Instant Princess

Pair and Cast:

Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)

Kim Taehyung (V)

Jeon Jungkook (Jungkook)

Park Jimin (Jimin)

Min Yoongi (Suga)

Jung Hoseok (J-Hope) x Lee Jihoon (Woozi)

Rated: T

Length: Chaptered

Summary:

Seokjin yakin dia adalah orang yang 'cukup' baik, dia rajin bekerja, membantu orang tuanya, dan tidak keberatan memiliki adik cerewet dan suka gossip seperti Jungkook. Tapi kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang amat sangat berat seperti menjadi istri dari Kim Namjoon, sang Putera Mahkota Korea Selatan? / NamJin, slight! Other couple, GS, AU.

Warning:

Fiction, AU, GS! for Seokjin, Jungkook, Yoongi, and Jihoon. Inspired by Princess Hours.

.

.

.

Enjoy!

.

.

.

Chapter 1

Setelah menghabiskan sisa harinya di toilet kampus dengan bongkahan es batu, sisir, shampoo, dan handuk kecil, akhirnya Jungkook berhasil menyelamatkan rambut kakaknya dari permen karet. Dan Jungkook bersumpah dia akan membunuh kakaknya kalau sampai gadis itu makan permen karet lagi.

Karena sungguh, membersihkan rambut Seokjin yang terkena permen karet itu seperti siksaan neraka paling dasar. Seokjin terus saja mengomel dan menggerutu, dan untungnya, sebagai adik yang baik, Jungkook sama sekali tidak keberatan untuk terus membantu Seokjin mengurus rambutnya yang malang.

Seokjin memperhatikan ujung rambutnya yang sudah bersih dari permen karet. "Untunglah permen karet sial itu bisa lepas juga."

Jungkook memutar bola matanya, "Tentu saja. Itu karena aku yang membantumu. Aku yakin kalau kau melakukannya sendiri, kau akan memotong rambutmu karena frustasi."

Seokjin melirik adiknya, "Hmm, terima kasih ya, Kookie."

"Iya, Eonnie. Sebenarnya daripada itu, aku lebih memperhatikan nasib kita nanti."

"Hah? Ada apa dengan kita? Kita belum terjebak di sini, kok. Gedung utama belum dikunci."

Jungkook berdecak, "Bukan itu maksudku! Eonnie, apa kau tidak sadar kalau kau baru saja mengumpat di hadapan Putera Mahkota? Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau dia menuduh kita tidak sopan lalu kita akan dipenjara? Bagaimana ini?"

"Whoaa, chill! Aku tidak melihat adanya masalah di sini. Aku mengumpat karena permen karet di rambutku, bukan karena Putera Mahkota."

"Eonnie, kau terlalu santai. Apa kau sama sekali tidak memikirkan konsekuensinya?"

"Apa? Aku hanya tidak sengaja bertabrakkan dengannya. Itu kecelakaan."

"Kau bertabrakkan dengannya?! Apa kau minta maaf padanya?!"

Seokjin mengerutkan dahinya, "Ya, aku ingat aku sempat mengatakan 'maaf' padanya."

Jungkook menepuk dahinya, "Habislah kita."

"Hei, kenapa sih? Toh si Putera Mahkota itu baik-baik saja. Justru aku yang mendapat masalah karena permen karet sial yang menempel di rambutku."

"Persetan dengan rambutmu, Eonnie. Nasib kita jauh lebih penting! Bagaimana kalau nanti kita dieksekusi?"

"Dieksekusi hanya karena tidak sengaja bertabrakkan dengan Putera Mahkota? Kau pikir kita ada di zaman apa? Santailah sedikit."

Jungkook menggeleng pasrah, "Astaga, terserah lah."

.

.

.

.

.

.

.

Seokjin menguap pelan dan menggaruk kepalanya, dengan malas-malasan dia meraih alarmnya dan mematikannya. Dia menguap dan menggeliat pelan sebelum kemudian dia berjalan keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke arah kamar mandi dan mencuci mukanya dalam kondisi setengah sadar.

Setelah selesai, Seokjin berjalan ke arah ruang makan karena dia yakin anggota keluarganya yang lain berada di sana.

"Ibuuuu! Aku lapar!" ujar Seokjin dengan mata setengah terpejam seraya berjalan memasuki ruang makan.

Seokjin membuka matanya dan melihat ketiga anggota keluarganya yang lain tengah menatapnya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.

"Apa?" ujar Seokjin seraya menyisir rambutnya dengan tangan, dia berpikir mungkin 'gaya rambut setelah bangun tidur'nya terlalu luar biasa hingga membuat keluarganya speechless seperti itu.

Jungkook menunjuk layar TV yang menyala dan terlihat dari ruang makan mereka. Seokjin menoleh ke arah TV dan dia melihat seorang pembaca berita sedang membacakan berita mengenai pernyataan resmi istana yang menyatakan kalau Putera Mahkota sudah menetapkan calon istrinya dan orang itu adalah seorang gadis bernama Kim Seokjin.

Seokjin mengangguk paham, 'Ooh, si Putera Mahkota itu akan menikah dengan Kim Seokjin..' batinnya dan di dua detik berikutnya mata Seokjin melebar. Dia melesat dengan kecepatan luar biasa ke depan TV mereka dan mencengkram TV itu.

Dia memperhatikan layar TV dengan seksama dan dia melihat fotonya berada di TV dan diberitakan sebagai calon istri Putera Mahkota. Seokjin melepaskan cengkramannya pada TV dan menampar pipinya sendiri.

"Aku pasti bermimpi. Ya, aku pasti bermimpi." Seokjin memejamkan matanya dan menggumamkan kalau dia pasti bermimpi berulang kali. Dan setelahnya dia menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan dan membuka matanya.

Hal pertama yang menyapa matanya adalah foto dirinya yang disandingkan dengan foto Putera Mahkoka.

"GYAAAAA! APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!" jerit Seokjin akhirnya.

Seokjin merasakan tarikan keras di lengannya dan dia merasakan dirinya diseret ke ruang makan oleh Jungkook. Jungkook mendudukkan dirinya di kursi dan Seokjin hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong.

"Sayang, sekarang coba jelaskan pada Ibu. Apa kau akan benar-benar menikah dengan Putera Mahkota? Apa kau mengenalnya?"

Seokjin menggeleng dengan wajah bingung luar biasa. "Tidak, Ibu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku.." Seokjin mencengkram rambutnya, "Aaah, sial! Kenapa ini terjadi padaku?!"

Jungkook meringis pelan, Ibunya tersenyum sedih, sementara Ayahnya menepuk-nepuk bahu Seokjin.

"Sudahlah, sekarang sebaiknya kau mandi, lalu sarapan. Ayah akan mengantarmu ke kampus, kau ada kelas pagi, kan?"

"Aku akan ikut untuk menjaga Eonnie. Kurasa para fans Putera Mahkota akan menghabisi Eonnie nanti." Jungkook berujar seraya menatap ayah dan ibunya.

Ayahnya mengangguk, "Tentu, kau boleh ikut."

.

.

.

.

.

.

.

Perjuangan Seokjin untuk pergi ke kampusnya benar-benar tidak mudah. Wartawan mengerubungi rumahnya hingga ayahnya kesulitan mengeluarkan mobilnya dari garasi rumah mereka, dan saat tiba di kampus pun, wartawan lainnya sudah menunggu dan ini benar-benar membuat Seokjin stress.

Kemarin dia masih berjalan santai dan sekarang dia sudah dikejar-kejar wartawan? Hidup memang tidak terduga.

Jungkook berhasil menarik Seokjin ke dalam gedung utama, mereka berdua menghembuskan nafas lega seraya bersandar di dinding koridor.

"Aku tidak pernah tahu kalau wartawan seganas itu." Jungkook bergidik ngeri.

Seokjin mengatur nafasnya perlahan, "Ya, mereka menyeramkan."

Jungkook menarik pelan lengan Seokjin, "Ayo, kita harus segera ke kelasmu."

"Kau akan menungguku sampai kelasku selesai?"

Jungkook mengangguk pelan, "Ya, aku akan menetap di cafeteria."

Seokjin tersenyum kecil, "Terima kasih, Kookie."

Jungkook mengibaskan sebelah tangannya, "Bukan masalah."

Sepanjang perjalanan mereka menuju kelas, mereka mendapatkan ratusan tatapan yang dilayangkan pada mereka. Sebagian adalah tatapan benci, sementara sebagian lagi adalah campuran dari tatapan heran, bingung, menilai, dan jelas meremehkan.

Seokjin dan Jungkook berjalan cepat ke kelas Seokjin dan saat sampai di kelas, Seokjin segera melesat masuk ke kelasnya dan duduk di bangku yang berhadapan dengan meja dosen. Dia jelas tidak mau duduk di belakang dalam situasi tidak aman seperti ini, duduk tepat di depan dosen adalah yang terbaik.

Seokjin menatap sekeliling kelas dengan ragu-ragu dan dia melihat nyaris semua mahasiswi yang merupakan fans Namjoon menatapnya dengan pandangan benci.

Seokjin menundukkan kepalanya, "Tuhan.. dosa apa yang sudah aku perbuat sampai aku mengalami hal semacam ini?" gumamnya.

.

.

.

.

.

.

.

Namjoon terkekeh pelan seraya memperhatikan layar TV di hadapannya. Dia tengah berada di ruangan khusus untuknya yang memang berada di universitas itu. Dia memperhatikan liputan langsung dari rumah 'calon istri'nya tadi pagi, dia melihat wajah bingung Seokjin yang terlihat amat sangat lucu di mata Namjoon.

"Dude, apa kau sudah mulai gila?"

Namjoon menoleh dan dia melihat Hoseok tengah menatapnya, Namjoon tertawa. "Aku tidak gila. Hanya saja, wajahnya memang lucu sekali."

Hoseok menoleh ke arah TV, "Aah, maksudmu wajah calon istrimu?" Hoseok menoleh ke arah Namjoon, "Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sampai kau mengatakan kalau dia adalah calon istrimu? Aku bersumpah kau tidak pernah mengenalnya sebelumnya."

Namjoon tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Aku memang tidak mengenalnya, aku bertemu dengannya kemarin, dan aku meminta asistenku untuk mencari informasi soal dirinya, kemudian aku mengatakan kepada Nenek kalau aku berniat menikahinya. Selesai."

"Aah, jadi itu sebabnya Yang Mulia Ibu Suri langsung mengadakan pengumuman resmi tadi malam. Aku yakin dia senang sekali melihatmu yang akhirnya menemukan calon istri." Hoseok melirik wajah Seokjin yang terpampang di TV, "Tapi, ngomong-ngomong, sebenarnya siapa Kim Seokjin ini?"

"Dia mahasiswi di sini, jurusan Seni."

"Ya, aku tahu soal itu. Di TV juga dibahas mengenai kuliahnya dan wartawan menduga kau dan Seokjin adalah sepasang kekasih karena kalian berada di universitas yang sama. Tapi aku yakin bukan itu alasannya, kan?"

"Memang bukan. Aku hanya tertarik padanya, dia berbeda dan aku suka itu."

"Aku tidak mengerti."

"Dia tidak tertarik dan menatapku dengan pandangan memuja seperti yang lainnya."

"Seperti Min Yoongi?" Hoseok terkekeh, "Aku tidak bisa membayangkan apa kiranya reaksi gadis itu saat melihat berita ini. Dia kan cinta mati padamu."

Namjoon tertawa lagi, "Yoongi tidak cinta mati padaku. Kalau saja gadis penuh arogansi tinggi itu mau berhenti sejenak dari kegiatannya mengejar-ngejarku, dia pasti tahu kalau sekeretarisnya sendiri jatuh cinta padanya."

"Aah, maksudmu Jimin? Ya, aku kasihan padanya. Dia jatuh cinta sepenuh hati pada gadis arogan seperti Yoongi." Hoseok menggeleng pelan.

"Setidaknya aku aman karena Yoongi masih berada di Paris untuk urusan mode. Aku beruntung dia tidak sedang berada di Korea, kalau dia berada di sini, mungkin Seokjin sudah dihabisi olehnya." Namjoon tertawa keras.

"Kau positif gila, Yang Mulia." Hoseok berdecak pelan kemudian dia mengalihkan pandangannya saat ponselnya berdering keras. Dia mengambilnya dan melihat kalau kekasihnya menghubunginya.

"Ah, sebentar, Jihoonieku menelepon." Hoseok mengangkat panggilan itu, "Yes, Baby?"

"Oppa! Oppa sudah lihat berita soal Namjoon Oppa?"

"Ya, sayang. Bahkan saat ini Oppa sedang bersama dengan Putera Mahkota kita."

"Astaga, Namjoon Oppa memang benar-benar tahu caranya membuat seluruh dunia gempar. Eonnieku marah-marah dan mengamuk, aku bahkan ragu Jimin Oppa bisa menenangkannya."

Hoseok melirik Namjoon yang masih tersenyum-senyum seraya menatap layar TV. "Ya, Putera Mahkota kita memang gila."

"Oppa, kurasa Eonnie membatalkan rencanya untuk menetap sebulan lagi di Paris. Kurasa dia akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke Korea."

"Hmm, kurasa perang dunia akan segera terjadi."

"Haah, aku benar-benar kasihan pada Jimin Oppa. Kenapa orang sebaik dan selembut Jimin Oppa harus jatuh cinta pada Eonnieku yang kejam?"

"Sayang, Yoongi itu kakakmu, tidak baik berbicara seperti itu."

"Justru karena dia kakakku, aku sudah mengenal mereka berdua sejak lama sekali dan aku tahu kalau Jimin Oppa adalah yang terbaik untuk Yoongi Eonnie. Hanya saja Eonnie benar-benar terobsesi pada Namjoon Oppa sampai dia melupakan Jimin Oppa."

Hoseok tertawa, "Kalau kau sangat peduli pada mereka, kenapa kau tidak mencoba mengatakan pendapatmu itu pada Yoongi?"

"Dan membuatku mati karena amukannya? Oppa, apa kau mau kehilangan calon istri?"

Hoseok tertawa, "Tentu saja tidak. Dimana lagi aku bisa menemukan gadis sepertimu, Jihoonie? Aku bisa mati kalau kau mati."

"Aish! Berhenti mengucapkan kata-kata cheesy seperti itu. Oh, sudah ya Oppa, aku harus masuk ke kelas, bell di sekolahku sudah berbunyi."

"Oke, selamat belajar, sayang~"

Hoseok memasukkan ponselnya ke sakunya setelah selesai, dia menatap Namjoon dan berdecak pelan. "Sampai kapan kau akan menonton berita itu, huh? Tidakkah kau memiliki jadwal kelas?"

"Aku ada kelas, kok." Namjoon melirik arlojinya, "10 menit lagi kelasku dimulai." Namjoon berdiri, "Oke, aku pergi dulu."

Namjoon berjalan dengan langkah ringan seraya bersiul riang, membuat Hoseok menghela nafas pelan.

Dia dan Namjoon adalah teman baik sejak mereka kecil. Namjoon adalah Putera Mahkota, sementara Hoseok adalah anak tunggal dari Perdana Menteri Korea Selatan, mereka berdua bersama Taehyung, sepupu Namjoon, adalah teman baik. Mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama hingga saat mereka menginjak bangku sekolah menengah mereka bertemu dengan Yoongi, putri pertama dari pengusaha sukses di Korea.

Mereka bersahabat hingga Taehyung memutuskan untuk pindah ke luar negeri untuk menemani ibunya yang sedang sakit. Di tengah lingkungan perteman itulah Hoseok bertemu Jihoon, adik Yoongi yang benar-benar membuatnya bertekuk lutut.

Sementara Jimin adalah pendamping Yoongi sejak Yoongi berusia 10 tahun, pemuda itu tumbuh besar bersama Yoongi dengan didikan sebagai teman main, bodyguard, asisten, dan tentunya partner terbaik Yoongi baik dalam urusan bisnis, sekolah, dan lainnya.

Jimin adalah satu-satunya orang yang tetap setia berdiri di sebelah Yoongi dan menemani gadis itu hingga lebih dari 10 tahun. Dia juga sama sekali tidak keberatan saat Yoongi terang-terangan menyatakan kalau dia menyukai Namjoon. Walaupun sebenarnya Jimin sakit hati karena dia mencintai Yoongi sejak lama.

.

.

.

.

.

Jungkook memainkan sedotan bubble teanya dengan malas. Kelas kakaknya masih akan berlangsung hingga satu jam lagi dan dia mulai bosan duduk diam di cafeteria.

"Hallo,"

Jungkook terlonjak kecil saat ada seseorang yang tiba-tiba saja menyapanya dan duduk di hadapannya. Jungkook mengerutkan dahinya dan memasang wajah curiga. "Siapa kau?"

Pemuda di hadapannya tertawa kecil, "Kau tidak mengenalku? Ah, aku terluka. Namjoon memang mencuri perhatian ya."

Jungkook mengerutkan dahinya semakin dalam, "Apa maksudmu?"

Pemuda di hadapannya mengulurkan tangan, "Kenalkan, aku Kim Taehyung."

"Kim Jungkook.." ujar Jungkook ragu-ragu.

"Aku sepupu Namjoon. Ayah Namjoon adalah kakak dari ayahku."

Jungkook mengerjap pelan, tunggu, dia bilang dia adalah sepupu Namjoon. Namjoon adalah Putera Mahkota dan itu berarti…

Jungkook menjerit saat dia sadar kalau pemuda di hadapannya adalah bagian dari keluarga kerajaan lainnya. Dia melompat bangun dan membungkuk sopan.

"Maafkan aku, Yang Mulia. Sungguh, aku benar-benar minta maaf." Jungkook berujar berulang kali dengan panik.

Taehyung tertawa pelan, "Hei, santai saja. Aku tidak akan marah karena hal semacam itu."

Jungkook menatap Taehyung dengan ragu-ragu.

"Duduklah, tidak baik membiarkan seorang gadis berdiri sementara aku duduk."

Jungkook duduk di hadapan Taehyung dan menundukkan kepalanya.

"Sebenarnya aku kemari karena mendengar berita soal sepupuku yang akan menikah. Tadinya aku mau menunggu di istana saja. Tapi kelihatannya datang ke sini akan lebih seru dan dugaanku tepat."

"Eh?"

"Aku jadi bisa bertemu denganmu." Taehyung tersenyum manis dan mau tidak mau wajah Jungkook merona.

.

.

.

.

.

.

.

Malamnya, setelah berita super mengejutkan dan membuat keluarga Seokjin harus berurusan dengan banyak wartawan. Segerombolan orang dengan pakaian serba hitam datang ke rumah keluarga Seokjin dan mengatakan kalau mereka adalah utusan dari istana.

Para pria utusan istana itu mengatakan kalau mereka mengundang keluarga Seokjin untuk datang makan malam ke istana dan bertemu dengan seluruh keluarga kerajaan besok malam. Mereka juga mengatakan bahwa setelah makan malam itu, Seokjin akan tinggal di istana untuk keperluan pendidikan awalnya sebagai seorang Puteri Mahkota.

"Maaf, tapi apakah saya boleh menanyakan sesuatu?" ujar ayah Seokjin.

"Ya, silakan, Tuan."

"Kenapa istana memilih puteri kami? Apa ada alasan khusus?"

"Putera Mahkota sendiri yang memilih Nona Seokjin untuk menjadi istrinya. Dan Yang Mulia Putera Mahkota tidak memberikan alasannya, dia hanya ingin Nona Seokjin menjadi istrinya."

Semua anggota keluarga Kim (kecuali Seokjin) membulatkan mata mereka.

"Benarkah?" ujar ibu Seokjin.

Pria utusan istana itu mengangguk, "Ya, Nyonya Kim."

"Waah, daebak!" ujar Jungkook kemudian dia melirik kakaknya yang terdiam dengan lesu.

Selama pembicaraan itu, Seokjin hanya duduk diam dengan pandangan kosong. Dia yakin sekali hidupnya akan berubah drastis sekarang.

To Be Continued

.

.

.

Hai!

Aku kembali membawakan chapter satu untuk kalian!

Terima kasih banyak untuk respon kalian. Tolong berikan tanggapan kalian lagi yaa~

.

.

.

Thanks