Hai… hai…. Hai Minna…~~! ^^

Bagaimana dengan Prologue-nya? Gaje kah? Gak enak kah? Alur kecepetan kah? Kurang panjang kah?

Sakura: Yang mana yang bener? *Menghela nafas* (-.-)

Pemainnya kok baru aku? Mana yang lain? Kemarin anak kecil… *Sigh* (-_-)

Author : Sabar… (-.-) Author kurang dana buat menggaet pemain baru…. Sudah dibaca? Kita akan take sebentar lagi…

Ya sudahlah…. Yang manapun…. Up to you…. Readers!

Enjoy reading…. Love you… ;*) *Digaplok kertas*

.

.

.

All Char Masashi Kishimoto-sensei

Story Uchiha Hazuna

{Jika ada kemiripan dengan unsur cerita, A/N, atau apa pun itu, Hazu minta maaf. Ini sebenarnya ide Hazu sendiri dan gak menyontek milik senpai-senpai sekalian… *Bungkukin badan*}

妹は...私を見て!

.


Nii-chan,…Watashiwomite!

(Kakak…. Lihatlah aku!)


.

.

Chapter 1 : His reason about his hate…

.

Semilir angin berhembus memainkan tirai yang terdapat pada kamar. Cahaya mentari menyusup masuk melalui celah tersebut. Membangunkan seorang gadis yang sedari tadi asyik berkelana dalam alam mimpinya.

"Enngh..~"

Langsung saja ia bangun, menyibak selimut yang menutupinya hingga sebatas dada dan berjalan menuju kamar mandi.

.

.

"Ohayo, Sakura." Sapa seorang pemuda berambut hitam legam kearah gadis yang baru saja menuruni anak tangga terakhir.

"Ohayo, Itachi-nii." Balasnya seraya menyunggingkan senyum tulusnya. "Sedang apa, nii-san?"

"Seperti biasa. Rutinitas pagi." Jawab pemuda yang dipanggil Itachi oleh gadis tersebut.

Sang gadis mengangguk. "Oh… Itachi-nii ranjin sekali…"

"Hoaaahm…" Terdengar suara seseorang yang menguap membuat gadis tersebut mengedarkan pandangannnya mencari sumber suara tersebut.

"Ohayou, Sai-nii." Sapanya kearah pemuda berambut hitam legam namun sedikit lepek yang sedang menguap lebar sembari menuruni satu per satu anak tangga.

"Ohayou, Sakura. Tumben bangun pagi." Balas pemuda tersebut yang ternyata bernama Sai sembari menuang segelas susu. Gadis itu, Sakura menggembungkan pipinya kesal.

"Uuuh… Sai-nii ! Aku kan selalu bangun pagi!" Sewotnya yang langsung mendekati Sai dan memukul lengannya. Hampir saja ia tersedak lantaran sedang minum dan Sakura memukul lengannya dengan tenaga besarnya itu.

"Sakura, Ittai! Aku kan hanya bercanda. Kau ini tak manis ya. Tenagamu terlalu besar untuk pukulan seorang gadis!" Seru Sai yang membuat Sakura makin menggembungkan pipinya. Ia semakin gencar memukuli Sai.

"Sakura…!"

"Sai-nii… !"

Keduanya masih saja asyik beradu mulut hingga sebuah teriakan yang langsung membuat mereka terdiam membisu.

"BERISIK!"

Sakura menoleh kearah sumber suara dan ia mendapati seorang pemuda lagi berambut hitam dengan sedikit unsur kebiruan. Gaya rambutnya yang khas dan tatapan tajamnya. Tentu semua sudah mengetahui siapa dia.

Sakura menyunggingkan senyumannya. "Ohayo…-"

"Cih. Tak usah sok akrab denganku!" Ujar pemuda tersebut memutus sapaan Sakura. Ia langsung berjalan begitu saja melewati Sakura yang terdiam mendengar kata-katanya yang dingin dan menusuk hati.

"Sa… Sasuke-nii..?"

Pemuda tersebut yang ternyata bernama Sasuke tak menggubris kata-kata Sakura.

Itachi yang mendengar kata-kata yang terucap dari adiknya, langsung menghampiri sang adik dan menepuk bahunya pelan. "Sasuke, kenapa kau seperti itu? Sakura kan adikmu."

Sasuke menoleh dan menyeringai. "Adik?" Ia menatap tajam ke arah Sakura. "Gadis seperti dia adalah adikku?! Cih! Jangan harap!"

"Sasuke!" Itachi menatap Sasuke tajam. Sasuke justru malah semakin menyeringai. "Kenapa aniki? Kau tak suka padaku kan?"

"Dengar semua. Terutama kau!" Sasuke menunjuk tepat ke arah wajah Sakura. "Walaupun semua menganggap kalau Sakura adalah anak keluarga ini sekaligus adik kalian dan tentunya adikku, aku tetap takkan menganggap ia sebagai adikku."

"Kenapa?" Sakura mengeluarkan suaranya yang langsung membuat Sasuke tambah menatapnya tajam dan dingin. Sakura menundukkan kepalanya tak mau saling tatap dengan sang kakak.

"Hn? Kau ingin tau?!" Sasuke memperlebar seringaiannya. Seringaian merendahkan. Sakura mengangguk.

"Karena kau…"

"Hentikan, Sasuke!" Itachi memutus ucapan Sasuke. Sasuke mendelik tajam kearah Itachi. Ia langsung membuang mukanya dan menatap lagi ke arah Sakura.

"Karena kau tak satu darah. Dan lagi kau bukanlah… seorang Uchiha." Sasuke mengucapkannya dengan penekanan pada 'seorang Uchiha' ditambah pula dengan nada yang dingin… sangat dingin.

Sasuke langsung menaiki anak tangga dan menuju ke atas tanpa mau menggubris lagi apa yang akan diucapkan kakaknya.

"Anak itu benar-benar…" Itachi menggelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir. Masih sebegitunya kah adiknya membenci Sakura.

Sai hanya diam tak berkomentar apa pun. Ia malah menyalakan televisi dan mulai menonton acara kartun kesukaannya.

"Sakura." Itachi menepuk pelan bahu Sakura. "Sabar ya."

Sakura tersenyum. "Hahaha… Itachi-nii, hal seperti itu tak masalah. Walaupun ia tak menganggapku, aku akan selalu menganggapnya kakakku. Tenang saja."

Itachi tersenyum kecut. Ia tahu walaupun Sakura, adiknya tersenyum dan tertawa seperti itu di hadapannya sebenarnya ia sangatlah terluka. Tetapi Itachi tak ambil pusing. Ia hanya membalas senyuman dan tawa Sakura. Ia hanya bisa menghiburnya sebagai kakaknya.

"Ya sudah. Itachi -nii dan Sai-nii belum sarapan kan? Bagaimana kalau aku buatkan sarapan. Nah kalian ingin apa?"

Itachi tersenyum. "Terserah kau saja. Apa pun masakanmu, aku akan tetap memakannya."

Sai memalingkan pandangannya sebentar dari televisi lalu menatap kearah Sakura. "Aku yang seperti biasa saja. Kalau sudah jadi panggil aku ya." Pesannya yang langsung kembali menonton.

Sakura mengangguk dan tersenyum.

.

.

"Sai-nii… Itachi-nii… Makanan sudah siap!" Seru Sakura membuat Itachi dan Sai langsung menyerbu ke meja makan. Hidung mereka tampak kembang kempis mencium aroma masakan Sakura yang menggugah selera makan.

Tak tak

Suara sendok yang beradu dengan mangkuk makan sebagai penghantar waktu sarapan mereka. Sakura tampak senyum-senyum sembari memerhatikan kedua kakaknya.

Sai menyadari jikalau Sakura sedari tadi memerhatikannya dan Itachi. Ia menghentikan makannya sejenak. "Kenapa kau memerhatikan kami sedari tadi?"

Sakura masih setia menampilkan senyumannya. "Ah… tidak. Aku hanya ingin bertanya masakanku enak apa tidak?"

"E…" Baru Sai akan menjawab, ia sudah diserobot oleh Itachi. "Enak! Enak sekali masakanmu, Sakura! Kau memang pantas jadi adikku!" Seru Itachi yang membuat Sai mendecih kesal.

Sakura tertawa kecil melihat tingkah kedua kakaknya itu. Sifat kekanak-kanakan merekalah yang selalu membuat Sakura tak bisa menahan tawanya.

"Pfft… hahaha…" Itachi dan Sai langsung terdiam mendengar dan melihat Sakura tertawa lepas seprti itu. Satu kata yang tepat menggambarkan pikiran mereka terhadap sang adik, 'Manis'.

"Ya sudah. Di habiskan ya." Ucap Sakura. Ia mengambil sebuah nampan dan menaruh semangkuk sup, semangkuk nasi, sepiring kecil ikan, sendok, sumpit dan segelas jus tomat. Sai dan itachi yang melihatnya mengeryit heran. "Untuk siapa, Sakura?" Tanya mereka berbarengan.

"Hei! Kenapa kau meniruku?!" Sewot Itachi. "Kau yang meniruku!" Balas Sai tak kalah sewotnya. Sakura kembali tertawa melihat perkelahian sepele kedua kakaknya. Mereka berdua masih saja asyik berdebat. Sakura langsung menggebrak meja. "Berhenti! Habiskan makanan dan jangan berkelahi saat makan." Ucap Sakura yang langsung membuat kedua kakaknya sedikit bergidik ngeri. Tentu saja, mereka takut akan pukulan dahsyat Sakura yang pastinya akan membuat mereka langsung… sudahlah! Membayangkan saja mereka sudah ngeri.

"Ya… ya… nah itu untuk siapa?" Tanya Sai sembari menunjuk talenan yang dipegang Sakura. Sakura tersenyum. "Untuk Sasuke-nii. Kenapa?" Sakura menjawab sekaligus balik bertanya.

Sai menggeleng. "Ah… tidak. Kenapa kau memberinya? Bukankah ia selalu menolak masakanmu?" Ceplos Sai. Itachi langsung membekap mulut Sai dengan tangannya membuat Sai sedikit meronta lantaran hidungnya juga sempat terbekap sehingga sulit bernapas.

"Baka! Sakura akan sedih tau!" Bisik Itachi di telinga Sai. Sai hanya diam.

Sakura tampak menundukkan kepalanya sebentar. Ia langsung mengangkatnya lagi dan menatap kedua kakaknya dengan tatapan yang menyiratkan kesedihan. "Tidak apa kalau ia menolaknya."

"Walaupun Sasuke-nii akan menolak makanan buatanku, aku akan tetap memberikannya. Lagipula aku tak mau membiarkan kakakku lapar lantaran belum sarapan." Jelasnya diiringi senyuman. "Baiklah. Aku ke kamar Sasuke-nii dulu." Pamitnya yang langsung melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Sasuke yang berada di lantai 2.

.

.

Tok… tok…

Ini sudah kesepuluh kalinya Sakura mengetok pintu kamar Sasuke. Dan selama itulah tak ada jawaban maupun sahutan dari pemilik kamar.

'Huuuft…. Apa tak ada ya? Tapi tadi kayaknya ke kamar. Apa kutaruh di sini saja?'

Ketika Sakura akan menaruh di depan pintu sang kakak, sebuah pikiran muncul tiba-tiba di dalam benaknya. Jika saja ia menaruh makanan di sini, sudah dipastikan makanan itu akan utuh sampai besok pagi. Dengan berat hati, ia membuka pintu kamar dan memasuki kamar Sasuke.

"Permisi, Sasuke-nii." Ucapnya. Tak ada jawaban.

Kamarnya begitu gelap. Lampunya tak dinyalakan. Manapula dindingnya didominasi oleh warna biru tua kesukaan Sasuke. Tambah lah gelapnya kamar itu.

"Kuletakkan di sini saja kali ya…" Gumam Sakura sembari menaruh nampan tersebut di atas meja kecil di dekat pintu. Ketika ia akan berjalan keluar, tiba-tiba...

CTEK

Lampu menyala. Semua yang ada di dalam ruangan terlihat termasuk seseorang yang nampak berdiri di dekat pintu yang melihat ke arah Sakura dengan tatapan menusuk dan alis bertaut.

"Ngapain kau di sini?!" Tanya Sasuke. Sakura langsung terdiam menatap sang kakak.

"Ngapain kau di sini!?" Sasuke mengulang pertanyaannya. Sakura menunjuk nampan di atas meja. "A… itu… aku… Aku mau mengantarkan sarapan untuk Sasuke-nii. Ya, itu saja."

Sasuke mendecih mendengar jawaban Sakura. "Cih. Kau lagi yang memasaknya?"

Sakura mengangguk. "Ya. Aku memasak sup ekstra tomat kesukaan nii-san. Cobalah."

"Untuk apa kau memasakkan untukku?"

Sakura terdiam sejenak lalu tersenyum sebelum menjawab. "Aku pasti kan selalu memasak makanan yang terbaik untuk kakakku. Sasuke-nii adalah kakakku. Jadi kumasakkan ini untukmu. Nii-san belum sarapan kan? Aku takkan membiarkan kakakku lapar lantaran belum sarapan."

"Yaaah… walaupun Sasuke-nii tak menganggapku adikmu, tapi aku akan selalu menganggap Sasuke-nii adalah kakakku." Sakura tersenyum kecut. Ia menatap Sasuke yang memasang tampang datarnya. Membuatnya sedikit merasa sedih.

"Hanya itukah keperluanmu?"

Sakura mengangguk. "Hanya itu."

"Kalau begitu…" . "Keluarlah!"

"Sa… Sasuke-nii…"

"Kubilang… keluar!"

Sakura tak kunjung beranjak dari tempatnya. Sasuke menatapnya tajam. "Kalau kau tak mengaerti kata-kataku…"

"…. Kupastikan kau mengerti dengan perbuatan."

Sasuke berjalan ke arah Sakura. Ia mendorongnya ke arah tembok dan mengunci pergerakannya.

"Sa… Sasuke-nii ?!" Sakura membelalakkan matanya terkajut atas apa yang dilakukan Sasuke padanya.

"Diamlah!"

"Ap…. Apa yang akan kau lakukan?!" Sakura berusaha meronta melepaskan kuncian Sasuke pada pergelangan tangannya. Walaupun Sakura memang kuat, namun yang menguncinya, kakaknya jauh lebih kuat lagi.

"Diamlah!"

"Le… lepaskan!"

"Sudah kubilang diamlah…" Bisik Sasuke pelan tepat di telinga Sakura. Sakura bergidik ketika mendengar suara dan nafas hangat sang kakak yang menerpa telinganya.

"Nggh…~"

Tanpa diduga, Sasuke menjilat telinga kiri Sakura. Sakura hampir memekik kaget lantaran tiba-tiba dan sangat cepat. Dalam hitungan seprsekian detik, telinga Sakura telah basah oleh saliva sang kakak.

"Engggh….~~" Sakura mengeluarkan desahan pelan namun masih mampu didengar Sasuke. Kembali ia jilat dan kulum daun telinga sang adik. Membuat desahan Sakura kian mengencang.

"Ahhnnn….. Engggh…~~"

Sasuke menatap wajah Sakura yang sudah merona, nafas ngos-ngosan, dan tubuh yang gemetar. Jangan lupakan air mata yang sudah membanjiri pelupuk matanya. Sasuke terdiam. Masih memerhatikan wajah Sakura. Tak lama ia mulai dekatkan wajahnya. Sakura bisa merasakan hembusan nafas hangat sang kakak yang menerpa wajahnya.

"Hentikan…! Hentikan, Sasuke-nii!"

Sasuke menghentikan kegiatannya ketika ia mendengar cegahan adiknya. Kuncian Sasuke mengendur sehingga Sakura langsung mendorong sang kakak dan berlari sekuat tenaga menuju kamarnya.

Sasuke jatuh terjungkal akibat dorongan Sakura . Ia menatap langit-langit kamarnya. Entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya.

"Baka."

Sebersit pikiran muncul di dalam benaknya. Ia teringat alasan adiknya masuk ke dalam kamarnya tanpa seizin. Ia tolehkan pandangannya ke arah sebuah nampan di atas meja kecilnya. Ia dekati nampan tersebut dan melihat apa yang ada. Semangkuk sup ekstra tomat yang sudah mendingin namun aromanya yang masih mengunggah selera. Apalagi dalam keadaan perut kosong macam keadaannya kini. Ia cicipi sesendok.

"Enak."

Segera ia ambil segelas jus tomat tersebut dan menegaknya. Nyaris tandas.

"Enak juga. Manis…"

.

.

Sakura's POV

Kucoba berlari… hingga sedikit lagi aku sampai pada kamarku. Kubuka pintu kamar dan langsung kukunci dari dalam. Lututku serasa melemas mengingat kejadian tadi… kejadian dimana kakakku, Sasuke-nii akan menciumku tepat di bibir. Memikirkan kejadian tadi langsung membuatku tanpa sadar menyentuh bibirku. Bibir yang sudah selama ini kujaga kesuciannya, hampir saja di renggut oleh kakakku.

Air mataku sudah menumpah ruah begitu saja. Kucoba meredam isak tangisku dengan membenamkan wajahku di antara kedua lutuku. Agar tak ada yang tahu jikalau aku menangis. Aku tak mau membuat semua orang di rumah ini kahawatir… tak mau…

Tiba-tiba kepalaku berdenyut nyeri. Pusing. Pandanganku kian menggelap. Tubuhku serasa melemas. Setelah itu… aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi padaku…

.

.

.

.


To Be Continued…


A/N :

Author : Horeeee~~~! Capter 1 berhasil! *Sorak-sorai gaje*

Sakura : Kayaknya aku menderita ya… (-_-)

Itachi : Perkenalkan…. Aku itachi yang mulai sekarang akan bermain di fict ini…. *Senyum*

Sai : Hai… Namaku Sai. ;*

Sakura : Perkenalannya telat… (._.)

Author : Ya… Gpp lah…

Itachi : Hoi! Sasuke perkenalkan dirimu! *Seret Sasuke*

Sasuke : Hn… *Ogah-ogahan* Sasuke… sudah kan? Dah… *Pergi*

Author : Ya sudah lah… Mereka pemain baru yang baru berhasil digaet… entah bertahan sampai kapan ya? (-_-')

Okay, Readers… Abaikan yang di atas… Nah, bagaimana dengan Chapter satu yang ini? Aneh kah? Gak nyambung kah? Kependekan kah? Alur kecepetan kah?

Jawabannya terserah kalian…. Hazu tak bisa meminta lebih… Hanya meminta jejak kalian…. (REVIEW).

Salam hangat selalu…. 8) Kalau kurang hangat panasin lagi yaaaa… *Digaplok, langsung diseret*

Hazu