Author: "Chapter dua dari 'Fake Dango' datang!"
Yukimura: "Terus, kenapa?" *sambil makan dango*
Author: "Ya gak papa… ada yang nunggu lanjutannya soalnya."
Yukimura: "Ge-Er lu, Thor." *sambil makan dango*
Author: *shock dikatain Yukimura tadi* "B-biar! Ada yang ngasih review juga!"
Yukimura: *makan dango tetep* "Kagak di-reply?"
Author: "Sebenernya, males…. Cuma, gua pingin banyak-banyakin words chapter ini!"
Yukimura: "Oh," *lanjut makan dango*
Author: *kesel lama-lama* "Untuk Pe-Review terhormat, Rin-chan. Makasih udah review ni fic! Dan ini dia chapter duanya~! Untuk Runa Lhapine Suzaku-san, makasih udah nge-review ni fic! Dan Anda ngakak? WOAAAAH! SAYA TERSANJUNG! Oh, dan Motonari-san akan muncul nanti! Be-Te-We, syukurlah Anda tau arti 'Saru' itu apa…"
Sasuke: *mendadak muncul sambil mencak-mencak gak jelas* "AAAARGH! AUTHOR, JANGAN BAHAS ITU KATA! CEPET MULAI CERITANYA!"
Author: *kaget* "I-iya deh mas…. Anyway, ada karakter baru di SB4 yang nongol di sini nanti! Oke, mari kita mulaaaai~!"
.
.
Judul: Fake Dango
By: Saika Tsuruhime
Disclaimer: SenBasa milik Capcom, coi! Kalo punya Saya, dijamin SB3 ama SB4 yang mo rilis nanti buat PS2…
Warnings!: OOC abis, kagak ada di sejarah manapun, tidak mengandung Bahasa Indonesia yang baik dan benar, kacau balau, garing, GaJe, de-el-el yang dapat Anda temukan jika membaca cerita ini…
Don't like? Ya don't read! Oke?
Hope You Guys Enjoyed for Read My FanFic…
.
.
Seorang cowo' yang punya rambut warna coklat dan rapi, dengan baju nutup dan sopan ada di kamar seorang Sanada Yukimura di pagi ini. Sekarang, dia sudah keluar dari kamarnya si Yuki, dan sekarang dia lagi jalan-jalan di area sekitar.
Siapa dia?
Anda penasaran?
Well… karena Author lagi baik hati, akan Saya kasih tau orang misterius ini (meski gak misterius-misterius juga sih…)!
Orang ini bernama–
Drap drap drap drap drap.
"?"
"SIAPA ELOOOOOO~~?!"
"E-EKH!"
BUAAGH!
Gubrak, gubrak, grasak, grusuk, kukuru–meeow!(?)
"I-ittai…"
Be-Te-We, sekarang keadaan orang yang 'misterius' ini 'epik', lho! Sekarang rambutnya kotor gara-gara kena lumpur (karena seluruh wilayah Kai tadi malam hujan lebat. Makanya, tanah istananya si Shingen lagi becek dan berlumpur…), bajunya jadi 'bagus'–sebagus orang-orangan sawah(?), dan lain-lain yang dapat Anda bayangkan…
"SIAPA LOE?!"
"Oi, orang baru bangun tidur malah ditonjok… Saru, saru…"
Oke, penyebab orang misterius ini makin 'epik' tadi ternyata karena ditinju seorang Sarutobi Sasuke.
Sial loe Sasuke! Gua (Author) belum selesai ngomong tadi, malah dipotong!
"Diem lu Thor!" seru Sasuke ke langit(?). "Oi, jawab pertanyaan gue! Elu siapa? Musuh? Penyusup? Mata-mata? Stalker? Fans nyasar(?)? Siapa elo?!" sekarang, Sasuke bertanya pada orang misterius tadi dengan logat preman Pasar Tanah Emak(?).
"Entar dulu…" orang misterius tadi memperbaiki keadaannya. "Gue ya, Sanada Yukimura! Mang siapa lagi?"
Krik, krik, krik…
Meski ini masih pagi (bahkan baru!), suara jangkrik yang kagak tau nongol darimana terdengar.
Krik, krik, krik…
"H-HAAAAAH?! ELO DANNA?! ELO SANADA GENJIROU YUKIMURA-DANNA?! HAH?! BENERAN?!" Sasuke kepo mendadak berkat jawaban orang misterius tadi. "SERIUSAN LOE?!"
"Yo'i…" jawab orang misterius–yang ngaku namanya Sanada Yukimura– santai.
"SERIUS?!"
"Iyo…"
"Miapa(?)?"
'Sejak kapan ni ninja jadi alay ala Author…?' batin Yukimura sweatdrop. "Mi goreng, mi rebus, mi kuah, dan kawan-kawannya…. Ya serius ini! Gua Sanada Yukimura, yang biasa dipanggil Yukimura!"
Sasuke makin cengo. Otaknya mengalami gejala 'arus listrik kependekan'(?) mendadak. "M-mustahil…"
"Mustahil apanya?" tanya Yukimura bingung.
"M-mustahil kau danna…"
"Huh?"
"Gak mungkin kamu danna! Gak mungkin! Danna itu, kalo bangun tidur itu saat tengah hari, alias pas matahari udah di atas kepala! Gak pagi hari gini! Terus, danna itu bajunya bagaikan orang kekurangan bahan(?), gak nutup kayak gitu! Oh, dan lagi, danna itu rambutnya lumayan berantakkan, padahal punya sisir se-lemari(?)! Gak rapi kayak elo!" seru Sasuke–yang sadar ato nggak ngebuka aib Yukimura–sambil menuding orang di depannya. Ekspresi Sasuke sekarang bagaikan zombie yang nggak sengaja ketemu kakek serta nenek moyangnya(?).
'Rupanya, gua kayak gitu bagi dia…' komen Yukimura sweatdrop akut. "Hhh… ya sudah. Kalo kagak percaya, ya sudah. Bai(?),"
Sasuke hanya diam mematung dan membiarkan orang yang (baginya) misterius tadi berjalan melewatinya. Yah, raut wajah Sasuke jauh lebih pucat daripada sebelum-sebelumnya…
"M-mustahil…" ucap Sasuke lirih. Napasnya sekarang bagaikan seorang Ibu-ibu yang hendak melahirkan(?!), mukanya lebih pucat dibanding zombie(?), dan… silahkan Anda lanjutkan dan bayangkan sendiri. "M-mustahil itu tadi danna…. Aku harus melapor pada Oyakata-sama!"
Dan lima detik kemudian, Sarutobi Sasuke sudah menghilang dari tempat semula untuk melaporkan kejadian tadi pada sang Tuan terhormat…
-o-o-O-O-o-o-
"APA?!"
"Duh-duh-duh, Oyakata-sama… tolong kalau kaget atau shock kayak tadi, gak usah nyaring-nyaring…. Apalagi bareng 'kuah'…"
"Oh, sori, Sasuke. Bawaan sejak kecil…"
GUBRAAAK~!
Sekarang, setting berada di sebuah ruangan misterius. Orang yang berada di ruangan ini hanyalah Takeda Shingen dan Sarutobi Sasuke. Mereka berdua sedang membicarakan masalah hot(?)–eh, masalah serius maksudnya! Yap, masalah yang Sasuke saksikan tadi.
"Eh, beneran apa yang tadi kamu bilang, Sasuke?"
Sasuke manggut-manggut dengan semangat. "Iya, yakin banget tadi! Saya saja tidak percaya kalau orang yang rapi nan kece nan-nan lainnya itu danna!"
Shingen mengusap-usap dagunya. "Hum… aneh…. Apa dia–"
"Perdamaian peeerdamaian. Perdamaian peerdamaian…"
'We-Te-Ef?!'
Entah sejak kapan, orang yang mengaku bernama Sanada Yukimura masuk ke ruangan ini. Sasuke dan Shingen hanya melongo tidak percaya.
"Yo!"
"Y-yo…"
Yukimura memandang Shingen dan Sasuke dengan bingung. "Ehm… Oyakata-sama dan Sasuke kenapa?"
"G-gak… gak papa…" jawab Shingen dan Sasuke gelagapan dan bareng.
Yukimura mengernyitkan dahinya. Namun, wajahnya kembali datar seperti barusan. "Sudah ya. Saya mau jalan-jalan lagi. Permisi,"
Shingen berdiri. Tangannya terkepal, dan segera tertuju ke Yukimura. "YUKIMURA!"
Yukimura membalikkan badannya ke Shingen. Yah, dia sempat terkejut. Namun…
"!"
…tinjuan Shingen dapat dihentikan dengan satu jari oleh Sanada Yukimura. Oke, SATU JARI, COI! MANA PAKE JARI TANGAN KELINGKIN PULA!
"Hhh… Oykata-sama, pagi-pagi gak boleh pake kekerasan…. Menurut Undang-Undang Dasar Replubik Kai, Tahun Tidak Diketahui Pasal Kacau Ayat Ngasal(?), disebutkan bahwa; pagi-pagi tidak boleh melakukan kekerasan."
"…"
"Oke, Saya mau jalan-jalan lagi." Yukimura membalikkan badannya. Ia mengeluarkan alat musik rebana(?)–yang kagak tau dapat dari mana–, lalu memainkannya sambil bernyanyi. "Perdamaian peeerdamaian! Perdamaian peeerdamaian!"
Sasuke dan Shingen cengo to the max. Sekarang, dapat dilihat rahang mereka berdua sudah menyentuh tanah.
"S-Sasuke…"
"I-iya…"
"Panggil 'dia'!"
"'Dia'? Siapa?"
"Panggil orang yang dapat julukan dari Author 'Master of Ular Tangga and Dice plus Master of Acrobatic'(?)!"
Sasuke sempat kaget mendengarnya. "Y-yakin?"
"Iya! Panggil dia dan bawa dia ke sini! Bilang padanya, Kai sedang dalam masalah danger tingkat 100000(?), alias yang paling danger!"
"B-baik!"
"Oh, satu lagi,"
Sasuke yang baru saja hendak pergi menjalankan titah tadi, tidak jadi pergi. "Ya?"
"Aku mendapat kabar, katanya, beberapa orang di negara ini menjadi aneh. Bisa kau melakukan hal ini?" Shingen menyodorkan sebuah benda pada Sasuke.
Sasuke menerima benda yang disodorkan Shingen. "Apa ini?"
"Oh, benda itu isinya surat! Tolong kau berkeliling ke seluruh negeri ini untuk memberikan surat-surat pada semua orang. Kalau mau cepat, kau bisa minta tolong anak buahmu. Ingat, TO-LONG KI-RIM SE-MU-A SU-RAT I-NI KE SE-MU-A O-RANG! Paham?" titah Shingen sambil menekan beberapa kata barusan.
Sasuke memasang wajah poker face. Mau tak mau, Ia wajib-kudu-musti-fardhu 'ain menjalankan perintah tuannya barusan. "Meski Saya gak rela, tapi… baiklah…. Hhh… yare-yare…"
"Oke, silahkan pergi!"
Sedetik kemudian, Sarutobi Sasuke sudah tidak berada di ruangan. Hanya menyisakan Shingen yang sedang mengurut-urut keningnya.
-o-o-O-O-o-o-
Tiga jam setelah Sasuke pergi untuk menjalankan tugas dari Takeda Shingen, beberapa orang mulai berdatangan ke Kai.
"Kai lagi kena status danger tingkat paling danger, ya?"
"Kata si ninja itu sih, iya."
"Memangnya kenapa?"
"Entah. Gua lahir dan besar bukan di daerah Kai juga,"
Siapa lagi coba orang yang melakukan dialog tadi?
Mau tau?
Mwehehehe~, Author lagi baik hati, kok! Tenaaang~. Saya (Author) kasih tau, ya, siapa orang yang melakukan percakapan tadi!
Mereka adalah–
"KAAAAAI~, AIM KOMIIIIING(?)~~!"
"Wush! Berisik!"
Sial… lagi-lagi omongannya Author kepotong…
"Eh, Author-nya protes itu! Bakal lebih nista kita ini!"
"Kita? Loe aja kali, gue engga!"
Mau cari mati kayaknya tu orang tadi…
"Eh, Author ngancem itu! Minta maaf sana, Keiji!"
"Iye-iye… Thor, Aim sori~! Maaf banget, Thor~!"
Hhh… Iya deh, Keiji. Kumaafkan deh kamu…
Nah, akhirnya, satu orang terungkap! Yap, dia Maeda Keiji! Salah seorang yang datang ke Kai berkat Sasuke. Kalau sisanya, ada–
"Eh, ada Dokuganryuu sama si mata kanannya! Sekarang, ada aku, Kojuuro, Masamune, Toshiie, dan Matsu-nee. Yap, baru kami yang datang."
"Keiji, sadar enggak, lu motong perkataannya Author lagi?"
"Eh, iyakah? Waduh, mati aku! Author-sama, gomennasaaaaaiii~~!" Keiji sekarang sudah sujud-sujud mohon ampun.
"Sori, Keiji…" sebuah suara rendah nan misterius mendadak terdengar dari langit. Kontan membuat beberapa orang yang mendengarnya merinding disko.
"?" tubuh Keiji makin merinding.
"Keiji, loe akan ketiban sepuluh buah Durian dari langit! Rasakanlah hukuman dariku! Rain Fallen Durian!"
"TIDUOOOAAAAAAAK~~~!"
Sedetik setelah Keiji teriak, beberapa buah Durian turun dari langit. Sasaran hujan Durian ini hanya satu. Yap, Maeda Keiji.
"U-uwoh…" yang melihat kejadian ini, hanya dapat menjaga jarak dari sang korban kemarahan Author.
"Keiji, loe baik-baik aja?" Matsu berusaha mendekati Keiji yang notabene keadaannya 'epik' tingkat UN Kuliah(?).
"U-uuurgh…" tangan Keiji melambai-lambai gak jelas di tengah tumpukan sepuluh buah Durian. Akhirnya, Keiji dapat berdiri dengan sempurna. "Gila… Author kalo marah di fic, sangarnya lunar binasa…"
"Tadi udah di kasih tau…" Kojuuro facepalm. "Eh, nanti katanya bakal ada si 'Master of Ular Tangga and Dice plus Master of Acrobatic', ya?"
"Katanya sih, iya…" jawab Toshiie.
"Be-Te-We, kita ke Kai karena melihat perlakuan aneh pada orang yang kita kenal, 'kan?" tanya Matsu pada semua orang yang hadir sekarang.
"Iya," Kojuuro mengangguk kecil.
"Memangnya, siapa yang punya kelakuan aneh, Kojuuro?" tanya Matsu.
"Yah… siapa lagi…" Kojuuro menghela napas pelan, "…Masamune-sama…"
"HAH?!" Toshiie, Keiji, dan Matsu shock berat. "Memangnya, si Dokuganryuu itu aneh kenapa?" tanya mereka kompak.
"I-itu…" Kojuuro gugup. Keringat dingin mengucur pelan di dahinya. "…coba aja telpon HaPe-nya Masamune-sama…"
"Ini setting cerita di era Sengoku ato era modern, sih?" tanya Keiji bingung. "Oi, Author-sama, yang mana yang bener?" kali ini, Keiji bertanya ke langit.
"Plis Keiji, baca warning ceritanya!" jawab Author. Keiji manggut-manggut mengerti.
"Yah… namanya juga kagak ada di sejarah dan GaJe…" komen Matsu.
"Coba gue yang nelpon!" Keiji segera mengeluarkan HaPe miliknya (yang mereknya Sumsum(1)(?)). Ia membuka kontak di HaPe-nya, mencari nama 'Dokuganryuu Date Masamune, guru les BasIng-ku'(?), dan meng-klik tanda telpon.
Kriiing~. Juragaaan mauu duuduuuk…
'We-Te-Ef?!' Keiji, Toshiie, dan Matsu cengo dan kagok bukan main berkat mendengar ringtone HaPe sang Dokuganryuu. Rahang trio Maeda ini sekarang sudah menyentuh tanah.
"Lihat, 'kan? Ringtone-nya malah nyanyian di salah satu acara di Ti-Vi yang kadang ditonton ama adiknya Author…" Kojuuro facepalm parah.
"Kok bisa?" tanya Toshiie. Kojuuro hanya menggelengkan kepalanya.
"Entah. Dia berubah sejak makan sayur lodeh(?) yang waktu itu kumasak, dan bahannya itu kubeli dari seorang pedagang. Masamune-sama mendadak kagak ahli pake Bahasa Inggris, dan malah jadi ahli bahasa kacau(?)… HUAAAAA~~~!" sekarang, Kojuuro sudah nangis bombay gulung-gulung.
"Kalo kita mah, karena Keiji makin lebay dari biasanya. Terus, dia kagak suka buat onar kayak biasanya. Habis makan buah apel yang dijual pedagang misterius katanya…" Matsu menghela napas.
"Be-Te-We, gua merasa bakal ada yang datang, deh," Toshiie mendekatkan kedua tangannya ke kedua telinganya.
"Berapa?" tanya Keiji yang sibuk mengotak-atik HaPe-nya. Entah sekarang dia lagi ngapain.
"Hem… dua orang," jawab Toshiie. Dan beberapa saat setelah Toshiie berucap demikian, datanglah dua orang dengan satu kuda. Jika dilihat secara seksama, satu orang menaiki kuda, sedangkan satunya lagi digeret. Kasihannya…
"Apa aku terlambat?" laki-laki dengan pakaian serba hijau buka suara.
"Wow-wow-wow… Mouri Motonari datang! Tenang bro, kagak telat kok!" seru Toshiie. Motonari turun dari kudanya.
"Oi, sudah sampai, Chosokabe. Hhh... malah tidur dia…. Padahal dia kugeret dari Shikoku ke Kai ini, kok bisa tidur dia?" Motonari menggaruk tengkuknya bingung dan takjub.
"Eng, sudah sampai ke mana?" orang yang digeret–Chosokabe Motochika–tebangun sambil melihat-lihat keadaan sekitar. "Eh, kok gue diiket di kuda gini? Gue digeret ini ceritanya?"
"Em… Motonari, siapa yang kelakuannya mendadak aneh?" tanya Keiji sambil tetep asyik mainin HaPe-nya. Ckckck…
"Ya si Bajak Laut aneh ini! Dia mendadak jadi alim, pendiam, loading otaknya makin lama, de-el-el." Jawab Motonari dingin.
Mendengar hal ini, Matsu menampakkan wajah shock, sambil berkata dengan gugup.
"K-kok tau…? J-jangan-jangan, kalian berdua…"
"Plis coi, jangan negative thinking! Gua tau dari anak buahnya!" jawab Motonari kesel. "Salah satu anak buahnya datang ke Aki dengan kepanikan yang bikin kesel. Ya udah, gua datang ke Shikoku. Datang ke sana, bukannya dilempar jangkar kayak biasa(!), malah disuguhin jagung bakar(?) sama ni orang. Kata salah seorang anak buahnya sih, dia begini karena habis makan ikan bakar yang ikannya dibeli ama pedagang misterius."
"Ooooh~, gitu…" komen yang denger.
"Be-Te-We, kenapa dari tadi si Dokuganryuu diam?" tanya Keiji pada Kojuuro.
"Karena males bicara paling," jawab Kojuuro santai.
"Kayaknya, bakal ada yang datang lagi, nih!" seru Keiji sambil tetep asyik mainin HaPe Sumsum miliknya. "Kayaknya, bakal makin heboh ini!" lanjutnya.
"Tau dari mana?" tanya Motonari. Keiji hanya memutar bola matanya, lalu menjawab santai sambil tetep asyik dan syahdu(?) mainin HaPe-nya.
"Ada yang ngirimin gue SMS ini! Mau gue bacain?"
"Kagak, gak usah," jawab yang denger sambil mengibas-ngibaskan tangan.
"Kapan?" tanya Matsu.
"Katanya, kurang lebih sekitar sepuluh menit dari sekarang, lha," jawab Keiji dengan tetep asyik mainin HaPe-nya. Ckckck… kecanduan Handphone kayaknya ni orang sudah!
"Ooooh~…" inilah respon yang mendengar.
Sepuluh menit setelah kejadian tadi, Toshiie berseru,
"E-eh, liat tuh! Ada kepulan asap!" seru Toshiie yang melihat kejadiannya pakai teropong.
"W-wah, mana?!" sebenarnya, yang denger seruan Toshiie menjadi agak panik. Sampai…
"MINGGIIIIIIIIIRR~~!"
'What the–'
Ckiiiirt!
"Hah… nyampe juga!"
"Musashi, kamu masih lambat!"
"Jii-saaaan~, jangan gituuuu~! Capek tau lari dari garis start sampe garis finish(?)!"
"Ckckck… dasar anak muda jaman sekarang! Ngeluh aja bisanya!"
"Jii-san, sudah syukur Musashi gendong! Jii-san Cuma asyik denger lagu di hetset(2)(?) dari tadi! Gak rasain penderitaanku! Hu-uh!"
"Lagunya keren sih! Mau coba denger?"
"Kagak! Itu lirik gak jelas. Cuma gini; 'Conlo terrorica… to the Harem Shark'(3)(?)! Habis itu nge-dugem(?) sepuasnya. Apaan itu?!"
"Eh, gini-gini ni lagu sempet nge-trend di tempatnya Author, lho!"
"Gak peduli! Author-san aja gak suka ama lagunya! Mending yang gini; 'Keep Smile~!'! Nah, mending itu!"
Sekarang, dapat Anda saksikan, pertengkaran dua orang–yang notabene satu seorang kakek yang sedang digendong, sedangkan yang seorang lagi adalah laki-laki yang masih sehat bugar, yang notabene sedang menggendong si kakek– yang lagi asyik adu mulut. Entah itu yang dihebohin masalah penting ato kagak, bisa Anda pikirkan sendiri…
"O-oi… kalo mo berantem, Author-sama bilang, di LapMer(4)(?) aja…" Keiji berusaha melerai pertengkaran dua orang ini.
"Tuh, denger Musashi! Kalo mo berantem, di LapMer aja!" seru si kakek. Sadar ato enggak, berkat hal ini, orang yang dari tadi dipanggil 'Musashi' udah marah–dan segera ngamuk dan otomatis melempar si kakek dengan 'epik'–.
"JII-SAAAAAAAN~~! MUSASHI CAPEK! MUSASHI CAPEK! SEMENJAK JII-SAN MINUM AIR LAUT(!) SANGKING KURANG KERJAANNYA, JII-SAN JADI ANEH MACEM GINI! ITU MUSASHI YAKIN, AIR LAUTNYA TERKONTAMINASI!"
'Cucu ngamuk…' inilah batin orang yang melihat adegan ini.
"Aduh-duh-duh… punggung kakek sakiiit…" si kakek mengelus pinggangnya yang tadi kena hantaman tanah. "Entar kalo kakek kena penyakit Osteoporosis(?), nanti gimana…?"
"Urus sendiri!" jawab Musashi sambil melipat kedua tangannya di dada sangking keselnya. "Paling juga bakal sembuh begitu denger lagu favoritnya Jii-san!"
"Musashi, jangan jadi cucu yang durhaka!"
Sebelum orang yang dipanggil Musashi makin ngamuk, Motochika–yang entah sejak kapan udah lepas dari ikatan–berada di antara Musashi dan si jii-san. "Harap jangan buat keributan di siang hari yang cerah ini, Miyamoto Musashi, Shimazu Yoshihiro! Ini daerah orang,"
'Beneran dah kelainan si Motochika…. Biasanya ada orang berantem, ditonton sambil makan popcorn dan sambil teriak-teriak nyemangatin orang yang dipilihnya…' batin orang-orang yang melihat aksi Motchika.
…
Yah… kita skip saja kejadian gak jelasnya!
Sekarang, di daerah Kai, hadir beberapa tokoh terkenal. Contohnya, ada Masamune, Kojuuro, Keiji, Matsu, Toshiie, Musashi, Shimazu Yoshihiro, Imagawa Yoshimoto (yang datang dengan topeng K*m*n R**er, gak pake make-up(?) kayak biasanya…), Ueshugi Kenshin (yang panik sambil gendong Kasuga entah karena apa. Datang-datang udah teriak-teriak ala orang kemalingan(?)…), Zabii (yang datang dengan pakaian tentara(!)), de-el-el. Untuk saat ini, masih segitu orang yang datang.
"Lumayan juga yang datang…" gumam Keiji sambil tetep asyik mainin HaPe-nya. Ckckck… ketagihan main HaPe itu!
"Tapi… kenapa yang datang pada kelainan stadium seratus(?), ya? Pakaian Kasuga jadi menutup gitu, Zabii pakai pakaian tentara, dan… si badut malah pake topeng begituan…" Matsu mengucapkan hal tadi sambil facepalm. "Hancur sudah dunia,"
"Hhh… namanya juga orang kelainan…" sahut Kojuuro santai.
"Oi, Kojuuro, kapan si 'Master of Ular Tangga and Dice Plus Master of Acrobatic' datang? Lawas banar datangnya…"
"BUUUUUUUUF!"
Keiji, Matsu, Toshiie, Motonari, Musashi, Shimazu Yoshihiro, Motochika, Yoshimoto, Zabii, dan Kenshin, seketika menyemburkan minuman yang hendak diminum mereka. Bahkan, Keiji, Toshiie, Musashi, dan Shimazu Yoshihiro sudah ngakak guling-guling begitu mendengar ucapan sang Dokuganryuu.
"BAHASA KACAU DOKUGANRYUU PARAH! BWAKAKAKAKAKAK~~!" nah, inilah komentar mereka yang sedang ngakak guling-guling. Segera saja…
BLETAK! BUAGH! DUG!
"I-ittai…"
"Tidak ada yang boleh menghina Masamune-sama!"
Orang-orang yang baru saja ngakak guling-guling, berganti kegiatan menjadi mengusap kepala masing-masing. Pasalnya, mata kanan Dokuganryuu baru saja memberi 'pelajaran' pada mereka.
"Menghina sekali lagi, kalian akan rest out peace(?)…" Kojuuro mengucapkan hal demikian dengan nada super dingin bin sadis. Otomatis, para korban 'pembelajaran' Kojuuro merinding disko.
"I-iya… ampun…"
"Bagus," Kojuuro menghembuskan napas, "maaf Saya lama menjawab pertanyaan Anda, Masamune-sama! Ehm… etto... mungkin, lima belas menit lagi dia datang,"
"Oh, gitu toh…" Masamune mengangguk.
"Nah, Masamune-sama sabar saja, ya!" lanjut Kojuuro dengan ekspresi ala ibu-ibu dapat diskon gratis belanja selama seabad(?). Masamune hanya mengangguk –meng-iyakan Kojuuro.
"Yo-hooooo~!"
"?"
Sekarang, seseorang dengan gaya poni rambut miring ke samping(?) dengan tampang bikin cewek klepek-klepek(?) muncul dengan efek yang 'lumayan'.
"...?" dan reaksi orang-orang yang melihatnya, hanya dapat memasang wajah bingung...
"Oi, kok sepi sih?" sedetik setelah orang dengan gaya poni ke samping ini bertanya dengan nada tinggi kayak tadi, mendadak terdengar musik–yang seketika membuat yang dengar sweatdrop–.
Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga...
'Busat... korban Ti-Vi ala Author...' inilah batin orang-orang.
"Sori gua telat! Tadi disuruh Mitsunari-sama patroli singkat! Sori, sori..." si poni ke samping(?) menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Iya... gak papa..." jawab orang-orang sekitar dengan lesu. Males meladeni sebenernya...
"Seharusnya, kamu yang datang duluan, Shima Sakon..." ucap Motochika dengan lesu. Orang yang dipanggil Shima Sakon hanya menyengir tidak jelas.
"Omong-omong, yang datang ke sini lumayan juga..." Sakon–panggilan Shima Sakon ala Author selain julukan kacau itu(?)...–berusaha mencairkan suasana yang notabene suram abis.
"Iya dong~!" tanggap Keiji tidak jelas dengan nada bangga abis. Entah kenapa dia bangga...
"...dan juga, dari tadi kalian nunggu di sini–di depan gerbang istana ini? Gak masuk?" pertanyaan Sakon ini seketika membuat orang-orang mengheningkan cipta.
"...KENAPA KITA BARU KEPIKIRAAAAN~?!" dan teriakan barusan, adalah reaksi orang-orang...
"Kok gak kepikiran, ya?" Toshiie memukul kepalanya pelan dengan kebingungan luar biasa.
"Karena takdir(5)..." sahut Motochika dingin. Seketika yang mendengar perkataan Motochika tadi, hanya dapat facepalm.
"Yo wes, yo kite masuuuuk~!" nah, jangan tanya siapa yang memberi komando tadi...
"Ayoooo~!" turut semua orang yang hadir dengan semangat ikut lomba 17-an(?)–kecuali Motonari dan Kasuga–.
"Be-Te-We, gua baru sadar..." Keiji melihat-lihat keadaan sekitar, "gak ada penjaga ini?"
Krik, krik, krik...
"BARU NYADAAAAAAR~~!" seru orang-orang di TKP dengan cetar membahana badai terpampang mata-ulala(?!). Yah... kecuali Motonari dan Kasuga lagi...
"Masa bodoh sama penjaga," ucap Motonari dan Kasuga bersamaan, "yang penting masuk!"
'Curiga hobi nyolong mangga tetangga ni dua orang...' batin orang-orang.
Dan akhirnya, orang-orang gak jelas tadi masuk...
Dan kedatangan mereka disambut dengan pemandangan tak terduga...
"Selamat datang, semuanya."
"...siapa kau...?" semua orang gak jelas tadi menunjuk ke orang yang menyambut mereka.
"Sanada Yukimura, lha! Siapa lagi?" jawab si penyambut.
"...bener?" tanya mereka lagi.
"Yo'i!"
"G-gak mungkin elo Sanada Yukimura..." ucap mereka semua tidak percaya, lalu... "Yukimura itu bajunya bagaikan orang kekurangan bahan(?), gak nutup kayak gitu! Yukimura itu juga rambutnya lumayan berantakkan, padahal punya sisir se-lemari(?)! Gak rapi kayak elo! Oh, dan juga, Yukimura kalo nyambut orang, udah teriak-teriak GaJe kayak orang kesurupan, gak tenang dan dingin kayak elo tadi! ELO SIAPAAAA?!"
Orang yang mengaku bernama Sanada Yukimura hanya mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya, "a-ampun dah... Gua ini gimana sih bagi orang-orang?"
"Hohoho... sepertinya menarik," ucap Imagawa Yoshimoto sambil memainkan kipas yang dibuat dari kertas(?) miliknya.
Sakon berdehem tanpa sebab, "eh, udah deh. Yuk kita ketemu ama pemilik Kai."
"Nah, tadi baru mo diajak..." Yukimura membalikkan badannya–mo mimpin jalan ceritanya–, "ikut gua. Gua anter sampe ke tempat Oyakata-sama berada."
Dan jadilah Masamune, Kojuuro, Keiji, Toshiie, Matsu, Motonari, Motochika, Musashi, Shimazu Yoshihiro, Yoshimoto, Zabii, Kenshin, Kasuga, dan Sakon mengikuti Yukimura.
-Begitu sudah sampai di sebuah ruangan...-
Yukimura membuka pintu seret (Author lupa namanya XP), lalu ia masuk dan diikuti yang lain.
"Oyakata-sama, nih orang-orang yang kelainan pada datang," ucapan Yukimura yang mulus tanpa lecet(?) ini seketika membuat orang-orang yang merasa pundung. Ya iyalah, sadis banget tu ucapan...
"Oh, banyak juga rupanya..." Shingen melihat satu-satu korban kebakaran(?). "Bisa diberitahu mengapa kalian jadi aneh begini?"
"Gak punya tahu. Di Shikoku lagi nge-trend tempe(?)," sahut Motochika santai kelewat batas. Sontak orang-orang yang denger perkataan Motochika barusan sweatdrop parah.
"Bukan tahu makanan, Chosokabe. Tapi menceritakan kenapa jadi aneh," koreksi Motonari sambil facepalm.
"Oooh... kirain si Kai no Tora ini minta tahu. Padahal setauku, Kai itu kaya akan hasil tahu(?)." tanggap Motochika santai. Yang denger sweatdrop lagi, nih.
"Ehem, ehem." Shingen berdehem kagak tau sebabnya apa, "ya... terserah deh! Um... mulai dari Kenshin,"
"Itu... Kasuga kemarin beli teh hijau sama pedagang misterius yang ia temui. Ujung-ujungnya, dia jadi gitu..." Kenshin melirik ke Kasuga dengan pandangan khawatir. Sedangkan Kasuga, menatap Kenshin dengan tatapan sinis. Kasihannya...
"Gitu..." Shingen ngangguk-ngangguk. "Kalo kamu, Zabii?"
"Habis makan salome(?) ama pedagang misterius, jadi suka ama baju tentara!" jawab Zabii dengan tegas. Ampun dah...
"Kalau kalian?" tanya Shingen ke Matsu.
"Keiji. Habis makan apel yang dibeli ama pedagang misterius," jawab Matsu.
"Siapa yang aneh, Kojuuro?" tanya Shingen ke Kojuuro.
"Masamune-sama. Dia habis makan sayur lodeh, jadi ahli bahasa kacau," jawab Kojuuro sambil nangis.
"Imagawa Yoshimoto?" tanya Shingen ke orang yang dituju.
"Hohoho... gak sengaja nelen batu ajaib(!) dari pedagang misterius," jawab Yoshimoto sambil mainin kipasnya. Yang denger jawaban Yoshimoto ini, hanya melotot tak percaya.
"Kalau kau?" tanya Shingen ke Musashi.
Berbeda dengan yang lain. Kalau yang lain menjawabnya dengan tenang, Musashi malah berdiri sambil mencak-mencak. "HABIS MINUM AIR LAUT, JII-SAN JADI FANS JOGET HAREM SHARK! AAAAAARGH~! WHY~?!"
'Cucu frustasi...' batin orang-orang yang lihat Musashi.
"Kalau–" pertanyaan Shingen terputus karena Motonari memotong perkataannya.
"Si Bajak Laut aneh ini kelainan mental(?). Anak buahnya bilang, dia habis makan ikan bakar, yang ikannya dibeli ama pedagang misterius,"
"Oooh..." tanggap Shingen.
"Kalau Anda sendiri? Yang kelainan Yukimura?" tanya Kojuuro dengan sopan ke Shingen.
"Iya. Entah karena apa..." jawab Shingen sambil menghela napas.
"Aku tau kenapa!" seru Shima Sakon sambil menjentikkan jarinya bangga. Orang-orang yang denger seketika memasang wajah penuh harapan–kecuali Yukimura, Kasuga, dan Motonari yang asyik main Ano(6)– "Itu pasti karena dia makan sebuah dango yang dibeli ama pedagang misterius juga!" lanjut Sakon.
"Kok tau?" tanya Shingen. Sakon hanya terkekeh misterius.
"Ya iyalah tau! Orang judul fic ini aja 'Fake Dango'~! Ya pasti karena itu!" jawab Sakon yang diakhiri tawa gak jelas. Sontak yang denger pada sweatdrop.
"Pintar banget ni orang..." sahut orang-orang sambil facepalm.
Tap tap tap tap tap tap
Srek!
Mendadak, muncul Sarutobi Sasuke–yang entah sejak kapan udah di Kai– dengan wajah pucat banget. Peluh pun membasahi wajahnya. Napasnya pun tersengal-sengal.
"Oyakata-sama, DANGER! Oda Nobunaga terlihat dari arah barat dengan radius satu kilometer dari sini! DANGER!"
"WUAPAAAA?!" teriak orang-orang di TKP–kecuali Sasuke yang barusan melapor– dengan nada tidak percaya. "BENERAN?!"
"IYO!" jawab Sasuke tak kalah keras. "Kalau bohong, ngapain juga Saya panik gini?!"
"Iya juga, sih..." tanggap orang-orang.
"Jadi, gimana ini, Oyakata-sama?" tanya Sasuke.
Shingen mengusap-usap dagunya. Lalu ia memberi sebuah perintah, "siapkan pasukan untuk menahan si mao itu! Kita tidak boleh tewas! Ato ngga, cerita ini akan berakhir 'bad ending'!"
'Sangka game apa...?' batin orang-orang bingung.
"Baik, Oyakata-sama!" Sasuke segera melesat pergi.
"Ikut berantas Nobunaga!" Keiji, Masamune, dan Motochika kontan berdiri dengan semangat. "Lagi bosen soalnya..."
"Ehm... itu..." Shingen tampak berpikir keras.
"Gak usah sampe mikir, lawan aja! Author maunya gitu," sahut Kasuga dingin. Woi, ini bikin Shingen pundung lho...
"AYO KITA LAWAN NOBUNAGAAAA!" seru Masamune, Keiji, dan Motochika semangat. Orang-orang hanya ikut teriak 'Iyoooo~!' dengan semangat '45. Yah... kecuali Motonari yang ngangguk setuju.
Dan jadilah Yukimura, Masamune, Kojuuro, Keiji, Matsu, Toshiie, Shingen, Kasuga, Kenshin, Musashi, Shimazu Yoshihiro, Zabii, Yoshimoto, Motonari, Motochika, dan Sakon mengambil senjata masing-masing, lalu melesat pergi untuk mengalahka Nobunaga...
Bisakah mereka menang?
.
.
To Be Continued (TBC)…
.
.
Kamus Dadakan~:
(1) Parodian salah satu merek HaPe... Silahkan Anda tebak.
(2) Cara baca headshet...
(3) Lirik lagu joget Harem Shark ala Saika Tsuruhime~! *digebuk*
(4)Singkatan dari Lapangan Merdeka...
(5)Quote andalan Saya itu atuh...
(6) Parodian sebuah permainan...
.
.
Author: "Akhirnya selesaaaaai~!" *capek*
Motonari: "Oi, aku merasa masih OOC! Katanya mo buat aku IC..."
Author: "Gomen, Motonari-san, Saya kebut nulis ni chapter... Capek tau, begadang ampe jam 3 pagi demi nulis ni fic! Mana kali ini words-nya lebih dari 3000!"
Motonari: "..." *males ladenin Author*
Author: "Hhh... langsung! Bagi Anda yang baca ni fic, mohon kasih review-nya, ya! Baik itu sindiran, pujian, request-an, gosipan(?), saran, candaan, de-el-el! Oh, iya juga! Bagi yang udah meluangkan waktunya untuk baa ni fic, MAKASIH BUANYAAAAAK~! Akhir kata, terima kasih atas segalanya, ya! Sampe jumpa di chapter depan! Jaa!" *lambai-lambai bangga*
