"Haruno Sakura?"

Merasa ada yang memanggilnya, gadis bernama Haruno Sakura tersebut menengadah. Lelaki berambut biru tua tampak berdiri di samping pintu masuk. Ia cukup kaget saat ada sosok lain di kelasnya saat ini. Setahunya, jam sekolah telah usai. Jika masih ada siswa di area sekolah maka kemungkinan besar mereka sedang mengikuti esktrakulikuler pilihan masing-masing.

"Kau masih di sini?" tanya lelaki tersebut yang ternyata adalah teman sekelasnya.

"Err ..., iya," jawab Sakura ragu-ragu, jemarinya membuka lembaran selanjutnya dari buku yang tengah ia baca. "Aku sedang menunggu hari sedikit teduh. Setelah itu aku baru akan pulang."

"Hn." Lelaki tersebut mendekat, "kudengar dari Kakashi-sensei kalau kau belum mengikuti ekskul apapun. Kenapa?"

Sakura terdiam sejenak, "Kurasa tidak ada satu pun ekskul yang cocok untukku." Sakura kini menutup bukunya. "Aku sudah coba klub seni rupa dan musik, tapi aku tidak bisa menyatu dengan anggota-anggotanya," ujar Sakura, "yah, memang kemampuanku masih pas-pasan sih di bidang itu."

"Tidak coba di klub olahraga?"

"Ah, tidak. Aku tidak jago dalam olahraga. Bisa-bisa aku ditertawai oleh orang-orang nanti. Hehehe." Sakura tertawa hambar.

"Kalau kau mau, kau bisa bergabung di klub voli. Kami sedang mencari seorang manager," tawar siswa lelaki tersbeut. "Manager kami sudah kelas tiga, tahun depan dia akan lulus SMA."

"Terimakasih, tapi—"

"Ini formulirnya," siswa tersebut meletakkan selembar kertas berisi tulisan data diri di atas meja Sakura, "aku harap kau mau mencobanya lebih dulu. Sayang sekali jika siswi kompeten sepertimu tidak mengikuti satu klub pun di sekolah." Ia lalu menjauh lagi dari meja Sakura. "Kami berada di gym nomor tiga, datang saja jika kau tertarik."

"Uchiha-san, tunggu!" panggil Sakura, sosok yang dipanggilnya pun berhenti. "Kau yakin tidak apa-apa jika aku bergabung dengan klub voli? Aku sama sekali tidak tahu soal olahraga itu dan tidak ada yang kukenal di sana. Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?"

"Kau mengenalku; kita ini teman sekelas." Uchiha muda tersebut memasukkan tangan ke dalam sakunya. "Kami akan mengajarimu tentang voli sebanyak yang kau mau."

Sakura meraih formulir di atas mejanya. "Aku takut malah akan jadi beban untuk kalian."

"Kau tidak akan tahu hasilnya kalau belum mencoba." Pandangan mereka saling beradu. "Gadis cerdas sepertimu ternyata sepesimis ini, hn?"

"Uchiha-san tidak mengerti, ini bukan soal pesimis. Aku hanya tidak ingin diabaikan lagi oleh orang-orang yang kuanggap teman. Lagipula aku sadar bahwa kehadiranku tidak ada efeknya sama sekali di mana pun aku berada."

"Tidak akan ada yang mengabaikanmu di klub ini. Aku jaminannya."

Sepasang emerald Sakura membulat, "H—hah!?"

"Datang saja ke gym jika ingin membuktikannya." Siswa lelaki tersebut melangkah keluar kelas, namun ia berhenti sesaat. "Satu lagi, cukup panggil aku 'Sasuke'."

.

.

.

I didn't mean to fall in love

but you made it so easy. (*)

.

.

Chapter #2

.

.

.

Alarm tone di ponsel Sakura berbunyi kala jam menunjukkan tepat pukul enam pagi. Sang pemilik meraba-raba permukaan meja yang berada di samping kasur; mencoba meraih ponsel yang mengeluarkan suara berisik tersebut. Saat telah berhasil mendapatkannya, hanya tersisa sunyi yang mengisi kamar seluas dua puluh meter ini.

"Hoammmhhh," Sakura menutup mulutnya yang melebar dengan tangan, "sudah pagi saja sekarang." Emerald-nya menatap sinar matahari yang menyelinap masuk di antara celah ventilasi. Tak ingin membuang waktu lebih lama, gadis berusia tujuh belas tahun ini pun segera bangkit dari kasur empuknya; melawan gaya gravitasi yang seolah jadi lebih kuat di tiap pagi. Sambil membawa handuk berwarna merah, ia pun menuju kamar mandi yang berada di sisi lain rumah.

Belum genap empat puluh menit, Sakura sudah selesai dengan ritual pagi harinya. Ia bahkan telah mengenakan seragam sekolahnya; kemeja putih dilapisi outer berwarna cream tanpa lengan, dipadukan rok bermotif kotak-kotak selutut. Bibirnya yang diolesi lipgloss bening tampak berkilau terkena pantulan cahaya. "Baiklah! Saatnya sarapan." Gadis ini pun keluar meninggalkan kamar bernuansa pink-nya, tak lupa membawa tas yang sudah diisi buku-buku pelajaran untuk hari ini.

Sesampainya di ruang makan, ia disambut oleh sesosok gadis seusianya yang tengah menyantap bubur dengan nikmat. "Ino?"

"Hmmh?" gadis yang dipanggil pun menoleh, mulutnya masih dipenuhi sesendok bubur hangat, "Ah, Ohayou, Sakura!" sapanya bersemangat setelah menelan.

"Ohayou, Ino." Sakura menyusul duduk di seberang teman sepermainannya itu. "Tumben sekali kau sarapan di sini lagi?" tanya Sakura. Rumah mereka bersebelahan, sudah sejak dulu Ino dan Sakura menyantap sarapan mereka bersama. Kadang Ino yang mengunjungi Sakura, tak jarang pula Sakura yang mendatangi Ino di rumahnya.

"Ayah dan Ibuku sedang keluar kota. Mereka berangkat tadi malam," ujar Ino sambil kembali melahap makanan di depannya. "Aku belum belanja, jadi tidak ada yang bisa kumasak untuk sarapan. Dan alasan yang paling utama adalah karena aku sudah sangat merindukan masakan ibumu! Hihihi," timpal Ino bahagia.

"Ayo tambah lagi, Ino." Ibu Sakura datang membawakan semangkuk bubur hangat untuk anaknya. "Sakura, kau juga makan yang banyak, ya?"

"Aku akan makan secukupnya saja, Ibu. Kalau kekenyangan malah bisa membuatku ngantuk."

"Sakura benar. Maafkan aku ya, Bibi," sahut Ino sambil tersenyum, "aku juga sedang diet. Jadi tidak mau makan terlalu banyak. Hehehe."

"Hmm, baiklah kalau memang begitu," ucap Ibunda Sakura. "Nanti siang mau dimasakkan apa?"

"Aku mau cumi pedas manis!" seru Ino bersemangat.

"Ehm ..., hari ini aku tidak bisa pulang siang," ucap Sakura takut-takut, "ada kegiatan klub voli hingga sore."

"Lho? Bukannya hari kamis kalian libur?" tanya sang ibu keheranan.

"Memang seharusnya begitu. Tapi minggu depan akan ada pertandingan final tingkat provinsi, maka kami akan berlatih full dari senin sampai sabtu." Sakura menatap mata sang ibu dengan hati-hati. Mengharap izin dan pengertian dari perempuan paruh baya tersebut.

Sang ibu mengangguk, wanita bernama Haruno Mebuki ini tak bisa berkata tidak untuk putri semata wayangnya. "Baiklah ibu mengerti. Asal pulangnya jangan terlalu malam, ya?"

Sakura menghela napas lega. "Iya, Bu. Terimakasih banyak."

Mebuki lalu mengecup pelan kepala sang anak. "Kalian lanjut makan ya. Ibu mau menyiapkan air hangat dulu untuk ayahmu mandi." Ia lalu beranjak meninggalkan ruang makan.

"Kau benar-benar berdedikasi sekali terhadap klub voli SMA kita," celoteh Ino yang kini sudah sampai pada suapan terakhir buburnya.

"Tentu saja, Ino!" respon Sakura bersemangat, "klub voli adalah dunia keduaku. Aku benar-benar tidak menyesal bisa menemukan tempat semenyenangkan itu dalam hidupku," Sakura melahap satu suap, lalu minum seteguk air, "aku benar-benar dihargai di sana. Kerja kerasku bisa berguna untuk mereka. Para anggota juga saling peduli satu sama lainnya." Sakura menyungkit suiran ayam di dalam buburnya, "yah meskipun kadang mereka suka sekali beradu argumen dan mengejek. Tapi pada intinya mereka saling menyayangi satu sama lain."

"Kau juga sepertinya sangat mengenal mereka, ya?"

Sakura malah tertawa pelan. "Mungkin," responnya singkat. "Dua tahun mungkin bukan waktu yang lama. Tapi kurasa itu juga bukan waktu yang singkat. Banyak hal baru dan kejutan-kejutan yang kudapat di sana." Beberapa peristiwa di klub voli tersebut kembali berputar di kepalanya; dari moment sedih saat mereka dikalahkan lawan, hingga moment saat mereka berhasil mendapat trophy kemenangan pertama di tahun lalu. "Ah! Semuanya benar-benar indah!"

"Aku senang, akhirnya Haruno Sakura yang tidak punya keberanian untuk berkembang telah menemukan jalan yang membentang." Ino tersenyum bangga melihat raut cerah di wajah sahabatnya itu. "Setidaknya sekarang hidupmu tidak hanya diisi dengan belajar dan belajar saja."

"Ya. Semua ini berkat Sasuke-kun..."

Ino mendelik saat mendengar satu nama yang disebutkan Sakura. "Jadi ..., bagaimana perkembangan hubungan kalian berdua?"

"HUH!?" Sakura tersentak, "h—hubungan apa maksudmu!?" mata gioknya melebar dua kali lipat.

"Tentu saja hubunganmu dengan Uchiha Sasuke si pangeran es ituuu," Ino mendengus malas, "sudah sejauh mana? Kau sudah mendapatkan nomor ponselnya? Apa kalian sudah saling mengucapkan 'selamat pagi' melalui sms?"

"Aku sudah punya nomornya sejak lama. Tapi ..., u—untuk apa kami saling mengirim pesan semacam itu!?" garis-garis merah tampak menghiasi pipi putih Sakura. "Kami tidak sedang berkencan, Ino. Lagipula kenapa aku harus melakukan hal itu?"

"Ckckck. Sakura, Sakura." Ino menggelengkan pelan kepalanya, "aku ini sahabatmu. Aku tahu kau menyukai Sasuke meski kau berusaha untuk memendamnya."

Sakura terdiam sejenak, ia belum pernah membahas topik ini bersama Ino yang notabene adalah sahabatnya sendiri. Bukannya ia tak percaya, hanya saja ia belum siap untuk membiarkan perasaannya melangkah lebih jauh jika harus menceritakannya pada orang lain—selain dirinya sendiri. Ino adalah teman terdekatnya sejak ia belum mengenal Sasuke di SMA. Gadis pirang itu selalu menyemangatinya dalam segala hal. Paras cantiknya kadang membuat Sakura iri karena dia jadi begitu mudahnya diterima di lingkungan yang baru. Tapi semakin dalam Sakura mengenal putri dari keluarga Yamanaka tersebut, semakin Sakura tahu bahwa yang disukai oleh orang-orang tak hanya soal penampilan Ino yang menawan; tapi juga kebaikan hati dan semangatnya yang mampu dia tularkan ke sekitar.

Dan jika Sakura menceritakan perihal perasaannya pada Sasuke sejak awal, ia malah takut kalau teman kecilnya itu mulai berusaha mencari cara untuk menyatukan mereka berdua.

"Aku ...," Sakura bingung harus mengatakan apa pada Ino.

"Sudahlah," potong Ino, "jika ini sudah menyangkut soal perasaan, aku tidak bisa berbuat banyak." Ino lalu mengenggam tangan Sakura yang berada di atas meja. "Bicarakan hal itu saat kau siap nanti." Senyum teduh terpatri di wajah Ino.

Sakura juga ikut tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan mereka. "Terimakasih, Ino."

"Oh ya, ngomong-ngomong kudengar sudah ada anak kelas satu yang mendaftar sebagai calon manager klub voli. Bagaimana orangnya?"

Sakura mengangguk. "Dia sedang menjalani masa uji coba. Hari ini memasuki hari keempat."

"Haaahhh, syukurlah kalau begitu," ucap Ino sambil mengelus pelan dadanya, "dengan begini kau bisa lebih fokus mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas tahun depan. Kau bisa melepas jabatan itu dengan tenang sekarang."

DEG.

Entah mengapa rasanya bagai ada silet tajam menyayat dada Sakura. "Ya ..., kau benar juga, Ino."

.

.

.

.

PRIIITT.

Suara tiupan peluit menggema di gym nomor tiga milik SMA Konoha. Suara tersebut menandakan adanya pergantian pemain yang dilakukan. Saat ini tengah berlangsung latihan tanding antara tim voli SMA Konoha melawan SMA Kirigakure. Sudah memasuki set kedua dengan skor sementara dipimpin oleh SMA Konoha yang unggul lima poin. Set pertama tadi juga dimenangkan oleh tim yang diketuai oleh Nara Shikamaru tersebut. Sasuke tampak keluar dari lapangan, dirinya lalu digantikan oleh Sai yang segera masuk ke dalam area pertandingan.

Pelatih mereka, Genma Shiranui, tampak menepuk bahu Sasuke sambil menggumam, "Penampilan yang hebat," yang kemudian direspon anggukan oleh Uchiha muda tersebut.

Sasuke duduk di atas kursi panjang, berada tak jauh di sebelah sang pelatih dan teman-teman timnya yang lain. Set kedua masih belum selesai, tapi rasanya cukup melelahkan karena lawan mereka bukanlah lawan yang lemah. Kedua tim sama-sama tak mau mengalah untuk mendapatkan point dan menyelamatkan bola agar tak sampai jatuh menyentuh lantai.

"Sasuke-senpai!"

Suara nyaring seorang gadis membuat Sasuke mau tak mau mengalihkan pandangannya dari lapangan. "Hn?"

"Kau pasti kelelahan, kan?" tanya sang calon manager baru, "ini untukmu," Chino menyodorkan sekaleng minuman ber-ion pada kakak kelas tampannya itu. "Tadi itu Senpai benar-benar keren!"

"Aa." Sasuke menerima pemberian dari Chino, menarik pelatuk di puncang wadah tabung berwarna biru tua tersebut, kemudian menghirup isinya sedikit.

"Kami-sama! Senpai, keringatmu banyak sekali!" pekik Chino yang kelihatan terkejut melihat peluh bercucuran di wajah dan leher Sasuke. "Aku akan membersihkannya!" gadis itu segera menyapukan handuk kecil—yang sejak tadi sudah dibawanya—ke wajah Sasuke.

Sasuke tak menepisnya, hanya saja ia sedikit mengelak saat adik kelasnya itu mulai menjamah daerah leher dan dadanya. "Cukup. Aku bisa sendiri," ucap Sasuke sambil menghentikan tangan Chino. "Sini handuknya," lelaki ini mengambil handuk tersebut dan menyeka sendiri keringat di tubuhnya.

"Chino, kau sedang apa?" tanya Sakura yang tiba-tiba saja datang mendekat. Padahal sejak tadi ia duduk di samping Genma.

"Aku hanya membantu Sasuke-senpai mengeringkan tubuhnya. Hehehe," jawab Chino santai.

"Hmmh, Sasuke-kun," panggil Sakura, yang dipanggil hanya mengerutkan alisnya, "kau juga butuh seorang manager untuk mengelap tubuhmu?"

"Tidak juga sih," jawabnya dengan wajah bingung.

Sakura menggeleng pelan. "Chino, dengarkan aku. Tugas manager memang mengurus tim, tapi kau tidak perlu sampai melakukan hal tadi kepada Sasuke-kun dan siapa pun," ucap Sakura sambil menatap calon penggantinya itu dengan serius. "Aku tadi memintamu untuk memperhatikan pertandingannya, kita harus mempelajari pola serangan lawan dan melihat perkembangan tim kita." Chino tampak menghindari kontak mata darinya. "Tujuan sparring ini diadakan yaitu untuk memperkuat dan mengembangkan kemampuan tim kita. Aku sudah jelaskan padamu, 'kan?"

"Ya ya yaaa~ aku tahu itu. Senpai sudah menjelaskannya padaku," sahut Chino malas, "aku sudah melakukannya, Senpai, sejak tadi aku sudah memperhatikan permainan mereka semua di lapangan. Makanya aku bisa tahu bahwa Sasuke-senpai ke sini, aku menyusulnya karena aku peduli pada tim kita. Sasuke-senpai kelelahan, aku hanya ingin membantunya."

"Chino, kau tidak bisa—"

PRIIITTT.

Satu tiupan panjang terdengar melengking pertanda pertandingan telah usai.

"YEAHHH!" terlihat para pemain dari tim SMA Konoha berteriak ceria. Set kedua kembali dapat mereka rebut. Kali ini mereka menangkan dengan skor akhir 25 berbanding 22.

Sasuke bangun dari duduknya lalu meletakkan handuk kecil tadi di atas kursi. Ia kembali menuju lapangan untuk berbaris, memberi hormat, dan bersalaman pada tim lawan. Sakura bernapas lega saat tahu kemenangan jatuh di tangan mereka. Tim voli yang dicintainya ini sudah semakin kuat, para pemain senior punya keahlian masing-masing dan juga pengalaman yang banyak; kemampuan mereka semakin matang di tiap harinya. Meskipun begitu, junior mereka yang berasal dari kelas satu juga tak kalah mengagumkannya. Jika masih mau terus belajar dan tak lelah berlatih, suatu saat mereka juga pasti mencapai senpai mereka yang luar biasa.

Sakura kembali tersenyum memperhatikan raut kegembiraan di depan sana. "Chino—"

"Sasuke-senpai itu benar-benar tampan, ya?" gadis beriris violet memegang kedua pipinya sendiri, matanya tertuju pada pemain bernomor 23 yang kini melakukan gerakan pendinginan. "Aku sungguh tidak sabar untuk segera mendapatkannya." Mulut kecilnya menganga lebar sambil kembali terfokus pada sang pangeran es.

Sakura meringis dalam hati.

Apakah Chino yang Ia cari?

Apakah Chino yang tim ini butuhkan?

Relakah Sakura untuk melepaskan dunia tersayangnya ini pada sang junior?

Sanggupkah Sakura merelakan Sasuke untuk adik kelasnya ini?

.

"Permainan kalian sudah semakin kompak," ujar sang pelatih, Genma Shiranui. Iris coklatnya menatap tiap pemain satu per satu. "Beberapa junior yang baru bergabung juga mampu beradaptasi dengan pemain lama. Kesalahan kecil wajar saja terjadi saat bertanding, tapi jangan langsung down. Sesama tim, kalian harus saling menyemangati."

"HAI!" sahut seluruh member tim voli lelaki yang jumlahnya ada sembilan belas orang.

"Aku bangga melihat kemampuan kalian yang terus menanjak naik. Tetap pertahankan itu!" timpal Genma.

"JOSS!"

"Segitu saja dariku," pelatih tampan yang masih muda ini lalu menoleh pada gadis di sebelahnya. "Mungkin ada tambahan dari manager cantik kita?"

Sakura tersenyum tipis, "Hmm, ya. Ada sedikit yang mau kusampaikan." Sakura mengeratkan pelukannya pada binder yang ia rangkul, netra hijaunya lalu memperhatikan seluruh anggota yang duduk berbaris rapi di lantai gym. Semua tampak lelah, namun semangat membara terpancar begitu nyata.

"Kalian benar-benar luar biasa." Semuanya tertegun; terfokus pada siswi kelas tiga di depan mereka. "Aku sungguh takjub dengan perkembangan kalian sejak titik nol hingga sekarang bisa sekuat ini." Sakura menelan salivanya, "menjadi bagian dari tim dengan orang-orang hebat seperti kalian merupakan hal terbaik dalam hidupku." Suasana sangat sunyi saat Sakura tak mengeluarkan suaranya. "Rabu depan kita akan menghadapi SMA Suna di final tingkat provinsi. Pertandingan itu akan jadi yang terakhir untuk anak kelas tiga." Matanya menulusuri para anggota yang telah sampai di tahun terakhir sekolahnya; Shikamaru, Naruto, Sai, Lee—dan ia berhenti cukup lama saat pandangannya singgah di wajah Uchiha Sasuke. "Mari kita menangkan pertandingan final nanti! FIGHTING!"

"FIGHTING!"

"YEAHHH!"

"Baiklah. Kita akhiri saja hari ini. Silakan berkemas dan segera pulang karena hari sudah hampir malam. Sampai jumpa besok, semuanya," ucap Genma sambil membungkuk hormat.

Seluruh anak didiknya pun bangun dan balas membungkukkan sebagian tubuhnya. "TERIMAKASIH BANYAK UNTUK HARI INI!"

.

"Wahhh, ternyata sudah jam segini!?" Chino panik bukan main saat melihat jam dinding yang tergantung di salah satu sisi gym.

"Ada apa, Chino?" tanya Sakura yang heran melihat juniornya tampak begitu kaget. Ia kini telah mengganti pakaiannya menjadi seragam lagi.

"Ternyata hari sudah sangat senja, sudah jam setengah tujuh! Di luar pasti sudah sangat gelap..."

"Err, yah, memang begitulah kalau ada sparring," ujar Sakura sambil tersenyum paksa, "selesainya bisa sangat sore sekali."

"Bagaimana ini!? Aku tidak pernah pulang semalam ini sendiriannn, aku takut melewati jalanan yang sepi!" keluh Chino sambil memeluk sendiri tubuh kecilnya.

Sakura merasa bersalah pada gadis di depannya, "Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu pulang sampai di depan rumahmu," tawar Sakura.

"Aha!" satu ide cemerlang muncul di kepala blonde Chino, "aku tahu!" siswi kelas satu ini mendekat pada telinga seniornya kemudian berbisik, "tolong sampaikan hal ini pada Sasuke-senpai, aku ingin diantar pulang olehnya."

Sakura menangkap senyum puas terpasang di bibir Chino saat gadis itu sedikit menjauh. "Hah? Tapi bagaimana caranya? Sasuke-kun juga belum selesai berkemas, mungkin dia pulangnya masih lama."

"Yaahhh," Chino mendesah kecewa, senyum yang tadi berbinar kini berubah jadi raut cemberut. "Padahal kesempatan bagus ini tidak akan datang dua kali. Huh."

"Ya sudah. Aku saja yang mengantarmu pulang, ya?"

Chino enggan menjawab. Matanya masih memandangi satu per satu orang yang keluar dari ruang ganti lelaki. Berharap Sasuke segera selesai dan muncul dari sana. "Nah itu dia Sasuke-senpai!" jerit Chino bersemangat, "Sakura-senpai, ayo ke sana!" ia pun berlari kecil menuju ke tempat senpai gantengnya itu berada sambil menarik Sakura.

"He—hei, Chino! Apa yang kau lakukan?"

"Hn?" Sasuke menatap heran pada dua gadis yang mendatanginya. Chino tampak sengaja menubrukkan bahunya pada lengan Sakura.

"Err, ano, Sasuke-kun, k—kau sudah mau pulang?" tanya Sakura terbata.

"Aa. Kalian juga seharusnya pulang sekarang."

"Tapi di luar sudah gelap!" seru Chino seraya menunjukkan ekspresi ketakutannya.

"Chino benar, hari sudah gelap sekarang," timpal Sakura. Ekor matanya menangkap alis Chino bergerak-gerak memberikan kode, "apa Sasuke-kun ..., bersedia untuk, err ..., mengantarnya pulang?" ujarnya ragu-ragu dan terpaksa.

"Di mana alamatmu?" Sasuke bertanya pada Chino.

"Cukup jauh sih. Di Blok Konoha Utara komplek A37, hehehe," jawab Chino sambil cengegesan.

"Berlawanan arah dengan jalan pulang yang kulalui," ucap Sasuke datar, "aku akan ke arah selatan. Kalau tidak salah Konohamaru akan melewati jalan menuju rumahmu." Sasuke lalu celingukan mencari keberadaan juniornya tersebut. "Oi, Konohamaru!" panggilnya.

Chino merasakan hal tak mengenakkan akan terjadi, ia lalu berusaha menahan Sasuke. "Senpai—"

Tapi telat karena Konohamaru sudah terlanjur datang menghampiri mereka. "Hai, Sasuke-senpai?"

"Kau pulang lewat Blok Utara, 'kan?"

Konohamaru mengangguk, "Ada apa?"

"Chino akan pulang bersamamu. Rumahnya di sana."

"Wahh, benarkah? Tidak kusangka ternyata kita melewati jalan yang sama!" ujar Konohamaru kesenangan.

"Heh? Y—ya begitulah, ehehehe," respon Chino sambil tersenyum paksa.

"Lebih baik kalian pulang sekarang, hari sudah semakin malam," saran Sasuke.

"Baiklah kalau begitu. Aku pulang duluan ya," ucap Konohamaru pada dua seniornya, "ayo, Chino!"

"I—iya. Sakura-senpai, Sasuke-senpai, kami duluan ya."

"Hn."

"Hati-hati di jalan."

Keduanya lalu memandangi adik kelas mereka yang mulai berjalan bersama meninggalkan gym.

"Kau juga mau sampai kapan berada di sini?" tanya Sasuke yang kini sudah selangkah di depan Sakura. "Shikamaru akan mengunci pintunya, kita pulang sekarang."

"Eh?" Sakura kini menyusul Sasuke yang kini melanjutkan langkahnya. "Sasuke-kun mengajakku pulang?"

"Kau juga akan ke stasiun selatan, 'kan?" tanya Sasuke yang hanya dijawab anggukan cepat oleh Sakura. "Tidak ada salahnya sesekali kita pulang bersama."

.

.

.

.

.

.

Hari telah berganti, Sakura masih semangat bertugas di tim voli. Saat ini mereka sedang melakukan pertandingan 'senior versus junior'. Anak kelas tiga ditambah anak kelas dua melawan tim kesemuanya diisi oleh anak kelas satu. Sudah jelas bahwa pertandingan kali ini dikuasai oleh tim senior yang lebih berpengalaman. Meski begitu, para junior masih terus berusaha merebut poin demi poin untuk mempersempit ketinggalan.

Saat tengah serius menganalisa pertempuran sengit di depannya, Sakura dikejutkan oleh Chino yang tiba-tiba muncul dan berbisik di telinganya.

"Senpai."

"Ch-chino!?" Sakura refleks menoleh pada adik kelasnya itu, "kau dari mana saja? Kau telat sampai empat puluh menit."

"Tadi itu ada teman yang mentraktirku makan, jadi aku keluar sebentar."

"Harusnya kau memberitahuku lewat pesan singkat. Daritadi aku menunggumu, aku pikir kau sakit jadi tidak bisa ikut kegiatan tim."

"Hmmmh, apa yang lain juga begitu? Mereka akan mengirimkanmu sms jika ada urusan?" tanya Chino penasaran.

Sakura mengangguk pelan. "Mereka akan memberi kabar jika ada sesuatu yang harus dilakukan."

"Senpai punya nomor handphone mereka semua!?" tanya Chino antusias.

"...ya, tentu saja."

"KYAAA! Kebetulan sekali!" Chino memegang lengan atas Sakura. "Tolong berikan aku nomornya Sasuke-senpai!" pinta Chino.

Sakura menatap mata Chino yang berbinar begitu cerah. "Maaf tapi aku tidak bisa," tolak Sakura sesopan mungkin, "aku tidak berhak memberikan nomornya pada orang lain karena—"

"Aku akan jadi manager di sini, tidak apa 'kan kalau aku juga punya!?"

"Memang benar. Tapi kau masih belum jadi manager tim voli, Chino—"

"Aku hanya minta nomornya Sasuke-senpai saja. Tidak semuanya!"

Sakura menghela napasnya, lelah berdebat dengan gadis imut di depannya. "Jika kau memaksa seperti itu, silakan minta langsung saja pada orangnya."

Chino mengepalkan tangannya, "Senpai pelit!" bentaknya kemudian pergi meninggalkan Sakura.

"Chino! Kau kau ke mana?" Sakura menyusul Chino.

"Pulang!" jawab Chino ketus.

"Sakura-chan! AWAS!" pekikan Naruto membuat Sakura terperanjat, namun ia tak punya cukup waktu untuk menghindar saat bola voli melesat kuat ke arahnya.

JDUGGG!

"Argh—!" rintihan sakit spontan keluar dari bibir Sakura saat bola solid berukuran lumayan besar itu menabrak sisi kiri atas kepalanya. Sakura bahkan sampai terduduk di lantai karena tak sanggup menjaga keseimbangan tubuhnya saat ini. Ia lalu memijit pelan pelipisnya.

"SAKURA-CHAN!"

"SENPAI!"

"HARUNO-SAN!"

"SAKURA!"

Semua yang berada di sana seketika menjadi heboh dan berlari menuju manager mereka yang baru saja diserang bola nyasar. Belasan pemain voli ditambah coach muda mereka kini mengerubungi Sakura yang masih duduk di lantai.

"SAKURA-CHAN, KAU BAIK-BAIK SAJA?" tanya Naruto histeris yang hanya dijawab anggukan pelan oleh sosok yang ditanyainya.

"Sakura-senpai," Chino bersujud di lantai, "apa yang kau rasakan saat ini?"

Sakura masih menunduk, "A—aku," ia menarik napas pelan, lalu melepasnya, "—aku tidak apa-apa, kalian tidak perlu khawatir," gadis ini lalu menengadah kemudian memberikan senyumnya pada semua orang.

"Kita harus segera bawa Sakura ke UKS, dia harus segera ditangangi," ujar Genma. "Chino, tolong temani Sakura. Jarak UKS lumayan jauh dari sini.

"Aku bisa sendiri," ucap Sakura sambil berusaha bangun. Ia tidak suka jika harus merepotkan orang lain. Namun rupanya efek benturan tadi masih berbekas, saat ia mencoba berdiri mendadak pusingnya kambuh lagi. "Ughh—!" tubuhnya nyaris terjatuh ke lantai jika saja tak ada badan kokoh Sasuke yang sigap menangkapnya.

"Kita ke UKS." Dengan satu gerakan cepat, Sasuke kini telah memposisikan Sakura dalam rangkulan tangannya; membopong teman sekelasnya itu di dadanya.

"Sasuke-kun tidak perlu—"

"Jangan keras kepala," potong Sasuke sambil menatap mata hijau Sakura. Wajah mereka begitu dekat hingga ia mampu melihat pantulan dirinya sendiri di dalam iris Sakura. "Bola itu terkena pukulan dari tanganku. Aku akan bertanggung jawab." Tanpa membuang waktu lagi, Sasuke segera membawa sang manager ke UKS.

.

Tes. Tes. Tes.

Gemericik tetesan air yang terjatuh dari handuk kecil terdengar jelas dari salah satu ruangan di SMA Konoha. Tepatnya di ruang UKS, Haruno Sakura terbaring lemah di atas kasur yang dibungkus sprei putih. Sementara itu teman lelakinya tampak piawai memeras handuk kecil yang tadinya ia rendam dalam air hangat. Setelah memastikan tak ada lagi air yang mengalir, Sasuke kemudian menyapukan kain berserat tersebut pada area di sekitar dahi Sakura yang tampak memar terkena benturan bola.

"Awh!" Sakura mengerang kecil saat Sasuke menyentuh daerah yang sakit.

"M—maaf," Sasuke menarik kembali tangannya.

"Tidak apa," tutur Sakura tersenyum sambil menahan denyutan di keningnya, "tapi tolong pelan-pelan saja, hehe."

Sasuke mengangguk. "Aa." Ia kembali mengusap dahi Sakura—kali ini sangat pelan dan hati-hati.

Suasana kembali hening.

"Ehm …, Sasuke-kun," panggil Sakura yang mencoba untuk mencairkan suasana.

"Hn?" mata hitamnya masih fokus pada dahi Sakura.

"Tidak terasa kita sudah kelas tiga saja, ya?" Sakura terpejam saat usapan Sasuke mendekati kelopak matanya. "Padahal rasanya baru kemarin Sasuke-kun menawarkanku untuk jadi manager klub voli."

"Itu karena kita melaluinya dengan banyak kegiatan. Makanya tidak terasa."

"Hmmmh," Sakura mengangguk pelan. Sentuhan hangat di sekitar jidatnya yang sangat pelan nyaris membuat Sakura ketiduran saking nyamannya. "Waktu yang tersisa untuk kita di sini tinggal sedikit. Tidak lama lagi, kita akan meninggalkan segalanya di sini."

"Memang begitulah seharusnya." Sasuke kembali mencelupkan handuk kecil tadi ke dalam baskom berisi air hangat. "Tapi meski sudah lulus dari sini, aku tetap akan berada dalam lingkup olahraga ini."

"Benarkah? Apa rencanamu selanjutnya?"

Sasuke mendelik pada Sakura yang tak lagi mengatupkan matanya, "Aku akan melanjutkan kuliahku di Tokyo, lalu mengikuti kualifikasi untuk bergabung di tim voli nasional Jepang."

"T—Tokyo!?" Sakura terperanjat, "kau akan meninggalkan Konoha?"

Sang Uchiha muda mengangguk, "Begitulah."

"Oh." Perasaan tak nyaman berkecamuk dalam hati Sakura. Di satu sisi ia bahagia karena lelaki yang dicintainya ini akan pergi untuk mewujudkan mimpinya. Tapi di sisi lain ia merasa ada satu bagian besar yang hilang dari dirinya.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Sasuke.

"Aku masih belum yakin, tapi rencananya aku akan mengambil jurusan kedokteran."

"Itu bagus." Sasuke kembali mengusap kening Sakura. "Tapi sebelum itu, kita harus melatih penerus kita di tim voli agar bisa kuat juga."

"Ah ya, Sasuke-kun benar juga." Sakura kembali teringat akan Chino yang merupakan calon tunggal pewaris jabatannya. "Ngomong-ngomong, menurutmu Chino itu bagaimana?"

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia tidak serius ingin jadi manager."

"Aku juga berpikir begitu." Sakura menatap Sasuke yang kini sudah selesai merawatnya, lelaki tersebut saat ini telah duduk di samping ranjang. "Sasuke-kun tahu, sebenarnya dia ingin bergabung ke klub voli karena melihat wajahmu di poster yang kutempel di mading. Mungkin kalau Sasuke-kun bersikap baik, memberinya motivasi, dan menunjukkan perhatian untuknya; dia akan bersungguh-sungguh untuk jadi manager di klub kita."

Sasuke menyeringai tipis, "Jadi—" Sasuke menggeser sedikit tubuhnya, sikunya bersender di atas permukaan lembut kasur; dagunya ditopang oleh punggung tangannya, wajahnya jadi sangat dekat "—kau mau menjualku, eh?"

"HE! B—bukan begitu!" bantah Sakura panik, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya berdetak sangat kencang, rasa kantuknya pun hilang. Ia tak pernah menyangka bahwa ketampanan Sasuke bisa meningkat lima kali lipat jika dilihat dari dekat—dan efeknya pun sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungnya. "A—aku hanya memberi saran saja. Hehehe," cengirnya. "Lagipula kalau dilihat-lihat Chino itu sangat imut. Dia sepertinya juga sangat …," tenggorokan Sakura tercekat, "...menyukaimu."

Sasuke menormalkan kembali posisi duduknya. "Jadi begitu."

Sakura menoleh untuk membaca mimik wajah lelaki tersebut.

"Tapi aku tidak bisa melakukan itu," ujar Sasuke.

Ada segaris kelegaan di dada Sakura—

"Sayang sekali karena aku sudah punya gadis lain."

—lalu hancur berkeping saat Sasuke melanjutkan ucapannya.

.

.

-bersambung-

.

.

YUHUUUU~!

Terimakasih sudah membaca chapter ini sampai akhir. ^^)/

BTW Terimakasih pada semuanya yang udah baca chapter kemaren dan juga yang menyempatkan diri meninggalkan review di chapter satu kemaren : Nurulita as Lita-san, dewisetyawati411, it is ink, CEKBIOAURORAN, Berry Salada, ika ( wkwkw kebetulan terinspirasi fic ini grgr abis nonton hq sih. Jadi mungkin karakterisasi sasuke jadi mirip ama kageyama :3 ), nabila SasuSaku, coalacocacola (iya ini Chino yang di Sasuke Shinden. Www. Makasih udah mampir, chapter duanya sudah ditambahkan), Uchiha Cherry 286, Fifi (Ini udah diapdet yaaa), mc-kyan, Harika PCY-OSH, aitara fuyuharu (hahahha kasian jarimu kalo digigitin wkwkw sudah diapdet yaaa), wowwoh geegee, Wu Lei II. Satu kata dari kalian, sangat berarti untuk aku ^^ *halah

.

.

CUPLIKAN CHAPTER 3

"Aku ke sini karena mengkhawatirkan keadaanmu."

"Kami akan menang, dan kau akan jadi manager paling berbahagia di dunia."

"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!?"

.

.

udah H – 9 menuju SasuSaku Fanday lho! Sudah sejauh mana persiapanmu untuk merayakan SSFD tahun ini? XD

Chapter 3 atau chapter terakhirnya akan di-publish (Insyaa Allah) tepat di tanggal 20 Februari 2017.

YANG PENASARAN SAMA LANJUTANNYA MANA SUARANYAAAHH? XD

Sampai jumpa~ xoxo