Flower Ghost Next Door

Dengan penuh semangat Jinyoung berjalan menuju kotak surat di dekat jalan masuk lalu membuka tutup kotak.

Tidak ada surat sama sekali. Kosong melompong.

Mengecewakan. Kenapa Shinwoo sama sekali tidak membalas suratnya? Apa perkemahan musim panas membuatnya sangat sibuk sampai – sampai untuk sekedar membalas surat pun dia tidak bisa?

Jinyoung kembali ke kamarnya untuk menulis surat lagi. Semoga saja yang kali ini dibalas.

Untuk temanku yang paling payah sedunia,

Kau kemana saja sih? Konyol sekali kau melanggar janjimu, padahal dulu kau sendiri yang bilang akan membalas surat – suratku setiap hari. Tapi sampai sekarang aku bahkan tidak menerima satu surat pun darimu.

Kau benar – benar payah!

Ngomong – ngomong, aku sangat bosan nih. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak banyak hal menyenangkan yang bisa dilakukan di kota kecil seperti ini. Aku kebanyakan menghabiskan waktuku dengan menonton TV dan membaca. Aku bahkan sudah membaca ulang semua buku di rak bukuku sebanyak dua kali. Yeah, sangat membosankan sekali.

Ayah berjanji untuk mengajak kami sekeluarga berlibur ke Pulau Jeju. Tapi nyatanya dia malah sibuk sendiri. Jadi kupikir kami tidak akan kemana – mana. Hanya akan terkurung di rumah seperti katak bodoh.

Membosankan!

Saking bosannya aku sampai membuat perkemahan sendiri dengan kedua adikku di halaman belakang, membuat sebuah api unggun kecil, lalu aku menceritakan cerita hantu yang sangat menakutkan kepada mereka. Mereka tidak mau mengakuinya, tapi mereka terlihat sangat ketakutan. Aku berani bertaruh mereka sampai tidak bisa tidur semalaman.

Mau tahu berita lain yang lebih menghebohkan?

Seorang anak dengan ibunya baru saja pindah ke rumah tua di sebelah rumahku. Dan anehnya lagi aku dan keluargaku sama sekali tidak mengetahuinya. Mereka seperti muncul begitu saja dalam waktu semalam. Lalu tau – tau… simsalabim! Aku memiliki tetangga.

Yeah. Wow. Fantastis, kan?

Untung saja dia namja yang manis. Dia memiliki senyum yang menawan dan tubuh yang lebih tinggi dariku. Karena aku baru melihatnya sekali, jadi belum bisa bercerita lebih banyak tentang dia.

Nah, sekarang giliranmu untuk menulis! Ayolah, kau telah berjanji. Apakah kau telah bertemu seseorang di perkemahan? Apa itu sebabnya kau terlalu sibuk sampai tidak sempat membalas surat – suratku?

Jika dalam waktu seminggu aku masih juga tidak mendengar kabar darimu, kuharap kau dilahap ular cobra raksasa atau diculik suku primitif.

Jinyoung.

Jinyoung melipat surat itu lalu memasukkannya dalam amplop. Meja belajarnya berada tepat di depan jendela. Dari sini dia bisa melihat ke seberang. Ke rumah tua yang sekarang sudah berpenghuni itu.

Aku ingin tahu apakah itu kamar Gongchan? Tanyanya sambil menatap ke sebuah jendela yang bersebrangan dengan jendelanya. Tidak ada cahaya lampu yang keluar dari jendela itu. Tampak gelap. Seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan…

Aisss! Mikir apa sih aku ini? Berhentilah berpikiran aneh. Jinyoung buru – buru menggeleng cepat mengusir pikiran ngawur dari otaknya. Jinyoung menarik dirinya dari jendela, kemudian membawa surat itu melalui pintu depan. Sayup – sayup terdengar suara Ummanya yang memarahi kedua bocah pembuat onar itu dari halaman belakang. Entah apa yang dikatakan Ummanya. Tidak terlalu kedengaran jelas.

Hari itu adalah siang yang panas. Tidak angin sama sekali. Udaranya terasa kering dan lembab. Jinyoung melirik ke rumah Gongchan. Pintu utama tertutup rapat. Dua jendela yang berada di teras depannya kosong dan gelap. Sama seperti jendela di bagian atas tadi. Sekali lagi, seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan.

Jinyoung memutuskan untuk berjalan tiga blok ke kota dan mengeposkan surat ini langsung di kantor pos. Dia mendesah kecewa. Tidak ada lagi yang bisa kukerjakan, pikirnya sedih. Setidaknya berjalan kaki ke kota akan mengisi waktu luangnya.

Jinyoung berjalan di trotoar, melewati beberapa rumah yang berjejer rapi dan memiliki bentuk yang hampir serupa satu sama lain. Dia melewati rumah Lee ajumma. Lee ajumma sedang membungkuk di atas kebun mini di halamannya, mencabuti rumput liar yang tumbuh di sekeliling tanaman tomatnya. Kalau sedang berkumpul dengan Ummanya, hal yang pertama kali dia lontarkan adalah tentang betapa menyebalkannya rumput liar apabila dia tumbuh di kebun kesayanganmu.

"Selamat siang, Lee ajumma! Bagaimana kabarmu?" Sapa Jinyoung.

Lee ajumma tidak mendongak.

Sombong sekali! Aku tahu dia mendengarku, pikir Jinyoung marah.

Jinyoung menyebrangi jalan. Suara piano mengalun dari rumah di pojokan. Seseorang berlatih lagu musik klasik dengan memainkan not yang salah selama berulang kali kemudian memulai lagu dari awal lagi.

Aku senang mereka bukan tetanggaku, pikir Jinyoung sambil tersenyum.

Beberapa blok kemudian, rumah – rumah berakhir dan dia mulai memasuki kawasan kota. Dia melewati hamparan tiga blok toko – toko dan kantor – kantor bertingkat tiga.

Jinyoung melangkah menuju Kantor pos, langsung menuju kotak surat di depan pintu kantor pos, memasukkan surat ke dalamnya. Lalu bergegas pergi. Tapi baru tiga langkah bergerak, dia dikagetkan oleh suara teriakan marah seorang pria dari arah belakang. Sepertinya suara itu berasal dari gang kecil di belakang kantor pos. Tanpa pikir panjang, dia segera berlari – lari kecil menuju kearah sumber suara. Menuju ke gang sempit di belakang kantor pos, tempat tersembunyi yang sering dijadikan tempat nongkrong oleh anak – anak muda di kota kecil nan membosankan ini.

Dari kejauhan dia melihat seorang pria paruh baya berbadan besar sedang mengancam dengan menggunakan kepalan tinjunya yang terangkat kepada seorang namja yang berdiri di tengah. Namja itu memeluk anjing kampung coklat yang kurus kering. Sementara dua namja lain berdiri di sisi kanan dan kiri. Salah seorangnya adalah Gongchan, sementara Jinyoung tidak kenal dengan dua anak lain. Mereka bertiga menatap pria itu dengan tatapan tidak suka.

"Jangan sakiti anjingku!" Seru namja berambut pirang sambil mengelus – elus kepala anjing dipelukannya dengan lembut.

"Jika kau tidak ingin angjingmu kusakiti, cepat pergi dari sini! Aku peringatkan kalian!" bentak pria itu. Jinyoung mengenalnya. Dia Pak Han, kepala kantor pos di kota ini. Dia sangat benci anak – anak. Dia selalu meneriaki mereka untuk berhenti mengacau dan berkeliaran di alun – alun, berhenti memainkan musik keras – keras, berhenti mengoceh begitu berisik, berhenti tertawa heboh, dan mengusir mereka semua keluar dari gang berharganya. Dia bertindak seakan – akan nenek moyangnya lah yang memiliki kota ini. Pak Han sadar jika semua anak – anak di kota ini begitu membencinya. Tapi dia sama sekali tidak peduli.

"Kau tidak punya hak untuk menyakiti anjingku!" Balas namja pirang itu bersikeras.

"Kuperingatkan sekali lagi, pergi darisini! Ini bukan tempat nongkrong bagi kalian para pembuat onar! Ini milik pemerintah." Pak Han berteriak marah.

Jinyoung melihat dua anak itu masih berdiri tegap di tempat. Tak bergeming. Menatap balik kepala kantor pos itu dengan tatapan menantang. Hanya Gongchan yang terlihat ragu – ragu dan agak gentar. Posisi berdirinya paling belakang sekarang, karena dua anak lain terus beringsut maju. Tidak ada ekspresi ketakutan sedikitpun di wajah mereka.

"Aku akan memberitahu ayahku, kau menyakiti Ray." Kata anak pirang itu.

"Katakan pada ayahmu kau masuk tanpa izin," Balas Pak Han, "Dan katakan padanya kau kasar dan tak sopan. Dan satu lagi, aku akan mengajukan keluhan pada kalian tiga bajingan kecil jika aku masih melihat kalian berkeliaran disekitar sini."

"Kami bukan bajingan!" Seru namja yang memiliki postur tubuh lebih berisi dari dua anak lain.

Lalu ketiga namja itu berlari menerjang tubuh tambun Pak Han yang menghalangi jalan mereka. Berlari menjauh dari gang. Melarikan diri.

Pak Han berlari mengejar ketiga anak itu sambil berteriak marah. Menyerbu melewati Jinyoung sambil menabrak keras bahunya, membuat Jinyoung terhuyung mundur dan nyaris jatuh terjengkang akibat benturan keras manusia bulldozer tadi. Untung saja dia berhasil menahan keseimbangan tubuhnya.

Brengsek sekali, pikir Jinyoung sambil meringis dan memegangi bahunya yang nyeri. Apa masalahnya sih?

Sepeninggalnya keempat orang itu, suasana gang sekarang sepi. Jinyoung berjalan meninggalkan gang, menuju alun – alun kota. Dia masih kepikiran soal kejadian tadi. Soal Gongchan. Bagaimana ia nampak begitu ketakutan, begitu pucat. Saking pucatnya dia tampak seperti memudar dibawah cahaya matahari. Kebalikan dari Gongchan, kedua temannya tampak lebih tegar. Atau mungkin mereka hanya berlagak kuat agar tidak terlihat lemah tak berdaya di depan bajingan tua itu.

Jinyoung menyebrangi alun – alun kota. Matanya jelalatan ke segala arah. Kota itu tampak sunyi dari biasanya. Tidak ada tanda – tanda dari Gongchan maupun kedua temannya. Mereka lari kemana sih?

Sekarang Jinyoung sudah memasuki area perumahan lagi. Dia melewati pohon – pohon tinggi yang berjajar di sisi trotoar. Daun – daunnya sangat tebal, hampir menghalangi sinar matahari.

Di tengah jalan, sebuah sosok muncul dari balik deretan pepohonan. Pada mulanya Jinyoung berpikir itu hanya salah satu bayangan pohon. Tapi semakin dia mendekat, sosok itu juga semakin jelas di matanya.

Jinyoung tersentak dan seketika mengerem langkahnya. Dia memicingkan mata berusaha memfokuskan penglihatannya ke sosok gelap berjubah hitam di depan sana. Dia tidak melihat wajah sama sekali di bawah tudung hitamnya itu. Wajahnya tersembunyi dalam kegelapan.

Dia merinding ketakutan. Siapa sih orang ini? Kenapa dia berpakaian seperti itu? pikirnya cemas. Sosok itu masih berdiri disana. Masih menatap lurus kearahnya. Lalu perlahan – lahan mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat kepada Jinyoung untuk mendekat.

Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Perasaan ketakutan yang sangat dalam segera menguasai dirinya. Jinyoung mundur selangkah. Apa itu benar – benar seseorang atau bayangan semu pepohonan?

Tiba – tiba sebuah suara membisikinya. Suara yang begitu pelan dan dalam. Seperti suara hembusan angin.

"Jinyoung… Jinyoung…"

Belum selesai Jinyoung mencerna suara bisikan tadi, ketika sosok hitam itu bergerak keluar dari persembunyiannya. Beringsut mendekat. Terus mendekat. Sosok itu melayang diatas trotoar. Terus bergerak kearahnya. Tangannya yang sekurus ranting terangkat ke depan, berusaha meraihnya.

"Jinyoung…"

"Tidakk!" Jinyoung menjerit. Dia berbalik dan berusaha lari sekuat tenaga. Kedua lututnya terasa lemas dan berat. Tapi dia memaksakan dirinya untuk terus berlari. Lebih cepat. Jinyoung terus berlari terengah – engah menyusuri trotoar tanpa henti. Dia memutuskan untuk lewat jalan lain menuju rumahnya. Berlari menyusuri rumah – rumah yang begitu sepi. Berlari di bawah bayang – bayang pepohonan.

Satu blok lagi.

Bisikan kering dan parau itu terdengar semakin jelas di telinganya, terus membisikkan namanya. Seketika dia mengerem langkahnya, berbalik, "Siapa kau?!" Teriaknya dengan napas terengah – engah. Tapi sosok itu telah menghilang. Hanya ada dirinya sendiri di tengah – tengah trotoar dengan wajah tegang. Sunyi. Saking sunyinya dia bisa mendengar suara desiran angin lewat dan suara daun – daun yang bergesekan.

Matanya jelalatan ke segala arah. Tidak ada. Sosok itu telah menghilang. Seperti lenyap dibawa angin. Jinyoung menghembuskan napas keras – keras. Berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang.

Itu tadi apa? Apa ilusi optik? Ya, itu pasti cuma ilusi. Tak ada apa pun disana, Jinyoung berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Napasnya sudah kembali ke normal.

Tak ada. Kau mengarang cerita hantu lagi. Kau membuat takut dirimu sendiri. Kau bosan dan kesepian, sehingga kau membiarkan imajinasimu lepas kontrol, sahut suara – suara dalam kepalanya.

Sekarang ia merasa lebih baik. Jinyoung berjalan kembali menuju rumahnya dengan langkah panjang dan mata yang memandang waspada.

.

.

.

.

-TBC-