-ooo-
Naruto © Masashi Kisimoto
Could It Be Love? © Yuki Kanashii
Genre: Romance & Drama
Rated: T+
Warning: OOC, AU, abal, gaje, typo(s), alur kecepetan/gajelas, d.l.l.
-ooo-
"Kami-sama!" Gadis dengan rambut cokelat panjang tergerai itu menjerit kala melihat tiga lembar soal Matematika di depannya. Ya, dia adalah Tenten.
"Wah wah, tampaknya kau akan sibuk malam ini. Padahal aku ingin mengajakmu berkencan." Neji menatap Tenten dengan tatapan kasihan. Tentu saja tatapan itu dibuat-buat.
"I-Ini kan ka-karena kau!" Tenten menatap jengah sosok di sampingnya itu. Sungguh, ia sangat membenci Neji. Bahkan, rasa benci dan marahnya itu berubah menjadi air mata. Ya, Tenten menangis kecil saat ini.
"H-Hey! Aku tahu kau kesal padaku, tapi jangan berpura-pura menangis dong!" Neji menatap Tenten kesal dan sedikit khawatir.
Bukannya mereda, tangis Tenten justu semakin kencang.
"HUAAA..!" Tenten kini terisak.
"Huh, hentikan tangis pura-pu—"
"Tenten-chan! Shannaro, apa yang kau lakukan padanya hah?!" Sakura menghampiri Tenten dan mengacungkan kepalan tangannya di depan wajah Neji.
"Aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Ia yang tiba-tiba menangis." Neji menunjuk Tenten dengan jari telunjuknya.
"Tiba-tiba menangis? Mana mungkin ia menangis tanpa sebab! Sudahlah, tidak ada gunanya bertanya padamu!" Sakura langsung menarik Tenten ke belakang, ke tempat ia dan teman-temannya.
"Tenten-chan?!" Hinata dan Ino terkejut melihat Tenten yang selalu ceria kini sedang menangis.
"Ada apa dengannya, Sakura-chan?" Tanya Ino pada Sakura.
"Entahlah, Ino-chan. Tapi ini pasti ulah si Neji Hyuga." Jawab Sakura kesal.
"Ulah Neji-nii? Apa yang dia lakukan?" Hinata bertanya dengan ekspresi kaget.
"Neji-nii katamu? Dia nii-san mu?" Sakura balik bertanya.
"Ya, dia kakak sepupuku." Jawab Hinata. "Apa yang ia lakukan padamu memangnya?" Hinata memalingkan pandangannya ke Tenten.
"Ak-Aku menangis b-bukan ka-karena dia, k-kok." Jawab Tenten terbata-bata. Ia mulai menenangkan dirinya. "Tapi karena kejadian saat pelajaran Kakashi-sensei tadi."
"Sama saja! Kejadian tadi karena Neji-san, kan? Sebenarnya ada apa sih dengan kalian?" Tanya Ino penasaran.
Tenten pun menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir, dimulai dari kejadian ia berkata bahwa ia ingin menjadi istri Neji sampai kejadian saat pelajaran Matematika tadi.
"HAHAHA!" Bukannya merasa simpati terhadap masalah yang dialami Tenten, Ino dan Sakura malah menertawakan Tenten. Bahkan Hinata ikut tertawa kecil.
"Ugh, kenapa kalian malah tertawa?" Tenten merengut kesal melihat teman-teman barunya yang langsung dekat dengannya itu tertawa.
"Habisnya kalian lucu, sih." Jawab Sakura meredakan tawanya.
"Iya! Seperti orang pacaran saja." Tambah Ino setuju.
"Bahkan Neji-nii yang dingin hanya bersikap seperti itu padamu, lho.." Hinata ikut berbicara.
"Heee?! Yang benar saja? Pacaran dengannya? Tidak mungkin! Aku sangat membencinya." Bantah Tenten cepat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, masa? Tapi kan kau sudah dekat dengannya sejak kecil! Pasti kau jadi jatuh cinta dan menyukai dia, kan?" Goda Sakura.
"Tidak! Aku bahkan belum pernah merasakan jatuh cinta." Kata Tenten dengan wajah polos. "Aku bahkan tidak tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa."
"Kami-sama! Kau benar-benar tidak tahu soal cinta?!" Ino meringis menatap wajah Tenten yang polos itu. "Kalau aku sih sudah! Bahkan kami sudah pacaran dan sekarang satu kelas kyaa..!" Ino tiba-tiba menjadi heboh sendiri, ia melirik seorang laki-laki berambut hitam pekat dan berkulit pucat. Laki-laki yang diliriknya pun tersenyum.
"Aku sih... Masih suka pada orang yang sama selama 10 tahun." Sakura malu-malu melirik laki-laki berambut raven yang bermarga Uchiha itu. "Ta-tapi aku masih memendamnya." Wajah Sakura berubah muram.
"Aku juga sedang menyukai orang yang sama selama 10 tahun." Kini Hinata dengan rona merah dipipinya menatap laki-laki pentolan kelas mereka, laki-laki berambut kuning jabrik bernama Naruto Uzumaki.
"Bagus, sepertinya aku terlihat paling menyedihkan di sini karena tidak mempunyai orang yang disukai." Tenten mendengus. "Aku jadi ingin jatuh cinta.."
"Jatuh cinta saja pada Neji-san." Usul Sakura.
Tenten terbelalak. "Hah?! Yang benar saja, dengan Neji sialan itu? Aku tidak ingin mempunyai cinta pertama seperti dia!" Jerit Tenten sambil memegang kedua pipinya.
"Memanya Neji-nii seburuk itu, ya?" Hinata mengernyitkan dahinya saat melihat ekspresi Tenten.
"Eh?! Bukan beg-begitu maksudku, Hinata." Tenten menggoyangkan kedua tangannya, bermaksud membantah.
"Ya sudah, kalau begitu suka saja padanya." Ucap Hinata.
Saat Tenten hendak menjawab, tiba-tiba muncul seorang wanita dengan rambut ungu dan ber-name tag "Anko" di pintu kelas.
"Ohayou." Dengan nada suara yang terkesan angkuh dan menyeramkan, Anko menyapa murid-muridnya. Mendengar suara Anko, murid-murid langsung kalang kabut kembali ke tempat mereka masing-masing. Sebenarnya bel masuk belum berbunyi, tetapi Anko memang memiliki kebiasaan masuk kelas lima menit sebelum bel. Sepertinya beliau lebih bersemangat dibanding Guy..
"Hoi." Neji berbisik ditelinga Tenten lagi disela-sela pelajaran.
"Diam." Ucap Tenten sinis. Ia bahkan tidak melirik Neji sedikit pun. Tetapi ia heran, kenapa Neji tidak bersuara lagi. Rupanya, Neji memberikan Tenten secarik kertas.
Pulang sekolah jangan kemana-mana. Ikut pulang ke rumahku.
Tenten sebenarnya ingin mengeluarkan sejuta protesnya, namun mengingat ada Anko yang sedang menerangkan pelajaran ia pun mengurungkan niatnya tersebut.
-ooo-
Tepat setelah kelas bubar, Tenten baru membuka mulutnya dan menyemprot Neji. "Apa maksudmu aku ikut pulang ke rumahmu, hah?"
"Sabarlah, Hime-ku sayang. Jangan marah-marah, nanti wajahmu jadi keriput." Neji mengangkat dagu Tenten dengan tangannya. Sontak, Tenten segera menepis tangan Neji.
"Sudahlah, aku sudah muak dipermainkan olehmu!" Tenten menjadi semakin marah. "Sekarang jelaskan tujuanmu membawaku ke rumahmu!"
Neji tersenyum sinis. "Baiklah, aku akan memberi tahumu. Aku akan membantumu mengerjakan tugas hukuman dari Kakashi-sensei sebagai permintaan maaf."
Tenten melongo mendengar penjelasan Neji. "HAH?! Apa aku tidak salah dengar, seorang Neji—"
"Kau mau atau tidak?!" Potong Neji kesal.
"Hm..." Tenten berpikir sejenak. "Baiklah, toh aku juga tidak begitu mengerti Matematika hehe."
Melihat Tenten yang ceria kembali, seberkas senyum muncul di bibir Neji. "Ayo kita segera ke rumahku."
