Hello, EX
Cast : Kaisoo (Main Pair)
Etc.
Rated : M, Genderswitch
WARNING!
typo everywhere, absurd, dirty talk gagal/?, NC garing, ini fanfic pertama jadi mohon maklum hehe.
Enjoy
.
.
.
Aku kembali melanjutkan langkahku menelusuri rumah Sehun, namun aku tidak menemukan dimana Oh Sehun itu. Bisa ku lihat diantara mereka semua ada yang sedang bercanda, bermain gadget, mendengar musik, bahkan ada yang sedang bercumbu astaga. Aku menuju halaman belakang rumah Sehun, tempat favoritku dirumah ini. Namun mataku menemukan sesosok pasangan yang sedang duduk di sofa, sangat familiar, ku picingkan mataku dan dapat ku tangkap sosok itu adalah,
Kim Jongin dan Jung Soojung.
'Waw'
.
.
.
.
.
Mataku membulat sempurna, jika saja Tuhan menciptakan mata ini dengan buruk bisa kupastikan mataku akan keluar dari tempatnya. Aku mematung sejenak, mencoba membiasakan pandanganku pada seonggok daging dihadapanku yang sedang bersama, mencoba mengubah keterkejutanku menjadi biasa lagi. Aku bertambah terkejut begitu pandanganku bertemu dengan pandangan Jongin, pandangannya datar namun seolah menyimpan beribu rasa benci didalam sana. Soojung mencoba mengikuti kemana arah pandang Jongin, namun dengan segera aku merubah ekspresi wajahku seperti biasa, seperti aku sudah biasa melihat mereka bersama. Fake ekspresi seebenarnya.
Soojung menatapku dengan pandangan terkejut, sedangkan aku memandangnya dengan tatapan meremehkan namun kemudian ku ubah menjadi tatapan penuh dandam dan kebencian. 'Waw, ini dia si pelacur berwajah polos yang menjadi otak rencana busuk itu.' Batinku.
Aku berjalan dengan santai dihadapannya untuk menemui temanku yang berada disofa bagian pojok halaman –bagian belakang rumah sehun ini berupa halaman yang luas, dengan beberapa sofa dan tempat bersantai lainnya–, dan merekalah orang yang sedang bercumbu itu.
"Masih terlalu pagi untuk melakukan hal seperti itu." Ujarku sambil mengambil tempat duduk dihadapan mereka.
"Kyung!" Yixing langsung melepaskan ciumannya dari Joonmyeon dan menghambur memelukku. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, dia adalah teman baikku semasa SMP dulu. Sedangkan Joonmyeon terlihat kesal karna ciumannya dilepaskan begitu saja oleh kekasih cantiknya, tapi sedetik kemudian dia juga tersenyum ke arahku.
"Astaga Xing, kau membuatku sesak." Anak itu, dia bukan memelukku tapi hampir mencekikku. Yixing langsung melepaskan pelukannya dan ia bercerita banyak hal padaku, mulai dari sangat merindukanku, ingin bermain denganku, bagaimana dia berpacaran dengan Joonmyeon, bertengkar dengan Sulli, dan banyak hal lainnya. Kemudian dia mengajakku keluar untuk bergabung dengan Baekhyun. Joonmyeon juga mengikuti kami.
Aku, Baekhyun, Sehun, Luhan, Chanyeol, Jongin, Kris, Joonmyeon dan Yixing adalah satu geng saat SMP. Kami selalu bermain bersama, dihukum bersama, kemana-mana selalu bersama seperti itu. Bisa kalian bayangkan bagaimana ramai dan rusuhnya kami saat bersama. Jujur saja aku merindukan masa-masa dimana kami bersama, karna sekarang kami sudah lulus dan sibuk dengan urusan masing-masing, kami jadi jarang sekali kumpul bersama. Ditambah lagi dengan Jongin yang meelanjutkan ke luar negeri, Joonmyeon dan Yixing juga melanjutkan disekolah yang berbeda, terkadang saat kumpul pun tidak semuanya datang. Saat itu hanya aku dan Jongin yang berpacaran namun setelah lulus banyak juga yang menyusulku dan Jongin, seperti Chanyeol dengan Baekhyun, Joonmyeon dengan Yixing. Sedangkan aku, –Sang Pendahulu – malah sudah putus ditengah jalan. Ah, aku hampir lupa pada sepasang kekasih –mungkin– yang tadi ku lihat, mereeka masih saja duduk disana. Tapi aku tidak melihat mereka bercumbu atau sekedar berpelukan. Mereka hanya duduk dan terkadang mengobrol namun tidak banyak. 'Sedang bertengkar ya' Pikirku.
Yixing berhenti sejenak saat aku melewati Jongin dan Soojung, aku bisa menangkap manik matanya yang khawatir menatapku. Seolah dia berkata 'Kau baik-baik saja?'.
Aku mengangguk dengan cepat dan mengatakan, "Mereka bukan urusanku lagi, Xing." Aku kembali melanjutkan langkahku. Sejujurnya aku penasaran, mengapa mereka bisa beersama, mengapa Jongin disini, mengapa mereka duduk berdua, mengapa Jongin menatapku seperti itu. Begitu banyak pertanyaan dikepalaku, aku ingin menanyakan itu tapi aku gengsi, tentu saja.
Aku duduk disamping Baekhyun yang sedang memanjakan kekasihnya, Park Chanyeol. Ewh, pemandangan menjijikan. Bukan karna aku seorang jomblo lalu aku merasa iri, bukan. Aku memang tidak suka saja melihat sepasang kekasih yang bermesraan didepan umum, menjijikan. Mereka seharusnya melakukan itu dikamar atau tempat tertutup lainnya.
"Kau putus dengan Jongin?" Kali ini Kris berbicara padaku, suaranya ia pelankan dan badannya seedikit condong kedepanku. Aku langsung mengangguk santai dan pandanganku beralih lagi ke Jongin dan Soojung, sial.
"Sayang sekali, memangnya kenapa sih?"
"Karna sudah tidak cocok, mungkin."
"Pantas saja tadi mereka datang berdua. Aku terkejut karna ku pikir Jongin akan membawamu."
"Datang berdua?benarkah?" Aku tidak bisa untuk tidak terkejut, sudah sejauh itu kah hubungan mereka?atau jangan-jangan mereka memang sudah dekat saat aku masih berhubungan deengan Jongin. Keparat.
"Tapi sejauh ini aku tidak melihat pergerakan apapun dari mereka. Kau tahu, dari awal datang posisi mereka masih seperti itu. Apa pantat meereka tidak pegal ya." Aku terkekeh pelan mendengar ucapan Kris. Sejujurnya aku ingin sekali melihat mereka bercumbu dengan begitu aku bisa meninju kedua wajah itu dan beralasan 'Tidak boleh bercumbu dirumah temanku!' Ah tidak tidak, itu alasan yang bodoh. Tadi saja malah temanku sendiri yang bercumbu.
"Tenang, kau diatas segala-segalanya daripada si Soojung itu Kyung. Lihat saja dadanya, kurasa ukurannya itu hanya cup A." Ujar Baekhyun meremehkan. Kami semua tertawa mendengar ucapannya, terlebih lagi Chanyeol, bahkan dia tertawa sambil memukul-mukul Baekhyun dan alhasil dia mendapat jitakan dari Baekhyun.
"Ku pikir menarik untuk mempermainkan keduanya." Ujarku sambil tersenyum sinis ke arah Jongin dan Soojung. Sangat menarik sepertinya, aku bisa mempermainkan Jongin sekaligus mempermainkan Soojung. Perlu kalian tahu, si Soojung itu sangat menyukai Jongin, bahkan saat aku masih berpacaran dengan Jongin dia selalu berusaha merebutnya dariku. Sejujurnya itu tidak masalah karna aku tahu Jongin tidak akan benar-benar tertarik pada Soojung, dulu pernah Jongin putus denganku lalu berpacaran dengan Soojung namun itu hanya akal-akalan Jongin untuk membuatku cemburu, dan ku pikir sekarang juga dia sedang melalakukan itu padaku. Itu kenapa aku tidak begitu mempermasalahkannya, walau sebenarnya ada sedikit rasa cemburu dihatiku, hanya sedikit ya karna aku sudah mulai melupakan Jongin.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Baekhyun cemas. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, tentu aku tidak akan memberitahu rencanaku ini, walau sepertinya ini adalah rencana yang mudah ditebak. Menggoda Kim Jongin, benar.
"Aku pulaaaaang." Aku mendengar suara Sehun dari luar, pantas saja dia tidak ada ternyata dia habis belanja. Bisa ku lihat dia menenteng banyak kantong plastik dan dibelakangnya ada Luhan yang sedang mempout imut karna barang bawaan Luhan lebih banyak daripada Sehun. Pasti dia marah.
"Bocah idiot ini malah menyuruhku membawa lebih banyak! Aku kan perempuan!" Luhan meletakkan kantong plastik itu dengan kasar ke lantai –terlihat seperti membanting sebenarnya– dan merebahkan dirinya disofa depanku.
"Kyung kupikir kau tidak datang!" Sehun langsung meletakkan kantong plastik yang dibawanya dan mengangkat tubuhku lalu membawanya berputar, astaga ini sungguh norak, benar kata Luhan dia adalah bocah idiot. Saat tubuhku diputar seperti itu, aku dapat melihat tatapan Jongin yang seperti meredam amarah, apa dia cemburu?heol, dia masih mencintaiku kah?
"Kau membuatku pusing, bocah idiot!" Aku menjambak rambut Sehun agar dia berhenti, sungguh ini membuatku mual.
"Aku merindukanmu, jagi."
"Merindukan apanya, kita bahkan bertemu hampir setiap hari, albino!" Aku mencium pipinya singkat sebelum aku melepaskan diriku dari tubuhnya. Tidak, aku tidak berpacaran atau memiliki hubungan khusus dengannya. Aku dan Sehun sudah berteman sejak kecil, dia adalah orang yang paling dekat denganku, itu kenapa aku selalu seperti itu jika bertemu Sehun. Orang lain yang tidak tahu mungkin akan menganggap kami pacaran, terserahlah toh dia juga tampan dan tinggi, setidaknya tidak membuatku malu. Aku melihat Jongin lagi, dia masih menatapku seperti itu. Mengerikan memang, terkadang aku tidak mengerti dengan berbagai macam ekspresi wajahnya itu.
"Kau membeli apa?" Tanya Chanyeol sambil membuka salah satu plastik yang tadi diletakkan Sehun.
"Kita akan makan besar, aku membeli beberapa potong daging sapi serta sayuran. Ku rasa memakan steak panggang bukan ide yang buruk." Ujar Sehun santai.
"Hell no! Daging memiliki banyak lemak, aku tidak mau gemuk!" Baekhyun langsung membuka suara begitu mengetahui kita akan makan daging.
" Astaga Baekkie, aku tahu tubuhmu bagus dan kau menjaganya, tapi ini hanya daging, ayolah." Chanyeol mencoba merayu Baekhyun agar mau ikut makan. Baekhyun memang seperti itu, dia begitu menjaga tubuh idealnya itu. Aku hanya geleng geleng singkat.
"Kita semua harus makan, jika ada yang tidak mau, pintu keluar terbuka lebar disana." Ujar Kris sambil mengarahkan tangannya ke arah dimana pintu berada, sebuah perlakuan sebagai pengganti kata pengusiran, sebenarnya.
"Hei tiang, kau meengusirku!"
"Oh hei, lihat kekasihmu dia juga seeperti tiang. Coba ngaca!"
"Setidaknya dia tidak sejangkung dirimu, dan wajahya juga tak setua dirimu!" Dan begitulah mereka berdua berdebat hanya karna kata pengusiran itu. Aku dan yang lainnya hanya tertawa melihat mereka berdua, tanpa ku sadari aku teelah mendapatkan moment yang sangat ku rindukan, berkumpul dan tertawa bersama seperti ini beersama mereka. Namun ada satu yang kurang, Kim Jongin, dia tidak bersama kami walau jarak kami begitu dekat. Aku bisa bertaruh bahwa dia sebenarnya juga ingin berkumpul dengan kami, namun entah karna gengsi atau apa hingga dia lebih memilih duduk bersama Soojung.
"Ehm, kalian lupa bahwa aku masih teman kalian?" Waw daebak! Ternyata kini Kim Jongin sudah berada bersama kami, benar kan apa yang kubilang barusan.
"Oh hai Jong, kupikir kau akan terus menerus menempelkan pantatmu dengan sofa itu." Ujar Luhan sarkastik.
"Dua makhluk itu kenapa sih?" Jongin langsung mengambil tempat duduk disamping Luhan, berhadapan denganku. Aku menatap Jongin sebentar dan sedetik kemuadian langsung ku alihkan pandanganku karna mata kami hampir saja bertemu. Aku lebih memilih untuk melihat apa yang tadi dibeli Sehun dan memikirkan apa yang harus diolah terlebih dahulu.
"Kita urus dibelakang saja." Aku langsung menenteng beberapa kantong itu dan menuju dapur, dapurnya menyatu dengan halaman belakang rumah Sehun yang ku ceritakan tadi. Sehun, Luhan, dan Yixing langsung mengikutiku. Sedangkan Baekhyun dia masih saja beradu argumen dengan Kris, dan Chanyeol, Suho, serta Jongin masih setia menikmati perdebatan itu.
"Jadi Kyung, kau akan mengolah paprika ini. kau Lu, kau harus mengurus jagung ini. Dan Xing, kau akan mengurus bawang-bawang ini." Ujar Sehun memberi intruksi dan langsung di iyakan oleh kami. Luhan membawa jagung itu ke area halaman, namun ia berbalik untuk berbicara dengan Soojung.
"Ehm, daripada kau hanya duduk seperti orang tak berguna. Lebih baik kau membantuku membersihkan jagung, Nona Jung." Benar, Soojung seperti orang tak berguna disini. Seperi mayat hidup. Dia tidak melakukan apapun selain duduk berdiam diri disana padahal Jongin sudah pindah keruang tengah. Dan si Choi Sulli, dia masih saja asyik dengan gadgetnya. Dasar para jalang tidak berguna.
Soojung langsung mengangguk dan mengikuti kemana arah Luhan, dan kini semuanya tengah berkumpul dibeelakang, sedangkan Jongin masih duduk sembari memejamkan matanya diruang tengah.
Aku pergi keruang tengah untuk membuka Coat dan Hoodie ku, Aku membukanya dihadapan Jongin. Salah satu bagian dari rencanaku sebenarnya. Setelah selesai membukanya, aku hanya menyisakan kaos putih transparan yang sedikit longgar dan pendek, hingga jika aku mengangkat tanganku keatas, bagian perutku pasti terlihat. Aku sedikit membungkukan badan untuk mengambil handphoneku yang terletak dimeja hadapan Jongin, otomatis belahan payudaraku terlihat. Aku meniup wajahnya sebentar hingga ia membuka matanya, sedikit terbelalak melihatku begitu dekat dengan wajahnya, apalagi melihat bagian dadaku.
"Apa kau kemari hanya utuk duduk duduk saja?" Ujarku sambil mengedipkan sebelah mataku, Demi Tuhan aku terlihat seperti pelacur sekarang ini. Masabodo, yang penting rencanaku harus berhasil.
Jongin berdehem singkat dan aku langsung mengangkat tubuhku lagi dan pergi ke dapur tanpa memperdulikan bagaimana Jongin sekarang. Aku mengambil paprika yang ada dimeja tadi lalu mencucinya di wastafel. Saat aku kembali ke meja, Jongin sudah disana dengan beberapa sayuran lain dihadapannya. Aku sengaja mengambil tempat didepan Jongin dan mulai mengurus paprika ku. Dan sialnya sekarang si Soojung itu malah duduk disamping Jongin, astaga.
"kau akan mengurus jagung itu?" Tanya Jongin pada Soojung yang dijawab dengan anggukan penuh percaya diri dan senyuman yang sangat membuatku ingin muntah.
"Hati-hati, tanganmu bisa terluka." Oh astaga drama macam apa ini, hanya mengurus jagung saja sampai segitunya.
Entah setan mana yang merasukiku kini kakiku sedang mencoba untuk membelai kaki jongin dari bawah, menuju ke pangkal paha dan berhenti diselangkangannya. Jongin menatapku terkejut namun tidak menolaknya. 'Kau pasti menginginkannya juga' Batinku.
Jari jemari kakiku terus membelai paha dalam Jongin, namun aku belum menyentuh penisnya sama sekali. Aku ingin bermain-main terlebih dahulu. Dapat ku tangkap ekspresi wajah Jongin yang berubah-ubah, mulai dari menahan desahan, matanya yang setengah terbuka, namun tangannya tetap fokus pada sayuran dihadapannya. Sesekali Soojung menatap Jongindengan tatapan 'dia ini kenapa', namun ia kembali lagi pada jagungnya. Dengan sekali hentak, kakiku menendang pelan penis Jongin, membuat sang pemilik hampir saja mengerang. Aku memijatnya pelan namun konstan, terus menerus seperti itu sampai paprikaku selesai. Sebelum aku meelepaskan kakiku dari penisnya, dapat kurasakan benda itu sudah mengeras. Ereksi kah?
Aku bangkit dari dudukku dan membawa paprika itu ke Sehun, lalu mencuci tanganku di westafel. Aku melirik Jongin sejenak, dia begitu terburu-buru menyelesaikan sayurannya, kemudian aku terkekeh pelan melihat tingkahnya. Soojung juga sudah selesai dengan jagungnya, ia membawa jagung itu ke Luhan namun sepertinya Luhan menyuruh Soojung untuk membantunya lagi disana. Aku tetap berdiri didekat westafel hingga Jogin selesai dengan sayurannya lalu mencuci tangan, tak lupa sayuran itu ia berikan terlebih dahulu ke Sehun.
"Kau membuatnya bangun, tanggung jawablah." Jongin berbicara tepat ditelingaku hingga aku harus menggigit bibir bawahku agar tidak ada desahan yang keluar, titik sensitifku adalah bagian telinga. Aku berbalik menghadap Jongin dan berbisik, "Duduklah ditempat yang tadi."
.
.
.
.
.
.
TBC
