Living Together?

Disclaimer : Bleach is made by… Tite Kubo of course!

Summary : Berawal dari misi ke dunia manusia, dua kapten ini diharuskan untuk tinggal bersama. Tidak enak memang. Tapi apa mereka masih bisa mengatakan seperti itu setelah beberapa saat?

Chapter 2 : One Long Day, Hinamori Looking For Toushiro!

Siapa bilang kapten itu harus seseorang yang berwibawa, sekalipun tidak berada di depan bawahannya? Oh baik, khusus untuk Kuchiki Byakuya hal itu dibenarkan. Tapi rasanya tidak untuk Hitsugaya Toushiro dan Soi Fon.

Setelah insiden tidak bisa kembali ke Soul Society kemarin, keduanya akhirnya dengan berat hati memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen Urahara yang sepertinya jarang dikunjungi.

Apartemen itu sendiri cukup besar untuk Toushiro dan Soi Fon. Terdapat dua kamar di dalamnya. Begitu sampai di apartemen Toushiro segera mengklaim kalau dirinya menempati kamar yang paling dekat dengan pintu adalah miliknya. Soi Fon bermasa bodo dan memilih meninggali kamar di dekat dapur.

Malam pertama di apartemen berlangsung tenang. Yah, walaupun ketenangan itu akhirnya hilang pada pagi hari.

"Minggir, Hitsugaya! Aku yang menggunakan kamar mandi ini lebih dahulu!" seru Soi Fon sambil mendorong paksa Toushiro menjauh dari kamar mandi.

Toushiro tentu saja tidak terima. "Apa? Enak saja! Aku lebih dahulu berada di kamar mandi!" balasnya.

"Hitsugaya, kau tahu kan istilah ladies first? Nah, itu dia! Minggir!"

"Apa itu? Tidak ada sesuatu seperti itu! Siapa cepat dia dapat!"

Maka terjadilah perebutan kamar mandi di pagi hari yang cerah itu.

.

.

.

Sarapan berlangsung dengan hening. Sesekali terdengar dentingan ketika sumpit mereka beradu dengan piring.

Setelah kejadian perebutan kamar mandi yang dimenangkan oleh Soi Fon tadi, keduanya tidak saling berbicara sampai sekarang. Soi Fon pun merasa sedikit tidak enak, karena walaupun dia tidak suka mengakuinya, tadi memang Toushiro yang duluan berada di kamar mandi.

Oleh karena itu, untuk menebus rasa bersalahnya, Soi Fon sengaja menyiapkan sendiri sarapan untuknya dan Toushiro. Menunya sangat sederhana, karena memang dia bukanlah shinigami yang memiliki kemampuan memasak yang tinggi.

Soi Fon memakan ebi tempuranya dengan perasaan bersalah, karena orang di depannya ini tidak juga mengeluarkan suara.

'Sebenarnya aku tidak perlu memikirkan Hitsugaya, tapi… Rasanya karena aku juga dia menjadi tidak bersuara, hanya saja… Baru kali ini aku memikirkan seseorang sampai seperti ini. Ada apa? Ah, sudahlah! Aku makan saja!' setelah membatin seperti itu Soi Fon segera mempercepat makannya, membuat Toushiro sedikit heran.

"Oi, kau tidak apa-apa?" tanya Toushiro sambil meletakkan sumpitnya di piring.

Soi Fon berhenti mengunyah. "Akhirnya kau bersuara" ucapnya tanpa sadar, dan langsung menutup mulutnya begitu sadar akan ucapannya.

Toushiro ingin tertawa melihat Soi Fon, tapi kalau dia tertawa hilanglah imej dingin khasnya, dan akan lebih parah kalau dia tertawa tepat di depan Soi Fon. Bisa-bisa Toushiro balas ditertawakan oleh perempuan itu.

"Kenapa, Nibantai-taichou?" akhirnya Toushiro hanya bisa menyembunyikan tawanya.

Soi Fon menggeleng dengan cepat. "Tidak. Cepat habiskan makananmu! Setelah ini kita harus bertemu Yoruichi-sama untuk menanyakan perihal Dangai itu" ujar Soi Fon. Sengaja dia tidak mengatakan Urahara, karena pasti kemarahannya akan kembali nanti.

Toushiro tanpa berbicara lagi memilih untuk menghabiskan makanannya. Ada yang mengganggu pikirannya. Tapi karena dia bukan ahlinya di bidang-bidang seperti itu, mungkin saja pemikirannya salah.

.

.

.

Matahari sudah mulai terasa panas ketika Toushiro dan Soi Fon mengunjungi toko merangkap rumah Urahara. Tak seperti biasanya, kali ini tidak ada anak-anak itu. Ketika Toushiro bertanya kemana mereka, Urahara menjawab kalau Jinta cs sedang berlibur bersama Tessai.

"Ada apa, Hitsugaya-taichou? Kau memerlukan sesuatu?" tanya Urahara sembari menawarkan teh kepada dua tamunya.

"Ya. Aku ingin bertanya, apakah kami sudah bisa kembali ke Soul Society?" tanya Toushiro langsung.

Urahara diam beberapa saat. "Sayang sekali belum. Aku sudah mencoba beberapa kali sebelum kalian datang, tapi tetap saja… Mungkin divisi dua belas masih memperbaikinya. Yang kutahu Dangai itu bisa dimasuki dari Soul Society tapi tidak bisa dimasuki dari dunia manusia" jelas Urahara.

Soi Fon yang dari tadi diam buka suara. "Tunggu, jadi maksudmu sebelum kami pergi ke sini pun sebenarnya Dangai itu sudah rusak?" tanya Soi Fon. Si pria berkipas mengangguk membenarkan.

Muncul perempatan siku-siku di dahi kedua kapten mungil ini.

"KYORAKU NO YAROU!"

.

.

.

Suasana di Soul Society masih tenang-tenang saja. Tidak ada yang aneh. Kyoraku, yang sedang tiduran diatas atap divisi pertama, membayangkan kerusuhan yang terjadi jika kedua kapten yang diutusnya ke Karakura itu kembali.

"Huh, pasti mereka akan menyerangku setelah tahu kalau tugasku itu membuat mereka terperangkap di dunia manusia selama beberapa saat" gumam Kyoraku.

Kyoraku bukannya tidak tahu soal Dangai yang memang seperti dihancurkan oleh Kurotsuchi itu. Dia tahu, tetapi baru menyadarinya ketika Toushiro dan Soi Fon sudah menuju ke Karakura. Jadi apa boleh buat, melalui komunikasi ke dunia manusia yang dimiliki divisi dua belas, Kyoraku menyampaikan beberapa hal pada Urahara dan Yoruichi.

Yang pertama sudah pasti untuk memberitahu Toushiro dan Soi Fon jika Dangai sudah selesai diperbaiki dan bisa dilewati.

Yang kedua adalah untuk menjaga mereka. Kyoraku tahu kalau dua kapten itu terkadang sering bertindak gegabah bila bertemu musuh bebuyutan mereka. Siapa tahu Soi Fon menyerang Urahara disana.

Dan yang terakhir adalah… Kyoraku tidak yakin untuk yang satu ini, tapi dia sempat bercanda dengan mengatakan ingin menjodohkan Toushiro dan Soi Fon. Dan candaannya ini diterima dengan antusias oleh Urahara dan Yoruichi.

Kyoraku berdiri untuk kembali ke ruangannya. Saat itulah dia melihat seorang gadis berambut hitam sebahu sedang terduduk di pinggir taman diantara gedung divisi satu dan gedung divisi dua.

"Ah! Hinamori-fukutaichou!" Kyoraku berjalan menghampiri gadis tersebut.

Hinamori menoleh, dan langsung berdiri seraya membungkuk dalam ke Kyoraku. Kyoraku mendudukkan diri di sebelah tempat Hinamori tadi, dan keduanya mulai mengobrol.

"Kondisimu sudah baik, Hinamori-fukutaichou! Kudengar kau juga ikut dalam perang melawan Quincy itu, kan?" tanya Kyoraku. Hinamori mengangguk. "Iya, walaupun saya sebenarnya hampir setiap saat berada di balik punggung Hirako-taichou" setelah itu Hinamori menunduk.

Kyoraku sadar kalau wakil kapten di depannya ini memiliki masalah rendah diri. "Sudahlah, kau tidak usah sedih seperti itu. Semua wakil kapten memang harus selalu berada di balik punggung kaptennya, karena mereka memiliki kewajiban mengawasi punggung kaptennya" hiburnya.

Hinamori tersenyum, sebagai tanda dia menghargai ucapan Kyoraku. "Terima kasih, Kyoraku-soutaichou. Tapi masalahnya bukan seperti itu. Bukan itu yang membuatku sedih" ujar Hinamori.

"Lalu?" Kyoraku penasaran.

Yang ditanya diam selama beberapa saat. Lalu menjawab, "Karena Hitsugaya-taichou".

Kyoraku menaikkan alis mata. Dia tahu kalau Hinamori dan kapten divisi sepuluh memiliki hubungan layaknya kakak adik. Tapi mungkinkah mereka sebenarnya saling menyukai?

"Aku merasa bersalah padanya. Sejak kejadian saat itu… Sejak saat itu aku hanya satu kali berbicara dengannya. Aku hanya mengatakan kalau aku maklum dengan kejadian itu, karena kalian terpengaruh Kyoka Suigetsu"

"Tapi sejak saat itu aku memilih untuk menghindarinya. Karena dia pasti merasa sangat bersalah karena kejadian itu. Walaupun sekarang aku berpikir tindakanku salah, karena Hitsugaya-kun malah menghilang saat ini" lanjut Hinamori.

"Dia bukan menghilang, Hinamori-fukutaichou. Saat ini Hitsugata dan Soi Fon sedang berada di dunia manusia, menjalankan tugas dariku untuk membasmi para hollow disana. Mungkin selama beberapa waktu dia akan menetap di sana" kata Kyoraku.

"Eh, begitu? Syukurlah" Hinamori bernapas lega.

Kyoraku beranjak dari posisinya. "Aku duluan, Hinamori-fukutaichou. Sampaikan salamku pada Hirako" ujar Kyoraku.

Setelah pria berpangkat kapten divisi satu itu pergi, Hinamori kembali menunduk. Misi di dunia manusia dalam waktu yang agak lama? Ah, payah. Padahal dia ingin memastikan perasaannya pada Toushiro.

.

.

.

Ini hari ketiga Toushiro dan Soi Fon berada di Karakura. Pada hari ini keduanya tampak lebih akur, mungkin karena tidak tahu berapa lama lagi mereka terpaksa tinggal bersama dalam satu apartemen.

Saat ini keduanya sedang menonton tv di ruang keluarga sebagai penghilang rasa bosan.

"Hari ini hampir tidak ada hollow sepertinya" ucap Toushiro sembari menaruh satu tangan di belakang kepalanya.

"Iya, hanya satu yang tadi pagi itu" sahut Soi Fon. Tangannya memegang remote tv. Toushiro sebenarnya ingin mengganti tayangan di depannya ini, yang menampilkan cara merawat kucing. 'Pasti karena Shihoin Yoruichi' pikir Toushiro.

Si rambut putih melirik ke jam dinding. Pukul sepuluh lewat lima.

"Hitsugaya, kau mau kemana?" tanya Soi Fon begitu melihat Toushiro berjalan meninggalkan ruang keluarga.

"Tidak tahu. Mungkin berjalan-jalan di sekitar sini. Aku bosan berada di dalam apartemen terus" jawab Toushiro tanpa menoleh.

"Oh" sebenarnya Soi Fon ingin ikut, tapi rasanya akan aneh kalau tiba-tiba dia minta ikut.

Sebelum membuka pintu, Toushiro berbalik. "Mau ikut denganku?"

.

.

.

Walaupun Karakura adalah kota yang tidak terlalu besar, kota ini memiliki jalan seperti Orchard Road di Singapura, yang juga menjadi ajang menampilkan fashion masing-masing, layaknya Harajuku Street. Namanya Satou Street.

Toushiro pernah sekali pergi ke Satou Street, untuk mencari wakil kaptennya yang suka berbelanja itu. Oleh karena itu dia memutuskan untuk pergi ke sana bersama Soi Fon.

"Kenapa kita pergi ke sini?" tanya Soi Fon sembari memandang sekeliling. Café-café yang ramai oleh pengunjung, gerombolan anak muda yang sedang melihat-lihat etalase toko, dan yang membuat Soi Fon merasakan pipinya memanas, banyak sekali pasangan yang bermesraan di depannya. Bahkan ada yang tak segan untuk ber,ber, ber apa itu namanya? Ah ya, berciuman.

"Aku hanya ingin bersantai. Tempat ini kurasa cukup untuk bersantai sambil menikmati makanan ringan di salah satu café atau restoran. Kau tidak suka?" Toushiro menghentikan langkahnya untuk memandang orang di sebelahnya.

Soi Fon menggeleng. "Aku bukannya tidak suka. Aku hanya bertanya" jawab Soi Fon, tapi masih dengan rona merah di pipinya ketika melirik ke samping dan mendapati sepasang kekasih tampak saling berpelukan dengan eratnya.

Toushiro tahu apa yang membuat gadis tegas di depannya ini merona. 'Pasti dia jarang melihat adegan seperti itu. Di Seireitei memang tidak ada, sih' batin Toushiro.

Merasa diperhatikan, Soi Fon menoleh. "Ada apa, Hitsugaya?" tanyanya dengan nada tegas seperti biasa. Sebenarnya itu untuk menyembunyikan rona merah yang masih bertahan di pipinya.

"Tidak. Ayo jalan" Toushiro memimpin. Begitu melihat café yang dia tuju mendadak Toushiro menghentikan langkahnya. Soi Fon yang berjalan di belakangnya otomatis menabrak punggung Toushiro.

"Hei, kenapa?" Soi Fon mengintip dari balik punggung si rambut putih.

"Aku baru tahu kalau Inoue Orihime bekerja di café ini, ayo kita pergi ke café lainnya" Toushiro membalikkan tubuh, dan kali ini wajah Soi Fon terbentur dada bidang Toushiro.

Muncul rona merah di pipi Toushiro begitu sadar apa yang terjadi. Hal yang sama terjadi pada Soi Fon. Gadis itu yakin kalau sekarang wajahnya sudah sama seperti tomat. Merah.

Refleks, Toushiro mundur beberapa langkah, sampai kakinya tersandung batu kecil dan akhirnya terjatuh dengan pantat mendarat duluan.

Bukannya khawatir, Soi Fon justru tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha!" air mata mengalir dari mata Soi Fon. Bukan karena sedih, tapi karena kebanyakan tertawa. Perutnya pun mulai terasa sakit karena alasan yang sama.

Toushiro segera bangkit dari posisinya dengan wajah tertekuk. Selain Soi Fon, sebenarnya ada beberapa orang yang menertawakan jatuhnya tadi. Hanya saja diantara orang-orang itu, Soi Fon perempuan sendiri. Perempuan lain justru sepertinya berebutan ingin menolong Toushiro.

"Cih, baru kali ini aku melihat orang menertawakanku sehebat itu" gerutu Toushiro, yang didengar oleh Soi Fon.

"Hahaha! Maaf, Hitsugaya. Jatuhmu tadi lucu sekali. Aku sampai tidak bisa menahan tawaku" Soi Fon membuat alasan.

Toushiro yang sepertinya masih kesal memilih untuk masuk ke dalam café, naik ke lantai dua yang masih sepi dan duduk di pojok dekat jendela. Soi Fon menyusul dan mendudukkan diri di hadapan Toushiro.

"Hitsugaya, jangan seperti anak-anak. Kau tampak sangat jelek kalau seperti itu" Soi Fon mencoba untuk meminta maaf, walaupun dengan cara yang agak aneh.

Toushiro mengomel dalam hati. 'Apanya yang jelek? Kau tidak lihat wajah para perempuan tadi?' batinnya.

'Tunggu, aku rasanya menjadi sangat aneh semenjak bersama dengan orang ini' Toushiro mulai menyadari perubahan sikapnya. Dia menjadi sedikit… Narsis?

"Selamat datang. Anda mau memesan apa?" salah satu pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan dua buku menu.

Soi Fon dengan semangat membolak-balikkan halaman menu tersebut. Sementara Toushiro tidak mau ambil pusing dengan apa yang akan dia konsumsi. "Satu caffee latte ukuran sedang dan juga satu vegetable quiche" pesan Toushiro.

Soi Fon memandang bingung menu di depannya. Baru kali ini dia melihat berbagai macam makanan dan minuman yang… Sedikit membingungkan baginya. Toushiro melupakan hal ini.

"Nona? Nona ingin memesan apa?" tanya si pelayan sambil menatap Soi Fon. Soi Fon sedikit kesal dengan Toushiro yang hanya terdiam sambil sedikit menyeringai. Baru kali ini Toushiro menyeringai kepadanya.

"Ng, aku pesan satu espresso brownie dan satu green tea frappucino" akhirnya Soi Fon memilih asal menu yang dia pesan. Sebenarnya dia juga tidak begitu mengerti apa itu frappucino dan juga espresso brownie.

Setelah pelayan itu pergi Soi Fon segera protes ke orang di depannya.

"Kenapa kau tidak membantuku? Kau tahu aku sama sekali tidak mengerti soal makanan dan minuman itu tadi. Apa itu fracino, aku tidak tahu" gerutu Soi Fon dengan suara pelan, karena tidak ingin terdengar oleh orang lain, walaupun di lantai dua itu hanya ada mereka berdua dan tiga orang siswi yang sedang ber-fangirling di pojok lain.

"Frappucino, Soi Fon. Namanya frappucino" Toushiro hampir mengeluarkan tawanya begitu melihat wajah malu gadis di depannya ini. Toushiro sendiri tidak mengerti kenapa dirinya suka melihat wajah merah merona Soi Fon.

"Hm, kurasa kita satu sama sekarang" ujar Toushiro, mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat orang-orang di bawah yang berjalan santai sambil tertawa bersama teman, pacar, atau keluarga. Tidak ada yang sendiri dibawah sana. Semuanya punya teman untuk saling tertawa.

Soi Fon memerhatikan pemuda di depannya ini. Sejak awal mengenal Toushiro, perempuan itu yakin kalau Toushiro termasuk golongan yang mampu menarik perhatian lawan jenisnya tanpa susah payah. Tanpa menoleh ke belakang Soi Fon tahu tiga siswi tadi terkadang terkikik pelan begitu melihat si pemuda bermata emerald itu.

Harus Soi Fon akui kalau Hitsugaya Toushiro itu tampan. Sangat tampan. Lelaki pertama yang mampu membuatnya mengakui hal itu tanpa menyuruhnya mengaku.

Di pihak Toushiro, pemuda itu sudah tahu kalau perempuan di depannya ini memerhatikannya dari tadi. Tapi Toushiro lebih memilih berpura-pura tidak tahu, menikmati pandangan Soi Fon yang cepat berubah-ubah. Ingin tahu, menyelidik, bingung, tersipu, semuanya ada di mata sipit kapten divisi dua.

Oh, ayolah. Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh dua hari terhadap perasaan mereka?

Pesanan mereka datang. Dan yang mengantarnya tak lain tak bukan adalah Inoue Orihime. Toushiro mendengus kesal, karena tahu kalau Inoue melihatnya di sini bersama Soi Fon, maka akan terjadi bencana. Inoue itu sifatnya kurang lebih seperti Matsumoto, suka bergosip.

"Ini pesanan anda. Caffee latte, green tea frappucino, espresso brownie, dan vegetable quiche" Inoue menaruh pesanan pembelinya di meja, tidak menyadari kalau pembelinya dalah dua shinigami. Kapten pula.

"Silakan memanggil kami jika ada kesalahan" Toushiro dan Soi Fon sama-sama menghela napas lega begitu Inoue berjalan turun. Untung saja mereka sudah menekan reiatsu serendah mungkin dan mencoba untuk menutupi wajah sebisanya.

"Aku baru tahu kalau dia bekerja di sini" ujar Soi Fon begitu dirasakannya reiatsu Inoue yang mulai menjauh.

"Aku melihatnya tadi begitu akan memasuki café, makanya aku memilih lantai dua, walaupun dia juga yang melayani kita" sahut Toushiro.

Soi Fon mencicipi kue yang dipesannya. Ini baru pertama kalinya dia merasakan kue semacam itu, tapi rasanya cukup enak, sehingga Soi Fon tidak menyesal telah memesannya. Sementara untuk minumnya, rasanya tidak seperti ocha biasa, enak, krimnya apalagi.

'Oh, jadi ini yang namanya krim' batin gadis berambut pendek itu. Soi Fon kembali mencoba krim yang ada di frappucino itu, dan tanpa ia sadari sedikit krim tertinggal di sudut bibirnya. Dan Toushiro menyadari hal ini.

"Soi Fon, angkat kepalamu" pintanya. Yang diperintah mengangkat kepala, bingung. "Ada a-" ucapan Soi Fon terhenti ketika jari-jari si pemuda berambut putih terangkat perlahan, membelai lembut bibirnya untuk membersihkan sisa krim yang tertinggal.

Toushiro sendiri juga merasa sedikit terkejut. Ia tidak menduga bibir Soi Fon bisa selembut itu. Jarinya masih betah berada di bibir si gadis, walaupun krim yang menjadi tujuan awalnya itu sudah hilang.

Mendadak Toushiro menarik tangannya, yang membuat Soi Fon sedikit kecewa.

"Ma-maaf, silahkan lanjutkan makanmu" setelah berkata seperti itu Toushiro pura-pura sibuk dengan minumannya, yang dia minum tanpa memikirkan apa yang dia minum itu.

"… Ya" sahut Soi Fon yang juga memilih untuk sibuk dengan frappucinonya. Rasanya tadi itu sangat mendebarkan, dia tidak suka, tapi sangat menyenangkan, dan dia suka.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Akhirnya Living Together lanjut ke chapter 2! Yey! Jujur aja Hayi sempet nggak punya semangat pas nulis awalan chapter 2 ini, tapi dalam sehari akhirnya bisa diselelesaikan chap 2 ini, padahal dari kemarin udah loyo pas coba nulisnya.

Sebenernya sih pengen munculin Ichigo, tapi takutnya malah nanti membuat rusuh dan mengacaukan plot *sembah sujud di hadapan Ichigo, minta maaf XD*

Sebelumnya Hayi mau bales review dulu :

Guest : hehe, emang charanya bagus XD

TheZarkMon : ini udah kuapdet, walaupun mungkin gak cepet._.v reqmu kutampung dulu ya, karena aku mau fokus ke fic ini dan dua birthday fic kaka beradik Kuchiki yang akan datang haha. Tapi doa aja ya, semoga aku bisa nerbitin (?) fic shirohime nanti

Akhir kata…. Mind to review? Karena review kalian sangat berharga untuk kelanjutan fic ini ^^