"Kujyo~san, kau bisa duduk disebelah..." Guru itu menunjuk Karin. Karin yang masih shock, tidak terasa dia juga mengucapkan hal yang tidak ingin ia ucapkan sama sekali.

"Hah. Saya. Hanazono Karin"

"Ya duduk disebelah Hanazono~san ya" Karin yang sejak tadi shock setengah mati, kini ia shock hampir mati.

Bodoh, ya, jika ia menolak permintaan gurunya di hari pertama masuk sekolah. Dan betapa terkejutnya, ketika guru menyuruh si anak pindahan duduk disebelahku, lalu si anak pindahan tidak menolak sama sekali. Jika ia bisa masuk ke kelas semaunya, ia juga bisa memilih tempat duduk semaunya juga kan. Iya kan.

"Aha iya, dia sudah duduk"

Walaupun meja dan bangku kita juga ada jaraknya seperti meja dan bangku lain. Tapi tetap saja, Karin tidak suka.

"Sensei" Karin berdiri.

"Apa Hanazono~san" Hikari Sensei menyaut ucapan Karin yang terlihat masih shock tersebut. Sepuluh detik kemudian tidak ada sautan apa apa. Yang Karin lakukan hanya menatap gurunya dengan tatapan memohon namun sayangnya Hikari sensei tidak menganggap jika tatapan itu adalah tatapan memohon.

Hikari Sensei terlihat kesal, karena Karin diam saja.

"Duduk Hanazono~san" Sayang sekali Karin bernasib buruk kali ini. Tidak mungkin kan, jika ia harus bilang ke Hikari sensei, bahwa dia tidak ingin duduk berdekatan dengan anak pindahan itu. Tanggapan apa yang akan dikeluarkan semua murid di kelas ini. Pasti mereka menganggap Karin adalah murid ter-tidaksopan yang pernah ada. Sial sekali, Hikari sensei juga jelas tidak menganggapi tatapan memohon Karin. Maka ia duduk terpaksa, dan ingin menangis.

"Kau ingin menangis sepertinya. Aku bawa sapu tangan nih" sial, mengapa anak pindahan itu berkata seperti itu. Jelas dia ingin mengejek Karin.

"Ahahaahaha" Karin berusaha tersenyum manis kepadanya, padahal rasanya dia ingin muntah melihat tampang anak pindahan itu. Karin memutuskan untuk menatap ke depan saja, dan berusaha untuk sama sekali tidak menoleh ke samping.

Namun tidak seperti harapannya...

"Hoi, kau bisa tidak soal nomor tiga itu?. Ahaha sepertinya kau tidak bisa" Bukankah sebelum ini, Karin yang menjadi korbannya, dan berjanji untuk membuat setan itu tidak bisa berdiri lagi. Tetapi sekarang, ia yang justru mendapat ejekan yang menjurus kepada pembalasan dendam dari setan itu.

"Aku itu baik, aku bukan tipikal pembalas dendam hanya karena masalah tadi pagi." Karin merasakan aura hitamnya makin berkobar, bolehkah saat ini dia memukul setan disampingnya itu, sampai dia tidak bisa berbicara lagi.

"Masa pertanyaan mudah seperti itu, kau tidak bisa. Sini kau mau melihat jawabanku tidak, siapa tau nama kau yang akan disebut habis ini." Karin berusaha keras untuk masih berkutit dengan kertasnya. Sebisanya ia melihat ke arah lain kecuali arah samping kanannya.

Emosinya kini tidak bisa ia kontrol sama sekali, sehingga soal matematika di depan, satu pun tidak bisa ia kerjakan di kertasnya. Apalagi bisikan bisikan setan yang menggaung di telinga nya. Dasar setan memang.

"Hanazono Karin, soal nomor tiga"

Karin seperti mau mati duduk mendengar namanya. Jika seperti ini, berarti bisikan setan tadi benar dong.

Karin memutuskan untuk berdiri, dan maju ke depan.

"Hoi ini kesempatan terakhir, mau tidak jawabanku" Karin yang masih berdiri di tempat duduknya,akhirnya menoleh ke arah sumber bisikan setan selama ini. Dia menatap balik setan tersebut dengan tatapan iblis, belum lagi aura iblis Karin berkobar hebat.

"Hanazono~san"

"Haik Sensei. Maaf" Karin kembali menoleh ke arah depan, dan mulai jalan menuju depan kelas dengan perasaan kesal setengah mati.

Biarkan Karin kini menikmati soal nya di depan papan tulis, belum lagi tatapan seluruh murid kelas menuju ke arah nya. Karin mulai mengerjakannya perlahan, namun.

"Masa pertanyaan mudah seperti itu, kau tidak bisa" Rasanya tangan dan otak Karin tidak bisa melakukan kinerja seperti biasanya. Bisikan tadi mengalir di otaknya seperti aliran listrik di kabel konduktor. Dia tidak tahan lagi.

"Maaf Sensei. Aku tidak bisa mengerjakannya" Karin menghadap ke Hikari sensei dengan menunduk.

"Baik. Tidak apa apa. Sakurai yuki lanjutkan jawaban Hanazono~san" ini pertama kali, ia gagal menjawab soal. Biasanya ia justru yang menjawab semua soal di depan papan tulis dengan benar bahkan dalam waktu yang terbilang cukup cepat. Tetapi mengapa hari ini?

Karin kini sudah duduk di tempat duduknya. Loyo, lesu Itulah yang dirasakan Karin.

"Kau sih yang tidak mau-"

"BISAKAH KAU DIAM SAJA" Teriakan Karin cukup keras, sehingga mata seluruh penghuni kelas mengarah padanya.

"Ada apa yaa" Hikari Sensei mulai bertindak.

Ia tidak mungkin meninju lelaki disampingnya itu sekarang kan, ia juga tidak mungkin mengajaknya adu boxing sekarang kan. Kini mereka di kelas, mereka sedang belajar.

Dia mengeluarkan emosi sebisanya, dengan teriakan frustasi barusan. Namun seluruh murid kelas tidak menanggapi Karin dengan tanggapan bahwa 'wajar emosinya sedang tidak stabil' 'Karin kasian sekali' 'seharusnya dia tidak duduk disitu', sedangkan mereka justru menganggap Karin adalah seorang pengganggu kelas ini.

"Maaf sensei" Karin berdiri dan menunduk untuk ke sekian kalinya.

"Ini permintaan maafmu yang terakhir yaa. Permintaan maafmu selanjutnya sensei tidak akan terima."

"Haik sensei" Percayalah, selagi Karin duduk dia sambil menitikan air matanya yang sudah tidak mampu ia bendung sejak tadi. Dia menunduk, lalu menoleh ke arah kiri yaitu arah jendela, mungkin sebab dia menoleh,karena Karin menyadari bahwa lelaki yang disampingnya itu melihatnya. Dia tidak boleh terlihat lemah. Dia menghapus air matanya, lalu dia kembali fokus dalam pelajarannya.

Diluar dugaan, sampai bel pulang berdering,lelaki itu tidak mengganggu Karin lagi. Karin sudah memutuskan dia tidak akan pernah melihat wajah si anak pindahan itu lagi, tidak akan pernah. Dan sesuai dengan keinginannya, si anak pindahan berlalu pergi dari kelas, sehingga Karin tidak usah repot repot menghindari dia.

"Tampan sekali dia yaa"

"Selain tampan dia juga pintar" Karin menoleh, melihat para gadis di kelasnya sedang memuji si anak pindahan habis habisan.

"Dia kan emang pindahan dari London, ya pasti pintar lah"

"Pasti orang tua nya juga kaya raya deh" Karin pergi meninggalkan gadis gadis yang masih sibuk memuji si anak pindahan. Telinganya seperti terdapat kotoran ketika mendengar pujian pujian tersebut.

Karin berjalan sendirian seolah dia menikmati perjalanan ini dengan sendirian. Namun dia tidak ingin sendirian, seperti keliatannya.

Akhirnya setelah menikmati panjangnya koridor, Karin melihat seseorang yang ia kenal, tentu orang itu adalah teman dekat Karin.

"Ryu~chaaaa-" sapa Karin terhenti saat orang yang ingin disapa ternyata bersama orang lain, terlihat Ryu dengan teman baru nya terlihat bahagia. Lagi lagi Karin menunduk sedih. Padahal watak pemurung dan cengeng sama sekali tidak pernah tertulis di kamus Karin, meskipun setelah orang tua nya meninggal juga, dia tidak pernah semurung ini.

"Aku itu baik, aku bukan tipikal pembalas dendam hanya karena masalah tadi pagi."

"Argh... ucapan dia lagi" Seakan akan ucapan dia itu adalah mantra yang sengaja dimasukkan ke kepala Karin. Mengapa ucapan dia selalu terngiang ngiang di pikiran Karin.

"Itulah akibat orang pengganggu"

'GUBRAK'

lagi lagi Karin tabrakan dengan orang. Pikirannya sudah kemana kemana seakan dia tidak bisa mengendalikannya.

"Maafkan aku sudah menabrakmu" ucapnya. Karin yang masih sibuk murung dan bengong tidak menanggapinya, bahkan ia mencoba meninggalkan orang yang ditabraknya barusan.

"Sebentar"

Karin pun menoleh, menatap gadis yang barusan ia tabrak, dengan malas.

"Apakah kakak, kenal anak murid kelas 3 yang bernama Kujyou kazune" tanya gadis tersebut. Mengapa anak itu bertanya hal yang tidak penting seperti itu.

"Kujyou Kazune yaa" Karin mendengarnya malas. Dia benar benar butuh waktu untuk sendirian, sehingga ia pun diajak ngobrol oleh gadis itu, dia ngawur jawabannya seakan akan saat ini Karin sedang dalam kondisi habis minum soju dua guci.

"Ahahahaha" sepertinya efek soju dua gucinya mulai kerasa, akibatnya Karin menanggapi pertanyaan gadis tadi dengan tertawa bak nenek lampir.

"Aku kenal Kujyou Kazune kok, dia bahkan sekelas dengan ku. Hahahhaha" Karin makin tertawa cekikikan, sembari ia membungkuk untuk menahan ketawanya.

Sepertinya Karin tidak waras.

Dan beberapa menit kemudian, dia masih saja tertawa, sampai ia menyadari.

"UNTUK APA KAU MENCARI SI RAMBUT JABRIK" pada hari ini untuk ke sekian kalinya, ia kembali shock.

"Namaku bukan si rambut jabrik, bodoh" telinga Karin menangkap suara si rambut jabrik lagi, ah dia frustasi karena suara dan ucapan nya masih menggaung dipikirannya.

Sampai sampai kini, dia menutup telinga dan memejamkan mata. "Kau kenapa lagi. Sudah tidak waras?" suara itu lagi, ucapan itu lagi. Dia memekik keras seakan dia menahan kesakitan di telinganya.

"Eh kau kenapaa?" sampai tangan jenjang itu memegang tangan Karin dan dijauhkannya dari telinga Karin. Karin yang masih kaget, kemudian dia perlahan membuka matanya. Dan tepat kini kita bertatapan.

Mata biru bak batu safir tersebut menangkap tatapan mata Karin, resah. Karin melihat tatapan cemas dari mata biru di depannya. Sampai Karin menelusuri wajah yang berada dihadapan matanya.

'aku baru sadar, si rambut jabrik itu tampan juga' seakan masih terhipnotis dengan ketampanan orang yang berada dihadapannya.

"Heiii" Maka Kazune melambaikan tangannya di depan wajah Karin.

"Aha iya" Karin sungguh malu dengan kelakuan dia barusan. Mengapa ia memikirkan hal hal aneh tadi ketika ia bertatapan dengan si anak pindahan. Mengapa? Kenapa?

"Maaf, kak aku sudah buat kakak kaget. Aku adik dari Kak Kazune namaku Kujyou Kazusa. Aku bersekolah disini juga dan aku masih kelas satu. Salam kenal" tatapan Karin sudah mengarah ke arah gadis di depannya yang sedang membungkuk hormat, Karin yang masih kaget, berusaha membalas bungkukan gadis tersebut.

"Ya, namaku Hanazono Karin. Salam kenal" Karin yang sekarang sudah berubah menjadi diri dia biasanya, yang manis, ceria, dan positif tersenyum ke arah Kazusa. Kazusa pun membalas senyuman Karin juga. Entahlah apa yang membuat Karin, lebih tenang saat ini daripada beberapa menit yang lalu.

"Kazusa seharusnya kau tadi di kelas saja, aku yang akan menjemputmu. Aku hampir kesasar tau untuk mencari kelasmu."

"Ehehe gomen kak, kukira kaka menunggu di gerbang" Kazusa sungguh terlihat cantik dan manis. Mata biru yang persis dengan mata kakaknya menjadi pelengkap kecantikan gadis berbando kelinci yang ada dihadapannya tersebut.

"Baiklah kita pulang sekarang" Kazune melintas dihadapan Karin seolah dia tidak melihat Karin, bahkan ia tidak mengucapkan satu kata patah pun kepada Karin.

"Baik Ka Hanazono, aku pulang dulu ya sama kak Kazune. Kaka juga seharusnya pulang cepat. Dah kakak" Karin benar heran, mengapa pribadi kakak adik tersebut sungguh beda drastis. Karin yang sembari menatap kepergian mereka, Karin mereka-reka apa yang membuat pribadi mereka berdua sangat berbeda. Yang satu lagi sangat sopan, yang satu lagi bahkan tidak tahu apa itu sopan.

"Apa yang aku pikirkan" Karin menampar mukanya agar dia cepat sadar akan lamunan dia sekarang. Tiba tiba Karin terpikir.

'genggaman tadi' Karin melihat tangannya. Ya tadi tangannya habis disentuh oleh si anak pindahan itu. Seolah olah kejadian tadi terulang lagi di pikiran Karin, membuat Karin merona merah sejenak.

"Eh kau kenapaa?" astaga kata kata tadi terngiang di kepala Karin lagi. Tapi kata kata ini berbeda dengan kata kata yang tadi terngiang di kepala Karin saat ia di koridor. Berbeda. Karena kata kata sekarang adalah kata kata berupa kekhawatiran.

Tak terasa, lengkungan bibir Karin terbentuk. Rasanya hati dia kini lega. Tidak ada yang mengganggu pikiran dan hati Karin sekarang. Sungguh bagus kan.

"Kau kenapa lagi. Sudah tidak waras?" astaga dia mengatai Karin tidak waras. Sungguh tidak sopan si anak pindahan itu. Karin yang sekarang kini berubah jadi karin biasanya mulai berpikir pikir lagi.

"Awas saja Kujyou Kazune aku masih ingin membalasmu" dendam itu masih ada dipikiran Karin, bahkan sekarang menggebu gebu.

"Aku janji kalau aku bertemu dia di tempat selain sekolah. Aku akan menghajarnya" bahkan sekarang Karin sudah membuat nazar yang tidak main main mengerikannya. Karin pun melanjutkan perjalanannya dengan gagah dan berani.

To Be Continued~

Hai para readers, chapter 1 aku blm nyapa kalian yaaa.. Haloo aku author baru disini, panggil aja aku ,sesuka kalian. Oh iya di chapter 1 ada kesalahan nih, yg terakhir yg rambut runcing tuh harusnya rambut jabrik, aku bingung kok bisa berubah sendiri gitu ya, mungkin karena aku author baru dan aku baru di fanfiction jadinya banyak kesalahan yg tak terduga.

Arigatou yaa yg udh mereview, review-an kalian itu yg bikin aku semangat ngelanjutin. Tolong kritik fic baru aku juga yaa, karena mungkin kata kata dan tata bahasa nya sangat kurang.

Semoga aku cepet yaa ngupdate kilat chapter 3 nya. Dan untuk bagian terakhir.

REVIEW ya