Fall in Purple

Disclaimer: Inazuma Eleven GO Galaxy (c) Level-5

Warning: berantakan, typo, kegajean, Tsurugi (masih) dinikah paksa, spoiler Galaxy Supernova dan Galaxy episode 24 ke atas

Pair Utama: LalaKyou (Lalaya Obies x Tsurugi-chan)

.


.

Paginya, Tsurugi terbangun oleh satu guncangan di bahunya. Sang pelayan, Minel, berdiri di sisi ranjang dengan membawakan meja dorong berisi sarapan.

"Kami sudah mencari tahu soal masakan planet bumi, dan kami rasa menu ini cocok dengan Anda."

Tsurugi meraih jaket Earth Eleven miliknya, yang ia taruh di pojok tempat tidur, untuk membungkus tubuhnya yang hanya mengenakan piyama tipis.

"Anu… Kalian tidak perlu membawakannya ke sini. Aku kan bisa makan bersama yang lain…"

"Tapi Tsurugi-sama, jam makan pagi sudah lewat…"

Ups! Sadarlah Tsurugi kalau ia sudah bangun kesiangan. Dari merasa tak enak, ia jadi malu sendiri.

"Sebenarnya, Lalaya-sama tadi sudah mencoba membangunkan Anda. Mau mengajak Anda pergi bersama."

Gerak Tsurugi yang sedang mengenakan jaket terhenti. "Dia… membangunkanku…?"

Minel mengangguk. "Tapi Anda terlalu pulas. Akhirnya beliau pergi sendiri."

"Pergi? Ke mana?"

"Berkeliling kota, bersama dengan para penasehat. Sebenarnya, itu kegiatan rutin beliau tiap pagi, melihat langsung keadaan rakyat."

Tsurugi membulatkan mulutnya. "Dia ratu yang baik…"

Menu sarapan yang terhidang tampak normal. Segelas susu (Susu apa, ya? Tsurugi enggan bertanya), lembaran-lembaran berbentuk kotak yang mirip roti tawar. Juga genangan beku yang menyerupai telur ceplok.

Satu teguk, dua teguk. Satu suap, dua suap…. Hm…, sepertinya aman.

Usai makan, Tsurugi menahan langkah Minel yang hendak keluar kamar.

"Maaf, sebentar…. Aku ingin tahu lebih banyak tentang planet ini. Ke mana sebaiknya…?"

"Maafkan. Tapi saya diberi perintah, untuk tidak membiarkan Anda keluar dari kamar, sebelum Lalaya-sama kembali."

"Eh, tapi…"

"Permisi," Minel membungkuk, lalu keluar dan mengunci pintu.

Tsurugi berdecak. Mereka benar-benar tak mau membiarkanku keluar, ya…

Dilangkahkannya kaki ke ambang jendela. Melihat penampakan halaman istana yang luas membatasi penampakkan gedung-gedung besar tempat para rakyat jelata beraktivitas.

Cuma itu yang bisa ia lakukan sekarang. Setidaknya sampai Lalaya kembali

Kalau rakyat biasa saja rumahnya di bangunan-bangunan besar itu, istana ini pasti jauh, jauh… lebih luas lagi, ya?

Seharusnya, mereka tak perlu repot-repot mengurungnya di sini. Toh, istana ini cukup luas untuk bisa membuat orang tersesat.

Menit demi menit berlalu, berubah menjadi jam. Selama itu, tak banyak yang bisa ia perbuat, kecuali bolak-balik dari atas kasur, sofa, atau balik jendela. Walaupun kamar itu luasnya tidak tanggung-tanggung, karena tahu dia sedang dalam masa 'pemingitan', jadi ya… tetap saja rasanya setengah mati membosankan.

Seandainya boleh memilih, Tsurugi lebih senang latihan dengan Tenma sampai banjir keringat, ketimbang dikurung seperti ini.

Latihan sepak bola, lho, ya. Bukan latihan yang begitu-begitu….

"Piii~ku!"

Tsurugi yang sedang tidur-tiduran di kasur, sontak menoleh ke sumber suara.

"Siapa di situ!?" Tsurugi waspada. Setahunya, cuma dia sendiri di sini…

"Piii~ku!" suara itu terdengar lagi. Bersamaan dengan munculnya sesosok makhluk kecil berwarna ungu gelap di tengah ruangan.

Tsurugi mengerjap tidak percaya. Terlebih saat makhluk itu tiba-tiba terbang mendekat dan mengitari dirinya.

"Pixie…?" Tsurugi mengulurkan tangan dan si kecil itu mendarat di atas telapak tangannya. Diamatinya makhuk kecil seukuran peri yang seingatnya mirip sekali dengan Pixie yang tempo hari mendatangi Tenma sewaktu mereka di Sandorius. Hanya saja yang ini berwarna gelap.

"Kamu … kenapa di sini…?" tanya Tsurugi heran. Padahal kalau menurut Tenma, Pixie muncul setelah ia mimpi bertemu dengannya. Dan Tsurugi merasa yakin kemarin malam ia tidak memimpikan Pixie, atau siapapun.

Dark Pixie—kita sebut saja begitu—tidak menjawab. Kecuali bunyi piku-piku, Tsurugi tak mendengar ada kata-kata yang bisa ia mengerti.

Sebentar… jika makhluk ini memang ada hubungan dengan Pixie yang ada di tempat Tenma, mungkin saja aku bisa menghubungi Tenma untuk memberitahukan keberadaanku di sini.

Tsurugi memutuskan untuk mencoba. "Hei…, apa kamu bisa menghubungi Tenma? Tenma dari Earth Eleven?"

"Pii~ku?"

Sepertinya ia tak mengerti. Tapi Tsurugi tidak menyerah.

"Begini, si Tenma itu juga punya makhluk yang seperti dirimu. Jadi, apa kamu bisa menghubungi dia?"

"Piiiku… Piiiku…" Dark Pixie beranjak dari tangan Tsurugi, dan melayang menuju pintu.

"Hei! Tunggu!" Tsurugi bangkit mengejar.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka tanpa permisi.

"Tsurugi! Aku pulang!" Lalaya berseru riang sembari masuk. "Kamu sudah bangun... Lho?"

Dark Pixie yang tadinya terbang menuju pintu, terhenti begitu Lalaya melihat datang.

"Ah… dia…!" Sesaat Tsurugi bingung bagaimana menjelaskan tentang keberadaan makhluk kecil itu. Bisa-bisa dia ditangkap karena dikira penyusup.

Sebaliknya, wajah Lalaya berbinar. Ia mendekat dan menyapa Dark Pixie.

"Wah, sudah lama kamu tidak muncul!"

Si kecil itu pun sepertinya tidak takut pada Lalaya. Bahkan berani mendarat di atas kepala sang ratu.

Tsurugi memandang keduanya heran. "Kalian saling kenal?"

"Tentu saja," jawab Lalaya, sambil menarik Dark Pixie turun dari kepalanya. Si kecil itu lantas beralih menuju Tsurugi. "Entah kenapa, dia memang kadang-kadang sering muncul dan menghilang sesuka hati di istana ini. Tapi dia tak pernah mengganggu siapapun, kok. Malah, dia sangat baik. Dia selalu mau menemaniku bermain, terutama sejak…"

Tsurugi menunggu ucapan Lalaya yang terputus. "Sejak…?"

Tapi Lalaya sepertinya tak ingin melanjutkan.

"Yang lebih penting, Tsurugi…," katanya, seperti mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana? Kamu sudah siap menikah denganku, dan menjadi raja planet ini?"

"So-Soal itu…," Tsurugi melirik ke arah lain. "Kamu tanyakan beberapa kali pun…"

Lalaya mengerutkan kening. Mukanya kini nampak jengkel. "Masa kamu belum mengerti juga, sih? Kamu akan jadi raja planet nomor satu di jagat raya, lho? Masa kamu masih punya alasan untuk menolaknya?!"

"Maka dari itu, kenapa harus aku?" balas Tsurugi tak mau kalah. "Kemarin, kamu belum menjawab pertanyaanku itu, kan?"

Lalaya terdiam. Tapi kemudian menghela napas.

"Baiklah. Akan kujawab. Itu karena Tsurugi … mirip sekali dengan Ayahanda."

Tsurugi menunggu. Karena dipikirnya, kata-kata Lalaya masih ada kelanjutannya.

"Cuma itu?"

"Iya," angguk Lalaya tanpa dosa.

Susah payah Tsurugi menahan tubuhnya agar tidak jatuh terbalik. Ternyata dia memang masih bocah…

"Ya, sudah. Begini saja," Tsurugi akhirnya mengambil jalan tengah. "Sebelum menerima tawaranmu, aku ingin melihat sendiri planet ini lebih dekat. Karena itu, bisakah kamu membebaskanku keluar istana sehari ini saja?"

Lalaya melotot. Spontan ia menolak keras.

"Tidak boleh! Tidak boleh! Kamu pasti berencana untuk kabur dari sini 'kan!?"

"Aku pasti akan kembali. Aku janji."

Lalaya menatap Tsurugi lekat. Seperti mencari kejujuran dari kedua bola mata kuning yang menurutnya mirip sekali dengan ayahandanya itu.

Membuang napas, sang ratu cilik pun akhinya menyerah. "Baiklah. Aku mengerti. Tapi, cuma satu hari ini saja, ya?"

.

.

.

Pergi dari istana ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Macam-macam saja yang diminta Lalaya. Pertama, ia menyuruh Tsurugi buka baju (WHAAT?!).

"Kamu nggak mungkin keluyuran di jalan pakai baju kampungan begitu!" tuding Lalaya pada jaket Earth Eleven yang dikenakan Tsurugi.

Ka-kampungan, katanya…? Tsurugi sweatdrop, setengah tidak terima. Jaket ini, jaket yang didapatkannya dari hasil kerja keras dan keringat, demi bisa meraih tempat sebagai wakil Jepang di turnamen dunia.

Yah… setidaknya begitulah yang ia pikir, sampai kemudian alien-alien tidak jelas datang mengacau, dan ia pun tahu bahwa ia dipilih bukan karena kemampuan sepak bola, melainkan karena kekuatan hewan buas—Soul—yang dia miliki dalam DNA-nya.

Lalaya mengangsurkan satu stel baju ala Faram Obius, yang katanya adalah milik ayahnya sewaktu masih kecil dulu.

"Baju kamu akan kutahan di sini. Tsurugi pasti nggak akan bisa kabur kalau tanpa baju ini, kan?"

Keputusan yang sangat sepihak, tapi mau bagaimana lagi. Tsurugi mau tak mau harus menerima. Walau tak mungkin kabur dari planet ini, setidaknya ini kesempatan pertama baginya untuk bergerak sendiri di luar tanpa diawasi. Siapa tahu, ada jalan untuk bisa menghubungi anak-anak Earth Eleven.

Karena sebentar lagi jam makan siang, Lalaya meminta para koki untuk membuatkan bekal. Tidak hanya itu, Dark Pixie juga disuruh mengawal Tsurugi selama berada di luar. Sebenarnya, si kecil itu tak perlu disuruh demikian. Karena sejak kemunculannya, Dark Pixie sama sekali tidak beranjak jauh dari sisi Tsurugi. Bahkan sepertinya dia lebih suka mengikuti Tsurugi dibanding Lalaya.

Sebelum pergi, Lalaya juga memaksanya menelan sebuah pil.

"Pil apa itu…?" Tsurugi bertanya curiga.

"Ini Pil KB."

"KB?!" Tsurugi terkesiap. Masa Lalaya betul-betul mengira aku bisa hamil, sih!?

"Kependekan dari Keluar Berencana. Maksudnya, pil ini bertindak kayak peta. Tsurugi tinggal menelannya, dan akan langsung mengingat semua jalan dan tempat yang sudah terekam di dalam pil ini. Kalau dipakai dengan benar, dijamin nggak akan nyasar, walau berada di tempat yang masih asing sekalipun."

Oh….kirain…

Tapi, Tsurugi tetap saja enggan makan barang tak jelas begitu. Padahal Lalaya sudah mengiklankannya dengan sepenuh hati.

"Apa tak ada cara yang lebih sederhana? Pakai peta di atas kertas, misalnya?"

"Tidak bisa. Faram Obius sudah tak pakai teknologi ala zaman batu begitu!" cetus Lalaya, separo mencela. "Lagian, kalau Tsurugi nyasar, kan kami juga yang repot mencari!"

Tsurugi menghembuskan napas berat. "Ya, sudah! Sinikan pil-nya!"

Lalaya malah menyelipkan pil itu ke bibirnya sendiri. Menggigit salah satu ujungnya ujung gigi seri.

Firasat Tsurugi tidak enak. "…Apa maksudnya ini?"

Lalaya menunjuk bibirnya. Kalau mau, ambil sini! begitu kurang lebih maksudnya.

Tsurugi terdiam, lalu kemudian berbalik dan beranjak pergi.

"…Biar aku nyasar saja!"

"EHH?!" Lalaya yang kaget, tanpa sadar membuka mulut, hingga pil dalam gigitannya jatuh ke lantai. "So-Sonna! Tsurugi! Tunggu!"

Lalaya spontan melompat, menahan langkah Tsurugi dengan merangkul pinggangnya.

Tsurugi yang ditubruk tiba-tiba dari belakang, sukses kehilangan keseimbangannya.

GUBRAK!

Keduanya jatuh. Muka Tsurugi mendarat di atas lantai, sedangkan muka Lalaya mendarat di atas pantat empuk Tsurugi (enak bener…).

"Apa lagi, sih!?" omel Tsurugi hampir mengamuk. Posisi mereka masih di atas lantai, tumpang tindih satu sama lain.

"Tsurugi kok dingin begitu?" Lalaya malah mengomel balik. "Aku kan cuma mau menciummu!"

"Kan sudah tuh! Tadi kamu mencium pantatku!" cetus Tsurugi tanpa mikir.

"Oh, iya, ya!" Lalaya seperti tersadar. Dibenamkannya kembali mukanya ke pantat Tsurugi. Berusaha lebih menikmati(?)nya.

"O-oi!"

Lalaya menarik napas panjang setelah keluar dari benaman pantat Tsurugi, seolah baru keluar dari kolam renang.

"Ya, sudah! Nggak usah pakai ciuman. Tapi Tsurugi tetap harus makan pil itu! Aku nggak mau kalau kamu sampai nggak pulang-pulang seperti ayahanda!"

Tsurugi menggerutu. Lagi-lagi bawa nama ayahnya.

.

.

.

Dengan baju hitam ketat berlapis jubah putih yang bikin gerah, keranjang jinjing yang penuh bekal makanan, dan peri kecil berwarna ungu gelap, Tsurugi akhirnya dilepas ke luar istana.

Sebelumnya, Lalaya juga sudah memberi tahu beberapa tempat yang bagus untuk dikunjungi. Tapi Tsurugi tak terlalu mendengarkan. Ia cuma ingin sesegeranya mencari cara untuk menghubungi soulmatecoret sahabatnya, si Tenma.

Di tengah kota, barisan gedung-gedung raksasa menyambut. Dibandingkan gedung-gedung itu, orang-orang yang berjalan tampak tak lebih dari sekadar semut. Tsurugi melangkah mengikuti jejak mereka. Sambil mengamati satu persatu orang-orang yang lewat di sekitarnya. Menilai-nilai apakah mereka bisa ditanyai tentang cara menghubungi dunia luar.

"Piii~ku!"

Saat Tsurugi sedang memeriksa peta yang sudah terlampir di dalam memorinya itu, Dark Pixie tiba-tiba saja terbang menjauhinya. Khawatir mereka terpisah, Tsurugi bergegas menyusul. Entah kenapa, kali ini si kecil itu terbang dengan sangat cepat, sehingga Tsurugi harus berlari untuk bisa mengejarnya. Isi kotak bekal terguncang-guncang karena dibawa lari. Menyadari itu, Tsurugi mendekapnya, menahan tutupnya agar tetap rapat dan isinya tak berhamburan keluar.

"Tunggu!"

Dark Pixie menyusup masuk ke dalam sebuah gang, dan kemudian berhenti. Ia berbalik ke belakang seolah menunggu Tsurugi menyusulnya.

Begitu sampai, Tsurugi terengah. Maklum, keranjang di tangannya berat. "Dasar! Kenapa, sih, tiba-tiba…"

"Piiku!"

"Ada apa?" Tsurugi mengikuti arah yang ditunjuk Dark Pixie, dan terenyak.

Kontras dengan megahnya gedung-gedung yang memagari, di sana tampak sekelompok orang berpenampilan memprihatinkan. Ada sekitar sepuluh sampai lima belas orang, hampir separuh di antaranya orang tua dan anak-anak. Tanpa ada atap yang menaungi, mereka melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan di dalam rumah. Makan (porsinya sangat seadanya. Terlihat jelas dari satu piring yang dimakan beberapa orang bersamaan), tidur, dan menidurkan anak, yang tampaknya rewel entah karena memang tak ingin tidur, atau mungkin kelaparan.

Kemungkinan kedua tampaknya lebih kuat.

Orang-orang itu tidak menyadari keberadaan Tsurugi, karenanya mereka terheran-heran saat dia mendadak muncul dan menghampiri.

"Selamat siang," Tsurugi menyapa seorang laki-laki yang tampaknya mengepalai kelompok itu.

"Ya?" Tatapan orang itu tidak menaruh curiga. Tapi ia heran melihat penampilan rapi Tsurugi yang jelas menyatakan kalau ia bukan bagian dari mereka.

"Kenapa Anda semua tinggal di sini? Rumah Anda di mana…?"

Mereka berpandangan. Laki-laki itu menatap rekan-rekannya, seperti meminta pendapat. Kepala-kepala mereka mengangguk. Akhirnya, diawali oleh laki-laki itu, mereka satu-persatu menceritakan apa yang terjadi.

Menemukan ada sekelompok orang yang hidup di bawah standar, di sebuah planet sekelas Faram Obius saja sudah cukup mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi setelah Tsurugi tahu penyebab mereka harus menjalani kehidupan seperti itu.

"Lala… maksudku, ratu tahu soal ini?" tanya Tsurugi memastikan.

"Mana mungkin tahu?" seorang remaja menyahut sengit. "Bocah sekecil itu, sih, tahunya cuma bermain!"

"Padahal waktu zaman Yang Mulia Akurous tidak begini," seorang wanita mengeluh. "Semua hidup dengan tenang dan aman, tanpa ada yang disulitkan."

Tsurugi diam mendengarkan. Tak tahu lagi harus berkomentar apa.

"Wah, apa ini, ya?" seorang anak menggerak-gerakkan cuping hidungnya di udara. "Kok baunya enak?"

"Oh, soal itu…," Tsurugi membuka keranjang bekal di pangkuannya. Tanpa dikomando, anak-anak itu berebut hendak mengintip isinya. "Silakan. Makan saja."

"Sungguh!?" Mata mereka langsung berbinar.

"Wah, isinya banyak sekali!"

"Kayaknya enak!"

"Terima kasih, Onee-chan!"

"O-Onee…?" Tsurugi melongo. Kok, Onee-chan…?

Oh, ya. Tsurugi teringat lagi perbedaan fisik laki-laki dan perempuan di Faram Obius. Dia yang tidak memiliki tanduk sebiji pun di kepalanya, wajar saja kalau sampai dikira perempuan.

Ya, sudahlah. Yang penting mereka senang…

Tsurugi sempat khawatir, makanan ala bumi yang disiapkan khusus untuknya itu tidak cocok dengan lidah mereka. Seperti dia yang kemarin tidak cocok dengan makanan Faram. Tapi ternyata tidak. Mereka makan dengan lahap. Sambil sesekali bertanya, apa nama makanan yang bagi mereka terasa asing, namun nikmat itu.

.

.

.

Isi keranjang di tangan Tsurugi telah raib tanpa sisa. Harusnya, langkahnya lebih ringan sekarang. Tapi Tsurugi merasa ada sesuatu yang mengganjal.

Pada Dark Pixie melayang rendah di sisi kepalanya, Tsurugi bertanya, "Kamu… tadi memang sengaja ingin menunjukkan itu padaku, ya?"

"Piii~ku."

Tsurugi menghela napas. "Yah, biar kutanya pun, kamu tak bisa menjawab, ya?"

"Pii~ku."

"Tapi pokoknya, ini tak bisa dibiarkan. Lalaya harus diberi tahu soal—"

"Unbelieveable! Sungguh di luar dugaan! Gol kedua Sazanaara tercipta dari gol bunuh diri Minaho!"

Mendengar nama teman satu timnya disebut, Tsurugi spontan menengadah mencari sumber suara. Sebuah gedung tinggi dengan televisi layar raksasa menempel di dinding luarnya, sedang menyiarkan secara langsung pertandingan sepak bola. Terlebih, itu adalah pertandingan yang melibatkan timnya sendiri, Earth Eleven!

Tsurugi menerobos kerumunan yang juga tengah menonton, demi bisa melihat lebih dekat. Lawannya, kesebelasan dari planet yang bernama Sazanaara. Kini, mereka unggul 2-1 dari Earth Eleven berkat gol bunuh diri Minaho.

Tsurugi tak urung keki juga. Bukannya apa-apa. Perasaan, sejak gol bunuh diri yang dibuatnya sewaktu Raimon melawan Mannouzaka, ada saja yang ikut-ikutan jejaknya. Pertama Fei, dan sekarang … Minaho? Apa mau bikin grup pembuat gol bunuh diri?

Tak cukup sampai di situ, Minaho juga bergerak seperti berpihak pada lawan. Ia memblok teman sendiri, menghalangi teman yang ingin merebut bola, bahkan mengumpan pada lawan.

Namun justru tindakan itulah yang kemudian berujung pada gol yang diciptakan oleh Matatagi. Tsurugi semakin takjub begitu mengetahui rekannya sesama forward itu telah berhasil membangkitkan Soul-nya.

Gol kemenangan Earth Eleven diraih dari Ichikawa Zanakurou yang memang telah lebih dulu mampu menggunakan Soul.

Itu artinya, hanya Tsurugi-lah pemain depan Earth Eleven yang belum menguasai penggunaan Soul (kesian deh). Ironis sekali mengingat peran dirinya sebagai ace striker. Tapi bukan itu yang menjadi fokus pikiran Tsurugi sekarang.

Saat kamera menyorot bangku cadangan, terlihat seseorang—dirinya sendiri—duduk bersama dengan Pelatih Kuroiwa, Sorano, dan Nishizono. Tsurugi tidak terlalu terkejut, tapi ia mempererat genggamannya pada pegangan keranjang. Dengan ini jelas sudah. Tenma dan kawan-kawan tidak menyadari dirinya menghilang.

Akan tetapi, setelah melihat kemenangan dengan cara tak terduga yang diraih rekan-rekannya tadi, Tsurugi akhirnya paham, bahwa peluang terbesar baginya untuk lolos dari sini, adalah menunggu hingga kemenangan Earth Eleven mengantar mereka sampai ke Faram Obius, demi menghadapi pertandingan final.

Ia hanya perlu percaya pada Tenma dan yang lainnya.

Selain itu, ada sesuatu yang harus diselesaikannya di planet ini. Meski itu bukan kewajibannya, Tsurugi tidak bisa menutup mata begitu saja pada masalah yang jelas-jelas ada di depannya.

Tenma, aku akan melakukan apa yang bisa kulakukan di sini sebisaku. Karena itu, kamu juga harus terus menang, demi menjemputku di sini, dan—

Ng?

Tsurugi terhenyak.

Ya, ampun…Kenapa tiba-tiba aku berpikiran seperti kekasih tokoh utama yang lagi disandera?! Pakai acara minta jemput pada si mesum itu segala, lagi! Tsurugi menepuk-nepuk pipinya sendiri, jengkel. Ada-ada saja…

Sambil berusaha membuang pikiran konyolnya, Tsurugi berbalik arah, kembali menuju istana.

.

.

.

Di gerbang istana, Minel menyambutnya.

"Selamat datang, Tsurugi-sama."

"Lalaya di mana?" tanya Tsurugi tanpa basa-basi. Keranjang bekal di tangannya diambil alih oleh seorang pelayan lain, yang kemudian minta diri ke dapur. Sedangkan Dark Pixie—seperti yang sudah dikatakan Lalaya—menghilang entah ke mana.

"Di kamar," Minel menjawab. "Selama Anda pergi, beliau hanya mondar-mandir di dalam kamarnya."

"Bisa antarkan aku ke sana?"

Minel mengangguk. "Tentu saja. Silakan sebelah sini."

Tsurugi berjalan mengikutinya. Sesekali, Minel mencuri pandang pada anak laki-laki itu. Meski cuma sekilas, Tsurugi tetap menyadarinya.

"Ada apa?"

Minel tersentak. Buru-buru ia meminta maaf atas kelancangannya. "Ma-maaf… Saya cuma berpikir, betapa mirip Anda dengan mendiang Yang Mulia Akurous…."

"Akurous itu… raja terdahulu?"

"Benar. Beliau ayah Lalaya-sama. Beliau menghilang dalam sebuah perjalanan. Sampai sekarang pun, jasad beliau tidak pernah ditemukan. Kemungkinan besar beliau mengalami kecelakaan di luar angkasa, atau diculik dan dibunuh oleh pasukan planet lain. Memang, saat itu sedang beredar kabar bahwa ada orang-orang yang mengincar nyawa beliau. Setelah berbulan-bulan tak kembali, para tetua memutuskan bahwa beliau sudah wafat, dan mengangkat Lalaya-sama sebagai raja yang baru."

Lalaya tak menceritakan sampai sejauh itu…

"Kalau boleh tahu, Raja Akurous itu orang yang seperti apa?"

"Seperti apa, Anda bertanya …?" Mendadak, ekspresi Minel berubah. Menjadi penuh gairah. Ia mencengkram kedua bahu Tsurugi, menghadapkan wajahnya ke depan hidung anak itu. "Beliau itu, ya… hebat, lho!"

Tsurugi mengerjap kaget. Cengkraman Minel terasa hampir meremukan bahunya. "He-hebat? Maksudnya?"

"Saya mengenal Akurous-sama sejak beliau masih kecil. Meskipun kelihatan keras, tapi sebenarnya beliau orang yang sangat lembut dan penyayang. Beliau naik tahta di umur 15 tahun setelah menggulingkan ayah beliau sendiri, Ireido-sama. Ah, sebenarnya, bukan maksud beliau ingin menentang ayah sendiri. Tapi, Ireido-sama memang sedari dulu dikenal sebagai raja yang tidak punya belas kasihan. Beliau terobsesi menjadikan Faram Obius sebagai planet penguasa galaksi, tak peduli bagaimana pun caranya. Butuh keberanian besar untuk menentang orang seperti beliau. Dan Akurous-sama adalah orang pertama yang melakukannya."

"Be-begitu, ya…?" Tsurugi masih meringis.

"Setelah naik tahta, beliau menghentikan perang dan membebaskan planet-planet jajahan Faram Obius. Tanpa harus mengorbankan siapapun, beliau berhasil menjadikan planet ini sebagai planet sempurna tanpa tandingan, seperti sekarang!"

"Seperti sekarang…." Tsurugi menggumam. Menimbang-nimbang apakah ia perlu menceritakan penemuannya di kota tadi pada Minel. Tampaknya, laki-laki ini bisa dipercaya, tapi…

Melihat Tsurugi yang terdiam, Minel bertanya, "Apa … ada yang salah?"

Tsurugi menggeleng. "Ng…, yang lebih penting, bisa tolong lepaskan bahuku? Sakit, sih…."

"Eh? Oh!" Minel mundur dengan gelagapan dan langsung bersembah sujud. "Ma-maafkan saya! Ini sebuah ketidaksengajaan!"

"Ti-tidak perlu …" Seumur hidup, baru sekali ini Tsurugi diperlakukan begitu. Dengan kikuk, ia menyuruh Minel berdiri lagi.

Mereka kembali berjalan. Masuk ke dalam lift menuju lantai di mana kamar Lalaya berada. Lebih tepatnya, sih, satu lantai itu seluruhnya adalah kamar Lalaya ….

"Hei…," Tsurugi membuka percakapan lagi. "Apa menurutmu Lalaya sudah menjadi raja yang baik, seperti ayahnya?"

Minel berpikir sebentar. "Itu… memang beliau terkadang suka seenaknya. Tapi beliau selalu memikirkan rakyat, sama seperti Akurous-sama."

"Hm…." Jawaban Tsurugi terdengar hambar.

"Ada apa…?" Tatapan Minel menyelidik. "Apa … Lalaya-sama memperlakukan Anda dengan buruk?"

"Ah, tidak, sama sekali …" Tsurugi menatap Minel dan membatin, padahal dia sendiri kan, yang sering disuruh-suruh dengan seenak dengkul oleh Lalaya?

Keduanya terdiam sejenak. Sehingga yang terdengar cuma bunyi mesin lift yang memanjat naik.

Sampai kemudian, Minel bertanya, "Lalaya-sama … sudah melamar Anda, bukan?"

"A-ah…, itu…" Paras Tsurugi sekejap memerah. "… masih belum kujawab, kok. Tenang saja. Aku tahu, kalian pasti tak mau orang asing seperti aku jadi pemimpin kalian…."

"Justru sebaliknya…"

"Eh?"

Minel menarik napas dalam.

"Mungkin, permintaan saya tidak masuk akal, tapi…untuk saat ini saya mohon, agar Anda tetap berada di sisi Lalaya-sama…."

Tsurugi makin bengong. "Tapi… kenapa…? Kupikir kalian…"

"Senyum Lalaya-sama saat bertemu Tsurugi-sama secara langsung, adalah senyum pertama beliau sejak Yang Mulia Akurous wafat."

Tsurugi terpana. "Benarkah?"

"Begitulah. Karena Lalaya-sama dekat sekali dengan Yang Mulia Akurous."

"Ta-tapi…," Tsurugi berusaha mencari celah. "Semirip apapun aku dengan ayahnya, bukan berarti aku bisa menjadi raja yang sama hebatnya dengan beliau, kan? Apalagi, aku manusia bumi…"

"Mungkin memang demikian. Tapi kami tidak mungkin menentang pilihan Lalaya-sama. Jangankan kami, Yang Mulia Akurous pun dulu nyaris tak pernah menolak permintaan Lalaya-sama."

Sekarang Tsurugi mengerti, datang dari mana sikap keras kepala sang ratu muda itu.

.

.

.

"Tsurugi! Kamu sudah kembali, ya!" seru Lalaya lega, demi melihat Tsurugi muncul di depannya. "Bagaimana? Kamu bersedia jadi pengantinku, kan ?"

"Sebelum itu, ada yang ingin kutanyakan pada Lalaya."

"Hm? Tanya apa?"

"Menurutmu, sebagai ratu, apa yang sebenarnya menjadi tugas dan kewajibanmu?"

Lalaya tak berpikir lama untuk menjawabnya. "Itu, sih, sudah jelas. Aku harus melindungi kebahagiaan rakyat planet ini."

Tsurugi menarik napas dalam-dalam, "Aku tidak bilang kalau Lalaya gagal memimpin planet ini. Tapi aku juga tidak mau kamu mengingkari kenyataan yang ada."

"Kenyataan apa?"

"Bahwa planet ini sedang dalam penderitaan."

.

.

.

Tsurugi sudah menduga, tidak akan mudah mengatakan ini pada Lalaya. Bahwa Faram Obius tidak setentram yang dia pikir selama ini.

Alih-alih percaya, Lalaya malah memaksa Tsurugi ikut dengannya, menghadiri rapat dengan para tetua dan penasehat.

Begitu masuk ruangan rapat, Tsurugi bisa merasakan betapa kentara tatapan penolakan dari mereka. Tapi, berhubung keberadaannya di sini adalah keinginan dari Lalaya—yang bahkan menyilakan dirinya duduk di sampingnya, dengan desk name: 'Kyousuke Obies' (Tsurugi hampir pingsan saat melihat namanya yang tak lagi perawan (?))—orang-orang itu tak bisa berkata apa-apa.

"Bagaimana? Tsurugi lihat sendiri, bukan?" tanya Lalaya seusai rapat, dan mereka dapat kesempatan mojok berdua. "Mereka orang-orang pilihan dan kompeten. Mereka membantuku menjalankan pemerintahan negeri ini. Tidak mungkin mereka bermain licik di belakangku!"

Tapi Tsurugi tetap bersikeras bahwa Lalaya harus melihat sendiri kondisi sesungguhnya dari Faram Obius. Keluar, berjalan kaki di atas tanah, tanpa dikawal siapapun.

Lalaya akhirnya bersedia, dengan syarat, "Pura-puranya kita kencan, ya?"

"Terserah…" sahut Tsurugi tak peduli. Cuma ini satu-satunya cara agar Lalaya mau mempercayai ceritanya.

Di luar dugaan, mudah saja menyusup keluar dari istana. Lalaya sendiri yang menunjukkan lorong istana yang paling renggang penjagaannya.

"Sepertinya nggak ada yang sadar kalau aku-lah yang sedang berjalan di depan mereka, ya, Tsurugi?" Sang ratu tampaknya sangat menikmati acara jalan-jalan mereka. "Hei, bagaimana kalau kita lebih sering jalan-jalan berdua begini? "

Tsurugi diam tak berkomentar.

"Nah, mana hal yang mau kau perlihatkan itu?" tagih Lalaya berkacak pinggang. "Perasaan, semua yang ada di sini baik-baik saja…"

"Sebelah sini," tunjuk Tsurugi, menuju tempat yang ia datangi tadi siang. "Jangan berisik. Bisa repot kalau ketahuan kamu adalah Ratu Lalaya."

Lalaya mengangguk. Setibanya di sana, ia terperangah.

"Apa ini…?"

"Mereka orang-orang yang kehilangan rumah dan hartanya, karena dirampas oleh para pejabat istana yang ingin memperkaya diri sendiri."

Lalaya menggeleng-geleng tak percaya. Keceriaan yang tadi ia tunjukkan lenyap tak bersisa. Digantikan oleh air mata yang menggenang. "Bohong! Yang seperti itu…"

"Inilah kenyataannya," ujar Tsurugi pelan-pelan. "Tapi apa seperti ini… kerajaan ideal yang ayahmu, Raja Akurous, ingin bangun?"

.

.

.

Kembali ke istana, Lalaya lebih banyak diam. Pundung lebih tepatnya. Tsurugi jadi sedikit merasa bersalah. Apa harusnya aku tidak menceritakannya, ya...?

Tapi, kalau bukan sang ratu yang menyelesaikan masalah ini, siapa lagi? Masih untung Faram Obius memiliki ratu yang punya peduli sama rakyat. Cuma bawahannya saja yang bejat.

Masalahnya sekarang, siapa saja bawahan yang bejat itu? Kan bisa jadi, tidak semua pejabat istana Faram Obius seperti itu? Lagian kalau semuanya ditangkap, siapa yang bakal bantu-bantu Lalaya? Tsurugi, sih, tidak mau...

"Tsurugi..." Setelah beberapa lama, akhirnya Lalaya bersuara juga. "Kalau kamu berhasil menemukan orang-orang yang sudah membuat rakyat kita (Tsurugi dalam hati: "Kita?") menderita itu... aku janji akan membatalkan pernikahan dan mengembalikanmu ke teman-temanmu..."

.

.

.

(bersambung)


.

sudut coretan author:

Oke. Siapa yang nonton Inagyara kemarin? *tunjuk jari*

Ehm, meski sudah tau bakal begini jadinya, tapi tetap aja…, pas melihat versi anime LalaKyou dikurung dalam satu sel yang sama, dan lagi ahemahem berduaan saja ahem, otak sinting saya langsung mikir berbagai kemungkinan yang bisa terjadi selama itu (maksud?).

Tapi sebenarnya sih, yang paling eroi itu… waktu Tsuru dan Lala dibekuk rame2 sama para penjaga. Kedua calon mempelai yang mau nikah ini malah hampir di gank-raped! Wuih, bisa langsung masuk reportase tuh *ditendang karena delusi ngawur*

Ngomong-ngomong, kemarin saya baru memposting terjemahan doujin spesial natal InaGo di tumblr. Pakai bahasa inggris (rusak), sih. Tapi sumpah, kocak banget! Kalau mau tahu, mampir ke tumblr saya ya? ^^