Gila.

Lelaki ini sungguh gila.

Lelaki gila ini—dan manis—mendaratkan bibir hangat dan tebalnya dikulit bibirku.

Gila.

Dia pikir dia siapa?

Dia sangat berani melakukan pelecehan pada seorang presdir muda dan tampan sepertiku didalam lift.

Tetapi, mana ada pelecehan yang aku sendiri menikmatinya?

Well, oke, aku mengakui itu. Bibir tebalnya yang semerah cerry itu membuat perasaan hangat yang tak lazim menjalar didalam tubuhku. Membuat sistem syaraf diotakku tidak bekerja. Ditambah dengan mata indah bagai bola bekel—karena bola pingpong sudah terlalu biasa—yang menutup manis, dan juga rona merah samar-samar menghiasi pipinya.

Oke, dia memang sedikit menarik.

Tapi—tetap saja!

Dia menciumku didepan umum dan pergi begitu saja tanpa berniat mengucapkan sepatah katapun—ya minimal nama lengkapku? Atau bisa meminta kartu namaku?

Aku terpaku dengan pandangan kosong. Otak jeniusku yang sangat lincah dalam melawan musuh perusahaan seakan-akan hilang—menguap tertiup angin dan hilang di segitiga bermuda.

Dan aku tidak sadar bahwa lift telah terbuka dengan sambutan hangat dari asisten pribadiku yang menatapku dengan pandangan seakan-akan aku benar-benar kehilangan respon terhadap apapun.

.

.

Jalanan Seoul sangat sepi—entah karena aku yang menatap jalanan sekitar dengan mata menerawang kosong atau memang penghuni di kota ini benar-benar angkat kaki. Yang jelas tanganku tidak bisa berhenti untuk mengelus lembut bibir merah ku ini.

Tidak mungkin kan aku menginginkan kembali bibir itu dibibirku?

"..tender kali ini adalah tender yang—"

"Minseok-ssi, bisakah kau membelikanku satu apartement di tempat tadi?"

"—he?" Minseok terperangah menatapku. Mungkin dia berpikiran bahwa buat apa aku membeli satu pitak apartemen disana jika faktanya aku memiliki satu buah mansion mewah dengan fasilitas lengkap?

"Tapi, ugh, presdir maaf jika aku lancang," Minseok menggigit bibirnya ragu. "—bukankah presdir sudah mempunyai satu mansion mewah dengan fasilitas super lengkap didalamnya?"

Tuhkan.

Minseok memang mengetahui diriku luar dan dalam. Bahkan pikiranku saja bisa dia sampaikan dengan baik.

"Ya," jeda, mencari alasan yang tepat agar asisten pribadiku ini mengabulkan keinginanku. "Mungkin aku hanya ingin lebih merakyat dan mencoba hidup mandiri tanpa bantuan para asisten rumah tangga?

Siapa tau aku bisa mendapatkan ciuman manis lagi?

Minseok mengangguk mengerti. Aku bernafas lega dan tersenyum lembut. Samar-samar aku bisa merasakan rona merah menjalar dipipinya.

"Oh, dan untuk masalah tender—" mataku menerawang, jariku menggaruk kecil pada pelipisku. "—kurasa aku bisa mengandalkan adikku, dan maukah Kim Minseok membimbing adikku memenangkan tender itu?"

Minseok mungkin sedikit terbelalak—dan bahkan aku terlonjak sedikit mendengar penuturanku barusan. Memberi Kim Jongdae tanggung jawab dalam proyek yang sebesar ini, Kim Joonmyeon mungkin sudah lelah untuk hidup.

"P-presdir, ini tender besar-besaran," mata Minseok membola lucu dengan rahang sedikit terbuka—terkejut. "..a-aku tidak yakin Kim Jongdae-ssi bisa memenangkan tender ini."

Menghela nafas, menatap pada arloji hitamku yang menunjukkan pukul 3.45 sore. "Suatu saat nanti, aku akan membangun perusahaan sendiri dan meninggalkan perusahaan mendiang ayahku." Mataku beralih pada Minseok dan tersenyum, "Jongdae tentu harus banyak belajar, bagaimanapun juga, perusahaan ini akan diambil alih oleh dia." Tanganku menepuk lembut bahu Minseok. "Kau adalah asisten yang hebat, Minseok-hyung. Aku percaya padamu."

.

.

"Hyuuuuuung!" Shixun menerobos masuk kamarku disertai dengan rengekan yang sangat—sangat sangat sangat—memekakan telinga.

"Apa, sih?" Aku membenarkan posisi boneka Tianmao yang menyangga kepalaku. Mataku menelisik tajam pada iPod digenggamanku.

"Myeon-deong, jadi tidaaaaak?" Shixun kembali merengek disertai tarikan-tarikan kecil yang ia berikan pada jeans selututku.

"Sekarang, ya?"

"Tentuuuuuu!" Shixun mengembungkan pipinya disertai helaan nafas kasar—yang imut—dan tangan yang dilipatkan didepan dada.

"Baiklah, baiklah." Mendengus sedikit, aku bangkit dengan malas dari Qinn—itu nama ranjangku, karena ia Queen size—dan menjulurkan tanganku untuk mengambil jaket sederhana yang menggantung manis dipintu kamarku. Seakan-akan meronta dan meminta pakailah aku atau cuci badanku!

Mengambil dompet dan memastikan kartu kreditku berada pada tempatnya—dan sedikit berharap jika kartu atmku berubah warna menjadi hitam.

"Shixun bawa dompet dan kartu kredit, kan?" Aku memasukan dompetku kedalam tas gendong coklatku dan mengalihkan pandangan pada Shixun.

"Untuk apa?" Shixun berdiri didepan cermin, merapikan rambut hitam kelam yang manis miliknya. "Aku kan punya hyung yang manis dan baik hati." Menatapku dengan mata hanya tinggal segaris—jangan lupakan cengiran bocah nya dan membuatku tidak bisa menahan untuk mengacak rambutnya.

"Hyuuuuuung!" Shixun kembali merengek dan aku tertawa nyaring sebelum menelpon taxi untuk segera menjemput kami.

.

.

Tidak biasanya Myeon-deong akan sesantai ini.

Maksudku, Myeon-deong adalah tempat yang sangat digemari untuk berbelanja—atau hanya untuk sekedar menongkrong sembari menggoda wanita-wanita dengan memakai baju seperti kurang kain dan berharap mendapatkan—setidaknya—satu wanita manis yang mau diajak berkenalan.

Faktanya, sekarang Myeon-deong bukan terlihat seperti Myeon-deong yang sibuk.

Dari tadi Shixun menarik tanganku dengan semangat—membawaku masuk outlet sana, outlet sini, dan tidak menghiraukan tarikan nafas pendek-pendek yang aku lakukan.

Remaja memang memiliki hormon yang membara.

Shixun kembali menariku ketengah jalan area Myeon-deong, dengan langkah kaki yang lebar-lebar.

"Shixun, pelan sedikit—hei, bung, jangan terlalu mepet."

Aku menggerutu sebal. Pria yang memakai topi loreng-loreng dan terlihat tergesa-gesa untuk pergi berjalan terlalu dekat denganku—bahkan aku bisa merasakan dadanya yang menempel pada punggungku. Apakah pria itu tidak bisa berjalan pada sisi yang berbeda? Maksudku, Myeon-deong sedang sepi dan dia memilih untuk berjalan mepet dibelakangku.

Aku melupakan kejadian itu dan memasuki sebuah outlet dengan arsitektu sangat menawan dan memiliki ukuran yang lebih luas dari outlet-outlet yang lain. Pekerjanya pun ramah—dan benar-benar memperlakukan pelanggan dengan baik.

Kim's Outlet.

Begitu tertulis.

Dan baru kusadari jika Shixun menghilang.

Hahh..

Aku memasuki outlet yang dipenuhi oleh kemeja trendy dan topi yang sangat banyak. Tentu saja Shixun menghilang.

Aku menempatkan pantatku pada kursi empuk ditengah-tengah rak sepatu. Merilekskan punggungku yang pegal dan kakiku yang mungkin sudah membiru-biru.

Merogoh saku celana jeans ku dan mengirimi Shixun pesan singkat—memberitahunya bahwa aku berada diantara rak-rak sepatu yang tinggi dan menawan.

Sekitar 5 menit aku terdiam, dan memutuskan untuk bangkit—melihat-lihat sepatu yang super duper keren untuk dipakai oleh kaki manisku.

Ehem, ya, aku memuji kakiku dengan sebutan manis. Ada masalah?

"Selamat datang tuan. Kulihat kau pelanggan baru disini, ya?"

Aku terkejut dan mengalihkan pandanganku pada lelaki berwajah-cukup-tampan yang tersenyum ramah padaku. "Ah, yeah," mataku mencari sesuatu dan bernafas lega saat melihat siluet Shixun diujung mataku. "Aku bersama adik ku, kalau mau tahu." Aku pun tersenyum manis kepadanya. Kim Jongdae (Owner), begitu yang tertulis pada name tag yang tersemat didadanya.

"Woaaah, kau bukan warga Korea kan?!" lelaki ini menatapku takjub dan aku hanya menatapnya bingung. "Ini pertama kalinya aku menerima pelanggan baru dari luar domestik." Ia kembali menampakan wajah tenang dan kalemnya. Membuatku bingung plus plus plus.

"Dan juga kau memiliki lesung pipi yang manis."Kembali tersenyum padaku, reflex aku terkekeh kecil dan bilang trims pelan.

"Aku orang Tiongkok yang sedang belajar di sini," mulutku bergerak ragu, "—dan..uhm, aku seorang penulis novel." Menggaruk tengkuk kikuk, dan mengigit kecil bibir bawahku.

"Woaaah," lagi, ia berseru. "Jangan bilang kalau kau penulis Zhang Yixing!?"

"Sayangnya, itu aku." kembali aku tersenyum, mengingat ternyata ada juga yang mau membaca novelku.

"Aku Kim Jongdae," ia mengulurkan tangannya, mengundangku untuk berjabat tangan. "Aku pemilik outlet ini bersama kakak ku yang lainnya." Aku menjabat tangannya dan melepasnya kemudian. "Dan aku suka novelmu yang—Sunset yang Manis."

Wajahku memerah padam. Melontarkan tawa canggung untuk mengusir rasa maluku. Sunset yang Manis adalah novel yang kutulis berdasarkan kisah cintaku sendiri—yang tidak terlalu mulus dan bisa dibilang aku adalah pihak protagoni yang sangat teraniaya. Aku yang ditinggal menikah untuk ke dua kalinya bisa apa?

"Itu novel yang sangat memalukan dan menyeddihkan, menurutku." Berusaha bersikap normal dengan pikiranku yang terus mengoceh 'otak yang bodoh mengapa kau menerbitkan novel roman picisan murahan mu itu'.

"Tapi aku suka, gaya bahasamu dapat dimengerti dan—"

"Gaya bahasa yang lelaki kucel ini gunakan adalah gaya bahasa anak TK."

Seseorang berbicara dibelakang tubuh Jongdae dan aku seketika membulatkan mataku—sangat terkejut!

"Jongdae, Minseok ada disini dan kau harus mengikuti privat gratis darinya." Jongdae hendak membuka mulut tetapi lelaki yang sedang menatapku tajam ini mengangkat tangannya didepan wajah Jongdae.

"Ini perintah dari si sulung Kim."

Akhirnya Jongdae meninggalkan kami dan mengikuti lelaki imut yang berada dibelakang lelaki ini—lelaki yang aku cium didalam lift kemarin sore.

Sial.

Lelaki ini menaikan sudut bibirnya, tersenyum dengan kesan 'halo berjumpa lagi denganku, kucing manis'.

Double sial.

"Senang bertemu dengan mu lagi, nona yang agresif." Dadaku bergemuruh dan tiba-tiba saja kepalaku diserang pening. Seperti vertigo mutlak yang akan selalu muncul jika aku bertemu dengan lelaki ini.

"Apakah aku harus bangga karena kemarin sore aku dilecehkan oleh seorang penulis?" suara lelaki itu terdengar sangat menyebalkan dikupingku. Aku mendesah pelan dan memalingkan muka dari wajah sok tampannya—tapi dia memang tampan, sih.

"Kim Joonmyeon, pemilik outlet ini dan pemilik sebagian besar tanah di Myeon-deong."

Cih sombong sekali lelaki ini

"Kurasa kau sudah mengetahui namaku, tuan penguping." Aku balas tersenyum meremehkan dan melirik kepada Shixun yang sepertinya sudah selesai memilih topi dan kemeja yang akan ia beli.

"Aku permisi untuk membayar barang dari outlet mewahmu, tuan." Nadaku penuh penekanan dan pergi bersama Shixun menuju kasir.

"Hyung, kau kenal dia?" Shixun berbisik pelan saat sedang mengantre didepan kasir. Aku mengedikkan bahuku malas dan bungkam. Shixun sepertinya mengerti dan memilih untuk tidak bertanya lebih banyak. Aku melirik pria bernama Joonmyeon tadi yang terlihat sedang berbincang dengan salah satu pegawai outlet ini. Cukup lama aku memandangnya dan segera aku berpura-pura mengecek ponsel saat Joonmyeon mengalihkan pandangannya padaku.

Tiba giliran kami untuk membayar baju pilihan Shixun, dan penjaga kasir sudah menyebutkan berapa uang yang harus aku tukar. Aku merogoh task u dan tidak menemukan dompetku—

WHAT!?

Dompetku, kemana dompetku?!

Aku kembali mencari dompetku dengan panik, dan menemukan sebuah lubang berbentuk horizontal menyobek tasku.

Sialan.

Aku korban copet!

Aku mendongakan kepalaku, menatap horror pada Shixun. Dan Shixun melemparkan pandangan 'jangan bilang kau lupa membawa dompetmu'.

"Shi-Shixun.. aku dicopet." Seruku panik menggunakan bahasa asalku. Shixun bingung, kemudian aku menunjukkan lubang bekas sayatan di tasku kepada Shixun. Shixun mengumpat memakai bahasa Mandarin dan menatap kasir takut-takut.

"Ini, pake kartuku saja." Seseorang menyodorkan kartu berwarna hitam—kutegaskan lagi, HITAM—dan menyuruh kasir memakai kartu itu untuk membayar semua belanjaan Shixun. Aku berpaling kearah tangan yang memakai setelan kemeja dan—asdfghjkl! Kim Joonmyeon pemilik mutlak kartu mahal itu dan menatap sok pahlawan kearahku.

Sialan.

.

.

Tbc

so yeah, aku memutuskan meneruskan ff ini. dan aku meninggalkan beberapa review bagi kalian. Silah cek pm untuk memeriksa balasan tidak pentingku. dan ini untuk kalian yang tidak log-in.

kjmgdszyx hello gadis! sudah dilanjutkan ya kakakku yang faktanya adikku

nichi, rosemarie, kingslay sudah di lanjutkan! semoga suka ya.

tidak gila review tapi untuk meninggalkan kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.