Terima kasih yang sudah mereview.

-xtreme guavaniko-

Lamia:"aku baik baik saja kok kakak"

Guo Jia:"botol kecap A*C, itu kesukaan Author"

Aiko:(sweatdrop)

Oke thanks to review.

-khazuya michimoto-

Guo Jia:"seorang pria tampan sepertiku harus beraksi didepan wanita cantik"

Aiko:(muntah)

Oke thanks to review.

-ilhamakbar anshari-

Tenang untuk Nightmare akan dilanjutkan segera.

Oke thanks to review.

-Scarlet n Blossom-

Aiko:"Xujie jadi super sensitif karna sifat playboymu, iyakan nona Xujie"

Xujie:(angguk angguk)

Guo Jia:(pundung)

Oke thanks to review.

-sarasion-

Cao Pi:"bayar"

Aiko:(sweatdrop)

Hahahaha soal wajah kulkas, saya juga membayangkan wajah Cao Pi itu berubah jadi kulkas ._. (dibuang)

Oke thanks to review.


The Haunted House

By: Aiko Ishikawa

Rated: K+

Genre: mystery,horror

-all character belong to Koei, saya hanya punya OC-

Warning: Typo(s), gaje, OOC, dan seterusnya.

Summary: Cao Pi dkk berniat ingin berlibur kerumah paman Cao Pi didesa, tapi ditengah perjalanan mobil mereka tidak sengaja menabrak seorang gadis dan disaat itulah keanehan mulai terjadi [bad summary]


Chapter 2: yakin ada hantu?

Jam 12 malam tepat, dikamar Ma Chao, Ma Dai, dan Zhao Yun.

Ma Chao nampak gelisah, dia sangat gelisah, dan akhirnya dia terbangun dari tidurnya, keringat bercucuran diwajah Ma Chao, "kenapa, kenapa tiba tiba aku ingin buang air kecil ya" kata Ma Chao, lalu dia bangun dan beranjak dari tempat tidur tapi pandangannya teralihkan kepada sesosok orang yang sedang bersandar dikursi goyang, Ma Chao menajamkan matanya karna semua lampu telah dimatikan, dia memperhatikan orang itu, wajah orang itu akhirnya dapat terlihat dengan jelas ketika cahaya bulan masuk melalui jendela yang terbuka.

"Ma Dai!" Ma Chao terkejut mengetahui sesosok orang yang duduk dikursi goyang itu adalah Ma Dai.

"kak Ma Chao? Kak Ma Chao tidak tidur?" tanya Ma Dai.

"justru aku yang bertanya seperti itu" kata Ma Chao sambil turun dari tempat tidur.

"oh, aku masih ingin membaca novel ini, ceritanya sangat menarik" kata Ma Dai sambil membaca novel yang berada ditangannya, "kak Ma Chao sendiri, kenapa bangun ditengah malam seperti ini?" tanya Ma Dai tanpa menoleh kearah Ma Chao.

"aku mau buang air kecil" kata Ma Chao, lalu dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kedapur dengan tujuan toilet.

Ma Chao menuruni tangga, lalu berjalan melalui lorong kecil menuju kedapur, dan tiba tiba Ma Chao merasakan hawa dingin yang menyelimuti dirinya, "kenapa perasaanku tidak enak ya?" pikir Ma Chao, tapi dia tidak menghiraukan hal hal seperti itu. Akhirnya dia sampai juga ditoilet dan masuk kedalamnya.

Setelah Ma Chao menyelesaikan urusan pentingnya ini (?), Ma Chao menutup pintu toilet, dan dia ingin kembali secepatnya menuju kamarnya, tapi ditengah perjalanan menuju lorong kecil, sesuatu lewat dengan cepat dibelakang Ma Chao, Ma Chao yang terkejut melihat kebelakang, tapi tidak ada siapa siapa disana, "aneh, tadi aku rasa ada yang melewatiku? Ah paling juga angin" kata Ma Chao, lalu dia melanjutkan perjalanannya lagi. Lagi lagi ada hal yang aneh dirasakan Ma Chao tengkuk terasa dingin, Ma Chao juga merasakan sesuatu yang aneh, bau, bau yang begitu menyengat dan tidak sedap tercium begitu tajam dan menusuk, "aduh, bau apa ini" Ma Chao menutup hidungnya dia terus saja berjalan melalui lorong kecil itu untuk menuju kekamarnya, dan akhirnya Ma Chao sampai juga didepan tangga, tapi perhatian teralihkan keruang tamu yang begitu gelap, sesosok makhluk berdiri disana, Ma Chao menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapa orang itu, "Lamia, itu kamu? Jangan bermain main, tidak lucu tau" kata Ma Chao.

Sesosok makhluk itu tidak menjawab Ma Chao, dia hanya terdiam sambil duduk. Ma Chao yang penasaran pun menghampirinya dan menyuruh orang itu yang ia kira Lamia untuk kembali kekamarnya, karna anak sekecil Lamia tidak boleh tidur terlalu larut malam, "Lamia kamu tidak tidur ya? Nanti sakit loh" kata Ma Chao, dia menyentuh tangan orang itu dan terasa tangan anak itu begitu dingin dan berwarna pucat. "kok dingin" kata Ma Chao heran.

Orang itu menatap Ma Chao, dan alangkah terkejutnya Ma Chao melihat anak kecil itu, wajahnya penuh dengan darah bahkan sebagian kulit wajahnya tidak dilindungi oleh kulit lagi, dengan refleksnya Ma Chao langsung berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat rapat.

"kenapa kak Ma Chao?" tanya Ma Dai heran.

"hh, hh, hh, di, di, diluar ada, ada, hantu..." kata Ma Chao dengan wajah yang sangat takut.

"hantu? Ah mana ada hantu jaman sekarang" kata Ma Dai sambil mengernyitkan dahinya tanda dia tidak percaya dengan perkataan Ma Chao.

"sumpah, tadi aku lihat seorang anak kecil duduk disofa, kulitnya begitu dingin, dan wajahnya berlumuran darah" kata Ma Chao yang masih dipenuhi ketakutan.

"mungkin kak Ma Chao salah liat" kata Ma Dai, dia menghampiri Ma Chao, dan membuka pintu yang berada dibelakang Ma Chao, lalu Ma Dai memperhatikan dari pintu kamarnya dan melihat kearah ruang tamu tapi dia tidak melihat apa apa, "tidak ada apa apa" kata Ma Dai sambil menutup pintu kamar.

"tapi tadi aku beneran melihatnya" kata Ma Chao bersikeras.

"paling juga kak Ma Chao kecapean, lebih baik ayo kita tidur, ini sudah larut malam, dan buang semua pikiran negatif kakak" kata Ma Dai lalu dia menuju tempat tidur.

Keesokan harinya.

"huaaaah, tidurku nyenyak sekali" kata Zhao Yun sambil meregangkan tubuhnya.

Ma Dai juga sudah bangun, dan terlihat dia sedang merapikan tempat tidurnya. Dan lagi dengan Ma Chao yang masih tertidur denan pulas.

"pagi Ma Dai" sapa Zhao Yun.

"pagi" kata Ma Dai.

"Ma Chao tidak dibangunin?" tanya Zhao Yun.

"males" kata Ma Dai.

"eh kenapa?" tanya Zhao Yun heran.

Ma Dai duduk diatas tempat tidurnya lalu menatap Ma Chao, "kak Ma Chao susah sekali dibangunin, apalagi kalau sedang hujan dia paling malas bangun" kata Ma Dai.

Zhao Yun hanya mengangguk, lalu dia melihat keluar jendela dan terlihat cuaca sekarang tidak bersahabat dengan kata lain hujan. "hujan..."

-xxx-

"sial hujan" gerutu Cao Pi.

"besok saja kita kedesa pamanmu" usul Guo Jia.

"halah bilang saja kau mau tinggal disini karna ingin melihat Lila kan?" kata Cao Pi.

"tau aja loe" kata Guo Jia sambil tersenyum.

"wajah mesummu yang memberitauku" kata Cao Pi datar.

"wajahku memangnya terlihat mesum ya?" tanya Guo Jia.

"iya" kata Cao Pi.

Guo Jia hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan Cao Pi barusan, "daripada wajah loe nampak seperti kulkas" ledek Guo Jia.

"terserah kau ingin memanggilku apa, aku tidak peduli" kata Cao Pi cuek, lalu dia keluar dari kamar. Guo Jia yang merasa dikacangi hanya bisa pundung dipojok kamar.

Cao Pi berjalan menuju ruang tamu, dia berjalan dengan tergesa gesa dan akhirnya menabrak Lamia alhasil Lamia terjatuh.

"aduh" Lamia hanya memegangi bokongnya yang sakit.

"maafkan aku, aku tidak melihatmu" kata Cao Pi menghampiri Lamia.

"tidak apa" kata Lamia dengan wajah cerianya.

"kau tidak terluka?" tanya Cao Pi.

Lamia menggelengkan kepalanya, lalu dia kembali bangkit sepertinya dia memang tidak terluka, "kakak Cao Pi, kakak Cao Pi" kata Lamia.

"iya..." kata Cao Pi.

"kakak Cao Pi liat teman kakak Cao Pi yang baca buku?" tanya Lamia.

"maksud Lamia, Ma Dai?" tanya Cao Pi.

"iya, kakak Ma Dai!" seru Lamia.

"dia masih dikamarnya, memangnya kenapa Lamia mencari Ma Dai?" tanya Cao Pi heran.

"Lamia mau main sama kakak Ma Dai!" kata Lamia penuh semangat.

"main apa?" tanya Cao Pi lagi.

"main boneka" kata Lamia sambil memperlihatkan bonekanya.

"Lamia, Ma Dai kan laki laki, masa disuruh main boneka..." kata Cao Pi sedikit tersenyum melihat kepolosan Lamia.

Lamia memeluk bonekanya, "jadi Lamia tidak boleh main sama kakak Ma Dai?" tanya Lamia.

"tentu saja boleh" kata Cao Pi sambil menghibur Lamia.

Lamia tersenyum, lalu dia berlari menaiki tangga setelah itu dia menuju kamar Ma Dai.

Cao Pi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Lamia yang begitu polos.

"wah tidak kusangka, Lamia bisa akrab dengamu"

Cao Pi terkejut, lalu dia menoleh kebelakang dan terlihat Lila disana, "apa maksudmu Lila?" tanya Cao Pi.

"biasanya Lamia tidak pernah akrab dengan siapa pun" kata Lia.

"begitu ya" kata Cao Pi.

"oh iya, Cao Pi bisakah kau memanggil teman temanmu, aku sudah menyiapkan sarapan didapur" kata Lila.

"bisa" kata Cao Pi.

-xxx-

Lamia membuka pintu kamar, dan dia langsung berlari kearah Ma Dai yang sedang sibuk membereskan barang barangnya.

"kakak Ma Dai, main yuk!" kata Lamia sambil memeluk Ma Dai dari belakang.

"maaf, kakak sekarang sedang sibuk" kata Ma Dai sambil mengelus rambut Lamia.

Lamia menggembungkan pipinya, "hu-uh" Lamia merasa kesal karna setiap kali dia meminta Ma Dai menemaninya bermain selalu saja disaat itu juga Ma Dai menolak. Zhao Yun yang melihat Lamia kesal, pun menghampirinya, "hei anak manis, kakak Ma Dai bukannya tidak mau bermain, tapi sekarang dia sedang sibuk, main sama kakak saja ya" tawar Zhao Yun.

"boleh, nama kakak siapa?" tanya Lamia.

"Zhao Yun" kata Zhao Yun sambil tersenyum.

"kakak Zhao Yun, main sama Lamia ya, main boneka!" kata Lamia bersemangat.

"baiklah, aku akan menemanimu" kata Zhao Yun.

Lamia dan Zhao Yun pergi meninggalkan kamar, mereka berjalan menuju ruang tamu dan Lamia berlari menuju kesebuah pintu berwarna coklat yang tidak jauh dari tangga.

"kakak Zhao Yun, ayo main disini!" ajak Lamia.

"baiklah" kata Zhao Yun.

Zhao Yun memasuki ruangan itu, dan didalam ruangan terlihat banyak sekali boneka, dari boneka beruang, boneka kelinci, dan masih banyak lagi. Lamia mengambil dua buah boneka, dia memberikan Zhao Yun sebuah boneka beruang, sedangkan Lamia memegang boneka panda.

"main" kata Lamia.

Zhao Yun pun duduk, dia memegangi boneka beruang itu, tapi dia merasa aneh dengan boneka itu, entah kenapa saat dia memasuki ruangan itu tengkuknya terasa dingin, tapi demi membuat Lamia senang dia tidak mempedulikan hal seperti itu.

"kita main apa?" tanya Zhao Yun.

"main boneka, dan rumah rumahan" kata Lamia, lalu dia berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Zhao Yun seorang diri. "kakak Zhao Yun tunggu disini, Lamia mau mengambil rumah rumahanya" kata Lamia.

Zhao Yun hanya mengangguk, lalu dia memperhatikan boneka beruang itu, sebenarnya Zhao Yun tidak masalah dengan permaianan seperti ini, tapi dia merasa heran ketika dia masuk kedalam ruangan ini tengkuknya terasa dingin, lalu ada yang aneh dengan boneka beruang ini, dan lagi lagi tercium bau tidak sedap...

"ya ampun, kenapa bau begitu menyengat, apa ada tikus mati?" Zhao Yun menutup hidungnya, dia berjalan mendekati rak yang penuh dengan boneka, karna bau tidak sedap itu tercium begitu kuat disekitar situ, Zhao Yun berpikir bahwa disekitar situ mungkin saja ada bangkai tikus yang mati dan terjepit diantara rak rak itu.

"baunya semakin kuat..." Zhao Yun menutupi hidungnya, dia mengambil salah satu boneka, yaitu boneka kelinci, dia bermaksud ingin menyingkirkan boneka kelinci itu agar mudah untuk mencari bangkai tikus, tapi seketika Zhao Yun menjerit ketakutan, bukan bangkai tikus yang membuat dia menjerit seheboh seorang wanita (?), tapi boneka kelinci yang ia pegang tadi berlumuran darah, dan anehnya itu bukan boneka kelinci melainkan kepala manusia yang telah berlumuran darah, Zhao Yun melempar kepala itu, dan berlari keluar ruangan dan menjauh, dia begitu shock apa yang barusan ia liat, nyata atau hanya halusinasi Zhao Yun saja, tapi yang jelas hal itu membuat Zhao Yun bergematr ketakutan terlebih lagi Author yang nulis ni cerita (?).

"hh, hh, hh" nafas Zhao Yun terengah engah, dia benar benar kaget apa yang barusan ia liat, "apa tadi itu beneran? Perasaan yang kupegang tadi boneka kelinci..." kata Zhao Yun, keringat bercucuran diwajahnya, dia duduk disofa untuk menenangkan pikirannya, disaat dia sedang menjernihkan pikirannya, Lamia menegurnya.

"kakak Zhao Yun, ayo main" kata Lamia.

"maaf Lamia, sepertinya kakak tidak bisa bermain" kata Zhao Yun masih dengan wajah ketakutannya.

"kenapa?" tanya Lamia heran.

"main yang lain saja ya, jangan main boneka" tawar Zhao Yun.

"Lamia lebih suka main boneka" kata Lamia.

"tapi, kayaknya kakak Zhao Yun tidak bisa main boneka" kata Zhao Yun yang trauma dengan kejadian yang barusan ia alami.

"ya sudah deh, gak jadi main" kata Lamia sambil tersenyum. Lalu Lamia berlari kedapur untuk mendatangi kakaknya, sedangkan Zhao Yun masih saja shock berat dengan kejadian tadi, "apa tadi itu nyata?" pikir Zhao Yun.

Tiba tiba ada yang menepuk pundak Zhao Yun, dan hal itu sontak membuat Zhao Yun terkejut, "uwaaaa!" teriak Zhao Yun.

"kenapa sih kamu Zhao Yun, pagi pagi sudah teriak?" kata Cao Pi.

"Cao Pi, kau bikin kaget saja!" kata Zhao Yun yang sudah sedikit tenang.

"memangnya kau kenapa?" tanya Cao Pi lagi.

"kalauku ceritakan pun kau pasti tidak akan percaya..." kata Zhao Yun.

"memangnya cerita apa?" tanya Ma Chao penasaran.

"tadi aku bermain bersama Lamia didalam ruangan dibalik pintu coklat itu" kata Zhao Yun sambil menunjuk pintu coklta yang tidak jauh dari tempat dia berada.

"lalu?" tanya Cao Pi.

"aku mencium bau busuk didalam ruangan itu, aku kira itu bangkai tikus, dan aku pun mencarinya aku mengambil salah satu boneka, dan disaat boneka itu aku pegang tiba tiba boneka itu berubah menjadi kepala manusia yang berlumuran darah" kata Zhao Yun sedikit ketakutan.

"ah bohong" kata Ma Dai tidak percaya.

"ini serius!" kata Zhao Yun.

"karna kau belum melihatnya Ma Dai, aku juga mengalami keanehan, tadi malam saat aku ingin kembali kekamarku, aku melihat seorang anak kecil duduk disofa, kukira Lamia saat aku melihat wajahnya, wajahnya berlumuran darah dan sangat mengerikan" kata Ma Chao.

"kalian berdua sudahlah, paling juga itu hanya halusinasi kalian, sudah lebih baik kita sarapan dulu, kasian Lila menunggu kita dari tadi" kata Cao Pi meninggalkan Zhao Yun dan Ma Chao.

"kau serius Ma Chao?" tanya Zhao Yun.

"seriuslah" kata Ma Chao.

"kalau begitu, itu bukan halusinasi, berarti rumah ini ada..." kata Zhao Yun tidak melanjutkan kalimatnya.

"ada apa?" tanya Ma Chao penasaran dan sedikit takut.

"ada..." kata Zhao Yun.

"ada apa sih! Jangan bikin penasaran dong!" kata Ma Chao jengkel.

Disaat mereka sedang tegang tegangnya, dari arah belakang mereka ada seseorang yang menepuk pundak mereka berdua hal itu membuat mereka terkejut.

"uwaaaaa!" teriak Ma Chao dan Zhao Yun secara refleks mereka berdua pun berpelukan

"hahahaha, dasar penakut" ledek Guo Jia.

"Guo Jia!" kata Ma Chao dan Zhao Yun bersamaan, lalu mereka memukul kepala Guo Jia, "kau ini, jangan buat orang jadi jantungan dong!" kata Zhao Yun.

"hehehe, iya, iya, aku minta maaf" kata Guo Jia sambil mengelus kepalanya.

-To Be Continued-


Akhirnya chapter dua sudah selesai, mohon reviewnya, see you next chapter.