Suket Alang-alang : Hahahaa, iiyaaa.. baru pede apdet disini. Maklum ini fict lawas banget. Maaf yaakk kalo nista banget ceritanya. Ini fict SasuSaku perdana :D

Laras 921 : Hahhahaa… wow apaan? *kepo

GemSJ : apdet ASAP yank~ wkwkkww, emang kartu pos kalee dicap segala :D

Hanazono Yuri : loohh bukannya skrg jamannya "I Stand On Right Side" yaakk *GagalPaham

Lee Didah : Ini Flashbacknya sedikit diungkap di chapter ini

SarahLybra : makasiihh Alhamdulillah kalo disukai

Guest : Ganbaree ! yoossshh~

Vani : iiyaa ini udah update kirin :*

Key : makasiihh udah suka. Ini udah apdet geledek kok

.

.

.

BE MINE (PART II)

Main Cast : Sakura Haruno x Sasuke Uchiha

Sub Cast : some character in "Naruto"

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Rate : M

Category : Romance, Hurt/Comfort

Original "abal" story by me :Dv ( Odes )

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

.

.

Hooiii, terimakasih sudah mampir ke FanFic Gaje nan abal ini. Tanpa bermaksud meniru apalagi mengcopy karya besar Masashi Kishimoto Sensei, cerita ini lahir dari kegilaan sesaat otak saya saja. Buat saya menulis bukan sekedar hobby, menulis adalah saya. Dan saya hanya akan menulis apa yang memang harus (dan saya sukai) saya tulis.

Nb : begitu dirasa ceritanya gak cocok dengan kamu, gausah diterusin yaa bacanya :D. arigatou

.

.

.

Chapter II

Kami-sama… tolong.. maafkan aku..

Maafkan aku… maafkan aku…

Maaf… maaf…

Berjuta kali kata maaf kuucapkan, namun kenapa tak juga melegakan?

*Sasuke's POV

"DIAM!" Teriakku ke arah gadis soft pink bernama Haruno Sakura itu. Wajahnya seketika memucat mendengar gelegar suaraku. Saat itu suasana di kantin Universitas Konoha memang sepi. Selain karena waktu telah beranjak malam, semua orang saat ini tengah berpesta di auditorium universitas tempat berlangsungnya pesta pertunangan pewaris dari klan Hyuuga, Neji Hyuuga dan Tenten.

"Ta.. tapi….." ucapnya terbata-bata. Berusaha menjelaskan. Setelah susah payah dia berhasil mengajakku untuk keluar dari acara itu, untuk berbicara 4 mata denganku, tampaknya dia berusaha untuk memaksimalkan momen ini untuk membuatku percaya. Karin, kekasihku, telah berani bermain mata dibelakangku dengan laki-laki lain.

"Sekali lagi bicara omong kosong begitu, kubunuh kau!" sambarku seketika sambil menarik tangannya dengan kasar. Ekspresinya tampak kesakitan meski tidak ada kata keluhan yang terlontar. Airmata terlihat menggenang disudut-sudut emeraldnya.

"Aku tidak bicara bohong Sa-Sas..Sasuke kun…." Suaranya terdengar bergetar, menahan sakit dan tangis yang akan tumpah.

"Berani sekali kau menjelek-jelekan Karin di depanku…" kucengkram erat pergelangan tangannya, hingga nantinya terdapat memar merah disana. Sakura –lagilagi- tampak meringis kesakitan. Bukannya kasihan pada gadis di depanku ini, aku justru terbakar emosi saat mendengar dia kembali menjelek-jelekkan Karin, kekasihku, di hadapanku sendiri.

"Aku benar-benar melihat Karin dengan seorang pemuda, Sasuke kun… tolong.. percayalah…" ucapnya memohon. Nadanya terdengar seperti putus asa melihatku tidak mempercayai kata-katanya.

"Aku.. tidak..percaya…padamu.. Sakura…" aku tekankan kata-kataku satu persatu. Membuat cairan bening di mata emeraldnya tumpah. Mungkinkah kata-kataku lebih menyakitinya ketimbang perbuatan kasarku?

Sakura diam sesaat. Mati-matian menahan isak tangisnya.

"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu mempercayaiku…?" ujarnya dalam suara parau akibat tangis. Aku tersenyum sinis.

"Mati saja sana….!" Ucapku penuh amarah sambil mendorongnya menjauh.

"Kyaaaaaaaa~ Sasuke kun…!" teriaknya. Tubuh mungilnya meluncur jatuh dari tangga akibat terdorong olehku. Berguling beberapa kali sebelum mencapai dasar. Lalu kulihat tubuh itu berhenti. Diam. Tidak ada gerakan.

Aku sendiri masih terpaku. Kaku. Tubuhku rasanya lumpuh. Aku baru saja mendorong jatuh gadis itu. Walau bukan itu sebenarnya maksudku. Aku hanya ingin mendorongnya menjauh. Namun kata-kata terakhirku sebelum mendorongnya seolah menjadi sebuah doa yang segera dijawab oleh Kami-Sama.

Takut. Cemas. Bingung. Aku hampiri tubuh mungil yang kini hanya terbaring tak berdaya. Emeraldnya sempat mengerjap, lemah. Kutatap lekat-lekat gadis yang kini terkapar itu. Wajahku kian memucat melihat darah merembes dari beberapa bagian tubuhnya.

"Sekarang… kau … percaya?…"ucapnya pelan dengan nada terputus-putus. Seolah untuk bicara saja, dia harus mempertaruhkan seluruh nyawa. Aku tersentak. Emerald itu menatapku untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya tertutup dalam jangka waktu yang lama.

*END OF POV

-000000-

Cerita tentang kejadian itu mengalir begitu saja saat aku duduk berdua dengan pemuda berambut raven yang serupa denganku itu. Itachi nii hanya diam. Mendengarkan dengan seksama. Membiarkan aku bicara sepuas-puasnya. Mengeluarkan apa yang mengganjal, apa yang aku simpan rapat, bahkan dari sahabat-sahabat karibku sendiri.

Itachi nii menghela nafas panjang saat aku menyudahi ceritaku. Namun dia tetap diam. Mungkin karena dilihatnya rona wajahku berubah. Pucat pasi. Jujur saja, menceritakan hal ini sangat sulit bagiku. Mengorek segala kenangan pahit itu membuatku ingin mati saja karena tak kuat menanggung rasa bersalah pada gadis itu.

Apa yang kemudian dilakukannya sungguh di luar dugaanku. Walau aku tau, baka Aniki ku ini sering sekali membuat tindakan yang diluar perkiraan. Tapi tetap saja, melihatnya langsung menghambur dan memelukku, membuatku merasa kaget.

"Rasa bersalah itu… sebaiknya kau lupakan saja. Sekarang dia sudah siuman, dan apa yang kau lakukan di masa lalu, masih bisa kau perbaiki dari sekarang…" ucapnya lembut. Aku tidak menyangka bhwa dia bisa begini bijak.

"Jadiii.. apa setelah ini dia akan pulang ke rumahnya?" tanyanya.

"Tidak…." Jawabku singkat. Sukses membuat kening Itachi nii berkerut.

"Lalu…?"

"Dia belum dapat mengingat siapa dirinya…"

"Amnesia? tebak Itachi nii.

"Hn~…."

"Dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

"Aku akan menikahinya…!" sahutku tegas.

"Ooohh….. eeehhhh! Ap..apaa!? apa kau bilang barusan? Menikah?" Itachi nii nampak sangat shock mendengar kata-kataku. Raut wajahnya terlihat lucu. Aku jadi tersenyum melihatnya.

"Ya… nampaknya ini saat yang tepat buatku untuk melepas masa lajang.." ujarku sambil terkekeh. Itachi nii terlihat tidak setuju.

"Kau bahkan belum menyelesaikan kuliahmu.. kenapa begitu terburu-buru?"

"Aku sudah cukup umur baka Aniki.. sudah sah secara hukum untuk menikah. Soal kuliah, kurasa tidak ada hubungannya…" jelasku panjang lebar. Itachi nii tampak masih tidak mau kalah.

"Apa kau mencintainya ?"

"Ya…" jawabku dengan 1 kalimat tegas.

"Cinta dan perasaan bersalah adalah dua hal yang berbeda Sasuke.." desahnya.

"Aku tahu…"

"Apa kau benar mencintainya? Bukankah kau…." Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah memotongnya.

"Aku benar-benar mencintainya, Nii-san.." ucapan sungguh-sungguhku sempat membuatnya terhenyak beberapa saat.

"Tapi…tapii…"

"Sebenarnya kau sebegitunya menentang rencanaku karena kau tidak ingin aku mendahuluimu kan?!" tembakku langsung. Itachi nii mengibaskan raven panjangnya seolah sedang syuting iklan shampoo.

"Ciihhh~ kenapa harus iri? Terlalu banyak gadis yang ingin bersamaku sehingga aku belum bisa menentukan pilihan…" jawabnya asal.

"Jadi kapan rencananya ?" tanya Itachii nii sambil lalu. Berusaha menyembunyikan rasa iri sekaligus bahagianya.

"Sekarang…" jawaban singkatku sukses membuat kedua matanya terbelalak.

"Uhuuukk..uhuukk.." Itachi nii bahkan sampai terbatuk mendengar rencanaku itu. Aku tertawa geli sambil beranjak keluar dari kamarnya.

"Aku akan bicara pada Tou-san dan Kaa-san. Bersiaplah calon Jii-san ( paman).."ucapku sok sopan sambil membungkukkan badan ke arahnya. Membuatnya terkesiap, ngeri mendengar dan melihat sikapku yang tak biasa.

-0000-

Semua berlalu sangat cepat, namun aku masih bisa mengingat setiap detailnya. Sakura, dengan yukata turun temurun milik mempelai wanita Uchiha yang bermotif bangau biru terlihat anggun dan cantik meski wajahnya masih terlihat pucat. Rambut soft pinknya digelung ke atas, sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus yang kini dihiasi kalung pemberian Kaa-san yang merupakan kalung warisan turun-temurun milik keluarga Uchiha. Dan karena semua ini serba dadakan, maka acaranya berlansung sederhana. Tanpa mengurangi kekhidmatannya.

Lalu aku, dengan hakama putih-biru khas milik klan Uchiha dengan lambang serupa kipas sebagai tanda klan dibelakangnya, raven chicken butt yang kutata sekenanya, serta wajahku tidak perlu dipoles berlebihan karena memang sudah good looking sejak lahir *Ggggrrrrrrr (tingkat sebel author :45%) tampak serasi ketika bersanding dengannya.

Sebagai tanda telah resmi menjadi suami-istri, telinga kami harus ditindik. Itu suatu kewajiban bagi seorang Uchiha yang telah menikah. Tanda bahwa kami telah saling memiliki dan tidak bisa dipisahkan. Kaa-san melubangi telinga Sakura, sedangkan telingaku dilubangi oleh Tou-san. Ada gurat haru diwajah Kaa-san saat menindik telinga menantunya tersebut. Tak pernah terbayangkan olehnya, kalau keputusan menikah akan diambil oleh bungsu Uchiha secepat ini.

Sebuah anting berbentuk huruf S dan U dipasang di telinga kami yang telah ditindik. Kaa-san sudah mempersiapkannya. Semua keluarga Uchiha memiliki koleksi anting yang akan dipakai saat mereka menikah nanti. Huruf S untuk nama kami, Sakura & Sasuke. U untuk Uchiha. Karena sekarang, dia bukan lagi Haruno Sakura. Tapi sudah resmi sebagai menantu wanita pertama, Uchiha Sakura.

Yang menyebalkan adalah saat aku harus meminta ijin karena aku melangkahi Itachi nii untuk menikah mendahuluinya. Dan dia memang orang yang suka memanfaatkan situasi. Bukannya dengan suka rela memperbolehkanku menikah tanpa syarat yang memberatkan, dia justru memanfaatkannya untuk meminta permohonan yang aneh-aneh.

"Cukup ajak aku saat kalian berbulan madu…." Ucapnya dengan seringai jahil diwajah. Aku langsung memelototinya.

"Ayolaahh Sasu chan…" katanya lagi dengan nada merajuk. Benar-benar menggelikan! Kenapa sih dia tidak pernah bersikap dewasa!? Padahal usia kami terpaut cukup jauh, tapi kakak ku yang bodoh itu justru bertingkah seperti adikku saja.

"Kami tidak akan bulan madu…" jawabku tegas. Aku tidak akan membawanya keluar dari desa. Terlalu beresiko bila teman-teman kami di universitas atau bahkan –lebih buruk lagi- Haruno Gaara tahu tentang keberadaan adik kesayangannya yang kini telah resmi menyandang nama Uchiha ini. Gaara pasti akan membunuhku. Itu yang diucapkannya saat kami tak sengaja berpapasan di salah satu lorong universitas, beberapa hari setelah Sakura tiba-tiba menghilang.

"Jika menghilangnya Sakura ada hubungannya denganmu, akan kubuat kau menyesal pernah dilahirkan ke dunia…" ucapnya dingin. Raut wajahnya terlihat serius dan matanya, kedua matanya memancarkan aura seorang pembunuh yang sempurna.

"Ciihhh… membosankan!" ucap Itachi nii sambil menghempaskan badannya ke bangku yang hendak dia duduki di ruang makan. Setelah upacara pernikahan sederhana yang hanya disaksikan oleh keluarga selesai, inilah saat makan malam pertama Uchiha dengan seorang anggota keluarga yang baru.

"Sasuke.. sekarang kau telah menjadi seorang suami.. kau harus memperhatikan istrimu.. karena itu lebih baik jika kau dan Sakura pindah ke…." Belum sempat Tou-san menyelesaikan kalimatnya, aku buru-buru memotongnya. "Arigatou, Tou-san.. tapi aku dan Sakura ingin tinggal disini lebih lama…" jawabku sambil menunduk sopan.

"Tapi Sasuke.. jika kau tinggal di desa, bagaimana jika terjadi sesuatu?" Kaa-san ikut menimpali. Aku tersenyum. "Aku dan Sakura akan baik-baik saja Kaa-san… ya kan Sakura?" ujarku sambil melirik ke arah gadis berambut pink yang kini telah resmi menjadi istriku itu. Sakura menjawabnya dengan senyuman yang disertai dengan anggukan kecil.

"Baiklah jika itu mau kalian… kami mengerti.." pertama kali aku melihat Tou-san dengan senyum bangganya padaku. Mungkin dengan ini, Tou-san bisa lega mempercayai bahwa aku telah mampu bersikap dewasa sebagai seorang suami.

"Kalau begitu.. aku juga mau tinggal disini!" ucap Itachi nii. Kami semua serempak menoleh ke arahnya.

"Apaa~?! Apa-apaan matamu itu? Kau tidak suka aku tinggal disini yaa? Agar kau dan ..Saku chan bisa bebas berduaan? Dasar kau mesum..!" omel Itachi nii saat melihatku men death-glare dirinya.

"Diam kau, baka Aniki !" sahutku tak mau kalah. Entah mengapa mendengarnya mengucapkan kalimat itu, membuatku merasa malu. Heyy heyy.. padahal aku dan Sakura kan telah resmi menjadi sepasang suami-istri.

"Sudah..sudah.. Itachi, kau kan harus masuk kerja besok dan mengurus bagian yang akan diambil alih oleh Sasuke. Karena mulai besok, Sasuke juga akan mulai bekerja di perusahaan setelah jam kuliah selesai.. jadi kau harus ikut kami pulang.." Tou-san melerai pertengkaran tak penting kami. Itachi nii langsung menekuk wajahnya. Merasa kalah langkah. Jika seorang Uchiha Fugaku telah bicara, itu adalah perintah bagi kami, anak-anaknya.

Itachi nii gantian memelototiku, sementara aku dengan sengaja memamerkan senyum kemenanganku.

"Saku chan…!?" panggil Itachi nii. Sakura menoleh dan memberikan senyum terbaiknya. Membuatnya kelihatan sangat cantik. Melihatnya saja, sudah membuatku merasa cemburu. Aku tidak ingin dia membagi senyumannya untuk orang lain, sekalipun itu kepada kakak ku sendiri.

"Yaa.. Nii-san…" jawab Sakura. 'Ciihh.. Nii-san apanya!? Dia sungguh tidak cocok dengan sebutan itu..' ujarku dalam hati dengan wajah cemberut. Meskipun aku juga memanggilnya seperti itu, tapi itu hanya jika didepan kedua orangtuaku saja.

"Kau jangan cepat-cepat memberiku keponakan yaa~.. aku tidak mau jadi om-om tampan di usia segini…" ujarnya dengan senyuman manis karena melihat wajah dongkolku. Tapi entah kenapa, di mataku itu terlihat seperti senyuman mesum.

BLUSH

Wajahku memanas. Sakura pun begitu. Terlihat jelas ada semburat merah di kedua belah pipinya. Hal seperti ini tidak seharusnya dibicarakan, apalagi dalam acara jamuan makan malam keluarga yang pertama. Dasar baka Aniki !

"Bicara apa kau Itachi… lebih cepat lebih baik…" sahut Kaa-san sambil tertawa pelan kemudian disambut senyuman oleh Tou-san.

-00000-

DEG DEG …

DEG…

Pria dan wanita

Status : menikah

Di dalam kamar,

Diatas ranjang berukuran king size

Hanya berdua..

Begitu banyak pikiran yang terlintas. Kesemuanya justru membuat jantungku sukses berdegup lebih kencang. Kulirik gadis musim semi yang kini resmi menjadi nyonya Uchiha itu. Wajahnya tertunduk. Mungkin menyembunyikan guratan malu yang tergambar di wajah cantiknya. Karena aku pun merasa begitu. Aura kecanggungan begitu kental terasa menyelimuti kami. Ini merupakan malam pertama kami.

Malam pertama kami….

Ciiihh.. memikirkannya saja membuatku merinding. Daripada terlihat bodoh, aku segera bangkit dari ranjang yang kami duduki dengan saling memunggungi itu.

"Sakura…." Panggilku hati-hati. Gadis merah jambu itu mengangkat wajahnya. Waktu seakan berhenti berputar saat emeraldnya menatap sepasang onyx milikku.

"A…aa..aku mau mandi dulu…" kataku gugup karena tadi kami sempat bertatapan, meski hanya beberapa saat. Bisa kurasakan wajahku panas dan memerah. Apa kata-kataku tadi terdengar seperti menggodanya?

"Ii..ii..iiyaa.." jawab Sakura,terdengar dari suaranya bahwa dia sama gugupnya denganku.

'Dasar bodoh kau, Sasuke! Kenapa gugup seperti bocah ingusan begitu!?' runtukku dalam hati. Memaki diriku sendiri.

Aku hendak melangkahkan kakiku kekamar mandi, tapi tiba-tiba terlintas sebuah ide untuk menggoda gadis yang telah resmi menjadi istriku itu. Karena nya aku justru berbalik arah dan berjalan mendekatinya.

"Sakura.. tolong bantu aku…" aku sengaja memintanya membantu melepas tali hakama yang ku kenakan sejak upacara pernikahan sederhana kami. Sakura sebenarnya kaget saat aku memintanya untuk membantuku melepas hakama, mungkin dia takut atau malu jika di dalamnya aku tampil polos tanpa busana, walaupun itu memang benar adanya.

Jemari mungilnya tampak gugup saat satu persatu melepas ikatan hakama yang aku kenakan. Butuh waktu yang cukup lama untuk sekedar membuka satu ikatan, namun aku menikmatinya. Aku menikmati jarak kami yang kian dekat sehingga aku dapat leluasa menghirup wangi cherry dari suraian lembut rambut soft pink nya.

Terbawa suasana syahdu nan romantis, kukecup keningnya perlahan. Sakura tersentak, tampak kaget karena perbuatanku. Sentuhan ringan saja sukses membuat wajahnya kini telah semerah kepiting rebus.

"A..ap..apa yang kau lakukan?" pertanyaan bodoh itu terlontar dari bibir mungilnya, mau tak mau membuatku menyunggingkan sebuah senyuman.

"Dari dulu aku ingin melakukannya…" ucapku sambil menenggelamkannya dalam sebuah pelukan hangat. Hakama bagian atasku telah terbuka, menampakkan dada telanjangku yang bidang berotot. Bisa kurasakan panas hembusan nafas gadis yang tengah kupeluk ini saat menerpa kulitku.

Kuangkat dagunya, memaksanya memandang ke arahku. Emerald itu tampak malu-malu dan pandangannya tak lagi fokus. Mungkin efek dari penampilanku yang telah setengah telanjang berada tepat di depannya.

Ku perpendek jarak diantara kami. Sakura diam saja saat bibirku menyentuh bibirnya. Inilah ciuman pertama kami secara resmi sebagai sepasang suami istri. Meski aku sudah sering mencuri ciuman darinya saat dia terbaring koma, namun rasanya berbeda saat melakukannya sekarang. Bibirnya terasa hangat dan lembut. Dan sesekali membalas ciumanku.

Kulumat bibir bawahnya, membuat Sakura mengerang. Sakura tampak belum berpengalaman dalam berciuman. Hal itu terlihat saat dia begitu canggung dalam mengimbangi ciumanku.

"Sakura.. yang namanya ciuman itu bukan hanya sekedar menempelkan bibir saja.." ucapku lembut tepat di telinga kanannya. Lalu aku jilat daun telinga itu, membuat sakura bergidik, antara geli dan tidak nyaman.

"Rasakan dan pelajari…"desahku lembut. Kini aku kembali membawanya dalam ciuman yang memabukkan. Saat lidahku berusaha menerobos ke dalam mulutnya, Sakura tampak belum siap sehingga lidahnya justru mendorong lidahku untuk keluar. Tidak mau kalah, aku justru mengajak lidahnya beradu dengan lidahku.

Ciuman yang intens itu terus berlanjut. Tanganku sendiri mulai berusaha melepas ikatan yukata yang dikenakan gadis merah jambu itu. Sakura tampak sudah mabuk dengan keadaan ini sehingga dia mendiamkan saja aksi ku.

Puas bermain dengan bibirnya, aku beralih ke leher jenjangnya. Sakura sudah melepas perhiasan pemberian Kaa-san. Membuatku leluasa menciumi leher jenjangnya dan membuat 'tanda kepemilikan' disana.

Jujur saja, kami sudah mabuk kepayang dengan situasi ini. Hasrat itu menggelak, begitu nyata kami rasakan. Aku rebahkan tubuhnya di atas ranjang, tersenyum menggodanya.

"Malam ini milik kita berdua, istriku…"

BLUSH,

Wajah Sakura merah padam..

Tepat saat kami akan melanjutkannya,

DOK DOK DOK..

Pintu kamar diketuk dengan kasar dan tidak sabaran. Hanya satu orang yang sanggup berbuat seperti .

Baka Aniki! Itachi nii!! Pasti dia pelakunya. Tapi kenapa dia masih disini? Bukankah dia seharusnya ikut Kaa-san dan Tou-san pulang ke Konoha?

"Ciihhh.. sial…"gerutuku sambil bangkit berdiri dan menghampiri pintu. Kubuka sedikit saja pintu kamar, karena Sakura tampak sedang membetulkan yukatanya yang telah berantakan akibat ulahku.

Wajah itu tampak tersenyum jahil saat melihatku.

"Sasuke… aku lapar.." ucapnya sambil merajuk. Jika ini komik, 4 sudut siku pasti sudah tercetak di dahiku. Dan kalau saja dia bukan kakak kandungku, sudah kucekik dia sampai mati. Berani sekali dia menganggu malam pertamaku !?

"Apa!? Kenapa kau masih disini?!" seruku, antara sebal dan kaget.

"Memangnya kenapa? Ini juga rumahku tau. Aku juga Uchiha.." jawab Itachi nii seenaknya, tidak mau kalah.

"Memangnya aku mengganggu? Apa kalian sudah mau 'tidur'? tanyanya dengan tampang innocent. DEG. Pertanyaannya tepat sasaran. Mungkin dia bertanya begitu karena melihat penampilanku sekilas yang tampak telah bertelanjang dada.

Aku mendesis. "Sssshhh..kau benar-benar tidak tahu situasi. Sebenarnya apa maumu?" kataku sambil melempar death –glare padanya. Bukannya takut atau merasa bersalah, seringai jahil justru tampak diwajah tampannya.

"Aku lapar. Kan tadi sudah kubilang.. ayo masakkan makanan untukku!"

"Kau pikir ada berapa maid di rumah ini, BAKA! Bangunkan saja salah satu dari mereka sendiri!" teriakku sebal. Emosiku langsung naik melihat tingkah kekanak-kanakan kakakku ini.

Kurasakan bahuku ditepuk perlahan dari belakang. Istriku itu tampak telah berganti pakaian. Wajahnya tersenyum saat melihat Itachi nii yang pura-pura memasang tampang sedih.

"Kalau Nii-san lapar, aku bisa membuatkan makanan.." tawarnya dengan lembut. Aku memperlihatkan wajah tidak setuju tapi Sakura tidak memperdulikannya.

"Kita tidak boleh membiarkan Nii-san kelaparan kan, Sasuke..?!" Sakura tersenyum lembut padaku. Membuatku luluh hanya dengan menatapnya.

"Saku chan saja begitu baik dan perhatian. Adik macam apa kau!? baka Otoutou! " ujarnya sambil menjulurkan lidah. Sakura tersenyum lalu melangkah pergi ke dapur. Sementara Itachi nii justru mendekatiku.

"Jadi~.. kalian sudah sejauh apa sebelum aku datang? tanyanya dengan nada menggoda. Membuatku ingin memukul kepalanya saja. Oh Kami-Sama, mengapa aku harus bersaudara dengannya?

BRAK

Aku tutup pintu kamar dengan keras. Menjengkelkan memang. Itachi nii selalu seperti itu. Bersikap seenaknya terhadapku.

Setelah berganti pakaian, aku menyusul mereka ke dapur. Sakura tampak sedang sibuk mempersiapkan bahan-bahan masakannya. Aku berjalan mendekatinya sementara Itachi nii entah ada dimana.

"Biar ku bantu..."tawarku. Sakura menoleh dan tersenyum saat mendapatiku telah berada dibelakangnya.

" Tidak usah, kau duduk saja…" tolaknya lembut. Tapi aku tetap mendekatinya dan memeluknya dari belakang.

"Maafkan gangguan tadi yaa.." ucapku lembut di telinga kirinya sambil aku kecup ringan. Sakura tampak bergidik lagi saat aku mencium telinganya.

"Ehh..hhmmm… bahan-bahan di kulkas hampir semuanya tomat…" ujar Sakura, berusaha mengalihkan perhatian.

"Hn~…." Jawabku singkat sambil tetap mencium telinganya, bahkan kini aku gigit-gigit kecil

"Ngghh~ Sasukeee…" katanya lagi sambil menepis wajahku yang menempel erat di bahunya. Sakura tampak tidak nyaman, mungkin dia takut baka Aniki ku memergoki kami berduaan di dapur seperti ini.

"Aku merasa familier dengan buah ini..seperti sudah terbiasa.. tapi kenapa justru perasaanku tidak enak yaa? Sepertinya aku tidak menyukai buah merah itu" ujarnya sambil berpikir. Tanpa sadar, aku menjauh darinya. Melihatku menjauh, Sakura justru mengira itu karena gerakan penolakan yang dibuatnya.

"Aku…" ucapku Sakura jadi berkerut saat aku tidak meneruskan kalimatku.

'bukan buah itu yang harus kau benci Sakura… tapi aku..'. ucapku dalam hati. Tiba-tiba saja perasaan bersalah itu datang. Entah dari mana. Namun rasanya hatiku seperti ditusuk-tusuk setiap kali mengingat masa lalu ku dengannya. Setiap mengingat perlakuan ku padanya dimasa lalu, aku ingin membunuh diriku sendiri.

"Buah ini menyebalkan… rasanya aku tidak mau melihatnya…"katanya lagi sambil membuang tomat-tomat itu ke tempat sampah. Melihatnya, membuatku merasa aku lah si tomat itu. Tomat yang akan dibuang Sakura ke tempat sampah.

Refleks, aku menahan gerakannya. Sakura memandangiku.

"Kenapa? Kau tidak suka buah ini kan?" tanyanya padaku. Aku tercekat. Haruskah aku mengakui bahwa itu adalah buah kesukaanku? Akhirnya, aku mengalah. Aku lepaskan tangannya dan membiarkannya membuang buah kesukaanku itu ke tempat sampah.

Tersisa satu buah tomat merah. Masih bagus dan segar. Kali ini Sakura tidak langsung membuangnya. Diambinya pisau, lalu dipotongnya tidak beraturan. Seperti sedang menghancurkan tomat tak berdosa itu.

Bentuknya setelah dihancurkan sekilas mengingatkanku pada manisan tomat yang dulu sering dibawakannya untukku dikampus. Tapi aku justru menghancurkannya. Bukan hanya manisan tomat yang telah susah payah dibuatnya untukku, namun juga hatinya.

Ekspresi wajah Sakura tampak puas setelah berhasil menghancurkan tomat itu, sementara wajahku terlihat sebaliknya, sedih.

Sementara saat itu, ekspresi wajahnya yang sedih,berbanding terbalik dengan wajahku yang justru menampilkan ekspresi puas karena telah menghancurkan makanan dan hati gadis yang sangat mencintaiku.

TO BE CONTINUE~ (Lagi..)