Chanyeol berjalan tergesa menyusuri lorong. Beberapa kali menahan diri agar tidak berlari. Berbelok saat melihat tangga dan menaiki tiga anak tangga sekaligus.

Dia sudah tak tahan.

Kakinya reflek memelan saat melihat segerombolan mahasiswa keluar dari ruangan.

Tangannya tanpa sadar mengusap rambutnya kebelakang, merapikan kemeja yang dia pakai, dan membenarkan letak tas di bahunya.

Lalu berjalan cepat saat melihat seseorang hendak melangkahkan kaki keluar ruangan.

"Hay.."

Dia muncul tepat saat seseorang itu baru keluar satu langkah.

Chanyeol memasang senyum terbaiknya saat orang itu menaikkan satu alisnya.

"Oh hay?"

Dan Chanyeol meleleh saat dia balas menyapanya.

Chanyeol menatapnya dengan tatapan memuja. Matanya kecil dan akan hilang saat dia tersenyum. Bibirnya tipis dan akan mengerucut saat dia kesal.

Dan Chanyeol masih tersenyum lebar saat menatapnya.

"Emm.. Maaf tapi bisakah kalian menyingkir terlebih dahulu baru melepas rindu?"

Itu Kyungsoo yang menganggu kesenangan Chanyeol.

"Ahh, sorry."

Chanyeol melihatnya bergeser dari pintu dan Chanyeol hanya bisa melirik kesal kearah Kyungsoo.

"Ada apa kau kemari, Chan?"

Chanyeol hanya bisa mengusap leher bagian belakangnya dan memasang tampang polosnya.

"Merindukanmu mungkin, Baek?"

Dia Baekhyun, mahasiswa komunikasi.

Dan Chanyeol salah satu dari mereka yang terang-terangan tertarik pada Baekhyun.

Baekhyun berjalan melewati Chanyeol, mengabaikannya.

Berusaha untuk sebisa mungkin tidak memberi atensi pada keberadaan pemuda itu.

Berjalan kearah tangga lalu turun dengan perlahan.

Baekhyun masih bisa mendengar langkah kaki yang mengikutinya. Dia sudah biasa diikuti seperti ini. Tapi itu bukan Chanyeol. Chanyeol biasa berjalan disampingnya, bukan di belakangnya.

Ada yang salah.

Baekhyun menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. Semua dilakukan dalam satu detik.

Dan Chanyeol hanya bisa menghentikan langkahnya secepat mungkin sampai sepatunya berdecit lirih.

Dia memandang kearah Baekhyun dan menatapnya dengan tatapan polos.

"Katakan," ucap Baekhyun.

"Apa?"

"Katakan apa yang ingin kau katakan sebelum aku berbalik dan tak mau mendengarmu lagi,"

Chanyeol menundukkan kepalanya dan perlahan kepercayaan dirinya tak lagi sama seperti beberapa detik lalu.

"Baek, aku minta maaf," suara Chanyeol tampak lirih dan hampir tak terdengar.

Baekhyun menghela napas dan menahan diri untuk tidak melempar tasnya ke wajah orang dihadapannya.

Ngomong-ngomong tas Baekhyun berisi laptop.

"Sudah?"

Chanyeol mengangkat kepalanya perlahan dan Baekhyun bisa melihat dengan jelas wajah memelas pemuda itu.

Aah Baekhyun bingung harus memeluk pemuda itu atau justru menendangnya.

"Aku tak apa-apa, Baek. Sungguh," katanya masih dengan wajah memelas.

Melihat Baekhyun yang masih diam, Chanyeol memutar badannya 360 derajat supaya Baekhyun bisa memastikan bahwa dia baik-baik saja.

"Katakan itu pada bahumu yang lebam,"

Lalu Baekhyun meremas dengan sengaja lengan kiri Chanyeol.

"AAAAWWW!"

Baekhyun berjalan keluar dapur dengan membawa sebuah baskom yang berisi es batu.

Bibirnya terus mengerucut sejak sepuluh menit lalu.

Penyebabnya? Sudah pasti seorang pemuda yang sedang duduk di atas karpet dengan lebam di lengan kirinya.

"Obati sendiri. Aku tak mau menyentuhmu."

Chanyeol menatap Baekhyun yang berdiri menjulang di hadapannya dan menerima baskom yang diberikan.

Baekhyun masih kesal ternyata.

"Baek, aku tak apa. Ini hanya luka kecil."

"Diam dan obati lukamu."

"Baek,"

"Diam, Chanyeol."

Dan Chanyeol tak bisa melakukan apapun selain diam dan mulai mengobati lukanya.

Kau pikir apa?

Mereka sepasang kekasih?

Nyatanya mereka hanya dua orang yang terlalu takut untuk mengungkapkan perasaan.

Namun tak terlalu takut untuk saling memberi perhatian.

Baekhyun takut Chanyeol terluka saat melakukan aksi.

Dan Chanyeol takut Baekhyun marah saat dia terluka.

"Aku ingat, aku berkata tidak saat seseorang datang padaku dan mengatakan akan ikut aksi," suara Baekhyun terdengar sayup-sayup.

Chanyeol merinding mendengarnya.

"Baek, aku tidak bisa jika tidak ikut,"

"Aku tak berkata itu kau,"

Chanyeol menyerah.

Baekhyun yang marah itu menyeramkan.

"Kudengar aksi kemarin tak berjalan lancar, Yeol," itu Kai yang datang dengan sebungkus keripik dan hanya mengenakan boxer.

"Yah memang. Aparat mulai menyerang mahasiswa tepat pukul tujuh malam. Dengan dalih kita harus dibubarkan," jelas Chanyeol sambil menekan lukanya.

"Mengapa begitu? Bukankah kalian tetap tenang saat aksi?"

"Kita tenang. Namun tiba-tiba seorang aparat menarik salah satu mahasiswa yang sebelumnya melakukan orasi,"

"Lalu?"

Kai tampak tertarik dengan cerita dari sumber yang terlibat langsung daripada cerita dari media.

"Salah satu dari kami melihat dia disikut dengan sengaja. Meskipun dia berusaha menutupi diri dan berpura-pura baik-baik saja, tapi kami tau dia sedang menahan sakit,"

"Memangnya siapa yang ditarik?"

"Bobby dari HI," ada jeda.

Chanyeol menghela napas dan menatap kompres di tangannya. Pandangannya tak fokus, seakan nyawanya tak ada di sini.

"Hanbin yang melihatnya dan dia tau Bobby kesakitan. Lalu dia memberitahu kami keadaan Bobby dan suasana menjadi ricuh seketika."

"Tidak parah kan?"

"Tidak. Kami mulai mundur saat aparat mencoba menyeret kami satu persatu. Beruntung kami bubar tepat waktu. Dan aku hanya dapat lebam di lengan karena ditarik paksa,"

"Sudah tahu aksi biasa berakhir ricuh, kau masih saja ikut,"

Chanyeol mendelik ke arah Kai yang bersikap seolah tak bersalah. Pandangannya beralih ke arah Baekhyun yang melipat tangannya di dada dan menatap datar ke arahnya.

Sialan, siaga satu.

"Emm, Kai kurasa kau harus pergi ke kamar dan memakai bajumu,"

Chanyeol bangkit dan mendorong paksa Kai untuk pergi.

Dan Kai pergi dengan tatapan heran ke arah Chanyeol.

Chanyeol mendelik kearahnya seakan memerintah Kai untuk pergi secepat mungkin.

"Baek,"

"Sudah selesai kan? Aku pulang,"

Saat Baekhyun hendak bangkit, Chanyeol reflek menarik tangannya.

"Tidak semua, Baek. Tidak semua aksi berakhir ricuh. Percaya padaku," mata Chanyeol mulai memelas lagi.

"Dari kebanyakan yang kutahu dan hampir dari semua yang kau ikuti itu berakhir ricuh,"

Chanyeol diam dan dia tahu ini tidak akan berakhir cepat.

"Kau tahu apa yang kutakutkan, Chan."

"Aku tahu, Baek. Aku tahu," dia memandang Baekhyun dengan pandangan sendu.

"Kau tahu tapi kau mengabaikan itu,"

"Baek, aku bisa menjaga diriku,"

"Kita takkan pernah tahu apa yang akan mereka lakukan, Chan. Mungkin sekarang mereka diam tapi siapa yang tahu apa yang mereka rencanakan di belakang kita,"

"Apapun yang mereka rencanakan, aku tak peduli. Setidaknya kita sudah mencoba,"

"Dan kau juga mulai tak peduli padaku,"

Baekhyun bangkit dan Chanyeol kembali menahan tangannya.

"Aku peduli padamu, Baek," suara Chanyeol bergetar.

"Tidak. Kau tidak. Bahkan saat aku berteriak memintamu jangan pergi kau tak peduli dengan itu. Bahkan saat kau tahu aku menangis ketika kau mulai menyuarakan aksi,"

"Baek, dengarkan aku,"

"Kau tak peduli, Chan. Bahkan mungkin saat aku berlutut di hadapanmu, kau tetap tak peduli."

"Baek, dengarkan aku!" tanpa sadar suara Chanyeol meninggi.

"Kau yang dengarkan aku!"

Baekhyun menyentak pegangan tangan Chanyeol.

"Aku mengkhawatirkanmu setengah mati tapi kau tak peduli dengan itu! Kau tetap pergi meski aku memohon untuk kau tetap diam disini!"

Baekhyun tiba-tiba tersenyum dan itu membuat Chanyeol takut setengah mati.

Ini tidak benar.

"Huh, mungkin saat aku yang pergi baru kau akan peduli,"

Dan saat Baekhyun berbalik lalu pergi dari apartemen yang ditempatinya, Chanyeol benar-benar sadar ini berakhir terlalu cepat.

Dia kehilangan Baekhyun bahkan sebelum sempat memilikinya.

TBC