I Still Love You, Park Chanyeol!

.

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

.

.

Author: Baekb96

Genre: Drama, Romance, Comedy, Hurt maybe.

Happy reading!

RnR!^^

•••

Baekhyun si gadis cantik dari marga Byun. Sudah seminggu belakangan ini Baekhyun berdiam diri. Di sekolah, Baekhyun jenis anak yang aktif dalam berbagai hal, dari berbicara, hingga mengganggu kedua sahabatnya. Tapi apa ada yang mengganggu pikiran baekhyun hingga anak itu berdiam diri, jika bukan karena seorang Park Chanyeol, lalu apa?

Jika bukan karena Chanyeol menerima tawaran pergi kencan bersama Kim Yerim, lalu apa?

Itu bukan urusan baekhyun, mau chanyeol pergi kencan dengan seohyun juga tidak masalah.

Ini mengenai taruhan bodoh… bersama baekbeom!

Diamnya Byun Baekhyun bermula pada hari sabtu minggu lalu. Tepat setelah Byun Baekbeom keluar dari kamar baekhyun. Malam itu, baekbeom datang dengan cengiran konyol di wajahnya. Lelaki berusia lebih tua satu tahun di atas baekhyun menawarkan sebuah taruhan yang baekhyun bilang ini cukup gila. Baekbeom membuat taruhan, jika Baekhyun mendapatkan nilai sembilan puluh pada ujian matematika maka sebagai imbalan, baekbeom akan menuruti apapun permintaan baekhyun. Tergiur dengan imbalan dari sang kakak, Baekhyun mengangguk mantab, bodohnya ia tidak menanyakan apa yang akan terjadi jika baekhyun tidak mendapatkan nilai sembilan puluh pada ujian akhir matematika.

"Kau yakin, b?" cengiran konyol itu terpasang lagi.

"Kau tidak ingin mengetahui apa yang terjadi kalau kau kalah taruhan?" Wajah menyeringai milik baekbeom seolah menyadarkan baekhyun dari dunia imajinasinya.

"Memangnya apa?"

"Kalau kau kalah taruhan. Aku ingin kau merubah penampilanmu." Baekbeom tersenyum seperti malaikat maut menemukan sesuatu hal yang begitu membuatnya merasa sangat bahagia.

"Penampilan apa? Kalau bicara jangan setengah-setengah oppa, nanti pacarmu setengah baru tahu rasa." Sahut baekhyun tanpa curiga sedikitpun.

"Aku ingin setiap hari rambut panjangmu di kepang dua, dan memakai kacamata seperti betty la fea."

"APA!?" pekik baekhyun. Mulutnya menganga, ia tidak percaya kakaknya bisa sekejam itu.

"Oppa kkau benar akan melakukan hal sekejam itu pada adikmu yang manis ini?" Alis baekhyun berkerut, atensinya tertuju pada baekbeom yang berdiri di depannya, dengan wajah penuh kemenangan.

"Ingat kau harus memegang janjimu, nona byun." Baekbeom berjalan menuju pintu kamar baekhyun, langkahnya terhenti setelah mendengar dengusan baekhyun.

"Oppa" panggil Baekhyun.

Baekbeom membalikan badan menghadap Baekhyun yang sedang duduk di atas kursi belajar. Senyuman manis dari bibir tipis berwarna pink alami milik baekhyun merekah. Dengan niat yang kuat, gadis itu mengepalkan tangannya ke udara sembari berkata, "Oppa kupastikan saja, aku akan memenangkan taruhan."

"Iya, bisa kupastikan kau akan menangisi hal ini selama seminggu penuh. Kau harusnya lebih berhati-hati lagi, nona byun." Baekbeom terkekeh.

"Aku tidak akan secengeng itu, oppa. Asal kau tahu saja, jika aku menang, aku ingin kau mengulang sekolahmu itu, lalu kau menyamar sebagai seorang gadis dan bersekolah di sekolah khusus wanita." Seru baekhyun dengan semangat yang membara.

"Itu tidak masalah. Apapun akan kulakukan untuk adikku." sahut baekbeom sebelum menghilang dari balik pintu kamar. Sementara itu, Baekhyun mengetuk-ngetuk kepalanya, meratapi kebodohan diri sendiri.

-Byun Baekhyun, si gadis cantik yang terjebak dalam taruhan bersama oppanya-

I Still Love You

Seminggu setelah kejadian baekbeom mengajaknya untuk taruhan, selama itu juga baekhyun mulai belajar dengan giat. Setiap malam tiba, baekhyun tidak pernah lupa untuk belajar matematika, walaupun sebenarnya baekhyun tidak mengerti dengan beberapa rumus yang ia pelajari, tapi baekhyun tidak mau menyerah begitu saja. Itu sama saja menyerahkan diri untuk berubah penampilan menjadi betty la fea.

Baekhyun bergidik ngeri, ketika imajinasinya melayang… membayangkan dirinya dengan rambut dikepang dua, lalu kacamata yang menghalangi mata indahnya… Oh astaga menakutkan sekali!

Bagi baekhyun lebih baik mati daripada harus menjadi betty la fea!

Pagi datang menjemput sang bulan untuk tidur dalam beberapa jam. Suara berisik terdengar dari jam berbentuk pororo. Pukul 6 lewat 15 menit, tubuh mungil baekhyun menggeliat kecil dari balik selimut berwarna pink. Baekhyun bangun lalu meregangkan tubuhnya. Ia duduk di ujung ranjang tidur, matanya sayup-sayup mulai terbuka. Ia ingat betul, semalam baekhyun belajar memecahkan rumus matematika yang tidak ia pahami. Baekhyun merasa ia bisa gila jika begini terus menerus. Baekhyun tahu jika soal matematika harus meminta tolong pada siapa?

Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.

Baekhyun segera pergi mandi. Setelah itu memakai seragam sekolah, lalu merapikan semua buku-buku pelajaran yang berserakan di meja belajar, kemudian dimasukkan kedalam tas sekolah. Baekhyun membiarkan rambut panjangnya terurai, gadis itu memberi sedikit polesan di bagian matanya, eyeliner membuat mata baekhyun makin terlihat sempurna.

Lihat betapa cantiknya dirimu, Baekhyun.

Baekhyun tersenyum pada pantulan bayangan dirinya di dalam cermin. Ia memuji kecantikan yang ada pada diri sendiri. Suara ketukan pintu mengagetkan acara baekhyun bercermin pagi itu. Baekbeom muncul dari balik pintu kamar dengan cengiran konyol di bibirnya. Entah, baekhyun tidak tahu sejak kapan kakak lelakinya itu berubah menjadi sinting!

"Eomma, appa sudah menunggumu. Cepat turun dan segera sarapan." Seru baekbeom dengan cengiran konyolnya. Ayolah, jangan biarkan baekhyun mencakar kakak kandungnya di pagi hari.

"Ya." Jawab baekhyun acuh.

Mau tidak mau ya, baekhyun harus segera turun. Ia tidak akan membiarkan appa, eomma, serta baekbeom menunggunya terlalu lama. Dia melesat menuju ruang makan dengan cepat, bisa dikatakan baekhyun sedang belajar lari dari kenyataan. Kenyataan yang menakutkan berada di depan matanya, yaitu baekbeom yang sudah duduk berhadapan dengan baekhyun di meja makan.

"Apa" sungut baekhyun.

Baekbeom mengolesi selai kacang pada roti yang berada di tangan kiri, setelah itu ia menaruh pisau selai di samping gelas susu coklat. Cengiran konyol itu tersungging di bibir tipis baekbeom, alisnya mengkerut, lelaki itu sedang mengejek baekhyun yang sedang duduk di depannya.

Baekhyun menghela napas, sambil bersungut-sungut dalam hati, gadis itu meneguk satu gelas susu rasa stroberi sampai habis. Baekhyun tidak ingin berlama-lama. Dia lebih memilih cepat pergi ke sekolah bertemu Park Chanyeol, mengemis-ngemis pada Chanyeol, meminta lelaki itu membantunya belajar matematika. Dari pada harus melihat wajah baekbeom dengan cengiran konyolnya, itu sangat menyebalkan sekali.

Baekhyun berdiri dari duduknya, dia menjinjing tas di atas kedua pundak, lalu melesat pergi dari ruang makan.

"Baekhyunee, kau tidak mau berangkat bersama oppa mu?" Teriak ibu baekhyun setelah melihat anaknya pergi dari ruang makan.

"Tidak."

.

.

Beruntung sekali pagi ini baekhyun pergi ke sekolah dengan nyaman, mungkin karena masih terlalu pagi, bus yang biasa ditumpangi baekhyun tidak terlalu ramai. Jalanan di kota seoul juga tidak ramai, semua berjalan dengan lancar. Baekhyun turun di halte depan sekolahnya.

Tuan Lee si penjaga gerbang sekolah menyapanya, "Pagi, nona Byun."

"Pagi juga, Tuan Lee." sahut baekhyun sambil menundukan wajahnya.

Masih terlalu pagi. Jongin dan Sehun juga belum datang, akhirnya baekhyun memilih kantin sekolah sebagai tujuan utama. Baekhyun membawa langkah kaki kecil menuju kantin, jangan terburu-buru ini masih terlalu pagi. Dia yakin kantin juga masih sepi. Lagi pula baekhyun belum sarapan, hanya minum segelas susu stroberi, menurut baekhyun sih itu bukan sarapan namanya kalau belum makanan roti.

Jarak dari gerbang sekolah ke kantin tidak terlalu jauh, baekhyun harus melewati deretan kelas 9, kantor guru, baru sampai deh ke kantin. Dugaannya benar, kantin masih sepi. Sampai atensinya menangkap sosok lelaki yang pagi tadi sempat ada di dalam pikirannya.

Itu Chanyeol!

Chanyeol, Park Chanyeol. Lelaki dengan tinggi badan 185 cm, dan berat badan yang proposional. Kapten tim basket, tampan dan juga pintar matematika. Selain itu chanyeol juga mahir bermain alat musik seperti gitar, drum dan piano. Suara baritone yang chanyeol miliki menjadi candu bagi para gadis setelah mendengarkan chanyeol menyanyikan lagu rap milik g dragon crooked pada pentas seni tahun lalu.Pantas saja chanyeol sangat digilai oleh para gadis di dalam maupun di luar sekolah, termasuk byun baekhyun salah satunya.

Baekhyun sendiri tidak menyangka, ia akan semudah itu bertemu dengan Chanyeol. Dia tidak perlu repot-repot datang ke kelas Chanyeol.

Sebenarnya ada sedikit keraguan di dalam hati, Baekhyun ragu apakah chanyeol mau membantunya. Chanyeol sendiri mempunyai sifat yang cuek dan angkuh, jadi baekhyun pikir akan kesusahan meminta chanyeol mengajarkan matematika.

"Boleh aku duduk disini?" Seru baekhyun. Gadis itu sudah berdiri di depan Chanyeol yang sedang meminum susu rasa pisang.

Chanyeol menganggukan kepala, membiarkan si gadis duduk bersamanya.

"Whoa, si ratu kecantikan duduk bersamaku. Ada apa? Langsung ke intinya saja, kau mau aku pergi kencan denganmu?" kata Chanyeol. Lelaki itu tersenyum senang ketika mengetahui gadis yang duduk bersama dengan dirinya adalah Byun Baekhyun, si ratu kecantikan di sekolahnya.

"Bukan itu, Park." Baekhyun mendengus.

Heol. Baekhyun sudah menduganya, lelaki itu pasti sangat sombong. Hanya karena Chanyeol tampan, ya memang tampan. Tapi bukan seperti itu cara menggunakan ketampanannya. Belum apa-apa saja sudah mengira baekhyun ingin mengajaknya pergi berkencan.

Baekhyun memutar bola matanya, lalu tertawa. "Heol. Ternyata tingkat kepedeanmu terlalu tinggi, Park. Masih terlalu pagi untuk mengajakmu pergi berkencan denganku."

"Lalu apa?" Ucap Chanyeol. Chanyeol sengaja memajukan wajahnya tepat di depan wajah baekhyun.

Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali, baru kali ini dia bisa melihat wajah chanyeol dengan sangat jelas. Matanya, hidungnya, bibirnya yang tebal, telinganya yang besar, bahkan aroma mint yang menguar dari tubuh chanyeol sukses membuat baekhyun terpesona dengan ketampanan yang dimiliki oleh chanyeol.

Tersadar dari godaan setan yang melintas, baekhyun dengan refleks yang bagus memundurkan wajah. Terlihat sedikit guratan kecewa di wajah Chanyeol.

"Masih terlalu pagi untuk menggodaku, Tuan Park!" seru Baekhyun. Tangannya menyilang di depan dada, mencoba memasang wajah sangar yang baekhyun yakini kalau wajahnya tidak benar-benar sangar.

Chanyeol terkekeh pelan.

Lelaki itu kembali pada posisi duduknya, Chanyeol merasa wajah baekhyun pagi ini terlihat begitu menggemaskan. Nikmati saja, kapan lagi bisa menggoda si ratu kecantikan, baekhyun.

"Jadi tujuanmu, Nona Byun?"

"Aku ingin kau mengajariku matematika."

Bersambung

.

.

.

.

Untuk chapter pertamanya gimana? Aku masih belajar, mungkin masih amatiran. Terlalu pendek sih, ya sadar kok.

Namanya masih belajar hehehe.

Next or delete?

Sebelumnya terima kasih.