The Story of Namikaze Uzumaki Naruto
Disclaimer: I don't own Naruto or any other character in it.
Rate: T
Genre: Adventure, a little Romance, Family, and Mystery.
Main Pair: Naruto x Hinata.
Warning: gaje, abal, (miss) typos, OCs, OOC, ide pasaran, n berbagai teman"nya.
A/N:
"human"
'human thinking'
"bijuu"
*'bijuu'*
.
.
.
.
.
Chapter 2: Menyelamatkan?
Sore yang menenangkan menyelimuti desa konoha saat ini. Sudah satu bulan lamanya sejak naruto berjumpa pamannya dan mengetahui siapa kedua orang tuanya. Selama satu bulan ini naruto selalu mengunjungi kediaman pamannya dan menghabiskan waktu bersama. Naruto bahagia bisa merasakan bagaimana kehangatan keluarga walaupun hanya bersama pamannya. Walaupun begitu dia merasa sedikit sedih mengetahui bahwa pamannya sedang sakit.
**Flashback On**
Pagi yang cerah menyelimuti desa Konoha dan sekitarnya, termasuk hutan kematian. Di dalam hutan kematian terlihat seorang bocah dan pria dewasa sedang menikmati keindahan pagi ini. Bagi naruto, hutan kematian tidaklah menyeramkan lagi, malahan cukup indah. Hanya kehadiran hewan-hewan yang tidak normal yang membuat Naruto sedikit takut.
"He~ Benarkah.?"
"Ya benar. Kau sangat mirip dengan kushina dalam hal membuat kekacauan.*uhuk* Waktu kecil dia selalu menjahili orang dewasa disekitarnya. Pernah dia menarik rambut palsu seorang pria tua, melepaskan kucing istri daimyo yang baru saja berhasil ditangkap. Dan setiap kali dia dimarahi oleh mereka, paman yang harus minta maaf." Kata fuuruto lalu menghela napas mengingat masa kecilnya.
Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum lalu meminum teh hijau dan memakan onigiri yang telah tersedia.
Sungguh ini merupakan hari yang sempurna bagi Naruto. Adakah yang bisa menghancurkan hari ini? #ya ada, naruto. dan author telah mempersiapkannya~ bwahahahaha~#brisik#plak#
"ship"
Naruto dan fuuruto mendengar suara asing di sekitarnya.
"ship"
Naruto melihat fuuruto dengan pandangan bertanya. Furuto hanya menggelengkan kepalanya menandakan dia juga tidak tahu.
"ship"
Naruto berpikir bahwa itu adalah suara salah satu hewan di hutan ini. Entah kenapa bagi naruto suara itu terdengar menyedihkan.
"ship"
Naruto memutuskan untuk mencari dari mana suara itu berasal.
"Naruto apa yang kau lakukan?"
"Mencari asal suara itu, paman." Jawab naruto tanpa melihat fuuruto. Fuuruto yang mendengar itu hanya menghela napas -lagi- kemudian mengikuti naruto dari belakang.
"ship"
Suara itu semakin jelas terdengar. Dan semakin terdengar menyedihkan. Semakin dalam mereka memasuki hutan tetapi belum menemukan 'apa' asal suara itu.
Aneh. Kenapa mereka bisa mendengar suara yang berasal lumayan jauh dari tempat mereka tadinya.
'hmm..' Sebenarnya fuuruto tahu kenapa dia bisa mendengar suara itu, karena dia adalah seorang shinobi yang terlatih, sehingga bisa mendengar suara yang berjarak puluhan meter darinya. Tetapi dia tidak tahu kenapa naruto bisa mendengar suara itu juga.
"ship"
Ketika mereka melewati semak-semak, betapa kagetnya mereka melihat keadaan sekitar. Dalam radius 100 meter, keadaan di sini sangat berantakan seperti baru saja terjadi pertempuran. Pepohonan yang hangus terbakar, tanah yang berantakan tidak rata, dan beberapa bercak darah dimana-mana. Naruto yang melihat itu merasa mual mau muntah.
"ship"
Memperhatikan lebih teliti, terlihat seekor rubah putih kecil menangisi dua ekor rubah putih dewasa yang tergeletak tak bernyawa. Naruto yang melihat itu langsung berlari ke arah rubah itu, tidak memperhatikan sekitar dan seolah rasa mualnya sudah hilang. Fuuruto mengikuti naruto dari belakang dengan sikap waspada.
Rubah kecil yang merasakan kehadiran seseorang, menoleh kebelakang dan terlihat seorang bocah berlari kearahnya.
"Raawrr!" Rubah itu meraung marah seolah tidak ingin ada yang mengganggunya dan mengambil orang tuanya.
Naruto yang melihat itu memperlambat larinya dan berhenti dua meter dari rubah itu.
Dia melihat keadaan rubah kecil itu yang terluka walaupun tidak separah kedua rubah dewasa dibelakangnya yang tak bernyawa.
"RAAWRR!"
"Tenaglah rubah kecil. Aku ingin menolongmu." Kata naruto sambil melangkah kecil mendekati rubah itu.
"RAAWRR!" Rubah itu semakin marah dan takut ada yang mengambil orang tuanya. Sekilas terlihat lingkaran api mengelilingi rubah itu sebelum jatuh pingsan.
Naruto yang melihat api mengelilingi rubah itu kaget. Lau berlari ke rubah itu mengecek apakah rubah itu masih bernyawa. Memastikan bahwa rubah kecil itu masih hidup, naruto menghela napas lega. Lalu mengecek dua rubah dewasa yang terlihat mengenaskan. Naruto sedih ketika dia tidak merasakan detak jantung kedua rubah itu.
"*uhuk* *uhuk* Apa yang terjadi?" Tanya fuuruto pura-pura tidak melihat api tadi.
"Tidak ada. Paman ayo cepat kita bawa rubah-rubah ini ke kuil." Kata naruto sambil perlahan menggendong rubah kecil yang pingsan.
"Baiklah." Kata fuuruto sambil membawa kedua rubah yang lain.
Pagi telah berganti siang. Di dalam kuil kuno yang berada di hutan kematian, Naruto duduk disebelah rubah putih kecil, dengan kaki dan leher yang dibalut perban, yang terlihat tidak sadarkan diri sambil sedikit membersihkan bulu putih rubah itu.
Srek. Pintu terbuka memperlihatkan fuuruto yang membawa baskom kecil berisikan air hangat dan handuk kecil.
"Bagaimana?" Tanya fuuruto sambil memberikan baskom itu kepada naruto dan duduk di sebelahnya.
"Belum sadarkan diri." Kata naruto sambil mencelupkan handuk kecil itu dan membasuh rubah itu.
"*uhuk* *uhuk*" fuuruto batuk- batuk. 'Gawat' batin fuuruto menutup mulutnya dengan syal yang dibalutkan di lehernya sambil berjalan keluar ruangan menuju pintu depan dan keluar kuil.
Merasa ada yang aneh, naruto mengikuti pamannya.
"Paman. Sebenarnya paman kenapa?" Tanya Naruto khawatir.
"Apa maksudmu-*uhuk* *uhuk*" Batuk fuuruto semakin parah dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Melihat itu, fuuruto berjalan ke tong berisikan air didekatnya dan membasuh darah yang ada di tangannya.
"Darah!? Sebenarnya paman kenapa?" Tanya Naruto semakin khawatir. Dia tahu ada yang tidak beres dengan pamannya.
Merasa sudah tidak bisa menghindar lagi, fuuruto menghela napas. Kemudian berkata "Sebenarnya sejak kecil paman memiliki tubuh yang lemah, dikarenakan paman memiliki cakra yang besar dan unik."
"Apa maksudnya?" Tanya Naruto bingung.
"Paman memiliki cakra yang besar dan unik, akan tetapi tubuh paman tidak bisa menahannya sehingga membuat tubuh paman semakin lemah setiap harinya."
"...!?" Naruto yang mendengarnya kaget dan memasang wajah sedih.
"Inilah sebabnya paman tidak ingin memberitahu hal ini, paman tidak ingin kau sedih."
"..."
"Naruto. Paman ingin menceritakan sesuatu. Waktu kecil paman dan ibumu datang ke konoha untuk memenuhi permintaan Uzumaki Mito-sama, istri Shodaime Hokage-sama. Uzumaki Mito-sama adalah jinchuriki kyubi yang pertama, akan tetapi di umurnya yang sudah sangat tua dia tidak bisa lagi menahan kyubi. Oleh sebab itu kami dipanggil ke konoha untuk dipilih siapa yang akan menjadi jinchuriki kyubi selanjutnya, karena kami berdua memiliki cakra yang unik yang mampu menahan kyubi."
"Seharusnya paman yang menjadi jinchuriki kyubi, paman memenuhi semua syarat, kecuali satu tubuh paman yang lemah. Kemudian Mito-sama memilih kushina sebagai jinchuriki kyubi selanjutnya. Paman menolak, tentu saja, kushina menjadi jinchuriki kyubi yang kedua, paman mengatakan bahwa paman siap menjadi jinchuriki kyubi. Akan tetapi mito-sama mengatakan bahwa dia tidak ingin mengorbankan seorang anak kecil untuk suatu hal yang tidak akan bertahan lama."
"A-a-apa? Ja-jadi.."
"Ya. Benar. Maafkan paman, naruto. Paman tidak bisa mencegah ibumu menjadi jinchuriki." Kata fuuruto sedih sambil menundukkan kepalanya.
"... Tidak apa paman. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Sekarang marilah kita fokus pada masa sekarang." Kata naruto.
Fuuruto tersenyum miris, betapa kuatnya keponakannya ini.
"ship" mendengar sebuah suara, mereka melihat ke arah pintu depan dan terihat seekor rubah putih dengan kaki dan leher dibalut perban.
"Oh. Kau sudah bangun rupanya." Kata fuuruto sambil mereka berjalan mendekati rubah itu.
"RAAWRR!" Rubah itu meraung marah dan takut, tidak menemukan kedua orang tuanya.
"Hei tenanglah. Orang tuamu ada dibelakang. Kami belum menguburnya karena kami menunggu kau sadar terlebih dahulu." Kata naruto mencoba menenangkan rubah itu.
"Raawrr!" Rubah itu kemudian berlari kebelakang kuil seolah mengerti apa yang diucapkan naruto.
"Hei tunggu." Kata naruto. Kemudian mereka berlari menyusul rubah itu.
"ship"
Sesampainya mereka di belakang kuil. Mereka melihat rubah kecil itu menangisi kedua orang tuanya yang diselimuti kain putih hingga hanya kepala saja yang kelihatan disamping dua lubang kecil yang sengaja dibuat fuuruto sebelum dikuburkan.
"Raawrr!" Rubah itu meraung kearah Naruto dan fuuruto.
"Hei tenanglah. Mereka tidak kami apa-apakan kok. Hanya kami selimuti sebelum dikubur dengan layak." Kata fuuruto menjelaskan.
"ship" Rubah itu kembali menangisi kedua orang tuanya.
Beberapa menit kemudian rubah itu sudah mulai tenang.
"Jadi bagaimana kalau kita menguburkan mereka sekarang? Mereka tidak akan tenang di alam sama jika tubuh mereka tidak diberikan tempat yang layak." Kata fuuruto.
"ship" Rubah itu mengangguk seakan mengerti perkataan fuuruto.
Fuuruto kemudian mendekati mayat kedua rubah putih itu, menutup kepala mereka dan meletakkan dengan lembut kedua rubah itu pada masing-masing lubang.
"Sebelum itu, kita akan mengatakan kata-kata penghargaan kepada mereka." Kata fuuruto.
"Dimulai dari aku saja. Oh dua yokai rubah api yang terhormat, sungguh besar jasa kalian di dunia ini. Kau rela mati demi melindungi anak kalian. Aku sungguh menghormati kalian. Semoga kalian mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana, dan beristirahatlah dengan tenang." Kata fuuruto sambil memperagakan pose-pose yang aneh. Naruto tidak mengerti apa yang dikatakan pamannya. Sedangkan rubah kecil itu kaget mendengar apa yang dikatakan fuuruto, tidak menyangka fuuruto tahu 'apa' sebenarnya dia.
"Sekarang giliranmu rubah kecil." Kata fuuruto mempersilahkan.
Ketika rubah kecil itu sudah mulai tenang, dia berkata "ship ship ship sh-"
"Tidak.. tidak.. bukan seperti itu. Bebicaralah dengan normal untuk menghormati mereka." Kata fuuruto sambil tersenyum.
Naruto tidak mengerti apa yang dikatakan pamannya, bukankah seperti itu rubah normal berbicara? Sebelum..
"*hiks* Tou-san. Kaa-san.*hiks* Maafkan tsumi karena tidak mendengar perkataan kalian.*hiks* Karena tsumi *hiks* kalian jadi seperti ini."
Naruto kaget mendengar suara feminim keluar dari mulut rubah itu. Sedangkan fuuruto hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk.
"*hiks* Tsumi berjanji akan menjadi rubah api yang baik. Tsumi akan menjadi kuat dan akan membalas perbuatan mereka." Kata rubah api itu dengan penekanan di akhir kalimatnya.
Naruto dan fuuruto yang mendengar itu, merinding dan meneteskan setitik keringat dari kening mereka.
"Baiklah. Mungkin itu saja sudah cukup karena aku yakin Naruto masih belum mengerti." Kata fuuruto sambil mengambil sekop yang bersandar di salah satu pohon terdekat dan mulai menutupi kuburan kedua rubah api dewasa itu.
Setelah tertutup sempurna, fuuruto mengambil dua batu yang cukup besar di dekatnya dan mengambil alat tulis kanji dari bagian lengan yukatanya, hendak menuliskan sesuatu di batu itu. Akan tetapi..
"Umm. Siapa nama kedua orang tuamu, rubah kecil?" Fuuruto tidak tahu mau menulis apa.
"Nama ayahku adalah Kitsuhiro, dan ibuku adalah Yasaka." Kata rubah itu.
"Baiklah." Kata fuuruto sambil menulis di batu itu.
Kemudian fuuruto menepuk tangannya dua kali lalu berdoa, diikuti oleh naruto dan rubah kecil itu.
"Semoga kalian tenang di alam sana." Kata rubah kecil itu.
"Baiklah. Mari kita ke depan lagi." Ajak fuuruto. Naruto dan rubah kecil itu hanya mengangguk dan mereka berjalan ke depan kuil kembali.
"Apa ada yang mau minum teh?" Tanya fuuruto sambil berjalan memasuki kuil tanpa menunggu jawaban.
Sepeninggal fuuruto, keadaan menjadi sunyi. Naruto yang merasa tidak nyaman, mencoba untuk mencairkan suasana. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.
"Baik. Maaf tadi telah berburuk sangka pada kalian. Dan terima kasih sudah menolongku." Kata rubah itu sambil membungkukkan(?) badannya dengan hormat.
"Maa~ maa~ tidak perlu dipikirkan." Kata naruto sambil mengibaskan tangannya.
"Ya. Tidak perlu dipikirkan rubah kecil." Kata fuuruto yang kembali sambil membawa nampan yang terdapat tiga teh hijau dan beberapa onigiri diatasnya.
Rubah kecil yang mendengar itu hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Ngomong-ngomong rubah kecil, kau sudah bisa berubah ke wujud manusiamu." Kata fuuruto sambil tersenyum. Rubah kecil yang mendengar itu hanya mengangguk dan..
Naruto yang mendengar itu hanya bisa bingung dan bertanya "apa maksudnya-" dan..
Pooft. Muncul kepulan asap di sekitar rubah kecil tadi.
Ketika kepulan asap mulai menipis, samar-samar naruto melihat seorang gadis kecil berambut putih sebahu yang tidak mengenakan apa-apa hanya kedua tangan dan kaki dan leher yang dibalut perban, sebelum pandangan naruto nge-blank terkena genjutsu yang diciptakan fuuruto.
Fuuruto yang melihat kejadian di depannya hanya bisa menghela napas -lagi- sambil memijat pelipisnya.
"Nee.. rubah kecil, kenapa kau tidak mengenakan pakaian?" Tanya fuuruto.
"Hmm? Karena aku belum bisa menggunakan kekuatan untuk membuat pakaian ketika aku bertransformasi menjadi manusia." Kata gadis kecil itu polos.
"hahh.. baiklah.. kalau begitu kau harus mengenakan pakaian terlebih dahulu sebelum aku menyadarkan naruto." Kata fuuruto sambil mengeluarkan sebuah gulungan kecil dari lengan yukatanya, membukanya, berjongkok, lalu membuat beberapa handseal dan menyentakkan tangannya di atas gulungan tersebut.
Pooft. Muncullah satu set kimono dari gulungan tadi.
Setelah memastikan gadis kecil itu berpakaian, fuuruto membuat handseal tora dengan tangan kanannya lalu berkata "kai!" dan naruto telah lepas dari genjutsunya.
"Wow. Apa itu tadi?" Tanya Naruto bingung sambil memperhatikan sekitarnya. Ketika kepulan asap tadi mulai menipis, tiba-tiba pandangan naruto berubah menjadi putih semua.
"..." Naruto terdiam ketika melihat seorang gadis kecil, yang menurutnya berumur lima tahun, berambut putih sebahu mempunyai mata berwarna hijau mengenakan kimono biru langit dengan motif bunga lili putih serta leher dan kedua kaki dan tangan dibalut perban berdiri di tempat rubah kecil tadi berada.
"Baiklah. Rubah kecil, perkenalkan namaku Uzumaki Fuuruto, dan anak ini adalah keponakanku, Uzumaki Naruto." Kata fuuruto sambil menunjuk dirinya dan naruto yang hanya mengangguk belum bisa berkata apa-apa.
"Sekarang, siapa namamu?" Kata fuuruto sambil tersenyum.
Gadis kecil itu mengangguk kemudian berkata "Baiklah. Nama saya adalah Kitsumi, anda bisa memanggil saya Tsumi. Seperti yang anda tahu, saya adalah Yokai Kitsune lebih tepatnya Yokai Rubah Api." dengan formal, seperti seorang putri yang memperkenalkan diri.
"maa~ maa~ Tidak perlu terlalu formal." Kata fuuruto sambil mengibaskan tangannya.
"Yo-yokai?" Tanya Naruto bingung.
"Ya benar. Karena itulah kau bisa mendengar suaranya tadi walaupun jaraknya cukup jauh. Karena kekuatan yokai-nya." Kata fuuruto menjelaskan. Naruto mengangguk mengerti.
"Baiklah. Tsumi-chan, kalau aku bisa memanggilmu seperti itu-" tsumi mengangguk "-apa yang terjadi pada kalian sehingga tempat dimana kami menemukanmu seperti terjadi pertempuran di sana?" Tanya fuuruto.
Tsumi menunduk sedih. Kemudian menceritakan bahwa keluarganya adalah salah satu yokai rubah api yang yang terpandang karena kemampuan api rubah mereka yang berbeda dan hebat, dan juga karena bulu mereka yang berbeda dimana rubah api pada umumnya mempunyai bulu berwarna oranye kemerahan. Karena para yokai rubah yang lainnya memandang dan mengagumi keluarganya, sehingga mereka berharap banyak pada darinya dan dia tidak mempunyai waktu bermain, yang ada hanya latihan, latihan, dan latihan.
Tsumi memutuskan lari dari rumah beberapa hari yang lalu. Pada saat itu, dia bertemu beberapa shinobi pembenci yokai. Dia disiksa oleh para shinobi tersebut, sampai pada akhirnya kedua orang tuanya menemukannya dan mencoba menyelamatkannya dan terjadilah pertempuran. Kedua orang tuanya menang, akan tetapi kedua orang tuanya tidak bertahan lama dan akhirnya meninggal.
"..."
"..."
Fuuruto dan naruto tidak tahu harus berkata apa. Naruto terlihat hendak menangis mendengar cerita tersebut.
"Ini semua salah tsumi. Kalau saja tsumi mendengar perkataan kaa-san dan tou-san, mereka tidak akan berakhir seperti itu." Kata tsumi sambil menutupi wajahnya dan menangis.
"Hei tenanglah. Kedua orang tuamu tidak akan menyalahkanmu. Sudahlah, jangan menangis lagi. Orang tuamu tidak akan tenang di alam sana jika mereka melihatmu menangis. Tenanglah.
Masa lalu biarkanlah berlalu, sekarang mari kita songsong masa depan yang lebih baik lagi." Kata naruto tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala tsumi.
Wajah Tsumi memerah karena mendengar perkataan naruto dan merasakan kepalanya ditepuk. Sedangkan fuuruto hanya tersenyum bangga pada keponakannya.
Ketika mulai tenang, tsumi berkata "Nee~ onii-chan, maukah onii-chan menjadi masternya tsumi?" sambil memperhatikan wajah naruto.
Fuuruto kaget mendengar hal itu. Dan naruto berkata "Hmm? Tidak, tidak. Jangan menganggapku sebagai master. Lebih baik kita berteman saja -ttebayo. Bagaimana?" sambil mengulurkan tangannya dan tidak menyadari mengucapkan kata aneh di akhir perkataannya.
Tsumi yang mendengar itu kembali memerah, kemudian memeluk naruto sambil berkata "Ha'i. Terima kasih onii-chan."
Naruto kaget karena dipeluk tsumi. Lalu mengelus-elus kepala tsumi dipelukannya. Naruto merasa seperti memiliki seorang adik perempuan. Sedangkan fuuruto hanya mengangguk-angguk dan tersenyum penuh arti.
**Flashback Off**
Ya. Naruto mendapat teman baru, walaupun bukan manusia tetapi Naruto senang.
Naruto mengambil selembar foto dari saku belakangnya yang didapatkan dari pamannya. Terlihat di foto itu sepasang suami istri yang sangat serasi dan terlihat bahagia karena sang wanita sedang mengandung.
Pria di foto itu terlihat tampan, masih muda berumur sekitar pertengahan 20-an, berambut kuning cukup panjang di kedua sisi wajahnya, berkulit tan, mengenakan pakaian standar jounin dan jubah putih dengan jilatan api dibawahnya khas jubah hokage, tersenyum dan menutup matanya -yang dia tahu berwarna blue sapphire- sambil tangan kanan mangacungkan dua jari huruf 'V' -tanda peace- dan tangan kiri memeluk istrinya.
Sedangkan wanita yang dipeluk terlihat sedikit merona sambil memegangi perutnya yang membuncit. Wanita itu terlihat masih muda berumur sekitar pertengahan 20-an, berambut merah sepunggung, mempunyai mata berwarna biru, berkulit putih porselen yang membuatnya kelihatan cantik, serta mengenakan pakaian ibu rumah tangga.
Memperhatikan perut wanita itu naruto tahu bahwa didalam sana adalah dirinya.
"TOLONG.!"
Naruto kaget mendengar suara seseorang meminta tolong. Kemudian menyimpan fotonya di saku belakang celananya.
"TOLONG.!"
Dia mencoba mencari dari mana suara itu berasal.
"Tolong.!"
Suara itu berasal dari arah pepohonan belakang taman bermain. Dia berlari secepatnya ke arah pepohonan dan melihat seorang anak perempuan, yang menurutnya seumuran dengannya, tersudut dikepung tiga anak laki-laki yang berumur sedikit lebih tua.
"Heh.. aku ingin sekali memukul seorang Hyuga yang sombong. Apalagi Hyuga Neji sialan itu." Kata anak pertama.
"Ya. Seorang hyuga selalu membuatku jengkel." Kata anak kedua menyetujui.
"Lebih terasa menyenangkan kalau kita bisa membalas hyuga neji sialan itu." Kata anak ketiga yang ingin sekali balas dendam kepada seseorang.
"Dan apa yang kita dapat disini? Seorang hyuga kecil rupanya. Apa dia sama sombongnya dengan neji sialan itu heh?" Kata anak pertama menyeringai mengejek.
"Tentu saja Koda-san. Semua orang dari clan hyuga selalu membuatku muak. Merasa clan mereka yang paling kuat di konoha dan menyombongkan diri." Kata anak kedua kepada anak pertama yang diketahui bernama Koda. Anak laki-laki berambut coklat melawan gravitasi, bermata purple night sky dengan kulit tan yang membuat anak ini terlihat cukup tampan.
"Jika diperhatikan lagi Koda-kun Tora-kun, anak ini sedikit mirip sama neji sialan itu. Apa mungkin dia sepupunya neji sialan itu?" Kata anak ketiga kepada koda dan anak kedua yang diketahui bernama Tora. Anak laki-laki berambut putih acak-acakan, mempunyai mata coklat yang tajam, dimulutnya dia menggigiti sehelai rumput dan terlihat sedikit gigi taring disana menambah kesan liar diwajahnya.
Memperhatikan anak perempuan didepan mereka. Seorang anak perempuan berambut purple lavender sebahu mempunyai mata amethyst khas clan hyuga berkulit putih porselen membuat anak ini terlihat cukup cantik.
"Hmm. Kau benar juga Sado. Dia mirip dengan neji sialan itu." Kata koda menyetujui pendapat anak ketiga yang diketahui bernama Sado. Anak laki-laki gendut berkulit hitam berambut coklat yang menutupi matanya hingga tak terlihat serta memakai topi kupluk.
"T-tolong. Mau a-apa kalian bertiga d-denganku?" Kata anak perempuan itu gugup bergetar ketakutan.
"Heh mau apa katamu? Kau harus minta maaf pada kami dengan berlutut karena telah menjatuhkan es krim sado."
"A-aku sudah minta m-maaf tadi. T-tolong biarkan aku pergi." Kata gadis kecil itu mengingat dia telah meminta maaf tadi.
"Heh sudah kubilang berlutut." Kata koda.
"Hei cepat berlutut dan meminta maaf." Kata tora mulai tidak sabar lalu menarik rambut gadis itu memaksanya berlutut.
"Ahh" Kata gadis itu merasa kesakitan karena rambutnya ditarik cukup kuat.
"Hmph. Dia sama saja angkuhnya seperti neji sialan itu." Kata sado menatap tidak suka pada gadis didepannya.
"Ayo cepat minta maaf.!" Kata tora sambil memperkuat tarikannya di rambut gadis itu.
"Ahh. M-maafkan aku. T-tolong lepaskan aku." Kata gadis itu kecil, kesakitan rambutnya ditarik semakin kuat.
"Apa? aku tidak dengar. Ngomong yang jelas.!"
"M-maafkan a-aku." Kata gadis itu bergetar hendak menangis.
"Hei aku bilang minta maaf bukan menangis. Ayo minta maaf." Kata koda hendak memukul kepala gadis itu-
"HEI BERHENTI.!" Teriak naruto.
Akan tetapi berhenti dan berbalik menemukan seorang anak kecil berdiri dibelakang mereka.
"Heh? Siapa kau?" Kata tora meremehkan.
Memperhatikan lebih teliti sado tahu siapa anak itu "Koda-kun, Tora-kun, dia adalah anak 'itu'.!"
"Aku bukanlah anak 'itu'.! Aku adalah Uzumaki Naruto. Berhenti kalian dan pergilah.! Atau akan merasakan kehebatanku." Kata naruto mencoba untuk menakuti mereka.
"Heh.. anak ini adalah 'dia'? Banyak omong juga kau mencoba melawan kami bertiga." Kata koda meremehkan.
"Aku sudah memperingatkan kalian.!" Masih mencoba untuk menakuti mereka.
"Heh. Jangan banyak omong." Kata koda tidak suka sambil berlari kearah naruto.
Naruto juga berlari kearah koda. Mencoba untuk memukul koda, tetapi koda menghindar dan melakukan swift kick menendang punggung naruto membuatnya tersungkur jatuh kedepan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan koda hendak menendang naruto tetapi naruto berguling ke kanan menghindar dan menendang dada koda hingga mundur beberapa langkah. Lalu naruto berdiri, menyeka darah dari bibirnya.
Naruto kembali berlari ke arah koda. Koda mencoba memukul naruto tetapi naruto menghindar dan manendang punggung koda menggunakan cara yang sama yang dilakukan koda. Tetapi koda tidak terjatuh, dia melakukan spin kick ke belakang menggunakan kaki kanannya lalu front kick membuat naruto terjatuh kembali. Tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua, koda berusaha untuk duduk diatas tubuh naruto dan berhasil.
"Heh. Berlagak sombong kau dasar monster." Kata koda sambil memukuli wajah naruto.
Naruto yang dipukuli melihat pandangan koda pada dirinya.
"..." Pandangan itu. Mata itu. Adalah hal yang paling dibencinya.
Naruto terus dipukuli oleh koda. Kedua teman koda tertawa mengejek naruto. Sampai..
"HINATA-SAMA..!" Datang seorang pria muda dewasa berlari kearah mereka.
"Oh sial.!"
"Ayo pergi.!" Kata koda mengajak kedua temannya untuk lari. Dan merekapun lari meninggalkan tempat itu.
"Hinata-sama maafkan saya karena telah meninggalkan anda." Kata pria tersebut membantu gadis itu berdiri yang diketahui bernama Hinata, Hyuga Hinata. Kemudian merapikan rambut dan pakaian hinata yang berantakan.
"..." Hinata terdiam masih sedikit terisak dan tidak mengatakan apapun.
"Ayo kita pulang Hinata-sama." Kata pria itu mengulurkan tangannya mengajak gadis itu pulang.
"T-tunggu.! Kita harus membawanya. Dia telah menyelamatkan aku." Tunjuk hinata kearah seorang anak kecil yang tergeletak di dekat mereka.
Pria yang mempunyai mata amethyst khas clan hyuga itu melihat arah yang ditunjuk hinata dan kaget karena dia tahu siapa anak itu.
"Tidak hinata-sama. Sebaiknya anda tidak dekat-dekat anak itu." Katanya sambil menarik tangan hinata sedikit memaksa untuk pulang.
"T-tapi.. tapi.." Kata hinata mencoba untuk mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada anak itu.
"Tidak hinata-sama." Kata pria itu sambil menarik tangan hinata dan tidak melihat kebelakang.
Hinata yang tidak bisa melawan hanya melihat kebelakang ke arah anak itu.
'Uzumaki Naruto' batinnya mengingat nama anak itu, penyelamatnya.
Malam yang indah kembali menyelimuti suasana di desa konoha. Walaupun sudah malam kesibukan di desa ini masih berlanjut.
Di salah satu apartement desa ini kita dapat melihat seorang anak kecil duduk sambil mengompres luka lebam yang ada dipipinya -membuat tanda lahir seperti kumis kucingnya terlihat jelek-, disebelah ramen instan yang sedang diseduh.
'Ahh sial.' Batin naruto.
*'Dasar lemah'*
"...!" Naruto kaget mendengar suara asing didalam kamarnya. Memperhatikan sekelilingnya tetapi tidak melihat siapapun.
Berpikir bahwa yang berbicara adalah seorang shinobi yang membuat dirinya tidak terlihat, dia berkata "Siapa itu? Tunjukkan dirimu."
*'Tentu saja kau tidak akan melihatku jika seperti itu bodoh. Tutuplah matamu, fokuslah dan ikuti suaraku.'*
Merasa bahwa itu hanya sebuah lelucon naruto tidak melakukannya. Malah memakan ramen instannya yang sudah matang.
*'Aku tidak bercanda gaki. Cepatlah kemari.!'* Merasa jengkel dengan lawan bicaranya.
Naruto yang mendengar itu berpikir sejenak sambil terus memakan ramennya.
*'HEI CEPATLAH..!'*
Menutup telinganya yang berdengung naruto menyudahi makan malamnya.
"Seperti ini?" Kata naruto sambil menutup matanya.
*'Ya. Fokuslah dan ikuti suaraku.'*
Naruto terdiam mencoba mencerna apa makna kata 'fokus' dalam hal ini.
*'Pergilah ke alam bawah sadarmu.'* Katanya jengkel sekaligus lelah bicara dengan bocah ini.
Naruto yang mendengar itu mencoba fokus pergi ke alam bawah sadarnya.
Ketika dia membuka matanya, dia kaget karena ini bukanlah kamarnya. Dia berada di sebuah saluran air bawah tanah yang gelap dengan obor berpenerangan minim dan genangan air disepanjang lorong ini.
"Bagus. Sekarang ikuti suaraku."
Naruto yang mendengar suara yang sama berasal dari depannya kemudian berjalan ke arah sumber suara tersebut. Sesampainya di ujung lorong ini, naruto kaget menemukan pintu besi yang sangat besar dengan kertas segel yang besar di hadapannya.
"Hei. Siapa disana?" Kata naruto mencoba memanggil 'siapapun' yang berada di balik kurungan itu.
"Khu khu khu. Akhirnya kita bertemu gaki." Kata suara dalam yang bergema dan menampakkan sosoknya. Monster rubah berwarna orange dengan sembilan ekor yang melambai.
Naruto yang melihat monster muncul dihadapannya kaget. Setelah mulai tenang, naruto berpikir apa kemungkinan 'seekor' monster bisa berada di alam bawah sadarnya.
Setelah mendapatkan kemungkinan yang tepat, naruto berkata "ternyata itu kau. Monster yang menghancurkan desa enam tahun yang lalu."
"khu khu khu. Itu benar aku adalah Kyubi no Kitsune."
Naruto yang mendengar itu terdiam merasa ada hal yang ingin dikatakan monster dihadapannya.
"Tetapi pada saat itu bukanlah kehendakku. Ada seseorang yang mengendalikanku. Walaupun sebenarnya aku ingin menghancurkan konoha."
Naruto yang mendengar itu kaget tidak percaya. Yang dia tahu dari pamannya monster ini hanya mengamuk begitu saja di tengah desa setelah berhasil keluar dari segel di ibunya pada saat melahirkannya. Ya, dia tahu ibunyalah jinchuriki kyubi sebelum dirinya.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin ada manusia yang bisa mengendalikan monster seperti kalian." Kata naruto menolak.
"khu khu khu. Ya. Itu memang mustahil. Tetapi ada beberapa orang yang bisa mengendalikan kami dalam kurun waktu tertentu."
Naruto yang mendengar itu tidak percaya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang dapat mengendalikan monster yang merupakan simbol dari perwujudan kekuatan ini.
"khu khu khu. Aku memberikan informasi ini agar kau tahu bahwa banyak orang-orang kuat di dunia ini."
"..."
"Dan kau adalah salah satu orang terlemah di dunia ini. Membela seorang gadis kecil saja tidak bisa." Kata kyubi mengejek.
"..." Naruto menunduk terdiam mendengar perkataan kyubi. Itu adalah kenyataan yang sebenarnya tidak ingin dia terima.
"khu khu khu. Tidak membalas heh? Tapi aku bisa memberikan sedikit kekuatanku padamu."
"...!" Naruto yang mendengar itu membulatkan matanya tidak percaya.
"Sebagai gantinya kau hanya perlu sedikit melonggarkan segel yang ada di kurungan ini." Kata kyubi menawar seperti seorang business man profesional.
"...!" Naruto yang mendengar itu kaget dan tahu apa arti dari semua ini.
"Tidak.! Aku tidak akan tertipu. Aku tidak akan membiarkan kau mengamuk di desa lagi.!" Kata naruto tegas sambil menatap tajam monster didepannya.
"khu khu khu." Kyubi yang mendengar itu hanya tertawa mengejek.
"Aku akan berusaha untuk menjadi kuat dengan caraku sendiri."
"..."
"Dan akan menjadikan kau partnerku." Kata naruto sambil tersenyum tiga jari.
"...!" Kyubi kaget mendengar apa yang dikatakan naruto.
"Heh. Jangan bercanda gaki." Kata kyubi meremehkan.
"Tidak tidak. Aku tidak bercanda. Aku serius. Dan aku tidak pernah seserius ini sebelumya -ttebayo." Kata naruto tegas tidak menyadari mengucapkan kata aneh di akhir perkataannya.
"Aku berjanji.!" Kata naruto sambil mengacungkan dua jari -tanda peace- kearah kyubi. Sungguh pose yang tidak cocok dengan perkataannya saat ini.
"Hmph" Kyubi yang mendengar itu hanya mendengus mengejek.
Naruto tersenyum.
"Oops. Lihat sudah jam berapa. Aku harus pergi." Kata naruto melihat pergelangan tangan kirinya seolah melihat jam tangan padahal dia tidak mempunyai jam tangan.
"Jaa-ne kyubi." Kata naruto sambil berbalik dan menghilang.
Kyubi yang melihat naruto telah pergi hanya mendengus dan menutup mata mencoba untuk tidur..
"Oh iya aku lupa memperkenalkan diri." Membuka matanya kyubi melihat naruto kembali berada di hadapannya.
"Namaku adalah Uzumaki Naruto. Siapa namamu? Karena aku yakin 'kyubi' hanyalah sebutan untukmu." Kata naruto memperkenalkan diri.
"Hmph. Jangan bercanda gaki. Aku tidak akan mengatakan namaku padamu." Kata kyubi sambil menutup kembali matanya.
"Hahahahah. Dasar keras kepala." Tawa naruto merasa mendapat teman baru -mungkin-
"..."
"Oyasumi partner." Kata naruto sambil menghilang kembali.
"..."
.
.
.
.
to be continued
.
.
.
.
a/n: Bwahahahaha~.. -pasang pose tertawa Don Ka'ounji dari serial anime Bleach- #brisik#plak#
Saya kembali dengan chapter terbaru~ #emang_ada_yg_nungguin?#plak#. Gomen minna~ kemarin hamba tidak memperkenalkan diri.. Nama saya Naxime Schaken -atau pen name saya.. bwahahahaha- #plak#
Hamba adalah newbie author di website ini. Walupun sudah lamaaaaaaaaaaaa banget hamba berkecimpung di website ini sebagai reader. Dan tangan hamba sudah terlalu gatal pengen membuat cerita. Sebenarnya ini adalah bentuk pelarian hamba dari banyaknya tugas kuliah yang sangat melelahkan. #kenapa_jadi_curhat_sih#plak#
Oke.. Kembali ke cerita.. Ide cerita ini menurut saya sangat pasaran.. Itu" mulu.. Sudah banyak cerita seperti ini saya baca di website ini.. Yah walaupun saya mencoba untuk menabur sedikit bumbu yang berbeda.. Semoga minna-san semua menyukainya..
Hamba sangat senang reviews dari para readers semuanya reviews positif..
Dari reviews para readers -atau ada juga author yang membaca?- ada yang kurang puas dengan terlalu sedikitnya word pada chapter sebelumnya.. Hamba telah berusaha memperbanyak wordnya -sedikit- bwahahahaha #plak#.
Ada yang menanyakan pair cerita ini, saya telah mempunyai gambaran pairing cerita ini, dan pairing nya akan menjadi Naruto x Mini Harem, tidak hanya naruhina walaupun akan didominasi oleh naruhina karena saya NARUHINA LOVER SEJATI.. bwahahahaha.. #plak# Dan dari chapter ini mungkin minna-san bisa menebak siapa salah satu harem naruto..
Ada yang menanyakan apakah paman naruto akan menjadi senseinya naruto? Jawabannya akan muncul pada chapter selanjutnya.. jadi mohon nantikan chapter selanjutnya.. dan apa naruto bakal godlike atau tidak tergantung perkembangan cerita.. yang pasti naruto akan menjadi strong secara bertahap..
Dan apakah naruto di cerita ini akan menjadi Dark|Naru.. tidak.. hanya Semi-Dark|Naru pada beberapa chapter selanjutnya..
Oh iya.. jadwal update hamba pada cerita ini adalah 2-3 minggu per chapter nya..
Mohon dimengerti minna-san~.. karena hamba adalah manusia biasa dengan kesibukan tersendiri.. juga cerita ini saya ketik menggunakan hp pada waktu luang saya..
Semoga minna-san menghargai keputusan hamba yang telah hamba sampaikan di atas..
Mind to review -again- minna-san..?
Kritik dan saran akan hamba terima..
flame akan hamba abaikan.. karena menurut hamba masih banyak cara yang lebih bijaksana meng-comment cerita orang lain..
Mungkin itu dulu yang dapat hamba sampaikan untuk saat ini..
Akhir kata hamba sampaikan terima kasih karena telah meluangkan waktu minna-san semua yang sangat berharga untuk membaca chapter ini..
See you next minna~
Naxime Schaken out
