Warning : Mungkin Typo(s), OOC atau mungkin weird dan pairingnya aneh.
Sumary : Aku merasa nyaman padamu padahal kita tidak saling tahu nama masing - masing." Kau siapa? Asalmu dari mana?" itulah yang ingin aku tanyakan. Kehidupan idol memang berat, dikuntit sasaeng setiap waktu. Untungnya aku gadis biasa, tapi dia...
Genre : Romance Comedy…
Characters : Park Shin Hye
ZE;A Siwan
NU'EST Minhyun
SNSD's Taeyeon [New Character]
Song Joong Ki [New Character]
Dan tokoh lain akan hadir seiring berjalannya cerita… :)
I Don't Need to Know it
Author : Valweyn Azalea
Rated : T
Genre : Romance/Comedy
Chapter 2: Hari pertamaku
Karena terus mengalir deras selama 4 jam tanpa henti hujanpun mulai perlahan berhenti. Aku pikir dia sudah bosan di Seoul dan lekas pindah ke tempat lain. Karena pinjaman pakaian pria tadi untunglah seragamku tidak basah. Untungnya pagar sekolah belum digembok dan ini memudahkanku untuk masuk tanpa diketahui siapapun. Aku berjalan menelusuri lapangan yang becek akibat hujan tadi pagi, airnya berwarna keruh dan menjijikan. Cipratan genangan air mengotori kaos kaki panjangku yang tadinya berwarna putih mulai berubah menjadi bercak – bercak kecolakatan. Aku mempercepat langkah kaki saat melewati koridor sekolah yang tampak sepi karena mungkin mereka sedang melangsungkan proses belajar mengajar di kelas masing – masing. Kelasku XI-D. Sudah sampai. Ada seorang murid laki – laki yang sedang berdiri bingung di sisi kanan luar kelas, sambil membawa tas dan jasnya yang basah. Aku tidak mengenalnya. Sepertinya dia mencoba tidak menarik perhatian anak murid di dalam sehingga dia mulai berjalan perlahan. Kelas kami terdiri dari pintu depan (pintu biasa) dan pintu belakang (seperti pintu geser). Biasanya siswa yang terlambat akan lewat pintu belakang yang terletak dipojokan persis, sehingga guru yang sedang mengajar biasanya tidak mengetahui kehadiran kami (yang terlambat). Tampaknya ini pertama kalinya murid laki – laki itu terlambat. Wajahnya kebingungan dan resah sekali.
"Whoa…" aku mencoba mengagetkannya dengan menepuk pundaknya.
"Stt.." dia menghembuskan napas sambil menyentuh pundakku.
"Wae? Kau juga terlambatkah?" lalu si pria mengangguk cepat.
"Ayo! Masuk lewat sini," ajakku sambil menggeser pintu belakang kelas, yang sedikit berat dan menimbulkan bunyi 'krak'.
"Ayo! Selagi gurunya sedang menghadap ke papan tulis,"
"Ne," dia menganggukan kepalanya cepat seperti tadi.
Dengan berjinjit kami memasuki kelas tanpa di ketahui guru yang mengajar, kami hanya memberi isyarat kepada beberapa murid lain yang melihat kami terlambat untuk segera mengalihakan pandangannya dengan tidak melihat ke arah kami lagi. Untungnya ada 3 bangku tersisa di dekat pintu belakang. Aku segera menduduki salah satunya dan menghela napas lega setelah berhasil masuk kelas tanpa ketahuan guru. Tapi karena terlambat aku dapat kursi paling belakang yang biasanya diduduki oleh murid laki – laki, terutama mereka yang malas belajar sehingga hanya tertidur di bangku belakang. Murid yang tadi terlambat denganku duduk di sisi kananku. Terlambat 25 menit. . .
"Baiklah anak – anak ibu akan absen," kata guru itu sambil membalikkan badannya yang kini menghadap kami. Name tagnya bertuliskan "Kim Taeyeon" mungkin itu namanya.
"Ahn Jon Woon.. "
"Hadir,"
"Bang Min Ha?"
"Hadir"
"Choi Minho"
"Hadir"
"Daniel Rows"
"Yes, I'm"
"Eh, sejak kapan ada murid asing?" celetukku sambil menatap bingung ke depan.
"Sejak kelas X dia sudah disini," jawab si pria sebelah kananku.
"Eih, jinja? Aku kok tidak tahu?"
"Gong Il Seuk"
"Izin, dia sedang ada pertandingan basket di Busan," kata seorang murid perempuan
"Benarkah? Aku harap dia membawa nama baik sekolah ini," ucap Mrs. Taeyeon diikuti merekahnya senyum dibibir cantiknya.
"Hwang Minhyun,"
"Saya," laki – laki di kananku mengangkat tangan dengan kelima jari tangannya.
"Oh, namanya Minhyun," kataku lirih sambil menengok kea rah kanan dan menganggukkan kepalaku perlahan. Aku mulai mengantuk, dan sedikit tertidur… Tapi 4 menit kemudian.
"Park Shin Hye?"
"…."
"Yang namanya Park Shin Hye?" guru itu memanggil sekali lagi untuk memastikan.
"….."
"Eh tidak adakah? Apa absennya salah?" katanya mulai ragu. Seorang murid perempuan membisikkan Mrs. Taeyeon sambil menunjuk ke arah murid perempuan bernama Park Shin Hye. Mrs. Taeyeon lalu berjalan perlahan kearah murid itu, lalu…..
"Park Shin Hye,"
"….." tidak ada jawaban.
"Hei! bangunlah manis," kata si guru mengelus lengan kanan murid yang bernama Shin Hye.
"Aaa..h aku malas.. diamlah," jawab si murid asal.
BRAKKKK! "PARK SHIN HYE-AH !" Mrs. Taeyeon mulai menaikkan nada dan intonasi bicaranya. Dengan wajah yang penuh amarah dan nafasnya naik turun.
"Eh? A..aku? a…a…ada apa?," celetukku reflex, sambil mengangkat kepalaku cepat dan menengok kanan kiri seperti orang bodoh yang di kagetkan. Mrs. Taeyeon. Aku buru – buru merapihkan rambutku yang sedikit perantakan, membersihkan kotoran disudut mata, lalu berdiri dan menatap serius ke arahnya. Minhyun mulai menatapku dan tertawa pelan. Aku Malu.
"Jangan tertidur dikelas, ini peraturanku Park Shin… Hye!"
"B-b-ba-baiklah, a-ak -aku minta ma-maaf,aku bersa-salah," ucapku terbata penuh penyesalan padanya, sambil membungkuk berulang kali. Tubuhku merinding. Bergetar pelan.
"Jangan ulangi lagi, cantik. Aku yakin ini mudah untukmu," seketika wajahnya yang menyeramkan penuh amarah berubah menjadi wajah yang ramah, penuh kasih saysng dan kelembutan, intonasinya pun terdengar penuh arti dan lembut. Aku langsung mengangguk cepat dan menurut begitu saja.
JLEB... bagaimana bisa? Kenapa dia lebih menyeramkan dari guru killer sekalipun.
Aku benar – benar tidak mood untuk mengikuti pelajaran hari ini, ah mungkin lebih tepatnya setiap hari aku tidak mood. Aku sebenarnya ingin bermain – main dengan buku gambar yang sengaja ku bawa, tapi sikap Mrs. Taeyeon membuatku benar – benar tidak ingin melakukan hal – hal lain yang membuatnya marah. Pelajaran matematika-pun dimulai dengan pembukaan serentetan catatan di papan tulis yang harus kami salin ke buku catatan. Setelah itu Mrs. Taeyeon menjelaskan satu persatu apa yang ia tulis. Bagi kami yang sial, kami akan diminta maju untuk mengerjakan 2 soal yang ia buat. Hukuman random ia berikan bagi kami yang gagal mengerjakan soalnya. Ada yang korban menyanyi, berjoget, mencabuti rumput setelah pulang sekolah, sampai harus membersihkan sampah setiap kelas. Hari pertama aku beruntung. Akhirnya bel-pun mengakhiri penderitaan pelajaran Matematika. Pelajaran kedua. Seorang pria separuh baya memasuki ruang kelas 5 menit kemudian. Tam…pan sekali.
"Annyeong! Aku Mr. Song Joong Ki aku mengajar English," sapa si guru pria sambil membungkuk sekali ke arah murid – murid.
"Guru baru ya?" seorang murid wanita memulai percakapan.
"Waah muda sekali," murid lain memuji. Mulai terdengar celotehan dan pujian dan rata - rata pujiannya berasal dari murid perempuan.
"Tampannya,"
"Tidak! aku lebih tampan," murid laki – laki menolak.
"Aku guru baru disini meggantikan Mr. Kwang Soo yang pensiun," kata Mr. Song Joong Ki meratakan senyumnya diseluruh bibir.
"Berapa umur Mr.?" tanyaku asal dan tidak peduli, setelah itu menegak air putih di tempat minumku.
"Ah, aku 29 tahun," jawabnya
"Ehngkkk…..prrrrttt," tanpa sengaja karena kaget akan jawabannya air dimulutku buyar keluar, mengarah ke laki – laki di sisi kananku. Minhyun. Wajah Minhyun berubah. Semua menengok ke arah kami
"Anda berasal dari mana?" serentetan pertanyaan terus – menerus muncul. Tanpa ada yang peduli lagi dengan semburan air dari mulutku. Aku memalingkan pandangan kearah Minhyun.
"Eh aku minta maaf aku tidak sengaja," kataku mencoba membersihkan bagian jasnya yang tadinya basah karena air hujan dan ditambah basah oleh air semburanku.
"Sudahlah taka apa," sahutnya tenang.
"Eh?" aku kembali duduk ke bangkuku.
"Muda sekali, anda tampan pula," seorang murid wanita paling depan memuji dengan lantang.
"Eh? Te-terima kasih. Aku jadi malu," wajah Mr. Joong Ki mulai memerah dan ia menggaruk bagian samping kepalanya yang tidak gatal.
Diantara murid wanita lain aku memang terlihat biasa saja dengan guru itu, tapi sebenarnya aku memiliki perasaan lain. Tapi mungkin sainganku akan banyak atau… dia sudah bertunangan bahkan menikah. Semua murid wanita terlihat begitu antusias, bergairah dan serius mengikuti pelajaran kali ini, dibanding pelajaran sebelumnya. Entah serius karena pelajaran atau serius karena terus – terusan memperhatikan wajah tampan guru di hadapan mereka. Aku masih mengkhawatirkan apakah Minhyun marah karena hal tadi atau dia sudah memaafkanku.
"Ah akhirnya aku harus melakukan ini. Sial," maki si pria pada nampan kayu yang di pegangnya. Mengelap tangannya berulang kali dengan celemek hijau muda motif bunga bunga cantik.
"Ini semua gara - gara wanita sekolahan tadi, dasar!"
"Pekerjaanmu buruk sekali ya," ejek si ahjumma berjalan melewatinya.
"Eh? Begitu ya? Mianhae," si pria membungkuh berulang kali kepada ahjumma.
"Siapa namamu?" tanya ahjumma sambil menuangkan ocha di cangkir- cangkir unik kuno miliknya.
"Siwan imnida,"
"Baiklah, Siwan berikan ocha ini kepada pelanggan ke-tiga puluhmu," Ahjumma itu mulai menaruh ochanya di atas nampan kayu kuno yang di pegang si pria itu.
"Kapan aku bisa pulang,Ahjumma?"
"Dua puluh pelanggan lagi ok?!" setelah mendengar kalimat menyakitkan dari ahjumma, siwan mulai mendengus kesal, berjalan ke arah pelanggan itu.
"Silahkan ocha nya tuan dan nona," Siwan mempersilahkan pelanggannya sambil memberikan senyuman manias ditengah gerutuannya.
"Siwan? " si pelanggan memanggil Siwan dengan tatapan bingung.
"Hyung? Dan…" Siwan menoleh ke arah gadis dihadapan pelanggan pria.
"Dia pacarku…" jawab si pelanggan datar.
Siwan lalu menarik tangan pelanggannya dan mulai berbisik memaki pada si pelanggan "Kau keterlaluan sekali! Aku menelfon manager dan ternyata kau berkencan disini, Tuhan!"
"Aku mematikan ponselnya, aku tidak ingin ada yang menelpon dan merusak semuanya,"
"Pinjam 50 won,"
"Eh? Banyak sekali…"
"Lalu topi dan jaketmu,"
"Eh? Ini juga?"
"PINJAM! Atau aku akan melaporkan hal ini pada agensi?," Siwan mengancam hingga managernya pasrah seperti habis ditodong pembunuh bayaran. Setelah itu dia membayar minuman 10 won-nya dan meninggalkan restaurant kuno itu.
"Ish jaket dan topinya bau sekali, biarlah daripada ada sasaeng yang melihatku berkeliaran disini,"
"Akhirnya tanpa harus melayani 20 pelanggan tadi aku bisa pulang, bahkan ahjumma memotong total pesananku dari 10 won menjadi 5 won hahaha,"
*Minhyun POV*
Hari pertama sekolah di tahun ajaran baru memang mendebarkan. Penuh tantangan. Dia terlihat bodoh tapi sebenarnya sangat manis dan lugu. Aku harap ice cream ini bisa membuat kami lebih dekat. Aku memandanginya dari jauh, melihatnya duduk di taman sekolah ditemani alat tulis dan buku gambarnya. Selangkah, dua langkah, tiga langkah,empat lang... Langkahku terhenti melihat seorang pria tinggi semampai dengan celana hitam dan kemeja biru langitnya sudah berada di hadapan wanita yang sedang aku pandangi sejak tadi. Tidak tahu bagaimana hubungan mereka. Tapi wanita itu tampaknya bahagia melihat pria berkemeja biru langit itu menghampirinya dengan senyuman lembut. Tangan sang pria menyentuh lembut bahu gadis itu, menepuk - nepuknya perlahan sambil tertawa lepas bersama. Aku mengenal si pria. Harapanku mengenal lebih dekat gadis itu sudah punah hilang terbawa angin yang berhembus lembut menuju arah timur, arah si pria dan wanita itu berada….
Aku membalikkan badan setelah melihat mereka dan mengamati sedikit apa yang sedang dilakukan keduanya. Pergi melangkahkan kaki menuju arah yang berlawanan. Akan aku apakan ice cream ini? Dibuang lebih baik. Baru ingin mendekat selangkah sudah ada yang menentang. Lebih baik aku tidak melihat hal tadi. Aku tidak butuh untuk mengetahuinya. . . .
CHAPTER 2 END-
Ini chapter kedua I don't need to know it. Valweyn berterima kasih untuk yang sudah membacanya, jika ada saran dan komentar bahkan pujian silahkan review ^^)/ hehe jangan pelit – pelit reviewnya buat yang udah baca.
Reply review:
Sullitralala: jeongmal gomawo atas pujiannya ahaha XD aku tidak se absurd itu eonnie-ya!
Dorkyeol : I think I know you. . . but thankyou ngakaknya, ntar chapt selanjutnya baca lagi ya 3
