Road To SasuHina
Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimotto
Rate: T+ For language
Genre: Parody & Humor yang Garing
Author: Hikari no Aoi
WARNING: OOC akut (karena ikut karakter Road To Ninja), TIDAK UNTUK DITIRU BAHASA KASARNYA, Fanon, Typo, dan EYD SALAH. Bahasa amburadul dan cerita ABSURD yang tak dapat dituangkan dengan benar.
.
.
.
Don't Like Don't Read Don't Flame!
You've been Hard warned!
.
Road To SasuHina 2
.
Summary: pernah nonton the movie Road To Ninja? Nah ini adalah Versi SasuHinanya. Menceritakan betapa Gigihnya perjuangan Sasuke Uchiha saat mendapatkan Cinta Hinata.
Penasaran? Let's begin the story! ^_^
.
.
.
Hinata membenamkan wajahnya pada bantal empuk kesayangannya, bayangan tentang apa yang Sasuke lakukan padanya beberapa saat lalu telah sukses membuat pipinya merona merah. Pemuda itu... sudah menciumnya, Sasuke sudah merenggut ciuman pertamanya. Meski tak secara langsung.
Tep!
Hangatnya telapak tangan Sasuke masih bisa Hinata rasakan dengan jelas, hembusan nafasnya yang memburu juga semakin membuat Jantung Hinata bertalu-talu. kedua matanya yang terpejam seakan menghanyutkan Hinata untuk menikmati ciuman mereka. Pemuda itu berbahaya, dan juga memabukkan secara bersamaan.
Sasuke...
Mengerang dalam bantalnya, Hinata berharap apa yang dilakukannya saat ini tidaklah salah. Sasuke itu orang yang baik, yang ternyata selama ini ia menjadi Playboy karena dirinya. Dan semua itu Karena Hinata yang tidak peka akan perasaanya. Lalu, apa salah jika sekarang ia mulai mencoba membuka hatinya untuk pemuda itu?
Tapi... Bagaimana hubungan mereka kedepannya, ya?
Berguling kesamping, Hinata memilih untuk tidur dengan posisi miring dan memeluk guling kesayangannya. Bagaimana jika seorang Hinata Hyuuga dan Sasuke Uchiha berpacaran?
"Ughh..." Pipinya kembali merona merah dan wajahnya terasa panas. Bayangan akan wajah Sasuke yang terus terngiang di kepalanya membuat Hinata tidak berani membayangkan masa depan mereka. Ya tuhan, perasaan berdebar apa yang kini Hinata rasakan?
"Bagaimana manis?" kalimat Sasuke yang merayunya beberapa jam lalu semakin membuat kepala Hinata melayang, astaga... apa yang membuatnya menjadi anak ababil seperti ini, huh?
Menggelengkan kepalanya dengan cepat, Hinata kemudian teringat satu hal.
Bergegas bangun, gadis bersurai Indigo itu kemudian mengeluarkan Mawar pemberian Sasuke tadi, ditaruhnya bunga berwarna Merah merekah itu kedalam sebuah Vas transparan yang diletakkan di samping Jendela kamarnya. Bunga pertamananya ini... akan ia simpan dengan baik-baik.
"Sasuke." Dan tanpa sadar, seulas senyum lembut telah menghiasi wajah merona Hinata.
.
.
.
Road To SasuHina 2
.
.
.
Merebahkan tubuh atletisnya pada lantai tak beralas, Sasuke membiarkan helaian rambutnya tertiup oleh angin sepoi siang hari ini. Musim di Konoha sekarang memang sedang panas-panasnya! Belum lagi, usaha kerasnya yang ia lakukan tadi pagi bisa dikatakan tidak berhasil alias gagal, dapat bonus tamparan lagi.
Ah, Hinata itu memang susah sekali untuk dijinakkan. Namun, hal itulah yang membuat Sasuke merasa tertantang. Sampai matipun, ia akan tetap mengejar gadis yang menarik itu hingga titik darah penghabisan! HUAHAhahaha
-Hiks... hiks.
soalnya, mau sampai kapan Hinata akan menggantung harapan tulusnya itu? Note: tambah emot 'T_T'.
"Kau tidak latihan, Otouto?" suara sang kakak yang berada di sampingnya membuat Bungsu Uchiha itu kembali ke alam nyata. Pemuda berambut Raven itu kemudian menoleh dan mengamati Itachi yang sedang menjahit Jubah Akatsukinya. Gerakannya yang cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah terkadang membuat Sasuke merasa memiliki kakak perempuan. Hei, punya kakak seperti itu menyenangkan lho! Misal: kau bisa nitip baju kotor untuk dicuci, membuatkan sarapan waktu telat berangkat misi, membantu mengerjakan Laporan sehabis dari misi, juga... juga... pokoknya masih banyak lagi, deh!
Uhuk-apa ini bisa disebut minta tolong?
"Malas." Jawabnya cuek, Sasuke kemudian menatap kembali langit cerah yang berwarna Biru muda, ia menghela nafas kasar. "Aniki, kau tidak berkumpul dengan Akatsuki?"
"Besok ada permintaan." Katanya kemudian. Sulung Uchiha itu tak menghentikan aktivitas menjahitnya, ia masih terlihat tekun memperbaiki Jubah yang sobek dibagian bawah-karena terkena serangan musuh kemarin. Ah, tinggal beberapa jahitan lagi maka akan selesai.
"Dimana?" Sasuke kembali menoleh, merasa tertarik dengan topik pembicaraan kali ini. Soalnya kakaknya ini memang jarang sekali dirumah, tentu saja setelah bergabung menjadi Ninja bayaran yang doyan kelayapan dengan Aliansi Ninja dari desa lain, yang Kalian sudah tahu pasti, kalau kelompok Ninja bayaran itu bernama Akatsuki.
Itachi menarik kuat-kuat benang warna Hitam itu, lalu memutusnya dengan Gigi tajam miliknya. Ia sudah selesai menjahit.
"Ke Kumogakure, kurasa." Jawabnya kemudian, ia merentangkan Jubah itu untuk memeriksa hasil jahitannya. "Eh, Hinata Hyuuga ikut juga lho!"
Seketika itu pula Sasuke langsung duduk, menatap tak percaya sang kakak yang terlihat kaget dengan gerakannya yang tiba-tiba. "SERIUSAN?!"
"Kau ini kenapa?" Alis Itachi mengernyit, tak mengerti sama sekali dengan sikap Sasuke yang terlihat sangat antusias. "Kau juga mau ikut?"
Sasuke langsung duduk dengan manis, lalu menghadap kakaknya yang masih terlihat heran. "Aniki, aku butuh bantuanmu!"
"?"
.
.
.
Road To SasuHina 2
.
.
.
Hinata mengamati penampilannya di pantulan cermin, osh! Semuanya sudah rapi. Makeupnya tidak terlalu tebal, dan bajunya yang terbuka nampak memamerkan keseksiannya. Hmm... cantik, seperti biasa.
Bersiul sekali, gadis bersurai Indigo itu lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Ia akan pergi untuk Menjalankan misi ke Kumogakure bersama Akatsuki-ah, iya, sayang sekali misi kali ini tak terlalu menantang. Tugas mereka hanya untuk menangkap Buronan Binggo Book yang melarikan diri ke Desa Awan itu. Ck, membosankan. Kenapa Sekali-kali ia tidak dikasih misi peperangan, gitu?
Tapi... Yang ada perang dimana
ya?
"Anda... wangi sekali, Hime-sama," sang kakak sepupu yang sudah menunggu di depan kamar Hinata tak membuat gadis itu kaget-ia sudah terbiasa pake banget malah.
Hinata tahu bahwa Kelakuan Neji itu memang sudah keterlaluan, maka dari itu, setelah mengirimkan surat pendaftaran murid, Hinata tinggal menunggu balasannya saja sekarang.
Apa Jiraiya-sama memang bisa mengobati Neji, ya?
"Menyingkir, mesum." Balas Hinata pedas, ia menajamkan pandangan matanya pada sang Kakak.
"Boleh ku antar sampai Gerbang desa?" kata Neji sambil berusaha mengambil Tas Misi Hinata. "Biar aku bawakan-"
"Hentikan, Nii-san!" Souke Hyuuga itu segera menarik kuat tas punggung miliknya, kemudian mendeathglare Neji. "Aku mau berangkat, minggir!"
"Ta-tapi Hime-sama-"
"Hinata-chan, temanmu sudah menunggu!" sayup, mereka berdua dapat mendengar suara ayah Hiashi yang sedang berada di Gerbang Mansion. Sepertinya Hinata memang harus buru-buru sekarang.
"Aku tahu kau tadi mengintipku." Ujar Hinata kesal, wajahnya memerah. "Jadi bersyukurlah aku tidak membunuhmu sekarang karena aku buru-buru!"
"A-apa?! A-aku tidak-" Neji berusaha mengelak tuduhan Hinata, padahal niatnya kali ini baik!
"Nii-san minggir!" Namun, gadis itu malah semakin mendorong tubuh jangkung Neji yang menghalangi jalannya. "Atau ku Jyuuken kau!"
dan pemuda berambut Coklat itu tak menyerah, ia masih berusaha untuk mengambil tas berwarna Ungu Pucat tersebut dari tangan Hinata. "Ta-tapi Hime-san ada sesuatu yang harus saya katakan-"
"Minggir atau aku bunuh kau, Neji!"
"Ayolah Hinata-sama, ini penting-"
"Neji!"
"Sebentar, Hime-sama!"
Hinata geram, ia segera menarik tas mungil itu dengan sangat kuat. Astaga, apalagi sekarang? Ia benar-benar bisa telat! Ingat, kan kalau Hinata itu selalu On Time?
"Lepaskan, dasar-"
Brukhhhh!
"Kau ini lama sekali, Hina..."
Dan kesialan Hinatapun, baru saja dimulai.
"..." Neji yang terjatuh tepat di atas tubuh Hinata itu langsung mimisan hebat, wajahnya yang tepat mendarat di dada sang Hime membuat kepalanya pusing mendadak. Ini semua salahkan Hinata yang terlalu kencang menarik tasnya Hingga mereka berdua jatuh bersamaan. Uh, walau Neji SUKA pakai BANGET sih.
Lagi dong?
sedangkan yang ditindih, otaknya masih mencerna apa yang sudah terjadi. rasa Ngilu pada punggungnya membuat Hinata tersadar bahwa ia baru saja jatuh plus tertimpa tangga yang beratnya minta ampun. Soalnya, tangganya itu Neji, makanya dia jadi susah bernafas.
Tunggu-Neji?
Ne... ji?
Hah?
"?"
"!"
"... ta?" Sasuke seketika sesak nafas-atau lebih tepatnya lupa cara bernafas. Onyxsnya yang menawan membulat dengan sempurna saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya sekarang. "BRENGSEK KAU, NEJI!"
Ting!
"..." Dan Neji akhirnya pingsan, tepat saat Sasuke mau bergerak untuk menghajarnya. Tak perlu diagnosa segala, ia sudah bisa dipastikan tidak sadar karena kekurangan darah akibat Animea. Padahal, Niat awal Neji tadi ingin memberitahu Hinata bahwa Sasuke akan ikut ke dalam misi kali ini, jadi Hime tersayangnya ini harus lebih berhati-hati. Sayangnya... sekarang ia sudah berimajinasi ria di bawah alam sadarnya.
Have a nice dream, Rainbow!
"WOIII!" Sasuke mengerang, wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang seakan mau meledak saat itu juga. Bulan lalu Neji yang menindihnya-itu sih gak apa-apa, Lha sekarang? Hinata man, Hinata! Iya, si sulung Hyuuga yang AKAN jadi pacarnya itu tuh! Duh, siapa yang gak ngenes melihat pemandangan pagi hari kayak gini coba?
"OI BANGUN, NEJI!"
Begitu tersadar dengan apa yang terjadi, Hinata tak tinggal diam begitu saja. Dengan bangga, kedua laki-laki nista itu dihadiahinya 'sarapan bogem yang masih mentah'. "DUO HENTAAAIIIII!"
Nah, lho. Dateng-dateng udah diteriaki Hinata kaya gitu pula. Dan jangan lupakan bonus 'sarapannya'.
Berjuanglah, Sasuke!
.
.
.
Road To SasuHina 2
.
.
.
Memotong Rambut Deidara yang tengah tertidur, laki-laki itu menyeringai di balik Topengnya. "Khukhukhu... Tobi anak jahat, Tobi anak jahat!"
Walau sebenarnya, ia lebih tepat dikatakan sabagai anak yang jahil sih.
Hidan menghela nafas, melihat tingkah laku partnernya yang satu ini membuatnya bertopang dagu malas. "Astaga, demi Dewa Jashin! Apa yang kau lakukan itu membuat mataku sakit, Tobi!"
Pemuda yang tengah memegang Gunting itu menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Hidan tajam. "Aku nakal, Hidan-kun!"
Hidan meringis, ia lalu mengacak rambutnya sendiri yang memang sudah semrawut-tidak rapi. "Makanya, hentikan bodoh! Kau membuatku kesakitan!"
Itachi hanya melirik mereka berdua tanpa minat, daripada menonton adegan tidak jelas seperti itu, ia lebih tertarik pada sang Otouto yang sedang merencanakan misinya sendiri. "Jadi, apa rencanamu?"
Sasuke menyeringai menanggapi pertanyaan sang kakak, ia diam-diam mencuri pandang pada Hinata yang tengah berteduh bersama Konan. Mereka berdua tampak asik ngobrol tidak jelas dengan pipi Konan yang sering tersipu malu. Cih, apa yang sedang dibicarakan oleh kalian-wahai kaum hawa?
Uhuk, maaf hiperbola. Sasuke Khilaf.
"Pokoknya nii-san bantu saja." Katanya kemudian, Sasuke lalu mengambil sebuah kunai dan memasangkannya pada benang transparan yang ia bawa. "Oke?"
Alis Itachi mengernyit, sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran adiknya yang satu ini. Saat ia bilang bahwa Akatsuki akan satu misi dengan Hinata, Sasuke langsung terlihat serius dan antusias sekali untuk ikut. Well, sebenarnya tidak masalah sih! Itachi malah sangat bersyukur karena penyakit Playboy adiknya sudah sembuh. Tapi, ia hanya ingin meminta sebuah kejelasan. Ada hubungan apa dia dengan si Hyuuga itu? Kalau memang mereka berniat pacaran, setidaknya Sasuke memberitahunya kan? Toh Itachi itu juga kakaknya. selain itu, sebagai lelaki sejati seharusnya Sasuke juga menguntarakan perasaannya!
"Tunggu, Sasuke."
Sang adik menoleh saat tangan Itachi mencengkram pundaknya, ia memasang ekspresi seolah bertanya; 'apa?' pada kakaknya.
Pemuda berambut Hitam itu mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan. "Apa kau menyukainya?"
Pipi Sasuke langsung merona tipis saat Itachi menanyakan perasaanya pada Hinata. untuk menutupi tingkah konyolnya, ia segera memalingkan wajahnya kesamping. "I-itu bukan urusanmu."
"Setidaknya jujurlah pada kakakmu, Sasuke." Itachi mencengkram kedua pundak sang adik agar bisa menatapnya, ia terlihat serius. Bagaimanapun, jika memang Hinata bisa membuat Sasuke berubah ke arah positif, apapun akan Itachi lakukan untuk mendukungnya! "Kakak tahu bahwa kakak memang sering meninggalkanmu, kakak minta maaf. Tapi... bisakah kau terbuka sedikit saja padaku? Kakak Hanya ingin meminta penjelasan." Katanya halus.
Sang adik mendengus, sikapnya tiba-tiba berubah saat Itachi bertanya demikian. Dengan kasar, di tepisnya tangan Itachi dari pundaknya. "Apa-apaan, sih kau baka-aniki?"
"Dengar Sasuke, aku ini kakakmu jadi biarkan aku tahu sesuatu." kata Itachi tegas, Onyxsnya fokus menatap Manik Sasuke dalam. "Kau meminta agar kakak membantumu, tapi kau sama sekali tidak menceritakan apapun padaku. tinggal Jawab saja, kau suka tidak? "
Sasuke kembali mendengus, ia kemudian merapikan lagi peralatan Ninja miliknya, kenapa Itachi bertanya tiba-tiba? "Belum waktunya, aniki."
Mencegah tangan Sasuke, Itachi meminta penjelasan yang lebih masuk akal. "Dengar Otouto, aku senang kalau kau bahagia, jadi bisakah-"
"Kyaaaaa!"
Pekikan keras dari Konan membuat Sasuke dan Itachi menoleh bersamaan. Duo Uchiha itu semakin mengernyit Heran saat gadis berambut sebahu itu pingsan dalam pelukan Hinata.
Heh?
Dia kenapa?
Mencoba membantu, Sasuke kemudian bangkit dan memberikan pertolongan pertama pada Konan. "Apa dia sakit-"
"Jauhkan tanganmu!"
Seketika itu pula Sasuke meringis, tatapan jijik yang Hinata berikan padanya benar-benar menohok Hatinya. "Hinata?"
"Menjauh dariku, dasar brengsek!"
What?!
Road To SasuHina 2
"Ara-ara, jadi kau menyukai Pein, ya Konan?" Hinata memincingkan matanya pada Konan. dengan usil, ia menjahili satu-satunya wanita di kelompok Akatsuki ini. "Jadi, kapan mau nembak nih?"
Gadis yang sedang memainkan bunga kertas itu tersipu, pipinya merona. "Uh, ja-jangan seperti itu. Ka-kami tidak ada hubungan a-apapun."
Melihat tingkah Konan yang menggemaskan, Hinata tak bisa menyembunyikan gelak tawanya. Memangnya Hinata tidak tahu kalau gadis disampingnya ini tengah berbohong, huh? Ya ampun polosnya! "Hahaha, astaga... kau itu lucu sekali!"
Setelah berhasil menenangkan diri, gadis berambut sepunggung itu kemudian melanjutkan kalimatnya. "Hhah, aku tahu kau menyukainya Konan!"
Konan semakin menunduk, wajahnya merona hebat akibat kolokan Hinata barusan. "Ka-kau jahat sekali, Hinata-san."
"Hmpff-maaf, habisnya kau-" cahaya menyilaukan yang menerpa pemandangan Hinata membuat Souke Hyuuga itu menajamkan pandangan matanya, menganalisa apa yang sedang terjadi di sebrang pohon sana? Mengapa ada pantulan sinar matahari dari arah Uchiha bersaudara beristirahat?
"K-kurasa itu adalah sinyal untuk meneruskan perjalanan, Hinata-san." Konan bangkit, kemudian ia membersihkan jubahnya yang kotor terkena tanah dibawah pohon rindang ini. "A-ayo kesana?"
Hinata mengangguk, dengan segera ia bangkit dan berjalan menuju balik semak tempat Sasuke dan Itachi berada. Ahh, benar juga mereka sudah istirahat terlalu lama.
"Huh, masih Dua hari perjalanan ya?" Hinata membenarkan tas punggung miliknya, lalu menoleh pada Konan yang sedang melakukan hal yang sama. "Kenapa kita santai sekali?"
Gadis yang rambutnya di hias oleh Mawar kertas itu hanya menggelengkan kepalanya lemah, tak bisa memberikan jawaban pasti. "U-uhh... K-ketua bilang kita harus waspada da-dan tidak buru-bu-"
"Tunggu, Sasuke."
Ini kan... suara Itachi-san? Sontak, mereka berdua langsung bergegas menuju tempat tersebut dengan cepat. Siapa tahu mereka memang sudah telat untuk berangkat. Namun, justru pemandangan yang mereka lihat adalah Sosok sulung Uchiha yang tengah menahan pundak adiknya untuk membalas tatapan matanya, dilihat dari jaraknya... apa mereka barusaja
berciuman?
HAH?
"Apa kau menyukainya?"
HUAAH?!
Ma-ma-ma-maksudnya?! Menyukai apa, ya?!
"I-itu bukan urusanmu." Jawaban malu-malu dari Sasuke semakin membuat Hinata dan Konan menahan nafas, wajah keduanya terasa memanas.
"Setidaknya jujurlah pada kakakmu, Sasuke." Itachi yang terlihat meminta penjelasan, mencengkram dengan kuat kedua pundak adiknya.
... a-apa Itachi ingin Sasuke mengatakan bahwa ia menyukai ciuman mereka barusan?!
Ogh Astaga! Apa yang ada di depan matanya saat ini benar-benar membuat hati Hinata Sakit, bagaimana tidak? Ia baru saja... baru saja berniat untuk memaafkan tingkah kurangajar Sasuke kemarin. Tapi, masih dalam niatan Saja tingkah Sasuke sudah memuakkan lagi seperti ini! Bagaimana ia bisa memaafkannya? Apa yang dikatakan Neji tentang klan Uchiha itu ternayata memang benar, mereka itu menyebalkan!
#author milih minggir.
"Kakak tahu bahwa kakak memang sering meninggalkanmu, kakak minta maaf. Tapi... bisakah kau terbuka sedikit saja padaku? Kakak Hanya ingin meminta penjelasan." Dan kalimat dari Itachi barusan semakin membuat lutut mereka berdua lemas. A-apa yang terjadi di hadapannya sekarang ini, kami-sama?
Sebuah percintaan yang terlarang?
"Apa-apaan, sih kau baka-aniki?" sialnya, Penolakan dari Sasuke malah justru terlihat seperti sebuah rengekan. Ya tuhan! A-apa benar mereka
Uhuk-incest?
"Dengar Sasuke, aku ini kakakmu jadi biarkan aku tahu sesuatu. Kau meminta agar kakak membantumu, tapi kau sama sekali tidak menceritakan apapun padaku. Tinggal Jawab saja, kau suka tidak?"
Dan sumpah demi apapun Juga, kepala Hinata sekarang pusing dan terasa pening. Baru KEMARIN Sasuke menyatakan cinta padanya, sekarang cowok brengsek itu sudah bermesraan dengan kakaknya sendiri huh? Menjijikkan! Dasar menjijikkan!
Bagaimana bisa Hinata menerima kelakuan Sasuke ini? Cih, yang benar saja! Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah jatuh kedalam permainan kata manisnya untuk yang kedua kalinya!
"Belum waktunya, aniki." Ternyata Sasuke memang cowok brengsek yang tidak ada bedanya dengan b-piip-jing-piip-n lainnya! Dia itu-arghhhh! Sekarang Hinata malah kembali teringat saat Neji mengerang ketika tak sengaja di 'serang' oleh Sasuke sebulan lalu.
"Muhu, Humu!" Oh kami-sama... Hinata bahkan sampai bingung harus berkata apa.
"Dengar Otouto, aku senang kalau kau bahagia, jadi bisakah-"
"Kyaaaa!" Tak tahan lagi dengan adegan selanjutnya, Konan menjerit sekuat tenaga sebelum akhirnya pingsan dalam dekapan Hinata yang dengan sigap menolongnya.
Sasuke... Sasuke itu pokoknya-
"Apa dia sakit-"
-jahat!
"Jauhkan tanganmu!" saat itu juga, Hinata bisa melihat perasaan terluka dari mata sang Bungsu Uchiha. Namun, ia mencoba tidak perduli. Hinata memang telah memutuskan akan membuka hatinya sekali lagi pada Sasuke, mengingat betapa gigihnya usaha yang dilakukan bungsu Uchiha itu untuk mengutarakan perasaanya yang sebenarnya. Tapi... kalau seperti ini kenyataanya, siapa yang mau jadi pacarnya, heh? Ternyata kedok playboy yang digunakannya itu hanya untuk menutupi hubungan terlarangnya dengan sang kakak! Lalu kenapa Hinata harus dilibatkan pula? Kenapa!
"Hina... ta?"
"Menjauh dariku, dasar brengsek!"
.
.
.
Road To SasuHina 2
.
.
.
Sekarang Sasuke jadi serba salah, mau berbicara dengan Hinata, belum ada Sepuluh meter gadis itu sudah menghindarinya. Mau diam saja, tapi Sasuke juga tidak tahu mengapa Hinata seolah menjauhinya.
Apa salahnya? Diam tanpa katanya Hinata ini sungguh membuat Sasuke dilema. Jujur, Sasuke lebih suka Hinata yang langsung menghajarnya hingga babak belur ketimbang di jauhi tanpa sebab seperti ini. Kalau anak muda sekarang pasti bakal update status;
'Bro...
Sakitnya tuh disini.' Atau 'Disitu kadang saya merasa sakit.'
Iya enggak? Ngaku aja, deh!
Iya, kan!? Paling enggak, pernah buat kan? Ya, kan?
Ya udah kalau enggak ngaku, 'slow bro!' Sasuke mah emang gitu Orangnya.
Psst... udah jangan ketawa, kita balik ke cerita!
"Ini, bersenang-senanglah." Sasuke mendangak, menatap Kakuzu yang tengah menyodorkan Lembaran uang bernilai Ribuan yen kepadannya.
Alis Sasuke mengernyit. "Untuk apa?"
Kakuzu mengambil tempat di sisi Sasuke, kemudian menghela nafas. "Nikmatilah hidup itu dengan uang, Sasuke. Jangan terlalu hemat."
Bungsu Uchiha itu terlihat tak berminat, ia menolak. "Aku tidak butuh Sake dan wanita, jika itu maksudmu."
Dan saat itu pula, Itachi datang. Membawa dua Piring Onigiri untuk mereka berdua. "Ada apa ini?" tanyanya kemudian.
Kakuzu mengambil Sake yang tersaji, lalu meneguknya hingga tandas. "Keh, adikmu ini terlalu 'susah', Itachi."
Kalimat Kakuzu barusan membuat Sasuke tidak terima, mau dikatain gimana, ia juga masih punya banyak uang buat bersenang-senang. "Maaf saja, aku tidak semiskin itu." Jawabnya ketus.
Itachi hanya terkekeh pelan, ia kemudian mengambil segulung Onigiri tersebut dan melahapnya dengan tenang. "Apa kau ada masalah dengan Hinata-chan?"
Sasuke berdecak, ia kembali membuang muka. "Dan kurasa itu terjadi setelah aku mengobrol denganmu tadi."
Bersamaan dengan Sasuke yang bersedekap, Kakuzu mengangkat tanganya untuk meminta kepada pelayan agar membawakannya Tiga botol Sake. Setelah selesai memesan, barulah ia kembali ke topik pembicaraan. "Ah, si gadis seksi itu ya?"
"Jaga omonganmu, atau ku jahit mulutmu." Desis Sasuke tajam.
Kakuzu meringis. "Seluruh tubuhku memang sudah penuh jahitan, nak."
Itachi bertopang dagu, kemudian menatap Sasuke serius. "Jadi kenapa kau masih disini?"
Sasuke mengernyit. Ia menatap sang kakak dengan pandangan tak mengerti. "Apa maksudmu-ACK!"
Tapi kemudian, Sentilan yang lumayan keras mendarat di dahi Sasuke. refleks, pemuda itu mengusap keningnya dengan cepat. "Apa-apaan sih kau, Aniki!"
Kini, Giliran Itachi yang menatap Sasuke tajam sambil bersedekap tangan. Ia terlihat kesal. "Seharusnya kau melakukan sesuatu pada Hinata, Otouto! sebagai laki-laki kau itu harus jantan! Kenapa kau tidak mencoba menjelaskan semuanya?"
Sasuke mendengus, ia juga terlihat kesal. "Aku saja tidak tahu apa salahku!"
Itachi menatap Sasuke tajam. Ia semakin kesal dengan sikap Sasuke yang masih saja Apatis. "Makanya kau itu-"
"Gampang, wanita itu seperti Boneka, Sasuke-kun." Kedatangan Sasori di kedai ini semakin membuat mood Sasuke bertambah buruk. Padahal niat awalnya ia ingin kesini sendiri, terus kenapa sekarang jadi ramai begini?!
"-Kau bisa memainkan mereka sesuka Hati." Lanjut Sasori kemudian sambil duduk di samping Itachi. "Iya, kan Itachi-kun?"
"Sayangnya, Cowok sejati itu tidak mainan Boneka, Sasori." Dan kalimat Sasuke barusan langsung menikam dada Shinobi dari Suna tersebut. Ia langsung terdiam seribu bahasa. Iris matanya yang tadinya memukau, langsung Hilang entah kemana.
"A-aku..."
"Dengar Otouto, sekarang temuilah Hinata-chan dan mintalah dia secara baik-baik untuk menjelaskan semuanya."
"Tapi-"
"Hik- temui saja, Sasuke! Tunjukkan bahwa kau itu memang jantan!" Kakuzu menyutujui saran Itachi barusan, walau sekarang ia tengah mabuk, tapi ia masih bisa berfikir mana yang baik dan buruk. "Berjuanglah demi Hinata!"
Onyxs Sasuke menatap Sasori, Kakuzu dan Itachi yang mengangkat ibu jari mereka untuknya. Mereka semua... mendukungnya.
"Yah, meski baru datang dan langsung kau bungkam, tapi kau ada benarnya." Sasori tersenyum, ia mengangguk pelan. "Wanita itu memang berbeda dengan Boneka, jadi perjuangkanlah."
Sang kakak menepuk pundaknya pelan, kemudian tersenyum hangat. "Taklukkanlah Hinata-chan, Otouto."
Sasuke kemudian menyeringai, meski begitu ia juga tak bisa memungkiri bahwa hatinya juga terasa hangat karena ia mendapatkan semangat dari kelompok Akatsuki ini. Terkekeh pelan, Sasuke lalu memantapkan hatinya untuk menemui Hinata sekarang.
Osha, ia akan menaklukkan hati Hinata sekeras apapun itu pertahanannya! Dan perjuangannya, baru saja dimulai. "Dasar kalian..."
.
.
.
Road To SasuHina 2
.
.
.
Hinata menghela nafas lelah, malam ini mereka akan menginap di desa kecil ini. Meski tak begitu ramai, tapi setidaknya mereka semua bisa tidur dengan nyaman di atas futon, Bukannya di Kantung tidur yang berada di alam terbuka.
-yang penuh nyamuk pula.
Membaringkan tubuhnya untuk segera beristirahat, Hinata dikejutkan dengan suara Konan yang tiba-tiba datang. "Hinata-san, S-Sasuke-kun mencarimu."
Dan sedetik kemudian, Hinata kembali merebahkan tubuhnya, lalu memejamkan mata. "Biarkan saja."
Konan mencengkram jubah Akatsukinya, wajahnya terlihat pucat. "Ta-tapi dia-"
Srakkk!
Jendela kamar Hinata terbuka lebar dengan paksa, menampilkan sosok Sasuke yang terlihat kesal. "Sudah kuduga kau lama, Konan."
Gadis berambut Biru laut dalam itu mundur kebelakang, ia merasakan firasat yang tidak enak. "M-maaf."
"Apa yang kau lakukan disini!" Hinata melempar selimutnya asal, ia kemudian mendekati Sasuke dengan tatapan nyalang. "KELUAR!"
Sasuke tak menggubris penolakan Hinata yang berusaha untuk mendorongnya dari Jendela, ia ingin meminta penjelasan. "Kenapa denganmu? Apa kau marah padaku?"
Sang Souke Hyuuga mengaktifkan Byakugannya, ia tetap memukuli dada Sasuke agar pemuda itu terjatuh. "Kau itu brengsek! jadi Menyingkirlah dari hadapanku, Uchiha!"
Meski pukulan Hinata memang terasa sakit, namun Luka itu tak seberapa jika di bandingkan dengan Luka menganga yang ada di dalam hatinya. Mengapa Hinata begitu semarah ini padanya? "Apa kau marah karena aku menciummu?"
Bugh! Bugh!
gadis itu tetap saja memukul Dada Sasuke hingga lebam, namun, Hinata masih menulikan diri untuk perduli. Ia sudah terlanjur sakit hati. "AKU BILANG PERGI!"
Meski gadis Hyuuga itu mengusirnya seperti ini, Suara Hinata yang bergetar membuat Sasuke seakan ditikam oleh Susanoo miliknya sendiri. Hatinya seolah telah dihantam oleh Bijuudama milik Jinchuriki hingga terasa Kosong.
Bukan karena serangan Hinata terhadap tubuhnya hingga membuat Sasuke melemas, namun karena ia terhempas oleh kenyataan. Dan itu adalah Kenyataan yang menyakitkan.
Kemudian, Onyxsnya meredup ketika mengetahui hal tersebut.
"Kau marah karena aku mencintaimu?" suara Sasuke yang lemah masih mampu Hinata dengar, dan kalimat yang dilontarkan si Bungsu Uchiha barusan inilah yang membuat serangan Hinata melemah.
"Kau tidak sudi aku cintai?"
Tubuh Gadis itu gemetar, ia tak bisa menyembunyikan tangisannya. Kenapa... kenapa semua ini begitu tragis?
Sasuke menunduk, ia meraih tangan Hinata lalu menggenggamnya. "Apa... aku terlalu buruk untukmu?"
Hinata menatap Sasuke dengan pandangan mata yang menusuk, meski Amethyst itu penuh akan luka, namun Hinata masih menuruti egonya untuk membenci Uchiha bungsu ini.
"Aku bukan pelampiasanmu, aku bukan mainanmu!" desisnya kemudian.
Sasuke terkesiap dengan kalimat Hinata barusan, apa yang membuatnya sampai berfikir seperti itu?! "Tunggu Hinata, kenapa kau-"
"Kau itu jahat, kau itu tak lebih dari sampah, Sasuke!"
Pemuda itu tidak menyerah, meski hatinya semakin sakit dengan semua umpatan Hinata padanya, Sasuke akan terus memperjuangkannya.
"Iya aku tahu aku memang bajingan, tapi katakanlah padaku, salahku dimana Hinata?" Uchiha muda itu kemudian menggenggam jemari Lentik Hinata lebih erat, nafasnya memburu. "Katakan agar aku tak salah paham dan menyakitimu..."
Hinata semakin terisak, pipinya telah sembab oleh airmata yang terus menetes dari pelupuk matanya. "K-kau itu sudah berpacaran dengan kakakmu sendiri!"
HAH?!
Sasuke terperangah, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya dengan kalimat Hinata barusan. ia harus meminta penjelasan lebih lanjut tentang masalah ini! "A-apa maksudmu-"
"Sudah Menyingkirlah!" menarik tangannya dari genggaman Sasuke, gadis Souke itu segera mendorong Sasuke untuk keluar Jendela dan menutupnya erat. "Aku sangat membencimu!"
Sasuke masih berdiri disana, ia menahan kaca itu agar tak tertutup, meski tangannya sendiri yang ia gunakan sebagai gantinya. "Dengarkan aku dulu, Hinata. Aku tidak ada hubungan dengan Itachi-"
Hinata tak mau perduli, ia semakin mendorong kaca itu untuk menutup. Tak menghiraukan tangan Sasuke yang kini telah terluka akibat kelakuannya. "A-aku tidak mau dengar lagi!"
"Hinata, aku hanya mencintaimu!"
"Kau pembohong, Uchiha brengsek!"
Sasuke menguatkan cengramannya, ia masih berusaha menahan Kaca itu. "Tiadak Hinata, a-aku tulus mencintaimu."
Namun lagi-lagi sulung Hyuuga itu tak mau mendengar alasan apapun, ia menggelengkan kepalanya cepat dan memejamkan kedua matanya erat-erat. "Pergilah dari hadapanku!"
Kalimat yang Hinata ucapkan barusan seolah mampu untuk menghancurkan pertahanan Sasuke selama ini, Hatinya terasa hancur. dan tanganya melemas bersamaan dengan berbaliknya tubuh Hinata yang membelakanginya.
"Hinata..."
Meski kini suara Sasuke tak begitu jelas karena gadis itu menutup kedua telinganya, Hinata masih bisa mendengarnya samar-samar. "Aku mencintaimu, Hinata."
Melalui Byakugan miliknya yang masih aktif, Hinata bisa melihat bahwa Sasuke telah melepaskan pegangan tangannya pada Jendela ini. Ia membiarkan tubuhnya sendiri terjatuh membentur tanah, dari Lantai Tiga penginapan Hinata.
Sang Heiress yang mengetahui Hal tersebut segera membuka kembali Jendela kamarnya dengan cepat, lalu mencoba untuk menyelamatkan Sasuke yang saat ini tengah menatapnya kosong.
YA TUHAN, SEDETIK LAGI IA AKAN MATI!
"Sasuke!"
Bruakhh!
Dan Terlambat bagi Hinata untuk menyelamatkannya, Sasuke sudah terjatuh.
Tangan Hinata yang masih terulur ke udara, terasa kosong dan gemetar. Apa... apa yang sudah ia lakukaaaannnn?!
Zlup! Zlup! Zlup!
Dan Tepat Sedetik setelah Sasuke terjatuh, Bola Api kecil perlahan-lahan mengelilingi Tubuhnya. Berpendar dengan terang, membentuk pola yang saling terhubung menyerupai simbol Cinta.
Jasad Sasuke yang ada di dalamnya, perlahan terbakar kemudian menghilang, Tak menyisakan apapun lagi tentang Sosok Sasuke. Tubuh itu lenyap.
Amethyst Hinata terbelalak karena terlalu shock. Ia bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa, semua ini begitu mendadak!
Yang ada di fikirannya saat ini, Bagaimana... jika Sasuke sudah mati?!
"SASUKEEE!-"
"Aku di hatimu, Manis." Gadis bersurai Indigo itu terkesiap, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat Tahu-tahu Sasuke sudah berada di sampingnya, tersenyum hangat kepadanya.
APA? Tapi kapan-
"Jadilah kekasihku." Ujarnya bersungguh-sungguh sambil memberikan Mawar merah yang mekar dengan indah, kepada Hinata. "Karena aku... hanya mencintaimu."
Taburan Jutaan Kertas yang jatuh perlahan-lahan semakin membuat Hinata tak mampu melakukan apa-apa selain meneteskan airmata, ia masih syok dengan semua yang menimpanya hari ini. Dimulai dengan Sasuke dan Itachi... lalu ia jatuh, mati... dan Simbol api itu... kemudian Mawar dan... dan- bagaimana bisa?
"A-aku... aku..." Hinata semakin merasakan pandangan matanya mengabur karena airmatanya, ia tak tahu harus membalas seperti apa.
"Katakanlah kau mau." Ujar Sasuke memohon, lalu mengusap airmata Hinata dengan lembut. "Katakanlah bahwa kau menerimaku."
Pandangan mata Sasuke yang dalam, entah mengapa terasa menyejukkan Hati Hinata. Seolah mampu memadamkan api membara yang sempat membakar hatinya.
Sasuke... begitu menenangkan.
Sang gadis berambut Indigo itu tersenyum, kemudian merangkul tengkuk Sasuke dengan perlahan. ya Tuhan... bagaimana Hinata bisa menghindar sekarang?
"Kau tahu, aku mencintaimu dengan tulus, Hinata. Hanya kamu."
"Sasu... ke?" Hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya, membuat Hinata memejamkan matanya. Menikmati jarak mereka berdua yang semakin menipis.
Ya, Hinata... ia akan Menerima sang bungsu Uchiha ini menjadi kekasihnya.
"Aku mau." Bisik Hinata pelan sebelum kedua bibir mereka saling bertemu. Berciuman dengan lembut, tanpa ada lagi salah paham yang terasa menyesakkan.
.
.
.
The End
.
.
.
Ada omake loh :D #bletak!
-_- nah, udah ya! Utangku lunas ya! T_T #plak# Untuk Desty-san, Lgaara-nee, dan Kimi-san yang kemaren udah minta Prakuel T_T udah lunas yaaa, sah ya? #lemes# *dihajar*
Special Thanks juga untuk: Line-san, Hazelleen-san, Chintya-san, Siskap-san, Ryuu-san, NM-san, 666-san, Hanna-san, Gina-san, Rei-san, Puchan-san, Anis-san, Aine-san, Aliefah-san dan juga Krisan-san. Kalau ada yang mau membaca dialog SasuHina di Road To Ninja (Charasuke) silahkan buka Link: .
Keren ttebayo! #plak# ah ya, yang memberi tahu tentang hal ini (padaku) adalah Krisan-san :') terimakasih buanyak informasinya Krisan-san *bungkuk* SasuHina... akan tetap jadi idola di Hati kita! :D terimakasih banyak! ^_^
Uhm, dan untuk sequel untuk Dawn, aku usahakan minggu depan ya? :) terimakasih sudah membaca! :3 maafkan saya kalau buanyak salah kata, fict ini hanyalah humor belaka T_T #bungkuk#
Sampai jumpa di fict lain :D RnR please?
Salam Hangat, Hikari No Aoi.
.
.
.
Omake
.
.
.
Letusan kembang api di langit membuat Tobi terbahak-bahak, siapa lagi yang menyalakannya selain pemuda bertopeng ini? "Seni itu ledakan, Deidara-kun!"
Laki-laki yang model Rambutnya menjadi mirip Naruto ini tak mampu menyembunyikan kemarahannya, segitiga merah sudah tampak berkedut kencang di atas ubun-ubun Kepalanya. "TOOOBBIIIII!"
"Bwahahaa Dei-kun jadi jelek!"
"Bocah tengik, akan ku tunjukkan kalau Seni itu bukan ledakan, un!" kemudian, Deidara mengeluarkan Jutsu andalannya untuk memanggil Burung kesayangannya. "AKAN KUBUNUH KAU, TOBI!"
Sementara itu, Itachi, Kakuzu dan Sasori tengah ber High-Five ria bersama Konan. Keempat Shinobi itu memang telah bekerjasama untuk mengatur semua ini. Dari Api miliknya Itachi, Benang Chakra dan Jahitan *?* milik Kakuzu dan Sasori untuk menahan tubuh Asli Sasuke, Juga Taburan kertas Konan agar suasana menjadi semakin romantis.
Ditambah dengan Kembang Api dari Tobi, semakin semaraklah adegan perjodohan ini.
"Hah, akhirnya mereka berdua bisa bersatu juga." Ujar Sasori sambil bersedekap tangan, wajahnya tersenyum puas.
Itachi mengangguk, ia kemudian menggunakan Jurus; Katon Gokyaku No Jutsu miliknya untuk membuat Api tersebut semakin terang. "Ahh, Adikku sudah dewasa."
Mendengar kalimat Itachi barusan, Konan langsung tersadar. "Ja-jadi apa yang kalian lakukan tadi siang, Itachi-kun?"
Sulung Uchiha itu mengernyit dengan pertanyaan Konan, maksudnya? "Yang mana?"
"D-di semak tadi siang."
Kakuzu menimbrung, meski agak kesusahan karena tubuhnya yang sempoyongan. "Hee? Memang-hik ada apa, Konan?"
Gadis berambut Sebahu itu lalu membuang wajahnya kesamping. Ia tersipu. "Uh, t-tidak... bukan apa-apa, jangan di fikirkan."
Memilih untuk tak terlalu memikirkannya, Itachi kemudian memandang ke arah Jendela yang kini menampakkan Siluet Sasuke dan Hinata.
Ah, Mereka berdua... begitu serasi.
Tesenyum tipis, Itachi kemudian mengajak keempat temannya itu untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok pagi-pagi sekali. "Sudah malam, ayo kita kembali ke penginapan."
Sasori merengut, ia protes saat Kakuzu limbung dan bertumpu sepenuhnya kepadanya. Maksudnya... ia yang harus memapahnya, begitu? "Heii, Itachi-kun setidaknya bantulah aku!"
Itachi hanya mengangkat bahu acuh, lalu melenggang pergi begitu saja. "Gunakanlah Bonekamu."
"HEEE?! Konan, Konan... bantu aku!"
"Aku lelah."
"PEIN, HIDAN, ZETSU, KISAME, TATSUKETE!"
"Mereka sudah Tidur-Hik." Kata Kakuzu kalem.
"WOIIII!"
