"Selamat datang, Yunho."
Yunho tersenyum. Membalas pelukan yeoja yang melahirkannya itu dengan erat.
Jung Yuna menatap putra semata wayangnya yang berdiri di hadapannya. Mata tajamnya yang diwariskan pada Yunho menatap intens. Mengamati setiap detail putranya yang sudah begitu lama tidak ditemuinya.
"Bagaimana Jerman?" tanyanya. Sekilas ia melirik koper yang dibawa Yunho. Menunjukkan banyaknya barang yang dijejalkan ke dalamnya. "Ha-Eun tidak ikut?" tanyanya.
Yunho menggeleng. "Dia akan menyusul, tapi aku tidak tahu kapan."
"Oh...," Yuna mengangguk-angguk. Tapi tidak bisa menyembunyikan suaranya yang terdengar sedih.
"Maafkan aku, umma. Tapi keputusanku sudah bulat," kata Yunho. Ia tahu umma-nya kecewa dengan keputusannya untuk mengambil jalan perceraian di pernikahannya.
Yuna menghembuskan nafas berat, "bukankah Ha-Eun sendiri tidak keberatan untuk menetap di Korea? Kenapa kau ingin menceraikannya?" tanya yeoja itu. Nadanya terdengar biasa, namun jelas yeoja yang kini memasuki usia senjanya itu serius dengan pertanyaannya. Ia menatap tajam Yunho, mencoba mengorek secuil rahasia yang membayang di sana.
Sementara Yunho terdiam, Jessica melirik Krystal. Mereka ada di ruangan yang sama sejak tadi, namun hanya diam dan mengamati. Keduanya bisa merasakan ketegangan menanjak di dalam ruang tamu rumah keluarga mereka itu.
"Umma, biarkan Yunho-oppa istirahat dulu, ne?" Krystal maju dan menggandeng lengan Yunho, berusaha mencairkan suasana. Ia juga tidak ingin mereka bertengkar di hari pertama bertemu setelah sekian lama. "Perjalanan dari Jerman pasti melelahkan. Kita bisa membicarakannya nanti."
Yunho menatap adiknya dengan tatapan berterima kasih.
Yuna menatap putranya sejenak, kemudian mengibaskan tangannya, "istirahatlah dulu."
StoryFromClocktower presents
An alternate universe YunJae fanfiction
.
.
—Tears of the (Un)Forgotten Agony—
Chapter 1: Shadow of the Past
.
.
If you coat the events of the past with a layer of love, it becomes a memory—JJ (Gashiyeon by Maio)
Yunho mengernyit, matanya terbuka—tubuhnya terbangun dari tidur tanpa mimpi yang dilaluinya semalam. Suasana kamarnya yang sejuk di pagi hari membuatnya ingin memejamkan matanya lagi. Sudah satu minggu lebih sejak kedatangannya di Korea. Keluarga mereka masih dalam masa berkabung. Jadi Yunho menghabiskan hari-hari di rumah saja, menganggur. Tapi hari ini ia sudah memutuskan ia harus mulai melakukan sesuatu.
Ia mengecap bibirnya yang terasa kering. Yunho menguap lambat dan dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya—dalam hati menyemangati dirinya sendiri. Ia bahkan melakukan ritual mandinya lebih singkat daripada biasanya.
Selesai membersihkan tubuhnya, Yunho berdiri di depan cermin, memakai setelan jas yang santai berwarna cokelat tua. Tidak lupa dia menata rambutnya yang sudah agak terlalu panjang—mungkin ia harus ke tukang cukur dan memotongnya sedikit. Ditatapnya dirinya sendiri di cermin setinggi badan itu. Yah, tidak buruk. Sepatunya sedikit kusam, tapi Yunho sedang tidak ingin memusingkannya. Sembari tersenyum simpul, ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
"Pagi, oppa," kata Krystal saat Yunho muncul di meja makan.
Yunho menjawab dengan gumaman singkat dan mendudukan diri di meja. "Dimana, umma?" tanya Yunho, tidak melihat sosok ibu mereka.
"Sekarang umma mengikuti senam pagi tiap dua hari sekali," jawab Krystal tanpa mengalihkan pandangannya dari meja makan, "beliau sudah berangkat satu jam yang lalu."
"Oooh..." Yunho mengangguk-angguk.
Jessica datang tak lama kemudian, masih dengan piyama tidurnya dan wajah yang mengantuk. Yeoja itu mengerutkan kening melihat Yunho dengan setelah rapi.
"Oppa mau kemana?" tanyanya, masih dengan mata setengah terpejam.
"Mengunjungi beberapa cabang dan mengurus pergantian kepemilikan."
"Oooh..." Jessica menggumam.
"Kau mau ikut?" tanya Yunho, menawarkan.
"Ani, aku ada pemotretan siang ini."
Yunho mengangguk. Ia mulai menyendok makanannya.
Keluarga Yunho memiliki usaha swalayan di Korea Selatan, karena itulah keluarga mereka hidup berkecukupan. Tidak, mereka bukan konglomerat yang memiliki rumah bak istana dengan puluhan pelayan—hal itu hanya ada di film-film. Mereka keluarga biasa dengan taraf hidup tinggi. Swalayan mereka yang tersebar di berbagai pelosok itupun berawal dari toserba kecil di Seoul. Namun berkat keuletan kedua orang tuanya dulu, usaha kecil itu membesar dan mengalirkan uang ke rumah mereka dengan rapi. Keuangan dan pemasukan mereka meningkat seiring dengan jumlah cabang yang bertambah.
Shim Changmin berdiri di depan sebuah pintu apartemen dengan nomor 1104. Tangannya merogoh-rogoh ke dalam tasnya, berusaha mencari-cari sebuah kunci yang bergemerincing diantara aneka benda yang bercampur aduk di dalamnya. Saat tangannya merasakan sebentuk kunci, ia menariknya dan mengeluarkan segenggam kunci dari sana.
Bibirnya menggerutu dan mulai memilah kunci-kunci itu.
Kunci rumahnya...
Kunci gembok rumahnya...
Kunci gerbang rumahnya...
Kunci mobilnya...
Ini dia!
Changmin segera memisahkan sebuah kunci yang familiar dimatanya itu. Setelah memasukkan semua kunci-kunci lain kembali ke sakunya dan memastikan tak ada yang tercecer, Changmin segera memasukkan kunci tadi ke lubang kunci dan memutarnya.
"Jaejoong-hyung" dia memanggil sembari membuka pintu.
Tidak ada jawaban.
Angin yang hangat menerpa pergelangan kakinya. Changmin tidak terkejut, ia menengok kebawah dan menemukan seekor anjing pudel keemasan menatapnya dengan lidah terjulur. "Annyeong, Changseok," sapa Changmin sembari menggaruk tengkuk anjing itu. "Mana Jaejoong-hyung?" tanyanya, bermonolog.
Tentu saja anjing itu tidak menjawab. Hanya menjulurkan lidahnya dan berputar-putar diantara kakinya, membuatnya hampir tersandung.
Changmin meletakkan tasnya di dekat pintu dan berjalan masuk. Di ruang tamu, ia melihat beberapa barang yang familiar. Jaket yang dilempar begitu saja di atas sofa, tas seorang pria terjatuh di lantai. Changmin mengenali barang-barang itu, milik seorang tamu yang sedang berciuman panas dengan sang pemilik apartemen di dapur.
"Ehem!" Changmin berdeham dengan berlebihan.
Keduanya melepaskan ciuman mereka dan menatap Changmin, namun tanpa keterkejutan. Seolah sudah terbiasa. Memang, jelas bukan kali pertama Changmin memergoki keduanya. Bahkan sudah tidak bisa dihitung lagi berapa kali. Jaejoong mengangkat alisnya, tatapannya mengatakan 'kenapa kau kemari?'.
"Kuharap kau tidak lupa kalau kau ada wawancara dengan S Magazine untuk edisi winter, hyung. Lalu kau juga ada pemotretan untuk ELLE dan rekaman ulang," Changmin melipat tangannya di dada, menatap tajam pada sang 'tamu' yang tidak lain adalah Choi Seunghyun.
Seunghyun yang merasakan tatapan itu terkekeh pelan. "Baiklah, aku pulang dulu," katanya, sembari mencuri sebuah ciuman dari bibir Jaejoong sekali lagi.
"Bye!" Jaejoong melambai.
Seunghyun membalas lamabaian itu dan sosoknya kemudian menghilang di balik koridor. Lalu terdengar bunyi pintu yang dibuka kemudian ditutup kembali.
Changmin melirik Jaejoong. Sejenak mengamati namja di depannya, yang tampan, diidolakan semua orang, tidak kekurangan secara materi. Tapi...
"Apa?" tanya Jaejoong dengan wajah jengah. Hari masih pagi, jangan sampai Changmin memulai ceramah rutinnya.
"Hyung, tidakkah kau memikirkan masa depanmu?" katanya perlahan. "Jangan seperti ini," nasehat Changmin. "Carilah orang yang baik, yang benar-benar mencintaimu. Kau bisa berkencan diam-diam tanpa tercium publik."
"Jangan mulai, Shim Changmin," Jaejoong melirik bosan. Mungkin sudah keseribu kali Changmin mengulang kalimat itu. Ia tidak berencana putus kontak dengan Seunghyun.
"Aku serius, hyung."
"Jadi kau mau aku tidur dengan fans-ku?" tanya Jaejoong. Ia mengambil sebatang rokok dari saku celanaya dan menyulutnya di mulutnya.
"Hyung, jangan bercanda."
"Aku serius," gumam Jaejoong di sela-sela bibirnya, "bukankah mereka bilang mereka mencintaiku?"
"Yang juga kau cintai, hyung."
Jaejoong meniup asap rokoknya keras-keras dan tertawa, "aku cinta diriku sendiri, Shim Changmin." Dia melenggang, meninggalkan Changmin untuk pergi ke kamar tidurnya untuk mandi dan bersiap sebelum Changmin memperpanjang ceramahnya. Sebelum menutup pintu, ia menoleh dan tersenyum. "Ah, tapi aku juga cinta padamu, Manajer Shim, meskipun kau cerewet," katanya dengan nada riang, kemudian menutup pintu di belakangnya.
Changmin, tidak terpengaruh pada gurauan Jaejoong, hanya menatap datar pada daun pintu yang tertutup itu.
"Hyung..."
Yunho membelokkan arah mobil yang dikemudikannya keluar dari jalan utama.
Ia memang melakukan kunjungan ke beberapa cabang besar di Seoul dan beberapa area di dekatnya, namun selagi mengemudi, ia mendapati dirinya melewati area yang familiar. Yunho tidak bisa menghalangi keinginan hatinya untuk beralih sejenak. Sekarang semua sangat mudah dengan adanya smartphone dan GPS. Yunho bahkan yang sudah cukup lama tinggal di Jerman, tidak kesulitan menemukan arah dan tujuannya.
Jalan-jalan di sekitarnya kecil dan rapat. Area tersebut adalah area pemukiman biasa, tidak istimewa. Dengan bangunan-bangunan yang berdekatan dan lapangan dengan rumput liar. Di satu titik, Yunho terpaksa memarkirkan mobilnya dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Tidak jauh, karena tempat yang ditujunya adalah sebuah belokan—
Yunho terhenyak. Kerongkongannya tersumbat kekecewaan.
Ia sesungguhnya tahu kemungkinan kecil ia akan menemukan orang yang dicarinya di sini. Tapi ia masih berharap meskipun itu harapan bodoh, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi kini harapan bodohnya itupun tergerus, seperti bangunan di depannya yang sudah rata dengan tanah. Puing-puing itu—dalam ingatan Yunho, adalah sebuah bagunan flat kecil. Hanya memiliki tiga flat yang disewakan, flat keempat dihuni oleh pemilik bangunan itu—seorang kakek-kakek. Di flat atas, di bagian kanan bangunan, tempat itulah yang dirindukan Yunho. Bukan tempat yang bagus ataupun mewah, tapi bagi Yunho merupakan rumahnya yang kedua.
Lamunan Yunho terurai dengan suara pintu pagar yang berdecit di belakangnya. Seorang yeoja berusia paruh baya berjalan keluar.
"Maaf, apa yang terjadi pada bangunan ini?" Yunho spontan menahannya.
Yeoja itu mengamatinya sejenak dengan wajah penasaran. "Pemilik flat itu sudah lama meninggal, anaknya menjual tanah dan bangunan itu. Kudengar akan dibangun rumah pribadi," katanya dengan suara serak.
Yunho sekali lagi menelan kekecewaannya bulat-bulat. "Baik, terima kasih. Maaf mengganggumu," ia membungkukkan badannya.
Yeoja paruh baya itu mengangguk dan berlalu, meninggalkan Yunho yang sekali lagi menatap puing-puing di depannya.
Yunho menghela nafas, ia memalingkan wajahnya dan beranjak, melanjutkan perjalanannya menuju salah satu cabang swalayannya yang tertunda.
"Ok! Perfect! Pemotretan hari ini selesai!"
"Sugohasyeotseumnida!" Jaejoong bangkit dari posisinya yang duduk di pinggiran kolam renang dan membungkuk sopan pada kru-kru pemotretan yang kebetulan berada di sekitarnya. Salah seorang krus segera menyampirkan jaket tebal di bahunya. Suhu udara sudah menurun tajam di bulan November, dan pemotretan outdoor di kolam renang salah satu hotel mewah di Seoul itu terasa menggigit. Jaejoong mengusap-usapkan kedua telapak tangannya, menahan dingin.
"Performamu bagus hari ini, hyung."
Jaejoong menoleh, mendapati Changmin menjajarinya. Namja jakung itu tersenyum sambil menyerahkan gelas termos pada Jaejoong.
"Ne," Jaejoong hanya tersenyum tipis, ia mendudukkan diri di salah satu kursi yang disediakan untuk kru. Ditegaknya susu hangat pemberian Changmin, uap hangat mengepul di udara saat ia menghela nafas.
"Kau mau langsung pulang setelah ini?" tanya Changmin.
Jaejoong melirik jam tangannya—pukul setengah satu malam. Kerja larut malam bukanlah hal baru di dunia entertainment. Hari ini ia cukup beruntung pemotretan hanya terlambat dua jam dari jadwal karena angin yang tidak bersahabat. "Ne, aku akan langsung pulang."
Changmin mengangguk mengerti, "akan kuurus barangmu."
Jaejoong menuju lobi hotel melalui lift yang tersedia. Keseluruhan hotel itu tampak sunyi karena waktu yang sudah larut, hanya ada beberapa staff yang terlihat. Ia memberi salam pada mereka dengan sopan. Di depan pintu lobi, seorang staff bersama security sudah menunggunya—Lamborgini Murchiélago-nya sudah disiapkan dengan angkuh di depan lobi.
"Selamat malam, ini kunci mobil anda," staff itu menyerahkan kunci mobilnya saat Jaejoong mendekat—beserta sebuah kantong kertas yang besar, dengan logo hotel tersebut di sampingnya, "dan ini, dari penggemar anda. Mereka tidak diizinkan masuk ke dalam hotel, jadi kami menerimanya untuk anda."
Jaejoong melongok untuk melihat isinya. Tas itu dipenuhi kotak kado, surat dengan amplop berwarna-warni, juga bertangkai-tangkai bunga.
Jaejoong berkedip tanpa ekspresi.
Orang-orang itu, yang mengaku sebagai penggemarnya...
Mereka bilang mereka mencintainya, meneriakkan namanya, memujanya seolah ia pahlawan, mereka rela membayar mahal untuk bisa sedekat mungkin dengannya, mereka mengiriminya barang-barang dan hadiah... Lalu apa? Paling lama hanya sampai sepuluh tahun lagi mereka akan seperti itu. Saat ia menua nanti —saat wajahnya dipenuhi keriput, suaranya menjadi serak, dan tubuhnya tidak sebagus saat ini— saat itulah mereka juga akan meninggalkannya, melupakannya, dan menggantikannya dengan idola-idola mereka yang baru.
Munafik.
"Kamsahamnida," Jaejoong meraih kantong tersebut beserta kunci mobilnya sembari tersenyum pada staff itu. Kemudian ia masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Tanpa menunggu lagi Lamborgini merah itu melaju.
Yunho menguap pelan, berusaha fokus menyetir ke jalanan yang ada di depannya.
Perjalanan berkeliling cabang satu-persatu sangat memakan waktu, tapi harus dilakukan. Peralihan kekuasaan dari appa-nya kepada dirinya pasti akan berpengaruh banyak pada sistem kerja swalayan mereka. Bagaimapun peralihan kekuasaan ini berarti atasan baru bagi para pekerjanya, dan sistem baru yang harus ditangani oleh Yunho. Apa yang dijalankannya di sini berbeda dengan perusahaan mertuanya di Jerman. Ditambah lagi, rumahnya berada jauh dari pusat kota Seoul. Mungkin ia harus mulai memikirkan untuk pindah sementara ke apartemen atau flat yang berada di pusat kota, yang dekat dengan berbagai fasilitas transportasi umum dan bisa menjangkau tempat jauh lebih mudah dari mobil.
Yunho melirik jam di dasboard. Pukul satu lebih, sudah lewat tengah malam rupanya. Ia menguap lagi. Ia benar benar mengan—
—Tiiiiiiiiin! Bunyi klakson yang memekik mengejutkan Yunho.
Bunyi keras timbul saat ban mobil Yunho bergesekan keras dengan aspal. Yunho menekan rem sekuat-kuatnya.
"Omo!" Yunho memekik saat kepalanya nyaris menghantam kemudi. Jantungnya berdebar keras. Ternyata secara tidak sadar ia melajukan mobilnya dengan menyerobot jalur yang berlawanan. Ia barusan nyaris menabrak sebuah mobil merah yang sedang melaju berlawanan arah.
"Ya!Kau mabuk?"
Yunho meringis saat mendengar teriakan dari pengemudi mobil merah di sebelahnya yang tengah menurunkan kaca mobilnya. Mereka sama-sama berhenti di tengah jalan karena posisi mobil mereka berdampingan dengan posisi berlawanan arah. Ia hendak menurukan kaca mobilnya juga dan meminta maaf saat tangannya tiba-tiba terasa kaku.
Yunho terkesiap.
Wajah itu memberengut kesal, menatap tidak langsung padanya dengan tajam. Hanya dibatasi kaca mobil Yunho yang gelap. Tapi dari jarak sedekat ini, wajah itu sangat jelas, ditambah karena cahaya hanya menyambar sekilas-sekilas saat mobil-mobil lain lewat di sekitar mereka.
"A—ya!—tunggu!" teriak Yunho dengan tergagap saat dilihatnya pengemudi mobil merah itu menutup kembali kaca jendelanya dan mulai melaju. Teriakan Yunho jelas tidak bisa terdengar karena ia tidak membuka jendelanya.
Yunho reflek memindahkan giginya dan memutar arah mobilnya—jalanan sedang sepi, ia segera melakukan U-turn meski berada di tengah jalur dengan garis lurus.
Yunho tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.
Kantuknya hilang seketika.
Ia menekan gas, berusaha mengejar mobil sport berwarna merah yang sudah melaju cukup jauh di depannya itu.
Yunho tidak mungkin salah.
Ia mengenal pengemudi mobil itu.
Meski warna rambutnya berbeda. Hanya satu orang yang berwajah seperti itu...
Hanya satu orang yang memiliki suara seperti itu...
Jaejoong...
Kim Jaejoong. Mantan kekasihnya...
Orang yang dicari-carinya...
TBC
[Balasan Review]
Guest chapter 1 . Jan 21
Iya uda mulai jarang ya... sedih para author lama itu pergi semua :(
bibienote chapter 1 . Jan 20
Ini dilanjut. Makasih banyak udah bersedia meninggalkan jejak ^^
01a0101 chapter 1 . Jan 19
Ma-aaaaaaaaaaf! #sujud
Ini udah dilanjutin ^^
5351 chapter 1 . Jan 19
Aduh, makasih~
Guest chapter 1 . Jan 19
Makasi~ Ini udah dilanjut. Silahkan mengikuti kalau berkenan #sungkem
RizmaHuka-huka chapter 1 . Jan 19
Yups. Remake sekaligus repost~
Guest chapter 1 . Jan 19
Wah, makasih^^ silahkan dinikmati ya
Terimakasih yang sudah bersedia memberikan tanggapan di kotak review. Ya, ff ini repost dan remake sekaligus. Saya memperbaiki ceritanya.
Silent reader membludak, saya cukup kecewa waktu melihatnya. Sepertinya memang fans Yunjae sudah nggak banyak ya di sini?
