THE LITTLE HOMELESS KID

PART 2 : APPA?

SVT & VIXX FIC

Choi Seungcheol

Kim Mingyu

Jung Taekwoon

Cha Hakyeon (GS)

Jung Wonshik

GENRE : FAMILY, ROMANCE

DLDR

Sebelum mulai, author pen minta maaf kalo banyak typo. Ini diketik di MS word yg ada di hape, jdi susah di edit, kalo ada typo yg lolos saya minta ampun

ENJOY…

.

Seungcheol terbangun dari tidurnya. Dia merasa terganggu dengan pergerakan orang yang berada di kasur yang sama dengannya. Saat dia membuka matanya, dia melihat Mingyu yang masih tertidur, tetapi dia tidak tidur dengan tenang. Tubuhnya terus bergerak-gerak dan wajahnya juga tidak tampak tenang. 'Mimpi buruk kah?' pikir Seungcheol.

"Mingyu?" Seungcheol memutuskan untuk membangunkan Mingyu. Mingyu membuka matanya perlahan kemudian menatap Seungcheol. "Kau mimpi buruk ya?" tanya Seungcheol. Mingyu tidak menjawab, dia malah mulai terisak pelan. Seungcheol kaget, dia kemudian duduk dan menarik Mingyu untuk duduk juga.

"Cup cup jangan menangis," Seungcheol menarik Mingyu ke pangkuannya lalu menepuk punggungnya pelan.

"Takut, hyung, takut sama eomma," ucap Mingyu pelan, tapi masih bisa didengar Seungcheol.

"Memang eommanya Mingyu apakan Mingyu, hm?"

"Eomma tiba tiba marah, mau mukul Gyu, tapi appa ga ada di rumah," Mingyu menjawab sambil terisak sesekali.

"Appa Mingyu memang kemana?"

"Engga tau, tapi kalo ga ada appa nanti ga ada yang bantuin Gyu nahan eomma,"

"Itu yang Mingyu lihat di mimpi?"

"Iya, tapi bukan cuman mimpi, dulu selalu begitu,"

Seungcheol terdiam. Dia mulai mengerti apa yang dulu Mingyu alami. Dia mulai berpikir, mungkin Mingyu sebenarnya punya rumah, tapi dia kabur karena eommanya yang tidak pernah baik padanya.

"Lalu appa Mingyu akan bantu Mingyu kalo eomma mulai jahat sama Mingyu?"

"Iya, appa yang nenangin Gyu sama obatin Mingyu. Kata appa eomma sebenernya baik, eomma cuman sakit,"

Seungcheol terdiam lagi, dia tak bisa membayangkan hidup Mingyu dulu.

"Mingyu tenang saja, selama di sini hyung yang akan menjaga kamu, oke?"

Mingyu menatap Seungcheol penuh harap, "benarkah?"

"Iya, Mingyu tak usah takut, ada hyung yang akan jagain Mingyu."

"Makasih, Seungcheol hyung," Mingyu memeluk Seungcheol. Seungcheol tersenyum lalu balik memeluk Mingyu. Dia kemudian melirik jam di dinding kamarnya. Ternyata masih jam 2 lewat 13 pagi.

"Sekarang tidur lagi yuk," mereka berdua berbaring kembali.

"Seungcheok hyung," panggil Mingyu pelan

"Iya Gyu?"

"Hyung benar akan menjaga ku?"

"Tentu saja, Gyu. Jadi kamu jangan takut ya,"

"Kalo gitu boleh ga Mingyu manggil hyung appa?"

"Eh? Kenapa appa?"

"Karena biasanya appa yang jagain Gyu. Mingyu kangen sama appa. Jadi hyung mau ga jadi appa Gyu dulu?"

"Oke, berarti Mingyu manggil aku appa," Seungcheol tak mungkin menolak, melihat wajah Mingyu yang penuh harap dan polos itu. Mingyu pun tersenyum, kemudian memeluk Seungcheol.

"Aku sayang appa,"

"Appa sayang Mingyu"

Mereka pun terlelap dengan posisi Mingyu masih dipeluk oleh Seungcheol.

.

Mingyu terbangun dari tidurnya. Dia duduk di kasur dan mengusap-usap wajahnya. Wajahnya terlihat masih mengantuk. Dia terdiam sambil memejamkan mata, berusaha mengingat dia sedang dimana. Saat itu Seungcheoll masuk ke kamar.

"Pagi, Gyu," Seungcheol menghampiri Mingyu lalu duduk di kasur. "Masih ngantuk ya?" Seungcheol bertanya sambil mengacak rambut Mingyu, lalu menyisirnya dengan tangannya. Mingyu hanya menggeleng dengan mata masih tertutup. 'Manisnya,' pikir Seungcheol.

"Kalo gitu ayo sarapan," Seungcheol baru mau berdiri saat Mingyu menarik bajunya, membuat perhatiannya kembali tertuju pada anak itu.

"Appa," Mingyu mengangkat kedua tangannya, tanda minta digendong. "Ujjujju, manjanya," kata Seungcheol lalu mengangkat tubuh Mingyu dan mendudukannya di sofa ruang TV. Dia kemudian ke dapur, mengambil roti yang dia panggang yang sudah dia oleskan mentega juga telur, kemudian membawanya ke ruang TV. Seungcheol kembali lagi ke dapur dan membawa 1 gelas susu dan 1 gelas kopi ke ruang TV.

"Selamat makan," Mingyu mulai memakan sarapannya. Seungcheol memperhatikan Mingyu makan, 'lucunya,' pikirnya. Tanpa sadar dia tersenyum sambil memperhatikan Mingyu, mengabaikan piring yang masih utuh isinya di depannya.

"Appa?" Seungcheol tersadar kembali. Dia lihat Mingyu sedang menatapnya dengan kepala sedikit miring dengan ekspresi lucu. "Appa makan dong, masa Gyu doang," Mingyu berkata dengan alis bertaut. Seungcheol tertawa kecil, mengacak rambut Mingyu kemudian memakan sarapannya.

"Habis ini mandi, trus ikut appa ke rumah temen appa ya," ucap Seungcheol.

"Eung? Ngapain?"

"Ambil baju buat Gyu. Gyu ga mau kan ke mana-mana pake baju appa?"

"Tapi baju appa enak, anget,"

"Tapi kalo mau jalan-jalan gimana? Masa pake baju appa,"

"Yaudah, Gyu nurut aja,"

"Gitu dong," Seungcheol mengusap puncak kepala Mingyu. "Udah slesai makannya?," Mingyu menjawab dengan mengangguk. "Susunya abisin ya, habis itu mandi,"

Mingyu meminum susunya hingga habis, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar Seungcheol. Tetapi beberapa detik kemudian, dia kembali ke ruang TV.

"Kenapa Gyu?"

"Itu, Gyu boleh cium appa ga?" Seungcheol yang melihat wajah malu-malu Mingyu merasa gemas. Dia kemudian merentangkan tangannya, Mingyu langsung memeluknya. Seungcheol pun mencium pipi Mingyu. Mingyu terkikik geli, kemudian membalas mencium Seungcheol di kedua pipinya. Barulah setelah itu dia kembali ke kamar mandi.

.

"Jja, kita sampai," kata Seungcheol sambil mematikan mesin mobilnya. Mingyu yang bingung mau apa hanya diam memperhatikan Seungcheol. Saat ini dia masih mengenakan baju Seungcheol dan dalaman saja. Sedikit awkward untuknya memang, tapi mau bagaimana lagi.

"Ayo," Seungcheol membuka pintu untuk Mingyu lalu menggendongnya. Dia kemudian berjalan melewati pekarangan rumah Taekwoon menuju pintu depan rumahnya lalu membunyikan bel.

"Iya sebentar," dapat didengar olehnya suara Taekwoon dari dalam. Beberapa detik kemudian tampaklah Taekwoon.

"Annyeong hyung," sapa Seungcheol ramah, tapi perhatian Taekwoon lebih kepada anak yang sedang digendong oleh Seungcheol.

"Aigoo dia manis, Cheol. Siapa namamu?" tanya Taekwoon gemas melihat wajah polos Mingyu.

"Mingyu," jawabnya singkat dengan volume kecil karena dia merasa malu di depan Taekwoon. Maklum, belum kenal.

"Ayo masuk," Taekwoon menyingkir sedikit dari depan pintu untuk memberi jalan pada Seungcheol untuk masuk.

"Aku sudah memisahkan beberapa baju dan celana, langsung di coba saja di kamarku," Taekwoon berjalan ke ruang TV diikuti Mingyu.

"Coba dulu ukurannya, habis itu pilih baju yang kamu mau ya," Seungcheol bicara sambil menurunkan Mingyu dari gendongannya. Dia mulai memilih baju-baju yang ada.

"Jja, ayo coba yang ini," Seungcheol menggandeng tangan Mingyu dan membawanya ke kamar Taekwoon.

Taekwoon yang sedari tadi memperhatikan mereka tersenyum. Diam-diam dia kagum dengan perbuatan Seungcheol. Mau mengambil tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan seseorang yang dulunya bukan siapa-siapa.

Taekwoon mengenal Seungcheol sudah cukup lama, sejak SMA tepatnya. Taekwoon dulu adalah kakak kelas Seungcheol. Dia lupa detailnya bagaimana mereka bisa dekat, yang pasti mereka dulu sama sama anggota tim olahraga kebanggaan sekolah mereka dulu, Taekwoon di sepak bola dan Seungcheol di basket. Dia tahu dan sudah sering melihat kalau Seungcheol memang sangat suka membantu orang. Banyak orang yang mengaguminya dulu, tapi jarang yang sampai menyukainya atau mencintainya. Alasannya, karena dia terlalu baik ke semua orang.

Saking baiknya sekarang dia bahkan mau merawat seorang anak kecil yang tidak di kenalnya, yang biasanya tidak dianggap orang-orang. Mingyu benar benar anak yang beruntung.

Memikirkan Mingyu, Taekwoon tiba-tiba teringat dengan istri dan anaknya, Cha Hakyeon dan Jung Wonshik. Taekwoon bersyukur punya keluarga kecil yang bahagia, dengan istri yang sempurna dan anak yang penurut dan menggemaskan. Dia jadi penasaran sedang apa mereka berdua, Hakyeon di tempat dia bekerja dan Wonshik di sekolahnya.

Sekedar informasi saja, Taekwoon dan istrinya sama sama bekerja di dunia seni, meskipun di bidang yang berbeda. Taekwoon adalah seorang aktor musikal, sedangkan Hakyeon bekerja sebagai guru tari di sebuah sekolah tari. Wonshik, anak mereka, tahun ini berumur 8 tahun. Dia sudah sekolah di tingkat sekolah dasar

Saat itu juga ponsel Taekwoon berdering, ada telpon masuk. Dia segera mengambil hp nya dari kantong celananya. Melihat nama si penelpon, dia tersenyum lalu mengangkat telponnya.

"Cha-yaa~"

"Jung-ie~" balas sang istri sambil terkikik.

"Ada apa menelpon? Tumben. Kau memang tidak ada tugas?"

"Lagi jam istirahat sekarang. Aku hanya ingin menelpon saja, tiba-tiba rasanya kangen,"

"Loh kok sama? Jangan jangan kita jodoh,"

"Kalo kita ga jodoh mana bisa kita nikah, sayang," Taekwoon hanya nyengir, meskipun Hakyeon tidak bisa lihat.

"Apa Seungcheol sudah sampai di rumah?"

"Sudah, dia dan Mingyu sedang mencoba bajunya,"

"Namanya Mingyu?"

"Iya, wajahnya manis, tapi tampan juga,"

"Lebih tampan mana sama Wonshik hm?"

"Hm, siapa ya," Taekwoon pura pura berpikir dan Hakyeon hanya tertawa kecil di ujung telpon lainnya.

"Sepatu lama Wonshik yang masih bagus di coba juga saja, ada beberapa di rak depan kan? Ada 2 yang biru dan hitam seingatku, sisanya aku lupa,"

"Oke, nanti ku bilang,"

"Nanti yang jemput Wonshik kamu apa aku?"

"Mungkin aku,"

"Yasudah, aku lanjut ngajar dulu. Ppai,"

"Saranghae~"

"Nado saranghae, Jung~" Taekwoon memutus sambungan telponnya. Dia menunduk, memperhatikan layar hp nya sebentar sambil tersenyum.

"Aigo mesranya. Bikin iri," Taekwoon mendongak, melihat Seungcheol sedang berdiri di depan pintu kamarnya sambil menggandeng Mingyu yang saat ini sudah menggunakan baju sesuai ukurannya. Baju yang dulunya milik Wonshik.

"Cepat cari pacar sana, tahun depan jadi jomblo perak nanti kau," Seungcheol hanya mendengus kesal.

"Bagaimana? Cukup kah?"

"Pas sekali ukurannya,"

"Baguslah, pilih saja yang ingin kau ambil. Oh iya, kau mau sepatu juga?"

"Boleh,"

"Ini milik Wonshik dulu. Dia beli tapi hanya dipakai sekali," Taekwoon mengambil sepatu yang dimaksud. Seungcheol mengambil sepatunya dari tangan Taekwoon, dia kemudian mengangkat Mingyu dan mendudukannya di atas sofa, lalu memasangkan sepatunya di kaki Mingyu.

"Pas kah? Nyaman tidak dipakainya?" Seungcheol bertanya pada Mingyu.

"Nyaman kok, appa," jawab Mingyu sambil mengangguk-angguk lucu. Taekwoon terlihat bingung, salah satu alisnya naik.

"Appa?" tanya Taekwoon. Seungcheol hanya melihat Taekwoon dan tersenyum.

"Jja, Gyu mau pilih bajunya?" tanya Seungcheol.

"Eung, appa saja," Mingyu turun dari sofa dan berjalan mendekati kardus (bukan, bukan s coups :v) yang ada di sebelah tumpukan baju. Dia melihat kedalam kardus itu. Di dalamnya terdapat beberapa boneka, lego, miniatur hewan dan robot, dan banyak mainan lagi. Taekwoon yang melihatnya mendekati Mingyu.

"Mingyu mau main?" Mingyu terlonjak sedikit karena kaget mendengar Taekwoon.

"Memang boleh, samchon?"

"Boleh kok, main sama samchon yuk. Mau main apa Mingyu?"

"Eung, ini, yang di susun-susun," ucap Mingyu sambil mengambil satu buah lego lalu menunjukannya pada Taekwoon,"

"Itu namanya lego, Gyu," Taekwoon mulai mengeluarkan keping-keping lego lainnya. "Gyu mau bikin apa, hm?"

"Gyu mau bikin istana," Mingyu mulai menumpuk balok-balok legonya. Taekwoon membantunya menyusun legonya agar tidak mudah hancur.

Seungcheol yang sudah selesai memilih baju buat Mingyu memperhatikan mereka. Dia melihat ke dalam boks mainannya dan menemukan pistol mainan di dalamnya.

"Serang Mingyu!" seru Seungcheol sambil berpura-pura menembaki Mingyu dan Taekwoon. Suaranya jelas mengalihkan perhatian Mingyu kepadanya.

"Kyaa," Mingyu berdiri kemudian kabur ke belakang Taekwoon. Taekwoon mengambil satu pistol mainan lagi, lalu memberikannya pada Mingyu.

"Ini, Gyu. Kita ga boleh kalah oke," kata Taekwoon menyemangati.

"Dor, dor!" Mingyu mengarahkan pistolnya ke Seungcheol sambil membuat suara tiruan pistol. Mingyu kemudian berlari menjauhi Seungcheol sambil tertawa kecil. Seungcheol yang berniat mengejarnya melewati tembok istana lego Mingyu dan tak sengaja menyenggolnya sehingga jatuh dan beberapa terlepas. Mingyu berhenti berlari dan memperhatikan istananya yang sudah hancur. Matanya berkaca-kaca.

"Appa," Mingyu cemberut. Seungcheol langsung mendekatinya lalu berlutut agar tingginya sama dengan Mingyu.

"Maafkan appa ne, appa tidak sengaja, Gyu," kata Seungcheol sambil mengelus kepala Mingyu.

"Tapi hancur, appa,"

"Kalo gitu, kita susun lagi saja, appa bantu, oke?"

"Malas ah," jawab Mingyu kemudian duduk di tempat. Dia menunduk, masih dengan mulut yang ujung-ujungnya kebawah. Seungcheol hanya membuang napas panjang, dia merasa bersalah sudah menghancurkan mood Mingyu.

"Appa minta maaf, ya? Gyu jangan marah sama appa. Gyu mau main yang lain?"

" Gyu ga marah, kok. Memang malas saja," Mingyu berdiri kemudian menghampiri Seungcheol.

"Appa, peluk," ucapnya sambil merentangkan tangan di depan Seungcheol. Seungcheol tersenyum sambil menarik Mingyu ke pelukannya.

"Gyu sudah lapar?"

"Ehm, sedikit,"

"Mau makan di sini? Kita bisa pesan," Taekwoon menawarkan.

"Tidak usah, hyung. Sekalian kami pulang,"

"Oke, dadah Mingyu," Taekwoon mengacak rambut Mingyu.

"Dadah, samchon," Mingyu melembaikan tangannya. Seungcheol dan Mingyu pun pulang bersama.

Beberapa menit setelah Seungcheol dan Mingyu pulang, Taekwoon mendengar suara mobil di depan rumahnya. 'Siapa? Hakyeon belum pulang kan?' pikirnya. Dia pun mengecek dari jendelanya. Dia lihat Hakyeon keluar dari mobilnya sambil menggendong Wonshik. Taekwoon yang melihatnya langsung keluar menghampiri mereka berdua.

"Kok sudah pulang? Apa dia sakit lagi?" Taekwoon menggendong Wonshikk yang tadinya ada di gendongan Hakyeon.

"Tadi gurunya menelponku, katanya Wonshik menangis karena sakit, badannya juga panas lagi seperti kemaren," jawab Hakyeo dengan nada dan ekspresi khawatir. Taekwoon membawa wonshik ke kamar Wonshik, melepas sepatunya lalu mengganti bajunya. Dia kemudian menidurkannya di kasur.

"Eung, eomma, appa," panggil Wonshik dengan merengek.

"Shh, iya, kenapa wonie," Taekwoon mengelus kepalanya pelan.

"Dingin," Taekwoon langsung meraih selimutnya lalu menyelimutinya.

"Wonie lapar kah? Mau makan sesuatu tidak?" Hakyeon duduk di pinggir kasurnya. Wonshik hanya menjawab dengan gelengan.

"Kalo gitu woni tidur ya, istirahat. Biar cepet sembuh lagi. Katanya kamu mau main sama Kenken kan?"

"Iya, eomma,"

"Yaudah, sebentar, eomma pasangkan kompres dulu," Hakyeon kemudian menempelkan kompres penurun panas di dahinya.

"Jaljayo, wonie," Hakyeon dan Taekwoon kemudian keluar dari kamar itu.

"Sudah kuduga, seharusnya dia tidak berangkat saja tadi pagi," Taekwoon berkata sambil mengusap wajahnya.

"Tapi dia memaksa, katanya kangen sama Jaehwan. Tadi pagi badannya juga sudah sehat," Hakyeon merasa bersalah memperbolehkan Wonshik masuk tadi.

"Sudahlah, semoga saja dia cepet sembuh ya," ucap Taekwoon sambil menghampiri Hakyeon lalu memeluknya. Hakyeon langsung balas memeluknya dan menaruh wajahnya di dada Taekwoon.

"I miss my Cha-ya," bisik Taekwoon. Hakyeon tersenyum di dada Taekwoon.

"I miss you too, meskipun kita baru berpisah 5 jam saja,"

"Apa kau akan kembali ke sekolah lagi?"

"Tidak, aku sudah tidak aja jam mengajar,"

"Baguslah, aku mau menghabiskan waktu bersamamu,"

"Dengan mengurus Wonshik?"

"Dengan mengurus Wonshik," Hakyeon hanya tertawa kecil, kemudian mengeratkan pelukannya.

.

TBC

.

Maaf kalo mengecewakan, saya disibukan dengan sekolah dan ide ceritanya ga muncul-mucul di otak. Cheolsoo akan saya munculkan chap dpn, di chap ini romancenya neo dulu (gatw deh pantes disebut romance apa engga :'v)

Kritik dan saran akan sangat aku terima.

Lastly, please review…

Thanks for reading…