah pelindungnya. Yang terbaik yang penah dimilikinya.
Tiba-tiba langkah Kris terhenti, ia menyapa temannya. Kyungsoo balas tersenyum ketika disapa, lalu mengalihkan pandangan. Sebuah gerakan yang salah, karena Kyungsoo melihat sepasang kekasih asik bercumbu. Sang pemuda yang mencium gadisnya dengan mata terbuka balas menatap Kyungsoo. Mata hijaunya yang begitu terang seakan menembus hati Kyungsoo. Ciuman itu berakhir dan sang pemuda bermata hijau mengatakan sesuatu, membuat gadisnya melayangkan tamparan. Pemuda itu nampak tak peduli, ia justru kembali menyulut rokoknya dan merokok dengan tenang. Kyungsoo bergidik dan menunduk. Meski pemuda itu nampak amat menawan dan memesona, Kyungsoo dapat melihat luka. Begitu jelas dan gamblang, merusak kilau indah mata hijaunya. Kyungsoo tidak mengenal pemuda itu, namun ia merasa harus membantunya. Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau baik-baik saja, Kyungie?" tanya Kris. Kyungsoo mengangguk, lalu mengikuti langkah Kris sekali lagi. Kyungsoo menoleh ke arah pemuda bermata hijau itu dan tidak menemukannya.
"Apakah seseorang menciummu?" tanya Kris setelah menjalankan mobilnya. Kyungsoo tidak terganggu mendengar pertanyaan itu. Ia telah bebagi nyaris segala hal bersama Kris, sehingga bukan sebuah rahasia bahwa Kyungsoo belum pernah berciuman di usianya yang menginjak delapan belas tahun. Berbeda dengan Kris yang memiliki sepak terjang luas di dunia percintaan, Kyungsoo masih sangat polos dan tidak berpengalaman.
"Tidak." jawab Kyungsoo.
"Pemuda di sekolahmu sangat payah." sahut Kris.
"Untung saja begitu. Karena jika tidak, aku yakin mereka akan berakhir babak-belur di tanganmu." balas Kyungsoo.
Kris hanya mengusap kepala Kyungsoo dengan tangan kirinya sebagai balasan. Kyungsoo mengerutkan kening. Ia menatap kakaknya dengan bingung. Biasanya Kris akan tertawa dan membalas ucapannya. Kyungsoo dapat merasakan ada sesuatu yang membebani Kris.
"Apakah terjadi sesuatu, oppa? Kau bisa menceritakannya padaku." ucap Kyungsoo. Kris menepikan mobilnya, lalu menghela napas.
"Ayolah. Aku tidak suka melihatmu tidak bahagia seperti ini. Beritahu aku, agar aku bisa membantumu." bujuk Kyungsoo. Mereka terdiam sesaat. Ketika Kris akhirnya membuka suara, Kyungsoo menemukan rasa sakit yang nyata dalam suara kakaknya.
"Jessica berselingkuh. Aku melihatnya bermesraan dengan seorang pria di apartemennya. Jessica tidak membela dirinya, ia meminta putus. Aku tahu seharusnya aku lega karena telah lepas darinya, namun aku justru menemukan diriku mencintainya." ucap Kris.
"Kapan kau melihatnya? Apa kau bertanya alasannya mengkhianatimu?" tanya Kyungsoo hati-hati.
"Kemarin sore. Dan tidak. Aku tidak menanyakannya." jawab Kris. Kyungsoo melepas sabuk mengamannya dan mengulurkan tangan untuk memeluk Kris. Meski mereka bukan saudara sedarah -ayah Kris dan ibu Kyungsoo menikah lima belas tahun yang lalu- Kyungsoo dapat merasakan dengan jelas rasa sakit Kris. Selalu bersama dan tak terpisahkan sejak kanak-kanak membuat mereka mengerti pribadi satu sama lain.
"Kau akan baik-baik saja, oppa. Semua ini akan berakhir. Kau akan menemukan akhir bahagiamu. Aku yakin itu, karena kau adalah kakakku. Aku menyayangimu." ujar Kyungsoo tulus. Saat itu, Kyungsoo benar-benar meyakini ucapannya. Ia berdoa sepenuh hati untuk kebahagiaan Kris agar Kris baik-baik saja dan kembali menjadi Kris yang disayanginya.
Namun satu minggu kemudian, Kyungsoo mendapati bahwa doanya sia-sia. Kondisi Kris justru semakin memburuk. Kris selalu murung, bahkan jarang berada di rumah. Padahal orangtua mereka sedang pergi untuk bulan madu yang ke dua dan Kyungsoo sendirian di rumah. Kris belum pernah mengabaikan Kyungsoo seperti itu, namun sekali lagi, Kyungsoo mencoba memahaminya. Kris sedang mengalami masa sulit.
"Gwenchana, eonni. Aku bisa mengatasinya. Kita sedang membicarakan Wu Kris di sini. Ia adalah kakakku. Pria terbaik ke dua setelah ayahku. Semua akan baik-baik saja." Ucap Kyungsoo yakin. Di seberang telepon, Minseok menghela napas.
"Aku tahu. Namun kau tidak harus sendirian di dalam rumah besarmu itu. Kau bisa menginap di rumahku." sahut Minseok.
"Aku baik-baik saja, Minnie eonni. Lagi pula aku harus menunggu Kris oppa. Tadi siang Kyungsoo oppa datang dan mencarinya. Aku tahu mereka memiliki proyek penting untuk perlombaan film indie itu. Aku tidak bisa membiarkan Kris oppa merusak impiannya." balas Kyungsoo.
"Baiklah. Bagaimana persiapanmu untuk kuliah? Ibuku begitu sibuk menyuruhku membeli koleksi baju baru. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Demi Tuhan, kita ini kuliah di jurusan Teknik Sipil. Apa gunanya memiliki baju bagus dan menarik? Aku yakin kita akan lebih nyaman mengenakan kaus dan jeans. Apalagi Korea adalah negara yang cukup konvensional. Oh ya, aku begitu iri denganmu yang memiliki darah Korea asli. Aku yakin kau akan nampak cantik sedangkan aku terlihat aneh disana." Kyungsoo tertawa dan hingga satu jam kemudian, mereka tetap membicarakan topik seputar kuliah.
Mereka begitu antusias, karena takdir seakan mendukung persahabatan mereka; mereka diterima di universitas dan jurusan yang sama. Semuanya akan berjalan dengan menyenangkan. Kyungsoo sudah tidak sabar untuk kembali ke negara yang menjadi kampung halamannya itu. Entah mengapa, di saat teman-temannya berlomba untuk masuk ke universitas ternama dunia, Kyungsoo justru sangat ingin kembali ke Korea. Kyungsoo memang tumbuh besar di New York, namun Kyungsoo tetap ingin mengenal negara tempat ayah kandungnya berasal. Kyungsoo berpikir dengan begitu, ia bisa mengenal ayahnya yang meninggal kala ia masih dalam kandungan. Ibunya tak pernah membicarakan ayahnya, hanya memberi sebuah album foto yang penuh berisi perjalanan cinta mereka.
"Sepertinya Kris oppa pulang. Aku akan menghubungimu lagi besok. Selamat Malam, Minnie eonni ." ucap Kyungsoo lalu memutuskan sambungan. Kyungsoo merangkak turun dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju kamar Kris di seberang kamarnya. Kamar itu gelap, namun pintunya terbuka. Perlahan Kyungsoo melangkah masuk, menemukan Kris duduk menyandar pada ranjangnya dengan kepala menunduk.
"Kris oppa, ada apa?" tanya Kyungsoo seraya berlutut di hadapan Kris.
Ketika mencium bau yang aneh, Kyungsoo kembali bertanya, "Apa kau mabuk?" Kris tetap tidak menjawab. Ia justru mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Kyungsoo erat. Napasnya semakin berat dan Kris bergumam.
"Mengapa kau melakukan itu padaku, Sica? Aku mencintaimu. Tidak bisakah kau melihatnya? Aku mencintaimu."
"Kris oppa, lepaskan aku." Pinta Kyungsoo. Namun Kris yang telah berada di bawah kontrol alkohol tidak bisa memahaminya. Ia terus memeluk Kyungsoo dan menganggapnya sebagai Jessica Jung. Kyungsoo berusaha melepaskan diri dengan seluruh tenaganya, namun apalah dayanya melawan Kris yang memiliki tubuh dua kali lebih besar darinya. Kyungsoo menjerit ketika Kris menariknya ke tempat tidur, lalu menindihnya.
"Kau adalah milikku, Jessica. Kau tidak akan bisa pergi dariku. Aku mencintaimu." ucap Kris. Jeritan Kyungsoo bertambah keras, berharap salah satu pembantunya mendengar. Namun rumahnya begitu besar, hingga hampir mustahil suaranya mampu mencapai bagian belakang lantai dasar rumahnya.
Kyungsoo terus meronta, menendang, juga memukul. Sementara Kris merobek pakaian tidurnya hingga menampilkan kulit mulus Kyungsoo, lalu meredam jeritan Kyungsoo dengan mulutnya. Air mata Kyungsoo mengalir tak tertahankan. Semua ini tidak mungkin terjadi. Namun rasa panik yang menyeruak di dadanya begitu nyata. Semua ini bukanlah mimpi. Kegelapan di sekitarnya menelan Kyungsoo, membungkusnya dalam teror sempurna sementara tubuhnya tak berdaya.
Rasa jijik Kyungsoo bertambah semakin besar, namun rasa sakitnya mengalahkan semuanya. Kyungsoo berteriak putus asa, meski sia-sia. Bagian sensitifnya diterjang begitu keras hingga melumpuhkan sarafnya, tenggelam dalam perihnya. Kyungsoo merasa semua itu berjalan begitu lama. Amat lama. Rasa sakit semakin tak tertanggungkan. Kyungsoo merasa lebih baik mati saat itu juga. Namun rasa perih akibat gerakan kasar di bawah sana tetap menjaga Kyungsoo dalam kesadarannya. Ketika Kyungsoo merasa semuanya tidak akan bertambah buruk, cairan hangat menyembur di dalam tubuhnya. Menambah rasa sakit abadi dalam hatinya. Kyungsoo menangis dengan tubuh membeku, berharap kegelapan akan menenggelamkannya seutuhnya. Agar ia, Do Kyungsoo, tak harus melihat mentari lagi.
...
Kyungsoo memandang kosong dengan kedua tangan memeluk lutut. Sudah dua hari Kyungsoo mengurung diri di kamar. Menolak makan, juga menolak bicara. Raganya ada, namun jiwanya tak terasa ada. Rasa sakit itu hampir melumpuhkan dirinya, hingga satu-satunya hal yang mampu Kyungsoo lakukan dengan benar hanyalah bernapas.
Ketukan di pintunya semakin terdengar keras. Seperti dua hari terakhir. Disusul dengan permohonan maaf yang begitu menyayat. Namun Kyungsoo tetap membeku. Sepenuhnya berada dalam dunianya yang kelam. Beranjak senja, seseorang kembali mengetuk pintunya. Suara lembut yang menyusul membuat pertahanan Kyungsoo hancur. Dengan tubuh kaku, Kyungsoo bergerak membuka pintu kamarnya dan mendapati sahabatnya berdiri dengan tangan memegang nampan berisi makanan.
"Kyungie?" tanya Minseok dengan ekspresi syok. Kondisi Kyungsoo di hadapannya sungguh di luar perkiraan. Wajah Kyungsoo begitu pucat, matanya bengkak, dan tubuhnya bergetar hebat. Minseok segera masuk ke kamar Kyungsoo dan meletakkan nampan yang dibawanya. Tanpa kata Minseok menarik Kyungsoo duduk di tempat tidur, lalu memeluk Kyungsoo.
"Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, Kyungie?" tanya Minseok cemas. Kyungsoo tidak menjawab. Matanya masih menatap kosong. Minseok pun tak kuasa mendesak. Ia hanya mengurus Kyungsoo dengan sabar. Menyuapinya makan, lalu menyelimutinya ketika tidur. Kegiatan itu terus berulang hingga dua minggu kemudian.
Orangtua Kyungsoo yang baru saja pulang, tidak mengerti keadaan putrinya dan sangat khawatir, namun Kyungsoo selalu mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja, meski dengan nada datar.
Diamnya Kyungsoo berubah menjadi histeria di minggu ke tiga. Minseok yang selalu menemani Kyungsoo tanpa kenal lelah, mulai memahami gejala yang dialami Kyungsoo. Meski enggan, Minseok tahu ia harus membuktikannya. Kyungsoo stres karena suatu hal dan kini memasuki tahap depresi karana hal lainnya. Maka siang itu, ketika seluruh keluarga Kyungsoo pergi, Minseok datang dengan bungkus plastik dari apotik.
"Kyungie, maukah kau mencobanya?" tanya Minseok hati-hati. Kyungsoo meraih bungkusan plastik itu, lalu menangis ketika melihat isinya. Sebuah alat tes kehamilan. Tanpa kata, Kyungsoo melangkah menuju kamar mandinya. Kondisi tubuhnya yang tidak menentu menghantui Kyungsoo. Ia bukan gadis bodoh, begitu pula sahabatnya. Dengan seluruh keanehan Kyungsoo, juga rutinitas barunya mengunjungi toilet setiap pagi, siapa pun bisa menebaknya.
Ketika Kyungsoo tak juga keluar dari kamar mandi, Minseok mengetuk pintunya. Hanya terdengar isak tangis. Jantung Minseok berdebar keras, sementara tangannya meraih kenop pintu yang untungnya tidak terkunci. Minseok membuka pintu dan melihat Kyungsoo menangis bersimpuh di lantai. Alat tes kehamilan tergeletak dengan dua garis merah yang jelas di hadapannya. Minseok menutup mulutnya. Air matanya mulai mengalir seiring tubuhnya yang jatuh berlutut. Minseok memeluk Kyungsoo erat, membiarkan isakan mereka memenuhi kamar mandi itu.
Tanpa diduga, seseorang pun ikut melihat semua yang terjadi. Ketika Kyungsoo membuka mata dan menatap orang di pintu kamar mandinya, ia segera bangkit berdiri. Dengan amarah nyata Kyungsoo menghampiri orang itu, melayangkan tangannya dan melancarkan pukulan apa pun yang bisa diberikannya.
"Kau bajingan! Aku membencimu!" teriak Kyungsoo histeris. Kris hanya berdiri di sana. Menerima semua pukulan juga makian dalam diam. Tuhan tahu betapa menyesal dirinya. Ribuan kali Kris meminta maaf, namun Kyungsoo tak bisa memaafkannya. Kini, semua semakin tak terselamatkan. Kris sudah memasrahkan segalanya. Ia tahu penjara saja tidak cukup buruk untuknya. Ia pantas mendapat hukuman terberat.
Maka ketika Kyungsoo membisikkan kalimat selanjutnya, Kris tahu ia harus melakukannya. "Kau menyakitiku, Kris oppa. Aku membencimu. Aku harap kau pergi dari hidupku. Aku tak ingin melihatmu lagi seumur hidupku." Bisik Kyungsoo penuh luka. Kris menatap Kyungsoo dengan air mata yang tak mampu lagi disembunyikannya.
Perlahan, Kris berbalik dan melangkah keluar dari kamar Kyungsoo. Meninggalkan Kyungsoo yang menangis histeris di belakangnya.
...
Kyungsoo membiarkan angin meluruhkan kelopak-kelopak bunga di tangannya. Matanya tetap memandang kosong, sementara orang-orang di sekitarnya mengurai tangis yang menyayat. Makam bertaburan bunga di hadapannya ternamai dengan nama Wu Kris. Kyungsoo tidak bisa menangis. Tak ada lagi air matanya yang tersisa. Setelah pertengkaran terkutuk itu, Kyungsoo menemukan Kris terbujur kaku tak bernyawa.
Ada begitu banyak obat tidur yang ditelannya, hingga tanpa perlu memeriksanya ke rumah sakit, Kyungsoo tahu Kris telah pergi. Kyungsoo menyentuh perutnya perlahan. Kehidupan di dalam tubuhnya adalah pengingat sejati atas segala sakit ini. Kyungsoo tidak bisa melakukannya. Kyungsoo tidak akan membiarkannya.
"Minnie eonni, aku butuh bantuanmu." bisik Kyungsoo. Ia meninggalkan pemakaman, tak peduli pada tatapan cemas bercampur kesedihan dari orangtuanya. Kyungsoo segera pulang ke rumahnya, lalu mengemas barang-barangnya.
"Kyungie, apa yang kau lakukan?" tanya Minseok.
"Aku ingin kau berbohong pada orangtuaku. Kau tahu apa yang harus kau katakan. Aku akan pergi untuk sementara waktu. Setelah semua selesai, aku akan menyusulmu ke Korea. Rencana kita tidak akan berubah." jawab Kyungsoo datar.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Minseok cemas.
Kyungsoo menarik kopernya, lalu menjawab, "Sampai jumpa, Minnie eonni."
.
*Oh Hani*
.
New York City, Agustus, 2008
Jongin berseru seraya mengangkat botol bir di tangannya. Suasana pesta di rumahnya semakin ramai dan riuh. DJ memainkan musik, sementara stok minuman beralkohol yang tersedia mulai berpindah tangan. Kepulan asap rokok meliuk di antara tubuh-tubuh yang bergerak.
Beberapa gadis mencoba mendekati Jongin, namun Jongin mengabaikannya. Ia sedang tidak ingin berurusan dengan gadis. Pesta yang didatanginya bulan lalu—pesta setelah dansa sekolah —memberinya pelajaran berharga bahwa alkohol dan gadis sama sekali bukan perpaduan yang bagus.
Jongin memang berencana untuk memberontak, namun ia tidak ingin menyebarkan benihnya secara asal di luar sana. Meski benci untuk mengakuinya, Jongin masih menjunjung tinggi harga dirinya sebagai bagian dari anggota keluarga Kim. Bagi Jongin, terlahir sebagai seorang Kim adalah anugerah juga kutukan menjadi satu. Anugerah karena ia bisa memiliki hidup yang sangat layak, kutukan karena seluruh peraturan yang mengikatnya.
Sungguh benar ungkapan yang mengatakan bahwa seorang pewaris menanggung beban mahkota yang berdosa. Sepanjang hidupnya, Jongin hanya mencintai musik. Panggilan hidupnya adalah menjadi pianis dan cita-citanya adalah melakukan konser keliling dunia. Semua itu seakan hal mudah, mengingat bakat luar biasa yang dimilikinya serta kekayaan yang mendukungnya. Jongin bahkan telah diterima oleh Julliard, sebuah universitas yang menaungi berbagai bidang seni dan sangat prestisius. Semua orang tahu, bisa masuk ke Julliard adalah mukjizat dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Benar, semua orang. Kecuali Kim Sooman, kakeknya. Kim Sooman adalah pemimpin keluarga Kim. Ia menjadi hakim bagi anggota keluarga lainnya. Menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh juga terkaya membuatnya menegakkan berbagai peraturan demi mempertahankan kekokohan keluarga Kim. Segala yang penting baginya hanyalah kekuasaan, juga kekayaan. Semua kerja kerasnya telah terbukti dengan kesuksesannya merajai berbagai bidang dalam kehidupan ekonomi, sehingga menjadi suatu hal mutlak bagi keturunannya untuk meneruskan itu. Sejak awal kelahirannya, Jongin tahu ia ditakdirkan untuk menjadi pewaris keluarga Kim di bidang pembangunan dan properti lainnya.
Ayahnya, yang saat ini masih memegang kekuasaan itu, menjalankan sebuah perusahaan konstruksi terbesar di Asia yang berpusat di Korea Selatan. Namun Jongin tidak tertarik dengan semua itu. Ia hanya ingin menjadi pianis, ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bergelut bersama nada-nada.
Kini, saat peraturan keluarga Kim menghadangnya, Jongin melakukan segala cara untuk mengubahnya. Jongin harus bersekolah di Julliard. Ia tidak peduli jika tindakannya ini egois dan kekanakan. Ia akan melakukan apa pun untuk meraih citacitanya. Ia akan membuktikan bahwa ia pun bisa sukses di jalan yang dipilihnya.
"Oppa!" seru Yeri—adiknya—dari sisi kanan Jongin. Jongin menoleh dan saat itu juga ia tersenyum melihat seseorang yang berdiri tegak di belakang adiknya. Tidak peduli pada fakta bahwa orang itu melayangkan tatapan penuh amarah padanya.
"Hai, Appa." sapa Jongin.
...
Jongin menyandarkan bahunya di kursi sementara ayahnya —Kim Kangin—berjalan tak menentu di hadapannya. Yeri yang duduk di sampingnya melayangkan tatapan kesal, namun tetap diam. Keheningan di ruang kerja ayahnya itu dipecahkan dengan sebuah pertanyaan. "Bagaimana kabarmu, appa?" tanya Jongin.
Kangin menggebrak meja kerjanya, lalu berseru, "Beraninya kau menanyakan keadaanku? Setelah parade pesta konyolmu itu? Bagaimana kau akan menjelaskan semua itu pada kakekmu ketika kau dipanggil menghadapnya?"
"Aku akan menjelaskan bahwa pesta ini tidak melanggar aturan. Tertulis dengan jelas dalam peraturan nomor 41 tentang hak menyelenggarakan pesta; selama tidak terjadi tindak kejahatan atau kericuhan yang dapat mencemarkan nama baik keluarga Kim, maka semua dianggap sah dan penyelenggaranya bebas dari hukuman." sahut Jongin tenang.
"Kau tidak bisa melakukan itu di rumah ini! Adikmu bahkan belum genap berusia lima belas tahun. Di mana akal sehatmu, Kim Jongin? Setidaknya jangan bawa adikmu ke dalam masalah!" balas Kim Kangin. Kali ini Jongin terdiam. Ia mengunci mulutnya, karena ia tahu yang dikatakan ayahnya benar. Jongin menatap Yeri, lalu mengucapkan kata maaf yang disambut senyum tulus oleh Yeri.
Kim Kangin tidak mengerti mengapa putra sulungnya yang luar biasa bertanggung jawab bisa melakukan hal-hal tidak bertanggung jawab semacam ini. Kangin didera kepanikan ketika mendengar berita bahwa putranya itu melangsungkan pesta di rumahnya, hingga tanpa pikir panjang Kim Kangin segera membatalkan pertemuan pentingnya di Kanada dan terbang menuju New York. Kali ini, Kangin harus mengambil risiko. Sebelum segalanya semakin tak terselamatkan.
"Apa yang kau inginkan, Jongin?" tanya Kangin tegas. Jongin langsung mengubah sikap duduknya dan menatap ayahnya tanpa ragu.
"Izinkan aku untuk bersekolah di Julliard dan menjadi pianis. Aku akan sukses. Aku tidak akan mengecewakanmu, Appa" jawab Jongin. Kangin menghela napas, lalu mengalihkan tatapan pada putrinya. Ini sungguh pilihan sulit, karena dengan mengizinkan Jongin, tanpa sadar Kangin mengalihkan tanggung jawab pada Yeri. Setelah ini hari-hari seorang Kim Yeri akan dipenuhi dengan pelatihan untuk menjadi pewaris selanjutnya.
"Yeri-ya, apa kau siap mengambil alih tanggung jawab oppamu?" tanya Kangin. Yeri ragu. Sama seperti kakaknya, darah seni mengalir deras dalam nadinya. Namun demi melihat harapan yang meletup bagai bara di kedua mata hijau milik kakaknya, akhirnya Yeri mengangguk.
"Aku akan berusaha, appa. Aku akan memulai pelajaran dasarnya besok siang sepulang sekolah." jawab Yeri. Kangin menatap Yeri lekat, tahu bahwa semua ini akan sia-sia di akhir nanti. Kedua anaknya tidak akan bisa lari. Mereka akan tetap menjadi pewaris, suka atau tidak. Kim Kangin hanya berharap Tuhan tidak mencabut nyawanya sebelum kedua anaknya meraih impian mereka. Kangin akan memastikan anak-anaknya bahagia.
"Aku mengizinkanmu, Jongin." putus Kangin. Kim Jongin tersenyum dan Yeri bertepuk tangan senang. Mereka berdiri, lalu menghampiri Kim Kangin dan mengucapkan terima kasih yang sarat akan kebahagiaan.
.
*Oh Hani*
.
Desember, 2011
Jongin melangkah menyusuri lorong kampusnya dengan satu tangan memegang partitur sementara tangan lainnya menempelkan ponsel ke telinga. Libur akhir semester yang semakin dekat membuat kesibukan di dalam kampus meningkat, sehingga Jongin harus ekstra hati-hati dalam melangkah. Juga harus ekstra berusaha untuk mendengarkan ocehan adiknya di ujung telepon.
"Yak! Jongin oppa? Kau mendengarku? Astaga, aku mulai bertanya-tanya apakah sebutan jenius yang kau sandang itu benar-benar nyata. Kau selalu bersikap menyebalkan padaku!" seru Yeri kesal.
"Aku mendengarmu, Yeri-ya. Kau akan berulang tahun yang ke delapan belas. Tentu saja aku akan datang. Bahkan meski profesorku melarang, aku akan tetap datang. Kau dengar itu? Meski aku baru bisa datang setelah Haraboji pergi, aku juga akan tetap datang. Tenang saja, adik kecilku." balas Jongin ceria.
"Aku hampir delapan belas tahun! Berhenti memanggilku adik kecil! Kau ini seperti appa yang selalu memanggilku gadis kecilnya." protes Yeri.
Jongin tertawa, "Kau akan selalu menjadi gadis kecil kami, Kim Yeri. Terima saja nasibmu."
"Lupakan topik itu. Bagaimana persiapanmu untuk album perdanamu? Aku akan sangat senang mendengar perkembangannya. Teman-temanku bahkan mulai bertanya-tanya kapan mereka bisa membelinya. Ah ya, kau harus bermain piano semalam suntuk untuk pesta ulang tahunku! Teman-temanku akan menjadi histeris!" sahut Yeri bersemangat.
"Sejauh ini semuanya lancar. Sekarang aku harus menemui dosen pembimbingku untuk tugas akhir. Aku akan menghubungimu nanti untuk cerita lengkapnya. Sampai jumpa, Yeri." balas Jongin, lalu memutuskan sambungan.
.
*Oh Hani*
.
Juni, 2013
Jongin menatap pintu ganda berukiran rumit di hadapannya. Di balik pintu itu terdapat ruang kerja Kim Sooman, yang terkenal dengan sebutan Ruang Keadilan di antara anggota keluarga Kim. Orang yang dipanggil masuk ke dalam sana pastilah orang yang telah melanggar aturan. Dan orang yang saat ini berada di sana adalah Kim Kangin.
"Maafkan aku, Jongin oppa. Aku benar-benar menyesal. Aku tidak bermaksud membawamu dan appa ke dalam masalah ini." Bisik Yeri menyesal. Jongin menggenggam tangan Yeri, mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja.
"Aku tahu kau telah berusaha, Yeri-ya. Bukan salahmu jika salah satu penari hebat dunia terpesona padamu dan merekrutmu menjadi murid pribadinya juga mendaftarkanmu di Julliard. Kita akan memikirkan jalan keluarnya. Semua akan baik-baik saja, Saeng-i." sahut Jongin menenangkan. Yeri mengangguk, bersamaan dengan dibukanya pintu ganda itu. Kim Kangin menghampiri kedua anaknya dan mengajak mereka pulang.
Perjalanan pulang hanya diisi oleh keheningan, hingga akhirnya mereka sampai di rumah. Yeri tidak bisa menahannya lagi. Ia tahu ada konsekuensi atas pelanggaran itu.
"Appa, apa yang dikatakan Haraboji?" tanya Yeri hati-hati. Kim Kangin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kedua anaknya.
"Ia meminta agar Jongin membatalkan konser keliling dunianya." jawab Kangin.
"Mwo? Andwe!" seru Yeri.
Jongin menenangkan Yeri, lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku bisa mengusahakannya lain waktu. Lagi pula aku baru saja menyelesaikan konser keliling Eropa. Tidak ada salahnya berlibur untuk sementara."
"Jongin benar, Yeri-ya. Selain itu, kau bisa meneruskan mimpimu. Haraboji hanya meminta Jongin untuk membatalkan konsernya, ia tidak mengatakan apa pun tentang dirimu yang akan masuk Julliard." tambah Kangin.
Yeri meragu, namun ia tak bisa menyembunyikan secercah nada berharap dalam suaranya, "Benarkah itu? Aku boleh berhenti sekolah bisnis dan menjadi penari?" Kim Kangin mengangguk dan Yeri menghambur memeluknya. Setelah itu Yeri mulai melakukan panggilan dan mengurus segalanya, meninggalkan Jongin dan ayahnya berdiri di ruang tamu rumahnya. Jongin menyadari dengan perasaan ganjil bahwa tatapan ayahnya terlalu sendu untuk saat bahagia Yeri.
"Apakah semua baik-baik saja, Appa?" tanya Jongin memastikan.
"Ya. Semua baik-baik saja, Kyu-ah." jawab Kangin. Namun Jongin tahu, jawaban itu adalah sebuah kebohongan.
.
*Oh Hani*
.
Seoul, Oktober, 2014
Jawaban ayahnya saat itu sungguh sebuah kebohongan. Karena kini Jongin mendapat pembuktiannya. Sesosok pria berhati bijak yang dengan bangga Jongin sebut sebagai ayahnya kini tertidur di atas tempat tidur rumah sakit dengan bantuan peralatan medis untuk menopang hidupnya.
Tak pernah sekalipun Jongin berpikir penyakit jantung ayahnya berbahaya, hingga ia mendapat telepon dari sekertaris ayahnya bahwa ayahnya terkena serangan jantung. Sudah satu minggu Jongin berada di ibukota negara Korea Selatan ini.
Menemani Yeri menunggui ayahnya. Namun di saat-saat tertentu, Jongin akan pergi untuk menghirup udara segar. Jongin tidak bisa terus-menerus berada di kamar rawat dan membiarkan otaknya memutar skenario terburuk. Untung saja ada sebuah panti asuhan di belakang bangunan rumah sakit, sehingga ketika membutuhkan ruang untuk dirinya, Jongin akan pergi ke sana dan bermain piano.
"Aku akan kembali, Yeri-ya." ucap Jongin sebelum melangkah pergi. Jongin memutari bangunan rumah sakit hingga menemukan sebuah gerbang perumahan berwarna putih. Letak panti asuhan itu tak jauh dari gerbang.
Jongin ingat kedatangannya yang pertama, ia sampai harus memanggil anak buah ayahnya yang mendapat tugas berjaga di rumah sakit agar bisa masuk ke panti asuhan itu. Keterbatasannya dalam berbahasa menjadi penghalang, namun segera setelah ia memainkan piano, segala batas itu hilang. Seluruh penghuni panti asuhan menyambutnya dengan hangat dan bersahabat. Seperti hari ini, begitu membuka gerbang, Jongin mendapat sambutan ceria dari anak-anak yang sedang bermain di halaman. Mereka mengucapkan serangkaian kata yang tidak begitu dipahami Jongin, namun merasakan tarikan mereka, Jongin mengerti apa yang mereka inginkan.
Maka Jongin menghampiri piano di bagian kanan bangunan panti asuhan, lalu membuka pelindung tutsnya. Jongin memasang ekspresi bertanya, kemudian mendapat jawaban berupa anggukan dari anak-anak di sekelilingnya. Jongin melarikan jemarinya di atas tuts, disusul oleh tekanan nada-nada sumbang dari anak-anak lainnya. Jongin tertawa, sementara seorang gadis kecil berkucir kuda menggerakkan tangannya seolah meminta teman-temannya untuk mundur dan duduk tertib. Tawa Jongin terus berderai, hingga si gadis kecil mengalihkan pandangan padanya dan menunjuk piano. Jongin memberi hormat ala militer, lalu meregangkan jemarinya dan mulai memainkan piano. Nada-nada ceria yang mengalun membuai Jongin menuju dunia pribadinya. Dunia yang hanya berisi harap. Jongin menekan nada terakhir dengan sentuhan ringan pada tuts pianonya. Meresapi kepuasan mendalam karena telah melakukan hal yang disukainya. Begitu ia menengadahkan wajah, tepuk tangan juga pekikan ceria langsung menyambutnya, membuat Jongin kembali tersenyum. Gadis kecil berkucir kuda itu menghampiri Jongin, lalu menunjuk piano dan menunjuk dirinya. Jongin mengerti isyarat itu. Ia menunjuk dirinya seraya menyebutkan namanya, kemudian menunjuk gadis kecil itu
"Irene!" serunya seraya mengulurkan tangan. Jongin menyambut tangan mungil itu, lalu bergeser untuk memberi ruang bagi Irene di kursinya. Mereka mulai menyentuh tuts-tuts dan mengundang tawa dari anak-anak lainnya.
Lalu Jongin menekan nada-nada dasar, bersamaan dengan masuknya seorang gadis bergaun putih ke dalam ruangan. Jongin tersenyum tipis menyapa gadis itu, lalu memerhatikan anakanak yang kini telah teralihkan perhatiannya. Mereka semua berlari menghampiri gadis itu, meluapkan celoteh bernada polos.
Sementara gadis itu memberikan bingkisan yang dibawanya pada anak-anak seraya mengatakan sesuatu yang tidak bisa Jongin dengar apalagi mengerti, kemudian melambai dan pergi. Jongin mengamati sosok gadis itu hingga menghilang di balik pintu, memuji kecantikan bak bidadari yang dimilikinya.
Dengan senyum sendu juga tatapan teguh, gadis itu bagaikan salju yang meretas bersama angin. Lembut sekaligus rapuh. Meski Jongin hanya sempat melihatnya sekilas—hanya salah satu sisi wajahnya pula—Jongin yakin gadis itu sungguh memesona. Untuk alasan yang tidak dimengerti, Jongin ingin melihat gadis itu lagi.
Lamunan Jongin terhenti dering ponselnya. Setelah menerima panggilan itu dan mendengarkan suara Yeri yang bergetar hebat, binar ceria di wajah Jongin menghilang tak bersisa.
.
.
.
.
.
TBC
Lanjut / Delete
Review juseyooo ^^
#Oh Hani#
