My Diary, Our destiny

By Ishikawa Ayica

Naruto milik Masashi Kishimoto

Kisah ini seutuhnya milik Author

Rated : T

Genre : Friendship dan silahkan tentukan sendiri

Warning : AU, OOC, Abal, dsb.

Jika anda tidak menyukainya silahkan keluar.

Cerita ini murni imajinasi Author, jika terjadi kesamaan tempat, cerita dan yang lainnya hal itu hanyalah sebuah kebetulan semata.


Diary Chap 2 : Kehilangan


Aku ingin memberi satu pertanyaan untukmu, jika kau mampu menjawab maka segeralah berikan aku jawabannya. Jawaban dari pertanyaan, apakah ada kehidupan sesudah kematian? Jika kau bertanya padaku aku akan menjawab "Tidak. Tidak ada kehidupan setelah kematian." Aku tak berbicara soal kehidupan selanjutnya dari orang yang meninggal, aku berbicara tentang kehidupan yang harus berlanjut bagi orang yang di tinggalkan, dan hal itu tidak akan pernah mungkin menjadi mudah. Dia meninggalkan kami sendiri, dia meninggalkan kami dan membawa hidup kami bersama kematiannya. Sungguh, aku telah mati bersamanya, hari dimana dia pergi untuk selamanya, hari dimana dia di kubur dalam-dalam adalah hari yang sama dimana hidupku berakhir.

Semenjak saat itu semuanya abu-abu, musim semi seolah tak pernah berwarna lagi, karena Sakura yang tidak pernah menjadi merah muda lagi. Ada satu musim yang hilang dalam hidupku yaitu musim semi yang membawa Sakura, dan ada satu orang yang telah pergi membawa hidupku, seseorang yang bernama Sakura. Sakura di musim semi yang tak pernah datang lagi sepanjang tahun dan mungkin, nanti...

/

/

"Tidakkah kau menyadari sikapmu yang berlebihan? Kau sudah menangisinya berulang kali, ini sudah tahun ke dua, Naruto." Kata seorang pemuda berambut unik dingin menatap sahabatnya yang sedang duduk. Sang pemuda berdiri di samping sahabatnya yang di panggil Naruto. Saat ini mereka sedang berada di tepi pantai dengan Naruto yang sedang terduduk pilu sambil menghapus air matanya. Tak ada isakan ataupun suara kekecewaan dan kehilangan dari bibirnya, yang ada hanya tangisan dalam diam bersama gemuruh sang ombak yang menghantam dan membasahi kaki mereka.

"Kau tau seberapa penting dia untukku? Untuk kita? Aku tak peduli jika kau dan mereka tetap bertahan dengan wajah yang seperti itu, tapi kau tau Sasuke? Perasaanku tidak sedingin perasaanmu, dan aku benar-benar terluka." Ucap Naruto menatap pilu langit senja kemudian meninggalkan Sasuke yang terpaku dan tertohok kata-kata Naruto.

Sasuke berjongkok dan menulis nama seseorang di pasir itu, kemudian Sasuke menatap sedih sang raja langit.

Sasuke menulis sebuah nama di pasir basah itu setelah Naruto meninggalkannya dalam diam, setelah Sasuke selesai menulis sebuah nama itu sang ombak datang menerjang dengan dahsyatnya hingga Sasuke dengan refleks segera berdiri. Beberapa cipratan air asin mengenai wajahnya, dan turun mengikuti lekuk pipinya seolah terlihat dia sedang menangis. Sasuke menatap langit senja dengan begitu menusuk seolah menantang, namun sang langit menatap balik Sasuke dengan warnanya yang menyakitkan seolah langit mengatakan turut berduka cita atas rasa pedih di dalam hatinya. Tatapan Sasuke semakin menusuk, seolah tatapannya dapat membelah langit senja hari itu. Dia merasa hilang arah dan tak tau harus kemana ia limpahkan rasa marah, kecewa, sedih dan kehilangan yang meledak dalam hatinya. Teringat saat gadis itu mengatakan pada mereka di waktu yang lalu, bahwa tak seharusnya laki-laki menitikan air mata.. Namun Sasuke tau tak satupun dari mereka yang tidak menangisi kepergiannya, hanya saja Sasuke menangis dengan caranya sendiri. Dan hanya ada satu hal yang dapat Sasuke simpulkan dari keadaan ini bahwa Mereka terluka di tempat yang sama.

/

/

/

"Hey..hey.. lihat siapa yang datang?" seru seorang lelaki yang mengenakan seragam Konoha Senior high School kepada seorang lelaki yang memiliki rambut jabrik kecoklatan yang juga mengenakan seragam yang sama.

"Aku sedang tak ingin meladenimu Sui. Minggir." Seru pemuda jabrik tersebut dengan malas dan mendorong seseorang lainnya yang di panggilnya Sui tersebut.

"Sejak kapan kau jadi kucing penakut, Kiba?" ujar Sui menyeringai. Sui atau yang memiliki nama Suigetsu itu berusaha untuk memanas-manasi Kiba.

"Urusai" ucap kiba santai sambil berlalu dengan tangan kirinya yang mengepal di dalam kantong celananya.

"Apa ini karena si pengasuh kalian itu sudah pergi? sayang, padahal dia gadis yang cantik." Ucap Suigetsu menyeringai menatap punggung Kiba yang bergetar seolah menahan amarah.

"Damare." Desis Kiba dengan suara berat.

"Kalau aku tak mau diam apa yang akan kau lakukan? Mengadu pada pengasuhmu? Sayangnya si pinky aneh itu sudah ke neraka." Kata Suigetsu yang masih mencoba memancing Kiba agar mau meladeninya, tanpa tau amarah Kiba benar-benar tak bisa di kendalikannya lagi.

"Ku bilang tutup mulutmu!, Brengsek! Tutup mulutmu atau ku buat kau menyesal." Kata Kiba yang berbalik dan menatap Suigetsu marah. Suigetsu sempat terkejut dengan perubahan Kiba namun hal itu kemudian membuatnya menyeringai setidaknya dia berhasil memancing amarah orang yang selalu mengalahkannya dalam pertarungan fisik.

"Coba saja." Tantang Suigetsu menyeringai pada Kiba.

Kiba hanya berdiam diri dengan menahan amarah yang semakin memuncak dan memandang kesal pada seringai Suigetsu.

"Baiklah. Akan dengan senang hati ku tunjukan padamu sakitnya kematian." Ucap Kiba dengan suara berat kemudian secepat kilat dia berlari menuju arah Suigetsu yang tak mempuyai persiapan. Suigetsu terkejut tapi Kiba tak memberi kesempatan bagi Suigetsu untuk mengelak serangannya. Tangan kiri yang tadinya terkepal di dalam kantong celananya dengan cepat menghantam pipi kanan Suigetsu. Suigetsu terlempar jauh, dengan segera Kiba menghmpirinya dan menendang Sui di perutnya hingga terlempar jauh dan punggungnya menabrak pohon. Kiba masih terus mendekati Sui tanpa memperhatikan siswa dan siswi lain yang mulai memperhatikan mereka.

"Ki-kiba.." panggil Suigetsu terbata-bata pada Kiba yang semakin geram padanya.

"Anggaplah hari ini hari keberuntunganmu, aku sedang tak ingin membunuh siapapun saat ini." Kata Kiba acuh kemudian berbalik dan meninggalkan sekolah yang memang sudah saatnya pulang dengan para murid yang memperhatikan Kiba dengan tatapan takut.

Seorang gadis yang tidak mengenakan pakaian seragam sekolah yang sama dengan mereka menatap kepergian Kiba dengan tatapan sendu. Seolah dia mengenal pemuda itu, seolah dia ikut merasakan amarah Kiba. Gadis itu kemudian kembali ke rumahnya dengan menaiki kereta bawah tanah, di dalam kereta gadis itu membuka sebuah buku bersampul bunga Sakura yang gugur dan ukiran Miracle di atasnya, dan sang gadispun mulai menulis.

Dear diary

Sekolah baruku sangat megah dan indah. Aku memang sudah pernah sekali mengunjunginya, namun baru kali ini aku merasakan benar-benar tenang di dalam sana, meskipun suasananya tak benar-benar tenang. Baru saja aku melihat dua orang laki-laki sedang bertengkar. Si rambut cokelat itu benar-benar menghajar laki-laki yang sempat ku dengar namanya Sui? Kira-kira begitulah. Aku merasa heran melihat pertengkaran mereka, yang lainnya sangat menikmati dan menyeringai jahat, sedang yang lainnya selalu menatap dengan tatapan rapuh dan hancur. Dan kembali hatiku berdetak tak menentu. Seperti aku ikut merasakan kehilangan yang di rasakan oleh seseorang yang baru saja ku lihat sedang adu kepalan tangan, terpancar dari matanya kehilangan yang sangat berat dan menyakitkan..

/

/

/

/

"Kau baru pulang?" tanya Naruto pada Kiba yang memasuki rumah.

"Dan kau cepat pulang, lakukan saja terus sikap membolosmu itu, aku yakin Sakura akan—

Kiba terbelalak dan berhenti dengan kalimatnya, sedangkan Naruto menunduk dengan tatapan pilu terdalam dari hatinya.

"..." Tak ada yang bersuara, keduanya terdiam dengan perasaan dan pemikiran masing-masing.

"Aku ingin istrahat." Kata Kiba yang segera pamit sambil mengacak rambutnya.

"Aa" jawab Naruto yang berbalik bermaksud kembali ke kamarnya.

Keadaan benar-benar tenang, rutinitas yang terjadi hanyalah makan dan kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing. Seperti tinggal di dalam sebuah kota mati.

/

/

Seseorang berjalan di depan rumah dengan tertatih-tatih. Tampangnya acak-acakan namun tak pernah mengurangi ketampananannya sedikitpun. Sasuke yang saat itu juga baru saja datang segera membantu orang tersebut dengan mengalungkan tangan kirinya ke pundak Sasuke.

"Ini sudah pukul 3 dini hari, Gaara." Ucap Sasuke dingin pada pemuda berambut merah tersebut.

"Bwahaahahahahhahahaha.." tawa Gaara menggelegar di samping Sasuke, Sasuke mengernyit menatap Gaara sambil terus membawa Gaara dengan posisi yang tadi.

"Kau bau alkohol, kau minum?" tanya Sasuke dengan melirik Gaara tak suka.

"Diamlah. Kau cerewet sekali. Pukul 3? Cih.. waktuku sudah berhenti." Kata Gaara sambil tertawa layaknya orang gila, sementara Sasuke hanya membiarkan Gaara mengoceh.

Sasuke dan Gaara memasuki rumah mereka, kemudian Sasuke menyalakan lampu ruangan keluarga mereka dengan susah payah karena kini Sasuke tengah membopoh Gaara.

Sasuke terkejut ketika mendapati sosok Kiba yang berbaring di sofa dengan Akamaru sedang duduk di lantai dekat sofa dan menatap Kiba yang hanya menatap langit-langit ruangan.

Sasuke membawa Gaara memasuki kamar Gaara kemudian membaringkan Gaara dan kembali ke ruangan keluarga.

"Masih belum tidur?" Tanya Sasuke pada Kiba. Kiba kemudian mendudukan diri dan memegang kepalanya yang terasa berdenyut.

"Sudah begini sejak saat itu." Ucap Kiba masih memijit kepalanya sakit.

Sasuke hanya berdiam diri menatap Kiba kemudian menghela nafas dan melempar pandangannya ke salah satu foto keluarga yang tertata rapi di dinding. Foto Dirinya, Kiba, Naruto, Gaara bahkan Akamaru sedang berpose bersama gadis itu.
"Kau sudah makan?" tanya Kiba pada Sasuke tiba-tiba memutuskan lamunan Sasuke tentang saat-saat bersama gadis itu.

"Hn. Kau?" jawab dan sekaligus tanya Sasuke.

"Tak perlu khawatir, aku baru saja merebut ramen si bocah pecinta ramen itu. Heh, keadaan yang sangat jarang terjadi ketika dia merelakan stok ramennya tanpa perlawanan, dan sepertinya akan terus menjadi seperti itu. Ini sedikit membosankan." Ucap Kiba menatap langit-langit dengan tatapan miris.

"Kiba." Tegur Sasuke pada Kiba yang mulai bersedih.

"Aku tau. Aku juga sedang berusaha Sasuke, tapi aku tak bisa sealami kau." Kata Kiba dingin kemudian mengelus kepala Akamaru dan bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu keluar di ikuti Akamaru.

"Mau kemana se pagi ini?" tanya Sasuke mengernyit pada Kiba.

"Membawa Akamaru jalan-jalan." Ucap Kiba santai kemudian mengangkat tangan kanannya tanpa berbalik dan terus berjalan. Sasuke hanya menatapnya dalam diam.

/

/

/

Aku bukan orang yang peduli, dan mereka tau itu. Semenjak kehilangan Sakura, secara spontan tugas Sakura aku yang menggantikannya, secara alami aku menjadi peduli pada mereka yang sudah ku anggap saudara, meskipun aku tau menggantikan Sakura tidak akan berhasil. Mereka hanya mendengarkan Sakura, dan kami sudah kehilangannya.

Sejak kehilangannya, Naruto mulai sering membolos, Kiba lebih sering berkelahi, dan Gaara lebih sering mabuk, padahal jelas dia masih di bawah umur. Kau juga mungkin bertanya apa yang berubah dari sikapku. Aku lebih menjadi dingin dan penyendiri, sikapku hanya akan berubah saat di hadapan Naruto dan yang lainnya, dan aku benci keadaan sulit ini.

Kami tinggal serumah, kami dan juga Sakura. Faktor keluarga yang menjalin persahabatan lama, juga faktor takdir yang membuat kami harus hidup bersama. Kami adalah anak-anak yang sudah tak memiliki orang tua, namun bukan berarti kami hidup terlunta-lunta. Sejak awal semuanya sudah tak mudah, dan tak akan pernah mudah, namun seiring waktu berlalu kami mampu melaluinya tentunya itu karena sosok Sakura, gadis satu-satunya di antara kami, namun kali ini, akankah kami mampu melewatinya? Seperti dulu bersama Sakura, dengan kini tanpa Sakura?

/

/

/

Matahari pagi kembali bersinar meskipun agak mendung, waktu sudah menunjukan pukul 07.30 dan ke empat pemuda baru saja keluar dari sebuah bangunan yang dulu mereka sebut rumah. Tentu saja, bangunan yang megah itu telah kehilangan satu orang penghuninya, satu-satunya gadis yang menghuninya, dan satu-satunya alasan mengapa gedung megah itu bisa disebut 'Rumah'.

Mereka berjalan menuju sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah dalam diam bahkan terlihat ogah-ogahan. Naruto menguap, Kiba mengucek matanya yang memiliki kantung mata yang menghitam mengalahkan Gaara, dan Gaara yang berjalan santai namun seolah tanpa jiwa.

"Naruto. Berhenti membolos." Kata Sasuke yang satu-satunya dapat bersikap santai di samping Naruto.

"Diamlah. Kau bukan ibuku." Ucap Naruto mengorek kupingnya menggunakan jari kelingkingnya.

"Dan kau berhentilah minum." Ucap Sasuke beralih pada Gaara.

"Bagaiman bisa? Aku bisa mati kehausan." Seru Gaara menatap Sasuke dengan tatapan malas, sedangkan Sasuke balik menatapnya dengan tatapan –kau-tau-apa-maksudku- miliknya.

"Dan kau berhenti berkelahi." Kata Sasuke tanpa menatap Kiba yang memang ada di belakangnya. Sementara Kiba hanya menganggap ucapan Sasuke angin lalu.

"Aku serius. Silahkan saja jika kalian masih ingin melakukan tindakan bodoh kalian. Aku tak akan menahan diri lagi. Sudah 2 tahun belakangan ini aku ingin membunuh seseorang." Ucap Sasuke dingin dengan suaranya yang tegas dan menyiratkan kesungguhan kemudian berjalan cepat mendahului Naruto dan yang lainnya.

"Cih. Jangan munafik Sasuke. Seperti kau tidak pernah melakukan hal bodoh saja." Ucap Naruto menyeringai menantang pada Sasuke yang sudah berada cukup jauh beberapa langkah di depannya namun masih dapat mendengar jelas suara Naruto. Sasuke berhenti berjalan sementara ketiga orang di belakangnya terus mendekat kearahnya.

"Aku juga tau kau diam-diam sering membuat perhitungan dengan preman-preman di gang kompleks mini market yang sering mengganggu Sakura dulu. Jangan bersikap seolah tak terjadi apa-apa Sasuke." Ucap Naruto sungguh-sungguh kemudian menepuk punggung Sasuke.

Sasuke berbalik dan mencengkram kerah kemeja Naruto dengan matanya yang merah karena menahan amarah.

"Untuk itu berhentilah membuatku kesal. Jika saja aku tak berjanji padanya untuk menjaga kalian, aku sudah akan membunuh seseorang sebelum kalian berulah. Untuk itulah mengapa aku menyuruh kalian berhenti, bodoh!" Kata Sasuke menghemaskan Naruto kasar.

"Untuk apa? Kalau kau ingin melampiaskannya jangan bersikap seolah kau bisa menerimanya." Ucap Kiba menatap kesal pada Sasuke yang tidak jujur pada dirinya sendiri.

"Untuk menenangkan diriku agar aku dapat menjaga janji terakhir yang kubuat dengannya. Suka tak suka, aku tetap akan memperhatikan apapun yang kalian lakukan. Lakukan apapun yang kalian suka, tapi jangan melakukan hal yang dapat membuat masa depan kalian menghitam. Itu adalah pesan terakhirnya untuk kita. Tentukan sendiri sikap kalian" Ucap Sasuke dingin kemudian kembali berjalan.

Namun beberapa langkah Sasuke berhenti.

"Jangan membuatku mengingkari janjiku padanya. Ini terakhir kalinya." Ucap Sasuke ambigu kemudian kembali berjalan meninggalkan Naruto yang memandang Sasuke dengan tatapan mengerti, Gaara yang memilih melirik pagar tembok rumah warga, dan Kiba yang menyusul Sasuke menuju sekolah dalam diam.

/

/

/

/

/


TBC

Author Note : Jadi ceritanya si Sakura ini sudah meninggal, mengapa Sakura meninggal?, siapa Sakura yang sering menulis diary itu? Semua jawabannya akan terungkap di chap-chap depan. Nantikan kelanjutan kisahnya, ^_^ jangan lupa untuk mereview. Terima kasih minna-san atas perhatian dan partisipasinya dalam mereview.

Scarlet-9s : Terima kasih, kamu reviewer pertama di cerita ini. Salam kenal juga, ini saya lanjutkan lagi. Terima kasih sudah mereview dan selamat menikmati.

Eysha 'CherryBlossom : Terima Kasih, sedang saya lanjutkan. Terima kasih sudah mereview.

Dhita82 : Ini saya lanjutkan lagi, Terima kasih sudah mereview.

Luca Marvell : Saya usahakan. Terima kasih sudah mereview.

febri feven : Sip. Terima kasih sudah mereview.

Spesial Thanks untuk para readers dan reviewers sekalian.. see ya to the next chapter.