You are My Destiny
.
.
Park Min Rin
.
.
Genre: Romance, Drama, Hurt
.
.
Rate: T
.
Lenght: Chaptered
.
.
Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memilki dan Sungjin murni milik saya *ditabokJongjin* Tapi yang pasti FF abal ini milik saya seutuhnya. :D
.
.
Warning: YAOI, Typo(s), Incest KyuMin! DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT!
.
.
.
enJOY~
CHAPTER 2
.
~(*o*)~
.
This fict is dedicated..
To the world biggest shipper..
The JOYers..
"Ada apa dengan bangku lainnya? Kau bisa memilih yang lain," ini pernyataan bukan pertanyaan dan Sungmin tahu jika Yesung sengaja bicara seperti itu pada teman sekelas barunya. Tatapan sinis Zhoumi beralih pada Yesung.
Teman sekelas Sungmin mulai berbisik membicarakan Yesung yang membuat ulah pada anak donatur utama Neul Paran School. Sungmin menyadari itu dan segera mengambil tindakan, apalagi guru di depan kelas sana sepertinya melempar tatapan 'segeralah kau beranjak dari bangku itu' pada Sungmin.
"Sudahlah hyung, tidak perlu dipermasalahkan. Hanya masalah bangku."
"Ya, hanya masalah bangku. Jadi, segeralah pindah dari bangku Zhoumi oppa," dengan sengaja Hyuna mengatakan hal itu. Tak ayal teman sekelas Sungmin yang semula hanya berani berbisik kini beralih menatap Sungmin dengan tujuan mengusir pemuda manis itu dari bangkunya.
Sungmin hanya bisa mendesah pelan, apalagi image yang melekat pada dirinya selain pembuat masalah? Dan jika kali ini Yesung sampai ribut dengan Zhoumi karena membelanya, predikat pembuat masalah tak akan pernah lepas dari sosok aegyo itu.
Tak ingin membuat situasi makin runyam, Sungmin segera membereskan bukunya. Jika Kyuhyun tahu mengenai hal ini, sudah pasti Cho bungsu itu akan memberi pelajaran pada siapapun yang sudah mengganggu ketenangan kakaknya padahal Sungmin tak pernah menceritakan apapun tentang perilaku buruk fans adiknya.
Kyuhyun pernah mematahkan rusuk salah satu teman sekelas Sungmin, pernah menghajar adik kelas yang terang-terangan menggoda Sungmin, dan trio dengan penampilan dewasa—Hyuna, Sooyoung, dan Dara pun juga pernah menjadi korban kemarahannya karena Sungmin, bedanya Kyuhyun tak menyakiti fisik mereka melainkan mempermalukan tiga murid cantik itu dengan mulut pedasnya.
Cukup itu saja, Sungmin tak ingin kejadian seperti itu kembali terulang. Bukan membaik, teman satu sekolahnya justru akan semakin membencinya.
"Nikmati meja barumu," ucap Yesung sambil menarik lengan Sungmin. Sungmin yang hampir selesai memasukkan buku terakhirnya hanya bisa melongo tak percaya karena Yesung selesai lebih cepat darinya. Bahkan saat Yesung menariknya menuju pintu kelas Sungmin masih melongo tak mengerti.
"Yesung-ssi."
"Bukankah meja kami akan ditempati teman baru yang dengan kami? Aku dan Sungmin perlu mengambil meja baru seonsaengnim. Jangan berpikir aku akan duduk dengan Jomyuk-ssi," ucapan santai Yesung langsung mendapat tatapan tajam dari Zhoumi. Pria berdarah Cina-Korea itu memang tak pernah suka jika dipanggil dengan nama Koreanya.
Guru hanya bisa mengangguk setuju, ia cukup paham bagaimana hubungan dua muridnya yang melekat bagai amplop dan perangko itu. Sungmin dan Yesung itu satu. Saat ada Kyuhyun berarti Kyuhyun dan Sungminlah yang satu. Namun, jika mereka bertiga bersama, hanya Kyuhyun dan Sungmin lah yang satu karena Yesung memilih sendiri. Rumus yang tak pernah tercatat dalam penemuan itu seolah melekat di otak setiap murid Neul Paran School.
"Hyung, seharusnya tak perlu begini," ucap Sungmin sambil mengamati Yesung, pria bermata sipit itu tengah memilih meja yang bagus di ruang perlengkapan.
"Apanya yang tidak perlu seperti itu? Ayo," jawaban Yesung yang selalu santai dan seolah tak memiliki beban itu justru membuat Sungmin mendesah malas. "Tidak, kau tunggu di sini saja," imbuhnya sembari menepuk sebuah bangku yang paling dekat dengan pintu.
Merasa dilecehkan, Sungmin langsung bergerak menghentikan niat Yesung dengan menggebrak salah satu meja yang ada di dekatnya.
"Kau sama menyebalkannya dengan Kyuhyun. Memangnya aku selemah apa hingga tak kuat mengangkat meja seringan ini? Kalau hyung mau, hyung saja yang tunggu di sini biar aku yang mengangkat dua meja untuk kita," ketus Sungmin kemudian mengambil alih meja yang hendak diangkat Yesung.
"Boohh! Sok kuat eoh?" ejek Yesung membuat Sungmin langsung memasang wajah garang seolah bersiap melempar Yesung dengan meja yang tengah diangkatnya.
"Oke, oke. Kita angkat bersama dan berhenti memasang wajah seperti Heechul ajjuma!" sembur Yesung kemudian mengangkat satu meja lain, mendahului Sungmin yang tengah cekikan di belakangnya.
Jarak kelas dan ruang perlengkapan yang cukup jauh membuat dua namja bermarga Kim dan Cho itu sesekali berhenti dan kali ini menghentikan langkah mereka di ujung koridor.
"Bukankah itu Yesung hyung?" tanya sosok jangkung dalam gumamannya. Pria yang baru saja keluar dari salah satu restroom itu perlahan melangkah, menghampiri Yesung untuk bertanya tentang apa yang dilakukannya dengan sebuah meja di ujung koridor.
Tepat saat langkah kelima, mata bulat namja bermarga Cho itu melebar. Bukan terkejut karena Yesung tengah mengangkat meja sambil tertawa, tapi terkejut karena sosok yang berada di belakang Yesung.
"Hyung!" panggilnya keras kemudian berlari tergopoh-gopoh menuju Yesung dan Sungmin. Dua namja yang merasa terpanggil hanya bisa menghela napas saat mengenali pemilik suara yang baru saja berteriak ke arah mereka.
"Hyung, apa yang kau lakukan di sini?"
'Pertanyaan bodoh!' batin Yesung sambil menggelengkan kepala. Sungmin hanya tersenyum kecil kemudian menunjuk meja yang tengah tadi angkatnya.
"Mwo? Kenapa kau mengangkat meja sendiri? Bukankah ada Yesung hyung? Kau bisa memintanya untuk mengangkat meja jadi kau tak perlu melakukan itu sendiri. Dan kau hyung! Kenapa kau membiarkan Sungmin hyung mengangkat meja sendiri? Jika kau memang tak ingin mengangkat ini untuk Sungmin hyung, seharusnya kau memanggilku, biar aku yang melakukan itu! Benar-benar kau ini!"
Terbiasa dengan dampratan yang dilakukan Kyuhyun, Yesung hanya bisa mengernyit malas. Kyuhyun yang bicara tanpa titik dan koma terkadang membuat Yesung seolah tengah menatap diri sendiri. Ayolah, dia juga cerewet!
"Kyu! Kau ini berlebihan sekali. Aku sudah meminta Sungmin untuk menunggu di ruang perlengkapan karena aku akan melakukan seperti apa yang ada dalam pikiranmu tapi dia menolak karena dia merasa bisa dan kuat mengangkat mejanya sendiri, dan kau tau? Dia mengaku namja padaku dan namja yang benar-benar namja sudah pasti bisa mengangkat meja seringan ini. Lalu, tiba-tiba kau datang, marah-marah dan menyalahkanku. Kau pikir aku harus ke kelasmu hanya untuk sebuah meja? Seharusnya kau tidak menyalahkanku, ini bukan salahku, tapi salah orang itu!"
Sungmin hanya bisa menatap jengah dua orang yang tengah berdebat tak penting di hadapannya. Yesung bisa bicara dua kali lebih cepat dan dua kali lebih panjang daripada Kyuhyun dan hal itu membuatnya pusing.
"Orang itu? Orang itu siapa?" tanya Kyuhyun.
"Itu!" jawab Yesung sambil mengedikkan kepalanya.
Kyuhyun mengikuti arah kepala Yesung kemudian menaikkan sebelah alisnya. "Itu siapa, hyung?"
"Itu.."
"Itu..?"
"Iya itu.."
"Hei Kim Jongwoon! Siapa yang kau maksud! Aish!"
"Kubilang itu ya itu!" balas Yesung ngotot sambil memelototkan matanya ke arah sebuah tiang.
"Aish! Kalian berdua berhentilah bersikap bodoh!" bentak Sungmin yang sudah tak tahan dengan tingkah autis kakak dan adiknya.
Dengan kesal, Sungmin berniat kembali mengangkat mejanya tapi Kyuhyun segera menahan pergerakannya. "Ya! Ya! Ya!" Sungmin menolehkan kepalanya sambil menampakkan ekspresi "Apa lagi sekarang?"
"Siapa yang menyuruhmu terus mengangkat ini?" tanya Kyuhyun sambil mengetukkan buku jarinya pada meja yang semula diangkat Sungmin. "Sudah ada aku," ucap Kyuhyun sambil menepuk dadanya sok pahlawan.
Sungmin mengentalkan ekspresi muramnya namun Kyuhyun tak terpengaruh dengan hal itu, dia justru menoleh pada Yesung dan kembali menanyakan tentang sosok yang sudah membuat ulah pada Sungmin.
"Siapa orangnya?"
"Zhoumi."
"Heh? Jomyuk sok keren itu? Cih! Awas saja tiang listrik itu, berani sekali mencari masalah denganku!" desis Kyuhyun lalu mengangkat meja dengan gusar.
Situasi akan memburuk dan Sungmin sadar betul akan hal itu. "Seharusnya hyung tidak mengatakan hal seperti ini pada Kyuhyun."
"Biar saja," sahut Yesung dengan puas. Tak memedulikan tampang lesu Sungmin, namja berjari pendek itu bergegas mengangkat meja untuk menyusul Kyuhyun. Jujur saja ia penasaran dengan apa yang akan Kyuhyun lakukan pada Zhoumi.
Jika menyangkut orang-orang yang menganggu kenyamanan Sungmin, Yesung yang dikenal memiliki sikap tenang justru cenderung mendukung Kyuhyun yang selalu main serang tanpa peduli sasarannya.
Saat pintu kelas dibuka dengan dorongan yang sengaja dibuat sekeras mungkin, Sungmin paham jika itulah awal ledakan kemarahan adiknya.
Sepasang eyeball milik bungsu Cho langsung menelisik setiap sudut kelas, mengamati dengan jengkel satu persatu murid di kelas Sungmin yang justru balas menatap penuh kagum padanya. Sedetik kemudian bisik-bisik riuh para yeoja terdengar ke telinganya. Namun, tujuannya ke mari bukan untuk mengurus hal sejenis itu. Urusannya adalah dengan orang itu.
Orang dengan tampilan terlalu berkelas hingga terlihat aneh di antara siswa-siswa lainnya. Orang itu sedang duduk santai di deretan bangku tengah sambil menatap tenang padanya. Kyuhyun ingat betul jika itu tempat duduk Yesung dan Sungmin.
"Oh, aku rasa tuan parasit kembali berulah," gumam Dara dengan nada cukup keras, hal itu memancing bisikan riuh yang semula tertuju untuk mengagumi ketampanan Kyuhyun beralih pada sosok Sungmin yang berdiri di belakang sang flower boy tanpa membawa meja yang seharusnya berada di tangannya.
Kyuhyun bergeming namun matanya beralih menghujam pada sinis mata nona cantik bermarga Park membuat sosok yang ditatap langsung tersenyum kikuk.
"Oh demi Tuhan maknae! Bisakah kau masuk sekarang? Aku lelah," keluh Yesung menginterupsi niat Kyuhyun untuk mendamprat Sandara.
Kepalanya menoleh ke arah Sungmin yang masih menampakkan raut lesu. "Kau mau di sebelah mana, hyung?"
Sungmin hanya mengedikkan bahu. "Terserah kau saja, tapi sebaiknya di belakang."
Tanpa banyak bicara Kyuhyun langsung mengangkat meja itu, Yesung menyusul di belakangnya sambil mengusulkan deretan bangku yang paling jauh dari jangkauan tiga nona berpenampilan dewasa dan juga teman 'baru' sekelas mereka.
"Kyuhyun-ssi, terimakasih sudah membantu, Sungmin-ssi," ucap guru kelas yang merasa tak enak hati pada Kyuhyun.
Setelah meletakkan bangku dengan derak yang cukup keras, Kyuhyun mengalihkan tatapannya pada sang guru. Sungmin sudah mengisyaratkan dengan pelototan mata tapi Kyuhyun mengabaikan hal itu dan memilih membuat konfrontasi sepihak.
"Seonsaengnim, tanpa mengurangi rasa hormat. Aku mengatakan ini agar kau bisa bersikap lebih bijak jika di lain kesempatan ada murid lain yang menginginkan meja teman sekelasnya. Seharusnya kau membiarkan murid baru untuk mengambil perlengkapannya sendiri, jangan memanjakan murid baru hanya karena dia melemparkan diri dari kelas yang katanya ekslusif."
Kyuhyun measakan sikutan di lengannya namun ia tetap melanjutkan kalimatnya. "Jika kau melakukan hal ini lagi, apalagi pada hyungku, aku tidak segan-segan melaporkan tindak diskriminasimu pada ketua yayasan, bukan pada donatur utama Neul Paran karena aku tahu itu tidak ada gunanya."
Zhoumi menahan diri untuk tak menolehkan kepalanya saat mendengar sindiran tajam Kyuhyun untuk ia dan keluarganya.
"Ne, saya minta maaf untuk hal itu."
Ekspresi apalagi yang harus Sungmin lukiskan di wajahnya, ia benar-benar serasa tak punya muka. Walaupun ia tahu niat Kyuhyun adalah membelanya, tapi cara yang dilakukan Kyuhyun memang selalu membuatnya tersudut.
Tidak, ia tidak ingin menyalahkan Kyuhyun mengingat memang cara pandang orang-orang lah yang selalu sinis terhadap dirinya.
"Kyuhyun-ah, terimakasih sudah membantu," ucap Yesung sambil mengedikkan kepalanya ke arah pintu. Menyadari pengusiran yang dilakukan Yesung, Kyuhyun langsung memutar bola matanya kemudian beralih menatap Sungmin.
"Aku harus kembali ke kelas."
"Ya, terimakasih untuk.. bantuanmu," ucap Sungmin setengah tak rela. Kyuhyun menyadari itu namun ia memilih tak peduli. "Jika kejadian seperti itu terulang, cepat beritahu aku," ini perintah dan Sungmin hanya bisa menganggukkan kepalanya daripada memperparah situasi.
"Kau harus berjanji untuk tak membuat situasi memburuk," bisik Sungmin saat Kyuhyun melayangkan tatapan penuh permusuhan ke belakang kepala Zhoumi.
"Ya, aku tidak berjanji," sahut Kyuhyun kemudian melangkah santai, mengabaikan Sungmin yang tengah melongo tak percaya.
Saat akan melewati Zhoumi, Kyuhyun dengan sengaja melambatkan langkahnya kemudian menyenggol keras bangku yang Zhoumi tempati hingga mau tak mau namja itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Kyuhyun yang tengah menyeringai padanya.
Untuk beberapa detik Zhoumi melihat dengan jelas kilatan jahat di mata si Cho bungsu.
"Annyeong seonsaengnim," pamit Kyuhyun dengan nada datar.
Setelah meminta siswanya mengerjakan latihan dengan suara intonasi tak jelas, sang guru dengan terburu-buru menyusul langkah Kyuhyun. Ia tahu betul jika Kyuhyun tak pernah main-main dengan ucapannya.
Kesempatan seperti itu jelas dimanfaatkan dengan baik oleh Hyuna dan dua sahabatnya.
"Aku rasa kau sengaja melakukan ini," ucap Hyuna sambil menekankan kata 'kau' seolah menunjukkan jika sindirannya memang ditujukan untuk Sungmin.
"Ya, kau sengaja melakukan ini agar Kyuhyun oppa dan Zhoumi oppa bertengar," kali ini Soyoung yang melemparkan tuduhan.
"Seperti yang kukatakan tadi, tuan parasit selalu memiliki cara untuk mencari perhatian pada Kyuhyun kami," sambung Sandara.
Sungmin hanya mengawasi mereka dengan tenang, membiarkan sindiran dan tuduhan-tuduhan kasar para yeoja itu masuk ke telinga kanan sebelum keluar secepat angin melalui telinga kirinya.
"Siapa yang mereka katakan Kyuhyun kami?" gumam Yesung sambil menatap bukunya di atas meja. Sungmin yang sudah melakukan hal itu sejak awal hanya bisa mengangkat bahunya.
"Setidaknya kau tahu diri, Sungmin-ssi."
'Tahu diri?' batin Sungmin sambil melayangkan tatapan datar pada gadis berambut pirang ikal. Sedetik kemudian tangannya terangkat mengisyaratkan Sooyoung yang berniat menyampaikan bualan untuk tak melanjutkan hal itu.
"Kita tidak saling mengenal dan aku tidak membutuh kalian. Jadi, berhenti bicara padaku untuk membuatku yakin bahwa kalian tahu diri."
Bisik-bisik riuh antara memuji dan mencela ucapan Sungmin mulai bersahutan sementara Hyuna, Sooyoung, dan Sandara hanya bisa menahan gemuruh emosi di dada mereka walau sejujurnya wajah tiga gadis cantik itu memucat untuk beberapa saat.
Yesung tersenyum kecil kemudian menyenggol bahu Sungmin. "Kau harus belajar banyak pada Kyuhyun untuk membuat muka lawanmu pucat pasi," bisiknya sambil terkekeh pelan.
Sungmin hanya mengedikkan bahu kemudian memulai pekerjaannya. Menanggapi orang yang tidak menyukai kita memang tidak pernah ada habisnya, yang ada situasi semakin memburuk dan kebencian semakin membesar. Tindakan bijak yang bisa dilakukan adalah membiarkan anjing menggonggong dan kita berlalu.
.
~(*o*)~
.
Hari selalu berlalu dengan cara yang sama, tidak ada yang spesial dan Sungmin menikmati itu. Seperti saat ini, ia baru saja memasuki rumah saat pemandangan Heechul tengah melangkah terburu-buru diikuti salah satu valet yang menyeret satu koper besar menyambut kedatangannya.
"Oh baby-ya, beruntung sekali kau pulang. Eomma jadi bisa mengatakan ini langsung padamu," ujar Heechul sambil terburu-buru mengakhiri teleponnya entah dengan siapa.
"Eomma harus pergi?" tebak Sungmin dengan nada sewajarnya.
Sang ibu menganggukkan kepala, tak lupa memasang raut penuh sesal. "Ya, eomma dan appa harus pergi ke Cina satu jam lagi. Ada rapat penting yang tak bisa ditinggalkan. Kami akan kembali secepatnya. Sebenarnya eomma bisa saja tak ikut, tapi appamu.."
"Aku mengerti eomma," sela Sungmin saat melihat Heechul tak lagi bisa menyampaikan rasa bersalahnya.
"Kyuhyun masih menemani Yesung hyung membeli sesuatu, aku bisa meminta Yesung hyung menginap untuk menemani kami. Butler Ahn dan yang lain juga bisa menemani kami, eomma tenang saja. Aku dan Kyuhyunnie akan baik-baik saja," imbuhnya.
Melihat senyum tulus penuh keyakinan dari putranya membuat Heechul langsung menghembuskan napas lega.
"Geuraeyo, eomma pergi sekarang ne? Jangan lupa katakan pada Kyuhyun bahwa eomma tidak akan lama," ucap Heechul setelah menempatkan satu ciuman kecil di pipi putranya.
"Josimhae eomma," pesan Sungmin yang dibalas dengan anggukan penuh kepastian oleh Heechul. Sejenak Sungmin menatap punggung ibunya kemudian melangkah ke kamarnya.
Sejak kecil Sungmin memang lebih mengerti kesibukan orang tuanya dibanding Kyuhyun yang selalu melayangkan protes dan melakukan aksi mogok makan jika kedua orang tuanya telat sedetik saja dari kepulangan yang sudah dijanjikan padanya.
Walaupun hubungan mereka—Hankyung dan Heechul—sebagai orang tua dengan Kyuhyun dan Sungmin sebagai anak tak memiliki masalah, tetap saja Heechul merasakan perbedaan yang mencolok saat ini.
Putra bungsunya yang dulu sangat manja dan tak suka saat orang tuanya harus pergi ke luar kota atau ke negara lain kini berubah seolah tak peduli. Kyuhyun tak pernah menanyakan untuk apa mereka pergi atau bertanya kapan orang tuanya kembali. Terkadang Heechul masih tak percaya jika Kyuhyunnya sudah beranjak dewasa dan tak lagi merengek seperti kebiasannya saat berusia 5 tahun.
"Tuan muda."
Sungmin menolehkan kepalanya, menemukan Butler Ahn yang tengah menatapnya. Sudah pasti bertanya apakah Sungmin memilih ingin mandi atau makan lebih dulu.
"Nanti saja, aku ingin tidur sebentar," ucap Sungmin yang langsung dibalas dengan anggukan sopan oleh namja paruh baya yang sudah bekerja pada keluarganya sejak Sungmin kecil. Ya, bisa dikatakan Butler Ahn lah yang merawat Sungmin dan Kyuhyun saat dua pentolan keluarga Cho sibuk dengan kegiatan lintas negara.
"Butler Ahn," panggil Sungmin saat melihat pria itu hendak berlalu dari hadapannya. Sejenak Sungmin mengutuk pelayan senior di mansionnya itu. Dia selalu menolak jika Sungmin dan Kyuhyun memanggilnya paman atau panggilan lebih akrab lainnya. Dia terlalu kaku dan profesional walau matanya selalu memancarkan kasih sayang.
"Aku rasa Yesung hyung akan menginap malam ini."
Dan satu lagi, Sungmin merasa sungkan jika memberi perintah atau meminta Butler Ahn untuk melakukan sesuatu. Ia cenderung menyampaikan permintaannya lewat kalimat yang menjurus ke arah maksudnya dan kabar baiknya, kepala pelayan di rumahnya ini cepat tanggap akan maksudnya.
"Ye. Akan saya siapkan kamarnya."
"Tidak, aku rasa percuma menyiapkan kamar untuk Yesung hyung. Nanti dia pasti tidur di kamar Kyuhyun. Yesung hyung menyukai makanan sejenis buatan Mc Donald dan.. tuna mungkin."
Butler Ahn langsung mengangguk. "Ye. Akan saya siapkan."
Setelah Sungmin balas mengangguk, Butler Ahn segera berlalu untuk menyiapkan permintaan tuan mudanya.
"Aku bisa tidur dengan nyenyak setelah ini," gumam Sungmin sambil melangkah malas-malasan ke kamarnya.
Sekolah hari ini sedikit lebih buruk dari hari-hari biasanya. Penyebabnya apalagi jika bukan karena teman sekelas barunya yang bernama Jomyuk alias Zhoumi. Sindiran-sindiran sinis Sungmin dapatkan dua kali lipat lebih banyak hari ini. Beruntung ia bisa mengendalikan emosi Kyuhyun, kalau tidak ia tak tahu lagi akan jadi seperti apa situasi Neul Paran School hari ini.
Keluarga Cho adalah salah satu donatur di Neul Paran School, tapi keluarga Zhoumi adalah donatur utama karena itu Zhoumi dikabarkan menjadi satu-satunya murid yang menempati kelas ekslusif di Neul Paran School. Kyuhyun bukannya takut pada status donatur utama yang melekat dalam keluarga Zhoumi, ia hanya berpikir dua kali untuk kemungkinan terburuk. Nama kedua orang tuanya bisa menjadi taruhan jika ia melakukan hal-hal buruk pada putra tunggal keluarga terkaya di Seoul itu.
'Aku menunggu saat-saat yang tepat untuk memberinya pelajaran.'
Sungmin mendengar jelas apa yang Kyuhyun gumamkan saat Sungmin membujuk Kyuhyun untuk tak memperpanjang masalah dengan Zhoumi. Entahlah, Kyuhyun memang susah dikendalikan jika sudah menyangkut orang-orang yang berani menentangnya.
Setelah Sungmin pergi ke kamar dan menikmati tidur sesaatnya, Kyuhyun dan Yesung tiba di rumah dengan obrolan yang terlihat sangat seru.
"Maknae kau masih 17 tahun, yang boleh masuk minimal berusia 18 tahun. Lagipula kenapa kau tiba-tiba berpikir untuk pergi ke sana."
"Apa yang kau pusingkan, hyung? Aku bisa melakukan hal yang lebih berani daripada itu, jadi bisa kupastikan kau akan masuk ke sana bersamaku. Kau tenang saja," ucap Kyuhyun sambil melemparkan tatapan "Apa yang tak bisa dilakukan oleh Cho Kyuhyun?"
"Aku yakin kau bisa mendapatkan itu, tapi Sungmin? Aku tak yakin dia berminat untuk ikut. Sebelum kau selesai bicara dia pasti sudah memulai ceramah menyebalkannya," sahutan Yesung yang benar seratus persen itu membuat Kyuhyun berpikir ulang.
Orang tua mereka walaupun memiliki kesibukan luar biasa tetap mengawasi tindak tanduk putranya. Hankyung dan Heechul melarang keras mereka berdua untuk pergi ke tempat minum-minum sebelum usia mereka 20 tahun. Saat memasuki mansionnya, salah satu valet menyampaikan jika orang tua mereka sedang pergi dan tak meninggalkan pesan karena harus terburu-buru. Ini kesempatan langka, bukan? Jika ia dan Yesung pergi lalu Sungmin tidak ikut, apa bagusnya?
"Aku tidak percaya jika saat ini aku mendukungmu untuk pergi ke tempat semacam itu. Setidaknya nanti jika kau berusia 20 tahun itu sudah pantas," desah Yesung sambil mengikuti langkah Kyuhyun ke kamar Cho bungsu.
Detik ini bersikap seperti pendukung, satu detik kemudian bersikap seperti pendosa yang seolah tak akan mendapat ampunan. Sikap Yesung yang tak tentu terkadang membuat Kyuhyun jengkel setengah mati.
"Jika kau tak ingin pergi, katakan saja. Aku bisa pergi berdua dengan Sungmin hyung dan itu adalah pilihan yang sangat bagus.."
"Jika dia mau pergi bersamamu," imbuh Yesung saat Kyuhyun setengah hati melanjutkan kalimatnya.
Sambil mendesah gusar, Kyuhyun membenarkan kalimat Yesung. "Kau benar hyung. Jadi, buat keputusan sekarang. Kau akan pergi atau tidak?" suruh Kyuhyun dengan nada sedikit memaksa.
"Maknae, di sana bukan hanya ada soju. Bar high class sejenis itu sudah pasti menyediakan bir dan wine kualitas terbaik. Aku hanya berpikir, bagaimana jika kau terlalu banyak minum kemudian mabuk."
"Aku tidak pernah mabuk," sela Kyuhyun sambil menggoyangkan telunjuknya. Wajahnya memasang ekspresi ejekan atas ucapan Yesung. Desahan tak yakin kembali terdengar dari mulut Yesung.
"Oh hyung, apa-apaan kau ini? Kau sudah 19 tahun dan masih mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di bar? Tidak asik sama sekali, ayolah! Sungmin hyung kupastikan ikut."
"Haaahh, baiklah. Terserah kau saja."
Senyum puas terkembang di bibir Kyuhyun. 'Sekalian membuat keributan kecil di sana,' batinnya.
Setelah berganti pakaian dan membiarkan Yesung berisitirahat di kamarnya, namja itu berniat menemui Sungmin untuk membujuk kekasih tercintanya agar mau pergi bersama mereka nanti malam.
"Tuan muda."
Kyuhyun menolehkan kepala diikuti Yesung.
"Ne?"
"Tuan muda Sungmin sedang beristirahat di kamarnya. Apakah tuan muda ingin makan atau mandi terlebih dahulu?"
Yesung menyikut lengan Kyuhyun. "Batalkan saja rencanamu, Sungmin tidak akan bangun sampai besok pagi."
"Besok pagi kepalamu hyung! Dia belum makan!" sembur Kyuhyun membuat Yesung langsung menekuk wajahnya. "Nanti saja," ucapnya kemudian. Melihat tatapan Kyuhyun yang tertuju padanya. Butler Ahn langsung mengerti jika ucapan itu ditujukan untuknya.
"Baiklah. Tuan muda Yesung ingin makan atau mandi lebih dulu?"
"Aku lapar, jadi aku pilih makan," sahut Yesung jujur. Makanan di keluarga Cho sangat enak, banyak tuna dan daging yang tersedia di atas meja makan jika setiap ia makan di sana.
"Ye. Sesuai permintaan Tuan muda Sungmin saya sudah menyiapkan burger, spaghetti, dan pizza dan karena Tuan muda Sungmin mengatakan Anda menyukai daging tuna, saya sudah mengganti daging dengan tuna."
Tak terlalu mendengarkan penjelasan Butler Ahn selanjutnya, Yesung lebih fokus membayangkan dirinya tengah meneteskan air liur saat menatap makanan kesukaannya plus tuna pula. 'Aku harus sering-sering menginap di sini,' pikir Yesung sambil mengusap air liur dalam bayangannya.
Tiba-tiba pikirannya beralih pada Sungmin. 'Dia memang sangat baik sejak awal,' batin Yesung mengenang awal kedekatan mereka.
Keluarga Yesung berasal dari kalangan biasa. Orang tuanya membuka kios di pasar sayur dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk berada di sana. Dapat mengenyam pendidikan di sekolah elit seperti Neul Paran adalah impian terbesarnya.
Di tahun pertamanya masuk Taman Kanak-kanak, Yesung tak memiliki teman karena teman-temannya selalu menganggap pria bermata sipit itu tidak satu kalangan dengan mereka. Di tahun kedua dia mengenal Sungmin. Satu tingkat di bawahnya, anak orang kaya, tapi poin bagusnya, Sungmin tidak pernah membedakan status sosial. Ia ingat kalimat yang pertama Sungmin lontarkan untuknya.
'Hyung, kenapa sendiri? Ayo main denganku.'
Yesung terlalu penyendiri, teman-teman Sungmin berusaha menjauhkan Sungmin dari Yesung namun Sungmin tetap berteman dengannya. Sejak itulah mereka dekat. Bahkan saat keluarga Yesung tak lagi mampu membiayai pendidikan untuk Sekolah Menengah putranya, Sungminlah yang meminta pada Heechul untuk membuat Yesung berada di sekolah yang sama dengannya.
Tepukan yang Kyuhyun lakukan keras-keras di depan wajahnya langsung membuyarkan lamunan Yesung. Pemuda berambut emo itu tersadar kemudian menatap Butler Ahn bersiap mengangguk setuju untuk segera makan.
"Yesung hyung juga makan nanti."
Geezzz! Seperti mendapatkan siraman seember air es di tengah musim dingin, raut wajah Yesung langsung membeku saat mendengar keputusan sepihak yang Kyuhyun buat.
"Tapi.."
"Ayo hyung!" ajak Kyuhyun sambil menyeringai kejam kemudian menyeret tas Yesung membuat namja itu melayangkan teriakan protes.
"Maknae tidak! Aku lapar! Maknae! Lepaskan! Aku lapar! Maknaeeeee!"
Butler Ahn hanya bisa menatap Yesung yang sudah memasuki kamar Kyuhyun kemudian tersenyum tipis sebelum berlalu.
.
~(*o*)~
.
Jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit saat mereka memulai makan malam. Terlalu malam untuk dikatakan makan malam mungkin, tapi salah satu dari tiga namja itu terlihat begitu menikmati makan malam indahnya seorang diri. Yesung terus melahap pizzanya setelah menghabiskan sepiring spaghetti dan dua burger.
Dua orang maid memasuki ruang makan sambil membawa makanan pencuci mulut. Dalam hati Yesung berharap itu adalah puding coklat dengan saus keju bertabur kismis dan potongan kiwi di atasnya. Walaupun sedikit aneh dan tidak jelas rasanya, Yesung menyukai makanan yang juga sangat disukai Nyonya besar Cho.
Di rumah, ibunya selalu mengeluh saat Yesung meminta ibunya membuat puding seperti itu. Selain rasanya tak seenak buatan koki keluarga Cho, teksturnya pun kadang aneh, itu membuat puding buatan mereka tidak pernah bisa dikatakan berhasil.
"Tuan muda," panggil Butler Ahn saat melihat makanan Sungmin yang belum disentuh sama sekali. Sejak tadi pria manis itu menatap Kyuhyun yang tengah mengabiskan makan malamnya.
Bukan karena Kyuhyunnya yang tampan, tapi karena perkataan yang Kyuhyun ucapkan beberapa saat yang lalu. Mengerti dengan maksud butler keluarganya, Sungmin segera menganggukkan kepala.
"Aku tidak lapar. Aku berjanji akan menghabiskan pudingku saja."
Yesung bersorak dalam hati, benar-benar puding rupanya. Sedetik kemudian ia menatap Kyuhyun yang tengah melirik Sungmin, rupanya si sulung Cho itu masih menentang keinginan Kyuhyun lewat tatapan mata yang biasanya terlihat sangat polos.
'Pergi ke bar katamu!'
Ia mengingat jelas jika Sungmin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang terbilang tinggi tepat setelah Kyuhyun mengatakan keinginannya untuk pergi bersama ke bar.
"Ming, makan sesuatu!" bisik Kyuhyun sambil melayangkan tatapan penuh tuntutan pada Sungmin. Walaupun tengah kesal dengan rencana konyol Kyuhyun, setidaknya jangan mengabaikan perut yang memiliki jadwal makan malam.
Mendengar desisan Kyuhyun, Yesung kembali mengamati Cho bersaudara kemudian melihat Sungmin yang meraih pudingnya setengah hati.
"Kalau kau tidak mau, aku bisa menghabiskannya, Min."
Sungmin langsung bergerak menyodorkan pudingnya pada Yesung kemudian melukiskan senyum penuh terimakasih. "Aku memang sedang tidak lapar hyung, habiskan saja ne?"
Salah besar! Kyuhyun langsung melotot marah pada Yesung yang kini tengah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Kau.." desis Kyuhyun sambil memegang kuat sumpitnya.
"Tidak apa-apa hyung, jangan pedulikan Kyuhyunnie. Dia bercanda," ucap Sungmin sambil mengibaskan tangannya. Yesung tahu Sungmin berbohong, tahu dengan sangat karena Kyuhyun masih mengeratkan genggaman pada sumpitnya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu," ucapnya tak nyaman.
"Aku bisa meminta Butler Ahn menyiapkan ratusan puding dan makanan apapun yang kau suka hyung!"
"Kyuhyun-ah, jangan berlebihan. Hanya masalah puding."
"Hanya katamu?" ulang Kyuhyun sambil menaikkan sebelah alisnya. "Aku tahu Yesung hyung hanya bercanda mengatakan itu dan kau menganggapnya serius. Memberikan satu-satunya makanan yang kudengar akan kau habiskan. Lalu apa yang kau makan setelah ini?"
Mr hothead. Sungmin ingin sekali mengatakan itu pada Kyuhyun tapi ia menahan diri untuk hal ini. "Aku sedang tidak lapar. Aku hanya ingin tidur," ucap Sungmin kemudian berdiri dari kursinya. Menatap Kyuhyun sejenak kemudian beralih pada Yesung yang tengah menikmati puding tercintanya.
"Aku selesai."
Kyuhyun hanya mendengus tak percaya saat Sungmin berbalik, berlalu dengan santai meninggalkan ruang makan. Ingin tidur? Bukankah ia baru saja bangun tidur. Dengan kesal ia melempar sumpitnya kemudian menggenggam gusar rambutnya hingga acak-acakan. Yesung hanya mengangkat kepalanya kemudian kembali fokus menyendok pudingnya.
"Maknae soal puding milik Sungmin, aku benar-benar hanya bercanda."
"Aku tahu, hyung. Habiskan pudingku juga," ujar Kyuhyun kemudian bangkit dengan menghentak kursinya.
Yesung hanya menatap punggung Kyuhyun kemudian beralih menatap puding milik Kyuhyun dan Sungmin bergantian. "Eomma bilang membuang makanan itu tidak baik. Aku tidak tahu perutku muat atau tidak, tapi yang pasti aku akan berjuang menghabiskan ini," ucap Yesung kemudian mengangkat tangannya sendiri.
"Hwaiting!"
Selagi Yesung berjuang menghabiskan makanannya, Kyuhyun terlihat memasuki kamar Sungmin dan menemukan kakak sekaligus kekasih tercintanya tengah duduk di atas kasur, memegang buku dengan menggunakan kacamata baca yang bertengger di hidung lancipnya.
Seolah mengabaikan keberadaan Kyuhyun, Sungmin kembali pada bukunya. Membuat dirinya terlihat sangat fokus.
"Ming," panggil Kyuhyun. Sungmin hanya menatap Kyuhyun kemudian menjawab dengan gumaman. Kyuhyun mendesah pelan kemudian berdiri tepat di hadapan Sungmin. "Sayang, aku hanya menyampaikan rencanaku, jika kau tak ingin pergi cukup katakan tidak, jangan marah seperti ini."
"Aku tidak marah," sahut Sungmin seadanya. "Tapi kau sedang melakukan itu sekarang," balas Kyuhyun. "Aku tahu kau marah karena aku berniat melanggar aturan yang dibuat eomma.."
"Ini tidak ada hubungannya dengan itu," sela Sungmin sambil menutup bukunya. Membuka kacamata kemudian meletakkan keduanya pada meja yang ada di sebelah kasurnya. "Aku dengar Zhoumi akan melakukan party bersama teman-teman sekelas kami di bar yang kau maksud. Apa kau diundang olehnya?" pertanyaan yang kental akan sindiran itu mau tak mau membuat Kyuhyun mengumpat dalam hati.
Yesung juga sekelas dengan Zhoumi, kenapa ia tak mencurigai niat Kyuhyun seperti Sungmin?
"Buang jauh pemikiran tentang kau akan melakukan sesuatu di pestanya, Kyuhyun-ah."
"Kenapa? Kau membelanya?" tuduh Kyuhyun sambil menyipitkan mata. Sungmin hanya mendesah pelan. "Terserah kau saja," sahutnya dengan dengan nada lelah kemudian berbalik, memunggungi Kyuhyun sambil menarik selimutnya.
Pengusiran halus dan Kyuhyun tak bodoh untuk memahami itu.
"Memang begitu seharusnya. Siapapun yang sudah membuatku marah karena kau, harus menanggung akibatnya termasuk teman sekelas barumu itu!"
Dalam hitungan detik, langkah Kyuhyun terdengar menghentak di lantai kamar Sungmin sebelum pintu berwarna putih gading dengan name tag Cho Sungmin itu terbanting dengan bunyi yang cukup keras. Sungmin hanya bisa menolehkan kepalanya ke arah pintu kemudian menghela napas. Entahlah, ia tak tahu jenis kenekatan apalagi yang akan Kyuhyun lakukan kali ini.
"Zhoumi, aku hanya berdoa semoga kau baik-baik saja."
TBC
Holla~
Just share chapter 2 :D
Terimakasih untuk respon yang sangat memuaskan chingudeul :D Walaupun repost chingudeul masih berbaik hati meninggalkan jejak, itu bikin saya terharu banget #duagh
Nah, buat yang ternyata baru sadar saya pernah publish ini fic, silahkan dinikmati.
Sesi tanggapan review insyaallah mulai chapter depan~~
Bye~ bye~ :*
Sampai jumpa next chap :D
Maaf buat typo yang masih sangat berantakan, saya males ngedit #dibom
NEXT!
RCL please~
Gomawo udah baca \(*o*)/
